by Fahmi Bahreisy Lc fahmibahreisy | Jan 9, 2016 | Fatwa
Alhamdulillah, asshalatu wassalaamu ala Rasulillah.
Menurut madzhab Syafii dan Maliki, melakukan qunut pada saat shalat shubuh adalah sunnah. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik r.a.
مَا زَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْنُتُ فِي الْفَجْرِ حَتَّى فَارَقَ الدُّنْيَا
“Rasulullah SAW senantiasa melakukan qunut pada saat shalat shubuh hingga ia meninggal dunia.” (HR. Ahmad).
Imam Nawawi mengomentari hadits ini dalam kitab “al-Khulashah” bahwa hadits ini shahih. Sebagian besar ahli hadits juga meriwayatkan hadits ini dan mereka juga mengatakan bahwa ia adalah hadits yang shahih.
Diantaranya ialah Imam al-Hakim di kitab “al-Mustadrak”, begitu juga Imam Baihaqi di beberapa kitabnya, serta al-‘Allamah al-Mu’allami di dalam kitab ‘at-Tankiil”. Qunut dalam shalat shubuh juga dilakukan oleh para sahabat, tabi’in dan para salaf.
Imam Nawawi berkata, “Ketahuilah, bahwa qunut adalah ibadah yang disyari’atkan pada shalat shubuh. Ia termasuk sunnah muakkadah, namun jika tidak dilakukan shalatnya tidak batal, akan tetapi ia harus melakukan sujud sahwi, baik karena disengaja ataupun lupa.” (Kitab al-Adzkaar, hal: 59)
Qunut dilakukan pada saat melaksanakan shalat shubuh, pada raka’at kedua setelah ruku’. Adapun menurut madzhab Maliki, ia dilakukan sebelum ruku’.
Namun demikian, kita tidak boleh memungkiri adanya perbedaan pendapat dalam masalah ini. Sebab, ulama dari madzhab Hanafi dan Hanbali berpendapat bahwa qunut tidak ada dalam shalat shubuh.
Oleh karena itu, tidak boleh mengingkari orang yang melakukan qunut ataupun yang tidak melakukannya, walaupun kita lebih condong untuk memilih pendapatnya madzhab Syafi’i, karena dalil-dalilnya lebih kuat.
Selain itu, Imam Malik dan Imam Syafi’i berasal dari hijaz, mereka lebih mengetahui hadits-hadits yang tidak diketahui oleh imam yang lainnya.
Kami juga mengingatkan agar tidak menuduh kaum muslimin lainnya dengan ucapan bid’ah atau sesat, sebab mereka semua berada di atas kebenaran. Mereka juga memiliki keinginan dan berusaha untuk mengikuti Rasulullah saw. Maka dari itu, tidak boleh menyulut api fitnah diantara mereka.
Wallahu a’lam.
Sumber:
Dar al-Ifta’ al-Mishriyyah (Dewan Fatwa Mesir)
Judul: Qunut Pada shalat Shubuh adalah bagian dari sunnah.
No Fatwa: 3536
Tanggal: 20-10-2009
Penerjemah: Fahmi Bahreisy, Lc
by Fahmi Bahreisy Lc fahmibahreisy | Dec 28, 2015 | Artikel, Buletin Al Iman
Oleh: Fahmi Bahreisy, Lc
Sebagai seorang muslim, tentu kita ingin merasakan nikmat dan lezatnya iman. Sebab, apalah artinya iman tanpa ada kenikmatan di dalamnya. Apalah artinya berislam tapi tak bisa merasakan kelezatannya. Diantara cara agar kita dapat merasakan nikmatnya iman ialah adanya perasaan cinta dan kasih sayang kepada sesama muslim. Rasulullah SAW bersabda yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik dalam Shahih Muslim, “Ada tiga hal yang jika engkau mendapatkannya maka engkau merasakan nikmatnya iman,” diantaranya ialah, “Engkau mencintai seseorang hanya karena Allah SWT.”
Rasa cinta kepada sesama muslim ini telah dicontohkan oleh para sahabat Rasulullah SAW, diantaranya ialah kecintaan yang ditunjukkan oleh Ali bin Abi Thalib kepada para sahabat, terutama kepada Abu Bakar as-Shiddiq dan Umar bin Khattab radhiyallahu’anhuma. Dalam banyak riwayat disebutkan bahwa keduanya memiliki hubungan yang sangat akrab dan saling mencintai satu dengan yang lainnya. Hal ini tidaklah aneh sebab keduanya merupakan binaan dari Rasulullah SAW yang selalu mengajarkan ummatya untuk saling menghargai, mencintai dan berkasih sayang.
Diriwayatkan oleh Muhammad bin Hanafiyah ia berkata, “Aku berkata kepada ayahku, siapakah manusia yang paling mulia setelah Nabi SAW?” Ali r.a. menjawab, “Abu Bakar.” Kemudian ia bertanya lagi, “Lalu siapa?” Ia menjawab, “Umar.” Bahkan Ali bin Abi Thalib pernah berkata dalam sebuah riwayat dari Imam Ahmad, “Tidak ada seorang pun yang lebih mengutamankanku daripada Abu Bakar dan Umar kecuali aku akan cambuk dia sebagai balasan atas kedustaannya.”
Dalam riwayat dari Uqbah bin Harits disebutkan, “Aku pernah keluar bersama Abu Bakar setelah shalat Ashar dan Ali berada disampingnya. Lalu ia bertemu dengan Hasan bin Ali sedang bermain dengan teman sebayanya. Lalu Abu Bakar menggendongnya dan berkata dengan nada bercanda, “Wahai seorang anak yang mirip dengan Nabi, tapi tidak mirip dengan Ali.” Dan saat itu Ali pun tertawa mendengar ucapan Abu Bakar.”
Sebagaimana keakraban dan keharmonisan yang terjalin antara Ali dengan Abu Bakar, begitu juga hubungan antara Ali bin Thalib dengan sahabat-sahabat yang lainnya terutama Umar bin Khattab. Kecintaan Ali kepada tampak jelas ketika Umar bin Khattab mengajak Ali untuk berunding sebelum melakukan peperangan melawan Romawi dan Persia. Pada saat itu, ketika pasukan akan berangkat menuju peperangan, Ali bin Abi Thalib berkhutbah yang mana intinya ialah (sebagaimana yang tertera dalam kitab Nahjul Balaghah); Ali menamakan pasukan yang disiapkan oleh Umar sebagai pasukannya Allah, ia juga menegaskan bahwa dirinya merupakan salah satu bagian dari tentaranya Umar bin Khattab, di dalam khutbah tersebut beliau juga menafikan adanya permusuhan diantara sahabat terutama di masa Umar, bahkan ia menegaskan bahwa dengan keberadaan Umar, Islam menjadi kuat dan kokoh.
Dalam sebuah surat yang dikirim oleh Ali kepada Muawiyah, di dalamnya tertulis mengenai keutamaan Abu Bakar dan Umar yang isinya ialah sebagai berikut, “Muslim yang terbaik dan yang paling setia terhadap Allah dan Rasul-Nya adalah Khalifah Abu Bakar as-Shiddiq, kemudian setelah itu adalah Umar bin Khattab al-Faruq. Keduanya memiiliki kedudukan yang tinggi dalam Islam. Ketiadaan keduanya merupakan musibah yang besar bagi agama Islam. Semoga Allah merahmati keduanya dan membalas kebaikan keduanya.” (Lihat kitab Syarh Nahjul Balaghah).
Subhanallah, inilah pengakuan Ali bin Abi Thalib r.a. akan kemulian kedudukan Abu Bakar dan Umar bin Khattab. Rasa cinta yang tertanam di dalam dirinya merupakan buah akan keimanan dan ketaqwaannya kepada Allah. Dan masih banyak riwayat-riwayat lainnya yang menunjukkan akan besarnya kecintaan dan penghormatan Ali kepada Abu Bakar dan Umar.
Hal ini sekaligus juga membantah anggapan bahwa adanya permusuhan antara Ali bin Abi Thalib –karramahullah wajhahu- dengan dua sahabat yang agung ini. Bahkan rasa cinta tersebut beliau wujudkan dengan menamakan keturunannya dengan nama Abu Bakar dan Umar. Ketika Ali ditanya perihal alasan dari pemberian nama tersebut, ia menjawab bahwa ia ingin anaknya sama seperti dengan Abu Bakar dan Umar.
Ini adalah sebuah gambaran akan eratnya hubungan diantara mereka yang juga seharusnya dicontoh oleh generasi penerus yang mengaku mencintai Abu Bakar, Umar, Ali, dan sahabat-sahabat yang lainnya. Keagungan dan kemuliaan mereka sesuai dengan firman Allah SWT, “Muhammad adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersama dengan dia bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu melihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya. Pada wajah mereka tampak tanda-tanda bekas sujud.” (QS. al-Fath: 29). Semoga Allah meridhai mereka semua. Amiin.
Sumber:
Artikel Utama Buletin Al Iman
Edisi 350 – 20 November 2015. Tahun ke-8
***
Buletin Al Iman terbit tiap Jumat. Tersebar di masjid, perkantoran, majelis ta’lim dan kantor pemerintahan.
Menerima pesanan dalam dan luar Jakarta.
Hubungi 0897.904.6692
Email: [email protected]
Dakwah semakin mudah.
Dengan hanya membantu penerbitan Buletin Al Iman, Anda sudah mengajak ribuan orang ke jalan Allah.
Salurkan donasi Anda untuk Buletin Al Iman:
BSM 703.7427.734 an. Yayasan Telaga Insan Beriman
Konfirmasi donasi: 0897.904.6692
by Fahmi Bahreisy Lc fahmibahreisy | Dec 26, 2015 | Artikel
Oleh: Fahmi Bahreisy, Lc
Tidak terasa waktu berjalan dengan sangat cepat dan saat ini kita berada di penghujung tahun 2015 masehi. Tahun 2015 akan menjadi kenangan dan cerita, kemudian tahun 2016 akan datang menyambut kita semua. Malam pergantian tahun merupakan momen yang paling ditunggu-tunggu oleh sebagian besar masyarakat Indonesia dan warga dunia.
Berbagai macam persiapan diatur sebaik mungkin untuk menyambut datangnya tahun baru. Mereka rela berlarut malam agar tidak kehilangan momentum ini. Ratusan miliyar bahkan triliyunan mereka keluarkan demi suksesnya acara pergantian tahun. Tidak sedikit yang menjadikan malam pergantian tahun sebagai ajang untuk melakukan pelanggaran dan kemaksiatan.
Sungguh hal ini merupakan sebuah kondisi yang menyedihkan dan jauh dari syariat Islam, terlebih lagi hal itu dilakukan juga oleh sebagian besar kaum muslimin. Lantas bagaimana seharusnya seorang muslim menyikapi tahun baru masehi ini?
Ada dua sikap utama yang harus dimiliki oleh setiap muslim dalam menghadapi momen pergantian tahun. Yang pertama ialah bersyukur kepada Allah atas kesempatan yang Ia berikan kepada kita. Kesempatan untuk memperbaiki diri dan bertaubat kepada-Nya. Kesempatan untuk menambah amal shaleh dan memperbanyak pahala.
Pasalnya, nikmat waktu atau kesempatan merupakan salah satu kenikmatan terbesar yang Allah berikan kepada kita. Waktu yang Allah sediakan untuk kita merupakan sarana untuk melakukan berbagai macam aktifitas kebaikan. Namun, nikmat ini pula yang sering dilupakan dan diabaikan oleh manusia sebagaimana yang terjadi saat pergantian tahun. Rasulullah saw bersabda, “Ada dua nikmat yang sering dilupakan oleh kebanyakan manusia; kesehatan dan waktu luang.”
Banyak kaum muslimin yang tidak menyadari bahwa tahun baru adalah kenikmatan yang seharusnya dihadapi dengan rasa syukur kepada Allah, bukan dengan kemaksiatan dan kegiatan yang bisa melalaikan dirinya dari Allah. Ia habiskan waktu dan hartanya hanya untuk bersenang di dalamnya, padahal perbuatan yang seperti itu merupakan perbuatan yang sangat dicela dan dimurkai oleh Allah SWT.
Sikap yang kedua ialah melakukan muhasabah atau evaluasi diri, baik itu dilakukan secara individu atau secara berjama’ah. Sebab, proses untuk melakukan perbaikan diri harus diawali dengan muhasabah. Terjadinya pergantian tahun seharusnya menjadi momen yang paling tepat bagi kita untuk melakukan introspeksi diri atas apa yang telah kita lakukan sebelumnya. Meskipun proses muhasabah ini sebenarnya sudah menjadi rutinitas seorang muslim yang baik.
Bahkan para salaf telah mencontohkan kepada kita bagaimana menjadikan muhasabah sebagai aktifitas rutin mereka setiap hari. Salah seorang salaf berkata, “Setiap kali aku akan mulai tidur, aku menghitung-hitung amalanku. Jika yang kudapatkan adalah kebaikan, maka aku bersyukur. Dan jika aku dapatkan amalanku adalah keburukan aku beristighfar kepada Allah.”
Dalam sebuah riwayat dari Ibnu Hibban yang diriwayatkan oleh Abu Dzar r.a. disebutkan bahwa Rasulullah saw bersabda, “Dalam shuhuf Ibrahim a.s. tertulis: Orang yang berakal wajib membagi waktunya menjadi berikut ini; Waktu untuk bermunajat kepada-Nya, waktu untuk melakukan muhasabah, waktu untuk merenungkan ciptaan-Nya, dan waktu untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya.
Oleh sebab itu, muhasabah merupakan kegiatan rutin yang harusnya dimiliki oleh setiap muslim agar ia menjadi hamba yang lebih baik lagi, terlebih lagi dalam momen pergantian tahun. Sebagaimana seorang direktur setiap pekan atau bulan atau setiap tahun melakukan evaluasi terhadap pekerjaan dan karyawannya agar bisnisnya semakin baik, begitu pula seorang muslim ia harus melakukan evaluasi diri.
Apalagi proses muhasabah yang dilakukan oleh seorang muslim tidak hanya akan membawa kebaikan baginya di dunia, tetapi juga di akhirat kelak. Semakin dia rajin melakukan muhasabah, maka akan ia akan semakin menghargai waktu yang diberikan oleh Allah, dan akan semakin sadar bahwa ia akan dimintai pertanggung jawaban atas nikmat waktu tersebut.
Sebagaimana sabda Rasulullah saw, “Tidak akan bergeser kaki seorang hamba pada hari kiamat kelak sampai ia ditanyakan akan empat hal; Tentang umur ia habiskan untuk apa?, tentang masa mudanya ia pergunakan untuk apa, dan hartanya dari mana ia dapatkan dan untuk apa ia belanjakan, serta ilmunya untuk apa ia amalkan?”
Inilah dua hal yang hendaknya kita lakukan pada malam pergantian tahun, agar pada tahun berikutnya kehidupan kita semakin diberkahi dan berguna. Tidak lupa dalam momen pergantian tahun ini hendaknya kita mengingat sebuah ucapan dari imam Hasan al-Bashri rahimahullah, “Sesungguhnya engkau itu adalah hari, jika harimu telah berlalu, maka itu berarti sebagian dari dirimu telah tiada.”
Pergantian tahun menandakan bahwa sebagian dari diri kita telah hilang dan tiada. Maka, sikapilah momentum pergantian tahun dengan bijak agar kita menjadi orang-orang yang beruntung. Wallahu a’lam.
ed : danw
by Fahmi Bahreisy Lc fahmibahreisy | Jul 30, 2015 | Artikel
Oleh: Syaikh Salman Al-Audah
Betapa meruginya diriku, manakala aku mengira bahwa jalan yang sedang aku lalui akan mengantarkanku pada-Mu, namun ternyata aku sedang melalui jalan yang memisahkanku dengan-Mu.
Sungguh sangat disayangkan manakala aku meninggalkan dunia ini tanpa pernah merasakan hal yang ternikmat di dalamnya yaitu, bermunajat dan bertaqarrub kepada-Mu serta menghayati nama-nama dan sifat-Mu yang Maha Tinggi.
“Sekali-kali tidak sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Tuhannya.” (QS. al-Muthaffifin : 15).
Orang yang terhalang pada hari kiamat ialah orang yang juga terhalang dari-Nya di dunia. Mereka adalah orang-orang yang curang yang tidak dapat menakar “timbangan” dengan baik.
Ketika aku meminta jalan hidayah pada-Mu, maka hidayah yang paling agung adalah pintu ma’rifah (mengenal) dan beriman pada-Mu serta mendapatkan secercah cahaya dari-Mu yang dapat menerangi hatiku.
Bagaimana caranya supaya aku dapat memelihara saat-saat dimana hatiku mendapat penerang dan tersingkap semua hijab dari qalbuku?
Bagaimana caranya agar aku dapat melepaskan diri dari jerat kemaksiatan yang menyebabkan kekeringan dan kekosongan di dalam hatiku sehingga ia dapat menghancurkan bangunan yang aku dirikan?
Di saat aku mengingat-Mu, hatiku menjadi lembut dan lunak. Akan tetapi, aku tidak memiliki kekuatan untuk terus menerus berada dalam kondisi seperti itu kecuali dengan anugerah yang Kau berikan kepadaku.
Manakala aku membaca Al-Qur`an, pikiranku ikut berjalan menyusuri kisah-kisah orang-orang yang dekat dengan-Mu. Ia menangkap berbagai kabar gembira dan peringatan dari-Mu. Saat itulah, dunia terasa kecil di mataku, seakan-akan ia hanyalah kehidupan yang sepintas dan cepat.
Kondisi semacam itu terasa sangat nikmat nan indah, namun aku khawatir ia akan menjadi penuntut bagiku bukan menjadi sarana untuk mendekatkanku pada-Mu.
Barangsiapa yang merasakan manisnya taqarrub dan tunduk kepada-Mu, bagaimana mungkin ia akan lupa dan lalai?
Aku adalah orang yang sering berputus asa di saat melakukan kemaksiatan, dan aku adalah orang yang suka membangkang di saat aku mendapatkan nikmat. Aku orang yang suka meminta saat berada dalam kondisi sulit, akan tetapi aku menjadi orang yang tertipu di saat lapang dan senang.
Aku tidak mampu jika aku harus terus menerus berada dalam kesulitan, dan kehidupan ini tidak akan terus menerus berada dalam kenikmatan.
Apakah ada cara agar jiwaku, diriku, akalku dan qalbuku terus terwarnai dengan kehidupan yang rabbani tanpa ada kotoran riya` dan sum’ah bahkan di saat aku sedang malas?
Bagaimana caranya meneladani mereka yang telah Kau pilih dan Kau jadikan sebagai orang-orang yang shalih, yang telah Kau antarkan mereka menjadi orang-orang yang dekat dengan-Mu? Bgaimana caranya agar bisa mengikuti mereka yang telah Kau jadikan sebagai orang-orang yang Kau kabulkan do’anya, Kau berikan perlindungan dan pertolongan pada-Nya serta Kau jauhkan mereka dari segala macam keburukan dan kesulitan?
Posisiku sebagai hamba menghendaki diriku untuk melepaskan diri dari sikap egois dan sombong. Setiap kali aku menyadari hinanya diriku, di saat itulah aku merasakan kedekatan denganmu.
Aku terus menghadirkan makna sujud (ketundukan) dan terus membersihkan diri ini dari sifat sombong dan ghurur. Hal itu melapangkan diriku menuju jalan Allah. Akan tetapi, pantaskah aku mendapatkannya padahal aku adalah orang yang sudah tenggelam dalam ketamakan terhadap dunia dan sibuk dengan penampilan diriku di hadapan orang lain? Pantaskah aku mendapatkannya padahal aku telah lalai karena kesibukanku berteman dengan fulan dan fulan?
Di kala aku sadar, aku berkata: “Aku wajib memilih jalan menuju Allah dengan penuh keridhaan dan rasa cinta sebelum kematian menjemputku.”
Aku ingin seperti orang tercinta yang telah lama hilang kemudian ia datang kembali pada keluarganya, bukan seperti budak yang diseret secara paksa ke hadapan tuannya.
Sebaik-baik cara yang dapat membuatku ingat kepada Allah adalah tilawah Al-Qur`an dan berdzikir dengan shalawat dan dzikir-dzikir yang lainnya.
* Diterjemahkan oleh: Fahmi Bahreisy, Lc
** Sumber: iumsonline.org
by Fahmi Bahreisy Lc fahmibahreisy | Jul 29, 2015 | Artikel

Allah SWT memberikan wahyu kepada Musa Alaihissalam: “Wahai Musa, si fulan akan bersamamu kelak di surga.”
Musa Alaihissalam bertanya-tanya dan keheranan mendengar hal tersebut. Ia pun pergi untuk mencari tahu apa yang dilakukan oleh orang tersebut.
Musa Alaihissalam pun mengetahui bahwa ia adalah orang yang berbakti kepada ibunya. Ia selalu menyuapi makanan kepada ibunya dengan menggunakan kedua tangannya sendiri.
Musa Alaihissalam bertanya kepada laki-laki tersebut, “Apakah ibumu mendoakan sesuatu untukmu?”
Ia menjawab, “Tidak, hanya ada satu doa yang selalu ia minta, Ya Allah jadikanlah ia sebagai pendamping Musa di surga-Mu kelak”
Lalu Musa berkata, “Ketahuilah, aku adalah Musa, dan engkau akan bersamaku kelak di surga sebab Allah telah mengabulkan do’a ibumu.”
Cerita ini dikisahkan oleh Syeikh Nabil Al Awdhi, hafidzahullah.
Ingatlah wahai saudaraku, bahwa doa kedua orang tua untuk anaknya adalah doa yang mustajab. Pergunakanlah kesempatan berharga ini dengan sebaik-baiknya.
Mintalah kepada keduanya supaya mereka mendoakanmu agar engkau nanti berkumpul dengan Rasulullah saw di surga Firdaus.
ed : Rustm/danw/yayasanaliman