0878 8077 4762 [email protected]

Setahun Lalu, Israel Sudah Hapus Masjid Al Aqsa Dari Peta

SETAHUN silam Israel sudah berusaha dengan sengaja menghapus bangunan bersejarah di Yerusalem. Diantaranya situs Muslim dan situs Kristen dihapus dan diganti namanya dari peta panduan turis di Kota Tua. Sebaliknya, Israel menempatkan di peta situs pemukim Zionis illegal, demikian lansir World Bulletin.
“Ada banyak situs yang secara historis penting, namun dijalankan oleh pemukim ilegal,” kata Betty Herschman, direktur hubungan internasional dan advokasi di Ir Amim. Sebuah LSM hak asasi manusia Israel yang memberikan tur Yerusalem Timur untuk diplomat dan pihak lain.
“Penghapusan Itu merugikan situs Muslim dan situs Kristen historis yang relevan, yang seharusnya jauh lebih diprioritaskan pada peta Kota Tua, dimana terjalin hub dari tiga agama monoteistik besar.”
Situs Gereja St Anne atau Gereja Penebus, termasuk salah satu situs yang dihapus.
Kementerian Pariwisata Israel membela keputusannya tersebut dengan mengatakan bahwa hal itu mencerminkan permintaan dari pariwisata.
Namun, Abu Sarah mengatakan bahwa masuknya situs tertentu di dalam dan di luar tembok Kota Tua tampaknya untuk mempromosikan representasi nasionalis Yahudi di Yerusalem Timur.
“Secara politik, ia menambahkan situs yang kontroversial, seperti pemukiman di Yerusalem Timur, merupakan penempatan unsur politik sepihak.”
“Peta ini, selain menghapus tempat suci paling penting bagi Muslim (Masjid Al-Aqsa) dan Kristen di Kota Tua, juga menghapus seluruh lingkungan di sekitar cekungan bersejarah, mengganti nama mereka tidak hanya dengan nama-nama Ibrani, tetapi dengan nama-nama pemukiman ilegal,” kata Herschman kepada Al Jazeera.
“Ini adalah bentuk konsolidasi kontrol Israel, episentrum titik paling kritis dari Yerusalem. Ada konsekuensi politik yang sangat penting yang terlibat.
 
Sumber : Al Jazeera/World Buletin

Begini Akibat Bunuh Diri Dalam Islam

Kematian vokalis utama Band Linkin Park, Chester Bennington menggemparkan dunia hiburan. Ia diduga bunuh diri setelah ditemukan tidak bernyawa di Los Angeles, Kamis (20/07) waktu setempat karena aksi gantung diri.
Aksi bunuh diri dengan menggantungkan diri sebelumnya juga dilakukan oleh musisi Chris Cornell dan aktor Robin Williams. Padahal mereka kaya dan terkenal serta memiliki banyak fans.
Orang yang hatinya kosong dari iman dan takwa seringkali berpikir bahwa bunuh diri merupakan pilihan terbaik agar ia bisa terlepas dari beban yang dipikulnya.
“…. dan janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu,” (QS. An-Nisaa’ : 29).
Apabila kehidupan ini dijalani tanpa dilandasi dengan keimanan dan ketakwaan, maka setan akan mudah menghasut pada hal-hal yang bodoh dan bathil. Termasuk ketika seseorang dihadapkan pada banyaknya permasalahan hidup yang rumit.
Padahal jelas-jelas bunuh diri adalah perbuatan yang merugikan dan dilarang oleh agama. Mungkin masalah dunia akan terlepas ketika ia mengakhiri hidupnya, tapi sungguh ia akan mendapat kerugian di akhirat kelak. Kerugian-kerugian itu di antaranya:
1. Di akhirat akan terus-menerus melakukan hal yang sama untuk membunuh dirinya sendiri
Dari Abu Hurairah RA, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Orang yang bunuh diri dengan menggantung diri, dia akan menggantung diri di neraka. Orang yang menikam dirinya (dengan senjata tajam) maka dia akan menikam dirinya di neraka. Dan orang yang bunuh diri dengan menerjunkan diri dari tempat yang tinggi, maka dia akan menerjunkan diri di neraka,” (HR. Bukhari).
2. Kekal di neraka
Dari Abu Hurairah RA ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa menerjunkan diri dari gunung untuk bunuh diri, maka dia di neraka jahannam menerjunkan diri di dalamnya, kekal lagi dikekalkan di dalamnya selama-lamanya.
Dan barangsiapa minum racun untuk bunuh diri, maka racunnya itu di tangannya dia meminumnya di neraka jahannam kekal lagi dikekalkan di dalamnya selama-lamanya.
Dan barangsiapa bunuh diri dengan senjata tajam, maka senjata tajam itu di tangannya dia melukai dengannya di neraka jahannam, kekal lagi dikekalkan di dalamnya selama-lamanya,” (HR. Bukhari, Muslim, Tirmidzi, dan Nasai).
3. Sekalipun terluka di saat jihad fi sabilillah, seorang yang mati bunuh diri takkan mendapat penghormatan dari Allah dan RasulNya
Dalam satu riwayat (Nabi SAW bersabda): Dahulu di antara orang-orang sebelum kalian ada seorang laki-laki yang terluka, lalu dia tidak sabar. Kemudian dia mengambil pisau lalu memotong tangannya, maka darahnya mengalir tanpa berhenti sehingga dia mati. Allah berfirman, “Hamba-Ku telah mendahului kehendak-Ku dengan dirinya,” (HR. Bukhari).
“Dari Jabir bin Samurah RA bahwasanya ada seorang laki-laki yang mengalami luka-luka, kemudian dia menghampiri tempat anak panah dan melukai dirinya dengan anak panah tersebut (sehingga mati). Maka Nabi SAW tidak mau menshalatkannya,” (HR. Ibnu Hibban di dalam Shahihnya).
Maka saudaraku, isilah hari-hari kita dengan selalu mengingat Allah SWT. Apabila beban hidup terasa begitu berat sikapilah dengan pikiran yang positif dan iringi dengan doa yang tiada henti. Semoga Allah menjuahkan kita dari perbuatan-perbuatan yang merugikan di dunia dan di akhirat.
 
Sumber: ummi-online

Ketika Siprus tak Lagi Dipangkuan Peradaban Islam

Ketika Siprus tak Lagi Dipangkuan Peradaban Islam

JAKARTA – Siprus merupakan semenanjung wilayah Islam yang dibebaskan oleh kaum Muslim pada masa Khalifah Harun Ar-Rasyid dari Dinasti Abbasiyah setelah sebelumnya dikuasai oleh pemerintahan Islam pada masa Usman bin Affan tahun 28 Hijriah.
Ketika terjadi Perang Salib, Inggris datang ke negeri ini pada 1191 M dan menduduki Siprus selama Perang Salib. Kaum Muslim kemudian membebaskannya kembali dari cengkeraman Inggris.
Inggris paham akan nilai strategis Siprus. Bahkan, mereka menjadikannya sebagai pangkalan titik tolak menyerang negeri-negeri Islam. Karena itu, Inggris mengelabui Daulah Usmaniyah pada 1878, dengan dalih menghadapi Rusia, sehingga bisa menyewa pangkalan di Siprus. Inggris mendeklarasikan kependudukannya atas Siprus pada Perang Dunia I tahun 1914.
Inggris mulai mendorong etnis Yunani Nasrani agar bermigrasi ke Siprus demi mengubahnya menjadi semenanjung yang mayoritasnya non-Muslim. Inggris membuat undang-undang yang berkaitan dengan masalah kependudukan, artinya bebas dari kaum Muslim etnis Turki.
Tujuannya untuk melemahkan eksistensi dan kekuatan Turki di sana. Caranya dengan menetapkan syarat bahwa siapa saja yang berkewarganegaraan Turki dilarang menjadi warga negara Siprus yang dikuasai Inggris dan mereka tidak boleh tinggal di Siprus.
Sementara itu, Inggris memberi kemungkinan kepada orang Siprus etnis Yunani untuk memerintah semenanjung dan mengontrol nasib kaum Muslim.
Karena itu, jumlah pemeluk Nasrani di Siprus yang berasal dari luar makin meningkat, sedangkan jumlah penduduk asli yang Muslim makin berkurang. Inggris mengokohkan eksistensinya di Siprus dengan membangun dua pangkalan militer di sana.
Pascakudeta dan intervensi Turki, secara militer, di Siprus pada 1974, semenanjung terbagi menjadi dua bagian.
 
images (6)
Etnis Turki, di utara semenanjung pada 1983, mendeklarasikan Republik Turki Siprus Utara (The Turkish Republic of Northern Cyprus) dan berada di bawah kontrol negara Turki yang luasnya 37 persen dari luas Kepulauan Siprus.
Wilayah ini oleh Turki diakui sebagai wilayah independen. Bagian selatan tetap berada di bawah kontrol etnis Siprus keturunan Yunani, yakni Republik Siprus yang meliputi 59 persen luas Kepulauan Siprus dan masuk sebagai anggota Uni Eropa.
Karenanya, hingga kini, Siprus tetap terbagi menjadi dua wilayah: Siprus Yunani dan Siprus Turki.
Bahkan, dalam budaya pun Siprus terbagi menjadi Turki di bagian utara dan Yunani di selatan negara ini.
Sampai sekarang, agama Siprus Yunani masih kebanyakan milik otosefalus Gereja Ortodoks Siprus (78 persen), sedangkan Siprus Turki merupakan Muslim (18 persen).
Agama-agama lain terwakili di pulau tersebut, termasuk Maronit dan Apostolics Armenia (empat persen).
Sama halnya di Turki, gaya dan penampilan masyarakat Siprus Turki sudah sangat Eropa. Namun, banyak juga perempuan yang mengenakan jilbab, walaupun tidak sebanyak di Turki.
Peradaban Eropa lain yang sudah menjadi bagian hidup di Siprus adalah kasino dan judi. Bisa dibilang, menemukan kasino sama mudahnya dengan menemukan masjid.
Pemandangan yang terlihat di Siprus Turki berbeda dengan Siprus Yunani (Republik Siprus). Di Siprus Yunani, pengunjung tidak bisa menemukan bangunan-bangunan masjid yang banyak seperti di Siprus Turki.
Sebagai alat pembayaran, Siprus Turki memakai lira, sedangkan di Siprus Yunani menggunakan euro. Nama-nama toko menggunakan bahasa Yunani. Tetapi, karena bahasa Yunani dianggap terlalu sulit, digunakan juga bahasa Inggris.
Kemungkinan Penggabungan Siprus
Krisis keuangan di Siprus Selatan begitu hebat mengikuti kebangkrutan Yunani. Rencana bantuan Euro hanya lolos pada detik-detik terakhir dan Siprus Selatan kini menghadapi proses reformasi ekonomi menyakitkan, mirip seperti Yunani.

16708146_303

Antrian di bank Siprus Selatan saat krisis Yunani


 
Sementara di bagian utara Siprus yang masuk wilayah Turki, krisis hampir tidak terasa, karena booming kemajuan ekonomi di Turki. Secara teratur uang dari Turki mengalir ke bagian utara Siprus. Tanpa subsidi ini Republik Siprus Utara, yang tidak diakui internasional, tak akan bertahan hidup.
Sementara menurut warga Siprus Utara, Ilke Gürdal, hubungan Siprus Selatan dengan Turki bisa menarik segi positif dari krisis ini. Misalnya pandangan Siprus Selatan, bahwa penggabungan pulau itu adalah jalan lebih baik.
Bagi Gürdal jelas, “Jika kami dulu bersatu, kawasan Selatan kini tak akan mengalami krisis semacam itu. Mungkin ini memotivasi Siprus Selatan untuk berunding dengan Turki.”
Sejauh ini Turki hanya akan meningkatkan hubungan dengan Siprus Selatan, jika pemerintah di Nikosia mengakui Siprus Utara sebagai republik berdaulat.
Kala Republik Siprus kerap mengalami padam listrik. Siprus Utara dalam sebuah perjanjian membantu pemasokan listrik untuk Siprus Selatan. Kerjasama ini terutama penting pada masa-masa krisis.
 
Sumber : Republika/dw

Ini Dia Pesepakbola Eropa Yang Hafal 19 Juz Al-Qur’an

LUAR biasa. Itulah kata yang tepat bagi Gelandang Marseille dan Timnas Prancis, Abu Diaby.
Tidak hanya lihai dalam mengolah ‘si kulit bundar’dan memberikan umpan kepada rekan satu timnya dalam sepak bola, Diaby juga dikenal sebagai pemeluk Islam yang taat menjalankan ibadahnya sebagai seorang muslim.
Mengagumkannya lagi, ternyata Diaby juga tercatat sebagai seorang hafidz alias penghafal al-Qur’an.
Dalam akun twitter, salah satu pengajar Ebrahim Collage di London, Mufti Muhammad, @Mufti_Muhammad terungkap bahwa gelandang yang pernah bersinar di klub raksasa London, Arsenal itu sudah hafal 19 juz al-Qur’an.
Bagi Diaby, kunjungan ke Ebrahim Collage adalah hal biasa. Sebab ia merasa nyaman berada dalam komunitasnya.
“In conversation with Arsenal Footballer Abu Diaby @ Ebrahim college dinner tonight, who’s memorised 19 ajza of Qur’an!
Artinya : Dalam perbincangan dengan pemain Arsenal Abu Diaby di Ebrahim Collage pada momen makan malam, seorang pemain sepak bola yang hafal 19 juz al-Qur’an, ungkap Mufti Muhammad kepada Diaby, ketika itu tahun 2012, dimana Diaby masih berseragam Arsenal.
Diaby juga disebut-sebut sebagai salah satu donatur tempat sekolah Islam terkenal di London.
Di Ebahim Collage, ia juga mendidik dan membimbing mualaf yang ingin mengenal lebih jauh ajaran Islam.
Ia juga aktif di berbagai acara sosial, seperti malam amal untuk etnis Muslim Rohingnya.

Untuk Pertama Kalinya Sejak 1969, Israel Larang Shalat Jumat Di Al-Aqsha

PALESTINA—Israel dilaporkan telah melarang shalat jumat di masjid Al-Aqsha pada Jumat (14/7/2017). Larangan ini datang setelah terjadi aksi heroik berani mati yang menewaskan dua serdadu Israel oleh 3 pemuda Palestina.
Larangan untuk menggelar shalat jumat di Al-Aqsha adalah baru yang pertama kalinya diberlakukan Israel sejak tahun 1969, PIC (Palestine Information Center) melaporkan.
Dalam konteks yang sama, PM Israel Benyamin Netanyahu juga merilis keputusan untuk melarang penyelenggaraan shalat Jum’at di Masjid Al-Aqsha dan menutupnya secara total. Keputusan diambil setelah Netanyahu melakukan pembahasan dengan sejumlah pejabat keamanan Israel.
Larangan shalat jumat di masjid Al-Aqsha ini terjadi untuk pertama kalinya sejak masjid ini dibakar Yahudi pada 1969. Kala itu Israel menutup gerbang-gerbang Al-Aqsha dan melarang shalat jumat di sana dan saat itu pula pertama kali terjadi sejak Israel menjajah Palestina.
Pelarangan kali ini terjadi setelah meletus bentrokan di halaman Al-Aqsha pada Jumat (14/7/2017), PIC melaporkan.
Selain itu, pasukan Israel menangkap satpam masjid Al-Aqsha dan menganiaya mereka dengan pukulan keras serta diseret ke halaman Al-Baraq.
Kantor berita resmi Palestina Wafa menegaskan, pasukan Israel melarang sejumlah tokoh Islam di antaranya Mufti besar Al-Quds dan wilayah Palestina Syeikh Muhammad Husain dan Ketua Dewan Wakaf Islam untuk masjid Al-Aqsha.
Mufti besar Palestina menyerukan agar warga tetap berdatangan ke Al-Aqsha dan berada di perlintasan-perlintasan dan halaman Al-Aqsha untuk menunaikan shalat Jumat.
“Tidak ada kekuatan di atas muka bumi yang melarang warga Palestina menunju Al-Aqsha dan menunaikan shalat jumat di sana,” ungkap Syeikh Muhammad Husein.
Sebelumnya, organisasi dan partai-partai Yahudi mulai melakukan kampanye provokasi untuk menggerebek Al-Aqsha.
TV7 Israel mengutip pernyataan anggota Knesset dari partai Jewish Home Mote Yogav yang menyerukan agar menutup masjid Al-Aqsha bagi umat Islam selamanya.
Sementara Organisasi Bukit Kuil Yahudi menyatakan, respon atas aksi berani mati di Al-Quds adalah dengan menambah bangunan permukiman Yahudi dan jam penggerebekan ke Al-Aqsha.
 
Sumber : Daily Sabah

Ketika Siprus tak Lagi Dipangkuan Peradaban Islam

Puluhan Ribu Santri Pesantren Di Senegal Dipaksa Mengemis

SENEGAL– Menurut laporan lembaga Human Rights Watch (HRW), banyak pesantren di Senegal justru memaksa sekitar puluhan ribu santri mereka supaya mengemis. Jika menolak, maka mereka bakal disiksa atau dilecehkan secara seksual.
Para santri mengaku sengaja datang jauh-jauh dari kampung mereka di pelosok buat masuk pesantren di Ibu Kota Dakar. Sayang, setelah tiba di sana mereka harus menghadapi kenyataan diperlakukan dengan sangat buruk.Dilansir dari laman The Guardian, Rabu (12/7),
Dari penuturan sejumlah santri, mereka dipaksa meminta-minta. Jika pulang dengan tangan hampa, maka sudah pasti bakal dihukum.
Menurut HRW, 7 tahun lalu mereka pernah menggelar penelitian tentang para santri yang dipaksa mengemis. Hasilnya, mereka menemukan ada kurang lebih 50 ribu santri mengemis. Bahkan tiga tahun lalu, menurut survei dari pemerintah Senegal, kemungkinan jumlah itu lebih besar.
Dari sejumlah bocah diwawancara, terkuak kekejaman di balik tembok pesantren di Senegal. Mereka mengaku dipukuli jika ketahuan tidak belajar, atau ketika hasil mengemisnya meleset dari target. Contohnya pada Maret lalu, seorang santri di Diourbel meregang nyawa setelah digebuki di dalam pesantren entah karena menolak mengemis atau hasilnya meleset.

download (2)

Seorang anak diminta mengerjakan sebuah tugas di Medina Gounas Senegal. Sebagian besar marbout atau guru ngaji mereka akan menghukum, jika kuota mengemis harian tak tercapai.


Bahkan, ada juga santri yang dihukum pasung dengan dirantai. Malah pada Desember tahun lalu, seorang santri tewas terpanggang dalam kebakaran pesantren, lantaran dia diikat dan dirantai
Bagi para santri, masalah itu bak lingkaran setan. Pesantren di Senegal justru menjadi tempat tidak aman, meski negara itu sudah didesak supaya mencari jalan keluarnya. Para santri dianiaya, dilecehkan secara lisan dan seksual, serta ditelantarkan.
“Bagian menyedihkannya adalah anak-anak itu berada dalam situasi sangat rawan. Mereka dipukuli, dilecehkan secara seksual, atau dirantai di dalam pesantren karena tidak membawa uang atau makanan dari mengemis,” kata peneliti HRW wilayah Afrika Barat, Jim Wormington.
Juni tahun lalu, Presiden Senegal, Macky Sall, meluncurkan program buat mengakhiri masalah pengemis anak-anak. Polisi dan pekerja sosial merazia para santri dan membawa mereka ke rumah singgah dan diurus secara layak, kemudian dipertemukan dengan orang tua masing-masing.
Sejak saat itu hingga Maret 2017, sekitar 1.547 bocah pengemis berhasil diselamatkan, di mana sekitar 1.089 di antaranya adalah santri. Sayangnya, karena keterbatasan tempat dan tenaga, para santri justru dikembalikan ke pesantren. Tak lama kemudian, mereka kembali lagi ke jalanan buat mengemis.
“Masalah ini sudah ada dalam masyarakat Senegal bertahun-tahun. Seharusnya yang menjadi fokus pemerintah adalah mengusut para ustaz di pesantren yang menyebabkan hal itu terus terjadi,” pungkasnya.
 
Sumber : Merdeka