by Danu Wijaya danuw | Oct 25, 2016 | Artikel, Dakwah
Jiwa terkadang pernah gagal dalam ujian kehidupan. Al Qur’an juga mengisahkan orang-orang gagal dan pendosa yang berhasil melesatkan dirinya jadi pribadi mulia.
Nabi Musa pernah membunuh orang. Nabi Yunus bahkan sempat lari dari tugas risalah yang seharusnya dia emban. Nabi Adam juga, dia gagal dalam ujian untuk tidak mendekat pada pohon yang diharamkan baginya.
Tetapi doa sesalnya diabadikan dalam Al Qur’an.
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
“Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi” (Q.S. Al Araf ayat 23)
Imam Ahmad bin Hanbal dalam kitab Az-Zuhd yang selalu menginsyafikan kami. “Sejak dulu kami menyepakati, bahwa jika seseorang menghina saudara mukminnya atas suatu dosa, maka dia takkan mati sampai Allah mengujinya dengan dosa yang semisal dengannya.”
Sumber :
Menyimak Kicau Merajut Makna, Salim A. Fillah, ProU Media
by Danu Wijaya danuw | Oct 24, 2016 | Artikel, Dakwah
Majelis Ulama Indonesia (MUI) meluncurkan Islamic Development Fund (IDF). IDF merupakan lembaga yang akan menghimpun donasi masyarakat seperti zakat, infaq dan sadaqah.
Ketua umum MUI, KH Ma’ruf Amin mengatakan, MUI melihat banyak program penting bagi umat Islam. Disaat bersamaan dibutuhkan dana yang besar agar program tersebut dapat berjalan.
Potensi zakat yang sangat besar yaitu Rp 285 triliun, kata Ma’ruf, hanya mampu dihimpun sekitar dua persen saja oleh beberapa lembaga amil zakat yang ada. Angka yang berhasil dihimpun tersebut, Ma’ruf menilai sangat tidak maksimal.
Ma’ruf mengakui MUI baru memiliki kesadaran untuk ikut bergerak menghimpun donasi masyarakat. Terutama setelah melihat donasi yang dihimpun sangat sedikit dari potensi yang ada.
“MUI merasa sudah saat mengambil peran,” kata Rais Am PBNU ini.
Kiai Ma’ruf berjanji akan memanfaatkan dana yang terhimpun secara baik. Pelaporannya pun akan dilakukan secara transparan. “Jadi masyarakat bisa mengontrol,” kata Kiai Ma’ruf menambahkan.
Kiai Ma’ruf juga menuturkan, peluncuran IDF bukan berarti mengambil alih peran lembaga amil zakat yang sudah ada. MUI akan mencari potensi lain yang belum digarap oleh lembaga lain.
Belum terhimpunnya potensi zakat, infaq, wakaf dan sadaqah secara maksimal, lanjutnya, salah satunya karena kurangnya lembaga penghimpun. Ditambah kurangnya kepercayaan masyarakat terhadap lembaga penghimpun zakat, infak, wakaf, dan sedekah.
Alasan MUI Bentuk IDF
Ketua IDF Lukmanul Hakim mengatakan, IDF dibentuk untuk membangun kemandirian umat Islam. Terlebih potensi dari donasi masyarakat sangat besar. “IDF mengoptimalkan potensi untuk pengembangan dakwah,” ujar Lukmanul, saat jumpa pers, di kantor MUI Jakarta, Rabu (29/6).
Menurut Lukmanul, ada banyak program yang disiapkan ke depannya. Donasi dari masyarakat nantinya akan dimanfaatkan untuk program yang telah dicanangkan.
Seperti untuk kegiatan dakwah minoritas dan penanganan mualaf. Di samping itu akan juga digunakan untuk layanan fatwa Islam, pencetakan buku Islam, dan dakwah terhadap pesantren.
Selain itu, dana yang terhimpun juga akan digunakan untuk kegiatan dakwah di perbatasan dan penyususan peta dakwah, termasuk pemberdayaan ekonomi kerakyatan. “Pendidikan kader ulama, pengelolaan zakat, infak, dan sedekah,” kata Lukmanul.
Lukmanul menuturkan, kerja sama pun dilakukan dengan berbagai pihak guna menghimpun potensi donasi masyarakat yang sangat besar, seperti dengan restoran, toko, dan bank.
Lukmanul yakin kerja sama IDF dengan beberapa bank akan mempermudah masyarakat melakukan donasi. Lukmanul pun berjanji pengelolaan akan secara transparan.
Audit independen juga akan dilakukan oleh akuntan publik. “Ini kita menggunakan pendekatan teknologi IT. Konvensional tetap dijalankan,” Lukmanul menambahkan.
Lukmanul Hakim, juga memberikan penjelasan kepada para undangan, bahwa IDF bukanlah bank.
Sumber : Republika
by Danu Wijaya danuw | Oct 24, 2016 | Artikel, Dakwah
Menjadi dai adalah memperbaiki diri. Agar tak jadi pencibir, tapi penyabar. Agar tak jadi pencela, tapi penyapa.
Menjadi dai adalag memperbaiki diri. Agar tak jadi penggunjing, tapi pendamping. Agar tak menambah putus asa, tapi membawa cahaya.
Menjadi dai adalah memperbaiki diri. Agar prasangka tak mengalahkan akhlak. Agar rasa benci tak mengalahkan sikap adil.
Menjadi dai adalah memperbaiki diri. Agar kebenaran tanpa merasa paling benar. Agar berilmu tanpa merasa paling tahu.
Menjadi dai adalah memperbaiki diri. Agar lebih mudah dinasihati. Sebab telinga sendiri lebih dekat daripada milik sesama.
Kebenaran itu gagah perkasa. Kerendahan hati itu cantik jelita. Jadilah pasangan yang serasi dan memesona.
Sumber :
Menyimak Kicau Merajut Makna, Salim A. Fillah, ProU Media
by Danu Wijaya danuw | Oct 22, 2016 | Artikel, Dakwah
Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Ma’ruf Amin mengatakan, banyak negara di dunia yang konsen terhadap industri halal.
Standar halal MUI pun diadopsi lebih dari 30 negara. Kata dia, hal itu sebagai suatu upaya negara-negara tersebut melindungi konsumen dari produk yang tidak baik.
Hal itu ia sampaikan dalam sambutannya pada pembukaan gelaran International Islamic Fair (IIF) 2016 di JI Expo Kemayoran, Jakarta, Kamis (20/10/2016).
MUI, terang Kiai Ma’ruf, sudah menjalankan tugas sertifikasi halal di Indonesia melalui LPPOM MUI sejak 1989 atau 27 tahun yang lalu.
Saat itu, jelasnya, MUI diberi amanat oleh pemerintah untuk meredakan keresahan umat Islam, dikarenakan adanya temuan makanan yang ditengarai tidak halal.
“Masyarakat sempat marah dan panik, dan menghindari makanan dan minuman yang dianggap tidak halal karena isu lemak babi itu. Akibatnya bisnis menjadi lesu, karena omset saat itu turun sampai 30 persen,” ungkapnya.
Karenanya, Rais Aam PBNU ini merasa bersyukur, hingga saat sekarang MUI mampu melaksanakan tugas tersebut dengan baik.
“Terbukti dengan banyaknya perusahaan yang melakukan sertifikasi halal terhadap produknya,” jelas Kiai Ma’ruf.
Bahkan, ia mengungkap, standar halal MUI sudah menjadi standar dunia. Karena telah diadopsi oleh berbagai lembaga halal di negara-negara lain.
“MUI sudah membangun standar halal yang diadopsi lebih dari 30 negara,” paparnya.
MUI Tidak Bergeser
Apalagi, Kiai Ma’ruf menjelaskan, dari segi momentum, saat ini halal memang telah menjadi perhatian dunia. Selain sebagai sarana pemenuhan syariat Islam, juga nilai yang menguntungkan dari segi bisnis.
“Tidak heran kalau negara-negara seperti Korea dan Jepang sangat memberi perhatian terhadap masalah halal ini,” tukasnya.
Kiai Ma’ruf menegaskan, tugas MUI tidak akan bergeser, yakni tetap melindungi umat dari sesuatu yang tidak halal.
“Jadi MUI hanya mendorong bisnis, tidak ikut di dalam bisnis. Makanya ini sekaligus menepis isu yang mengatakan MUI memperoleh dana Rp 480 triliun dari sertifikasi halal, itu namanya ada orang ngigau,” pungkasnya disambut tawa hadirin.
Sumber : Hidayatullah
by Danu Wijaya danuw | Oct 22, 2016 | Artikel, Dakwah
Suatu ketika khalifah Umar ra sedang duduk beralas surbang di bebayang pohon kurma dekat Masjid Nabawi. Sahabat disekelilingnya bersyura’ bahas aneka soal. Tiga orang pemuda datang menghadap, dua bersaudara berwajah marah yang mengapit pemuda lusuh yang tertunduk dalam belengguan mereka.
“Tegakkan keadilan untuk kami, hai Amirul Mukminin,” ujar seorang. “Qishashlah pembunuh ayah kami sebagai had atas kejahatannya!”
Umar bangkit. “Bertakwalah kepada Allah,” serunya pada semua. “Benarkah engkau membunuh ayah mereka wahai anak muda?” selidiknya.
Pemuda itu menunduk sesal. “Benar wahai Amirul Mukminin!” jawabnya ksatria. “Ceritakanlah pada kami kejadiannya!” tukas Umar.
“Aku datang dari pedalaman yang jauh. Kaumku mempercayakan berbagai urusan muamalah untuk kuselesaikan di kota ini,” ungkapnya. “Sampai saat kutambatkan untaku di satu tunggul kurma, lalu kutinggalkan ia. Begitu kembali, aku terkejut. Seorang lelaki tua sedang menyembelih untaku dilahan kebunnya yang tampak rusak terinjak dan ragas tanamannya. Sungguh aku sangat marah dan dengan murka kucabut pedang hingga terbunuhlah si bapak itu. Dialah rupanya ayah kedua saudaraku ini.”
Umar galau dan bimbang setelah mendengar lebih jauh kisah pemuda terdakwa itu. “Sesungguhnya yang kalian tuntut ini pemuda shalih lagi baik budinya. Dia membunuh ayah kalian karena khilaf kemarahan sesaat.” ujar Umar.
“Izinkan aku meminta kalian berdua untuk memaafkannya dan akulah yang akan membayar diyat atas kematian ayahmu.” tambah Umar.
“Maaf Amirul Mukminin, kami sangat menyayangi ayah kami. Andai harta sepenuh bumi dikumpulkan, kami hanya ridha jika jiwa dibalas jiwa.” sergah kedua pemuda itu.
Terdakwa itu kemudian berkata, “Wahai Amirul Mukminin, aku ridha, hanya saja izinkan aku menunaikan kewajibanku dahulu dari kaumku. Berilah aku waktu 3 hari, dan aku akan kembali segera untuk dihukum.”
“Harus ada orang yang menjaminnya!” ujar penggugat, “andai pemuda ini ingjar janji siapa yang akan gantikan tempatnya untuk di qishash.”
Salman Al Farisi yang sedang lewat kemudian menyahut, “Jadikan aku penjaminnya hai Amirul Mukminin.”
“Salman?” terkejut Umar. “Demi Allah engkau belum mengenalnya! Demi Allah jangan main-main dengan urusan ini. Cabut kesediaanmu!”
“Pengenalanku kepadanya tak beda dengan pengenalanmu ya Umar,” ujar Salman, “aku percaya kepadanya sebagaimana engkau mempercayainya.”
Dengan berat hati Umar melepas pemuda itu pergi dengan Salman sebagai jaminannya.
Tiga hari berlalu. Detik menjelang eksekusi, pemuda itu belum muncul. Umar gelisah mondar mandir. Semua hadirin mengkhawatirkan Salman. Sahabat perantau negeri, pengembara iman itu mulia dan tercinta dihati Rasul dan sahabatnya.
Salman dengan tenang melangkah ketempat qishash. Tetiba sesosok bayang berlari terengah-engah, terjerembab kemudian bangkit kembali. “Itu dia!” pekik Umar.
“Maafkan aku, hampir terlambat,” ujar pemuda terdakwa itu. “Urusan kaumku memakan banyak waktu. Kupacu tungganganku tanpa henti hingga ia sekarat digurun. Dan kutinggalkan kemudian berlari.”
“Demi Allah, sebenarnya engkau bisa lari dari hukuman ini. Mengapa engkau kembali?” selidik Umar.
Terdakwa itu menjawab, “Supaya jangan sampai ada yang mengatakan dikalangan muslimin tak ada kesatria tepat janji.”
“Lalu kau, hai Salman. Mengapa engkau mau-maunya jadi penjamin seseorang yang tak kaukenal sama sekali.” tanya Umar.
Salman menjawab, “Agar jangan sampai dikatakan dikalangan Muslimin tak ada lagi saling percaya dan menanggung beban saudara.”
“Allahu Akbar! Allah dan kaum muslimin jadi saksi bahwa kami memaafkannya.” pekik dua pemuda penggugat tersebut.
Dengan haru terkejut Umar berkata, “Kalian. Apa maksudnya? Jadi kalian memaafkannya. Jadi dia tak jadi diqishash. Allahu Akbar! Mengapa?”
“Agar jangan ada yang merasa dikalangan kaum Muslimin tak ada lagi kemaafan dan kasih sayang.” sahut keduanya terisak.
Sumber :
Menyimak Kicau Merajut Makna, Salim A. Fillah, ProU Media
by Danu Wijaya danuw | Oct 21, 2016 | Artikel, Dakwah
Berdekatlah dengan seseorang yang hatinya selalu mengingati Allah, agar napas-napas tasbihnya mensurgakan suasana.
Lisan yang terbiasa berbincang mesra dengan Allah. Takkan menjadi pelaknat, pengumpat, pencela, peleceh, dan pelucah. Ada saat untuk sendiri dengan Al Qur’an dihela jemari, air mata mengalir pipi dan Allah didalam hati.
Hidupkan selalu niat-niat kebaikan, biar ia menghadap Allah. Mengetuk pintu-pintu karunia yang memampukan kita untuk mewujudkannya.
Rezeki barakah tak lantas tiadakan persoalan. Keberkahan itu menguatkan taat dan mendekatkan pada-Nya dengan aneka cara termasuk masalah.
Iman tak menjaminmu untuk selalu berlimpah dan tertawa. Tetapi ia menjaminmu merasakan lembut belaian cinta-Nya pada apapun dera yang menimpanya.
Ridha-Nya tak terletak pada sulit atau mudahnya. Lapang atau sempitnya, suka atau dukanya. Ia ada pada ketaatan kita disemua warna dan rasa.
Sumber :
Menyimak Kicau Merajut Makna, Salim A. Fillah, ProU Media