by Fahmi Bahreisy Lc fahmibahreisy | Jan 22, 2016 | Artikel, Buletin Al Iman, Dakwah
Oleh: Syeikh Said Ramadhan Al-Buthy rahimahullah
Di dalam buku sejarah dan sirah nabawiyyah telah ditegaskan bahwa Rasulullah SAW mengalami berbagai macam kesulitan dalam menjalankan tugas dakwah di jalan Allah SWT. Sebagaimana yang terdapat dalam hadits yang shahih bahwa kaum musyrikin pernah mengambil kotoran unta lalu dilemparkan ke kepala beliau saat berada dalam kondisi sujud. Beliau juga pernah diusir dari Thaif disertai dengan lemparan batu yang dilakukan oleh para pemuda kota Thaif. Beliau disakiti baik dengan sikap maupun ucapan. Suatu saat beliau juga pernah pergi ke pasar, lalu berjumpa dengan salah seorang kaum musyrikin yang sedang membawa segenggam tanah, lalu dilemparkan tanah tersebut ke kepala beliau. Beliau kembali pulang ke rumahnya, lalu Fatimah membersihkan sisa tanah dari kepala beliau sambil menangis. Di dalam hadits yang lainnya juga disebutkan bahwa ia pernah mengikatkan batu di perutnya karena rasa lapar yang dialaminya selama tiga hari.
Apa hikmah dibalik semua ini? Apakah ini sesuai dengan kedudukan beliau yang merupakan hamba yang paling dicintai oleh Allah? Bukankah ini bertentangan dengan firman Allah, “Allah SWT pasti akan memberikan karunia-Nya kepadamu hingga engkau merasa ridha.” serta firman Allah yang lainnya, “Allah akan melindungimu dari gangguan manusia”? Bukankah rasa cinta “mengharuskan-Nya” untuk menjaga beliau dari berbagai gangguan dan kesulitan serta memberikan berbagai kemudahan untuk mencapai kebahagiaan? Lantas mengapa Allah mengujinya, padahal ia sedang berdakwah untuk membela agama dan syari’at-Nya?
Jawabannya ialah bahwa berbagai macam gangguan dan cobaan yang dialami olehnya adalah salah satu bentuk amal yang paling mulia yang ingin ia ajarkan kepada ummatnya. Kedudukannya sama dengan ibadah, muamalah, dan akhlak yang beliau ajarkan kepada mereka. Beliau mengajarkan shalat didepan para sahabatnya, lalu berkata, “Shalatlah kalian sebagaimana aku shalat.” Beliau juga melaksanakan haji bersama mereka, lalu berkata, “Lakukanlah manasik haji sebagaimana yang aku lakukan.” Sebagaimana beliau mengajarkan kedua hal tadi kepada para sahabatnya, ia juga mengajarkan mereka untuk bersabar dalam setiap kesulitan yang dihadapi. Siap menerima tantangan dan rintangan dakwah di jalan Allah sebagai bentuk ketundukan dan penghambaannya kepada-Nya. Beliau tahu bahwa apa yang ia rasakan, akan dirasakan pula oleh ummatnya di setiap tempat dan waktu, sehingga harus ada keteladanan yang siap dicontoh oleh ummatnya.
Apa yang beliau hadapi adalah sebuah pelajaran bahwa berdakwah di jalan Allah adalah inti dari sikap menghamba kepada-Nya. Penghambaan kepada-Nya tidaklah sempurna tanpa adanya sebuah taklif. Sebuah taklif tidak akan terlaksana tanpa dilalui dengan kesulitan dan pengorbanan. Seseorang tidaklah dikatakan sebagai muslim yang hakiki jika ia tidak siap menjalani dua tujuan berikut ini:
Pertama, membangun masyarakat muslim sebagaimana yang telah Allah perintahkan. Kedua, merealisasikan tujuan tersebut melalui jalan yang penuh dengan duri, kesulitan, kepedihan, dan berbagai macam tantangan yang menyakitkan. Dengan kata lain, Allah SWT tidak hanya mewajibkan kepada hamba-Nya untuk siap mewujudkan sebuah tujuan, namun, disamping itu ia juga mewajibkan mereka untuk siap berjalan diatas duri dan rintangan untuk sampai kepada tujuan tadi.
Allah SWT bisa saja menjadikan jalan menuju tegaknya masyarakat yang islami begitu mudah untuk dilalui, akan tetapi cara tersebut tidak akan menampakkan ketundukan dan penghambaan seseorang kepada-Nya. Jalan tersebut tidak bisa menjadi bukti bahwa ia telah mengorbankan dirinya dan hartanya demi agama Islam dan ia telah menundukkan hawa nafsunya pada ketetapan-Nya. Jika demikian caranya, tidak ada bedanya antara orang mukmin dengan orang munafik, antara orang yang jujur dengan keimanannya dengan orang yang memiliki keimanan palsu. Dan inilah yang disebutkan oleh Allah SWT di dalam firman-Nya, “Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, “Kami telah beriman,” dan mereka tidak diuji? Dan sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. al-Ankabuut: 1-3).
Oleh karenanya, kesulitan dan rintangan ini bukan sekedar sebuah ujian saja, akan tetapi ia adalah jalan menuju tujuan akhir yang telah Allah perintahkan agar kita sampai kepadanya. Seandainya kaum muslimin merenungkan hal ini, maka tidak akan ada lagi rasa pesimis dan sedih atas apa yang mereka hadapi. Bahkan, sebaliknya pasti akan tumbuh rasa optimisme yang tinggi bahwa inilah jalan menuju kemenangan. Sebab, semakin tinggi tantangan dan ujian yang harus dilalui, maka akan semakin besar pula peluang datangnya kemenangan dan pertolongan Allah.
*Diterjemahkan oleh: Fahmi Bahreisy, Lc
Sumber:
Artikel Utama Buletin Al Iman.
Edisi 322 – 6 Februari 2015. Tahun ke-8
*****
Buletin Al Iman terbit tiap Jumat. Tersebar di masjid, perkantoran, majelis ta’lim dan kantor pemerintahan.
Menerima pesanan dalam dan luar Jakarta.
Hubungi 0897.904.6692
Email: [email protected]
Dakwah semakin mudah.
Dengan hanya membantu penerbitan Buletin Al Iman, Anda sudah mengajak ribuan orang ke jalan Allah
Salurkan donasi Anda untuk Buletin Al Iman:
BSM 703.7427.734 an. Yayasan Telaga Insan Beriman
Konfirmasi donasi: 0897.904.6692
Raih amal sholeh dengan menyebarkannya!
by Danu Wijaya danuw | Jan 13, 2016 | Artikel, Dakwah
Oleh : KH Rahmat Abdullah
Yang dimaksud dengan at tho’ah disini adalah
“Melaksanakan sekaligus menjalankan perintah tanpa reserve (menunda) baik dalam kelapangan maupun dalam kesempitan, dalam suka maupun duka”
(Hasan Al Bana)
Di negeri yang malang ini, sikap ekstrem terdiri atas ifrath (keras berlebihan) dan tafrith (lunak berlebihan). Ada orang yang meletakkan akal teronggok begitu saja tanpa kerja. Karenanya seringkali kita temui para pemimpin yang ingin mengambil keuntungan besar, harus menyemai benih-benih kebodohan dan menyikapi langkah pencerahan seseorang sebagai hama yang akan menggagalkan panen mereka.
Sementara sudut ekstrem lawannya membayangkan taat dengan dalil “La tha’ata limakhluqin fi ma’shiyatil Khaliq” (Tidak boleh taat kepada makhluk yang bermaksiat kepada Al Khaliq). Dengan sarat beban duka, kepedihan dan trauma otoriter mereka gunakan dalil tersebut mereka gunakan untuk menolak keputusan syuro jamaah karena tak sejalan dengan persepsi atau ambisi pribadi. Atau mengecam dengan keras perintah seorang pemimpin yang sah karena kesalahan atau maksiat pribadinya.
Betapa selamat umat, komunitas, atau bangsa yang mau berlapang hati untuk mengorbankan kemauan, pandangan dan persepsi pribadinya saat mereka bertentangan dengan sang pemimpin. Lebih beruntung mereka yang tunduk dalam keputusan syura, bahkan sekedar menjalankan perintah seorang pemimpin.
Bangga dalam Taat
Kalaulah mereka tahu kelezatan sebuah ketaatan, sebagaimana seorang Abu Ubaidah Amir bin Jarrah. Sepanjang karirnya sebagai da’i dan panglima tak satupun perintah atasan ditentangnya baik kepada Rasulullah, khalifah Abu Bakar ataupun Umar. Tak satu kata protes disimpannya di hati apalagi di ungkapkan kepada Rasulullah. Bahkan ketika Rasul menugaskan Abu Ubaidah membawa pasukan ke medan berat hanya dengan bekal sekantung makanan, yang dihitung-hitung setiap prajurit hanya mendapat sebutir sehari untuk makan pagi, siang dan malam.
Berapa Ibnu Atban memenuhi panggilan jihad ketika dia sedang bersama istrinya. Sampai-sampai Rasulullah mengatakan :”Saya telah membuatmu tergesa-gesa wahai saudaraku”. Taat sebagai sebuah Wala’ (loyalitas) dalam Tarbiyah yang akan memunculkan thaqatu’t taghyir (kekuatan daya ubah) yang luar biasa. Salah satu pengakuan Rasulullah atas ketaatan perempuan Madinah ialah sikap mereka spontan menyambar apa saja untuk menutupi aurat karena turunnya ayat hijab. Begitupula ketika para penduduk Madinah menerima informasi larangan tuntas meminum khamar, mereka langsung menumpahkan khamr-khamr.
Banyak orang yang mengira, ketaatan hanya ada kepada Rasulullah SAW dan belum tentu untuk masa para sahabat, tabiin atau pemimpin muslim biasa. Ternyata sampai zaman Umar, seorang Abu Ubaidah tetap setia seperti gelar yang diberikan Rasulullah. Sabda beliau : “Setiap umat punya orang kepercayaan (amiin) dan orang kepercayaan umat ini Abu Ubaidah”. Ali tetap mengutus putera-puteranya untuk menjaga khalifah Ustman dari serangan kaum bughat. Hakim (qadhi) Cordova tetap meminta syarat kepada Sultan bila ia tetap ingin menjadi khatib jumat.
Sultan menangis oleh pesan-pesan yang mendalam, ikhlas, dan berani. “Apakah kamu mendirikan pada tiap-tiap tanah tinggi bangunan untuk bermain-main dan kamu membuat benteng-benteng dengan maksud supaya kamu kekal (di dunia)? Dan apabila kamu menyiksa maka kamu menyiksa sebagai orang-orang kejam dan bengis. Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku” (Q.S. Asy Syuara : 128-131)
Pemerintahan Abu Bakar yang singkat adalah pembuktian ketaatan Islami, bukan sekedar suatu pergantian kekuasaan menyusul wafatnya sang Rasul SAW. Alangkah sadarnya generasi hari ini untuk seimbang kepada daya kritis yang tidak menafikan ketaatan dan loyalitas yang tetap memelihara kesuburan daya kritis.
Ketaatan dan Daya Sambut (Istijabah)
Hakikat ketaatan ialah kepada Allah, Rasul-Nya dan sesama orang beriman. Bila ketaatan itu terwujud dalam hubungan antara makhluk berupa rakyat dengan pemimpin, maka keikhlasan adalah hal yang paling dominan sehingga ketaatan itu dapat bernas. Sahabat Saad bin Abi Waqash telah memerankan hal tersebut dengan baik. Kecintaannya kepada ibunya tak membuat imannya luluh sekalipun sang ibu telah mogok makan (dan akhirnya berhasil menyadarkan dan membuatnya beriman kepada Allah).
Sudah sepatutnya doa mustajab Rasulullah menjadi haknya. “ Ya Allah, tetapkanlah bidikannya dan kabulkan doanya”, demikian doa beliau. Sampai-sampai menahan diri dari menyumpahi orang karena fitnah yang dilancarkannya. “Ya Allah, jika hamba-Mu ini dusta, maka panjangkanlah umurnya dan panjangkanlah miskinnya”.
Seorang Umar Tilmisani pengacara muda yang necis dan lembut berusaha menjadi murid yang taat dan menyesuaikan diri dengan gurunya Al Bana dalam berkorban, hidup sederhana dan berani. Tak ada kekuatan pemerintahan yang membuatnya takut berkata benar dan tak ada penghinaan yang membuatnya kehilangan kesantunan.
Suatu hari disebuah acara resmi yang disiarkan di media cetak dan elektronik Presiden Anwar Sadat menyerang jamaahnya dengan tuduhan keji dan tak mendasar; separatis dan berbagai tuduhan batil. Dengan tenang syaikh Tilmisani menjawab: “ Hal yang lumrah bila aku dizalimi oleh siapapun untuk mengadukanmu kepada Allah sebagai tempat bernaung kaum tertindas. Sekarang aku mendapatkan kezaliman darimu, karenanya tak ada kemampuan bagiku selain mengadukanmu kepada Allah.”
Spontan Sadat gemetar, ngeri dan mengiba-ngiba agar Syaikh menarik pengaduannya kepada Allah. Dengan tegas, tenang dan kuat Syaikh menjawab: “Aku tak mengadukanmu kepada (penguasa) yang zalim. Aku mengadukanmu hanya kepada Tuhan yang adil yang mengetahui apa yang kukatakan”. Itulah pengalaman dihari-hari terakhir hayatnya. Sadat menyerang seorang pemimpin dan mursyid jamaah, sebelum kematian yang perih membungkamnya.
Mustahilkah jaman kini dari istijabah yang menyuburkan hidup para kader dan aktifis dari kucuran doa para masyaikh dan pemimpin atas pribadi-pribadi ataupun kelompok? Ataukah para pembangkang dan kaum arogan telah siap menerima limpahan yang akan menenggelamkan mereka karena kerontang ketaatan di hati mereka? Sebagai pewaris nabi, para ulama dan masyaikh tak akan mengutuki pengikutnya.
Referensi:
Untukmu Kader Dakwah, Penerbit Da’watuna, KH Rahmat Abdullah
by Danu Wijaya danuw | Jan 3, 2016 | Artikel, Dakwah
Oleh: KH. Rahmat Abdullah
Yang dimaksud al jihad disini adalah
Suatu kewajiban yang masanya membentang (tak akan berhenti) sampai hari kiamat. Urutan jihad paling tinggi adalah mengangkat senjata berperang di jalan Allah. Sedangkan ditengah-tengah itu adalah jihad dengan lisan, pena, tangan, berkata benar dihadapan penguasa tirani. Adapun urutan paling bawah adalah ingkar hati.
Dakwah tak akan hidup dan berkembang kecuali dengan jihad. Karena kedudukan dakwah yang begitu tinggi dan bentangannya luas, sehingga jihad merupakan jalan untuk bisa menghantarkannya. Firman Allah Ta’ala : “Dan berjihadlah di jalan Allah dengan sebenar-benarnya jihad” (Q.S. Al Hajj : 78). Dengan demikian anda sebagai aktivis dakwah tahu akan hakikat doktrin “Jihad adalah jalan kami”
(Hasan Al Banna)
Dari sedikit orang yang tahu, Said Hawa adalah salah seorang yang mampu memberi tahu, bahwa pengertian fardhu kifayah harus dipahami secara benar, akurat dan sehat. Mengqiyaskan fardhu kifayah pada jihad dengan fardhu kifayah pada pengurusan jenazah, jelas tak dapat ditoleransi lagi. Bila tak cukup jumlah rakyat Palestina, Ambon, Poso, Kashmir, Aceh, Chechnya dan lainnya memperjuangkan dirinya maka harus ditagih dari kawasan sekitar hingga memadai alias kifayah.
Sedikit orang yang ingat bahwa jihad adalah jalan yang paling tepat dan terhormat, termasuk dalam menghadapi money laundry saat uang sekotor dan sepanas apapun, sehingga bisa berubah menjadi ghanimah. Dan ghanimah hanya terjadi lewat aksi jihad tangan (qital). Maka sesungguhnya rezeki yang paling mulia datang dari amal paling mulia yaitu jihad, sesuai ungkapan Afdhalul arzaq ta’ti min afdhail amal.
Orang yang bertaubat dengan mengorbankan nyawa dan darahnya, syahid dijalan-Nya lebih berhak atas ampunan Allah. Semoga Allah merahmati Abdullah Ibnul Mubarak dan Fudhail bin Iyadh.
Kita lihat kisah hari-hari Ibnul Mubarak dalam setahun terbagi tiga : ta’lim, haji dan jihad. Seperti kebiasaannya, ia berhaji dan membawa rombongan dengan biaya sendiri. Tiba-tiba ia membatalkan perjalanan haji karena ada perintah jihad. Dari jabhah (front), ia bersurat kepada sahabatnya Fudhail bin Iyadh: Jika kau lihat kami wahai abid (ahli ibadah) Haramain, kau tahu dalam ibadah kau cuma bermain, siapa yang membasahi pipinya dengan air mata, leher kami dengan darah kami membasah.
Dengan suka hati, Fudhail menghadiahinya sebuah hadist yang ia riwayatkan sendiri tentang derajat syahid tak tertembus kecuali dengan shalat malam seumur hidupnya tanpa tidur dan berpuasa sunah seumur hidupnya tanpa berbuka.
Sebagian masyarakat di dunia Islam berada dalam tuntutan kondisi jihad lisan. Sementara lainnya sudah dalam kondisi jihad qital. Yang pertama dapat dilihat dalam unjuk rasa, tulisan-tulisan, orasi dan pengumpulan dana solidaritas dunia Islam di Palestina, Afghanistan, Bosnia, Chechnya, Kosovo, Poso, Ambon, Maluku utara dan lainnya. Termasuk sikap pelarangan minuman ringan Amerika sejak 20 tahun lalu di Malaysia. Karena 1% harga setiap kalengnya akan mengalir ke Tel Aviv, yang kemudian menjadi peluru-peluru ganas bahkan terhadap bayi sekalipun.
Hal yang sama nampak pada fatwa-fatwa Dr Qardhawi sesuai doktrin ekonom umat Islam Al Banna. Jauh beberapa abad sebelum ini, syaikh Izzudin bin Abdus Salam telah mengeluarkan fatwa tegas tentang jual beli tanah dan senjata kepada musuh umat Islam.
Sedikit yang sadar uang Rp 1.000 yang tak laku untuk membeli semangkuk bakso, tetap berguna untuk membeli kertas surat atau pulsa yang ditujukan kepada stasiun kemaksiatan, kebohongan, dan kesombongan baik di TV, radio, majalah dan surat kabar.
Bila setiap hari dialog di media cetak dan elektronik direspon kader muda yang bergairah, dan redaksi menerima 1.000 atau 2.000 pucuk surat serta teguran telepon, dakwah ini akan menjadi subur dengan kader-kader tanggap, sigap dan tidak telmi. Kaum muda cepat berubah dari khalayak dungu yang emosional menjadi kader yang efisien dan efektif. Banyak orang tak malu telanjang didepan umum, mengajarkan ajaran busuk, tawuran bodoh yang sia-sia, mati dalam kemaksiatan dan narkoba. Berbeda jauh dengan siapa yang siap mati dengan syahid dijalan-Nya. Tanpa rasa sakit kecuali seperti satu kali sengatan (H.R. Tirmidzi, Nasai, Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban) dan sesudah itu hanya gerbang surga yang terbentang.
Referensi :
Untukmu Kader Dakwah, Penerbit Pustaka Dakwatuna, K.H. Rahmat Abdullah
by Danu Wijaya danuw | Dec 31, 2015 | Artikel, Dakwah
Oleh : K.H. Rahmat Abdullah
Yang diinginkan dari al amal adalah:
Buah dari ilmu dan ikhlas seperti yang disebutkan dalam Q.S. At Taubah ayat 105 : “Beramallah kalian, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat amal kalian itu dan kalian akan dikembalikan kepada Allah…”
Adapun urutan amal adalah:
- Mengkoreksi dan memperbaiki diri
- Membentuk dan membina keluarga muslim
- Memberi petunjuk dan membimbing masyarakat dengan dakwah
- Membebaskan tanah air dari penguasa asing
- Memperbaiki pemerintahan
- Mengembalikan kepemimpinan dunia kepada umat Islam
- Menjadi soko guru dunia dengan menyebarkan dakwah islamiyah ke seluruh penjuru dunia
(Hasan Al Bana)
Banyak orang merasa telah beramal namun tak ada buah apapun yang dapat dipetik dari amalnya, baik itu perubahan sifat, kelembutan hati ataupun kearifan budi dan keterampilan beramal. Bahkan tak sedikit diantara mereka beramal jahat tetapi mengira beramal baik. Karenanya Al Qur’an selalu mengaitkan amal dengan keshalihan, jadilah amal shalih.
Kata shalih tidak sekedar bermakna baik, tetapi adalah suatu pengertian tentang harmoni dan tanasukhnya (keserasian) suatu amal dengan sasaran, tuntunan, tuntutan, dan daya dukung. Amal disebut shalih bila pelakunya selalu mengisi ruang dan waktu yang seharusnya diisi.
Betapa banyak amal menjadi berlipat ganda nilainya oleh niat baiknya dan itu tak akan terjadi bila pelakunya tak punya ilmu tentang hal tersebut. Dan demikian pula sebaliknya. Barangsiapa yang beramal tanpa dilandasi dengan ilmu, maka bahayanya akan lebih banyak daripada manfaatnya, sebagaimana amal tanpa niat berakibat kelelahan, dan ikhlas tanpa realisasi berakibat buih.
Kita tak punya kekuatan apapun untuk melarang orang bekerja dalam lingkup amal islami, bahkan mereka yang menjalaninya dengan cara yang kita nilai merugikan perjuangan. Sehingga pada saatnya kita mendapat penyikapan negatif atas kesalahan yang dilakukan aktifis amal Islami. Problema kaum khawaraj dan berbagai gerakan lainnya menunjukkan fenomena para pengamal mulai dari yang ikhlas minus fiqih, sampai yang oportunis dan pemanfaatan jargon.
Hama-hama Amal
Sebagaimana tumbuhan, amalpun terancam hama. Riya (beramal untuk dilihat), ujub (kagum diri), sum’ah (beramal untuk populer/didengar), mann (membangkit-bangkit pemberian) adalah hama yang akan memusnahkan amal. Seorang aktifis yang berkurban dengan semua yang dimilikinya harus mengimunisasi amalnya agar disaat hari perjumpaan kelak tak kecewa karena amalnya menjadi haba-an mantsura (debu berterbangan).
Pelipat gandaan kualitas dan kuantitas kerja yang dilakukan para sahabat tak dapat dikejar generasi manapun. Bayangkan, hanya dalam dua dekade saja terjadi perubahan besar pada pola sikap, pandangan hidup, dan tradisi bangsa arab. Kerja besar taghyir (perubahan) ini sukses seperti ungkapan Sayyid Quthb dalam Ma’alim fit Thariq berkat komitmen mereka yang
- Menuntut ilmu bukan sekedar mengoleksi ilmu
- Putus dari jahiliyah kemarin dan menghayati hidup baru dalam Islam, tanpa keinginan sedikitpun untuk kembali ke dalam masa jahiliyah
- Bersiap siaga menunggu komando Al Qur’an seperti prajurit siaga menunggu aba-aba komandan
Kerja untuk Perubahan Masyarakat
Hari ini ribuan surat kabar, radio, dan televisi dunia bekerja diberbagai kawasan untuk menyebarkan fasad (kerusakan). Hati orang-orang dibunuh sebelum jasad mereka dikubur. Kemana ribuan kader yang hanya menggerutu tanpa berbuat apapun kecuali gerutu?Apakah masyarakat dapat berubah dengan gunjingan dari mimbar masjid?
Hari ini rumah umat kebakaran. Tidakkah setiap orang patut memberi bantuan memadamkan api walaupun hanya dengan segelas air; dengan pulsa, perangko, dan kertas surat yang dikirimkan kepada pedagang kerusakan. Menegaskan pengingkarannya terhadap ulah mereka yang sangat menyengsarakan masyarakat dengan siaran dan penerbit fasad. Sebelum akhirnya mengirim darah dan nyawa mereka kesana ketika usaha santun tak lagi membawa hasil.
Banyak orang mengandalkan nisbah diri dengan nama besar suatu organisasi atau jamaah, berbangga dengan kepemimpinan tokoh perubahan sejarah, namun sayang mereka tak pernah merasa defisit, padahal sama sekali tidak meneladani keutamaan mereka. “Barangsiapa lambat amalnya tidak akan menjadi cepat karena nasabnya”. (H.R. Muslim)
Apa yang Harus Dikerjakan?
Orang beramal dihari itu seperti 50 kali kerja kamu hari ini sebagaimana dalam riwayat Abi Daud, Tirmidzi, Nasa’i. Sebagian kerja dakwah memang kata, tetapi tak dapat dituding sebagai cuma omong, seperti halnya penyiar dan reporter yang mengisi daftar profesi dengan omong. Namun perlu dibedakan mana dakwah yang mencukupkan diri dan puas dengan memberi informasi seram kepada khalayak. Bisa pula menina bobokan khalayak dengan mimpi-mimpi indah, atau mengingatkan bahaya seraya memberi jalan keluar. Mampukah mereka tampil sebagai problem solver. Dan hari ini banyak juga orang kaya menjadi problem trader.
Referensi:
Untukmu Kader Dakwah, Penerbit Pustaka Da’watuna, KH. Rahmat Abdullah
by Danu Wijaya danuw | Dec 26, 2015 | Artikel, Dakwah
Oleh: KH. Rahmat Abdullah
Yang dimaksud dengan al ikhlas adalah “Seluruh ucapan, perbuatan, dan perjuangan seorang aktivis muslim selalu ditujukan dan dimaksudkan hanya kepada Allah Ta’ala saja. Tidak mengharapkan imbalan apapun, baik berupa harta, tahta, martabat dan kedudukan tanpa melihat maju mundurnya perkembangan dakwah.” ~ Hasan Al Banna.
Ada orang yang sangat sederhana dalam beramal dengan ketulusan tiada tara. Puji tak membuatnya gairah dan celaan tak menghambatnya dari meningkatkan amal kebajikan. Ia ada ditengah keramaian dan jiwanya sendiri menghadap Khaliqnya tanpa berharap dan peduli terhadap penilaian manusia.
“Tiga hal yang tak membuat hati mukmin kering : 1. Ikhlas dalam beramal karena Allah, 2. Tulus terhadap para pemimpin (dengan nasihat non koreksi), 3. Setia kepada jamaah muslim karena doa mereka meliput dari belakang mereka “(H.R. Ahmad, Ibnu Majah, Hakim, Abu Daud dan Tirmidzi)
Hasan Al Bashri mencurahkan kebeningan hati di zamannya : “Tak ada lagi yang tersisa dari kenikmatan hidup kecuali tiga hal:
- Saudara yang kau selalu dapatkan kebaikannya; bila engkau menyimpang ia akan meluruskanmu
- Shalat dalam keterhimpunan (jasad, hati dan pikiran), kau terlindungi dari melupakannya dan kau penuh meliput ganjarannya
- Cukuplah kebahagiaan hidup dicapai bila kelak tak seorangpun punya celah menuntutmu di hari kiamat.”
Ketika seseorang berusaha keras untuk beramal tanpa berfikir apa keuntungan yang bakal didapatnya, ia disebut mukhlis, artinya orang yang menyerahkan amalnya kepada Allah dengan sepenuh hati tanpa pamrih duniawi. Kemudian pada saat ia mendapat dorongan beramal tanpa ingat apapun kecuali ridha Allah ia menjadi mukhlas, artinya orang yang dijadikan mukhlis.
Hati Tanpa Jelaga
Hati bening seorang alim ibarat penaka gelas kristal yang bening dan bersih, akan memancarkan cahaya ilmunya.Sulit untuk mendapatkan hati yang bening dan amal yang ikhlas tanpa kejujuran. Ia adalah kejujuran kepada bisikan nurani san Al Khaliq. Betapa mengerikan kemiskinan hati bila melanda kaum berilmu.
Orang-orang yang Ringkih Jiwa
Bal’am bin Baura, Wakid bin Nughirah, dan Abdullah bin Ubay adalah profil kaum berilmu yang tak berfaham. Yang pertama jelas-jelas bersebrangan dengan Nabi Musa as dan perjuangannya, lalu bermanis-manis dengan kubangan dunia, fir’aun. Adakah perbedaan fir’aunisme kemarin dengan fir’aunisme hari ini, yang membuat Bal’am-bal’am kontemporer membelanya mati-matian?
Adakah kedunguan yang melebihi kedunguan Walid yang di awal-awal laporan ilmiahnya tentang Al Qur’an menutup semua jalan bagi penolakan Al Qur’an sebagai kalam Allah. Gemertak gigi orang awam di Darun Nadwah rupanya lebih mengerikan baginya, sehingga di akhir presentasinya ia mengeluarkan konklusi : “Al Qur’an adalah sihir, lihatlah ia sudah memisahkan anak dari orangtuanya dan budak dari tuannya”.
Abdullah bin Ubay yang menarik penampilannya dan tutur katanya. Kandidat pemimpin tertinggi Madinah pra hijriah ini melihat peluang besar baginya. Penyakit nifaq merasukinya dan loyalitas tak dimilikinya. Yang ada hanya kepentingan dan kedengkian. Jadilah ia orang yang manis di muka dan mengutuk dibelakang, beriman di mulut dan kafir di hati.
Ikhlas dan Shidiq
Ikhlas artinya menjaga diri dari perhatian makhluk. dan shidiq artinya menjaga diri dari perhatian nafsu. Seorang mukhlis tak punya riya dalam dirinya dan seorang shidiq tak punya ijab nafsi (kagum diri), demikian Abu Ali Daqqaq mengurai.
Kaab bin Malik pantas mendapatkan gelar shidiq sebab hukuman yang diterima dengan ikhlas. Tak kurang 50 hari berlalu keterasingan berat akibat alasan absen dari perang tabuk.
Banyak ulama yang tak henti-hentinya mengkritik dan meluruskan pemerintahan, sementara sang Amir tak jemu memenjarakannya. Namun saat sang Amir menggaungkan jihad, para ulama tampil didepan tanpa dendam pribadi. Kritik sudah kulancarkan, demikian paradigma mukhlisin.
Khalid bin Walid tegas menjawab pertanyaan heran orang lain, mengapa kau maui bertempur dibawah komando orang sementara engkau dimakzulkan dari posisi panglima? Ia berjihad karena Allah bukan karena Umar.
Betapa mengerikan keterasingan pengamal yang selalu saja dihantui apa kata orang. Sunyi terdampar di gurun riya, tersungkur dijurang ujub, segala ketakutan ada disana, kecuali takut kepada Allah.
Referensi :
Untukmu Kader Dakwah, Penerbit Pustaka Da’watuna, KH Rahmat Abdullah