by Danu Wijaya danuw | Oct 13, 2016 | Artikel, Dakwah
Ditengah bumi yang sesak oleh lamisnya bibir, palsunya kata, dan basinya basa, alangkah lezat dan syahdu firman-Mu Yang Mahabenar.
Yang lebih indah bukan lepas dari masalah, tapi mengeja kesabaran. Yang lebih jelita bukan mendapat karunia, tapi menampak kesyukuran. Yang tercerdas adalah yang paling banyak mengingat matinya. Yang terhebat adalah yang paling gigih menyiapkan bekalnya.
Tangis karena Allah itu embun yang membasuh bunga ruhani. Senyum adalah hangat sinaran yang memekarnya. Suci. Jelita. Insan memandang wajah, maka penampilan kita perindah. Allah menatap hati, maka gandakan perawatan agar ia rapih dan suci.
Salah satu hal yang paling merusak kebahagiaan kita adalah tumbuhnya hasrat untuk menyusahkan orang lain. Setiap detik adalah pertambahan rugi, kecuali terisi iman, keshalihan, dan saling wasiat untuk kebenaran dan kesabaran.
Hidup yang mulia, hina jika angkuh. Hidup yang indah, gersang jika dengki. Hidup yang mudah, susah jika tamak. Kebenaran tak harus dikawal kemegahan, sebagaimana Musa yang gagap bicara, seperti Yahya pun tinggalnya di padang gurun.
Sumber :
Menyimak Kicau Merajut Makna, Salim A. Fillah, ProU Media
by Danu Wijaya danuw | Oct 13, 2016 | Artikel, Dakwah
Suami dan istri berbeda. Jangan mencintai pasangan dengan cara kita ingin dicinta. Cintailah dengan cara dia ingin dicintai.
Suami ingin dicinta dengan dipercaya dan diberi keleluasaan. Jangan perlakukan istri dengan cara itu. Justru berikan perhatian. Istri ingin didengarkan sepenuhnya dan dimengerti segala. Jangan anggap suami juga begitu. Justru beri ruang untuk kediriannya.
Suami mementingkan solusi dalam tiap persoalannya. Istri tidak. Saat istri keluhkan masalahnya, jangan memotong dengan solusi. Istri mudah dengarkan curhat orang, sebagaimana begitulah dia ingin diperlakukan. Suami tidak. Baginya tidak mendengarkan itu berat.
Bagi istri, mendengarkan harus disertai kontak mata dan respon bahasa tubuh. Bagi suami, kontak mata dengan yang dicinta itu sulit. Suami hanya kuat tatap mata istri selama 4 detik, lalu blank. Maka aturlah ganti-ganti fokus diwajah istri saat mendengarkan.
Keluhan nomor 1 para istri adalah, “Saya merasa tak didengarkan!” Jika telinga suami tak bersedia mendengar, dia cari telinga lain. Sabarlah mendengar pasangan meski cerita sama berulang. Seperti usai menonton sepak bola bersama kawan tetap seru. Jangan potong cerita pasangan meski kita tahu ending-nya. Ini bukan soal apa, tapi berkisah: cinta tak tergantikan. Menyudahi keluhan istri dengan, “Mari kita cari pembantu!” itu menyakitkan. “Oh jadi selama ini aku dianggap pembantu.”
Melihat wajah suami saat suntuk lalu memaksanya bercerita pasti merusak harmoni. Saat tertekan, yang dibutuhkan suami bukan curhat. Bagi istri, cerita masalah meringankan beban. Bagi suami, curhat itu rasanya menyangkut ketidak berdayaan, batinnya terluka. Istri berkisah saat masalah hadir. Suami bercerita setelah masalahnya berhasil diselesaikan. Itu memupuk jiwa dan kepemimpinan. Maka saat kaulihat suami suntuk terbeban, yang harus kau sediakan ialah ruang sunyi untuk menyendiri, kontemplasi, rumuskan solusi.
Ingat saat sang suami, Muhammad saw shock setelah turun wahyu pertama? Khadijah sebagai istri tak bertanya, yang disediakannya pengertian dan selimut nyaman. Suami yang tertekan kadang jadi sulit bicara dan tak mampu jawab tanya. Ingat pula Nabi Ibrahim saat diperintahkan tinggalkan Hajar dan bayinya?
Corpus callosum yang hubungkan dua belahan otak istri lebih banyak dibanding suami. Maka istri lebih sanggup ber-multitasking. Maafkanlah suami jika dia gagap, bingung, dan tertekan saat istri membawanya ke ritme multitasking yang perlu kecerdasan ekstra.
Kecerdasan istri yang lebih itu membuatnya kadang bicara dalam kalimat tak langsung yang sulit ditangkap dan dipahami suami. Misal : “Mas, anak-anak belum dijemput, Aku masih harus masak dan nyiapin arisan nih!” Maksudnya pasti : Jemputlah anak-anak, Mas!” Jawaban yang biasa diberikan suami yang kalah cerdas sambil tetap membaca koran, “Nggak apa-apa, nanti mereka bisa pulang sendiri.!”
Jika meminta suami lakukan sesuatu, jangan berhenti saat dia iyakan sementara dirinya masih menyambi sesuatu yang kurang penting. Pilih saat dan cara yang manis, dekati, tatap mata, serahkan alatnya/sapu sambil merajuk manja.
Sumber :
Menyimak Kicau Merajut Makna, Salim A. Fillah, ProU Media
by Danu Wijaya danuw | Oct 12, 2016 | Artikel, Dakwah
Al Alamah Abdul Aziz bin Baz ditanya tentang memakai sandal hanya sesisi, “Itu haram Ananda, sebagaimana termaktub dalam hadis shahih yang mana Nabi melarang memakai sandal hanya sebelah.” jawab beliau. “Kalau cuma selangkah?” lanjut si penanya. Beliau pun tersenyum dan berujar lembut, “Duhai Ananda, mari kita berjuang untuk tak mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, walau hanya selangkah.”
Sumber :
Menyimak Kicau Merajut Makna, Salim A. Fillah, ProU Media
by Danu Wijaya danuw | Oct 12, 2016 | Artikel, Dakwah
Berkata Abdullah bin Mas’ud, “Allah memeriksa hati para hamba-Nya, maka didapati-Nya hati Muhammad saw ialah yang paling bening memancarkan cahaya, maka Dia memilihnya agar pada Muhammad saw diamanahkan-Nya risalah yang paripurna untuk semesta.
Lalu Allah melihat hati para hamba lainnya. Dan didapati-Nya hati para sahabat Muhammad-lah yang paling jernih memantulkan cahaya. Maka Allah pun memilih mereka untuk mendampingi sang Nabi menegakkan risalah itu.”
by Danu Wijaya danuw | Oct 10, 2016 | Artikel, Dakwah
Berseminya dakwah di Indonesia abad 15 tertuang dalam lagu ilir-ilir yang diciptakan Sunan Kalijaga. Kata Sunan Kalijaga, lir-ilir tandure wus similir, apa yang ditanam telah tumbuh. Benih-benih Islam itu telah mencuat jadi tunas-tunas indah.
Lanjut senandung Sunan Kalijaga, Tak ijo royo-royo, menghijau menyejukkan, menyegarkan, memudakan. Warna surgawi memfirdauskan bumi.
Tak sengguh temanten anyar, umpama Sunan Kalijaga. Bagai pengantin baru, dakwah ini tampan-cantik, raja-ratu sehari yang orang berebut melayani.
Cah angon-cah angon, panggil Sunan Kalijaga. Wahai gembala-gembala, wahai dia yang membimbing umatnya.
Penekno blimbing kuwi, pinta Sunan Kalijaga. Panjatlah pohon belimbing itu, ambillah aqabah; jalan yang mendaki sulit seperti Nabi.
Lunyu-lunyu penekno, bujuk Sunan Kalijaga. Walau licin, walau terjal, tetaplah mendaki; membebas budak, merawat yatim, menyantun fakir miskin.
Kanggo masuh dodotiro, jelas Sunan Kalijaga. Untuk basuh pakaianmu yang bernoda masa lalu, untuk tebus khilafmu yang membelenggu jiwa sendu.
Dodotiro, dodotiro, kumitir bedah ing pinggir, tunjuk Sunan Kalijaga. Pakaianmu itu terkoyak sobek di tepian. Amalmu cacat, iman berlubang.
Dondomono, lumatono, saran Sunan Kalijaga. Jahitlah, sulamlah, tambalah. Dengan mengikuti setiap buruk terlanjur dengan kebaikan bertubi.
Kanggo sebo mengko sore, nasihat Sunan Kalijaga. Untuk menghadap Allah kelak nanti. Untuk memantaskan diri dihadapan Rabbul Izzati.
Mumpung padang rembulane, pesan Sunan Kalijaga. Mumpung purnama itu sang candra, cahaya menyinar jalan, terang membimbing langkah.
Mumpung jembar kalangane, kata Sunan Kalijaga. Mumpung luas medan dihadapan. Telah menyingkir alang perintang. Telah pergi tiran penentang.
Dhasuraka, surak hiyo, ajak Sunan Kalijaga. Mari bersorak menegaskan kemenangan dakwah. Teruslah berkarya tanpa lelah, tanpa lengah.