by Danu Wijaya danuw | Oct 17, 2016 | Artikel, Dakwah
Keberhasilan tak cukup dirayakan dengan tahmid kesyukuran, ia digenapi tasbih kehambaan dan mohon keampunan. ….Innahu kaana tawwaabaa. (Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima Taubat) Q.S. An Nasr ayat 3.
Mengukur keberhasilan ibadah kala didunia agaknya musykil. Sebab nabi Ayyub as hancur kebun dan ternaknya bukan karena kurang sedekah.
Seringkali keberhasilan dalam suatu hal, justru mengantakan kita pada kedudukan yang akan mengungkapkan ketidakmampuan kita.
Keberhasilan dalam shalat menurut Mushtafa Masyur, “Khusyuk shalat yang paling nyata adalah tercegahnya diri dari perbuatan keji dan mungkar sebagai dampaknya.”
Sumber :
Menyimak Kicau Merajut Makna, Salim A. Fillah, ProU Media
by Danu Wijaya danuw | Oct 14, 2016 | Artikel, Dakwah
Kita mandi, berharum wangi, berhias rapih, celaki mata dan siwaki gigi. Lalu mohon pada Allah agar hiaskan akhlak mulia dalam diri. Kita berdandan, kenakan pakaian bersih, kopiah terindah dan surban yang ranggi. Lalu mohon pada-Nya ampunan dan tutupi aib diri.
Kita jalan tebarkan senyum, ulurkan tangan, jabatkan tangan, pelukkan bahu. Lalu mohon pada Allah agar ukhuwah tautkan hati. Kita juangkan diri menahan kuap. Menyimak khutbah yang mewasiatkan taat. Lalu mohon pada Allah agar mengaruniakan takwa dalam jiwa.
Semoga Jum’at kita perayaan Iman. Allah dan Rasul teragung melebihi segala. Cinta dan benci karena-Nya. Dan kita tak suka kembali pada dosa dan jahiliah lama.
Semoga Jum’at kita perayaan Islam. Berserah tunduk pada Allah semata dan membebaskan sesama dari gelap kezaliman menuju hidup bercahaya.
Semoga Jum’at kita perayaan Ihsan. Mengibadahi Allah seakan hadir nyata dihadapan dan merasa diawasi-Nya dalam apapun berkegiatan.
Jum’at ini semoga Allah cahayai pembaca Al Kahfi, ampuni yang mandi dan bersuci, sayangi yang berhias dan berwewangi, takwakan hati.
Jum’at ini semoga terteladani keteguhan pemuda Kahfi, semangat belajar Musa sang Nabi, dan kesigapan Dzul Qarnain yang rendah hati.
Jum’at ini shalawat untukmu Ya Nabi. Semoga Allah balas berlipat puluh. Semoga Dia ridhai sambutmu atas kami di telaga suci. Syafa’at terberi.
Sumber :
Menyimak Kicau Merajut Makna, Salim A. Fillah, ProU Media
by Danu Wijaya danuw | Oct 13, 2016 | Artikel, Dakwah
Ditengah bumi yang sesak oleh lamisnya bibir, palsunya kata, dan basinya basa, alangkah lezat dan syahdu firman-Mu Yang Mahabenar.
Yang lebih indah bukan lepas dari masalah, tapi mengeja kesabaran. Yang lebih jelita bukan mendapat karunia, tapi menampak kesyukuran. Yang tercerdas adalah yang paling banyak mengingat matinya. Yang terhebat adalah yang paling gigih menyiapkan bekalnya.
Tangis karena Allah itu embun yang membasuh bunga ruhani. Senyum adalah hangat sinaran yang memekarnya. Suci. Jelita. Insan memandang wajah, maka penampilan kita perindah. Allah menatap hati, maka gandakan perawatan agar ia rapih dan suci.
Salah satu hal yang paling merusak kebahagiaan kita adalah tumbuhnya hasrat untuk menyusahkan orang lain. Setiap detik adalah pertambahan rugi, kecuali terisi iman, keshalihan, dan saling wasiat untuk kebenaran dan kesabaran.
Hidup yang mulia, hina jika angkuh. Hidup yang indah, gersang jika dengki. Hidup yang mudah, susah jika tamak. Kebenaran tak harus dikawal kemegahan, sebagaimana Musa yang gagap bicara, seperti Yahya pun tinggalnya di padang gurun.
Sumber :
Menyimak Kicau Merajut Makna, Salim A. Fillah, ProU Media
by Danu Wijaya danuw | Oct 13, 2016 | Artikel, Dakwah
Suami dan istri berbeda. Jangan mencintai pasangan dengan cara kita ingin dicinta. Cintailah dengan cara dia ingin dicintai.
Suami ingin dicinta dengan dipercaya dan diberi keleluasaan. Jangan perlakukan istri dengan cara itu. Justru berikan perhatian. Istri ingin didengarkan sepenuhnya dan dimengerti segala. Jangan anggap suami juga begitu. Justru beri ruang untuk kediriannya.
Suami mementingkan solusi dalam tiap persoalannya. Istri tidak. Saat istri keluhkan masalahnya, jangan memotong dengan solusi. Istri mudah dengarkan curhat orang, sebagaimana begitulah dia ingin diperlakukan. Suami tidak. Baginya tidak mendengarkan itu berat.
Bagi istri, mendengarkan harus disertai kontak mata dan respon bahasa tubuh. Bagi suami, kontak mata dengan yang dicinta itu sulit. Suami hanya kuat tatap mata istri selama 4 detik, lalu blank. Maka aturlah ganti-ganti fokus diwajah istri saat mendengarkan.
Keluhan nomor 1 para istri adalah, “Saya merasa tak didengarkan!” Jika telinga suami tak bersedia mendengar, dia cari telinga lain. Sabarlah mendengar pasangan meski cerita sama berulang. Seperti usai menonton sepak bola bersama kawan tetap seru. Jangan potong cerita pasangan meski kita tahu ending-nya. Ini bukan soal apa, tapi berkisah: cinta tak tergantikan. Menyudahi keluhan istri dengan, “Mari kita cari pembantu!” itu menyakitkan. “Oh jadi selama ini aku dianggap pembantu.”
Melihat wajah suami saat suntuk lalu memaksanya bercerita pasti merusak harmoni. Saat tertekan, yang dibutuhkan suami bukan curhat. Bagi istri, cerita masalah meringankan beban. Bagi suami, curhat itu rasanya menyangkut ketidak berdayaan, batinnya terluka. Istri berkisah saat masalah hadir. Suami bercerita setelah masalahnya berhasil diselesaikan. Itu memupuk jiwa dan kepemimpinan. Maka saat kaulihat suami suntuk terbeban, yang harus kau sediakan ialah ruang sunyi untuk menyendiri, kontemplasi, rumuskan solusi.
Ingat saat sang suami, Muhammad saw shock setelah turun wahyu pertama? Khadijah sebagai istri tak bertanya, yang disediakannya pengertian dan selimut nyaman. Suami yang tertekan kadang jadi sulit bicara dan tak mampu jawab tanya. Ingat pula Nabi Ibrahim saat diperintahkan tinggalkan Hajar dan bayinya?
Corpus callosum yang hubungkan dua belahan otak istri lebih banyak dibanding suami. Maka istri lebih sanggup ber-multitasking. Maafkanlah suami jika dia gagap, bingung, dan tertekan saat istri membawanya ke ritme multitasking yang perlu kecerdasan ekstra.
Kecerdasan istri yang lebih itu membuatnya kadang bicara dalam kalimat tak langsung yang sulit ditangkap dan dipahami suami. Misal : “Mas, anak-anak belum dijemput, Aku masih harus masak dan nyiapin arisan nih!” Maksudnya pasti : Jemputlah anak-anak, Mas!” Jawaban yang biasa diberikan suami yang kalah cerdas sambil tetap membaca koran, “Nggak apa-apa, nanti mereka bisa pulang sendiri.!”
Jika meminta suami lakukan sesuatu, jangan berhenti saat dia iyakan sementara dirinya masih menyambi sesuatu yang kurang penting. Pilih saat dan cara yang manis, dekati, tatap mata, serahkan alatnya/sapu sambil merajuk manja.
Sumber :
Menyimak Kicau Merajut Makna, Salim A. Fillah, ProU Media
by Danu Wijaya danuw | Oct 12, 2016 | Artikel, Dakwah
Al Alamah Abdul Aziz bin Baz ditanya tentang memakai sandal hanya sesisi, “Itu haram Ananda, sebagaimana termaktub dalam hadis shahih yang mana Nabi melarang memakai sandal hanya sebelah.” jawab beliau. “Kalau cuma selangkah?” lanjut si penanya. Beliau pun tersenyum dan berujar lembut, “Duhai Ananda, mari kita berjuang untuk tak mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, walau hanya selangkah.”
Sumber :
Menyimak Kicau Merajut Makna, Salim A. Fillah, ProU Media
by Danu Wijaya danuw | Oct 12, 2016 | Artikel, Dakwah
Berkata Abdullah bin Mas’ud, “Allah memeriksa hati para hamba-Nya, maka didapati-Nya hati Muhammad saw ialah yang paling bening memancarkan cahaya, maka Dia memilihnya agar pada Muhammad saw diamanahkan-Nya risalah yang paripurna untuk semesta.
Lalu Allah melihat hati para hamba lainnya. Dan didapati-Nya hati para sahabat Muhammad-lah yang paling jernih memantulkan cahaya. Maka Allah pun memilih mereka untuk mendampingi sang Nabi menegakkan risalah itu.”