0878 8077 4762 [email protected]

Jawaban yang Telak

“Hati-hati, nak!” ujar Abu Hanifah pada seorang anak yang berlari dan terjatuh. “Jatuhku ini sembuhnya cepat wahai Syaikh,” sahut si anak, “tapi kalau kau yang tergelincir, umat akan tersesat.”
“Aku takut atas amanah ini!” ujar Umar bin Abdul Aziz setelah diangkay menjadi Khalifah. “Yang kami takutkan justru kami tidak takut!” sahut Imam Asy-Sya’bi
“Dimasa Abu Bakar dan Umar kehidupan makmur dan sentosa, mengapa dimasamu banyak fitnah dan sengketa?” hardik seorang khawaraj. Maka Ali pun menyahut, “Sebab dimasa Abu Bakar dan Umar rakyatnya seperti aku, sedangkan dimasaku rakyatnya seperti kamu.”
“Apa hikmah diciptakannya lalat?” tanya Al Walid ibn Abdul Malik yang sewenang-wenang dalam mengemban kekhalifahan. “Untuk menghinakan para penguasa yang sombong!” sahut Thawus ibn Kaisan Al Yamani.
 
Sumber :
Menyimak Kicau Merajut Makna, Salim A. Fillah, Penerbit Pro-U Media

Hikmah Mau'izah (Nasihat)

Apa itu hikmah? Kata Ibnul Qayim Al Jauziyah, “Segala kemanfaatan yang kita hadirkan, dinilai dari sudut pandang mitra bicara dan amal.”
Menurut Al Qurtuby dalam Al Jami’, bukan karena kisah Ibrahim mencari tuhan lewat benda-benda alam, melainkan kisah strategi dakwahnya. Mari mengambil pelajaran saat dia memenggal berhala kaumnya, lalu ditangkap. “Tanya saja patung itu!” ujar Ibrahim saat di interogasi. Hujahnya tak terbantahkan, kaumnya terbungkam.
Al Qardhawi dalam Fi Fiqhil Aulawiyat dalam menafsirkan surah An Nahl ayat 125 lafaz “hikmah mau’izah jidal” ialah mengurut efektivitas dan prioritas yang harus diambil dalam metode dakwah.
Ibrahim akhirnya memilih tokoh paling berkuasa bernama namrudz (surah Al Baqarah: 258). “Tuhanku menghidupkan dan mematikan.” ujar Ibrahim. Raja itu menghadirkan 2 tawanan, 1 dibunuh dan 1 dilepas. “Aku juga” katanya. “Tuhanku datangkan mentari di timur. Coba datangkan ia dari barat.” sanggah Ibrahim. Hujah dahsyat. Raja itu terbungkam.
Maka dari itu kebermanfaatan, Abu Bakar menyerahkan Rp 1,8 Miliar (40.000 dirham) kepada Nabi dihari pertama masuk Islam untuk proyek sosial dakwah. Berbeda dengan Al Walid ibn Mughirah yang dihinakan Allah dalam surah Al Balad.
 
Sumber :
Menyimak Kicau Merajut Makna, Salim A. Fillah, Penerbit Pro-U Media

Jadilah Penuh Kasih

Mari sejenak mengingat kisah pembunuh 99 nyawa dari Bani Israil itu. Apa yang menjadikannya membunuh untuk ke 100 kalinya?
Maka si pembunuh bertanya kepada rahib ibadah, “Telah kuhabisi 99 jiwa, mungkinkah taubatku diterima?”
Tersebab ilmu terbatas dan melupakan kebaikan taubat, maka jadilah si rahib sebagai korban ke 100
Lalu berjumpalah si pembunuh dengan ‘alim yang tersenyum. Bahwa si pembunuh masih bisa bertaubat, dan menuntunnya ke surga.
Begitupula si Badui yang mengencingi masjid. Itupun dilihat Rasul sebagai bibit kebaikan yang tak layak dicela dan dibenci.
Kita ingat pesan Nabi, “Janganlah kalian membantu syaitan atas saudaramu!” Jadilah penuh kasih. Ahli kebaikan berbaik hatilah. Beri penghargaan, ketulusan dan arahan penuh cinta.
 
Sumber :
Menyimak Kicau Merajut Makna, Salim A. Fillah, Penerbit Pro-U Media

Etika Berpendapat

Teringat kita betapa sabarnya Nabi mendengarkan Utbah ibn Rabi’ah utusan quraisy yang ahli berargumen. Padahal yang dia ucapkan adalah caci maki, fitnah, dan umpatan. Di saat Utbah telah berhenti bicara, Nabi masih tersenyum mesra dan bertanya, “Adakah engkau sudah selesai hai Abdul Walid?” Utbah berkata, “Ya”. Beliaupun bersabda, ” Aku telah mendengarkanmu hai Abdul Walid. Kini berkenankah kau simak ucapanku?” Maka terlantunlah kalam suci dan terpesonalah Utbah. Dia mendengarkan, sebab Muhammad sedia mendengarkannya bicara.
Utbah pulang dengan mengubah sikap. “Menurutku kalian tidak perlu memusuhi Muhammad. Kalau bangsa Arab mengalahkannya kalian tak rugi. Tetapi jika Muhammad menang, jadi kemuliaan kalian juga.” Sontak pembesar quraisy tertegun kaget akan perubahan Utbah setelah bertemu Nabi Muhammad. Maka berkuranglah satu tokoh penentang quraisy.
Dengarkanlah siapapun yang berpendapat. Apapun pendapatnya dan bagaimanapun cara dia mengungkapkannya. Adapun cara kita berpendapat adalah dengan hikmah (surah An Nahl : 125)
Ibrahim misalnya di surah Ash Shaaffat ayat 102 bahwa menyembelih putranya adalah perintah Allah, tetapi ia tak langsung menetak leher anaknya, Ismail. Ibrahim mengajarkan seyakin apapun kita bahwa suatu hal adalah perintah Allah, meminta pihak terkait untuk berpendapat adalah sebuah kemuliaan. Penerapan syariat harus melalui pembicaraan dengan siapapun yang terkena dampaknya : masyarakat atau target dakwah.
 
Sumber :
Menyimak Kicau Merajut Makna, Salim A. Fillah, Penerbit Pro-U Media

Ejekan pun Bisa Jadi Jalan Hidayah

Seperti kisah Ibnu Hajar Al Asqalani, penulis Fathul Bari yang termasyur itu, ketika suatu hari melintas dengan kereta mewahnya.
Beliau dicegat oleh seorang Yahudi penjual minyak ter. Penampilan keduanya bertolak belakang. Ibnu Hajar tampak anggun dan megah. Sementara Yahudi penjual minyak ter itu dekil, compang-camping, berbau busuk dan kumal. Dicegatnya Ibnu Hajar lalu dia bertanya.
“Nabimu mengatakan bahwa dunia adalah penjara bagi orang mukmin dan surganya orang kafir, benarkah demikian?” ujarnya
“Betul, demikianlah sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wasalam yang diriwayatkan muslim.” sahut Ibnu Hajar tersenyum
“Kalau begitu akulah mukmin dan kamulah kafir!” hardik si yahudi
“Oh,” sahut Ibnu Hajar sembari tersenyum lagi, “mengapa bisa demikian hai ahli kitab yang malang?”
Si Yahudi menjawab, “Coba lihat, aku hidup dalam susah dan nestapa sebagai penjual minyak ter, aku merasa terpenjara, maka aku mukmin. Sementara kamu hidup mewah dan megah, maka kamu seperti di surga. Sesuai hadis tadi, kamu adalah orang kafir
Ibnu Hajar mengangguk-ngangguk menyimak.
Setelah tersenyum lagi, beliau berkata, ” Sudikah jika aku jelaskan padamu makna yang benar dari hadis itu duhai cucu Israil?”
“Dunia ada penjara bagi seorang mukmin seperti diriku, sebab segala kemewahan yang kunikmati sekarang tak ada apa-apanya dibandingkan apa yang Allah sediakan untuk kami di surga. Dalam kemewahan ini, kami menanti nikmat yang jauh lebih berlipat. Maka hakikatnya, dunia ini penjara buat kami.”
“Sementara kau didunia memang payah dan menderita. Tetapi semua nestapamu itu tiada artinya dibanding apa yang Allah sediakan bagimu kelak di neraka. Duniamu yang menyiksa itu, sungguh adalah surga tempatmu masih bisa tersenyum, makan, dan minum; menantikan siksa abadi kelak di neraka sejati.”
Yahudi penjual ter itu ternganga kagum, bahwa senang dan derita didunia tidak ada apa-apanya. Lalu dengan mata berkaca-kaca, dia berkata lirih, “Asyhadu allaa illaaha illallaah, wa asyhadu anna Muhammadar rasuulullah.
Segera tanpa memedulikan pakaiannya yang mungkin terkotori, Ibnu Hajar memeluk si penjual minyak ter yang kini telah berislam. “Selamat datang! Selamat datang saudaraku! Selamat atas hidayah Allah padamu, pujian hanya milik-Nya!” ujar beliau. Mereka pun berangkulan erat.
Hari itu, si penjual minyak ter dibawa Ibnu Hajar ke rumahnya dididik dan akhirnya menjadi salah seorang muridnya yang utama.
Begitulah kekuatan ilmu dan ruhani yang tersambung ke langit suci. Orang shalih itu mengilhami, bahkan ‘ejekan’nya pun bisa menjadi jalan hidayah.
 
Sumber :
Menyimak Kicau Merajut Makna, Salim A. Fillah, Penerbit Pro-U Media

Dosa dan Taubat

Ditanya Hasan Al Bashri, “Tak malukah seorang dari kami pada Allah jika dia berdosa lalu bertaubat, lalu berdosa dan bertaubat lagi?”
Beliau menjawab, “Betapa senangnya syaitan bila mengalahkan kalian hingga menghentikan istighfar. Jangan pernah berhenti memohon ampunan.”
Sahut beliau, “Apa semalam kau menunaikan qiyamul lail?”
“Tidak” ujarnya
“Begitulah. Hukuman terberat atas maksiat mungkin bukan terputusnya rezeki, tapi terputusnya munajat.” jelas Sang Imam.
Di zaman Umar, seorang pencuri dihukum potong tangan setelah tertangkap, terbukti dan tersaksi. Maka ibunya datang dan berkata, “Maafkanlah dia, ini baru pertama kali dia mencuri!”
Jawab Umar, “Wahai ibu, Allah pasti tak hanya sekali memperingatkan seorang hamba yang melakukan dosa.”
Maknanya, Allah Maha Santun. Jika seseorang sampai tertangkap dan terhukum, besar kemungkinan dosanya telah berulang dan tak ditaubati dengan segera.
Semoga Allah mudahkan kita bertaubat dari setiap dosa kala Dia masih menutup aibnya, mengampuni dan melapangkan ke surga.
 
Sumber :
Menyimak Kicau Merajut Makna, Salim A. Fillah, Penerbit Pro-U Media