0878 8077 4762 [email protected]

Ketika Gubernur Al-Hisyam Bertemu Seorang Tabiin

Gubernur al-Hisyam adalah salah seorang pejabat yang sangat berkuasa pada zaman Dinasti Umayah. Al-Hisyam sering kali menggunakan kekuasaannya untuk keperluannya sendiri. Seperti suatu kali, ia ingin menunaikan ibadah haji. Atas biaya negara, ia pun berangkat menuju tanah suci Mekkah. Seperti tahun-tahun sebelumnya, ibadah haji yang dilaksanakan al-Hisyam saat itu diikuti rombongan besar yang terdiri dari sanak saudara, pejabat teras, dan para pengawalnya.
Pada masa pemerintahan ini, jumlah sahabat Rasulullah yang masih hidup hanya tertinggal beberapa orang saja. Bisa dihitung dengan jari. Di Mekkah, entah kenapa, tiba-tiba saja al-Hisyam ingin bertemu dengan salah seorang sahabat Rasulullah. Tetapi, terlambat. Sahabat terakhir yang ada di kota suci itu pun sudah wafat. Karenanya, para pengawal al-Hisyam tidak bisa mendatangkan sahabat kepada sang gubernur. Akhirnya sebagai gantinya, para pengawalpun mendatangkan salah seorang tabiin, generasi setelah sahabat, yang masih hidup untuk dipertemukan dengan Hisyam.
Tabiin yang terpilih itu adalah Thawus Al-Yamani. Ia yang kemudian mewakili para tabiin yang lainnya. Maka, Thawus pun segera menghadap Gubernur Hisyam. Di wajahnya tidak tersirat beban apapun.
Ketika hampir masuk, Thawus menanggalkan alas kakinya persis halnya ketika akan menginjak permadani merah yang membentang mewah di hadapan Hisyam. Hisyam, ketika itu sedikit mendongak keras. Emosinya mendadak mendidih. Tapi ia masih bisa menahan diri.
“Assalamuallaikum,” ucap Thawus kepada Hisyam–tanpa didahului dengan ucapan ta’zhim terlebih dahulu. Dan yang cukup membuat Hisyam lebih tersentak lagi adalah ketika Thawus masuk dan duduk persis di samping tempat duduk Hisyam. Muka Hisyam merah. Apalagi ketika Thawus bertanya, “bagaimana keadaanmu wahai Hisyam?”
Mendapat perlakuan seperti itu, Hisyam tentu saja tersinggung. Ia marah besar. Hampir-hampir ia segera memberikan hukuman. Atau membunuhnya sekalian. Orang macam apa dia, bertemu dengan seorang gubernur tidak mempunyai kesantunan sama sekali?
Thawus bukannya tidak menyadari hal itu. Namun, ia berusaha untuk tersenyum kepada Hisyam seraya berkata, “Wahai Hisyam, engkau berada di wilayah tanah suci Allah dan tanah suci RasulNya. Karenanya, demi tempat yang mulia ini engkau tidak diperkenankan melakukan niat buruk seperti itu.”
Hisyam terperanjat. Ia tidak menyangka sama sekali bahwa orang di hadapannya mengetahui apa yang ada dalam hatinya. Tapi tak urung ia berujar juga, masih dalam keadaan marah, “Lalu, engkau sendiri, apa maksudmu berulah seperti ini?”
Thawus malah balik bertanya, “Apa yang telah aku lakukan?”
Hisyam menarik nafas sambil terus memandangi muka Thawus dengan penuh ketersinggungan. “Engkau tanggalkan alas kaki persis di hadapan karpet merahku. Engkau masuk tanpa salam ta’zhim terlebih dahulu kepadaku dan tidak mencium tanganku. Engkau memanggilku hanya dengan nama kecilku tanpa gelar kehormatanku. Dan engkau duduk di sampingku tanpa terlebih dahulu permisi. Bukankah semua itu merupakan penghinaan kepadaku?”
Thawus kembali tersenyum. Ia balik memandang Hisyam dengan tajam. Hisyam merasa risih entah kenapa. Sejurus kemudian, Thawus bersuara kembali, “Wahai Hisyam! Inginkah engkau mengetahui kenapa aku melakukan semua ini?”
Tanpa menunggu jawaban Hisyam, Thawus terus berkata, “Kutanggalkan alas kakiku karena aku juga menanggalkan alas kakiku lima kali sehari saat aku menghadap Tuhanku, Azza waJalla. Dia tidak marah, apalagi murka lantaran perbuatanku itu.
“Wahai Hisyam! Aku tidak mencium tanganmu lantaran aku mendengar Ali bin Abi Thalib berkata bahwa seseorang tidak boleh mencium tangan orang lain kecuali tangan istrinya karena syahwat, atau tangan anaknya karena kasih sayang. Hai Hisyam! Aku tidak mengucapkan salam ta’zhim dan menyebutmu dengan kata-kata Amirul Mukminin karena tidak semua orang rela atas kepemimpinanmu. Karenanya aku enggan berbohong.”
“Hai Hisyam! Aku tidak memanggilmu dengan sebutan gelar kebesaran lantaran Allah memanggil para kekasihNya di dalam Al-Quran dengan sebutan nama semata-mata, seperti ‘Ya Daud, Ya Yahya, Ya Isa.’ Sedangkan Ia memanggil musuh-musuhNya dengan sebutan ‘kuniyah,’ seperti Abu Lahab.
“Wahai Hisyam! Aku duduk di sampingmu lantaran kudengar Ali berkata, ‘apabila engkau ingin melihat calon penghuni neraka, lihatlah orang yang duduk sementara orang sekitarnya tegak berdiri.’
Mendengar jawaban-jawaban ini, Hisyam yang pada awalnya sangat marah, lunglai dengan tiba-tiba. Kata-kata Thawus begitu tajam menohok dirinya. Tapi di sisi lain, ia meyakini kebenaran apa yang dikatakan oleh Thawus.
Walau dengan malu yang luar biasa, Hisyam kemudian tiba-tiba kini bersimpati kepada Thawus. Kemudian ia malah minta nasihat kepadanya.
Memenuhi permintaan itu, Thawus pun berkata, “Kudengar Ali berkata dalam salah satu nasihatnya, bahwa sungguh dalam api neraka ada ular-ular yang berbisa dan kalajengking raksasa yang menyengat setiap pemimpin yang tidak adil terhadap rakyatnya.”
Mendengar itu, Hisyam pun menggigil. Ia takut kalau-kalau selama ini ia tidak berlaku adil kepada rakyatnya. Ia tiba-tiba ingin belajar kepada Thawus untuk belajar bersikap adil. Seperti tadi Thawus datang kepadanya. Seorang tabiin yang mencoba bersikap adil kepada pemimpinnya.

Bangun Tidur? Ini Dia Sunnah Rasulullah

KETIKA bangun tidur apa yang biasanya kita lakukan?
Periksa handphone apakah ada pesan baru, melihat jam, melakukan peregangan otot, atau ada yang lainnya?
Ayo mulai sekarang, kita biasakan melakukan sunah Rasulullah. Manfaatnya untuk dunia dan juga akhirat.
Begitu membuka mata di pagi hari, Ini dia beberapa hal yang Rasulullah lakukan:
1. Berdo’a ketika bangun tidur
Alhamdulillaahilladzii ahyaanaa ba’damaa amaatanaa wa ilaihinnusyuur.
“Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah Dia mewafatkan (menidurkan) kami, dan kepada-Nya kami dibangkitkan,” (HR. Al-Bukhari).
2.Mengusap bekas tidur yang ada di wajah dengan tangan
Menurut Imam an-Nawawi dan al-Hafizh Ibnu Hajar, hal ini dianjurkan berdasarkan hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam:
“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bangun tidur kemudian duduk sambil mengusap bekas tidur dari wajahnya dengan tangannya,” (HR. Muslim).
3. Bersiwak
“Apabila Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bangun malam, beliau membersihkan mulutnya dengan bersiwak,” (Muttafaq ‘alaih).
Dalam media briefing ‘Sensodyne Expert Sharing’ di Aula Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, Senin (20/9/2010), drg Robert Lessang, Sp.Perio mencontohkan salah satu kebiasaan menggosok gigi yang tidak tepat.
Menurutnya, kebiasaan menggosok gigi lebih tepat untuk dilakukan saat bangun tidur daripada sesudah sarapan pagi. Tujuannya memang bukan untuk membersihkan sisa makanan melainkan mencegah terbentuknya plak atau karang gigi.
“Sesudah sarapan pagi, pH di mulut turun sehingga risiko terjadinya abrasi atau pengikisan di gigi lebih tinggi. Sebaiknya jangan langsung menyikat gigi setelah makan, beri waktu setidaknya 25 menit,” ungkap drg Robert.
Abrasi atau pengikisan gigi menyebabkan lapisan terluar gigi yakni enamel menipis, sehingga lapisan di bawahnya yakni dentin menjadi terbuka. Lapisan dentin ini langsung terhubung dengan syaraf sehingga sangat sensitif jika tidak terlindungi.
Bahkan jika terburu-buru, sisa makanan di gigi cukup dibersihkan dengan dental floss atau berkumur setelah sarapan. Asalkan saat bangun tidur sudah menggosok gigi, maka plak baru mulai terbentuk lagi 4-8 jam sesudahnya.
5. Ber-istintsar
Yaitu, mengeluarkan atau menyemburkan air dari hidung sesudah menghirupnya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
“Apabila seorang di antara kalian bangun tidur, maka beristintsarlah tiga kali, karena sesungguhnya syaitan bermalam di ujung (rongga) hidungnya,” (Muttafaq ‘alaih).
6. Mencuci kedua tangan tiga kali
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
“Apabila salah seorang kalian bangun tidur, janganlah memasukkan tangannya ke dalam bejana sebelum ia mencucinya tiga kali,” (Muttafaq ‘alaih).
Demikianlah beberapa poin yang bisa kita tiru dari kebiasaan-kebiasaan Rasulullaah setelah bangun tidur
 
Sumber : Ummi

Terkait Aksi 5 Mei, Din Syamsudin : Ini Jihad Kita

Terkait Aksi 5 Mei, Din Syamsudin : Ini Jihad Kita

Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Din Syamsudin menyatakan mendukung aksi simpatik 5 Mei 2017 nanti.
Melalui pesan whatsapp yang dibacakan Ketua GNPF MUI Bachtiar Nasir, Din menegaskan aksi damai Jumat besok merupakan jihad.
“Saya mendukung aksi 5 Mei besok. Semoga ini menjadi jihad kita,” kata Bachtiar Nasir membacakan whatsapp yang diterimanya dari Mantan Ketua MUI tahun 2014-2015 saat konferensi pers di AQL, Tebet, Jakarta, Selasa (02/05).
Bachtiar juga menyampaikan permintaan maaf Din Syamsudin yang saat ini masih di Malang. Sehingga tidak bisa menghadiri konferensi pers.
Seperti diketahui, saat pembukaan Rakernas II MUI dirinya menegaskan akan turun langsung memimpin aksi jika Ahok bebas.
“Kalau sampai (Ahok) bebas, saya akan turun memimpin perlawanan,” ujar Ketua Umum PP Muhammadiyah periode 2005-2015.
GNPF MUI Siap Gelar Aksi Simpatik 5 Mei di Jakarta
Screenshot_2017-05-03-15-41-12_com.android.chrome_1493800898144
Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF MUI) siap menggelar aksi terkait kondisi penegakan hukum di Indonesia belakangan ini.
Ketua Umum GNPF MUI, Bachtiar Nasir menyatakan, aksi simpatik yang akan digelar pada Jumat, 5 Mei nanti merupakan momen yang ditunggu umat Islam untuk menegakkan keadilan.
“Momen ini sangat ditunggu masyarakat,” katanya saat memberikan keterangan konferensi pers di AQL Islamic Centre, Tebet, Jakarta, Selasa (02/05).
Menurutnya, permasalahan besar yang sekarang melanda bangsa ini membuat GNPF harus turun langsung.
“Masalah besar yang melanda bangsa ini adalah soal rasa keadilan umat Islam,” ujarnya.
 
Sumber : Panjimas

Kesejahteraan Buruh dalam Islam

Islam memberikan penghargaan tinggi terhadap pekerjaan, dan buruh yang bekerja serta mendapatkan penghasilan dengan tenaganya sendiri wajib dihormati. Karena dalam perspektif Islam, bekerja merupakan kewajiban mulia bagi setiap manusia agar dapat hidup layak dan terhormat. Bahkan kedudukan buruh dalam Islam menempati posisi terhormat.
Rasulullah saw pernah menjabat tangan seorang buruh yang bengkak karena kerja keras, lalu menciumnya dan berkata: “Inilah tangan yang dicintai Allah dan Rasul-Nya.” (HR. Bukhari).
Tolak ukur pekerjaan dalam Islam adalah kualitas dari hasil kerja tersebut, maka buruh yang baik adalah buruh yang meningkatkan kualitas kerjanya, sebagaimana firman Allah Swt: “Dan masing-masing orang memperoleh derajatnya dengan apa yang dikerjakannya.” (QS. al-An’am: 132).
Mengingat pentingnya kualitas kerja ini, Rasulullah saw menyatakan dalam satu hadis: “Sesungguhnya Allah senang bila salah seorang dari kamu meninggikan kualitas kerjanya.” (HR. Baihaqi).
Dalam memandu hubungan pengusaha dan buruh, Islam memiliki prinsip muswah (kesetaraan) dan ‘adlah (keadilan). Dengan prinsip kesetaraan menempatkan pengusaha dan pekerja pada kedudukan yang sama, yaitu saling membutuhkan.
Di satu pihak buruh membutuhkan upah dan di pihak lain pengusaha membutuhkan tenaga, maka pada saat menentukan hak dan kewajiban masing-masing didasarkan pada asas kesetaraan. Termasuk hak ibadah para buruh untuk beribadah sesuai kepercayaan.
Firman Allah Swt: “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. al-Hujurat: 13).
Semua manusia, apakah dia buruh atau pengusaha adalah sama sebagai hamba Allah. Maka hak dan kewajiban diantara keduanya juga sama, tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah.
Pemenuhan hak-hak buruh bukan berarti mengurangi kewajiban buruh dalam melaksanakan pekerjaan secara sungguh-sungguh, sesuai dengan perjanjian kerja. Karena itu Islam sangat menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan para majikan untuk memberikan gaji pegawainya tepat waktu, tanpa dikurangi sedikit pun.
Dari Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda:
أَعْطُوا الأَجِيرَ أَجْرَهُ قَبْلَ أَنْ يَجِفَّ عَرَقُهُ
“Berikanlah upah pegawai (buruh), sebelum kering keringatnya.” (HR. Ibn Majah dan dishahihkan al-Albani).
Islam juga memberi peringatan keras kepada para majikan yang menzalimi pembantunya atau pegawainya.
Dalam hadis qudsi dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meriwayatkan, bahwa Allah berfirman:

ثَلاَثَةٌ أَنَا خَصْمُهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ… وَرَجُلٌ اسْتَأْجَرَ أَجِيرًا فَاسْتَوْفَى مِنْهُ وَلَمْ يُعْطِ أَجْرَهُ

“Ada tiga orang, yang akan menjadi musuh-Ku pada hari kiamat: … orang yang mempekerjakan seorang buruh, si buruh memenuhi tugasnya, namun dia tidak memberikan upahnya (yang sesuai).” (HR. Bukhari 2227 dan Ibn Majah 2442)
Islam tidak hanya memberikan jaminan terhadap hak-hak buruh, tetapi juga menjamin hak-hak pengusaha. Karena itu kesepakatan atau perjanjian kerja dianggap sebagai sumpah yang harus ditunaikan oleh kedua belah pihak.
Selain itu Islam memiliki prinsip keadilan (‘adlah), merupakan prinsip yang ideal dalam konsep perburuhan.
Dengan prinsip ini akan menempatkan kedua belah pihak, baik buruh maupun majikan, untuk memenuhi perjanjian yang telah disepakati bersama dan memenuhi kewajibannya.
Firman Allah Swt: “…dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan, dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya), dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (QS. al-Baqarah: 177).
 
Diolah dari tulisan : Drs. Fauzi Abubakar, M.Kom.I (Magister Komunikasi Islam), Dosen STIKes Muhammadiyah, Lhokseumawe

Para Buruh Muslimah Swedia Menuntut Hak Berjilbab di Peringatan Mayday

Stockholm – Di Hari Buruh Internasional, Senin (01/05/2017) kemarin para muslimah di Swedia turun ke jalan, menuntut hak berjilbab di tempat kerja.
Aksi dilakukan setelah Hakim Pengadilan Uni Eropa, mengizinkan perusahaan swasta untuk melarang karyawan mengenakan simbol-simbol keagamaan.
Secara tidak langsung, keputusan itu merupakan serangan langsung terhadap wanita-wanita yang mengenakan jilbab di tempat kerja mereka. Keputusan diambil setelah seorang wanita Belgia dan seorang wanita Perancis mengajukan tuntutan hukum karena diberhentikan dari pekerjaan mereka karena mengenakan jilbab.
Aksi ini tidak hanya dilakukan di ibukota Stockholm, tetapi juga di kota-kota Malmo, Gothenburg, Vasteras, Sala dan Umea. Mereka meneriakkan slogan-slogan seperti “Hancurkan Rasisme!”, “Jilbab Saya Bukanlah Urusan Anda” dan “Pekerjaan adalah Hak Kita”.
Pesan para demonstran
“Wanita Muslim di sini (Gothenburg) biasanya tidak pergi untuk demonstrasi pada May Day. Aksi ini menunjukkan begitu banyak orang dari berbagai latar belakang yang memperjuangkan hak-hak buruh,” kata Maimuna Abdullahi, salah satu penyelenggara acara tersebut kepada Al Jazeera.
“Saya keluar karena ini adalah tanggung jawab masyarakat kita untuk membela kita semua,” kata Gabrielle Guastad, seorang peserta aksi dari jaringan aktivis Swedia di Gothenburg, The Right Our Bodies.
“Tidak ada kritik keras terhadap keputusan tersebut, terutama di Swedia, sebuah negara yang dipuji karena hak asasi manusia,” kata Abdullahi.
Untuk mempromosikan pawai tersebut, Aftab Soltani, salah satu panitia, mengungkapkan bahwa Muslimah adalah sosok yang kuat. Dia mengatakan bahwa tujuan aksi untuk membalikkan citra Muslimah sebagai korban diskriminasi.
Sementara itu, para netizen langsung menyebarkan postingan-postingan terkait aksi itu, sembati menyematkan hastag #Muslimwomenban.
“Kata-kata pengadilan tentang netralitas di sebuah perusahaan juga menunjukkan bahwa hijab dianggap abnormal,” kata Hajar El Jahidi dari Forum Eropa untuk Wanita Muslim.
“Keputusan pengadilan tersebut juga menyebabkan beberapa pengusaha sektor swasta memasukkan klausul netralitas dalam kebijakan mereka sebagai dasar untuk menghapus atau melarang pekerja yang mengenakan jilbab,” pungkasnya.
 
Sumber: Al-Jazeera

Kisah Sahabat Nabi : Abu Darda Ahli Hikmah yang Budiman

Pada saat balatentara Islam berperang, kalah dan menang di beberapa penjuru bumi, di kota Madinah berdiam seorang ahli hikmah dan filsuf yang mengagumkan. Dari dirinya memancar mutiara yang cemerlang dan bernilai.
Ia senantiasa mengucapkan kata-kata indah kepada masyarakat sekelilingnya, “Maukah kamu sekalian, aku kabarkan amalan-amalan yang terbaik. Amalan yang terbersih di sisi Allah dan paling meninggikan derajat kalian. Lebih baik dari memerangi musuh dengan menghantam batang leher mereka, lalu mereka pun menebas batang lehermu, dan malah lebih baik dari emas dan perak?”
Para pendengarnya menjulurkan kepala mereka ke depan karena ingin tahu, lalu bertanya, “Apakah itu wahai, Abu Darda’?”
Abu Darda’ menjawab, “Dzikrullah!”
Ahli hikmah yang mengagumkan ini bukannya menganjurkan orang menganut filsafat dan mengasingkan diri. Ia juga tidak bermaksud menyuruh orang meninggalkan dunia, dan tidak juga mengabaikan hasil agama ini yang telah dicapai dengan jihad fi sabilillah.
Abu Darda’ bukanlah tipe orang semacam itu, karena ia telah ikut berjihad mempertahankan agama Allah bersama Rasulullah SAW hingga datangnya pertolongan Allah dengan pembebasan dan kemenangan merebut kota Makkah.
Abu Darda’ adalah ahli hikmah yang besar di zamannya. Ia adalah sosok yang telah dikuasai oleh kerinduan yang amat besar untuk melihat hakikat dan menemukannya. Ia menyerahkan diri secara bulat kepada Allah, berada di jalan lurus hingga mencapai tingkat kebenaran yang teguh.
Pernah ibunya ditanyai orang tentang amalan yang sangat disenangi Abu Darda’. Sang ibu menjawab, “Tafakur dan mengambil i’tibar(pelajaran).”
Masuk Islam dan Harta untuk Allah
Pada saat memeluk Islam dan berbaiat pada Rasulullah SAW, Abu Darda’ adalah seorang saudagar kaya yang berhasil di antara para saudagar kota Madinah. Dan sebelum memeluk Islam, ia telah menghabiskan sebagian besar umurnya dalam perniagaan, bahkan sampai Rasulullah dan kaum Muslimin lainnya hijrah ke Madinah. Tidak lama setelah memeluk Islam, kehidupannya berbalik arah.
“Aku tidak mengharamkan jual-beli. Hanya saja, aku pribadi lebih menyukai diriku termasuk dalam golongan orang yang perniagaan dan jual-beli itu tidak melalaikannya dari dzikir kepada Allah,” ujarnya.
Abu Darda’ sangat terkesan hingga mengakar ke dasar jiwanya dengan ayat-ayat Al-Qur’an yang berisi bantahan terhadap, “Orang yang mengumpul-ngumpulkan harta dan menghitung-hitungnya.” (QS Al-Humazah: 2-3).
Ia juga sangat terkesan sabda Rasulullah SAW, “Yang sedikit mencukupi, lebih baik daripada yang banyak namun merugikan.”
Oleh sebab itulah, ia kerap menangisi mereka yang jatuh menjadi tawanan harta kekayaan. “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari hati yang bercabang-cabang.”
Orang-orang bertanya, “Apakah yang dimaksud dengan hati yang bercabang-cabang itu?”
“Memiliki harta benda di setiap lembah!” jawabnya. Ia mengimbau manusia untuk memiliki dunia tanpa terikat padanya. Itulah cara pemilikan hakiki. Adapun keinginan hendak menguasainya secara serakah, takkan pernah ada kesudahannya. Maka yang demikian adalah seburuk-buruk corak penghambaan diri.
Saat itu ia juga berkata, “Barangsiapa yang tidak pernah merasa puas terhadap dunia, maka tak ada dunia baginya.”
Bagi Abu Darda’, harta hanyalah alat bagi kehidupan yang bersahaja dan sederhana, tidak lebih. Berpijak dari sini, maka manusia hendaknya mengusahakannya dengan cara yang halal, dan mendapatkannya secara sopan dan sederhana, bukan dengan kerakusan dan mati-matian. “Jangan kau makan, kecuali yang baik. Jangan kau usahakan kecuali yang baik. Dan jangan kau masukkan ke rumahmu, kecuali yang baik!” ujarnya.
Menurut keyakinannya, dunia dan seluruh isinya hanya semata-mata pinjaman dan menjadi jembatan untuk menyeberang menuju kehidupan yang abadi.
KetikKetika
Pada suatu hari, para sahabat menjenguknya ketika ia sakit. Mereka mendapatinya terbaring di atas hamparan dari kulit. Mereka menawarkan kepadanya agar kulit itu diganti dengan kasur yang lebih baik dan empuk.
Tawaran ini dijawabnya sambil memberi isyarat dengan telunjuknya, sedangkan kedua bola matanya menatap jauh ke depan.
“Kampung kita nun jauh di sana, untuknya kita mengumpulkan bekal. Dan ke sana kita akan kembali. Kita akan berangkat kepadanya dan beramal untuk bekal di sana.”