0878 8077 4762 [email protected]

Dikecam Publik, Polri Akhirnya Hapus Film "Kau Adalah Aku yang Lain"

Kadiv Humas Polri Irjen Setyo Wasisto membenarkan bahwa Film pilihan Police movie festival berjudul “Kau adalah Aku yang lain” telah dihapus dari akun Twitter resmi Divisi Humas Polri. Penghapusan film kontroversial tersebut karena telah menimbulkan pro kontra ditengah masyarakat.
“Sementara kita hapus dulu karena menimbulkan pro dan kontra,” ujar  Polri Irjen Setyo Wasisto seperti dilansir republika, rabu(28/6/2017).
Setyo menerangkan bahwa akan ada penjelasan dan klarifikasi dari juri maupun pembuat film. Sehingga kontroversi terhadap film tersebut dapat segera terurai.
“(Dihentikan) sampai nanti menunggu juri maupun pembuat film akan memberikan klarifikasi,” tergas Setyo.
Terkait penjurian, kata dia, ajang bertema “Unity in Diversity” dilakukan oleh para juri profesional. Mereka terdiri dari sutradara film, bintang film, budayawan, serta anggota polri. Mereka menyeleksi 241 pendaftar hingga terpilih 10 film pendek dan 10 animasi yang masuk dalam nominasi.
“Jadi jurinya ada beberapa orang, ada sutradara film, bintang film, budayawan, ada Polri juga, nah dari hasil itu ditetapkan yang juara adalah itu kau adalah aku yang lain,” ujarnya.
Berdasarkan pantauan kamis (29/6/2017), film “Kau Adalah Aku yang Lain” sudah dihapus dari Page Facebook resmi Divisi Humas Polri.
Seperti diketahui Film “Kau Adalah Aku yang Lain” karya Anto Galon ini menuai kecaman dari publik Indonesia, khususnya Umat Islam, dikarenakan pesan dalam film tersebut sekan-akan Umat Islam tidak memiliki toleransi terhadap Umat agama lain.
Film tersebut juga dianggap pemutarbalikan fakta yang sebenarnya terjadi di masyarakat Indonesia. Justru pada kenyataanya Umat Islam merupakan umat yang paling toleran. Bahkan saat aksi Bela Islam sepasang pengantin katolik tanpa halangan melangsungkan pernikahannya di Gereja Katedral Jakarta.
DPR Kecam Polri soal Film ‘Kau adalah Aku yang Lain’
Anggota Komisi III DPR dari Fraksi PPP, Arsul Sani mengecam beredarnya film pendek berjudul Kau adalah Aku yang Lain, juara ajang tahunan Police Movie Festival ke-4 yang digelar oleh Polri. Arsul menilai film tersebut tidak menggambarkan sikap Islam dan condong menyudutkan.
Menanggapi hal tersebut, Arsul Sani menyebut karya Anto Galon itu tidak mencerminkan mayoritas sikap Muslim jika dihadapkan dengan masalah seperti yang dimunculkan dalam adegan film itu.
Arsul menyebut, Polri yang menjadi pihak penyelenggara acara festival film tahunan itu seakan tengah membuka peluang terjadinya kesalahpahaman di tengah masyarakat. Terlebih, video itu telah viral di media sosial belakangan ini.
“Kami akan tanyakan kepada @DivHumasPolri & @BNPTRI dalam RDP Komisi III DPR soal video yang jadi viral dan ditanggapi sebagai sikap ‘negatif’ terhadap Islam,” tulis Arsul.
 
Sumber : Republika/CNNIndonesia

Pesan Idul Fitri Anies Baswedan di Acara Rabithah Alawiyah

JAKARTA – Gubernur DKI terpilih Anies Baswedan menghadiri acara perayaan Idul Fitri 1438 H yang digelar oleh ormas Rabithah Alawiyah. Dalam acara yang dihadiri oleh ribuan massa itu, Anies memberi beberapa kata sambutannya.
Anies mengajak seluruh masyarakat agar meneladani semangat yang sudah dirintis oleh para pendahulu. Menurut Anies generasi pendahulu, utamanya di awal perjuangan menuju kemerdekaan, mampu membaca keadaan zaman yang cepat berubah.
Anies merujuk salah satu organisasi Jamiat Khair yang merupakan salah satu pilar pendukung Rabithah Alawiyah di sektor pendidikan. Organisasi Jamiat Khair yang lahir pada 1901 membuktikan betapa generasi para pejuang itu mampu membaca semangat zaman.
Generasi para pendahulu di Indonesia menyadari arti pentingnya organisasi pendidikan yang punya semangat nasionalisme. Dan Jamiat Khair selaku organisasi pendidikan Islam mampu menghadirkan hal itu.
Karenanya, Anies meminta segenap umat dan anak bangsa untuk mencontoh semangat generasi pendahulu itu. “Orang tua-orang tua itu membaca perubahan zaman dengan membentuk organisasi,” ujar Anies salam sambutannya di Jakarta, Senin (26/6).
Dan di era saat ini, semangat untuk membaca perubahan zaman sangat penting untuk dilakukan. Sebab zaman berubah begitu cepat. “Kalau kita telat menyadari perubahan kita akan tertinggal,” ujar Anies.
Karena itu, pada momen Idul Fitri ini, Anies meminta kepada seluruh hadirin agar memelihara semangat untuk terus meningkatkan diri menjadi lebih baik.
Anies pun memuji organisasi Rabithah Alawiyah yang mulai merintis sistem digitalisasi organisasi. Digitalisasi organisasi yang dilakukan Rabithah Alawiyah adalah dengan membuat aplikasi mobile yang mendukung setiap agenda dan program organisasi yang telah dicanangkan.
Hal itu, kata dia, menjadi contoh bagaimana ormas Rabithah Alawiyah membaca perubahan zaman. “Pengembangan aplikasi menjadi contoh Rabithah Alawiyah tak hanya merawat kemarin tapi juga masa depan,” ujar Anies.
Anies yang segera menjabat sebagai gubernur DKI pada Oktober 2017 mendatang juga berpesan agar semangat mengedepankan pengetahuan terus disebarkan oleh Rabithah Alawiyah pada seluruh masyarakat di Indonesia.
Sebab, bagi dia, era memajukan bangsa bukan lagi dengan cara membentuk organisasi. Sebab cara berjuang dengan cara organisasi telah dirintis generasi pendahulu lewat pendirian organisasi seperti Jamiat Khair, Rabithah Alawiyah, Sarekat Islam, atau Budi Utomo.
Sedangkan era memajukan bangsa dengan donasi modal juga bukan lagi jalan utama. “Fase sekarang donasi sekarang bukan lagi modal tapi lebih dalam bentuk knowledge (ilmu pengetahuan). Sebab sering bangsa ini kalah karena faktor knowledge (pengetahuan),” ujar Anies.
Karena ini, dia mengajak para hadirin agar memperdalam pengetahuan dan keterampilan guna memanfaatkan peluang untuk terus bersaing dengan bangsa-bangsa lain.
“Peluang terbuka tapi jika kita tidak siap akan terbuang percuma. Karena itu yang perlu ditambah adalah pengetahuan dan keterampilan,” ujar Anies.

Perayaan Idul Fitri Pertama Warga Mosul Tanpa Daesh

MOSUL bebas dari Daesh “sebutan untuk ISIS”, warga Mosul di Irak akhirnya bisa merayakan Idul Fitri dalam nuansa damai dan tenang. Orang dewasa, laki-laki dan perempuan, memenuhi pelataran masjid untuk menjalankan Salat Id pada Minggu 25 Juni.
Dulu sewaktu masih dijajah oleh para teroris, warga kota diperbolehkan untuk menjalankan Salat Id. Akan tetapi, segala jenis perayaan dilarang.
Kini, anak-anak berkumpul dengan ceria menyambut hari kemenangan tersebut. Mereka tertawa dan berlarian dengan bebas di halaman di sisi timur kota. Beberapa bermain di ayunan butut dan sebagian lagi bermain dengan pistol dan senapan mainan.
Ya, meski ISIS sudah lari tunggang langgang dari Mosul, tetapi anak laki-laki di sana belum bisa lepas dari permainan berbau senjata. Sebab, hanya mainan jenis itu yang dulu diizinkan militan Daesh untuk mereka mainkan.
Daesh mengharamkan mainan berwajah, seperti boneka karena dianggap sama dengan penyembahan berhala. Mereka lebih suka kalau anak-anak berlatih menggunakan senjata, membaca buku ideologi militer ISIS, dan belajar merakit bom dengan perhitungan matematis yang cermat.
Menyadur dari Middle East Monitor, Rabu (28/6/2017), di hari yang fitri ini, warga berharap pertempuran di wilayah yang tersisa dapat segera berakhir. Dengan begitu, seluruh kota bisa kembali hidup damai dan memulihkan perekonomian.
Walaupun situasi di Mosul sudah lebih baik. Ada sebagian warga yang belum merasakan sukacita Lebaran sepenuhnya.
“Ini belum menjadi Idul Fitri yang sebenarnya sebelum kami kembali ke rumah”, kata seorang pria berusia 60-an tahun, yang mengungsi dari sisi barat Mosul, melintasi sungai Tigris, demi menghindari pertempuran.
Beberapa lagi mengemukakan kesedihannya, karena Masjid Agung Al-Nuri yang sudah berdiri selama 850 tahun dengan menara setinggi 45 meter sudah hancur diledakkan.
“Idul Fitri kami tidak sama lagi”, ucap warga yang menolak disebutkan namanya tersebut.
Pasukan Irak berhasil merebut sisi timur Mosul dari ISIS pada awal tahun ini. Pertempuran di timur berlangsung selama 100 hari, sebelum militer mendesak masuk ke sisi barat pada Februari. ISIS sudah terkepung. Salah seorang jenderal dalam kesatuan militer Irak berharap mereka bisa mengusir kelompok teroris itu secepatnya, dalam hitungan hari.
“Kemenangan kita atas Daesh semakin dekat berkat kekuatan heroik dari pasukan kita. Untuk itu, saya mengucapkan selamat Idul Fitri yang setulus-tulusnya dari lubuk hati terdalam”, ujar Perdana Menteri Irak, Haider al-Abadi.
 
Sumber : OkeZone/MiddleEastMonitor
Ket. Foto : Muslim di Mosul Salat Id di Masjid Celil Hayat di Erbil, Irak. (Foto: Yunus Keles/Anadolu Agency)

Mengapa Sebaiknya Mengatakan Fii Amanillah daripada Selamat Jalan?

Jika ada anggota keluarga kita yang akan pergi meninggalkan rumah untuk bekerja atau pergi ke suatu tempat, biasanya kita akan dengan refleks mengucapkan : selamat jalan, goodbye, dadah, sampai jumpa, dan lain-lain.
Ternyata dalam Bahasa Arab, ada kata yang sebanding bahkan jauh lebih baik dibandingkan selamat jalan, yaitu fii amanillah.
Mengapa kita sebaiknya mengatakan fii amanillah daripada hati-hati pada orang yang akan bepergian? Simak penjelasan lengkapnya berikut ini.
Islam menawarkan pengganti yang lebih baik bagi kita saat mengucapkan ketika akan berpisah yaitu fii amanillah yang artinya “(Semoga engkau) dalam lindungan Allah”.
Hal ini yang menunjukkan rasa peduli kita saat saudara atau anggota keluarga kita akan pergi dengan mengucapkan fii amanillah, artinya kita juga sedang mendoakannya, agar ketika dalam perjalanan ia selalu dilindungi Allah Swt.
Perlindungan yang Allah berikan pada hamba-Nya berupa perlindungan dari musibah, dari sakit, dari hal buruk, dan lainnya.
Budaya Islam yang baik
Islam menunjukkan budaya yang saling mencintai sesama muslim, berdoa bagi keselamatan orang yang kita sayangi, tentu lebih tinggi nilainya dibandingkan hanya mengatakan dadah, selamat jalan, sampai jumpa, dan lainnya.
Perkataan fii amanillah ini, bukan sekedar perkataan ikut-ikutan, yang ingin terlihat arab-araban.  Tapi kita melakukannya atas dasar kepahaman, atas dasar keagungan Allah Swt Yang Maha Melindungi hamba-Nya.
Karena makna yang terkandung di dalamnya bukan hanya sekedar ucapan untuk mengakhiri pertemuan, tapi juga mendoakan saudara kita agar diberikan perlindungan oleh Allah.
Islam mengajarkan kita untuk selalu berdoa, ketika akan melakukan sesuatu, mohon pada Allah, kebaikan bagi yang memberi doa, perlindungan bagi saudara yang berpergian, kedamaian, keselamatan, dan berkah untuk saudara muslim yang dijumpai.
Doa yang kita panjatkan adalah bukti cinta kita pada saudara kita.
Mari kita budayakan kata-kata dan juga doa-doa terbaik untuk saudara kita.
Semoga bermanfaat.

Anies: Manfaatkan Idul Fitri untuk Merajut Kembali Persaudaraan

Anies: Manfaatkan Idul Fitri untuk Merajut Kembali Persaudaraan

Jakarta – Gubernur terpilih DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan Indonesia memiliki tradisi unik yang tidak dimiliki oleh negara lain bahkan di Mekkah dan Madinah. Tradisi itu adalah bersalaman antar sesama umat muslim usai menjalankan Salat Idul Fitri.
“Kesempatan ini (bersalaman) tidak ada di negeri lain. Anda datang di Mekkah sekalipun, di Madinah sekalipun, selesai Salat Id semua pada bubar,” ujar Anies usai menjalankan Salat Idul Fitri di Masjid Al Azhar Jakarta Selatan, Sabtu (25/6/2017).
Anies Baswedan pun merasa bangga Indonesia memiliki tradisi ini. Pasalnya, hal ini dapat dijadikan sebagai momentum untuk saling memaafkan dan bersilaturahmi.
“Di Nusantara ini, di Indonesia ini selesai Salat Id lalu saling mengunjungi semuanya, merajut kembali, mengikat lebih erat. Tingkatkan lagi persaudaraan, mari kita manfaatkan itu, saya pun demikian,” jelasnya.
Dia berharap Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1438 Hijriah ini dapat dijadikan sebagai momen untuk berkumpul bersama keluarga untuk saling memaafkan.
“Di tingkat keluarga kita berkumpul saling memaafkan, di tingkat lingkungan lebih luas bahkan sampai nasional. Jadikan momen 1 Syawal sebagai momen untuk menguatkan tali silaturahmi sebagai saudara sebangsa,” tutur Anies.
“Hari ini juga kesempatan bagi semua untuk silaturahmi juga bagi Jakarta, mari jadikan Jakarta bersilaturahmi, di mana seluruh warganya memanfaatkan momen 1 Yyawal untuk saling memaafkan,” imbuh Anies Baswedan.
Anies Baswedan melalui sebuah video yang diunggah melalui akun instagram, @aniesbaswedan, Anies mengatakan bahwa tak terasa bulan Ramadhan telah meninggalkan kita.

download (1)_1498606236133

Instagram Anies Baswedan dengan salam dan tausyiah Idul Fitri


Ia berharap, semangat berserah diri kepada Allah dan keteguhan menahan diri dari hawa nafsu dapat terus bisa ditegakkan hingga bertemu kembali dengan Ramadhan tahun depan
“Semoga Allah SWT menerima semua amal ibadah kita. Semoga kita dimasukan ke dalam golongan orang-orang yang beruntung, orang-orang yang meraih kemenangan di bulan Ramadhan dan semoga di bulan syawal ini kita terasa seperti kembali ke fitrah,” ujar Anies, Minggu (25/6/2017). 
Di akhir video, Anies dan sang istri Fery Farhati Ganis yang kompak mengenakan pakaian berwarna putih pun mengucapkan selamat hari raya 1 syawal 1438 H.
“Mengucapkan Selamat Hari Raya 1 Syawal 1438 H. Kami sekeluarga memohon maaf lahir dan batin. Minal aidzin wal faidzin. Taqobalallahu minna waminkum,” tutupnya.
 
Sumber : Liputan6 /Okezone