0878 8077 4762 [email protected]

Isa 'alayhis-salam

Seorang keji mendatangi Isa ‘alayhis-salam. Dibawanya setimpuk kotoran menjijikkan, lalu dia ruahkan ke wajah dan tubuh Al Masih. Selanjutnya dari mulutnya keluar serapah laknat yang kotor dan lucah, menghinakan Nabi Isa dengan tuduhan jahat dan palsu. Maka tersenyumlah Isa menyimak hingga dia selesai berbicara. Kemudian diulurkan sebotol minyak wangi kepada orang itu, dan diterimanya.
Dijenak berikutnya, Isa bicara pada si keji dengan ucapan yang sangat indah dan mulia, selain itu Isa mendoakan dengan tulus dan rendah hati. Ketika lelaki itu pergi dengan tertawa-tawa bertanyalah para Hawari, murid-murid Isa, “Apa maksud semua ini Guru? Dia melumuri kotoran busuk menjijikkan, namun kau beri minyak wangi. Dia kasar mencaci maki tapi kau santun dan lembut bicara?
Isa menjawab, ” Lelaki itu memberiku kotoran busuk dan ucapan keji. Sayang aku tak punya yang serupa dengan itu untuk membalasnya.” 
“Ingatlah bahwa sesungguhnya setiap orang hanya bisa memberi apa yang dipunyai.” lanjut Isa.
Demikian sari dari sebuah atsar yang diurai Tarif Khalidi dalam sebuah buku Yesus seorang Muslim “The Muslim Jesus“. Semoga bisa ambil ibrah keburukan dibalas kebaikan ya Shalihin Shalihat.
 
Sumber :
Menyimak Kicau Merajut Makna, Salim A. Fillah, ProU Media.

Musa Berburu Ilmu

Dan ingatlah ketika Musa pada pemuda yang membersamainya, “Aku takkan berhenti berjalan hingga bertemu dengan perjumpaan dua lautan atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun.” (Q.S. Al Kahfi : 60). Alangkah mulia Musa berburu ilmu.
Al Allamah As Sa’dy dalam tafsirnya menyatakan: “Betapa pentingnya memperkaya wawasan dan mendalamkan pemahaman sehingga Sayyidina Musa as meninggalkan sejenak kepemimpinan  dan pembimbingannya kepada Bani Israil dengan menempuh jarak yang jauh dan perjalanan meletihkan demi memperoleh ilmu dan kepahaman.”
Dan mari cemburu pada semangat dan tekad Musa menuntut ilmu dalam qur’an tersebut. Ada beberapa penjelasan tafsir pada ayat tersebut. Menurut Ath-Thabary, “huquba” dalam bahasa Qays-Ailan berarti 1 tahun. Diriwayatkan pula dari Abdullah ibn Amr, “huquba” berarti 80 tahun.
Muhammad ibn Ka’b Al Qurazhi berkata bahwa Musa berjalan dari Sinai mesir hingga Thanjah di ujung Maroko untuk mencapai pertemuan dua lautan, yaitu Laut Tengah dan Atlantik. Sungguh pelajaran dari seorang Nabi bagi yang menuntut ilmu dengan menempuh jarak jauh melintasi negeri.
 
Sumber :
Menyimak Kicau Merajut Makna, Salim A. Fillah, ProU Media

Inilah Tafsir Surat Al Maidah ayat 51

Di dalam Al Qur’an Allah SWT melarang kaum mukmin untuk menjadikan orang kafir sebagai wali, pemimpin ataupun orang kepercayaan. Firman Allah dalam Q.S. Al Maidah : 51
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi “pemimpin-pemimpin (mu)”; sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (Q.S. al-Maidah ayat 51)
Terjemahan itu mengacu pada terjemahan Depag melalui Penerjemah Tafsir Al Quran yang ditunjuk menteri agama dengan surat Keputusan no. 20 tahun 1967. Terjemahan ini populer di kalangan masyarakat. Bahkan terjemahan ini dipakai dalam cetakan ‘Al Qur’an dan Terjemahannya’ yang sama diterbitkan oleh Raja Kerajaan Arab Saudi (Mujammma ‘ Al Malik Fahd Li Thiba At Al Mush-haf Asy-Syarif Madinah Al Munawwarah Po. Box 6262 Kerajaan Arab Saudi). Terjemahan ini juga dibagikan secara cuma-cuma kepada Muslim Indonesia.
Kegiatan terjemahan dilakukan dalam masa selama 8 tahun. Para anggota Dewan Penerjemah dan disepakati MUI terdiri delapan orang, yakni Prof TM Hasbi Ashshiddiqi, Prof H Bustaman A Gani, Prof H Muchtar Jahya, Prof H M Toha Jahjya Omar, DR H A Mukti Ali, Drs Kamal Muchtar, H Gazali Thaib, KH A Musaddad, KH Ali Maksum, Drs Busjairi Madjid.
Terjemahan Al Maidah 51 Menurut Tafsir Jalalain Alquran :
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin yaitu menjadi ikutanmu dan kamu cintai. Sebagian mereka menjadi pemimpin bagi sebagian lainnya, karena kesatuan mereka dalam kekafiran.
Siapa di antara kamu mengambil mereka sebagai pemimpin, maka dia termasuk di antara mereka. Artinya termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang aniaya, karena mengambil orang-orang kafir sebagai pemimpin mereka.
Terjemahan Al Maidah 51 menurut Tafsir Fi Zhilalil Qur’an Sayyid Qutb:
Umat Islam hanya boleh memberikan loyalitas kepada Allah dan Rasul-Nya. Jangan sampai mereka memiliki kecenderungan untuk menjadikan pemimpin dan memberikan loyalitas kepada orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.
Karena umat Islam adalah dengan keakidahannya yang luas bukan dengan kebangsaannya. Juga bukan dengan warisan-warisan kebudayaan jahiliyah. Kita adalah umat dengan manhaj Rabbani dengan risalah dan akidahnya. Inilah unsur pemersatu kita.
Terjemahan Al Maidah 51 menurut Tafsir Ibnu Katsir :
Dalam ringkasan tasfir Ibnu Katsir, ‘Mukhtasar Tafsir Ibnu Katsir’, jilid 2, Penerbit Darus Sunnah, Jakarta, tahun 2012, surat Al Maidah ayat 51 diterjemahkan :
Allah melarang hambanya orang-orang beriman menjadikan orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai penolong, teman dekat, yang mana mereka adalah musuh Islam………….
Kemudian Ibnu Katsir mengutip riwayat dari ‘Iyadh diceritakan bahwa : Umar memerintahkan Abu Musā al-Asy’ariy untuk menghadap melaporkan apa yang ia lakukan dalam satu waktu, sedangkan ia memiliki seorang sekretaris Nasrani, kemudian ketika ia melapor kepada beliau, Umar heran seraya berkata: sungguh ini terperinci, apakah engkau bisa datangkan dia dari Syam untuk membacakan ini di masjid kami?
Abu Musa menjawab: ia tidak bisa masuk masjid, Umar bertanya lagi: apakah ia junub?. Abu Musa menjawab: tidak, ia seorang Nasrani. Umar lalu menghardikku dan memukul pundakku, kemudian berkata: keluarkan ia! Lalu Umar membaca ayat QS al-Māidah : 51”.
Apa itu Awliya’ atau Wali?
Ada berbagai macam pengertian dari wali atau awliya’. Di antara pengertiannya, wali adalah pemimpin. Istilah wali lainnya adalah untuk wali yatim, wali dari orang yang terbunuh, wali wanita. Wali yang dimaksud di sini adalah yang bertanggung jawab pada urusan-urusan mereka tadi. Semacam pemimpin negeri juga adalah yang mengepalai mengurus kaumnya dan mengatur dalam hal memerintah dan melarang. Lihat Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah, 45: 135.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin menyebutkan bahwa wali (disebut pula: al-wilayah) dalam bahasa Arab punya makna berbagai macam.
Asbabun Nuzul (Turunnya Ayat)
Para ulama tafsir berbeda pendapat mengenai penyebab yang melatar belakangi turunnya ayat-ayat yang mulia ini.
As-Saddi menye­butkan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan dua orang lelaki. Salah seorang dari keduanya berkata kepada lainnya sesudah Perang Uhud, “Adapun saya, sesungguhnya saya akan pergi kepada si Yahudi itu, lalu saya berlindung padanya dan ikut masuk agama Yahudi bersamanya, barangkali ia berguna bagiku jika terjadi suatu perkara atau suatu hal.”
Sedangkan yang lainnya menyatakan, “Adapun saya, sesungguhnya saya akan pergi kepada si Fulan yang beragama Nasrani di negeri Syam, lalu saya berlindung padanya dan ikut masuk Nasrani bersamanya.” Maka Allah Swt. berfirman: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi wali (kalian). (Al-Maidah: 51). hingga beberapa ayat berikutnya.
Ikrimah mengatakan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan Abu Lubabah ibnu Abdul Munzir ketika Rasulullah Saw mengutusnya kepada Bani Quraizah, lalu mereka bertanya kepadanya, “Apakah yang akan dilakukan olehnya terhadap kami?” Maka Abu Lubabah mengisya­ratkan dengan tangannya ke arah tenggorokannya, yang maksudnya bahwa Nabi Saw. akan menyembelih mereka. Demikianlah menurut apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir.
Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari jalur Thariq bin Syihab bahwa Umar mengatakan kepada dua orang Yahudi, “Demi Allah, saya tahu hari dimana ayat ini turun kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, waktu dimana ayat ini turun kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ayat ini turun di siang hari Arafah, pada hari Jumat.” (HR. Ahmad 188).

Adab Ayyub 'alayhis-salam

Allah berfirman, “Dan ingatlah akan hamba Kami, Ayyub, ketika dia menyeru Tuhannya, ‘sesungguhnya aku diganggu syaitan dengan kepayahan dan siksaan’.” (Q.S. Shaad : 41)
Menurut tafsir Syaikh Muhammad Ali Ash Shabuni dalam Rawa’i’ul Bayan, Perkataan Ayyub berupa ‘Sesungguhnya aku diganggu syaitan’ adalah ungkapan penuh adab kepada Allah. Menyandarkan segala penderitaan yang dialami kepada syaitan.
Dengan menginsyafi kebaikan dan keburukan yang merupakan ketetapan-Nya, derita dan lara tak patut dihadirkan dalam ucap. Inilah keagungan adab.
Sebagaimana Ibrahim as tahu bahwa jika dia sakit, Allah juga yang menakdirkan. Tetapi dia nyatakan, “Allah yang memberiku makan dan minum. Tatkala aku sakit, Dia menyembuhkanku.” (Q.S. Asy Syu’araa : 79-80). Adabnya menuntun untuk menisbatkan sakit itu pada dirinya sendiri.
Kisah Ayyub yang beroleh berlipat musibah, Allah letakkan di Surah Shaad tepat setelah cerita Nabi Daud dan Sulaiman. Seakan Allah hendak menyampaikan kepada umatnya, “Tiada hamba yang diberi nikmat dunia berlebih kepada Daud dan Sulaiman, maka teladani kesyukuran mereka. Tiada hamba yang diberi bencana dunia berlebih kepada Ayyub, maka teladani kesabaran mereka.”
Ulama Sufyan Ats Tsaury pernah ditanya, “Mana yang lebih utama, orang kaya yang syukur? Ataukan orang miskin yang sabar?” Jawab beliau, “Sama mulianya. Sebab Allah memuji Sulaiman dalam surah Shaad ayat 30 dan Allah memuji Ayyub dalam surah Shaad ayat 44. Kalimat pujian untuk keduanya sama.
Begitu juga kalimat indah nabi Ya’qub, ”Semata aku adukan kesusahan diri dsri kesedihan hatiku kepada Allah.” Q.S. Yusuf ayat 86.
Dan kalimat mulia Nabi Muhammad saw tatkala diusir dari Thaif, dilempari batu, dikejar dengan olok-olok dan kotoran. “Ya Allah, pada-Mu kuadukan lemahnya diriku dan kurangnya siasatku.”
Lagi-lagi adab, beliau tidak mengadukan orang lain. Sebenarnya bisa saja beliau saw berdoa, “Ya Allah, kuadukan pada-Mu kerasnya hati mereka dan jahatnya perlakuan mereka.”
Tetapi Muhammad saw adalah guru dalam adab mulia kepada Allah dan sesama manusia. Tiada yang dia adukan selain dirinya.
 
Sumber :
Menyimak Kicau Merajut Makna, Salim A. Fillah, ProU Media

Pemaafnya Yusuf 'alayhis-salam

Dalam memperbaiki hubungan, ada hal-hal yang tak harus kita katakan. Betapapun penting dan/atau menyakitkan. Itulah yang diajarkan si tampan Yusuf.
Ketika sudah menjadi salah seoranf penguasa Mesir, Yusuf meloncatkan cerita tentang dibuangnya dia ke sumur oleh saudara-saudaranya. Yusuf berujar, “Sesungguhnya Rabbku telah berbuat baik kepadaku, ketika Dia mengeluarkanku dari penjara” (Q.S. Yusuf : 100). Yusuf tidak berkata, “Ketika Dia mengeluarkanku dari sumur.
Sebab kata ‘sumur’ akan menusuk hati saudara-saudaranya. Melukai nurani mereka dalam sesal dan malu. Dengan ridha Yusuf membiarkan cerita tentang kezaliman saudara-saudaranya dikubur bersama kemaafan yang dihulurkan.
Ketika Yusuf bertemu bapaknya kembali yaitu Nabi Ya’qub, Yusuf menaikkan ke singgasananya. Ketika itu, Ya’qub dan istrinya beserta sebelas anaknya tidak sanggup menahan dirinya untuk sujud sebagai penghormatan kepada Yusuf. (Q.S. Yusuf : 100)
Dan ingatlah Yusuf akan kiasan mimpinya terdahulu maksud 11 bintang, bulan dan mentari yang sujud. Maka Yusuf berujar, “Ayahanda tercinta, inilah takwil mimpiku yang dahulu. Sungguh Allah telah mewujudkan jadi nyata.” (Q.S. Yusuf : 4)
Teringat kembali penjara yang gelap dan pengap, dimana Yusuf bawakan cahaya untuk dua penghuni lainnya yang nyaris putus asa. Jujur dan ilmumu tentramkan mereka. Yusuf berujar, “Hai kedua penghuni penjara, manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa?” (Q.S. Yusuf : 31)
Tetapi demikianlah Allah Maha Mengatur, agar kemunculanmu tepat waktu. Ketika negeri membutuhkan pahlawan penuh ilmu, maka kau tak ragu mengambil peran itu. Berawal dari bendaharawan mesir kala itu (Q.S. Yusuf : 55), jabatan pemerintahan mesir diambil saat isinya kepahitan dan penuh tanggungjawab mematikan.
Kemudian saat saudaramu terkena paceklik dan hendak meminta bantuan kepada pejabat mesir yang ditemuinya yaitu engkau Yusuf sendiri, yang tak diketahui mereka, maka yang diambilmu adalah melepas rindu dengan saudara-saudaramu. Bukan tergoda balas dendam.
Ditambah betapa sabarnya Yusuf. Kau tahan murka saat saudara-saudara yang meminta bantuan tadi memfitnah adik kandung Yusuf dan Yusuf sendiri. Kala bersepuluh saudara berkata, “Adiknya pencuri, kakaknya, Yusuf pun maling!” (Q.S. Yusuf : 77)
Yusuf tahu adik kandungnya Bunyamin dari ibu yang sama (Q.S. Yusuf : 8) tak terbukti seperti itu. Pialang raja mesir malah terlihat tergeletak dikarung mereka.
Dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, Suatu ketika Rasulullah pernah ditanya tentang orang yang paling mulia? Beliau menjawab, “Yaitu orang yang paling bertakwa.” Maka para sahabat berkata, “Bukan ini maksud pertanyaan kami?” Beliau pun bersabda, “Yaitu Yusuf seorang Nabi Allah, putera Nabi Allah (Ya’qub), putera dari putera penghulu Nabi Allah (Ibrahim).”
 
Sumber :
Menyimak Kicau Merajut Makna, Salim A. Fillaj, ProU Media

Pemimpin yang Mau Menemui Ulama

Pernahkah kita mendengar kisah tentang Khalifah Harun al-Rasyid yang mau menemui ulama. Ia adalah raja adidaya yang bertahta di masa Bani Abasiyah. Wilayah kekuasaannya amat luas. Jauh lebih luas dibanding Bumi Pertiwi ini.
Ia juga penguasa yang kuat, yang mampu membawa kekhalifahan Islam berada pada masa keemasan. Ia mampu membangun Baghdad sebagai salah satu pusat ilmu pengetahuan dunia pada saat itu.
Pemimpin perkasa seperti beliau amat menghormati ulama. Dalam sebuah kisah yang masyhur diceritakan bahwa beliau mendatangi Imam Malik dan duduk dengan takzim di hadapannya untuk mendengarkan pembacaan kitab al-Muwattha’, kitab yang ditulis oleh Imam Malik.
Tak sekadar itu, sang khalifah sempat ditegur oleh Imam Malik karena kedapatan bersandar saat sang imam membacakan kitabnya. Menurut Imam Malik, bersandar dalam majelis ilmu bukanlah adab yang baik. Sang khalifah pun patuh kepadanya.
Para ulama memang dikenal sebagai seorang pribadi yang baik dan santun. Maka hormati ulama dengan menemuinya. Sebab, kata Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzi,
Ulama adalah pewaris Nabi. Barang siapa menyakiti ulama, berarti dia telah menyakiti Rasulullah.”
Amat disayangkan apabila ada seorang penguasa negeri yang menutup pintu dan menghindar saat ulama mau menemuinya.
Tidaklah seorang pemimpin atau seorang penguasa menutup pintunya dari orang-orang yang memiliki kebutuhan, keperluan, serta orang-orang fakir kecuali Allah akan menutup pintu langit dari keperluan, kebutuhan dan hajatnya.” (Hadist As Shahihah Syaikh Al Bani)