by Danu Wijaya danuw | Aug 18, 2016 | Artikel, Dakwah
Berkata Muawiyah ra, “Abu Bakar adalah orang yang berpaling dari dunia. Dan dunia pun berpaling dari dirinya. Adapun Umar dialah orang yang tak sudi pada dunia, tapi dunia datang bersimpuh mengiba dibawah kakinya. Adapun kita adalah para pemburu dunia, yang kadang memperolehnya dan kadang ia pun luput dari kita.”
Hakikat Takdir
Kata sayyidina Umar, “kita bisa lari dari takdir Allah yang satu menuju takdir Allah yang lain, dengan takdir Allah pula”
Sebab takdir tak kita ketahui sebelum terjadi. Maka teruslah berprasangka baik, berencana, berdoa, berupaya, dan bertawakal.
Sumber :
Menyimak Kicau Merajut Makna, Salim A. Fillah, Penerbit Pro-U Media
by Danu Wijaya danuw | Aug 18, 2016 | Artikel, Dakwah
Menulis juga bagian dari tugas iman. Sebab makhluk pertama ialah pena, ilmu pertama adalah bahasa, dan ayat pertama berbunyi “Iqra (Baca)”.
Tersebut dalam hadis riwayat Ahmad dan ditegaskan Ibnu Taimiyah dalam Fatawa, ” Makhluk pertama yang dicipta-Nya ialah pena, lalu Dia berfirman, “Tulislah!” Tanya pena, “Apa yang harus kutulis, Rabbi?” Kata Allah, “Tulis segala ketentuan yang Ku takdirkan bagi semua makhluk Ku”
Dahulu bangsa Arab hanya mengukur kecerdasan dari kuatnya hafalan hingga memandang rendah tulis baca. Sebab menulis menurut mereka ialah alat bantu bagi yang hafalannya dibawah rata-rata.
Namun nabi Muhammad hadir dengan wahyu ‘bacaan’. Maka Islam menjelma menjadi peradaban ilmiah dengan pena sebagai pilarnya. Wawasan bertebaran mengantar kemashlahatan ke seantero bumi.
Penulis merentangkan ilmunya melampaui batas-batas waktu dan ruang. Ia tak pupus usia dan tak terhalang jarak. Andaikan benar bahwa karya II Principe yang dipersembahkan Niccolo Machiavelli pada Cesare de Borgia itu jadi kawan tidur para tiran, dibaca dan menjadi ilham Napoleon, Hitler, dan Stalin. Akankah dia bertanggung jawab atas berbagai kezaliman yang terilham dari bukunya?
Sebab bukan hanya pahala yang bersifat jariyah, melainkan ada juga dosa yang terus mengalir. Menjadi penulis adalah pertaruhan. Mungkin tak separah II Principe, tapi tiap kata yang mengalir dari jemari ini juga berpeluang menjadi keburukan berantai-rantai.
Semoga Allah berkahi tiap kata yang mengalir dari ujung jemari kita. Sungguh, buku dapat menggugah jiwa manusia dan mengubah dunia.
Sumber :
Menyimak Kicau Merajut Makna, Salim A. Fillah, Penerbit Pro-U Media
by Danu Wijaya danuw | Aug 17, 2016 | Artikel, Dakwah
Ditengah kegelapan Abbasiyah kala itu adakah yang menyalakan lentera dan tidak hanya mengutuk kegelapan? Alhamdulillah, ada namanya Abu Yusuf, yang menjadi Al Qadhi (Hakim Agung). Kelak dialah yang mengubah kerajaan itu menjadi rechstaat (negara hukum).
Dia adalah murid utama Abu Hanifah. Kata Abu Hanifah, “Dia adalah salah satu muridku yang paling banyak menghafal dan memahami ilmu” Imam Dawud bin Rasyid berkata, “Sekiranya murid Abu Hanifah hanyalah Abu Yusuf seorang, cukuplah itu menjadi kebanggaannya atas seluruh manusia.”
Abu Yusuf berijtihad masuk kedalam kekuasaan pribadi khalifah Ar Rasyid. Sebab Ar Rasyid tumbuh dalam bimbingan seorang Ulama. Abu Yusuf berbeda dari gurunya Abu Hanifah yang berlawanan dengan pemerintahan. Dia menerima dan menduduki jabatan Qadhi Al Qudhat, hakim agung dimasa Harun Ar Rasyid. Abu Yusuf menciptakan pijakan syariat Allah dalam kerajaan Abbasiyah yabg tercatat dalam sejarah.
Berkat syarat Abu Yusuf lain, bisa membawa serta 50 murid terbaik Abu Hanifah untuk mengisi jabatan kehakiman diberbagai wilayah. Kerja keras Abu Yusuf membuahkan hasil yaitu Al Kharaaj yang menjadi dasar hukum kerajaan Abbasiyah.
Kita lagi-lagi belajar bahkan dalam sistem yang tak disukai entah monarki ataupun demokrasi tetap ada kebaikan yang bisa dihadirkan. Perubahan dari Abu Yusuf membuat Abbasiyah lebih dekat pada syariat Allah.
Sumber :
Menyimak Kicau Merajut Makna, Salim A. Fillah, Penerbit Pro-U Media
by Danu Wijaya danuw | Aug 16, 2016 | Artikel, Kisah Sahabat
Alim agung itu adalah Raja’ bin Hajwah. Betapa gigih upayanya memasukkan nama Umar bin Abdul Aziz sebagai pengganti khalifah Sulaiman bin Abdul Malik. Konspirasinya agar Bani Umayyah mau menerima dan siasatnya agar Umar bin Abdul Aziz bersedia.
Akhirnya pada masa Umar bin Abdul Aziz keadilan kemudian tergelar, kemakmuran hingga tak seorangpun bersedia menerima zakat, ketentraman sampai serigala pun enggan memangsa domba, kezaliman dan bid’ah sesat terhapus.
Kita belajar dari Raja’ untuk mengamalkan kaidah ushul, “Maa laa tudraku kulluhu fa laa tutraku kulluh, Apa-apa yang tidak bisa kita raih sepenuhnya, jangan ditinggalkan sepenuhnya.”
Raja’ tidak mengutuk sistem mulk monarki dinasti umayyah yang seringkali berbuat zalim sebagai kekufuran warisan Romawi dan Persia. Dia mendekati khalifah Sulaiman bin Abdul Malik dan berikhtiar menghadirkan kebaikan didalamnya.
Suatu saat, Umar bin Abdul Aziz mengeluh penguasa zalim pada masanya dalam doa, “Al Hajjaj di Irak, Al Walid bin Abdul Malik di Syam, Qurrah bin Syirk di Mesir, Ustman bin Hayyan di Madinah, Khalid bin Abdullah Al Qashari di Mekkah. Ya Allah, sepenuh bumi ini telah penuh dengan angkara murka. Maka selamatkanlah umat ini.” Doa yang terekam oleh Ibnu Al Atsir dalam Al Kamil fit Tarikh 4/132
Allah menjawab doa Umar bin Abdul Aziz itu dengan dirinya. Menakdirkan dua tahun kekuasaannya yang singkat menjadi buah bibir sepanjang sejarah. Dua tahun yang lahir dari Raja’, seorang alim yang tak berputus asa ditengah sistem monarki yang bobrok.
Raja’ dan Umar bin Abdul Aziz sendiri memang tak kuasa mengubah sistem itu. Setelah Umar wafat kembalilah Baitul Maal melayani penguasa, foya-foya istana berjaya, dan kezaliman merebak dimana-mana. Mari bersama Raja’ bin Haiwah melakukan sesuatu didalamnya, bukan hanya mengutuk gelap dan sistem yang tak sreg di hati ini.
Sumber :
Menyimak Kicau Merajut Makna, Salim A. Fillah, Penerbit Pro-U Media
by Danu Wijaya danuw | Aug 15, 2016 | Artikel, Dakwah
“Hati-hati, nak!” ujar Abu Hanifah pada seorang anak yang berlari dan terjatuh. “Jatuhku ini sembuhnya cepat wahai Syaikh,” sahut si anak, “tapi kalau kau yang tergelincir, umat akan tersesat.”
“Aku takut atas amanah ini!” ujar Umar bin Abdul Aziz setelah diangkay menjadi Khalifah. “Yang kami takutkan justru kami tidak takut!” sahut Imam Asy-Sya’bi
“Dimasa Abu Bakar dan Umar kehidupan makmur dan sentosa, mengapa dimasamu banyak fitnah dan sengketa?” hardik seorang khawaraj. Maka Ali pun menyahut, “Sebab dimasa Abu Bakar dan Umar rakyatnya seperti aku, sedangkan dimasaku rakyatnya seperti kamu.”
“Apa hikmah diciptakannya lalat?” tanya Al Walid ibn Abdul Malik yang sewenang-wenang dalam mengemban kekhalifahan. “Untuk menghinakan para penguasa yang sombong!” sahut Thawus ibn Kaisan Al Yamani.
Sumber :
Menyimak Kicau Merajut Makna, Salim A. Fillah, Penerbit Pro-U Media