0878 8077 4762 [email protected]

Makna ilir-ilir

Berseminya dakwah di Indonesia abad 15 tertuang dalam lagu ilir-ilir yang diciptakan Sunan Kalijaga. Kata Sunan Kalijaga, lir-ilir tandure wus similir, apa yang ditanam telah tumbuh. Benih-benih Islam itu telah mencuat jadi tunas-tunas indah.
Lanjut senandung Sunan Kalijaga, Tak ijo royo-royo, menghijau menyejukkan, menyegarkan, memudakan. Warna surgawi memfirdauskan bumi.
Tak sengguh temanten anyar, umpama Sunan Kalijaga. Bagai pengantin baru, dakwah ini tampan-cantik, raja-ratu sehari yang orang berebut melayani.
Cah angon-cah angon, panggil Sunan Kalijaga. Wahai gembala-gembala, wahai dia yang membimbing umatnya.
Penekno blimbing kuwi, pinta Sunan Kalijaga. Panjatlah pohon belimbing itu, ambillah aqabah; jalan yang mendaki sulit seperti Nabi.
Lunyu-lunyu penekno, bujuk Sunan Kalijaga. Walau licin, walau terjal, tetaplah mendaki; membebas budak, merawat yatim, menyantun fakir miskin.
Kanggo masuh dodotiro, jelas Sunan Kalijaga. Untuk basuh pakaianmu yang bernoda masa lalu, untuk tebus khilafmu yang membelenggu jiwa sendu.
Dodotiro, dodotiro, kumitir bedah ing pinggir, tunjuk Sunan Kalijaga. Pakaianmu itu terkoyak sobek di tepian. Amalmu cacat, iman berlubang.
Dondomono, lumatono, saran Sunan Kalijaga. Jahitlah, sulamlah, tambalah. Dengan mengikuti setiap buruk terlanjur dengan kebaikan bertubi.
Kanggo sebo mengko sore, nasihat Sunan Kalijaga. Untuk menghadap Allah kelak nanti. Untuk memantaskan diri dihadapan Rabbul Izzati.
Mumpung padang rembulane, pesan Sunan Kalijaga. Mumpung purnama itu sang candra, cahaya menyinar jalan, terang membimbing langkah.
Mumpung jembar kalangane, kata Sunan Kalijaga. Mumpung luas medan dihadapan. Telah menyingkir alang perintang. Telah pergi tiran penentang.
Dhasuraka, surak hiyo, ajak Sunan Kalijaga. Mari bersorak menegaskan kemenangan dakwah. Teruslah berkarya tanpa lelah, tanpa lengah.

Lembutkan Hatimu

Aidh Al Qarni mericaukan; Siapa yang cerah jiwanya oleh takwa, jernih hatinya sebab iman, jelita akhlaknya dengan kebajikan, niscaya dicinta Allah dan para insan. Tiap yang menimpamu, Allah menanggung pahalanya baik iu cekaman gelisah, nestapa, sedih, lapar, kefakiran, penyakit, utang dan musibah. Nikmatilah pemandangan pagi kala terbitnya. Sungguh padanya ada kejelitaan dan keagungan, yang membuka bagimu imaji dan optimisme.
Seyogyanya bagi yang dlimpahi karunia, ikatlah dengan syukur, jagalah  dengan taat, rawatlah dengan kerendahan hati agar lestari. Subhanallah; berhina padaNya jadi mulia, berfakir padaNya jadi kaya, tunduk padaNya jadi luhur, tawakal padaNya jadi cukup. Hal tercantik didunia, mencinta Allah. Hal terindah disurga menatap Allah. Buku teragung kitab Allah. Insan terbaik Rasul Allah.
Yahya bin Mu’adz Ar Razy menuturkan, “Sebaik-baik hal adalah ucapan shahih dari lisan fasih diwajah jernih, perkataan menghanyut dari dalamnya laut di lisan lelaki lembut.
Nabil Al Awady bertutur, ” Ya Allah, kumpulkan kami di surga-Mu, teduhi kami dengan naungan-Mu, ampuni dosa kami, Ya Arhama Raahimiin.
 
Sumber :
Menyimak Kicau Merajut Makna, Salim A. Fillah, ProU Media

Krisis di Masa Umar

Tentang krisis besar Tahun Ramadah dimasa Umar bin Khathab, ketika bumi berwarna abu-abu akibat kering yang membunuh. Sungguh benar, barakah itu bukan berarti tiada persoalan. Disebaik-baik zaman, dipimpin lelaki penuh iman, krisis tetap ada.
Pintu keberkahan yang terbuka dari langit dan bumi ketika penduduk negeri beriman dan bertakwa (Surat Al A’raaf ayat 96) bisa saja berbentuk musibah.
Maka krisis itu mengungkapkan lebih jauh tentang sosok Umar yang bukan hanya keras dan tegas, tapi sungguh penyantun dan penyayang. Dia haramkan bagi dirinya segala makanan lembut dan lezat. Dimakannya tepung kasar, garam, kurma yang berulat dan lemak kertas. Kulitnya yang semula putih kemerahan, berubah menghitam, kering dan pecah-pecah. Galur air mata dipipinya kian dalam.
Demikian pula, rakyat yang dipimpin Umar terbimbing penuh kepedulian, prihatin bersama, saling membantu dan membahu. Tercontoh Uwais Al Qarni setiap hari dia berkeliling membagi makanan, hingga lelah dan tak sanggup berjalan. Lalu dia menangis. Dalam tangis, berdoalah Uwais, “Ya Allah, janganlah Engkau marah padaku jika hari ini masih ada hambaMu yang kelaparan.”
Duhai sedihlah hari ini mengukur kemuliaan dengan tak adanya derita yang menghinggapi. Lihatlah Umar dan rakyatnya dalam lapar dan dahaga. Jangan kiranya hari ini kekayaan menjadi Tuhan, diangankan, dirindukan, dicitakan, dipikirkan, dibincangkan, melebihi Allah. Hari itu, ujar Hasan Al Bashri mulialah mereka sebab tiada beda memandang emas ataukah tanah, tapi persaudaraan imani menggelora.
 
Sumber :
Menyimak Kicau Merajut Makna, Salim A. Fillah, ProU Media

Keindahan Hukum di Zaman Ali

Kasus hukum zaman Ali menarik jua, sengketa penguasa vs minoritas. Baju besi milik Ali bin Abi Thalib satu waktu lenyap saat persiapan tempur. Berikutnya ia terlihat dipakai oleh seorang Yahudi. Ali sangat mengenali baju besi miliknya itu, maka disergahlah si Yahudi dengan santun, “Saudara, setelan dzir’a itu milikku!”
“Jika ia melekat pada tubuhku,” tukas si Yahudi berkacak pinggang, “maka ia adalah milikku. Anda tak bisa mengaku sembarangan.”
“Sebab aku sangat mengenali milikku, dan kau hanya mengaku dengan bukti lekatnya ia ditubuhmu, bagaimana kalau kita ber-tahkim?” balas Ali.
“Apakah dia bisa berbuat adil, dimana aku seorang Ahli Kitab, sedangkan engkau Amirul Mukminin?” selidik si Yahudi.
“Demi Musa yang mengutus Taurat,” ujar Ali, “aku yang pertama-tama meluruskannya dengan pedang jika dia bengkok.”
Maka pergilah mereka pada Hakim Syuraih. “Selamat datang Amirul Mukminin!” sambut Syuraih. Kemudian sidangpun berjalan.
“Sudah tiga kali ketidakadilan kurasakan sejak masuk majelismu hai Syuraih!” tegur Ali. “Luruskanlah atau kelayakanmu dalam mengadili batal!” Pertama, kau panggil aku dengan gelar, sementara dia hanya nama. Kedua, kau dudukkan aku disisimu, sementara dia dihadapan kita. Ketiga, kau biarkan aku menjawab tanpa bantahan, sedangkan jawaban dia kau pertanyakan lagi.” Si Yahudi heran dengan keberatan Ali.
Setelah beberapa hal diluruskan, Syuraih berkata, “Amirul Mukminin, ini memang baju besimu yang jatuh dari kuda saat di Auraq. Tetapi untuk memutuskan bahwa ini memang milikmu,” lanjut Syuraih, “aku tetap membutuhkan kesaksian dua orang lelaki adil.”
“Maka inilah Hasan dan pelayanku Qanbur sebagai saksiku!” ujar Ali. “Qanbur bisa kuterima,” jawab Syuraih, “tapi Hasan tidak. Kesaksian seorang anak untuk ayahnya tidak dapat diterima oleh pengadilan ini!” tegas Syuraih. Ali tercenung sejenak.
“Tapi tidakkah engkau mendengar,” sanggah Ali, “Umar berkata bahwa Rasul bersabda, “Al-Hasan dan Al-Husein itu penghulu pemuda surga.”
” Maaf,” kata Syuraih sambil tersenyum, “aku tak menemukan dalil bahwa hal semacam itu bisa mengecualikan dalam hak persaksian.”
Maka Syuraih memutuskan bahwa baju besi itu menjadi milik si Yahudi, sebab Ali gagal menghadirkan dua orang saksi untuk pengakuannya. Tersentuh, si Yahudi masuk Islam dan hendak mengembalikan baju besi yang memang adalah milik Ali itu.
Ali menolak. “Tidak,” katanya, “kau sekarang saudaraku, maka itu juga kuda ini hadiah dariku agar tumbuh cinta diantara kita.
 
Sumber :

  • Hilyatul Auliya (Abu Nu’aim), Subulus Salam (Ash-Shan’ani), Akhbarul Qudhah (Muhammad bin Khalaf), dan lain-lain.
  • Beberapa Ulama hadis Muta’akhirin enggan menerimanya sebab meski terdapat tiga jalur periwayatan hadis, ada sedikit cela pada sanadnya.
  • Abul A’la Al-Maududi mengatakan, Andai standar penshahihan hadis diterapkan untuk tarikh (sejarah), kita akan kehilangan 3/4 sejarah Islam. Maka sanad kisah ini masih ‘termaafkan’.

Hanya Allah yang Mengetahui Orang Bertakwa

Saat Usamah ra tetap membunuh seseorang yang telah mengucap syahadat didepannya ketika perang dengan alasan karena orang itu hanya cari selamat, maka Rasulullah mengkoreksi sikapnya itu dengan berkata, “Apakah engkau telah membelah dadanya? (Melihat isi hatinya)”
Beliau tidak mengajari umat untuk saling curiga dan tidak percaya. Kita disuruh melihat zahirnya saja.
Sayangnya sikap bijak Rasulullah diatas tidak lagi diteladani oleh umat. Begitu mudah dan menuduh saudara seiman. Tanpa mau percaya pada pernyataan dan pengakuannya.
Dalam surat An-Najm ayat 32, Allah berfirman,
فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَىٰ…
Artinya : “…maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang bertakwa.”

Mencari-cari Kesalahan Muslim

Imam Abu Hatim al-Busti rahimahullah berkata : Tajassus berupa mencari-cari kesalahan orang lain terutama kepada muslim adalah cabang kemunafikan. Sebagaimana sebaliknya prasangka baik adalah cabang keimanan.
Orang berakal akan berprasangka baik kepasa saudaranya dan tidak mau membuatnya sedih dan berduka. Sedangkan orang bodoh akan berprasangka buruk kepada saudaranya dan tidak segan-segan berbuat jahat dan membuatnya sedih.