by Fauzi Bahreisy fauzibahreisy | Apr 12, 2016 | Artikel, Dakwah
Iman punya rasa.
Rasa iman adalah manis dan nikmat.
Namun ia terasa pahit bagi orang yang jiwanya sedang sakit dan hatinya berkarat.
Siapa yg bisa merasakan manisnya iman?
Rasul saw bersabda “Merasakan manisnya iman orang yang ridho Allah sebagai Rabb-nya, Islam sebagai agamanya, serta Muhammad sebagai Nabi dan Rasulnya” (HR Muslim).
Dari hadits di atas jelas bahwa diantara syarat bisa merasakan manisnya iman:
Ridho dan mau diatur oleh Rabb karena percaya bahwa segala ketentuan dan perintah-Nya pasti mengandung kebaikan.
Yakin dan melaksanakan semua ajaran Islam.
Menerima Nabi Muhammad saw sebagai Nabi dan Rasul yg dikirim oleh Allah untuk menjadi guru, contoh, dan teladan.
Manakala iman sudah terasa nikmat, pantang utk ditukar dan dijual dengan dunia dan segala isinya.
Itulah yang ditunjukkan oleh orang-orang besar dan mulia. Semoga kita termasuk di dalamnya.
Alfaqir ilallah
Fauzi Bahreisy
***
Majelis Taklim Al Iman
Infaq kegiatan dakwah dapat disalurkan melalui rekening an. Yayasan Telaga Insan Beriman
BSM 703.7427.734
BNI 1911.203.63
Semoga Allah membalas dengan yang lebih baik dan memberikan keberkahan di dunia dan akhirat.
Kegiatan dakwah dapat dilihat di web www.alimancenter.com dan fanpage facebook: alimancenter
Silahkan disebarkan tanpa merubah isinya, semoga bermanfaat dan menjadi amal sholeh. Jazakumullah khairan
by Danu Wijaya danuw | Apr 9, 2016 | Artikel, Dakwah
Oleh : Persatuan Ulama Islam Sedunia (Al Ittihad al Alamiy li Ulama al Muslimin)
Kita meyakini sesungguhnya Islam memuliakan wanita sebagai manusia. Wanita mendapat beban yang sama seperti pria, ia juga memiliki hak dan kewajiban. Allah swt berfirman
“Maka Tuhan memperkenankan permohonan mereka (dengan berfirman): Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kalian, baik laki-laki maupun perempuan, (karena) sebagian kalian adalah turunan dari sebagian yang lain” (Q.S. Al Imran : 195).
Maksudnya dari sebagian laki-laki dan perempuan di antara mereka. Laki-laki menyempurnakan wanita. Demikian pula sebaliknya, perempuan menyempurnakan laki-laki.
Sesungguhnya Islam telah menetapkan persamaan antara laki-laki dan perempuan dalam hal kemuliaan dan tanggung jawab secara umum. Sebab “wanita adalah belahan dari pria” (H.R. Ahmad dari Aisyah).
Adapun terkait tugas masing-masing dalam keluarga dan masyarakat, Islam menetapkan sikap proporsional bagi laki-laki dan perempuan terkait dengan hak dan kewajiban mereka. Dan itu merupakan hakikat keadlian.
“Para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf” (Q.S. Al Baqarah : 228)
Sesungguhnya agama Islam senantiasa menjaga wanita, entah ia sebagai anak perempuan, istri, ibu, atau anggota keluarga dan masyarakat Islam juga memberikan kesempatan yang luas pada wanita untuk ikut serta dalam beribadah, belajar dan bekerja. Khususnya ketika itu menjadi tuntutan diri, keluarga, atau masyarakatnya dengan tetap memperhatikan karakteristiknya sebagai wanita, isteri, dan ibu rumah tangga yang membutuhkan jaminan perlindungan dan pemeliharan diri dari berbagai bentuk tindak penganiayaan.
Termasuk dari sikap suaminya ketika berbuat aniaya, tindakan orangtuanya ketika melampaui batas, dan sikap anaknya yang durhaka dan menyakiti. Selain itu, wanita boleh bekerja dengan syarat tidak berbenturan dengan kewajibannya dalam memberikan perhatian kepada rumah tangga, suami, dan anak.
Tugas membina rumah tangga bagi wanita merupakan tugas yang paling prioritas. Tidak seorangpun yang dapat mengambil alih pekerjaan itu. Namun jika masih memiliki waktu yang cukup maka ia dapat mengisinya dengan melakukan tugas-tugas kemasyarakatan. Ruang lingkup kewajiban tersebut bergantung pada kondisi dan situasi dirinya, masyarakatnya, kebutuhannya, dan kemajuannya.
Wanita dapat melakukan aktivitas di semua aspek termasuk sosial, ekonomi, dan politik bagi sebagai pemilih maupun sebagai pihak yang dipilih , kecuali dalam kepemimpinan tertinggi. Bahkan Islam memposisikan wanita sebagai mitra laki-laki dalam menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar, serta dalam memerangi kejahatan dan kerusakan.
“Orang-orang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf serta mencegah dari yang mungkar” (Q.S. at Taubah : 71)
Bertolak dari aspek kemanusiaan dan kemuliaan wanita, Islam tidak membenarkan wanita dijadikan sebagai alat pembangkit birahi, permainan dan pemenuh kenikmatan secara murahan. Dalam bertemu dengan pria asing, Islam mewajibkan wanita untuk menjaga rasa malu dan kehormatan, menjaga adab dan wibawa, baik dalam berpakaian, berdandan, berjalan, beraktifitas, berbicara, maupun dalam menatap sehingga tidak ada yang berani mengganggunya.
“Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah dikenal sehingga mereka tidak diganggu” (Q.S. Al Ahzab : 59)
Islam juga meminta kepada setiap laki-laki agar ketika bertemu dengan wanita menjaga adab yang sama. Islam tidak memposisikan laki-laki dan perempuan dalam posisi yang serba salah. Islam juga tidak membuat mereka merasa berdosa ketika harus terlibat dalam berbagai aktivitas sosial. Hanya saja, Islam mewarnainya dengan adab-adab syar’i sebagaimana berbagai aktivitas lain. Islam meletakkan panduan bagi wanita yang dapat menjaga diri berikut masyarakatnya.
Misalnya menutup aurat, larangan berduaan, pemberian batas-batas ikhtilath, dan hal lain yang terkait dengan keterlibatan wanita dalam aktivitas sosial. Sebagiannya merupakan adab yang bersifat perlindungan. Sebagian lain adalah bentuk antisipasi terhadap hal-hal yang merusak dan diharamkan. Semua itu ditetapkan dalam kerangka mengatur keterlibatan wanita dalam aktivitas sosial, bukan untuk melarangnya. Karenanya tidak aneh bila sejarah Islam dipenuhi oleh para wanita muslimah yang sangat berperan dalam bidang kelimuan, politik, seni atau bahkan dalam jihad Islam.
Referensi: 25 Prinsip Islam Moderat
Penyusun: Al Ittihad al Alamiy li Ulama al Muslimin (Persatuan Ulama Islam Sedunia)
Penerbit: Sharia Consulting Center (Pusat Konsultasi Syariah)
by Fahmi Bahreisy Lc fahmibahreisy | Apr 4, 2016 | Artikel, Dakwah
Betapa banyak nikmat yang Allah berikan kepada kita
Betapa besar karunia yang Allah anugerahkan kepada kita
Betapa luas kasih sayang yang Allah curahkan kepada kita
Akan tetapi, seberapa besarkah rasa syukur yang kita berikan pada-Nya?
Berapa banyakkah pujian yang kita panjatkan pada-Nya?
Ataukah hati kita telah keras membatu sehingga tak bisa lagi mensyukuri dan memuji nikmat dari-Nya?
Saudaraku, maukah kita mendapatkan ridha dari Allah?
Rasulullah saw bersabda yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik r.a. “Sesungguhnya Allah pasti meridhai seorang hamba, dimana saat dia makan, ia bersyukur pada-Nya atas makanan tersebut. Dan disaat ia minum, ia pun bersyukur pada-Nya atas minuman itu.”
Lantas bagaimana cara kita bersyukur pada-Nya?
Imam Nawawi dalam kitab riyadhus shalihin mengutip sebuah riwayat dari Nabi Musa a.s, ia pernah bertanya, ” Ya Allah, bagaimanakah cara bersyukur pada-Mu?”
Lalu Allah SWT menjawab, “Engkau berdzikir pada-Ku (mengingat-Ku) dan jangan kau lupakan Aku. Jika engkau mengingat-Ku, maka engkau telah bersyukur pada-Ku. Dan jika engkau melupakan-Ku, maka sesungguhnya engkau telah kufur pada-Ku.”
Akhukum Fillah
Fahmi Bahreisy
***
Majelis Taklim Al Iman
Infaq kegiatan dakwah dapat disalurkan melalui rekening an. Yayasan Telaga Insan Beriman
BSM 703.7427.734
BNI 1911.203.63
Semoga Allah membalas dengan yang lebih baik dan memberikan keberkahan di dunia dan akhirat.
by Fauzi Bahreisy fauzibahreisy | Apr 3, 2016 | Artikel, Dakwah
Rasulullah saw bersabda “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling kasih, saling menyayang dan saling mencintai adalah seperti sebuah tubuh, jika salah satu anggotanya merasa sakit, maka anggota tubuh yang lain ikut merasakan sulit tidur dan demam.” (Shahih Muslim No.4685).
Pelajaran yang bisa dipetik:
- Hadits di atas membeikan standar dan ukuran siapa yang disebut sebagai orang beriman atau orang mukmin.
- Keberadaan iman dalam diri ditandai dengan adanya cinta kasih diantara saudara seiman; bahkan ia seperti satu tubuh.
- Karena itu, mukmin sejati mencintai, mengasihi, membantu dan ikut merasakan derita dan kesulitan mukmin lainnya, di manapun ia berada dan dari manapun asalnya.
Shalahuddin al-Ayyubi satu saat ditanya, “Mengapa senyummu tak terlihat lagi?” Ia menjawab, “Bagaimana aku bisa tersenyum sementara al-Aqsa dalam kondisi tertawan? Bagaimana aku bisa ceria sementara kaum muslimin di sana dalam kondisi terjajah dan teraniaya?!”
Alfaqir ilallah
Fauzi Bahreisy
***
Majelis Taklim Al Iman
Infaq kegiatan dakwah dapat disalurkan melalui rekening an. Yayasan Telaga Insan Beriman
BSM 703.7427.734
BNI 1911.203.63
Semoga Allah membalas dengan yang lebih baik dan memberikan keberkahan di dunia dan akhirat.
Kegiatan dakwah dapat dilihat di web www.AlimanCenter.com dan fanpage facebook: AlimanCenter.com
Silahkan disebarkan tanpa merubah isinya, semoga bermanfaat dan menjadi amal sholeh. Jazakumullah khairan
by Adi Setiawan Lc. MEI Adi Setiawan | Apr 2, 2016 | Artikel, Dakwah
Oleh: Adi Setiawan, Lc., MEI
Panjang umur adalah impian mayoritas orang. Dengan berumur panjang, lebih banyak kebaikan yang bisa dilakukan. Dan ternyata banyak faktor yang membuat seseorang bisa berumur panjang.
Dari Anas bin Malik Ra: Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang ingin murah rezekinya atau panjang umurnya, maka bersilaturrahimlah”. (HR. Bukhari Muslim).
Dari Salman Ra: Rasulullah SAW bersabda: “Tidak ada yang bisa menolak qada’ (ketentuan Allah SWT) kecuali doa, dan tidak ada yang bisa menambah umur kecuali al-birr (melakukan kebaikan)”. (HR. Tirmidzi).
Setiap kejadian itu termasuk berumur panjang memiliki berbagai faktor yang disebut dengan asbab maaddiah (faktor materi) dan asbab ma’nawiyah (faktor non-materi). Seseorang bisa saja meninggal disebabkan karena terjatuh dari tempat yang tinggi, atau akibat luka saat perang, memang sakit parah, atau juga karena tertusuk besi yang tidak terduga. Seseorang sembuh karena saat sakit ia teratur meminum obat. Ada juga orang yang hampir tidak pernah sakit, ternyata ia selalu menghindari tempat yang kotor. Semuanya ini merupakan asbab maaddiah (faktor materi) yang secara langsung menjadi penyebab dari kejadian-kejadian di atas.
Begitu pula ketika seseorang terus berdoa agar dianugerahi umur yang panjang lagi berkah. Saat dia butuh uang kemudian memperbanyak silaturrahim dengan saudara, kerabat dan tetangganya. Terus birrul walidain (taat dengan apapun keputusan orang tuanya) karena yakin ada kebaikan di baliknya. Atau terus-menerus melakukan amal shaleh lainnya. Semuanya tergolong sebagai asbab ma’nawiyah (faktor non-materi) yang dengan secara tidak langsung menjadi jalan keluar dari setiap masalahnya.
Jangan heran karena melakukan tindakan diatas umur seseorang jadi bertambah, dan sebaliknya orang yang tidak melakukannya umurnya terbatas, tidak bertambah dan cenderung berkurang. Dan setiap faktor tersebut pada hakikatnya telah termaktub sebagai keputusan dan takdir Allah SWT. Walaupun manusia tidak melakukannya, tetap saja akan terjadi. Karena sesungguhnya, “Rufi’at al-aqlam wa jaffat biha ash-shuhuf” (Pena takdir telah diangkat dan lembaran-lembaranya pun telah kering). Yang artinya semua takdir Allah SWT untuk hamba-Nya adalah bersifat tetap. Dan inilah makna dari ayat Allah SWT:
وَمَا يُعَمَّرُ مِن مُّعَمَّرٍ وَلَا يُنقَصُ مِنْ عُمُرِهِۦٓ إِلَّا فِى كِتَٰبٍ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٌ
“Dan sekali-kali tidak dipanjangkan umur seorang yang berumur panjang dan tidak pula dikurangi umurnya, melainkan (sudah ditetapkan) dalam Kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu bagi Allah adalah mudah.” (QS. Faathir: 11).
Ibnu Abbas menafsirkan ayat ini bahwa tidaklah seseorang ditakdirkan berumur panjang kecuali ia akan sampai juga pada jatah umurnya tersebut. Hal itu telah ditetapkan dan hanya akan berakhir sesuai dengan ketetapan itu. Tidak akan ada tambahan lagi. Begitu juga dengan orang yang ditakdirkan berumur pendek ia akan sampai pada jatah umurnya. Dan umurnya hanya akan berakhir sesuai dengan ketetapan itu. Intinya, semua itu sesuai dengan ketetapan Allah SWT.
Imam Baihaqi menyebutkan dalam kitabnya al-Qada’ wal-Qadar, makna ayat ini adalah bahwasaannya Allah SWT telah menetapkan apa yang akan menimpa hamba-Nya dari berbagai macam bala’, ujian hidup, kematian dan sebagainya. Kemudian jika dia berdoa kepada Allah SWT atau mentaati perintah-Nya untuk bersilaturrahim dan lainnya, maka Allah tidak akan menimpakan bala’ tersebut. Justru Allah SWT akan memberinya rezeki dan memperpanjang umurnya. Dan semuanya ini telah Allah SWT tetapkan.
Sebagaimana keyakinan kita setiap faktor materi telah termaktub di lauhil mahfudz. Lebih-lebih faktor non materi yang tidak tertangkap oleh indera penting diimani dan diyakini juga telah termaktub di lauhil mahfudz. Sehingga jika berbagai faktor ini dilakukan, maka dengan seizin Allah SWT keinginan panjang umur akan didapat.
Waallahu A’lam.
by Danu Wijaya danuw | Apr 1, 2016 | Artikel, Dakwah
Oleh : Persatuan Ulama Islam Sedunia (Al Ittihad al Alamiy li Ulama al Muslimin)
Manusia dalam pandangan Islam adalah makhluk yang dimuliakan. Ia dijadikan sebagai khalifah di muka bumi untuk memakmurkannya. Karena manusia dimuliakan dan diangkat sebagai khalifah, Allah posisikan ia sebagai pimpinan bagi seluruh makhluk serta Dia tundukkan semua untuk melayaninya.
“Dia menundukkan untuk kalian apa yang terdapat dilangit dan dibumi yang seluruhnya berasal dariNya” (Q.S. Al Jatsiyah : 13)
Allah menganugerahkan kepada manusia sejumlah hak yang membantunya untuk menjaga kemuliaannya dan menunaikan perannya. Dia menyuruh manusia untuk memelihara hak tersebut sekaligus menjadikannya sebagai kewajiban utama. Hak yang paling pertama adalah kebebasan manusia dalam meyakini apa yang ia kehendaki. Islam sangat menjaga kebebasan akidah ini dengan menyuruh kaum muslimin berperang guna mempertahankannya serta guna melawan mereka yang mencederai agama.
Diantara hak manusia dalam Islam adalah menjaga akal, memeliharanya, serta mengerahkan semua potensinya dalam mengkaji dan menelaah Islam berupaya membangun rasionalitas ilmiah yang berlandaskan perenungan dan pengamatan terhadap cakrawala dan dirinya sendiri. Siapa yang berpendapat bahwa berpikir merupakan kewajiban Islam tidaklah ditiru. Demikian Al Qur’an menegaskan
“Katakanlah, Aku hendak mengingatkanmu satu hal saja yaitu supaya kamu menghadap Allah (dengan ikhlas) secara berdua atau sendiri. Kemudian cobalah engkau berpikir.” (Q.S. Ali Imran : 191)
Ia juga memerintahkan untuk memperhatikan dan merenungkan seraya memotivasi untuk melakukan hal tersebut dalam banyak ayat. Islam mengingkari sikap taklid buta dan sikap jumud yang hanya berpegang pada warisan terdahulu atau pada apa yang diperintahkan oleh pimpinan dan para pembesar.
“Mereka berkata, ‘Ya Tuhan kami, kami telah menaati para pemimpin dan pembesar kami. Mereka telah menyesatkan kami dari jalan (yang benar).” (Q.S. al Ahzab)
Selain itu, Islam menolak sikap mengikuti prasangka dalam kondisi yang didalamnya dituntut adanya keyakinan. Islam juga tidak membolehkan mengikuti hawa nafsu dan emosi yang menyesatkan dari kebenaran.
“Mereka hanya mengikuti prasangka dan hawa nafsu” (Q.S. an Najm : 23)
Islam tidak menerima dakwaan atau pengakuan apapun jika tidak disertai bukti yang menguatkan kebenarannya. Apabila keberadaan bukti menjadi pegangan dalam rasionalitas berpikir, maka penyaksian menjadi pegangan dalam sesuatu yang konkret. Otentifikasi menjadi landasan dalam riwayat, kebenaran wahyu menjadi pegangan dalam hal agama. Karena itu Allah menantang orang-orang yang berbuat syirik
“Apakah kalian mempunyai sedikit pengetahuan sehingga dapat kalian sampaikan kepada kami? Kalian tidak mengikuti kecuali persangkaan belaka. Dan kalian tidak lain hanyalah berdusta ” (Q.S. al An’am : 148)
Islam mengajak kepada pengetahuan, mengajak untuk unggul di dalamnya, untuk memergunakan sarana terbarunya, serta mengikuti ketentuannya dalam segala bidang. Islam memandang proses berpikir sebagai bentuk ibadah serta upaya mencari ilmu yang dibutuhkan oleh umat sebagai kewajiban.
Islam tidak melihat adanya kontradiksi antara akal yang jelas dan naql yang benar. Dengan akal keberadaan Allah, kenabian secara umum, dan kenabian Muhammad secara khusus menjadi demikian tegas. Kemudian dalam peradaban Islam, tidak ada kontradiksi antara ilmu pengetahuan dan nash-nash Islam yang qath’i. Agama bagi kita merupakan ilmu
Islam terbuka bagi warisan ilmu dan pemikiran di seluruh dunia. Ia memburu hikmah yang keluar dari tempat manapun dan mengambil manfaat dari berbagai pengalaman umat baik dimasa dulu maupun sekarang selama tidak bertentangan dengan syariat. Berbagai filsafat yang diambil kaum muslimin tidak boleh berkebalikan dengan nash.
Kemudian diantara hak manusia dalam Islam adalah menjaga kesehatan, jasmani, jiwa dan akal
“Tubuhmu memiliki hak yang harus kau penuhi” (H.R. Bukhari dan Muslim dari Abu Salimah)
Diantara hak tubuh yang harus dipenuhi pemiliknya adalah memberinya makan ketika lapar, memberinya kesempatan beristirahat ketika lelah, membersihkannya ketika kotor, menguatkannya ketika lemah, dan mengobatinya ketika sakit. Sebab Allah tidak menurunkan penyakit kecuali ada obatnya. Ada yang mengetahui ada pula yang tidak mengetahui. Karena itu pula syarat sah shalat adalah kebersihan badan dan tempatnya.
Selanjutnya anjuran kepada manusia adalah menjaga lingkungan dari tindakan pengrusakan, entah pengrusakan karena marah dan murka, perbuatan sia-sia atau karena tidak peduli. Sebab selain berbuat baik kepada manusia, diperintahkan pula berbuat baik kepada binatang, tumbuhan, bumi dan tanah.
“Siapa yang memotong pohon (dengan sia-sia), Allah benamkan kepalanya di neraka.” (H.R. Abu Dawud dari Abdullah ibn Habsyi dan H.R. Baihaqi. Perawinya dapat dipercaya)
Terdapat neraca keseimbangan alam yang diketahui oleh mereka yang berilmu. Ia tidak boleh timpang. Ketimpangan akibat kelalaian, kecerobohan dan kerakusan manusia. Bahaya muncul ketika sumber daya disalah gunakan, baik karena kekeliruan atau berlebihan yang akhirnya bisa mengancam jiwa manusia. Oleh karena itu, Allah menyuruh manusia untuk menjaga keseimbangan lingkungan.
Referensi: 25 Prinsip Islam Moderat
Penyusun: Al Ittihad al Alamiy li Ulama al Muslimin (Persatuan Ulama Islam Sedunia)
Penerbit: Sharia Consulting Center (Pusat Konsultasi Syariah)