by Iman Santoso Lc imansantoso | Aug 28, 2016 | Artikel, Dakwah
Oleh: Ust Iman Santoso, Lc
Rasulullah SAW bersabda, “Didatangkan orang yang paling senang di dunia sedang dia adalah ahli neraka di hari kiamat, dicelupkan ke dalam api neraka satu kali celupan. Kemudian ditanya: ”Wahai anak Adam, apakah engkau pernah merasakan kebaikan? Apakah engkau merasakan kenikmatan (di dunia)? Maka dia menjawab: ”Tidak demi Allah wahai Rabbku”. Kemudian didatangkan orang yang paling menderita di dunia dan dia ahli surga, dicelupkan satu kali celupan di surga. Kemudian di tanya: ”Wahai Anak Adam, apakah engkau pernah menderita kesulitan? Apakah lewat padamu suatu kesusahan (di dunia). Maka ia menjawab: ”Tidak,demi Allah wahai Rabbku, tidak pernah aku mengalami kesusahan dan kesulitan sedikitpun” (HR Muslim).
Dalam hadits lain: “Demi Allah, perbandingan dunia dengan akhirat seperti seorang menyelupkan tangannya ke dalam lautan, lihatlah apa yang tersisa” (HR Muslim).
Inilah yang disebut dengan sifat rabbaniyyah. Sifat yang muncul karena senantiasa berorientasi pada Allah dan hari akhir dan bukan berorientasi pada materi dunia dan kenikmatannya. Sifat ini lahir dari proses tarbiyah yang matang terutama tarbiyah imaniyah. Dari tarbiyah inilah kualitas orang-orang beriman teruji.
Di masa Rasulullah SAW para sahabat yang teguh dalam seluruh dinamika dakwah adalah para sahabat senior yang tertempa oleh tarbiyah Rasulullah SAW dalam waktu cukup lama. Mereka dibina oleh Rasulullah SAW di Makkah selama 13 tahun, dan selanjutnya mereka mengikuti dakwah Rasul SAW dengan setia sampai beliau wafat. Mereka disebut Assabiqunal Awwalun (Generasi Awwal) dari Muhajirin dan Anshar.
Materi itu memang dibutuhkan dalam kehidupan, tetapi materi itu bukan segala-galanya. Oleh karenannya materi jangan dijadikan orientasi dan tujuan dalam hidup. Rasulullah SAW bersabda, ”Demi Allah! Bukanlah kefakiran yang aku takutkan pada kalian. Tapi aku takut, dibukakannya dunia untuk kalian, sebagaimana telah dibukakan pada umat terdahulu. Maka kalian berlomba-lomba mendapatkannya sebagaimana mereka berlomba, dan menghancurkan kalian sebagaimana telah menghancurkan orang sebelum kalian” (Muttafaqun ‘alaihi).
Rasulullah SAW senantiasa mengajarkan kepada kita agar keimanan mendominasi kehidupan kita dan mewarnai seluruh jalan hidup kita, karena keimanan itulah prinsip dan benteng kehidupan yang akan menjaga orang-orang beriman. Siapa yang telah diberi nikmat keimanan, maka telah mendapat nikmat yang paling besar. Kenikmatan yang melebihi seluruh kekayaan dunia dan seisinya. Bahkan penduduk di dunia seluruhnya berada dalam kerugian dan kesengsaraan, kecuali orang-orang yang beriman. Padahal penduduk dunia yang jumlahnya sekitar 6 milyar, mayoritasnya tidak beriman. Hanya sekitar 1,5 milyar yang secara formal sebagai penganut muslim. Sedangkan yang sudah sampai pada tingkat keimanan sejati lebih kecil dari seluruh total penganut muslim tersebut.
Jadi orang-orang beriman, memang benar-benar mendapatkan kenikmatan yang khusus untuk orang yang khusus. ”Mereka merasa telah memberi nikmat kepadamu dengan keislaman mereka. Katakanlah: “Janganlah kamu merasa telah memberi nikmat kepadaku dengan keislamanmu, sebenarnya Allah Dialah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjuki kamu kepada keimanan jika kamu adalah orang-orang yang benar” (QS Al-Hujurat 17).
Di dunia, mereka akan mendapatkan kehidupan yang baik (16: 97), keberkahan (7:96), jalan keluar dan kemudahan rizki (65: 2,3) bahkan lebih dari itu, mereka akan mendapatkan kekuasaan dibumi, keteguhan agama dan bebas dari rasa takut (25:55). Sedangkan di akhirat, orang-orang beriman mendapatkan puncak kenikmatan yang diinginkan manusia, surga yang luasanya seluas langit dan bumi dan melihat sang Pencipta Allah Azza wa Jalla.
Sebaliknya, orang-orang yang tidak beriman adalah orang-orang yang paling sengsara dan merugi. Mereka rugi di dunia dan di akhirat. Mereka rugi di dunia, walaupun kelihatan dari tampilannya menakjubkan memiliki segala fasilitas dunia larut pada kubangan syahwat sesaat, baik syahwat harta, wanita maupun tahta atau kedudukan dan jabatan politik.
Mereka yang terperdaya dengan mobil mewah, rumah megah dan penampilan yang trendi padahal hatinya kosong dengan keimanan adalah orang-orang yang kerdil dan sempit. Mereka yang senantiasa bicara politik dan kekuasaan, sedangkan dirinya jauh dari keimanan, mereka adalah orang-orang yang terlena dan lalai. Keimanan itulah yang merupakan prinsip dan keimanan itulah kunci kemuliaan. ”Padahal kemuliaan itu hanyalah milik Allah, Rasul-Nya dan orang-orang beriman, tetapi orang-orang munafik itu tidak mengetahui” (QS Al-Munaafiquun 8).*akhir
Wallahu ’alam bisshawab.
by Iman Santoso Lc imansantoso | Aug 26, 2016 | Artikel, Dakwah
Oleh: Ust Iman Santoso, Lc
Allah SWT berfirman: “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)” (QS. Ali Imran 14).
Ayat diatas menjelaskan fitrah dasar manusia. Fitrah mencintai wanita, harta dan anak-anak adalah bagian dari upaya manusia untuk melangsungkan eksistensinya di muka bumi. Dengan fitrah itu terjadilah pernikahan dan upaya melahirkan generasi penerus dan kerja untuk mempertahankan hidup dirinya, anak-anak dan keluarganya. Fitrah ini baik selagi tidak keluar dari jalan Islam yang fitrah.
Tetapi yang menjadi masalah adalah ketika kecintaan terhadap dunia itu sudah menjadi tujuan dan orientasi hidupnya. Maka disinilah bahayanya, yaitu penyakit cinta dunia. Inilah yang disebut materialisme. Ketika upaya untuk mendapatkan dunia dilakukan dengan menghalalkan segala cara maka inilah yang disebut dengan hedonisme. Materialisme dan hedonisme nampaknya ibarat saudara kembar yang tidak dapat dipisahkan. Dan keduanya ibarat virus ganas yang membahayakan setiap manusia, khususnya umat Islam.
Ironisnya penyakit inilah dominan yang menimpa umat Islam akhir zaman, umat yang mestinya menjadi kelompok terbaik dari umat manusia lainnya. Realitas ini telah disinyalir oleh Rasulullah saw semenjak lebih dari 14 abad yang lalu dalam sebuah hadits yang terkenal disebut dengan hadits wahn, ”Hampir saja bangsa-bangsa mengepung kalian, sebagaimana orang lapar mengepung tempat makanan. Berkata seorang sahabat, “ Apakah karena kita sedikit pada saat itu? Rasul saw bersabda,”Bahkan kalian pada saat itu banyak, tetapi kalian seperti buih, seperti buih lautan. Allah akan mencabut dari hati musuh kalian rasa takut pada kalian. Dan Allah memasukkan ke dalam hati kalian Wahn. Berkata seorang sahabat, “Apakah Wahn itu wahai Rasulullah saw? Rasul saw, bersabda, “Cinta dunia dan takut mati” (HR Abu Dawud).
Demikianlah kondisi umat di akhir zaman, telah dirasuki penyakit hubud dunya yang sangat mendalam sehingga berdampak pada kotornya hati, rusaknya tatanan pikiran dan moral mereka. Umat Islam yang sudah terfitnah oleh dunia akan mudah diperbudak oleh dunia. Padahal yang menguasai perbendaharaan dunia sekarang ini adalah bangsa-bangsa kafir. Sehingga jadilah mereka menjadi pengikut negara-negara dan bangsa-bangsa kapitalis, materialis dan sosialis, seperti AS, Eropa, China dan Israel. Maka jadilah apa yang seperti digambarkan oleh Rasulullah saw dalam haditsnya.
Lebih ironis dan memprihatinkan lagi jika para da’i, kyai, ustadz dan tokoh-tokoh muslim yang dianggap menjadi panutan umat terkena juga fitnah dan penyakit cinta dunia. Maka tidak ada yang selamat kecuali orang-orang yang diselamatkan Allah. Dan kelompok yang benar yang diselamatkan Allah akan tetap ada dan eksis sampai akhir zaman. Merekalah orang-orang beriman yang tetap teguh mempertahankan keimanannya ditengah gelombang dahsyat fitnah dunia. Merekalah para da’i yang tetap berdakwah dengan tidak melacurkan dirinya pada kubangan syahwat. Merekalah para kyai dan ustadz yang tetap istiqomah dalam keislamannya.
Rasulullah saw bersabda, “ Akan senantiasa ada satu golongan dari umatku yang senantiasa eksis dengan kebenaran. Tidak membahayakan mereka orang yang menghinakannya sampai datang keputusan Allah dan mereka tetap komitmen” (HR Muslim).
Agar kita tetap istiqomah di jalan Islam, maka harus terus menerus menguatkan keimanan kita, khususnya keimanan kepada Allah dan hari akhir. Keimanan yang mengantarkan pada sifat yakin kepada Allah dan hari akhir. Bahwa dunia hanyalah sementara sedangkan akhirat itulah yang paling baik dan kekal bagi orang beriman.
*bersambung
by Danu Wijaya danuw | Aug 18, 2016 | Artikel, Dakwah
Berkata Muawiyah ra, “Abu Bakar adalah orang yang berpaling dari dunia. Dan dunia pun berpaling dari dirinya. Adapun Umar dialah orang yang tak sudi pada dunia, tapi dunia datang bersimpuh mengiba dibawah kakinya. Adapun kita adalah para pemburu dunia, yang kadang memperolehnya dan kadang ia pun luput dari kita.”
Hakikat Takdir
Kata sayyidina Umar, “kita bisa lari dari takdir Allah yang satu menuju takdir Allah yang lain, dengan takdir Allah pula”
Sebab takdir tak kita ketahui sebelum terjadi. Maka teruslah berprasangka baik, berencana, berdoa, berupaya, dan bertawakal.
Sumber :
Menyimak Kicau Merajut Makna, Salim A. Fillah, Penerbit Pro-U Media
by Danu Wijaya danuw | Aug 18, 2016 | Artikel, Dakwah
Menulis juga bagian dari tugas iman. Sebab makhluk pertama ialah pena, ilmu pertama adalah bahasa, dan ayat pertama berbunyi “Iqra (Baca)”.
Tersebut dalam hadis riwayat Ahmad dan ditegaskan Ibnu Taimiyah dalam Fatawa, ” Makhluk pertama yang dicipta-Nya ialah pena, lalu Dia berfirman, “Tulislah!” Tanya pena, “Apa yang harus kutulis, Rabbi?” Kata Allah, “Tulis segala ketentuan yang Ku takdirkan bagi semua makhluk Ku”
Dahulu bangsa Arab hanya mengukur kecerdasan dari kuatnya hafalan hingga memandang rendah tulis baca. Sebab menulis menurut mereka ialah alat bantu bagi yang hafalannya dibawah rata-rata.
Namun nabi Muhammad hadir dengan wahyu ‘bacaan’. Maka Islam menjelma menjadi peradaban ilmiah dengan pena sebagai pilarnya. Wawasan bertebaran mengantar kemashlahatan ke seantero bumi.
Penulis merentangkan ilmunya melampaui batas-batas waktu dan ruang. Ia tak pupus usia dan tak terhalang jarak. Andaikan benar bahwa karya II Principe yang dipersembahkan Niccolo Machiavelli pada Cesare de Borgia itu jadi kawan tidur para tiran, dibaca dan menjadi ilham Napoleon, Hitler, dan Stalin. Akankah dia bertanggung jawab atas berbagai kezaliman yang terilham dari bukunya?
Sebab bukan hanya pahala yang bersifat jariyah, melainkan ada juga dosa yang terus mengalir. Menjadi penulis adalah pertaruhan. Mungkin tak separah II Principe, tapi tiap kata yang mengalir dari jemari ini juga berpeluang menjadi keburukan berantai-rantai.
Semoga Allah berkahi tiap kata yang mengalir dari ujung jemari kita. Sungguh, buku dapat menggugah jiwa manusia dan mengubah dunia.
Sumber :
Menyimak Kicau Merajut Makna, Salim A. Fillah, Penerbit Pro-U Media
by Danu Wijaya danuw | Aug 17, 2016 | Artikel, Dakwah
Ditengah kegelapan Abbasiyah kala itu adakah yang menyalakan lentera dan tidak hanya mengutuk kegelapan? Alhamdulillah, ada namanya Abu Yusuf, yang menjadi Al Qadhi (Hakim Agung). Kelak dialah yang mengubah kerajaan itu menjadi rechstaat (negara hukum).
Dia adalah murid utama Abu Hanifah. Kata Abu Hanifah, “Dia adalah salah satu muridku yang paling banyak menghafal dan memahami ilmu” Imam Dawud bin Rasyid berkata, “Sekiranya murid Abu Hanifah hanyalah Abu Yusuf seorang, cukuplah itu menjadi kebanggaannya atas seluruh manusia.”
Abu Yusuf berijtihad masuk kedalam kekuasaan pribadi khalifah Ar Rasyid. Sebab Ar Rasyid tumbuh dalam bimbingan seorang Ulama. Abu Yusuf berbeda dari gurunya Abu Hanifah yang berlawanan dengan pemerintahan. Dia menerima dan menduduki jabatan Qadhi Al Qudhat, hakim agung dimasa Harun Ar Rasyid. Abu Yusuf menciptakan pijakan syariat Allah dalam kerajaan Abbasiyah yabg tercatat dalam sejarah.
Berkat syarat Abu Yusuf lain, bisa membawa serta 50 murid terbaik Abu Hanifah untuk mengisi jabatan kehakiman diberbagai wilayah. Kerja keras Abu Yusuf membuahkan hasil yaitu Al Kharaaj yang menjadi dasar hukum kerajaan Abbasiyah.
Kita lagi-lagi belajar bahkan dalam sistem yang tak disukai entah monarki ataupun demokrasi tetap ada kebaikan yang bisa dihadirkan. Perubahan dari Abu Yusuf membuat Abbasiyah lebih dekat pada syariat Allah.
Sumber :
Menyimak Kicau Merajut Makna, Salim A. Fillah, Penerbit Pro-U Media
by Danu Wijaya danuw | Aug 16, 2016 | Artikel, Kisah Sahabat
Alim agung itu adalah Raja’ bin Hajwah. Betapa gigih upayanya memasukkan nama Umar bin Abdul Aziz sebagai pengganti khalifah Sulaiman bin Abdul Malik. Konspirasinya agar Bani Umayyah mau menerima dan siasatnya agar Umar bin Abdul Aziz bersedia.
Akhirnya pada masa Umar bin Abdul Aziz keadilan kemudian tergelar, kemakmuran hingga tak seorangpun bersedia menerima zakat, ketentraman sampai serigala pun enggan memangsa domba, kezaliman dan bid’ah sesat terhapus.
Kita belajar dari Raja’ untuk mengamalkan kaidah ushul, “Maa laa tudraku kulluhu fa laa tutraku kulluh, Apa-apa yang tidak bisa kita raih sepenuhnya, jangan ditinggalkan sepenuhnya.”
Raja’ tidak mengutuk sistem mulk monarki dinasti umayyah yang seringkali berbuat zalim sebagai kekufuran warisan Romawi dan Persia. Dia mendekati khalifah Sulaiman bin Abdul Malik dan berikhtiar menghadirkan kebaikan didalamnya.
Suatu saat, Umar bin Abdul Aziz mengeluh penguasa zalim pada masanya dalam doa, “Al Hajjaj di Irak, Al Walid bin Abdul Malik di Syam, Qurrah bin Syirk di Mesir, Ustman bin Hayyan di Madinah, Khalid bin Abdullah Al Qashari di Mekkah. Ya Allah, sepenuh bumi ini telah penuh dengan angkara murka. Maka selamatkanlah umat ini.” Doa yang terekam oleh Ibnu Al Atsir dalam Al Kamil fit Tarikh 4/132
Allah menjawab doa Umar bin Abdul Aziz itu dengan dirinya. Menakdirkan dua tahun kekuasaannya yang singkat menjadi buah bibir sepanjang sejarah. Dua tahun yang lahir dari Raja’, seorang alim yang tak berputus asa ditengah sistem monarki yang bobrok.
Raja’ dan Umar bin Abdul Aziz sendiri memang tak kuasa mengubah sistem itu. Setelah Umar wafat kembalilah Baitul Maal melayani penguasa, foya-foya istana berjaya, dan kezaliman merebak dimana-mana. Mari bersama Raja’ bin Haiwah melakukan sesuatu didalamnya, bukan hanya mengutuk gelap dan sistem yang tak sreg di hati ini.
Sumber :
Menyimak Kicau Merajut Makna, Salim A. Fillah, Penerbit Pro-U Media