0878 8077 4762 [email protected]
Dari Gaza hingga Ulama Saudi Ucapkan Selamat kepada Gubernur Baru Jakarta

Dari Gaza hingga Ulama Saudi Ucapkan Selamat kepada Gubernur Baru Jakarta

Beberapa pemuda dan orangtua di Gaza Palestina dalam video berbahasa Arab mengucapkan selamat atas kemenangan gubernur baru, Anies Baswedan. Dan atas perjuangan umat Islam.
Screenshot_2017-04-20-08-05-21_com.android.chrome_1492650358967
Selain itu Ulama terkemuka Arab Saudi, Syaikh Muhammad Al-Arifi turut mengucapkan selamat atas terpilihnya Anies Baswedan sebagai gubernur terpilih DKI pasca pemungutan suara Pilkada DKI 2017 pada Rabu kemarin (19/4/2017).
Melalui akun Twitter, Syaikh Al-Arifi mengucapkan Selamat;
arifi-2

الحمد لله تتواصل التهاني والشكر لله في المواقع الإندونيسية لفوز المرشح المسلم د.أنيس با سويدان، حاكماً لجاكرتا اللهم وفقه، وأسبغ عليهم نعمتك

“Alhamdulillah, telah tiba hasilnya dan syukur kepada Allah di Indonesia telah terpilih Gubernur Muslim, Dr. Anies Baswedan, yang akan memerintah Ibu Kota Jakarta. Semoga Allah memberkati dan menyempurnakan nikmat-Nya. “
Menariknya, ulama yang merupakan salah satu profesor di King Saud University ini juga mengucapkan selamat dalam bahasa Indonesia:
arifi-1
“Saya ucapkan, selamat kepada Dr. Anies Baswedan atas kemenangannya menjadi Gubernur Jakarta. Semua kaum muslimin”
Profil Singkat Syaikh Muhammad Al-Arifi
Syaikh Muhammad bin Abdurrahman Al-Arifi, biasa kita kenal Syaikh Al-Arifi. Beliau berasal dari Bani Khalid (Bani Makhzum) yang merupakan Bani dari Shahabat Nabi, Khalid bin Walid RA.
Beliau lahir pada 15 Juli tahun 1970. Beliau lulus dari Universitas di Saudi dan menyandang gelar Ph.D dengan desertasi  Ara’ Shaykh al-Islam Ibn Taymiyya fi al-Sufiyya – Jam’ wa Dirasah (Pandangan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah tentang Tasawuf).
Saat ini, Dr ‘Arifi adalah pendiri & Pembesar berbagai organisasi Dakwah, serta menjadi komite penasehat mereka. Ia juga merupakan anggota dewan penasehat untuk banyak organisasi internasional. Selain sebagai dosen tamu di universitas-universitas Saudi dan  asing, beliau juga seorang Profesor di King Saud University di Riyadh.
Beliau telah memberikan khutbah Jumat selama lebih dari 20 tahun di masjid-masjid terkemuka di Arab Saudi, bahkan di beberapa negara Arab lainnya. Saat ini, beliau menjadi khotib Jumat di masjid al-Bawaardi, yang merupakan masjid besar di selatan Riyadh.

Dukung Perdamaian Suriah, Justin Trudeau: Assad Harus Lengser

Pemerintah Kanada dikabarkan telah memberlakukan sanksi terhadap 27 pejabat pemerintah Suriah berpangkat tinggi.
Langkah ini diambil dalam upaya untuk memaksa Presiden Suriah Bashar al-Assad berhenti menggunakan kekerasan terhadap warga sipil tak berdosa dan melengserkannya dari kekuasaan.
Seluruh aset yang dimiliki para pejabat Suriah tersebut akan dibekukan dan mereka dilarang berbisnis dengan Kanada, CTV Newsmelaporkan pada Sabtu (15/4/2017).
Perdana Menteri Justin Trudeau mengatakan pada awal pekan ini bahwa jalan untuk perdamaian di Suriah adalah harus tanpa Assad, CBC melaporkan.
Menteri Luar Negeri Kanada Chrystia Freeland merilis pernyataan pada Jumat (14/4/2017) bahwa sanksi juga berlaku kepada siapapun yang terlibat dalam penyelidikan penggunaan senjata kimia.
“Serangan senjata kimia di Idlib selatan pekan lalu adalah kejahatan perang dan tidak dapat diterima,” ungkap Freeland.
“Kanada telah bekerjasama dengan sekutu-sekutunya untuk mengakhiri perang di Suriah dan akan membekukan semua aset mereka yang bertanggung jawab terhadap warga Suriah,” tambahnya.
Namun Assad mengaku pemerintahnya tidak terlibat dalam penyerangan senjata kimia.
Kanada menegaskan segera memberikan dana bantuan 1,6 miliar USD bagi 40 ribu pengungsi Suriah.

Dari Gaza hingga Ulama Saudi Ucapkan Selamat kepada Gubernur Baru Jakarta

Harvard Akui Al-Quran sebagai Salah Satu Ekspresi Keadilan Terhebat

Harvard Law School, salah satu Universitas Hukum paling tua di Amerika, memasang kutipan dari salah satu ayat Al-Quran di pintu masuk perpustakaan fakultas. Ayat Al Quran itu dideskripsikan sebagai salah satu ekspresi keadilan terhebat sepanjang sejarah.
Ayat 135 dari Surat An-Nisa, dipasang pada dinding yang menghadap pintu masuk utama fakultas. Kutipan Al Quran itu didedikasikan untuk frase terbaik yang mengartikulasikan tentang keadilan.
“Fakultas Hukum Harvard menyebut ayat suci sebagai salah satu ekspresi terhebat tentang keadilan sepanjang sejarah,” tulis surat kabar Arab Saudi ‘Ajel’ seperti dikutip Emirates247.
Ayat Alquran itu diukir di tembok yang menghadap pintu masuk utama Fakultas Hukum Harvard. Seperti ditulis Ajel, Harvard mengabadikan ayat tersebut sebagai kata-kata terbaik tentang keadilan.
Didirikan pada tahun 1817, Harvard merupakan sekolah hukum tertua di Amerika Serikat dan merupakan pusat bagi perpustakaan akademis hukum terbesar di dunia. Presiden Amerika Serikat Barack Obama merupakan salah satu alumni sekolah tersebut.
Menurut laman resminya, The Words of Justice exhibition, merupakan sebuah pameran testimoni dan pernyataan dari sejumlah orang atau lembaga berpengaruh tentang kerinduan manusia untuk tercapainya keadilan dan martabat melalui hukum.
Ada sekitar dua lusin kutipan yang dipamerkan di instalasi seni yang diciptakan oleh sekolah itu. Tiga kutipan yang paling mencolok ditampilkan di pintu masuk instalasi seni, diantaranya kutipan dari St. Augustine, Al-Quran dan Magna Carta.

harvard-word-justice

(Kiri) kutipan Qur’an surah An Nisa yang dipajang di Harvard


Menurut Harvard Law School kutipan tersebut menggambarkan universalitas konsep keadilan di seluruh dimensi waktu dan budaya.
Adapun isi Surat Annisa Ayat 135 adalah,“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, walaupun terhadap dirimu sendiri atau terhadap ibu bapak dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka, janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutarbalikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka ketahuilah Allah Maha Tahu terhadap segala apa yang kamu kerjakan.” []
 
Sumber: the deen show.

Untuk Kali Kedelapan, Rusia Melakukan Veto Berdarah Terkait Suriah

Pemerintah Rusia, Rabu (12/4/2017), telah menggunakan hak vetonya terhadap resolusi dekan keamanan PBB terkait masalah Suriah. Resolusi PBB tersebut didukung AS untuk mengecam seragan senjata gas kimia di Khan Shaykun, Idlib, Suriah.
Meski menggunakan hak vetonya, Rusia tetap mendesak Suriah agar membuka pangkalan-pangkalan militernya untuk diperiksa.
Veto Rusia tersebut hanya mendapat dukungan dari anggota DK PBB yaitu Bolivia. Sementara sekutu lainnya, China, Etiopia, dan Kazakhstan memilih abstain.
Sedangkan 10 negara termasuk AS dan Perancis mendukung resolusi yang mengecam Suriah tersebut.
“Keberatan utama terhadap resolusi ini adalah karena didasari tuduhan demi sebuah tujuan di luar investigasi insiden itu,” kata Vladimir Safronkov, wakil utuasan Rusia di DK PBB.
Alasan lain, “Hasil dari voting ini sudah dapat dipastikan, sebab kami tak sepakat dengan sebuah dokumen yang secara fundamental memiliki konsep yang keliru,” tambah Safronkov.
Washington yakin pesawat-pesawat tempur pemerintah Suriah membawa gas sarin yang mematikan dari pangkalan militer Suriah.
Sementara itu, utusan Inggris di DK PBB Matthew Rycroft mengatakan, veto kedelapan terkait konflik Suriah sejak 2011 itu tak bisa dibendung.
Rycroft hanya mengingatkan Moskwa terkait janji mereka untuk menghancurkan senjata kimia menyusul sebuah serangan pada 2013.
Sedangkan Presiden Perancis Francois Hollande menyebut Moskwa menanggung beban tanggung jawab berat karena merusak upaya mengakhiri krisis Suriah.
Sementara, utusan AS Nikki Haley menegaskan, dia masih memiliki harapan di masa depan Moskwa akan bekerja sama dalam masalah ini.
Haley juga mendesak Rusia agar menggunakan pengaruhnya untuk menekan Presiden Bashar al-Assad agar menhentikan kekerasan dan kegilaan dalam konflik yang sudah menewaskan 400.000 orang itu.
Sumber : Kompas/CBC/Middleeastupdate

Dari Gaza hingga Ulama Saudi Ucapkan Selamat kepada Gubernur Baru Jakarta

Syeikh Ahmed Deedat, Sosok Luar Biasa yang Jadi Panutan Dr. Zakir Naik

Saat ini, ulama kondang asal India, Zakir Naik, tengah berada di Indonesia dan menyampaikan ceramahnya di berbagai kota besar. Kendati pria yang bernama lengkap Zakir Abdul Karim Naik ini dicekal di berbagai negara, seperti Malaysia, Singapura, Inggris, Kanada, Bangladesh, bahkan di negara asalnya sendiri, India, namun sosoknya memang cukup menarik perhatian.
Ia cerdas dan lugas dalam berdebat. Ia dihormati, tak hanya dari kalangan Muslim saja, namun dari luar lingkaran agama ini juga pada umumnya.
Kecerdasan beliau tentu tak datang begitu saja. Sebelum dihormati seperti sekarang ini, Ustadz Zakir pasti pernah menjadi seorang murid terlebih dahulu. Dan di belakang murid yang cerdas, pasti ada guru yang telaten dan bersahaja yang mendorong muridnya untuk berhasil meraih kesuksesan.
Bagi Zakir Naik, Guru tersebut adalah Syeikh Ahmed Deedat, seorang Kristolog Muslim yang disegani di dunia internasional. Pemikiran beliau dipercaya telah banyak memengaruhi gagasan-gagasan Zakir Naik dalam berdakwah.
Siapa itu Syeikh Ahmed Hussein Deedat?
Beliau ini merupakan pakar dalam ilmu Kristologi yang lahir pada tanggal 1 Juli 1918 di Bombay, India. Di kalangan penggiat studi perbandingan agama, nama beliau ini sudah sangat dikenal baik dan disegani.
Sejak usia sembilan tahun, ia pindah ke Afrika Selatan bersama ayahnya yang seorang penjahit. Kepindahan tersebut karena mereka terpaksa mencari nafkah yang lebih memadai. Dan saat itulah, hari terakhir ia melihat ibunya. Dikarenakan beberapa bulan setelah bermigrasi, sang ibu meninggal dunia.
Perjalanan Ahmad Deedat
Keterbatasan biaya membuat ia harus merelakan bangku pendidikan pada usia 16 tahun. Sejak saat itu pula dirinya mulai sibuk membantu ayahnya. Namun, hal ini yang menjadi titik mula perjalanannya hingga dikenal luas seperti saat ini.
Saat itu ia bekerja di sebuah toko yang dekat dengan sekolah kristen. Di tempat barunya tersebut, ia kerap melihat para siswa misionaris Kristen yang datang ke wilayahnya, yang notabene ditempati oleh banyak pemeluk Muslim. Kedatangan mereka umumnya untuk berdiskusi dan tak jarang berbincang panjang dengan warga setempat mengenai Kristen dan Islam.
Takdir akhirnya mempertemukan ia dengan sebuah buku berjudul Idzhar Al-Haq yang berarti menampakkan kebenaran. Buku ini berisi kisah kesuksesan orang-orang asal India yang pintar berdebat soal perbandingan agama. Usai mempelajari buku tersebut, ia pun semakin mantap dan tertarik untuk mempelajari perbandingan agama. Berawal dari sini kemudian karir Ahmed Deedat melejit sampai menjadi pembicara level dunia.
Syeikh Ahmed Deedat adalah guru besar bagi Zakir Naik
Bukti bahwa Zakir Naik belajar dari Ahmed Deedat dapat dibuktikan dengan adanya sebuah video yang berisi pertemuan mereka. Meski tak banyak video mengenai kebersamaan mereka, namun boleh dikatakan kalau Zakir Naik belajar banyak dari Kristolog internasional tersebut.
Screenshot_2017-04-10-07-36-47_com.android.chrome_1491785769363
Dalam video tersbut terlihat Ustadz Zakir muda yang mendapat ceramah langsung dari Syeikh Ahmed. Bahkan, pada tahun 1994, Syeikh Ahmed tak segan mengatakan bahwa Zakir Naik ini adalah “Deedat Plus” alias orang yang kemampuannya lebih komplet dari dirinya. Dan pada tahun 2000 silam, Zakir memperoleh piagam penghargaan dari sang Syeikh atas dedikasinya yang luar biasa terhadap dunia dakwah.
Meninggalnya sang Kristolog Muslim terpandang
Pada tanggal 8 Agustus 2005, dunia Islam berduka atas kepergian sang pendakwah cerdas tersebut yang berpulang pada usia 87 tahun. Penyakit stroke yang telah diidapnya sejak lama menjadi penyebab ia dipanggil oleh yang maha kuasa.
Syeikh Ahmed Hussein Deedat dijenguk oleh rekan-rekannya.
Sebelum beliau meninggal, muridnya yang paling cemerlang, tak lain tak bukan adalah Zakir Naik, menyempatkan diri untuk menjenguknya.
Dalam pertemuan yang mengharukan tersebut, ustadz Zakir memperlihatkan sebuah video padanya yang berisi debat dirinya dengan Dr. William Campbell, seorang kristiani.
Syeikh Ahmed menangis bahagia dan bangga usai menonton video tersebut. Ia mengatakan bahwa apa yang telah Zakir raih dalam empat tahun setara dengan semua keberhasilan dan pencapaiannya dalam 40 tahun.
Mendengar pujian dari guru besarnya, Zakir menjawab, “Karena usaha keras anda selama 40 tahun tersebut semua ini bisa dicapai. Untuk membangun kesuksesan, diperlukan pondasi yang kuat dan brilian agar bangunan bisa berdiri kukuh dan tegak. Jika tidak demikian, mungkin saya akan perlu waktu 44 tahun hingga bisa berada di posisi seperti ini.“ Masya Allah…

Sepi Pemberitaan, 500 Gereja Ditutup dan 423 Masjid Baru dibuka di London

Institut Gatestone Inggris telah merilis laporan yang cukup mencengangkan tentang penutupan gereja di Ibu Kota negara tersebut. Namun di balik penutupan gereja, pembangunan masjid justru terus berkembang dan seolah menggantikan gereja-gerja yang ditutup.
“London lebih Islami dibandingkan Muslim di negara lain,” ungkap Maulana Syed Raza Rizvi, salah seorang tokoh Islam yang kini memimpin apa yang disebut wartawan Melanie Phillips sebagai “Londonistan,” Beitbart melaporkan pada Ahad (2/4/2017).
“Teroris tidak akan tahan dengan multikulturalisme yang ada di London,” pungkas walikota London Sadiq Khan -yang juga seorang seorang Muslim- kala mengomentari serangan ‘teror’ baru-baru ini di Westminster.
Fakta yang ada di lapangan membenarkan Islam terus berkembang di London, tepat ketika gereja-gereja mulai ditinggalkan. Menurut laporan, “Londonistan” kini telah memiliki 423 masjid baru, mengantikan 500 gereja yang telah ditutup.
Sebagai contoh, Gereja Hyatt United telah dibeli oleh masyarakat Mesir dan akan diubah menjadi masjid. Gereja St Peter telah diubah menjadi Masjid Madina. Masjid Brick Lane dibangun di atas bekas Gereja Methodist.
Tak hanya bangunannya yang berubah, tetapi juga orangnya. Jumlah Mualaf di London dikabarkan telah naik dua kali lipat.
The Daily Mail pernah menerbitkan foto-foto dari gereja dan sebuah masjid yang berjarak hanya beberapa meter di jantung kota London. Di Gereja San Giorgio, yang dirancang untuk mengakomodasi 1.230 jamaah, ternyata hanya disi 12 orang ysng berkumpul untuk merayakan Misa. Di Gereja Santa Maria, juga hanya diisi oleh 20 orang.
Sedangkan Masjid Brune di Jalan Estate memiliki masalah yang berbeda yakni ‘kepadatan jamaah.’ Masjid dengan ruangan kecil dan hanya dapat berisi 100 orang, justru jamaah sampai ‘meluber’ dan tumpah ruah hingga ke jalan-jalan untuk Shalat Jumat.
Melihat tren yang terjadi saat ini, Kristen di Inggris tak lama lagi hanya akan menjadi peninggalan, sementara Islam akan menjadi agama masa depan. Subhanallah.
 
Sumber : BBC/Islampos