by Danu Wijaya danuw | Dec 15, 2016 | Artikel, Dakwah, Fatwa
MUI baru saja mengeluarkan fatwa yang menyatakan haram hukumnya bagi seorang muslim menggunakan atribut keagamaan agama lain. Bersamaan dengan itu, MUI mengeluarkan rekomendasi terkait.
“Ada rekomendasi yang dikeluarkan terkait dengan fatwa itu,” ujar Sekretaris Komisi Fatwa MUI Asrorun Niam di Jakarta, 14/12/2016).
Berikut Rekomendasi dalam fatwa tersebut:
- Umat Islam agar tetap menjaga kerukunan hidup antara umat beragama dan memelihara harmonis kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara tanpa menodai ajaran agama, serta tidak mencampuradukkan antara akidah dan ibadah Islam dengan keyakinan agama lain.
- Umat Islam agar saling menghormati keyakinan dan kepercayaan setiap agama. Salah satu wujud toleransi adalah menghargai kebebasan non-muslim dalam menjalankan ibadahnya, bukan dengan saling mengakui kebenaran teologis.
- Umat Islam agar memilih jenis usaha yang baik dan halal, serta tidak memproduksi, memberikan, dan/atau memperjualbelikan atribut keagamaan non-muslim.
- Pimpinan perusahaan agar menjamin hak umat Islam dalam menjalankan agama sesuai keyakinannya, menghormati keyakinan keagamaannya, dan tidak memaksakan kehendak untuk menggunakan atribut keagamaan non-muslim kepada karyawan muslim.
- Pemerintah wajib memberikan perlindungan kepada umat Islam sebagai warga negara untuk dapat menjalankan keyakinan dan syari’at agamanya secara murni dan benar serta menjaga toleransi beragama.
- Pemerintah wajib mencegah, mengawasi, dan menindak pihak-pihak yang membuat peraturan (termasuk ikatan/kontrak kerja) dan/atau melakukan ajakan, pemaksaan, dan tekanan kepada pegawai atau karyawan muslim untuk melakukan perbuatan yang bertentangan dengan ajaran agama seperti aturan dan pemaksaan penggunaan atribut keagamaan non-muslim kepada umat Islam.
“Fatwa ini berlaku pada tanggal ditetapkan, dengan ketentuan jika di kemudian hari ternyata dibutuhkan perbaikan, akan diperbaiki dan disempurnakan sebagaimana mestinya. Agar setiap muslim dan pihak-pihak yang memerlukan dapat mengetahuinya, menghimbau semua pihak untuk menyebarluaskan fatwa ini,” kata Asrorun.
Fatwa ini ditetapkan di Jakarta pada Rabu 14 Desember 2016 hari ini.
Sumber : detik, mui
by Danu Wijaya danuw | Dec 15, 2016 | Dunia
Presiden Suriah Bashar al-Assad adalah sosok di balik kekerasan sistematis yang dialami rakyatnya sendiri. Hal itu tertera dalam laporan PBB. Assad membunuh puluhan ribu orang, menggunakan senjata kimia yang dilarang PBB, merudal bantuan PBB, membunuh anak-anak, wanita, ulama, merubuhkan masjid, sekolah dan rumah sakit. Dan membiarkan militan syiah menyerang penduduk sunni suriah yang berpotensi membantai habis lelaki dan memperkosa wanita suriah.
Assad menikah dengan Asma’ al-Akhras, seorang syiah suriah. Istrinya hidup berglamour mewah berdasarkan situs wikileaks. Assad dalam pemerintahannya didukung oleh pemerintah Iran, China dan Rusia, ia menganut idealisme sosialis komunis. Dalam pemahamannya, Assad mengikuti sekte syiah Ghulat atau dikenal syiah Nushairiyah.
Menurut peneliti senior dari International Institute for Strategic Studies, Emilie Hokayem, al-Assad sama kejam dengan ISIS.
“Laporan yang saya baca sungguh tak nyaman. Dan bagaimana bisa mereka mengatakan Assad harus tetap dalam kekuasaan untuk membuat stabilitas dan melawan ISIS serta Al-Qaeda? Ia sama kejamnya dengan kelompok itu, ” tulis Hokayem dalam Twitter-nya yang ia unggah pada Kamis 11 Februari 2016.
Laporan itu memuat salah satu kisah pembelot dalam rezim Assad yang diberi kode nama ‘Caesar’. Mantan tentara Suriah itu mengatakan Assad telah membunuh 10.000 orang sejak Juli 2014.
“Angka itu jelas merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan,” tulis Caesar dalam laporan PBB tersebut.
“Mereka yang berhasil keluar dari penjara mengalami kekerasan yang tak bisa dibayangkan oleh akal sehat,” kata Ketua Komisi Independen untuk Suriah, Paulo Pinheiro.
“Bagi penduduk Suriah, ketakutan akan penahanan atau penculikan merupakan horor yang menghantui mereka di seluruh penjuru negeri,” tambahnya.
Laporan itu juga meminta Dewan Keamanan untuk memberi sanksi pada Assad. Rusia adalah pendukung utama Assad. Mereka mengkategorikan siapapun yang melawan rezim adalah teroris. Menurut Caesar, Rusia tak bisa membedakan mana ISIS dan oposisi.
Sementara itu, negeri beruang merah itu lebih banyak menyerang pemberontak dan oposisi yang didukung sekutu AS, Turki dan Arab Saudi. Namun, ISIS dibiarkan dan makin mencengkeramkan kukunya.
Menurut laporan lain dari lembaga kemanusiaan IRIN, 10 persen kematian di Suriah akibat ISIS, sementara rezim Assad bertanggung jawab atas 75 persen kematian.
Sementara itu, menurut PBB, sistem penjara Suriah dilaporkan melakukan penyiksaan hingga para oposisi hingga tewas. Terus berlangsung hingga kini.
Setelah 5 tahun perang, dunia internasional terbagi konsentrasi antara ISIS dan simpatisan Assad. Warga sipil kurang memperoleh perhatian.
Dialog antara oposisi dan rezim yang sejatinya berlangsung minggu lalu gagal. Tim perunding hanya bisa menyepakati penghentian permusuhan antara keduanya. Namun, serangan udara Rusia tetap dijalankan dan Moskow ‘mengancam’ sekutu perang jika mereka meminta menghentikan aksinya itu.
by Danu Wijaya danuw | Dec 14, 2016 | Adab dan Akhlak, Artikel
Senyum merupakan ciri kelembutan hati seseorang, lemah lembut perwujudan dari cahaya hidayah sunnah dalam realita kehidupan dan sangat dicintai oleh Allah swt.
Di samping itu juga, senyum menjadi tanda mulianya akhlak seseorang, dan akhlak yang mulia adalah amalan yang sangat berat timbangannya di sisi Allah.
Dan juga menunjukkan kuatnya ittiba’ seseorang kepada Rasulullah, dimana beliau suka tersenyum kepada umatnya. Dan itu juga sebagai salah satu bukti keimanan dan ketakwaan seseorang, dan tentunya bernilai pahala di sisi Allah, karena senyum adalah sedekah, dan sedekah adalah bukti.
Berikut ini beberapa dalil seputar senyum:
Pertama: Senyum adalah sedekah
«تَبَسُّمُكَ فِي وَجْهِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَةٌ»
“Senyummu di depan saudaramu, adalah sedekah bagimu” (Sahih, H.R. Tirmidzi no 1956).
Kedua: Senyum adalah kebajikan
«لَا تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا، وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ»
“Janganlah engkau meremehkan kebaikan sedikitpun, meskipun hanya dengan bertemu dengan saudaramu dengan wajah yang berseri”. (H.R. Muslim no 2626).
Ketiga: Rasulullah tersenyum kepada para sahabat.
Jarir bin Abdillah menceritakan:
مَا رَآنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُنْذُ أَسلَمْتُ إِلَّا تَبَّسَم فِي وَجْهِي
“Rasulullah tidak pernah melihatku sejak aku masuk islam, kecuali beliau tersenyum”. (Sahih, H.R. Bukhari no. 250)
Keempat : Menjadi sarana berbuat baik kepada manusia
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kamu tidak akan mampu berbuat baik kepada semua manusia denga hartamu, maka hendaknya kebaikanmu sampai kepada mereka dengan keceriaan (pada) wajahmu.” (H.R. al-Hakim (1/212)
Kelima : Membuat orang lain bahagia
Menampakkan wajah manis di hadapan seorang muslim akan meyebabkan hatinya merasa senang dan bahagia, dan melakukan perbuatan yang menyebabkan bahagianya hati seorang muslim adalah suatu kebaikan dan keutamaan. (Lihat kitab “Tuhfatul ahwadzi” no. 6 hal 75-76)
Dan masih banyak lagi hadis yang menjelaskan tentang tersenyum, wajah berseri-seri. Ini adalah akhlak islam yang dipraktekkan oleh Rasululloh dan para sahabatnya.
Hasan al-Bashri mengatakan, tentang akhlak yang mulia:
كفّ الأذى و بذل النّدى و طلاقة الوجه
Mencegah gangguan, berderma dan wajah berseri-seri.
Tiga hal ini adalah inti dari akhlak yang mulia, dan diantaranya berwajah gembira atau tersenyum kepada manusia.
Oleh : Fathul Bari Lomboki
by Danu Wijaya danuw | Dec 14, 2016 | Artikel, Dakwah
Wanita hebat itu Hajar, ditinggalkan bersama bayi di terik gurun mematikan: “Jika ini perintah-Nya, Dia takkan pernah menyiakan kami.” Kalimat itu sulit dan berat sebab dia bersama bayi merah dan sergapan rasa menggulung: takut, sedih, kecewa, dan cemburu. Dan kalimat iman tak serta merta membuat langit turunkan keajaiban. Wanita itu diuji, maka berpayah dia lari-lari tujuh kali antara bukit Shafa dan Marwah.
Proklamasi iman itu mengabadi, tanpanya kita tak bisa melakukan sa’i saat haji. Tak jumpa air zam-zam, tak bisa jumrah dan berucap “kama shallaita” di tahiyat. Hajar adalah wanita mulia, disisinya pun ada suami dan anak yang mulia. Tetapi bagaimana jika kau bersuamikan lelaki yang jahat lagi keji?
Mari mengaca pada Asiyah, wanita di sisi Fir’aun itu. Ujian iman dimulai dari sosok terdekat yang seharusnya jadi pelabuhan rasa. Dan wanita teguh itu menemukan manisnya pengaduan pada Rabb semesta alam : “Bangunkan untukku rumah disisi-Mu, di surga terjanji itu.”
Selanjutnya inilah wanita suci, ahli ibadah pelayan umat yang tak pernah disentuh lelaki manapun. Maka Allah memilihnya jadi keajaiban zaman. Dan bukankah tiap karunia hakikatnya ujian, pun begitu pada Maryam. Wanita suci itu menanggungkan aib, rasa malu dan beratnya beban darinya lahir seorang anak tanpa suami. Tetapi begitulah iman. Ia tak menjamin untuk selalu berlimpah dan tertawa. Ia hanya hadirkan lembut sapa-Nya ditiap dera yang menimpa. Wanita itu diabadikan dalam surah Al Qur’an, maryam. Najasyi, para uskup Habasyah dan semua pecinta mencucurkan airmata ketika dibacakan surah tersebut.
Lalu hadirlah Khadijah. Wanita yang segala kata membisu didepan keagungannya. Janda mulia itu memilih si lelaki terpuji untuk hidupnya. Dimulailah perannya sebagai wanita yang menegakkan punggung suami dihadapan zaman, menyediakan kelembutan dan kelapangan hati.
Turunnya wahyu pertama serasa memikulkan sepenuh bumi ke pundak nabi Muhammad saw. Wanita itu menyambut gemetar suami dengan selimut lembut tanpa tanya. “Khadijah, wanita itu beriman padaku saat semua ingkar. Dia serahkan hartanya ketika semua bakhil.” kenang Muhammad bertahun kemudian.
Dari wanita ini lahir Fatimah, penghulu surgawati berikutnya. Satu hari, setimbun isi perut unta ditumpahkan ke kepala Nabi yang sujud. Beliau tak bangkit hingga wanita belia itu datang mengusap dan menyeka penuh tangis haru. “Tenang Fatimah, Allah takkan siakan ayahmu.” Wanita itu menuntun ayahnya pulang, disekakannya air hangat, dibakarkannya perca untuk hentikan darah di luka. Lalu disilakannya rehat.
Penuh nyali wanita itu kembali ke Ka’bah, ditudingnya para pemuka Quraisy yang tertawa-tawa hingga mereka terkesiap. Lalu dia bicara. “Ayahku Al Amin, akhlaknya mulia dan tak sekalipun dia pernah rugikan kalian.” Wanita itu terus bicara dan mereka khusyuk mendengarkan. Fatimah; dia putri Nabi setara raja, tapi pelayan pun tak punya. Dia istri pahlawan, tapi tangannya melepuh menggiling gandum. Wanita ini ibu dari dua penghulu pemuda surga, tapi rumah cahaya itu roti berbukanya sering tandas tersedekah hingga lapar menyergap.
Mari takjubi Aisyah. Wanita cerdas ini ahli tafsir, sejarah, faraidh, meriwayatkan 4.000an hadist dan hafal ribuan bait syair. Ajaibnya wanita ini bergelar Ash-Shiddiqah binti Ash-Shiddiq (yang amat jujur putri pembenar kebenaran). Menguasai itu semua sebelum 18 tahun. Kehadiran wanita ini menjadikan hidup sang Nabi warna-warni, cantiknya, cerdas lincahnya, cemburu, juga iri dan fitnah yang mengguncang. Madinah jadi indah dengan ilmunya. Bashrah bergelora dengan khutbah-khutbahnya. Menuntut bela pembunuhan ustman kepada Ali.
Sumber :
Menyimak Kicau Merajut Makna, Salim A. Fillah, ProU Media
by Danu Wijaya danuw | Dec 13, 2016 | Artikel, Ringkasan Taklim
Ringkasan Tadabbur Surat Al Munafiqun ayat 9-11
“Berbekal Sebelum Hilang Kesempatan”
Ahad, 11 Desember 2016
Pkl. 18.00-19.30
Di Majelis Taklim Al Iman, Kebagusan
Bersama: Ustadz Fauzi Bahreisy
Pembahasan Ayat 9
- Yang menghalangi orang munafiq beriman kepada Allah secara tulus adalah ketamakan terhadap dunia
- Standar dan ukuran mereka adalah dunia
- Allah mengarahkan kita dalam ayat ini agar kita tidak menjadi orang munafik karena orientasi mereka adalah dunia
- Namun dalam ayat ini bukan berarti Allah melarang kita untuk menikmati dunia.
- Allah mempersilahkan kita untuk menikmati dunia cuma jangan sampai kita dilalaikan oleh harta dan anak-anak.
- Tidak berarti yang melalaikan manusia hanya harta dan anak-anak saja. Akan tetapi, dua hal itulah yang paling membuat manusia lalai kepada Allah.
- Setinggi apapun kedudukan kita, sebanyak apapun gelar dan pangkat kita, ujung-ujungnya kita akan kembali kepada Allah.
- Jika kita dilalaikan terhadap dunia maka kita termasuk orang-orang yang merugi
Pembahasan Ayat 10
- Setelah kita diingatkan Allah di ayat 9 agar tidak lalai kepada dunia, Allah memerintahkan untuk menginfakkan/mengeluarkan sebagian harta kita.
- Menurut sebagian mufassir tidak terbatas hanya harta saja, akan tetapi nikmat apapun yang Allah berikan kepada kita. Misal: ilmu. Kita harus keluarkan/ajarkan sebahagian ilmu kita kepada orang lain, jangan pelit.
- Kapan dikeluarkan..? Sebelum datangnya kematian (selama hidup).
- Para salafus shalih usianya rata-rata tidak panjang-panjang, tapi amal mereka luar biasa. Hingga sekarang masih bisa kita rasakan karya-karya mereka. Karena itu, mumpung kita masih hidup banyak-banyaklah beramal sholeh.
- Seandainya orang yang akan mati meminta penundaan kematian kepada Allah maka yang akan dia lakukan adalah shadaqah.
- Shadaqah dapat menghapuskan dosa-dosa sebagaimana sabda Nabi
Pembahasan Ayat 11
- Allah tidak akan menunda kematian seseorang apabila waktu kematiannya telah datang.
- Allah Maha Teliti apa yang kita kerjakan.
Dipersembahkan oleh:
Majelis Taklim Al Iman
www.AlimanCenter.com