0878 8077 4762 [email protected]

Dialog Heraklius dengan Abu Sofyan tentang Islam dan Rasulullah

Mengutip dan menyimpulkan kisah dari buku Sirah Nabawiyah karangan Syaikh Shafiyyur Rahman Al-Mubarakfury yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Kathur Suhardi. Percakapan antara Heraklius, kaisar Romawi dengan Abu Sofyan, paman Rasul sendiri yang pada saat itu belum masuk Islam dan sedang berdagang di Syam. Disaat yang sama korespondensi oleh Rasul melalui utusan beliau Dihyah bin Khalifah Al Kalby kepada Kaisar Roma yang sedang berkuasa, Heraklius, pada akhir tahun 6 H.
Heraklius yang saat itu berada di Baitul Maqdis mengundang Abu Sufyan untuk ikut pertemuan dimana dihadiri para pembesar Roma. Heraklius mengajukan beberapa pertanyaan ‘spekulatif’   kepada Abu Sufyan tentang Rasul dan ajaran (Islam) yang dibawa Muhammad. Berikut pertanyaan sekaligus jawaban dari Heraklius.
Pada pertemuan itu, Raja Heraklius hadir dengan pembesar kerajaannya. Heraklius memanggil seorang penerjemah untuk menerjemahlan dialognya dengan rombongan Abu sufyan.
Raja Heraklius kemudian berkata kepada penerjemahnya, “Tanyakan kepada mereka, siapa yang paling dekat dengan nasab (karis keturunan)nya dengan Muhammad yang mengklaim dirinya seagai seorang Nabi dari negeri Arab!”
Mendengar pertanyaan tersebut, Abu Sufyan menjawab, “Akulah yang paling dekat nasabnya dengan Muhammad.”
Heraklius kemudian berkata kepada penerjemaahnya“Beritahukan kepada Abu Sufyan bahwa aku akan mengajukan kepadanya beberapa pertanyaan. Katakan kepada kawan-kawannya jika Abu Sufyan telah menjawab pertanyaanku, hendaknya mereka memberitahuku diriku kenyataan yang sesungguhnya. Jika benar katakan benar. Jika salah katakan salah”
Pertanyaan pertama yang dilontarkan Heraklius kepada Abu Sufyan ialah, “Bagaimanakah nasab orang ini (Muhammad) di antara kalian?”
Abu Sufyan menjawab, “Dia adalah orang yang memiliki nasab yang mulia dalam kabilah bangsa Arab”
Heraklius bertanya, “Apakah ada orang sebelumnya yang telah menyatakan apa yang telah dia ucapkan itu?”
Abu Sufyan menjawab, “Tidak”
Heraklius bertanya, “Apakah dia berasal dari keturunan raja?”
Abu Sufyan menjawab, “Tidak”
Raja romawi itu bertanya lagi, “Apakah pengikutnya adalah orang-orang mulia dan para pembesar?”
Abu Sufyan menjawab, “Tidak, para pengikutnya adalah orang-orang miskin dan orang-orang yang lemah”
Heraklius bertanya lagi, “Apakah pengikutnya itu bertambah terus atau semakin berkurang?”
Abu Sufyan menjawab, “Pengikutnya semakin hari semakin bertambah dan tidak pernah berkurang”
Heraklius bertanya lagi, “Apakah di antara mereka ada yang meninggalkan agama mereka karena membenci agama itu?”
Abu Sufyan menjawab, “Tidak ada”
Raja romawi ini bertanya lagi, “Apakah kalian menuduh dia berdusta atas apa yang diucapkannya bahwa dia mengklaim dirinya sebagai Nabi? Sebelum dia menyatakan bahwa dia adalah seorang nabi, apakah dahulunya dia adalah seorang pendusta?”
Abu Sufyan menjawab, “Tidak”
Kemudian, Abu Sufyan ditanya lagi, “Apakah dia suka menghianati perjanjian?”
Abu Sufyan menjawab, “Tidak. Sepanjang kami hidup bersama dalam satu kabilah dengannya, kami tidak pernah melihat dia berdusta dalam bicara dan tidak pernah berkhianat dalam melakukan perjanjian. Pada saat ini, kami juga sedang melakukan perjanjian dengannya, tetapi kami tidak tahu apa yang akan dia lakukan.”
Raja Romawi itu melanjutkan pertanyaannya, “Apakah kalian memerangi mereka?”
Abu Sufyan menjawab, “Sejujurnya kami memang sedang memerangi mereka”
Heraklius bertanya lagi. “Lantas bagaimana hasil dari pertempuran kalian dengan mereka?”
Abu Sufyan menjawab, “Manakala kami berperang, kadang kami yang menang dan kadang mereka yang menang”
Heraklius berujar, “Dia telah mengaku sebagai seorang Nabi kepada kalian. Lalu apa yang diperintahkan Muhammad kepada kalian?”
Abu Sufyan menjawab, “Muhammad mengajak kami dan menyuru kami bersaksi, ‘Sembahlah Allah semata dan janganlah kalian menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun.’ Muhammad juga Menyeruh kami untuk meninggalkan apa yang diucapkan oleh nenek moyang kami (menyembah berhala). Dia juga menyeruh kami untuk menegakkan shalat, membayar zakat, berlaku jujur, bersikap sederhana dan hidup bersahaja, serta senantiasa menyambung silaturahim”
Maksud dan Tujuan Pertanyaan Raja Heraklius
Setelah semua pertanyaan diajukan dan dijawab Abu sufyan, Heraklius menjelaskan maksud dan tujuannya dari pertanyaan-pertanyaannya.
Heraklius menjelaskan, “Aku bertanya kepadamu tentang nasabnya (Muhammad) di antara kalian, seperti apa sejatinya nasabnya? Engkau menjawab bahwa dia memiliki nasab yang mulia, orang terpandang. Memang seperti itulah adanya para Nabi yang diutus di tengah-tengah kaumnya. Mereka berasal dari nasab-nasab yang luhur
Kemudian, aku menanyakan kepadamu apakah ada orang-orang sebelumnya yang telah mengklaim bahwa dirinya adalah seorang Nabi. Engkau menjawab, Tidak. Itulah realitas yang benar, sebab jika sebelumnya ada di antara keluarganya yang menyatakan perkataan tersebut, bisa saja dia hanya ikut-ikutan mengklaim dirinya sebagai seorang Nabi. Namun, faktanya tidak ada.
Aku tanyakan kepadamu tentang apakah ada bapak ataupun kakek (leluhurnya) yang menjadi raja. Engkau menjawab tidak ada. Itula realitas yang patut dipercaya, sebab jika sekiranya ada bapak atau kakeknya yang menjadi sorang Raja, mungkin saja dia mengucapkan perkataan tersebut hanya karena ingin mencari kekuasaan atau merebut kekuasaan yang pernah diraih leluhurnya
Heraklius, Raja Romawi Mengakui Muhammad saw sebagai Seorang Rasul
Aku telah menanyakan kepadamu tentang sikap dan respon kalian sebelum dia mengaku sebagai seorang nabi, adakah kalian menuduhnya pembohong dan manusia penuh dusta. Engkau menjawab tidak. Itulah realitas yang benar, sebab aku tahu persis bahwa seorang nabi tidak akan pernah berdusta kepada manusia, apalagi berdusta atas nama Tuhan
Aku juga bertanya kepadamu tentang para pengikutnya, apakah para pengikutnya itu pembesar dan dan pejabat. Engkau menjawab kalau para pengikutnya adalah orang-orang lemah dan orang-orang miskin. Itulah realitas yang benar, sebab memang demikianlah adanya. Pengikut para nabi pada masa lalu adalah dari kalangan orang-orang lemah dan miskin
Kemudian, Aku tanyakan kepadamu adakah para pengikutnya semakin bertambah atau berkurang. Engkau menjawab kalau para pengikutnya semakin bertambah dan tidak pernah berkurang. Itulah realitas yang benar, sebab pengikut nabi akan semakin bertambah dan bertambah terus sampai menjadi sempurna.
Aku telah bertanya kepadamu, apakah ada di antara mereka yang keluar dari agamanya kerena membenci agama itu. Engkau menjawab tidak ada satu pun. Itulah realita yang benar, sebab jikalau keimanan telah bersatu dengan hati, dia tidak akan bisa keluar lagi.
Aku juga menanyakanmu tentang keadaannya, apakah dia pernah berkhianat. Engkau menjawab tidak. Itulah realitas yang benar, sebab memang seperti itulah karakteristik dasar para Rasul Allah. Mereka tidak ada yang pernah berkhianat.
Kemudian, Aku menanyakan kepadamu tentang apa yang diperitahkan Muhammad kepada kalian. Engkau menjawab bahwa ia memerintahkan untuk beribadah kepada Allah semata dan melarang kalian untuk melakukan perbuatan syirik. Dia juga mengajak untuk melaksanakan ibadah shalat, zakat, puasa, bersikap jujur, sederhana, tidak gila dunia, serta menyambung silaturahim.”
Heraklius lalu berkata kepada Abu Sufyan dan kawan-kawannya yang disaksikan seluruh petinggi kerajaan, Wahai Abu Sufyan, jika semua yang telah kau terangkan itu betul semuanya, dia akan memerintah sampai ke tempatku berpijak di kedua telapak kakiku ini.
Sesungguhnya, aku telah tahu (ramalan) bahwa dia akan lahir. Namun, aku tidak mengira bahwa dia akan lahir dari klan anak bangsa di antara kalian.
Kemudian Heraklius Kaisar Romawi itu berkata, “Sekiranya aku dapat bertemu dengannya (nabi Muhammad saw). Walaupun dengan susah payah, aku akan berusaha untuk menemuinya. Jika aku berhasil berada di dekatnya, aku akan mencuci kedua telapak kakinya. Seandainya aku tahu jalan menuju ke tempatnya, aku akan berusaha untuk bisa menuju ke tempatnya dan jika aku menemuinya, aku akan membasuh kedua kakinya.” (HR Bukhari)

Beberapa Foto Kejahatan Perang Assad Membom Banyak Masjid dan Rumah Sakit

Beberapa Foto Kejahatan Perang Assad Membom Banyak Masjid dan Rumah Sakit

Mana yang benar, ketika banyak media berseliweran antara yang membela Presiden Suriah Bashar Assad dan yang mendukung oposisi rakyat Suriah sendiri dalam pertempuran Aleppo akibat kekejaman rezim Assad.
 
Mari kita lihat kejahatan perang Assad karena melanggar peraturan PBB yaitu membom Tempat Ibadah/Masjid dan Rumah Sakit. Berikut beberapa foto kekejaman rezim Assad tanpa pandang bulu demi melanggengkan kekuasaannya setelah didemo banyak rakyat Suriah, dimana tindakan Assad membom banyak Masjid dan Rumah Sakit :
1. Masjid Usman bin Affan di Deir al-Azor diserang Bashar Assad
20140208113208-kejamnya-bashar-al-assad-bombardir-masjid-masjid-di-suriah-004-isn
2. Masjid Khalid bin Walid di Homs Suriah di hujani peluru rezim Assad
20140208113208-kejamnya-bashar-al-assad-bombardir-masjid-masjid-di-suriah-005-isn
3. Masjid Ummayad yang hancur diterjang serangan militer Suriah
20140208113208-kejamnya-bashar-al-assad-bombardir-masjid-masjid-di-suriah-006-isn
4. Kubah Masjid di Deir al-Zor yang rusak berlubang dihancurkan mortir militer Suriah
20140208113208-kejamnya-bashar-al-assad-bombardir-masjid-masjid-di-suriah-007-isn
5. Kondisi parah masjid dan bangunan disekitarnya di bombardir bom barel militer Assas
20140208113208-kejamnya-bashar-al-assad-bombardir-masjid-masjid-di-suriah-008-isn
6. Sudah 700 lebih masjid telah dihancurkan rezim Assad
gal3005242-2xoca7or48nod06fl1jta8
Kemudian banyak rumah sakit yang menjadi korban jet-jet tempur dan helikopter dari militer rezim Assad tanpa pandang bulu yang mengakibatkan banyak dokter tewas, staff dan pasien tak berdosa merenggut nyawa. Berikut beberapa daftar rumah sakit yang menjadi korban kekejaman rezim Assad
1. Rumah sakit terbesar di Aleppo M10 di bom barel militer Assad.
rssuriah1
2. Bom Assad hancurkan Rumah Sakit Kafranbel, dokter asing dan pasien lansia tewas
rssuriah2
3. Rumah Sakit Anak-anak di Aleppo luluhlantak di Bom Assad dan Rusia
089696500_1445596413-20151023_serangan_rumah_sakit_suriah 089696500_1445596413-20151023_serangan_rumah_sakit_suriah
rezim-assad-serang-rs-anak-dan-bank-darah-di-aleppo-kja
4. Bank Darah yang menjadi kebutuhan penting di Aleppo diterjang rudal militer rezim Assad
rssuriah
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Marc Ayrault mengutuk pemboman rumah sakit terbesar M10 dan fasilitas kesehatan lainnya, menggambarkan serangan itu sebagai kejahatan perang.
Organisasi Physicians for Human Rightsmendokumentasikan 313 serangan terhadap fasilitas kesehatan dan 679 staf medis tewas semenjak perang pecah pada 2011 hingga akhir Agustus 2016.
“Pemerintah Suriah harus bertanggung jawab atas serangan ini,” tulis pernyataan organisasi itu, seperti dikutip The Guardian, Jumat (23/10/2015). “Secara konsititusi, serangan ke rumah sakit adalah kejahatan perang.”
Ditambah lagi laporan BBC, sekurangnya tiga dokter dan 14 pasien meninggal dunia dalam sebuah serangan udara atas sebuah rumah sakit di kota Aleppo Suriah, dari organisasi Medecins Sans Frontieres (MSF). Jet-jet tempur dan helikopter pemerintah Suriah dilaporkan membombardir rumah sakit
Asosiasi Dokter Independen, 20 bom barel atau IED terbang menghantam rumah sakit pada Rabu pagi. Asosiasi ini juga melaporkan bahwa lima rumah sakit dan satu klinik telah dibom.
 
Sumber : International sindonews, liputan6, BBC, Guardian, Merdeka.com

Ungkapan yang Sering Tertukar Antara Subhanallah dan Masya Allah

Selama ini kaum Muslim sering “salah kaprah” dalam mengucapkan Subhanallah (Mahasuci Allah), tertukar dengan ungkapan Masya Allah (Hal itu terjadi atas kehendak Allah).
Kalau kita takjub, kagum, atau mendengar hal baik dan melihat hal indah, biasanya kita mengatakan Subhanallah. Padahal, seharusnya kita mengucapkan Masya Allah yang bermakna “Hal itu terjadi atas kehendak Allah”.
Al Qur’an menuturkan Subhanallah (Mahasuci) digunakan dalam mensucikan Allah dari hal yang tak pantas. Diantaranya digunakan : Mahasuci Allah dari mempunyai anak, dari apa yang mereka sifatkan, dari yang mereka persekutukan, dan sebagainya.
Seperti kata “Subhanallah” digunakan untuk mengungkapkan keberlepasan diri dari hal menjijikkan semacam syirik pada Surat Saba ayat 41, “Mahasuci Engkau, Engkaulah pelindung kami bukan mereka; bahkan mereka telah menyembah jin…” Dihinakannya Allah  pada Surat Yusuf ayat 108, “Mahasuci Allah dan aku tiada termasuk orang-orang musyrik.”
Dalam surat Al Mukminun ayat 91, kalimat “Subhanallah” digandengkan dengan “amma yashifun” yang artinya Mahasuci Allah dari apa yang mereka sifatkan. Dan dalam surat Ash Shafat ayat 159, kalimat “Subhanallah digandengkan dengan “amma yusyrikun” yang artinya Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan.
Sedangkan dalam hadist, ucapan Subhanallah” dipakai ketika seseorang heran sikap seseorang, bukan kagum. Seperti dalam Hadist riwayat bukhari, ketika Abu Hurairah junub dan tidak mau berdekatan dengan Rasulullah. Kemudian beliau bersabda : “Mahasuci Allah, sesungguhnya muslim itu tidak najis.”
Jadi dalam Al Qur’an dan Hadist, kalimat “Subhanallah” digunakan untuk menyatakan kesucian Allah dan menyangkal hal-hal negatif seperti musyrik dan keheranan.
Kemudian Masya Allah (itu terjadi atas kehendak Allah). Diucapkan atas kekaguman pada aneka kebaikan, ketakjuban dan keindahan. Dalam surah Al Kahfi ayat 39 saat memasuki kebun indah berbuah, “Masya Allah la quwwata illa billah (tiada kekuatan kecuali pertolongan Allah). 
Contoh lain pengalaman menghadiri acara Masyaikh dari Saudi, Kuwait, Syam, Yaman dan menemani mereka ke Jogokariyan. Diantara mereka ada yang nyaris tanpa henti berkata ” masya Allah” kala melihat Air terjun Tawangmangu, Kebun Binatang Gembira Loka, dan Gunung Merapi.
Kesimpulannya “Masya Allah” adalah ungkapan ketakjuban pada hal-hal yang indah dan memang hal indah itu dicinta dan dikehendaki Allah.
Demi ketepatan makna keagungan-Nya dan tidak menghindari kesalah pahaman, mari biasakan mengucap “Subhanallah” dan “Masya Allah” seperti seharusnya.
 
Sumber : Ustad Salim A. Fillah -Menyimak Kicau Merajut Makna, dan Ustad Arifin Ilham – bersamadakwah

Nasihat Ulama Penyejuk Kalbu

Syaikh DR. Shalah Budair (Imam masjid Nabawi madinah) berkata :
“Bersemangatlah mengulang-ulang hafalan Al Quran secara rutin, dan perbanyaklah membaca hafalan Quran-mu pada sholat-sholat sunnah dan qiyamullail (shalat malam). Hal ini akan membantu mengokohkan hafalanmu dan menguatkannya di dalam hatimu.”
Syaikh Muhammad bin Sulaiman Al-Muhanna (bagian dari Universitas Islam Imam Muhammad bin Saud) berkata :
“Biasakan dirimu untuk memulai SMS dan surat lainnya dengan “Assalamu’alaikum”, semoga engkau akan mendapatinya pada catatan amal solehmu, di hari kiamat kelak.”
Syaikh Misyari Rasyid Al-Afasy (Qari’ masyhur di Timur Tengah dan Indonesia, Imam Masjid besar Kuwait) berkata :
“Yang membuat ilmu agama menjadi utama ialah ia jadikan seorang yang mempelajarinya menjadi orang yang bertaqwa kepada Allah. Kalau itu tidak tercapai maka tidak ada bedanya dengan ilmu yang lain.”
Syaikh DR. Khalid al-Mushlih hafizhullah (Dosen fiqih pada Universitas Al Qashim, Saudi Arabia) berkata :
“Saat pakaian kita kotor, kita pasti akan segera mencucinya. Namun apakah demikian juga yang kita lakukan dengan hati kita? Cara mencuci hati adalah dengan tangisan air mata penyesalan dan ucapan istighfar serta senantiasa berdzikir mengingat Allah Ta’ala”
Syaikh DR. Abdul Aziz Tharifi hafizhullah (Kepala Bidang Riset dan Penelitian Kementerian Urusan Islam, KSA) berkata :
“Aku cermati sejarah 30 negeri yang telah hancur, dan aku dapati bahwa kehancuran negeri-negeri tersebut berawal dari penyakit yang dihembuskan dari dalam melalui tangan kaum munafiqin, kemudian barulah musuh-musuh dari luar melemahkan dan menguasai negeri-negeri tersebut.”
Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid hafizhullah (pengasuh web IslamQA) berkata :
“Jika tanganmu terlalu “pendek” untuk membalas kebaikan sahabatmu, maka “panjangkanlah lisanmu” dengan memperbanyak terima kasih dan mendo’akannya”
Syaikh DR. Muhammad Al-Habdananggota Rabithah Ulama’ Al Muslimin (Ikatan Ulama Muslimin Dunia) berkata :
“Seorang mukmin yang menghadapi masalah dan tekanan, bagaikan adonan kue dalam tangan. Apabila adonan tersebut ditekan, maka ia akan keluar dari sela-sela jari. Begitulah seorang mukmin tidak hanya diam menghadapi masalah, tapi dia tetap dan terus beramal mencari jalan keluar”
Syaikh DR. Yahya bin Ibrahim al-Yahya hafizhullah (Doktor dalam bidang ilmu hadits, pernah menjabat sebagai dosen dan wakil rektor bidang kemahasiswaan Universitas Islam Madinah) berkata :
Dalam sebuah hadits shahih, “Sesungguhnya malaikat telah meniupkan pada janin agar tidak mati seorang sampai rizkinya habis sempurna. Maka bertakwalah kepada Allah dan perbaguslah dalam mencari rizki!”
Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid (pengampu berbagai majelis ilmu) berkata :
“Mari kita perbanyak membaca doa sebelum salam dalam sholat dengan doa yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam :
اللهم أعني على ذكرك , وسكرك , وحسن عبادتك
Allahumma a’inni ala dzikrika, wa syukrika wa husni ‘ibadatik
Artinya : “Ya Allah, berilah pertolongan kepada ku untuk selalu mengingat mu, bersyukur kepada Mu, dan memperbaiki ibadah ku untuk Mu.”
[Hadist Shahih : Riwayat Abu Dawud no 2/86 dan An-Nasa’i 3/53. Syaikh Al-Albani menshahihkan didalam Shahih Abu Dawud no 1/284. Lihat, Husnul Muslim Bab 24 no 59]

Tragedi Aleppo : Antara Bashar Assad dan Hulagu Khan

Apa yang terjadi di Aleppo belum lama ini sebenarnya merupakan musibah bagi umat Islam. Pasalnya, ketika Kota Aleppo dibom oleh tentara Bashar al-Assad dengan sekutunya, media Barat yang getol mengangkat isu HAM justru bungkam jika pelanggaran HAM mendera kaum Muslim.
Pemimpin Muslim sendiri kebanyakan berpangku tangan atas tragedi ini, bahkan media mainstream dalam negeri pun seakan jengah melansir berita riilnya, padahal korban yang berjatuhan kebanyakan warga sipil.
Tragedi Aleppo yang memakan banyak korban dewasa ini, mengingatkan kita pada peristiwa tragis kejatuhan Aleppo di tangan Mongolia.
Saat itu Hulaghu Khan dan bala tentaranya sampai di Aleppo, 2 Shafar, 658 Hijriah (al-Bidayah wa al-Nihayah, 13/253), kondisi kota begitu mencekam. Hulaghu mengerahkan tentaranya untuk mengepung Aleppo. Ketika itu, Tauransyah, Paman al-Nâshir Yusuf diamanahi memegang kendali kepemimpinan Aleppo. Sedangkan al-Nâshir sendiri, menjauh dari Aleppo.
Syahdan, alat berat manjaniq (mangonel atau manganon, sebagai senjata untuk melempar batu besar (di zaman sekarang barangkali serupa tank) dipasang di sekeliling Aleppo. Mulailah tentara Mongolia membombardir benteng Aleppo (dalam Qishhatu al-Tatar min al-Bidâyah ilâ `Ain Jâlût, 187).
Di saat bersamaan, daerah Miyafarqin (sekarang bernama Silvan, di wilayah Turki) di bawah komando al-Kamil Muhammad al-Ayyubi bisa diruntuhkan, hal ini semakin menciutkan nyali penduduk Aleppo.
Semakin beringaslah serbuan tentara Tatar ketika mendengar keruntuhan Miyafarqin. Pengepungan Kota Aleppo berlangsung selama tujuh hari penuh (al-Bidayah, 13/253). Di saat genting itu, Hulaghu memberi tawaran kepada penduduk Aleppo, bagi yang mau membukakan pintu gerbang, maka akan dijamin keamanannya. Masyarakat pun bingung. Ada yang tak setuju (seperti Turansyah dan pengikutnya yang ingin tetap melawan), tapi kebanyakan masyarakat setuju kemudian membukakan pintu gerbang.
Janji pun diingkari (memang demikian karakter mereka sepanjang sejarah). Hulaghu menitahkan pada prajuritnya agar semua penduduk dibunuh, kecuali orang Nashrani. Terjadilah tragedi memilikukan dalam sejarah.
Para bapak, ibu, dan anak-anak disembelih dengan sangat sadis. Sampai akhirnya, Tauransyah pun yang berlindung di dalam Benteng Aleppo bersama prajuritnya, bisa ditaklukkan dalam jangka empat Minggu. Semua dimusnahkan, kecuali Turansyah, karena alasan politik tertentu yang sedang dijalankan Hulaghu. Inilah akhir tragis penduduk Aleppo pada tahun 658 H, di tangan Mongolia.
 
Bila kita mengamati kondisi Aleppo saat ini, dengan kondisi Aleppo saat ditaklukkan Hulaghu Khan, ada beberapa  kesamaan.
Pertama, pada waktu itu Aleppo mengalami krisis kepemimpinan. Saat itu Aleppo dipimpin oleh Emir keturunan Shalahuddin al-Ayyubi bernama al-Nâshir Yusuf.
Tidak seperti kakeknya yang dikenal pemberani dan peduli terhadap urusan umat, dia justru menjadi duri dalam daging umat. Perangainya begitu rendah dan hina, karena lebih mementingkan nafsu pribadi dibanding urusan umat.
Dalam sejarah, ia tercatat sebagai orang yang bersekongkol dengan Raja Luwis IX untuk memberi bantuan memerangi Mesir dengan imbalan Baitul Maqdis. Dia pula yang memudahkan langkah tentara Mongolia menginvasi Baghdad; memberi ucapan selamat kepada Hulaghu saat mendapatkan kemenangan gemilang; bahkan enggan membantu al-Kâmil Muhammad al-Ayyûbi selaku Emir Miyafarqin walau sekadar bantuan makanan.
Ironisnya, saat Aleppo dibombardir oleh tentara Mongolia, dirinya justru berada di Damaskus yang berjarak sekitar 300 kilo meter dari Aleppo.
Di waktu lain, al-Nâshir Yusuf pernah mengutus anaknya yang bernama al-`Azîz memimpin pasukan Muslim Aleppo untuk bergabung dengan pasukan Tatar menyerang Miyafarqin, bahkan memberikan hadiah kepada Hulaghu (Syamsuddin Adz-Dzahabi, dalam Târîkh al-Islâm wa Wafayât al-Masyâhîr wa al-A`lâm,48/28).
Bayangkan, demi kepentingan pribadi, saudara sesama Muslim pun bisa dikorbankan. Pemimpin beginilah yang kala itu menguasai Aleppo. Persis seperti pemimpin Suriah sekarang, demi kepentingan pribadi dan golongan, akhirnya rakyat menjadi korban.
Kedua, secara umum umat Islam pada waktu itu kondisi umat terpecah belah. Ketiga, banyak terjadi perselisihan dan persengketaan.Keempat, perebutan kekuasaan di internal umat begitu menggejala, perang saudara pun tak dapat dihindarkan.
Kejadian ini persis dengan kondisi umat Islam sekarang yang kebanyakan terpecah belah, berebut kekuasaan, bermusuhan, bahkan tak jarang terjadi perang saudara antara sesama negara Muslim.
 
Oleh: Mahmud Budi Setiawan (Penulis alumni Al Azhar Mesir, peminat masalah sejarah)
Sumber : Hidayatullah