by Danu Wijaya danuw | Feb 17, 2017 | Artikel, Dakwah
Hari Jum’at merupakan hari yang dimuliakan oleh seluruh penjuru umat muslim di berbagai belahan dunia. Karena pada hari itu, setiap pria yang memeluk agama islam diwajibkan untuk melaksanakan shalat Jum’at di Masjid secara berjamaah.
Di hari Jum’at pula, ada amalan-amalan sunnah yang mana didalamnya terdapat keutamaan berupa pahala. Oleh karena itu, jangan pernah menyiakan-nyiakan kesempatan pada hari itu agar kita mendapatkan pahala dari Allah SWT.
Dibawah ini beberapa amalan dan adab yang patut untuk diperhatikan bagi tiap umat muslim dalam menghidupkan syari’at Nabi Muhamad SAW pada hari Jum’at.
1. Mandi dan Memakai Wangi-wangian
Rasulullah Sallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda dalam hadits riwayat Ibnu Hibban dan Al-Hakim bahwasanya : kita disunnahkan untuk mandi jinabat atau memakai wangi-wangian dan pakaian terbaik ketika akan melaksanakan shalat Jum’at.
Selain sebagai syiar hari raya, memakai wangi-wangi juga akan menambah kekhusyukan kita dalam melakukan rangkaian ibadah dalam sholat Jum’at.
2. Memotong Kuku dan Mencukur Kumis
Agar kesempurnaan dalam menyambut hari raya Jum’at semakin bertambah, hendaknya kita membersihkan beberapa kotoran yang ada pada sela-sela jari yakni bagian kuku. Diantara sunnah fitrah sebelum melaksanakan shalat Jum’at yaitu mencukur kumis dan memotong kuku.
Sebagaimana dalam hadits riwayat Al-Baihaqi dan At-Thabrani disebutkan bahwa : Rasulullah senantiasa memotong kuku dan mencukur kumis pada hari Jum’at sebelum beliau melaksanakan sholat Jum’at.
3. Membaca Surat Al-Kahfi
Di masyarakat kita saat ini, hari Jum’at terkandang identik dengan membaca surat Yasin. Hal tersebut sebenarnya sudah berlangsung sejak lama, sehingga diyakini sebagai satu amalan utama pada hari Jum’at.
Padahal, jika kita telaah kembali tentang sebuah hadits riwayat Imam Hakim bahwasanya : Rasulullah Sallallahu ‘alaihi Wasallam menganjurkan membaca surat Al-Kahfi pada hari Jum’at. Barang siapa membaca surat tersebut niscaya cahaya akan menyinarinya diantara dua Jum’at.
4. Memperbayak Shalawat Kepada Nabi Muhammad
Sebagai rasa cinta kita kepada Rasulullah Sallallahu ‘alaihi Wasallam, mengucapkan doa dan mengingatnya dalam lisan merupakan bentuk paling sederhana dari kecintaaan kita kepada Nabi Muhammad Sallallahu ‘alaihi Wasallam.
Di dalam suatu hadits riwayat Abu Daud disabdakan bahwa : umat muslim dianjurkan untuk memperbanyak Shalawat kepada Rasulullah Sallallahu ‘alaihi Wasallam di hari Jum’at. Karena sesungguhnya sholawat itu akan ditampakkan kepada beliau.
5. Bergegas Menuju Masjid
Bersegera mendatangi masjid lebih awal merupakan salah satu anjuran yang dilakukan pada saat akan menunaikan sholat Jum’at.
Dengan berangkat lebih awal, maka masih bisa memiliki waktu luang untuk melakukan rangkaian ibadah seperti shalat sunnah, berdzikir dan membaca Al-Qur’an atau shalawat.
6. Shalat Sunnah Sembari Menunggu Khatib Naik Mimbar
Melaksanakan shalat sunnah sebelum khatib naik mimbar adalah salah satu rangkaian ibadah shalat Jum’at.
Dalam hadits riwayat Muslim disabdakan bahwa : barang siapa mandi dan datang untuk shalat Jum’at, kemudian ia sholat semampunya dan diam mendengarkan khotbah hingga selesai, lalu sholat bersama imam. Maka akan diampuni dosanya mulai Jum’at ini hingga Jum’at berikutnya, ditambah 3 hari.
7. Shalat Sunnah Seusai Shalat Jum’at
Rasulullah Sallallahu ‘alaihi Wasallam menganjurkan kepada kita untuk melaksanakan shalat sunnah sebanyak 4 rakaat seusai shalat Jum’at.
Adapun keterangan lain dari sebuah hadits riwayat Muslim yang menerangkan bahwa : jika kita tergesa-gesa karena sesuatu, maka cukuplah shalat sebanyak 2 rakaat saja
by Danu Wijaya danuw | Feb 17, 2017 | Artikel, Dakwah
Asy-Syaikh Muhammad bin Shālih Al-Ùtsaimīn Allahuyarhamuh berkata:“
“… Wajib bagi kita untuk mengetahui bahwasanya manusia itu bagaimana kondisi mereka maka begitu pula pemimpinnya.
Jika kondisi mereka buruk antara sesama mereka dan dengan Allah, maka Allah akan uji mereka dengan pemimpin mereka. Sebagaimana dalam firman-Nya:
وَكَذَلِكَ نُوَلِّي بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضاً بِمَا كَانُوا يَكْسِبُون
“Dan demikianlah Kami jadikan sebagian orang-orang zhalim berteman dengan sesamanya, sesuai dengan apa yang mereka kerjakan.” (QS. Al-An’am: 129)
Apabila rakyat shalih dan baik, maka Allah akan anugerahkan untuk mereka pemimpin dari kalangan orang-orang yang shalih, dan bila sebaliknya maka yang terjadipun sebaliknya.
Dan, disebutkan bahwa seseorang dari kalangan pemberontak khawarij datang ke Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu, ia berkata,
“Wahai Ali! Kenapa manusia menentangmu dan tidak menentang Abu Bakar dan ‘Umar?!”.
Maka Ali menjawabnya, “Sesungguhnya, rakyat di masa Abu Bakar dan ‘Umar itu saya dan semisal saya, adapun rakyat di masa saya itu kamu dan semisal kamu!”.
Beliau maksudkan dari orang-orang yang tidak memiliki kebaikan padanya. Sehingga, dialah yang menjadi sebab rakyat memberontak dan berpecah belah terhadap Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu yang akhirnya merekapun memerangi beliau radhiallahu ‘anhu.
Dan juga disebutkan, salah seorang penguasa dari Bani Umayyah yang mendengar kritikan dan protes rakyat terhadap dirinya,
Maka beliau seingat saya dia adalah Abdul Malik bin Marwan mengumpulkan para pemuka dan tokoh masyarakat dan berbicara dengan mereka.
“Wahai sekalian manusia! Maukah kalian agar aku menjadi seperti Abu Bakr dan ‘Umar?!”.
Mereka menjawab, “Ya!”.
Beliau berkata, “Jika kalian menginginkannya, maka jadilah kalian seperti kami masyarakatnya Abu Bakr dan ‘Umar!”,
Allah Subhanahu wa ta’ala itu Maha Bijaksana, Ia akan menetapkan pemimpin bagi rakyat sesuai dengan amal mereka.
Jika mereka buruk, maka buruk pula bagi mereka, dan jika mereka baik, maka baik pula untuk mereka.
Namun, bersamaan dengan itu…
Tidaklah diragukan bahwa kebaikan seorang pemimpin itulah asalnya, karena jika baik pemimpin maka terwujudlah kebaikan.
Sebab seorang pemimpin itu memiliki kekuasaan dan mampu untuk mewujudkan kebaikan dan menegakkan keadilan bagi yang menyimpang dan menghukum bagi yang melampui batas dan melanggar.
Semoga Allah Jalla Wa ‘Alā senantiasa memperbaiki seluruh rakyat Indonesia dan para pemimpinnya.
Sumber:
Syarh Riyadhush-Shālihīn, Bab Ash-Shabr (tentang Kesabaran) jilid 1 hal. 282-283, cet. Madārul Wathan, Riyadh.
Akhukum,
Hudzaifah bin Muhammad.
Ghafarallāhu lahu wa wālidaihi
by Danu Wijaya danuw | Feb 16, 2017 | Artikel, Dakwah
Jika kita bingung melihat apa yg terjadi dizaman ini, seorang muslim enggan memakai syariat Islam. Bahkan lantang menentang ajaran agama Islam yang dianutnya. Tetapi disisi lain justru sebagian non-muslim merasa nyaman dengan ajaran Islam. Mari kita simak Asbabun Nuzul (sebab turunnya ayat) Surat An-Nisa ayat 60 – 61.
Ayat 60
أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ آمَنُوا بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَنْ يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُوا أَنْ يَكْفُرُوا بِهِ وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُضِلَّهُمْ ضَلالا بَعِيدًا (٦٠
60. Tidakkah engkau (Muhammad) memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelummu? Tetapi mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya.
Ket :
* Orang yang selalu memusuhi Nabi Muhammad saw dan kaum muslimin. Ada yang mengatakan Abu Barzah adalah tukang tenung pada masa Nabi, dan ada yang mengatakan Ka’ab bin Asyraf (orang munafik).
Ayat 61
وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَى مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ رَأَيْتَ الْمُنَافِقِينَ يَصُدُّونَ عَنْكَ صُدُودًا (٦١
61. Dan apabila dikatakan kepada mereka : “Marilah kamu (patuh) kepada apa yang telah diturunkan Allah dan (patuh) kepada Rasul”, (niscaya) engkau (Muhammad) melihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu.
Menurut pentafsir, Ar-Razi berkata; sebagian besar mufassir berkata; seorang munafik (maksudnya Bisyr si munafik) berdebat dengan seorang Nasrani.
Lalu si Yahudi berkata, “Ada hakim antara aku dan kamu; yaitu Abu Qasim.’
Pilihan si Yahudi kepada Abu Qasim karena dikenal kejujuran dan ketaatan menjalankan hukum berdasarkan syariat Allah.
Si munafik berkata, ‘Ada hakim antara aku dan kamu; Ka’ab bin Asyraf’.”
Sementara pilihan si munafik kepada Ka’ab bin Asyraf karena dikenal muslim yang suka berhukum atas nafsu duniawi.
Penyebab si munafik tidak mau berhukum kepada Nabi SAW adalah karena beliau pasti memutuskan dengan benar dan tidak mau menerima suap. Sementara Ka’ab bin Asyraf sangat menyukai suap.
Dalam hal ini, si Yahudi tersebut benar, sementara si munafik tersebut salah. Karena makna inilah, si Yahudi ingin berhukum kepada Rasulullah SAW, sementara si munafik ingin berhukum kepada Ka’ab bin Asyraf.
Setelah itu mereka berdua tetap bersikeras pada kata-katanya. Akhirnya keduanya menemui Nabi Saw. Lalu beliau Nabi Saw memutuskan memenangkan si Yahudi atas orang munafik tersebut.
Si munafik lantas berkata, “Aku tidak ridha. Mari kita pergi ke Abu Bakar.”
Abu Bakar kemudian memutuskan memenangkan si Yahudi atas orang munafik. Si munafik juga tidak ridha dengan keputusan Abu Bakar, lalu berkata, “Ada Umar yang akan memutuskan perkara antara aku dan kamu.”
Keduanya kemudian menemui Umar, lalu si Yahudi memberitahukan kepada Umar bahwa Rasulullah SAW dan Abu Bakar telah memutuskan mengalahkan si munafik, lalu ia tidak menerima putusan keduanya.
Akhirnya Umar bertanya kepada si munafik, “Benar seperti itu?” Ia menjawab, “Ya.”
Umar berkata, “Tunggu! Aku ada perlu. Aku akan masuk terlebih dahulu untuk memutuskan perkara ini, setelah itu akan keluar menemui kalian berdua.”
Umar masuk, lalu mengambil pedang, setelah itu Umar keluar menemui keduanya dan menebas si munafik hingga tewas, sementara si Yahudi melarikan diri karena kaget ketakutan.
Setelah itu Umar berkata, “Seperti inilah keputusanku terhadap siapa yang tidak menerima keputusan Allah dan keputusan Rasul-Nya.” Ayat ini Q.S. AnNisa ayat 60-61 kemudian turun.
Keluarga si munafik datang lalu mengadukan Umar ra kepada Nabi SAW Beliau kemudian bertanya kepada Nabi SAW mengenai peristiwa ini. Umar berkata, “Dia menolak keputusanmu, wahai Rasulullah.”
Jibril langsung turun pada saat itu juga lalu berkata, “Dia (Umar) itu Al-Faruq; membedakan antara kebenaran dan kebatilan.”Beliau Nabi saw kemudian berkata kepada Umar, “Kau Al-Faruq.”
Kisah serupa juga disebutkan Abu As-Sa’ud, Al-Baidhawi, An-Nasafi, Ruhul Bayan, Al-Khazin, Al-Khatib, dan Al-Kasysyaf.
Salah satu ciri munafik adalah selalu menolak dan menawar ketetapan hukum Allah dan Rasulullah SAW dengan segala alasan duniawi, politik dan kebangsaan yang akhirnya me-nomer-duakan syariat Islam.
by Danu Wijaya danuw | Feb 16, 2017 | Artikel, Dakwah
Publik menyoroti perolehan suara Pilgub DKI Jakarta pada TPS 17 Petamburan Jakarta Pusat yang merupakan lokasi Habib Rizieq Shihab melakukan pencoblosan.
Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) itu ikut mencoblos dalam pergelaran Pilkada DKI Jakarta. Ia dan keluarga mencoblos di TPS 17 di kawasan Petamburan, Jakarta Pusat.
Habib Rizieq, yang mengenakan pakaian serba putih, tampak berjalan kaki dari kediamannya yang tak jauh dari TPS.
Habib Rizieq datang ditemani istri dan kedua anak perempuannya. Keempatnya tampak mencoblos pada waktu hampir bersamaan.
Setelah mencoblos, Habib Rizieq memilih tak berkomentar apa pun. Ia berada di area TPS hanya sekitar 15 menit. Sekitar pukul 10.30 WIB, Habib Rizieq dan keluarga pergi meninggalkan TPS untuk kembali menuju rumah mereka.
Dari hasil perhitungan suara kubu nomor 2 Ahok Djarot unggul 278 suara, disusul Anies-Sandi dengan 212 suara, dan Agus-Sylvi di urutan buncit dengan 38 suara, dan suara tidak sah 5 suara.
Penyebab kemenangan Ahok Djarot disebabkan lokasi TPS 17 berada di kompleks Kristen Bethel Petamburan, dimana mayoritas pemilih dalam TPS tersebut beragama kristiani dan memberikan dukungan kepada Ahok Djarot.
“Ahok menang di TPS 17 Petamburan 3 di Lokasi TPS Hb Rizieq, krn semua penghuni kompleks Kristen Bethel Petamburan sebagai Pendukung Ahok ditumpahkan di TPS tersebut” ujar netizen bernama Nanik Sudayati dalam keteranganya yang dimuat di akun facebook pribadinya, rabu(15/2/2017).
Menurut Nantik selama ini tiap Pemilu TPS mereka selalu terpisah depan Gereja Bethel di Petamburan 4, tidak di Petamburan 3.
Meskipun demikian ada yang menarik dari hasil perolehan suara pasangan nomor 3 Anies-Sandi dengan mendapatkan suara sebanyak 212.”Namun demikian ada yg menarik bhw Anis di TPS Habib Rizieq dapat suara 212″ papar Nanik.
Islamedia
by Danu Wijaya danuw | Feb 14, 2017 | Artikel, Dakwah
Umat Islam Nusantara rasanya sudah tuwuk dengan perilaku lemah-lembut, santun, dan tawaduk. Mereka dipinggirkan, ditipu, dikerjain, dijahilin, difitnah, dizalimi, ditindas, dan sebagainya oleh pihak lawan (baik lawan yang terang-terangan maupun lawan dalam selimut).
Namun mereka bersikap tahammul, sejak dahulu hingga kini. Tahammul adalah sikap rela menahan derita. Tahammul derajatnya lebih tinggi lagi daripada sifat sabar.
Jangan tanyakan lagi tahammul mereka. Meski sumber daya alam mereka yang melimpah dirampok, mereka tahammul. Ketika negara mogok, mereka rela berjibaku mendorong, dan setelah kondisi negara normal, mereka ditinggalkan, namun mereka tahammul. Perih hati tiada dirasa.
Situasi dan kondisilah yang menuntut mereka harus tahammul.
- Pertama, tiadanya kepemimpinan Islam.
- Kedua, daya kekuatan internal yang lemah.
- Ketiga, serangan musuh yang masif.
- Keempat, keawaman dan keterjauhan mayoritas umat dari keilmuan. Dll.
Namun, ada saatnya umat Islam Nusantara bangkit (mencampakkan sikap tahammul) dan bergairah melakukan perang.
Pepatah mengatakan:
Barangsiapa dibikin marah, namun enggan marah, maka ia adalah himar.
Akankah segera tiba masa kemarahan itu? Tiap sesuatu ada mukaddimahnya dan mukaddimah saat ini menunjukkan hal itu.
Umat Islam lebih tahu atas dirinya sendiri. Berdamai mereka : ibadah. Perang mereka pun : ibadah. Semua kondisi adalah baik (kebahagiaan) buat mereka.
Pemimpin sikap tahammul sudah melimpah. Kini mereka mendamba hadirnya pemimpin-pemimpin sifat keberanian. Mereka butuh helaan nafas dari kezaliman yang berlangsung terus-menerus.
Jika kezaliman sudah melampaui batas, jawabnya adalah lawan! Atau mereka masih tetap juga mengedepankan sikap tahammul.
Duhai umat muslim Nusantara.
Wallahu A’lam
Penulis:
Ahmad Syarifuddin
by Danu Wijaya danuw | Feb 14, 2017 | Artikel, Dakwah
Bagaimana kabar kalian ?
Semoga menjadi sebagai pemuda-pemudi harapan bangsa, adik-adik semua tetap bersemangat mengejar cita-cita, serta selalu dalam bimbingan dan penjagaan Allah Yang Maha Kuasa.
Adik-adikku semua…
Bila kita simak dengan seksama kehidupan Sejumlah Nabi dalam Al Quran yang suci, akan kita dapati bahwa mereka adalah :
- Pemuda Yang Mencintai Negerinya
- Pemuda Yang Aktif Mengambil Peran Kenegaraan
- Pemuda Yang Aktif Menegakkan Kebenaran & Menentang Kedzaliman
Mari kita simak bersama rincian dari 3 Point diatas.
1. Pemuda Yang Mencintai Negerinya
Para Nabi yang diutus Allah swt adalah pemuda yang mencintai dan peduli dengan negerinya.
Hal ini dicontohkan oleh Nabi Ibrahim ‘alaihissalam , sebagaimana Allah swt telah mengabadikan doa beliau :
وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَٰذَا بَلَدًا آمِنًا وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ مَنْ آمَنَ مِنْهُمْ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۖ
“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini, negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezeki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman diantara mereka kepada Allah dan hari kemudian” (Al Baqarah : 126)
Pelajaran dari ayat diatas :
Maka kitapun sebagai Pemuda-Pemudi Indonesia harus peduli dengan kebaikan negeri ini, minimal dengan berdoa sebagaimana dahulu Nabi Ibrahim berdoa untuk kebaikan negeri dan para penduduknya.
Jangan sampai kita menjadi pemuda yang bersikap masa bodoh dan tidak peduli dengan kebaikan negeri ini.
2. Pemuda Yang Aktif Mengambil Peran Kenegaraan
Maksudnya adalah, ketika kita memiliki peluang untuk berkontribusi aktif untuk perbaikan negeri maka jangan sampai kita sia-siakan kesempatan yang telah Allah swt berikan.
Agar doa-doa yang telah kita panjatkan kita sempurnakan dengan ikhtiar dan usaha yang nyata.
Hal ini telah dicontohkan Nabi Yusuf alaihissalam saat beliau berkata dihadapan Raja atau Penguasa saat itu :
قَالَ اجْعَلْنِي عَلَىٰ خَزَائِنِ الْأَرْضِ ۖ إِنِّي حَفِيظٌ عَلِيمٌ
“Berkata Yusuf : “Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir) ini ; sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan”. (Q.S Yusuf : 55)
Pelajaran dari Ayat diatas :
Maka adik-adik sebagai pemuda harus mengambil peluang saat ada kesempatan untuk terlibat dalam proses perbaikan.
Misalnya, besok hari Rabu 15 Februari 2017 adalah moment penting bagi warga DKI Jakarta dan daerah-daerah lainnya yang akan mengadakan Pilkada serentak.
Bentuk keterlibatan adik-adik sebagai Pelajar & Mahasiswa adalah memberikan hak pilih dengan hadir ke TPS bagi yang sudah memiliki hak pilih.
Bagi yang belum punya hak pilih bisa mengajak Ayah, Ibu, Kakak, Tetangga dan lainnya untuk hadir memilih pasangan yang terbaik yang amanah dan berilmu pengetahuan sebagaimana disebutkan dalam surat Yusuf diatas.
Selain itu pilih juga yang mencintai Allah dan berakhlak mulia lagi terjaga lidahnya dari perkataan kasar dan mudah mencela, karena bagaimanapun pemimpin adalah teladan bagi rakyatnya.
3. Pemuda Yang Aktif Menegakkan Kebenaran dan Menentang Kedzaliman
Bagaimanapun pemuda dari zaman ke zaman adalah tumpuan harapan, serta pasukan yang terdepan dalam penegakan kebenaran dan keadilan.
Hal ini misalnya di contohkan oleh Nabi Musa ‘alaihissalam.
Setelah terjadi dialog dan adu argumentasi yang panjang dengan Fir’aun, bahkan setelah Musa menampakkan berbagai Mu’jizat sebagai bukti atas kebenaran yang Ia bawa, maka Musa berkata :
قَالَ لَقَدْ عَلِمْتَ مَا أَنْزَلَ هَٰؤُلَاءِ إِلَّا رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ بَصَائِرَ وَإِنِّي لَأَظُنُّكَ يَا فِرْعَوْنُ مَثْبُورًا
Musa berkata : “Sesungguhnya kamu telah mengetahui, bahwa tiada yang menurunkan mukjizat-mukjizat itu kecuali Rabb Yang memelihara langit dan bumi sebagai bukti-bukti yang nyata; dan sesungguhnya aku mengira kamu, hai Fir’aun, seorang yang akan binasa”. (Q.S. Al Israa : 102)
Maka Fir’aun merasa marah dan gerah atas keberanian Musa, bahkan ingin menghabisi Musa dan para pengikutnya. Tetapi Allah hancurkan Fir’aun yang telah berlaku sombong :
فَأَرَادَ أَنْ يَسْتَفِزَّهُمْ مِنَ الْأَرْضِ فَأَغْرَقْنَاهُ وَمَنْ مَعَهُ جَمِيعًا
“Kemudian (Fir’aun) hendak mengusir mereka (Musa dan pengikut-pengikutnya) dari bumi (Mesir) itu, maka Kami tenggelamkan dia (Fir’aun) serta orang-orang yang bersama-sama dia seluruhnya” (Q.S. Al Israa : 103)
Adik-adikku semua…
Itulah contoh betapa aktifnya para pemuda sebelum kita, dalam berbagai aktifitas perbaikan, penegakan kebenaran dan penentangan terhadap kedzaliman.
Semoga kita bisa meneladani mereka semua. Amin.
Yang Mencintai Kalian
Kak Bagus Ferry Setiawan
( Yayasan Tunas Bangsa Indonesia – SatuAsa)