0878 8077 4762 [email protected]

Jihadun Nafs (Jihad Terhadap Diri)

Jihadun Nafs (Jihad Terhadap Diri) adalah bagian yang mendasar dan pokok dari pembagian jihad oleh Ibnul Qayyim Al Jauziyah. Terdiri atas lima point :

  1. Mengimani Al Huda dan Dinul Haq (Surah Ash Shaff ayat 9)
  2. Mengilmuinya
  3. Mengamalkannya
  4. Mendakwahkannya
  5. Bersabar dalam keempatnya

Beriman adalah jihad. Iman kadang adalah mata yang terbuka, mendahului datangnya cahaya. Ia keyakinan hati yang menyusuri jalan bukti.
Berilmu adalah jihad. Sebab ia menghajatkan kesungguhan. Mengerahkan waktu, tenaga, pikiran dan harta. Kesabaran untuk berpayah memahami.
Beramal adalah jihad. Sebab setiap ilmu mengejar-ngejar jiwa dan raga yang kadang disergap lelah dan malas agar ia diamalkan serta dibaktikan.
Berdakwah adalah jihad. Sebab menyampaikan kebenaran, memerintahkan yang baik, mencegah yang mungkar, dan membawa bahaya.
Bersabar dalam keempatnya baik mengimani, mengilmui, mengamalkan dan mendakwahkan adalah jihad. Sebab keempat hal itu hanya bisa ditanggung jiwa yang kokoh.
Bersabar mengimani adalah jihad. Saking beratnya kadang harus memejam mata. Seperti Nabi Muhammad dalam perang Badar. Seperti Nabi Ibrahim saat akan menyembelih putranya.
Bersabar mengilmui adalah jihad. Seperti Nabi Sulaiman memahamkan Nabi Dawud, Imam Bukhari kembarai ratusan negeri mencari hadist shahih, Imam Syafi’i menjaga hafalan.
Bersabar mengamalkan itu jihad. Seperti Abdullah bin Amr puasa Dawud sampai akhir hayat, Sa’id bin Al Musayyab selalu qiyamul lail selama 50 tahun.
Bersabar mendakwahkan itu jihad. Seperti Mush’ab taklukkan Madinah, Ibnul Jauzy islamkan 30.000 pagan, Fadlan Garamatan jelajahi Papua untuk berdakwah.
 
Sumber :
Menyimak Kicau Merajut Makna, Salim A. Fillah, ProU Media

Makna Jihad

Jihad berakarkan dari ‘al juhdu‘, yakni kesungguhan yang dikerahkan hingga batas kepayahan. Pada orang demikian, pertolongan Allah dekat dan datang.
Dalam kitab Madarijus Salikiin, Ibnu Qayyim Al Jauziyah menggolongkan jihad berdasarkan lawan yang harus dihadapi, diantaranya :
Jihadun Nafs (jihad terhadap diri sendiri), Jihadus Syaitan (jihad melawan syaitan), Jihadu ahlil ma’ashi wal bida’ (jihad melawan ahli maksiat dan bid’ah), dan Jihadu ahlil kufri wasy syirki (jihad melawan kafir dan musyrik yang boleh diperangi).
 
Sumber :
Menyimak Kicau Merajut Makna, Salim A. Fillah, ProU Media

Memakna Syukur

Bersyukur itu melatih ketakjuban. Jika berhasil menemukan kebahagiaan dalam hal-hal kecil, yang besar akan lebih dahsyat. Kita mengucapkan terima kasih atas apa yang kita terima. Jika tak bisa berterimakasih kepada manusia, takkan utuh mensyukuri Allah.
Dalam ketakjuban kala membaca ayat dan ciptaan-Nya, terukir jalan untuk membuat terobosan mashlahat bagi umat manusia. Kata “Alhamdulillah” menjadi fadhilah nikmat atas karunia-Nya.
Dalam “lillah” (berjuang dijalan Allah) pasti ada lelah. Tetapi beserta kesulitan ada kemudahan, dan nikmatnya rehat tak diperoleh dengan bersantai. Ada galau yang membuat berdzikir. Damai yang membuat berpikir. Tafakur yang membuat tak kikir. Semua ada hikmahnya.
Bersyukur menyibak kabut. Ia menuntun ke jalan-jalan kebaikan yang kadang tersembunyi dibalik kesulitan-kesulitan menghadang.
Walaupun tidak ada penghargaan orang atas kebaikan yang kita lakukan, tetaplah syukuri berlipat. Mungkin Allah hendak menyempurnakan balasan.
Selalu ada hal untuk disyukuri. Maka selalu juga ada peluang untuk karunia-Nya ditambah berlipat kali.
Ada dua rabun dekat yang paling gawat : tak mau menginsyafi aib diri, dan tak mampu melihat nikmat yang berlimpah untuk disyukuri.
Dan terhadap nikmat Rabbmu, unjukkanlah ungkapan syukur. Dunia sudah menderita, jangan bebani dengan keluh kesah kita. Dunia merupakan tempat menikmati hal yang penting, bukan mementingkan yang nikmat.
 
Sumber :
Menyimak Kicau Merajut Makna, Salim A. Fillah, ProU Media

Memakna Keberhasilan

Keberhasilan tak cukup dirayakan dengan tahmid kesyukuran, ia digenapi tasbih kehambaan dan mohon keampunan. ….Innahu kaana tawwaabaa. (Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima Taubat) Q.S. An Nasr ayat 3.
Mengukur keberhasilan ibadah kala didunia agaknya musykil. Sebab nabi Ayyub as hancur kebun dan ternaknya bukan karena kurang sedekah.
Seringkali keberhasilan dalam suatu hal, justru mengantakan kita pada kedudukan yang akan mengungkapkan ketidakmampuan kita.
Keberhasilan dalam shalat menurut Mushtafa Masyur, “Khusyuk shalat yang paling nyata adalah tercegahnya diri dari perbuatan keji dan mungkar sebagai dampaknya.”
 
Sumber :
Menyimak Kicau Merajut Makna, Salim A. Fillah, ProU Media

Jumat yang Indah

Kita mandi, berharum wangi, berhias rapih, celaki mata dan siwaki gigi. Lalu mohon pada Allah agar hiaskan akhlak mulia dalam diri. Kita berdandan, kenakan pakaian bersih, kopiah terindah dan surban yang ranggi. Lalu mohon pada-Nya ampunan dan tutupi aib diri.
Kita jalan tebarkan senyum, ulurkan tangan, jabatkan tangan, pelukkan bahu. Lalu mohon pada Allah agar ukhuwah tautkan hati. Kita juangkan diri menahan kuap. Menyimak khutbah yang mewasiatkan taat. Lalu mohon pada Allah agar mengaruniakan takwa dalam jiwa.
Semoga Jum’at kita perayaan Iman. Allah dan Rasul teragung melebihi segala. Cinta dan benci karena-Nya. Dan kita tak suka kembali pada dosa dan jahiliah lama.
Semoga Jum’at kita perayaan Islam. Berserah tunduk pada Allah semata dan membebaskan sesama dari gelap kezaliman menuju hidup bercahaya.
Semoga Jum’at kita perayaan Ihsan. Mengibadahi Allah seakan hadir nyata dihadapan dan merasa diawasi-Nya dalam apapun berkegiatan.
Jum’at ini semoga Allah cahayai pembaca Al Kahfi, ampuni yang mandi dan bersuci, sayangi yang berhias dan berwewangi, takwakan hati.
Jum’at ini semoga terteladani keteguhan pemuda Kahfi, semangat belajar Musa sang Nabi, dan kesigapan Dzul Qarnain yang rendah hati.
Jum’at ini shalawat untukmu Ya Nabi. Semoga Allah balas berlipat puluh. Semoga Dia ridhai sambutmu atas kami di telaga suci. Syafa’at terberi.
 
Sumber :
Menyimak Kicau Merajut Makna, Salim A. Fillah, ProU Media