0878 8077 4762 [email protected]
Menunggu Suara Adzan Dari Langit Budapest

Menunggu Suara Adzan Dari Langit Budapest

GEREJA berbentuk masjid dengan kubah dan menara berasitektur Turki itu terletak tak jauh dari Austria Trend, hotel bintang lima tempat kami menginap di Kota Budapest, ibu kota Hongaria.
Setiap interval waktu satu jam lonceng yang berada di menara gereja itu selalu berbunyi. Seakan-akan lonceng gereja yang terus-menerus berbunyi itu merupakan penegasan eksistensi dan otoritas tunggal rumah ibadah beraliran kependetaan di negeri yang di era perang dingin pernah bergabung dalam Blok Timur itu.
Gereja berbentuk masjid di Kota Budapest itu dan banyak tempat lainnya di berbagai pelosok negeri Hongaria bukanlah sebuah kebetulan. Bukan sekadar kesamaan arsitektur saja. Karena awalnya bangunan rumah ibadah itu memang mesjid tempat umat Islam bersembah sujud kepada Tuhannya dan kemudian seiring dengan perubahan waktu dan dominasi kekuasaan di Hongaria masjid-masjid yang ada di sini diubah menjadi gereja.
Sejarahnya panjang. Pada tahun 1526 Masehi, Kekhalifahan Turki Usmani di bawah pimpinan Sultan Sulaiman Yang Agung atas permintaan sebagian besar rakyat Hongaria yang terancam oleh Kerajaan Austria menyerang dan menganeksasi Hongaria. Kerajaan Hongaria berhasil ditaklukkan. Sejak saat itu, banyak penduduk Hongaria memeluk Islam dengan kesadaran sendiri tanpa ada paksaan sedikit pun.
Mereka memilih Islam karena logika-logika keimanan Islam yang disaampaikan para dai ketika itu lebih logis dari dialektika keimanan yang secara turun-temurun mereka yakini.
Bersamaan dengan pertumbuhan pesat jumlah umat Islam di Hongaria saat itu, di samping memberikan kebebasan beragama kepada penganut kepercayaan lainnya, Kekhalifahan Turki Usmani juga mendirikan banyak masjid untuk keperluan tempat ibadah umat Islam.
Masjid-masjid yang dibangun Kekhalifahan Turki Usmani di Hongaria, sejauh yang saya saksikan, arsitektur bangunannya persis dan mirip benar dengan arsitektur dan konstruksi mesjid yang ada di Turki, terutama di Kota Istanbul. Ini, antara lain, dikarenakan insinyur dan tukang yang terlibat dalam pembangunan mayoritas dari Turki.
Di Hongaria tidak hanya masjid yang dibangun orang Turki, tapi banyak juga bangunan lainnya yang sampai hari ini masih bisa kita saksikan. Misalnya, Turkish Bath (pemandian air panas Turki) di beberapa tempat. Selain Turkish Bath dengan air panas alam, di pasar tradisional Budapest juga masih banyak makanan yang dijual dengan bumbu khas Turki. Jejak Turki dengan Islamnya masih sangat tersa di negeri ini.
Setelah Kekhalifahan Turki Usmani tumbang pada tahun 1922 M, Hungaria dengan ibu kotanya Budapest berkembang jadi kerajaan yang sangat disegani di Eropa Tengah bersama Austria, Swiss, dan Ceko.
Bersamaan dengan berkurang dan menipis hingga hilangnya pengaruh Turki Usmani di Hongaria, eksistensi Islam dan umatnya pun semakin terancam. Dalam catatan sejarah banyak umat Islam dipaksa masuk Kristen dan banyak pula yang dibunuh karena menolak pindah agama. Sesuatu yang kontras dengan era Turki Usmani yang justru memberi kebebasan dan perlindungan kepada penganut agama lainnya.
Screenshot_2017-07-15-19-09-01_com.android.chrome_1500120566412
Masjid-masjid yang dulu dibangun umat Islam satu persatu direbut dan dikuasai kaum Kristen Ortodok di negeri itu dan diubah fungsinya menjadi gereja. Karena itu, wajar saja bila banyak wisatawan muslim yang berkunjung ke Hongaraia, utamanya ke Budapest, bertanya-tanya, “Kok, banyak gereja di sini mirip sekali dengan masjid?”
Sebagai seorang muslim, saat hari pertama menginjakkan kaki di Kota Budapest dan melihat di sejumlah menara “masjid” terpasang salip, sungguh hati saya terasa galau. Ini tentu sebuah kegalauan yang alamiah terkait dengan nestapa jejak peradaban Islam di sebuah tempat.
Rasa “emosional” tersebut juga terpicu oleh aktivitas saya selama ini yang relatif intens membaca dan mempelajari sejumlah referensi terkait sejarah dinamika Khalifah Turki Usmani termasuk ekspansi dan jasa besar imperium ini memperkenalkan Islam ke dataran Eropa. Termasuk ke Hongaria.
Makanya, ketika tiba di Budapest saya melihat sejumlah masjid yang di puncak menaranya tak lagi bertengger bulan sabit, saya merasa bagaikan terjerembab dalam romantisme psikologis.
Andai gereja-gereja di sini masih berfungsi sebagai masjid seperti sebelumnya, maka selama dua malam saya menginap di Kota Budapest pasti lima kali sehari semalam saya akan mendengarkan lantunan azan yang syahdu dengan logat Eropa dari menara-menara indah gereja itu.

Namun apalah daya, selama di Kota Budapest yang saya dengar justru bunyi lonceng gereja yang bertalu-talu setiap satu jam sekali. Dan yang sangat “mengganggu serta menyiksa” nurani saya adalah ketika lonceng gereja itu berdering di kala alam sunyi sepi saat seharusnya lantunan azan subuh bergema.
Seperti halnya di tanah air, saat menjelang subuh bersama istri saya sudah terbangun. Pada subuh pertama kami di Budapest, di kamar hotel istri saya berkata, “Ayah, kok nggak ada suara azan di sini ya?”
Saya termenung, kemudian saya ajak istri shalat Subuh berjamaah di kamar hotel. Saya pun berbisik, “Sungguh, ayah pun merindukan bunyi azan dari langit Budapest ini!”
 
Sumber : Usamahelmadny.com

Menunggu Suara Adzan Dari Langit Budapest

Mengenang 22 Tahun Pembantaian Sebrenica Muslim Bosnia oleh Tentara Serbia

Ribuan orang berkumpul di Sebrenica untuk memperingati 22 tahun pembantaian Muslim Bosnia dilansir dari Evening Standard, Selasa (11/7). Para kerabat terlihat menangis di atas peti mati hijau yang berjajar menunggu untuk dikubur di antara batu nisan putih di pemakaman di Potocari. Tahun ini, ada 71 korban baru yang teridentifikasi.
Pada 11 Juli 1995 terjadi pembantaian Sebrenica hingga sekitar dua pekan setelahnya. Sebrenica merupakan sebuah kota di bagian timur Bosnia Herzegovina.
Negara tersebut berpenduduk Muslim dengan jumlah yang signifikan di Benua Eropa.
Laman Forbes, Senin (10/7), mengutip pandangan mantan sekjen PBB Kofi Annan. Pada 2005, Annan menyebut tragedi Sebrenica sebagai kasus pembantaian yang paling buruk sejak Perang Dunia II.
Hanya lima hari sejak 11 Juli 1995, sebanyak 8.372 orang anak-anak dan dewasa dibantai kekuatan Serbia. Di lapangan, para pelaku merupakan laskar Republik Srpska Scorpion di bawah pimpinan Ratko Mladic.

an125970825a-woman-walks-am

Seorang wanita berjalan diantara 8.000 makam pembantaian Bosnia


Pembantaian Sebrenica merupakan puncak dari konflik yang mendera Bosnia sejak 1992. Ini juga adalah bagian dari rentetan turbulensi politik dan militer yang mendera Yugoslavia, uni pro-komunisme yang mewadahi delapan negara, termasuk Bosnia Herzegovina sejak akhir PD-II.
Pada 1 Maret 1992, Bosnia Herzegovina menyatakan kemerdekaannya dari Yugoslavia. Sekitar dua bulan kemudian, negara baru ini masuk keanggotaan PBB. Akan tetapi, justru situasi ketegangan antar etnis tidak kunjung reda.
Sebenarnya, sejak April 1993, PBB telah menetapkan kawasan Sebrenica sebagai wilayah proteksi PBB. Hal itu menyusul ketegangan antar etnis di kawasan bekas Yugoslavia itu.
Namun, pada Juli 1995, para tentara penjaga perdamaian dari PBB tidak dapat mencegah masuknya tentara Republik Srpska ke Sebrenica, sehingga mereka dapat dengan leluasa menjarah dan membunuh para penduduk sipil yang kebanyakan Muslim itu.
Pada 26 Februari 2007, Mahkamah Internasional menjatuhkan vonis yang antara lain menegaskan pembantaian Sebrenica sebagai sebuah genosida.
Sedikitnya, ada 11 orang yang dijatuhi hukuman karena terbukti bersalah. Rentang masa hukuman berbeda-beda tetapi tidak ada yang lebih dari 43 tahun.
09 (4)_620x0

Slobodan Milosevic, seorang Komunis pemimpin pembantaian etnis Bosnia, Kroasia, Herzegovina


Belakangan, setelah lama berkelit, pada 1999, Slobodan Milosevic akhirnya divonis oleh Mahkamah Internasional untuk Negara-negara Bekas Yugoslavia (ICTY). Milosevic terbukti bersalah sebagai penjahat perang terkait perang di Bosnia, Kroasia, dan Kosovo.
Namun, Milosevic keras menyangkalnya. Lima tahun lamanya pengadilan atas diri Milosevic berlangsung. Pada 11 Maret 2006, dia meninggal dunia dalam tahanannya di Den Haag, Belanda karena mengidap serangan jantung.
Dilansir Forbes, Parlemen Eropa telah mengeluarkan resolusi pada 15 Januari 2009 yang mengakui Hari Peringatan Sebrenica. Hal ini mendahului respons dari PBB, yang baru pada 2015 secara resmi mengakui tragedi Sebrenica sebagai sebuah genosida, sekalipun upaya PBB ini diblok oleh Rusia, negeri bekas komunis.
 
Sumber : Evening Standard/Republika

Menunggu Suara Adzan Dari Langit Budapest

Meski Dibantah, Nyatanya Pelajar Uighur di Mesir Ditahan Atas Permintaan China

Mesir menahan mahasiswa Muslim Uighur menanggapi permintaan China melalui polisi Mesir (Jum’at, 07/07/2017). Sejumlah orang Uighur terpaksa melarikan diri di Kairo dan Alexandria setelah polisi menanggapi permintaan Beijing, kata kelompok Hak Asasi Manusia.
Sekitar 20 siswa Uighur dari Universitas Al-Azhar Kairo ditangkap di Alexandria, Polisi Mesir telah menahan sejumlah pelajar China dari etnis minoritas Uighur atas permintaan Beijing, dan memaksa puluhan orang untuk bersembunyi atau melarikan diri ke Turki, kata para aktivis.
“Penyapuan dimulai pada hari Selasa ketika polisi menggerebek dua restoran yang sering dikunjungi oleh siswa Uighur di Kairo dan menahan setidaknya 37 orang, kata Abduweli Ayup, seorang aktivis Uighur di Turki, mengatakan langsung kepada Al Jazeera pada hari Jumat.
Belasan lagi telah ditangkap sejak, Ayup, mengatakan, termasuk 20 orang dari Universitas Al-Azhar Kairo yang berhenti di kota Alexandria dalam perjalanan mereka keluar dari negara tersebut pada Rabu malam.
Mereka diberitahu bahwa mereka akan dideportasi ke China, kata Ayup. “Siswa, terutama mereka yang belajar agama, menjadi sasaran,” kata Ayup.
“Polisi sedang mencari apartemen-apartemen di Kairo, orang-orang bersembunyi, mereka ketakutan, mereka takut untuk pergi keluar.” ujarnya.
Penahanan tersebut dilakukan di tengah laporan bahwa pihak berwenang di tanah air Uighur, Xinjiang di China barat meminta segera Uighur yang belajar di luar negeri.
China menyalahkan kerusuhan di Xinjiang, yang mencakup pemboman dan serangan kendaraan dan pisau, pada kelompok separatis Uighur yang diasingkan.
Namun hal ini karena banyak warga Uighur mengeluhkan penindasan budaya dan agama serta diskriminasi oleh China.
Menurut Lucia Parrucci, juru bicara kelompok advokasi ‘Kelompok Bangsa dan Organisasi yang tidak Terwakili’ (UNPO) mengatakan, bahwa kelompok hak asasi manusia telah memindahkan sekitar 60 siswa Uighur dari Mesir ke tempat yang aman di Turki pada hari Kamis.

Screenshot_2017-07-11-12-02-23_com.android.chrome_1499861015919

UNPO : Muslim Uighur berdoa memohon keselamatan saat akan dideportasi


Banyak dari mereka yang tersisa di Kairo mengatakan kepada kami bahwa mereka takut untuk tidur di rumah, “Karena takut ditangkap saat sendirian,” katanya dalam sebuah email ke Al Jazeera.
“Sekitar 80 siswa Uighur telah ditangkap sejak penyapuan dimulai”, katanya. Pemerintah China telah memaksa ribuan siswa Uighur ke luar negeri untuk kembali ke rumah sejak Januari 2017, katanya.
Sekitar 90 persen dari sekitar 7.000 – 8.000 warga Uighur yang tinggal di Mesir telah kembali ke China.
“Kami telah mengetahui bahwa banyak siswa telah ditangkap langsung di bandara saat mereka kembali dan dikirim ke camp pendidikan ulang. Tak satu pun dari mereka dapat melihat anggota keluarga dan tidak ada informasi yang diberikan kepada keluarga mereka tentang keberadaan mereka,” kata Lucia.
Human Rights Watch mendesak Mesir pada hari Rabu untuk tidak mengirim tahanan Uighur kembali ke China, dengan mengatakan bahwa mereka akan menghadapi ‘penganiayaan dan penyiksaan’ di sana.
Sarah Leah Whitson, direktur Middle East HRW, juga mendesak pihak berwenang untuk mengungkapkan keberadaan tahanan Uighur dan memberi mereka akses ke pengacara.
PhotoGrid_1499758228970

Video dari akun twitter Turkistan Timur terkait pemborgolan muslim Uighur di Mesir


Video yang belum diverifikasi yang dibagikan di Twitter menunjukkan lebih dari 70 orang Uighur duduk di lantai di gedung pemerintah dan yang lainnya didorong naik truk dengan borgol.
Ayup mengatakan bahwa kelompok hak asasi manusia kehilangan kontak dengan para tahanan pada hari Jumat.
Abdullah, seorang mahasiswa Islam Asia di universitas Al-Azhar, mengatakan kepada kantor berita Associated Press bahwa orang-orang Uighur ditahan di daerah Hay el Sabia di distrik Nasr City, Kairo.
Dia hanya memberikan nama depannya, karena takut akan pembalasan. “Mereka kebanyakan menangkap pemuda-pemuda itu.”
Sumaya, seorang wanita Uighur yang tinggal di Kairo, mengatakan kepada The Middle East Eye pada hari Kamis. “Tapi saya tahu wanita yang telah diambil juga, meski kita sembunyikan saat kita mendengar pemerintah mengetuk pintu kita.”
Seorang juru bicara kementerian luar negeri China pada hari Kamis mengakui bahwa warga China telah ditahan di Mesir, mengatakan pada sebuah briefing reguler bahwa pejabat konsuler akan mengunjungi mereka.
Geng Shuang, juru bicara kementerian luar negeri, mengatakan bahwa “sejauh yang saya tahu, kedutaan China di Mesir telah mengirim pejabat konsuler untuk melakukan kunjungan konsuler”.
Dia tidak memberikan rincian lebih lanjut. Polisi Mesir menolak permintaan untuk berkomentar. China telah mencaplok wilayah Turkistan Timur yang mayoritas dihuni muslim Uighur tahun 1949.
 
Sumber : Al Jazeera dan kantor berita utama

Pria Jerman Tendang Perempuan Berjilbab Diganjar 2 Tahun Penjara

BERLIN – Pengadilan Jerman memutuskan untuk menjatuhi hukuman 2 tahun dan 11 bulan penjara, kepada seorang pria yang dengan sengaja menendang perempuan berjilbab.
Identitas pria yang berbuat hal tidak menyenangkan itu diketahui sebagai Svetoslav S.
Insiden yang terjadi stasiun bawah tanah Kota Berlin tersebut terabadikan oleh kamera pengawas dan menjadi viral di Youtube hingga memicu kecaman publik dan meresahkan warga jerman.
Akibat ulah pria berusia 26 tahun tersebut, perempuan yang tak disebutkan namanya itu menderita luka di kepala dan patah lengan.
Melansir BBC, Kamis (7/7/2017), selama persidangan berlangsung, perempuan berjilbab tersebut memaparkan bahwa ia jatuh dengan posisi wajah terlebih dahulu menghantam lantai beton.
Ia juga mengaku harus menjalani perawat selama beberapa bulan dan mengalami trauma yang membuatnya tak berani pergi ke tempat umum.
Sayangnya tidak dijelaskan secara detail terkait motif Svetoslav S melakukan serangan tersebut.
Sebelumnya, diduga aksinya itu merupakan bentuk islamophobia. Kebencian terhadap Islam di jerman terlihat dari demonstrasi penolakan Islam setiap seminggu sekali oleh kalangan tua.
 
Sumber : BBC

Menunggu Suara Adzan Dari Langit Budapest

Mosul Akhirnya Bebas dari ISIS, PM Irak Rayakan Bersama Tentara dan Warga

Perdana Menteri Irak Haider al-Abadi tiba di Mosul, Minggu (9/7) siang waktu setempat, untuk mengucapkan selamat kepada pasukan Irak atas kemenangan mereka melawan ISIS setelah hampir sembilan bulan terlibat dalam perang kota.
“Panglima tertinggi angkatan bersenjata (Perdana Menteri) Haider al-Abadi tiba di kota Mosul yang sudah dibebaskan dan menyelamati para pejuang dan rakyat Irak yang heroik,” demikian pernyataan kantor perdana menteri Irak, seperti dikutip Reuters.
Televisi Irak juga menayangkan Haider al-Abadi berkeliling Mosul dengan berjalan kaki bersama warga kota terbesar kedua di Irak itu.
Sebelum kedatangan Abadi, muncul laporan yang menyatakan perang masih terjadi dan kepulan asap terlihat di atas kota. Sekitar 30 militan ISIS dilaporkan tewas dibunuh ketika berupaya melarikan diri dengan terjun ke Sungai Tigris.
Operasi untuk merebut kembali Mosul, yang dikuasai ISIS sejak memproklamasikan kekhalifahan pada 2014, dilancarkan pasukan Irak mulai Oktober 2016 dengan dukungan serangan udara dari pasukan koalisi pimpinan Amerika Serikat.
Kelompok pejuang Kurdi Peshmerga yang dilatih Turki, masyarakat suku Sunni Arab, dan kelompok militan Syiah dilaporkan ikut terlibat dalam perang di Mosul.
Kekalahan di Mosul merupakan pukulan hebat bagi ISIS yang juga sudah kehilangan pijakan di Kota Raqqa, Suriah, yang sedang digempur serangan pasukan global.
Prancis dan Inggris sudah mengucapkan selamat atas kekalahan ISIS di Mosul.
“Mosul telah dibebaskan dari ISIS,” kata Presiden Prancis Emmanuel Macron seperti dikutip Reuters.
Sedangkan Menteri Pertahanan Inggris mengatakan: “Saya sudah menyelamati Perdana Menteri Abadi dan pasukan Irak yang telah bertempur dengan gagah berani dan cermat melawan musuh yang brutal.”
Bagaimanapun, direbutnya kembali Mosul tidak berarti bahwa ISIS benar-benar sudah berakhir di Irak karena mereka masih menguasai beberapa wilayah kecil, seperti Tal Afar dan tiga kota lain di Propinsi Anbar.
Kelompok itu juga masih memiliki kemampuan untuk mengebom daerah-daerah yang dikuasai pemerintah.
Sebagian besar kota hancur

19756332_1389062261180952_8000110914068294359_n

Kota Mosul yang sudah porak poranda ditinggal oleh sekitar 900.000 penduduknya sejak perang dimulai tahun 2004/Foto : AFP


Perang Mosul yang berlangsung selama tiga tahun telah membuat sebagian besar kota hancur, ribuan orang terbunuh dan sejuta orang tercerai berai.
Sejumlah lembaga bantuan memperkirakan sekitar 900.000 penduduk kota sudah mengungsi sejak tahun 2014, atau setengah dari total jumlah penduduk kota itu sebelum perang.
Bersamaan dengan pernyataan kemenangan atas Mosul, lembaga sosial Save The Children memperingatkan dampak kejiwaan perang atas anak-anak ‘yang dihantui oleh kekerasan ekstrem, atau meninggalnya seseorang yang dikasihi di depan mereka.’
“Saat ini dunia nyaris tidak memberikan bantuan dana untuk kesehatan mental,” kata Ana Locsin, Direktur Save the Children di Irak.
 
Sumber : Reuters/Sayangi.com

Menunggu Suara Adzan Dari Langit Budapest

Bhutan tak Izinkan Dakwah Islam

Negara di ujung timur Pegunungan Himalaya ini menjadi rumah bagi sekitar 7.000 Muslimin. Sebagai minoritas, mereka masih mencari pengakuan di tengah mayoritas agama sekaligus paham resmi negara, Buddha.
Secara perhitungan kasar persentase demografi, pemeluk agama di Bhutan mencapai 75 persen Buddha dan 25 persen Hindu. Islam, tak lebih dari satu persen. Tapi, jumlah mereka tidaklah terbilang sedikit. Angkanya pun terus meningkat.
Menurut PEW Research Forum, pada 1990 terdapat sekitar 6.000 Muslimin di Bhutan. Kemudian, pada 2010 meningkat menjadi 7.000 jiwa. Pada 2030, diprediksi akan meningkat menjadi 9.000 jiwa.
Bhutan memang tak lepas dari Buddha, baik sejarah maupun kebudayaan. Tapi, Islam datang di tengah-tengah mereka seiring perkembangan di Asia Selatan.
Kebebasan beagama mulai diterapkan pada pemeluk Hindu yang minoritas, tapi kemudian mendapatkan de facto kebebasan beragama. Adapun Muslimin, masih berjuang mendapatkan hak tersebut.
Meski Islam tak diakui, bukan berarti Islam dilarang. Muslimin hidup sebagaimana rakyat Bhutan pa da umumnya. Mereka memiliki hak sebagai warga negara serta memiliki hak untuk bekerja.
Hanya satu hal yang tak diizinkan, yakni menyebarkan agama atau dakwah Islam. Oleh karenanya, jumlah Muslimin tak berkembang pesat di sana. Komunitas Muslim pun hanya hidup di kalangan mereka saja. Tapi, mereka dapat hidup nyaman di sana.
Muslimin Bhutan hidup sebagai minoritas, tapi mereka dapat menjalankan ibadah dengan baik. Terdapat sebuah masjid yang menaungi mereka menjadi tempat ibadah dan sebagai sarana berkumpul.

hazratbal-shrine-in-srinagar-india-01_1499681724403

Masjid Hazrabalt di pinggir sungai Bhutan


Adapun fasilitas Muslim lain, seperti sekolah ataupun organisasi, tak jelas dikabarkan.
Dalam hal pangan halal pun tak ada yang dapat mengonfirmasi kehalalannya. Badan sertifikasi halal pun tak jelas apakah dimiliki Muslimin setempat.
Tapi, hal tersebut bukanlah masalah. Mengingat sebagai negara yang mayoritas Buddha, Buthan memang memiliki lebih banyak ragam pangan vegetarian.
Dengannya, Muslimin pun tak kesulitan dalam menemukan pangan halal. Bahkan, menurut tour Muslim crescent rating, Bhutan memiliki banyak sekali ragam pangan vegetarian yang terkenal lezat.
Keinginan mendapat hak kebebasan beragama pun makin menghasilkan titik terang dengan adanya komitmen kerajaan untuk menerapkan demokrasi.
Tapi, media Barat yang mencitrakan Islam dengan buruk pun tak luput didengar masyarakat Bhutan. Akibatnya, masyarakat terbawa pemahaman Islam ala Barat yang melekatkan Muslimin dengan terorisme.
Kendati demikian, masyarakat Bhutan tak pernah terlibat bentrok dengan Muslimin. Antarumat beragama, hidup harmonis menjalin kerukunan dan toleransi.