0878 8077 4762 [email protected]

Pesan Grand Sheikh Al-Azhar untuk Umat Islam di PBNU

JAKARTA — Grand Sheikh al-Azhar Prof Ahmad Muhammad ath-Thoyyib berkunjung ke kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di Jakarta pada Rabu (2/5). Ketua Umum PBNU Prof KH Said Aqil Siroj bersama jajaran pengurus PBNU menyambut Grand Sheikh al-Azhar.
Grand Sheikh ath-Thoyyib menyampaikan, ia berkunjung ke Indonesia untuk memperkuat Islam wasatiyah. Di PBNU dia juga berpesan agar umat Islam harus mencintai Arab karena Nabi Muhammad SAW dari Arab. Sekarang umat Islam berhadapan dengan media sosial. Di dalam media sosial ada informasi yang memecah belah dan mengadu domba.
“Oleh karena itu, walau mazhab kita berbeda-beda harus kembali ke jalan yang benar dan jalan persatuan,” kata Grand Sheikh ath-Thoyyib di gedung PBNU, Rabu (2/5) malam.
Kepada umat Islam, Grand Sheikh ath-Thoyyib mengingatkan, umat Islam harus mencari persamaan, bukan mencari perbedaan. Selain itu, umat Islam dilarang mengafirkan orang yang shalat dan kiblatnya sama. Kalau ada orang yang berbuat dosa juga jangan langsung dikafirkan.
Grand Sheikh ath-Thoyyib juga mengajak dan menyeru umat Islam untuk bersatu. Umat Islam dengan mazhab apa pun tidak boleh terlalu fanatik. Sebab, orang yang fanatik cenderung salah dan masih awam pemahaman agamanya.
“Kita harus mengajarkan kepada anak-anak kita harus seperti kita, harus betul-betul memahami akidah Ahlussunnah waljamaah,” ujarnya.
Grand Sheikh ath-Thoyyib berpesan kepada Nahdlatul Ulama harus mampu mempersatukan umat Islam. Nahdlatul Ulama juga harus mampu menjadi duta persatuan. Sementara itu, Ketua Umum PBNU Prof KH Said menyampaikan tentang sejarah Nahdlatul Ulama dan Islam Nusantara kepada Grand Sheikh ath-Thoyyib.
Prof KH Said juga mengatakan, umat Islam di Indonesia menjadi kebanggaan di dunia karena masih mempertahankan sifat moderat dan toleransi, meski umat Islam Indonesia hidup di tengah keberagaman agama. Oleh karena itu, Islam Indonesia akan menjadi contoh.
 
Sumber : Republika

Pengadilan PTUN Tolak Gugatan HTI, HTI Tetap Dibubarkan

JAKARTA — Majelis Hakim Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) DKI Jakarta menolak gugatan eks perhimpunan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) untuk seluruhnya. Hal ini setelah melalui sidang pembacaan putusan di Jakarta, Senin (7/5).
“Dalam esksepsi permohonan yang diajukan penggugat tidak diterima seluruhnya, menolak gugatan penggugat untuk seluruhnya, dan membebankan biaya perkara sebesar Rp445.000,” ujar Hakim Ketua, Tri Cahya Indra Permana SH MH saat membacakan putusan gugatan eks HTI di PTUN DKI Jakarta, Senin (7/5).
Pertimbangan Majelis Hakim dalam mengeluarkan putusan antara lain, berdasarkan keterangan saksi-saksi yang selama ini telah menyampaikan pandangan dakam sidang.
Majelis Hakim juga mengatakan dalam aturan yang berlaku diatur bahwa ormas dapat dibubarkan apabila menyangkut 3 hal yakni atheis, menyebarkan paham komunis, dan berupaya mengganti Pancasila.
Menurut Majelis Hakim, HTI terbukti menyebarkan dan memperjuangkan paham khilafah, sesuai dalam video Muktamar HTI tahun 2013 silam. Majelis mengatakan pemikiran khilafah sepanjang masih dalam sebatas konsep dipersilakan
Salah satu video yang diputar di persidangan adalah video rekaman Muktamar HTI di Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, 2013 silam.
Di dalam video, salah seorang petinggi HTI menyerukan empat pilar khilafah kepada massa HTI. Ada 4 poin dalam orasinya, salah satunya, ia menyerukan untuk meninggalkan hukum perundang-undangan buatan manusia dan voting. Termasuk Pancasila dan UUD 45 Indonesia.
Video lainnya adalah rekaman yang menunjukkan sumpah sejumlah mahasiswa terkait khilafah Islamiyah di Kampus Institut Pertanian Bogor (IPB) Dramaga.
Mahasiswa-mahasiswa yang mengikuti organisasi HTI tersebut bersumpah menegakkan khilafah di Indonesia.
Hadir dalam sidang kali, antara lain, tim kuasa hukum Kemenkumham, selain Hafzan Taher, yakni I Wayan Sudirta dan lainnya.
Sementara dari pihak penggugat, yakni juru bicara HTI, Ismail Yusanto, beserta kuasa hukumnya.
Setelah resmi dibubarkan oleh pemerintah, Polda Jawa Barat bakal melakukan antisipasi kegiatan organisasi Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) di Jawa Barat.
“Sampai saat ini sudah ada putusan bahwa HTI dibubarkan. Jadi segala bentuk kegiatan apapun atas namakan HTI akan dilarang dan polisi tidak akan beri izin,” kata Kepala Bidang Humas Polda Jawa Barat, Kombes Pol Yusri Yunus
Majelis hakim menyebut proses penerbitan SK Menkumham terkait pembubaran HTI sudah sesuai prosedur. Surat keputusan itu juga tidak bertentangan dengan hal-hal yang ditudingkan dalam gugatan HTI.
 
Sumber : Kompas/Republika

Bertemu Utusan PBB, Pengungsi Rohingya Menangis

Jakarta – Para pengungsi Rohingya di kamp pengungsi Cox’s Bazar, Bangladesh mencurahkan segala keluh kesahnya saat dikunjungi delegasi utusan Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-bangsa (DK PBB), Minggu (29/4). Mereka minta bantuan agar dapat pulang ke kampung halamannya dengan selamat di Myanmar.
Beberapa wanita dan anak perempuan menangis dan memeluk Duta Besar Inggris untuk PBB, Karen Pierce, saat bercerita apa yang terjadi pada mereka.
Para pengungsi tersebut minta keadilan atas pembunuhan, pemerkosaan dan pembakaran yang menyebabkan mereka terpaksa mengungsi dari kampung halamannya di negara bagian Rakhine, Myanmar.
“Hal ini menunjukkan besarnya tantangan, saat kita sebagai DK PBB mencari jalan bagaimana mereka bisa pulang,” kata Pierce.
“Hal yang menyedihkan adalah tidak ada yang bisa kita lakukan saat ini yang mengurangi penderitaan mereka.”
Para utusan DK PBB yang akan bertemu pemimpin de facto Myanmar, Aung San Suu Kyi, Senin (30/4), mampir ke kamp pengungsi Kutupalong, Cox’s Bazar, Minggu (29/4).
Kamp pengungsi yang gersang, kering, dan berdebu tersebut menampung 700 ribu warga Rohingya yang menyelamatkan diri dari Rakhine Utara, Myanmar.
“Sangat mengharukan, saya belum pernah menyaksikan kamp pengungsi seperti ini. Bencana bakal terjadi jika hujan mengguyur,” kata Deputi Duta Besar AS untuk PBB, Kelley Currie.
Beberapa pejabat PBB dan relawan kemanusiaan telah menyerukan kekhawatiran akan datangnya musim hujan yang memperburuk situasi di penampungan pengungsi itu.
Ratusan ribu pengungsi tinggal di gubuk-gubuk yang terbuat dari bambu, plastik dan terpal yang dibangun ala kadarnya.
 
Sumber : CNN Indonesia

As Sisi Menang, Demokrasi 'Semu' Pemilu Mesir

KAIRO — Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi memenangkan 97 persen suara dalam pemilu Mesir. Hasil yang tidak mengejutkan bagi rakyat Mesir dan seluruh dunia ini, mengamankan masa jabatan As Sisi sebagai presiden.
Pemilu Mesir banyak mendapat kritikan karena dianggap sebagai ‘one man show’ tanpa adanya oposisi yang kredibel. Bahkan dianggap sebagai demokrasi ‘semu’ setelah dilakukan kudeta militer oleh As Sisi pada pemilu sah sebelumnya. Berikut 5 faktanya :
1. Kandidat Kuat Pesaing Dipenjara
Enam kandidat kuat yang siap bersaing dengan Sisi sebelumnya telah dipaksa mengundurkan diri, diadili, atau dipenjara.
“Perkembangan terakhir, termasuk intimidasi dan penahanan semua kandidat oposisi yang kredibel, dan pembatasan yang diberlakukan terhadap kelompok-kelompok LSM dan media merongrong legitimasi dan kredibilitas pemilihan tersebut,” kata McGovern, Lembaga HAM Amerika.
2. Peserta Pemilu Rendah
Peserta pemilu terlihat lebih rendah dari tahun sebelumnya. Tercatat hanya 41,5 persen pemilih yang ikut berpartisipasi dalam pemilu kali ini. Angka tersebut lebih rendah dari pemilu 2014 lalu sebesar 47 persen. Itupun pemilih diancam dan dipaksa untuk ikut pemilu kudeta.
3. Mousa hanya formalitas Kandidat pesaing
Satu-satunya lawan Sisi dalam pemilu ini adalah Mousa Mostafa Mousa, seorang politikus yang kurang terkenal di Mesir.
Mousa menjadi kandidat presiden beberapa jam sebelum batas waktu pencalonan habis. Sebelumnya Mousa mendukung penuh pencalonan Sisi.
Hasil awal pemungutan suara yang dirilis pada Kamis (29/3) menunjukkan Mousa hanya mendapatkan 3% suara.
4. Banyak warga mesir lebih memilih merusak kartu suara
Menurut The Economist, Mousa berada di posisi ketiga, setelah lebih dari 1 juta warga Mesir justru merusak kertas suara mereka di bilik suara.
Beberapa orang mencorat-coret nama kedua kandidat. Mereka menambahkan nama pemain sepakbola populer Liverpool asal Mesir yaitu Mohamed Salah, di dalam kertas suara. Salah bahkan dilaporkan mendapatkan suara dua kali lebih banyak dari Mousa.
5. Pengamat meyakini pemilu mesir adalah rekayasa
Menurut pakar Sarah Yerkes dari Carnegie Endowment for International Peace, yang berbasis di Washington, kepada media Aljazirah mengatakan,
“Pemilihan ini adalah sebuah lelucon dan rekayasa. Pemilihan ini tidak benar-benar menjadi penanda yang berarti bagi negara,” kata
Krisis ekonomi di Mesir akan menjadi prioritas As Sisi selama masa jabatan keduanya. Risiko kegagalannya bisa menjerumuskan penduduk ke dalam kesengsaraan lebih lanjut.
James Gelvin, profesor Sejarah Modern Timur Tengah di UCLA mengutip sejumlah faktor yang saat ini melanda perekonomian Mesir. Menurutnya, perekonomian akan bertambah buruk, seperti tingkat pengangguran yang tinggi, pembatasan makanan dan bahan bakar, ketidaksetaraan pendapatan yang belum pernah terjadi sebelumnya, dan aturan plutokratis.
“Ketika [mantan presiden] Sadat dan Mubarak berusaha memaksakan kebijakan neoliberal, pemberontakan rakyat terjadi. Dalam situasi seperti ini, Sisi tidak diragukan lagi akan melanjutkan represi yang keras, yang mungkin mengutip ancaman terorisme sebagai alasannya,” ujar Gelvin.
 
Sumber : Republika/AlJazirah

Misi Selesai, Pabrik Kimia Rezim Suriah Dihancurkan AS dan Sekutu

Misi Selesai, Pabrik Kimia Rezim Suriah Dihancurkan AS dan Sekutu

Amerika Serikat dan sekutunya, Perancis dan Inggris, melancarkan serangan ke Suriah sebagai respons terhadap dugaan serangan senjata kimia yang dilakukan rezim Suriah, diktator Assad terhadap warganya sendiri di kota Douma pada 7 April lalu.
Dua hari setelah Amerika Serikat dan sekutu meluncurkan serangan rudal melawan pemerintah Suriah, hanya sedikit yang berubah dari kebanyakan penduduknya.
Mereka yang telah menghadapi bertahun-tahun perang saudara di negaranya masih beraktivitas seperti biasanya.
Di sisi lain, ribuan penduduk dari Douma, lokasi yang dilaporkan terjadinya serangan kimia sehingga memicu operasi militer AS, berjuang mencari penampungan dan bergabung dengan jutaan warga lainnya yang mengungsi dari rumah mereka.
Lalu sekarang, setelah Presiden AS Donald Trump menyerukan “misi terselesaikan”, bagaimana nasib Suriah?
Suriah akan tetap terperosok dalam status quo akibat konflik yang membuat rakyat Suriah terjebak pertempuran antara kekuatan global dan regional.
PBB terus berupaya untuk mengadakan pembicaraan perdamaian Suriah, di mana kubu Dewan Keamanan PBB terbelah pendapat. Tujuh tahun sudah berlalu dan perang di Suriah diharapkan dapat segera dihentikan.

2029251189

Misil penjelajah dari kapal Perancis di Laut Tengah yang menghantam pabrik kimia Suriah


Trump memerintahkan serangan pada Sabtu lalu, bersama dengan Inggris dan Perancis, berusaha menekan Assad atas dugaan penggunaan senjata kimia di Douma pada pekan sebelumnya.
Konflik selama 7 tahun juga telah mengakibatkan Suriah terbagi oleh kekuatan-kekuatan dunia

  1. Turki menguasai kota-kota di utara Suriah untuk mengusir ISIS
  2. AS bekerja sama dengan Kurdi di timur
  3. Rusia serta Iran membantu Presiden Assad menyingkirkan pemberontak yang ingin mengganti rezim Assad tersisa di tempat lain.

Pada titik ini, nampak tak ada rencana perdamaian yang akan membawa Suriah pada kondisi cukup stabil sehingga memungkinkan jutaan pengungsi kembali ke rumah mereka.
Direktur Pusat Timur Tengah Carnegie di Beirut, Maha Yahya mengatakan menurutnya, satu-satunya solusi adalah dengan penyelesaian antara Rusia dan AS.
 
Keterangan foto utama : Puing-puing bangunan, bagian dari kompleks Pusat Penelitian dan Penelitian Ilmiah di distrik Barzeh, utara Damaskus
Sumber : CNN/NewYorkTimes/Sindo