0878 8077 4762 [email protected]

Tujuh Tugas Penting MUI Mengawal Ummat dan Bangsa

Oleh: Prof Didin Hafidhudin
Ada beberapa hal yang perlu dilakukan MUI dalam mengawal umat dan bangsa Indonesia:
Pertama, MUI perlu meneguhkan jati dirinya sebagai “organisasi ulama waratsatul anbiya” yang memiliki tanggung jawab besar untuk mengawal perjalanan umat Islam dan bang sa Indonesia ke depan menuju baldatun thayyibatun warabbun ghafur. Amanah ulama ini sangat berat sehingga perlu dilaksanakan dengan sungguh- sungguh.
Kedua, ulama dan khususnya pengurus MUI harus memiliki ilmu pengetahuan keagamaan yang mendalam yang membedakannya dengan masyarakat biasa. Dengan ilmu pengetahuannya yang mendalam disertai dengan ketakwaannya yang tinggi, ulama akan menjadi tempat bertanya masyarakat dalam berbagai macam bidang kehidupan.
Perhatikan QS Asy- Syu’ara [26] ayat 197 dan QS Fathir [35] ayat 28. Para ulama harus memberi contoh untuk terus-menerus belajar sebagaimana para ulama salafus shalih terdahulu. Diskusi dan dialog secara lisan maupun tulisan yang terjadi pada masa lalu tersebut telah membangun khazanah keilmuan yang sangat berharga dan sangat tinggi nilainya.
Ketiga, MUI perlu memberikan perhatian khusus pada program kaderisasi ulama, dengan melakukan penjaringan kader-kader muda yang potensial di berbagai lembaga pendidikan. Pendidikan ulama yang terbaik adalah melalui pembelajaran langsung secara individual kepada ulama-ulama terkemuka di dunia (mulazamah) sehingga ke depan kualitas ulama Indonesia semakin meningkat dan disegani dalam tataran internasional.
Keempat, MUI perlu meningkatkan peranannya dalam menyelesaikan persoalan-persoalan dunia internasional, khususnya yang menimpa umat Islam di berbagai belahan dunia. Setidaknya, MUI bersama ulama-ulama lain di Indonesia memberikan masukan kepada Pemerintah RI agar meningkatkan keaktifannya dalam menyelesaikan persoalan-persoalan umat Islam di dunia inter nasional, seperti masalah Palestina, Rohingya, Kashmir, Pattani, Moro, dan sebagainya.
Kelima, MUI perlu merumuskan konsep pendidikan Islam yang ideal dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi untuk menentukan konsep pembentukan insan-insan Muslim yang ideal ke masa depan.
Konsep Ma’had Aly yang sudah diakui sebagai salah satu bentuk Pendidikan Tinggi dalam UU No 12/2012 perlu dijabarkan bersama Kementerian Agama agar pendidikan tinggi tidak semata-mata diarahkan untuk membentuk pekerja industri, tetapi untuk membentuk manusia-manusia yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, dan profesional.
Dalam bidang pendidikan ini pula, MUI perlu mengontrol dan memberi masukan kepada pemerintah agar buku-buku ajar di sekolah- sekolah benar-benar tidak bertentangan dengan ajaran dan konsep keilmuan dalam Islam.
Keenam, patut disyukuri bahwa selama ini peran MUI dalam mengawal isi media massa, khususnya televisi sudah dirasakan umat Islam. Untuk meningkat kan peran MUI dalam hal “mengawal media massa”, perlu juga dilakukan monitor dan bimbingan terhadap media online Islam sehingga media-media itu semakin berkualitas isinya.
Sebab, mereka saat ini memainkan peranan yang penting dalam mengarahkan pola pikir umat Islam. Media-media yang memuat isi-isi yang ekstrem, baik ekstrem fundamentalis maupun ekstrem liberal, perlu diingatkan oleh MUI.
Ketujuh, guna meningkatkan kemandirian MUI maka perlu me ningkatkan kerja sama dengan lembaga-lembaga sosial keagamaan lainnya, baik di dalam maupun di luar negeri, untuk melakukan penggalangan dana umat bagi kepentingan pembangunan dalam berbagai bidang kehidupan.
Kita berharap dengan langkah-langkah strategis tersebut peran strategis ulama, khususnya MUI, akan semakin dirasakan oleh masyarakat secara keseluruhan.
 
Sumber : Republika

Tujuh Fatwa MUI

Majelis Ulama Indonesia mengeluarkan tujuh fatwa atas sejumlah permasalahan. Agar kita sama-sama mengetahui mari kita perhatikan kembali. Fatwa ini telah disampaikan pada 27 juli 2010 di Jakarta
Berikut tujuh fatwa itu:
1. Membolehkan pilot yang sedang bertugas tidak berpuasa di bulan Ramadan. Bagi yang terbang terus-menerus dapat mengganti puasa dengan fidyah, sementara yang temporal bisa mengganti dengan puasa di lain hari;.
2. Mengharamkan kawin kontrak atau nikah wisata yang bersifat sementara dengan jangka waktu tertentu atau dikenal nikah muth’ah.
3. Operasi ganti kelamin tanpa ada alasan alamiah dalam diri yang bersangkutan sesuai regulasi Kementerian Kesehatan diharamkan. Pengharaman ini juga berlaku bagi tenaga medis yang melakukan. Namun MUI membolehkan penyempurnaan alat kelamin;
4. Mengharamkan donor sperma dan bank sperma. Namun Bank Air Susu Ibu dibolehkan.
5. Mengharamkan donor organ jika pendonor masih hidup. Pendonor harus sudah meninggal, sukarela dan tidak komersial. Sementara donor organ binatang dibolehkan jika tak ada pilihan lain.
6. Mengharamkan pemberitaan, penyiaran dan penayangan aib orang. Pengecualian hanya demi kepentingan umum seperti untuk penegakan hukum.
7. Membolehkan asas pembuktian terbalik dalam kasus hukum tertentu misalnya untuk pembuktian kekayaan seseorang yang diduga diperoleh secara tidak sah.
Sumber : MUI.or.id, Viva.co

Jihadusy Syaitan (Jihad Melawan Syaitan)

Jihadusy Syaitan atau jihad melawan syaitan memiliki dua poin, yakni melawan syubhat (rancu pikiran) dan syahwat (hawa nafsu).
Melawan syubhat itu jihad. Imam Ahmad bin Hambal menentang paham bahwa Al Qur’an itu makhluk.  Sebab ia berujung kalau makhluk bisa salah bisa benar.
Melawan syubhat itu jihad. Hingga kini penerus jejak syubhat terus ada. Penyesatan logika adalah cara merusak akidah yang efektif.
Melawan syahwat adalah jihad. Seperti Yusuf lari dari goda jelita, seperti Al Miski melumurkan kotoran ke tubuhnya saat diajak berzina.
Melawan syahwat itu jihad. Menyegerakan menikah, berlari dari yang haram dan keji menuju yang halal lagi suci perlu keberanian tinggi.
Mengendalikan syahwat itu jihad. Cinta ialah ujian yang menghanyutkan. Didunia maya berpindah dari keshalihan menuju dosa nista bisa dilakukan hanya dengan satu klik saja.
Melawan syahwat itu jihad. Sebab ujiannya berkelit dan rumit. Wanita, harta, tahta, berpadu, lalu didaya gunakan syaitan habis-habisan.
Melawan syahwat itu jihad. Sebab harta dan kenikmatan dunia itu memabukkan, menagihcandukan dan tak memberi puas seberapa pun banyaknya.
Melawan syahwat itu jihad. Sulaiman as memang hebat, berkuasa atas manusia, jin, hewan dan angin. Tapi tak dimabukkan sombong dan bangga hati. Berbeda dengan Fir’aun tak sekuasa Sulaiman as hanya Nil, Mesir dan Bani Israil. Tapi dia tak tahan untuk berkata, “Aku Tuhan!”
 
Sumber :
Menyimak Kicau Merajut Makna, Salim A. Fillah, ProU Media

Jihadun Nafs (Jihad Terhadap Diri)

Jihadun Nafs (Jihad Terhadap Diri) adalah bagian yang mendasar dan pokok dari pembagian jihad oleh Ibnul Qayyim Al Jauziyah. Terdiri atas lima point :

  1. Mengimani Al Huda dan Dinul Haq (Surah Ash Shaff ayat 9)
  2. Mengilmuinya
  3. Mengamalkannya
  4. Mendakwahkannya
  5. Bersabar dalam keempatnya

Beriman adalah jihad. Iman kadang adalah mata yang terbuka, mendahului datangnya cahaya. Ia keyakinan hati yang menyusuri jalan bukti.
Berilmu adalah jihad. Sebab ia menghajatkan kesungguhan. Mengerahkan waktu, tenaga, pikiran dan harta. Kesabaran untuk berpayah memahami.
Beramal adalah jihad. Sebab setiap ilmu mengejar-ngejar jiwa dan raga yang kadang disergap lelah dan malas agar ia diamalkan serta dibaktikan.
Berdakwah adalah jihad. Sebab menyampaikan kebenaran, memerintahkan yang baik, mencegah yang mungkar, dan membawa bahaya.
Bersabar dalam keempatnya baik mengimani, mengilmui, mengamalkan dan mendakwahkan adalah jihad. Sebab keempat hal itu hanya bisa ditanggung jiwa yang kokoh.
Bersabar mengimani adalah jihad. Saking beratnya kadang harus memejam mata. Seperti Nabi Muhammad dalam perang Badar. Seperti Nabi Ibrahim saat akan menyembelih putranya.
Bersabar mengilmui adalah jihad. Seperti Nabi Sulaiman memahamkan Nabi Dawud, Imam Bukhari kembarai ratusan negeri mencari hadist shahih, Imam Syafi’i menjaga hafalan.
Bersabar mengamalkan itu jihad. Seperti Abdullah bin Amr puasa Dawud sampai akhir hayat, Sa’id bin Al Musayyab selalu qiyamul lail selama 50 tahun.
Bersabar mendakwahkan itu jihad. Seperti Mush’ab taklukkan Madinah, Ibnul Jauzy islamkan 30.000 pagan, Fadlan Garamatan jelajahi Papua untuk berdakwah.
 
Sumber :
Menyimak Kicau Merajut Makna, Salim A. Fillah, ProU Media

Makna Jihad

Jihad berakarkan dari ‘al juhdu‘, yakni kesungguhan yang dikerahkan hingga batas kepayahan. Pada orang demikian, pertolongan Allah dekat dan datang.
Dalam kitab Madarijus Salikiin, Ibnu Qayyim Al Jauziyah menggolongkan jihad berdasarkan lawan yang harus dihadapi, diantaranya :
Jihadun Nafs (jihad terhadap diri sendiri), Jihadus Syaitan (jihad melawan syaitan), Jihadu ahlil ma’ashi wal bida’ (jihad melawan ahli maksiat dan bid’ah), dan Jihadu ahlil kufri wasy syirki (jihad melawan kafir dan musyrik yang boleh diperangi).
 
Sumber :
Menyimak Kicau Merajut Makna, Salim A. Fillah, ProU Media

Memakna Syukur

Bersyukur itu melatih ketakjuban. Jika berhasil menemukan kebahagiaan dalam hal-hal kecil, yang besar akan lebih dahsyat. Kita mengucapkan terima kasih atas apa yang kita terima. Jika tak bisa berterimakasih kepada manusia, takkan utuh mensyukuri Allah.
Dalam ketakjuban kala membaca ayat dan ciptaan-Nya, terukir jalan untuk membuat terobosan mashlahat bagi umat manusia. Kata “Alhamdulillah” menjadi fadhilah nikmat atas karunia-Nya.
Dalam “lillah” (berjuang dijalan Allah) pasti ada lelah. Tetapi beserta kesulitan ada kemudahan, dan nikmatnya rehat tak diperoleh dengan bersantai. Ada galau yang membuat berdzikir. Damai yang membuat berpikir. Tafakur yang membuat tak kikir. Semua ada hikmahnya.
Bersyukur menyibak kabut. Ia menuntun ke jalan-jalan kebaikan yang kadang tersembunyi dibalik kesulitan-kesulitan menghadang.
Walaupun tidak ada penghargaan orang atas kebaikan yang kita lakukan, tetaplah syukuri berlipat. Mungkin Allah hendak menyempurnakan balasan.
Selalu ada hal untuk disyukuri. Maka selalu juga ada peluang untuk karunia-Nya ditambah berlipat kali.
Ada dua rabun dekat yang paling gawat : tak mau menginsyafi aib diri, dan tak mampu melihat nikmat yang berlimpah untuk disyukuri.
Dan terhadap nikmat Rabbmu, unjukkanlah ungkapan syukur. Dunia sudah menderita, jangan bebani dengan keluh kesah kita. Dunia merupakan tempat menikmati hal yang penting, bukan mementingkan yang nikmat.
 
Sumber :
Menyimak Kicau Merajut Makna, Salim A. Fillah, ProU Media