by Danu Wijaya danuw | May 20, 2017 | Artikel, Berita, Nasional
INGGRIS – Wakil Presiden Jusuf Kalla mengangkat vonis atas Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok saat menyampaikan kuliah umum tentang Islam di Universitas Oxford, Inggris.
Dengan tema ‘Islam Jalan Tengah: Pengalaman Indonesia’, Kalla meminta negara-negara Eropa untuk menghormati vonis atas Basuki Tjahaja Purnama, berupa dua tahun penjara karena terbukti menista agama Islam.
“Saya sangat memahami bahwa Inggris dan negara-negara di Eropa memiliki undang-undang dan sistem hukum yang berbeda untuk persoalan ini,” jelasnya saat berbicara di Oxford Centre for Islamic Studies (OXCIS), Kamis (18/5/2017) petang waktu setempat seperti dilansir dari BBC
“Tapi sebagai bagian dari sistem demokrasi kita harus menegakkan tatanan hukum, kemandirian lembaga peradilan, dan menghormati satu sama lain,” ujarnya
Kepada sekitar 200 hadirin, Kalla menambahkan bahwa kasus penistaan agama tersebut saat ini sedang dalam proses banding.
Ia juga mengatakan bahwa secara pribadi mengenal Ahok yang digambarkannya sebagai gubernur yang punya dedikasi tapi juga impulsif.
Dalam sesi tanya jawab, hadirin bertanya soal Ahok dan Kalla menegaskan bahwa yang terjadi bukanlah diskriminasi agama.
“Ini soal demokrasi. Dalam demokrasi Anda harus siap menerima kemenangan dan kekalahan. Jika Anda kalah, Anda harus menerima kekalahan,” katanya.
Kasus yang dihadapi Ahok, menurutnya, adalah tentang penghinaan agama dan negara-negara lain juga punya aturan untuk penghinaan, misalnya di Thailand dengan peraturan bahwa raja dan kerajaan tak boleh dihina.
“Anda menghina raja, Anda akan dipenjara. Sama dengan di negara-negara lain, termasuk Indonesia. Anda tak boleh menghina agama dan Ahok, menurut pengadilan -setelah enam bulan menggelar perkara- bersalah,” kata Kalla.
“Di Inggris juga begitu, kalau dinyatakan bersalah, Anda akan dipenjara, apa pun agama Anda,” pungkasnya
Sumber : Merdeka
by Fauzi Bahreisy fauzibahreisy | May 20, 2017 | Artikel, Qur'anic Corner
Tadabbur Q.S. Al Baqarah ayat 183
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
[الجزء: ٢ | البقرة ٢ | الآية: ١٨٣]
Tadabbur 1:
Allah memanggil orang beriman; bukan semua orang. Sebab yang mau mendengar dan mau taat hanya orang yang memiliki iman.
Saat Abdullah ibn Mas’ud ra diminta nasihat, beliau berkata:
“Bila Allah memanggil dengan ‘Ya ayyuhal Ladzina amanu’, perhatikan baik-baik! Sebab setelah itu ada kebaikan yang Allah perintahkan atau ada keburukan yang Dia larang.”
Itulah panggilan sayang Allah kepada setiap mukmin..
Tadabbur 2:
Puasa adalah kewajiban yang istimewa. Pasalnya, bila shalat, zakat dan lain-lain lebih kepada “menunaikan” dan “mengerjakan”.
Maka puasa sesuai dengan makna bahasanya adalah “menahan” diri untuk tidak melakukan.
Dengan kata lain, puasa mendidik manusia beriman untuk memiliki kemampuan kontrol diri yang kuat.
Seorang mukmin harus mampu mengontrol diri dan nafsunya (terutama nafsu makan, minum, dan syahwat); bukan malah menjadi budak nafsu.
Dari sini dapat dipahami bila puasa adalah madrasah ilahi yang luar biasa sehingga penetapan kewajibannya menggunakan kata “كُتِبَ”.
Wallahu a’lam
Oleh : Ustad Fauzi Bahreisy
by Danu Wijaya danuw | May 20, 2017 | Sejarah
Mengkritisi Peran Boedi Outomo
Beberapa tahun terakhir terutama pasca era reformasi, tema pelurusan sejarah menjadi tema utama yang banyak dikupas di berbagai diskusi. Baik yang sifatnya obrolan ringan, diskusi kampus, seminar, bahkan sampai debat publik. Di dunia maya, diskusi tentang tema inipun marak. Artikel dan komentar muncul dari beragam profesi yang berbeda. Mulai dari mahasiswa, dosen, pemerhati sejarah, dan sejarawan turut serta meramaikan tema besar ini.
Salah satu isu penting yang dikritisi adalah ketetapan pemerintah mengenai hari peringatan kebangkitan nasional.
- Kenapa harus tanggal 20 Mei dijadikan sebagai hari kebangkitan nasional?
- Kenapa harus Boedi Oetomo dijadikan simbolnya?
Setidaknya dua pertanyaan fundamental di atas adalah gambaran wujud kegelisahan para sejarawan dan negarawan muslim.
Pemerintah menetapkan kelahiran BO sebagai hari peringatan kebangkitan Nasional pada tahun 1948. Saat itu kondisi bangsa tengah porak-poranda diterpa agresi Belanda dan terancam diistegrasi. Ki Hajar Dewantoro membicarakan kondisi pelik bangsa dengan menteri Mr. Ali Sastroamidjojo. Sehingga lahirlah ide untuk mengenang sebuah momen penting yang diperingati sebagai hari kebangkitan nasional. Usulan itu sampai ke telinga Bung Karno dan Bung Hatta. Akhirnya diputuskanlah 20 Mei yang notabene merupakan tanggal kelahiran BO sebagai hari peringatan yang dimaksud.
Keputusan yang dipandang aneh oleh sejarawan dan negarawan Muslim. Bagaimana mungkin kelahiran BO ditasbihkan sebagai hari bersejarah.
Memang benar bahwa keabsolutan sejarah bisa berubah menjadi relatif bila sudah bersentuhan dengan kepentingan politik dan kekuasaaan. Realitas sejarah bisa dengan mudah didistorsi bila bertolak belakang dengan spirit dan ideologi kekuasaan. Sejarah adalah milik penguasa.
Mengenal Boedi Outomo
“Boedi” artinya perangai atau tabiat sedangkan “Oetomo” berarti baik atau luhur. Boedi Oetomo yang dimaksud oleh pendirinya adalah perkumpulan yang akan mencapai sesuatu berdasarkan atas keluhuran budi, kebaikan perangai atau tabiat, kemahirannya.
Pada hari Minggu, 20 Mei 1908, bertempat di salah satu ruang belajar STOVIA, Soetomo menjelaskan gagasannya. Dia menyatakan bahwa hari depan bangsa dan Tanah Air ada di tangan mereka. Maka lahirlah Boedi Oetomo.
Perintis organisasi ini, menurut sejarawan bernama M.C. Ricklefs (1994), yaitu didirikan oleh Dr. Wahidin Soedirohoesodo (1857-1917). Ia adalah seorang lulusan Sekolah Dokter Jawa di Weltevreden (yang sesudah tahun 1900 dinamakan Stovia). Ia bekerja sebagai dokter pemerintah di Yogyakarta sampai tahun 1899.
BO beberapa kali mengadakan kongres untuk meletakkan garis pergerakannya. Pada kongres perdana di Yogyakarta tahun 1908, Cipto Mangunkusumo dan Dr. Rajiman Wedyodinigrat mengusulkan agar BO dijadikan partai politik dengan beranggotakan masyarakat banyak yang bukan priyayi, namun usul itu ditolak oleh kongres.
Memang mayoritas para pemimpin berasal kalangan “priayi” atau para bangsawan dari kalangan keraton, seperti Raden Adipati Tirtokoesoemo, bekas Bupati Karanganyar (presiden pertama Budi Utomo), dan Pangeran Ario Noto Dirodjo dari Keraton Pakualaman.
Aktifitas yang digeluti oleh BO boleh disebut hanya berkutat di bidang pendidikan dan kebudayaan. Sedangkan aktifitas politik tidak dilakukan sama sekali. Hal ini adalah keberhasilan politik etis yang diagendakan Belanda.
Sistem pendidikan yang dianut dalam BO sendiri adalah adopsi pendidikan Barat. BO sendiri sangat kooperatif dengan pemerintah Kolonial. Tak heran sejak tahun 1909, BO sudah disahkan oleh Belanda. Bahkan, anggaran dasarnya pun berbahasa Belanda.
Menjadi anggota BO tidak mudah. Selain bangsawan dan ningrat keturunan Jawa dan Madura jangan harap bisa bergabung. Nuansa kesukuan sempit sangat kental terasa.
Konsep persamaan derajat dan kesetaraan tidak dikenal dalam organisasi ini. Sistem pendidikan dan ekonomi yang dianut sejalan dengan kebijakan pemerintah kolonial pada masa itu. Terdapat tembok tebal yang memisahkan antara golongan bangsawan Jawa-Madura dengan inlander biasa.
Lalu pantaskah gerakan semacam ini dijadikan sebagai pelopor kebangkitan nasional?
Entah kebangkitan apa yang dimaksud. Setiap tahun momentum kelahirannya selalu diperingati oleh bangsa kita. Seakan-akan bangsa ini mengkhianati cita-cita luhurnya.
Kritik Para Sejarawan Terhadap BO

Asvi Marwan Adam, sejarawan LIPI menilai bahwa BO tidak layak disebut sebagai pelopor kebangkitan nasional. Menurutnya, BO bersifat kedaerahan sempit. “Hanya meliputi Jawa dan Madura saja” katanya.
Dalam buku yang ditulisnya, “Seabad Kontroversi Sejarah“ Asvi sendiri menulis bahwa Budi Utomo yang oleh banyak orang dipercaya sebagai simbol kebangkitan nasional, pada dasarnya merupakan lembaga yang mengutamakan kebudayaan dan pendidikan, dan jarang memainkan peran politik yang aktif. Padahal politik adalah pilar utama sebuah kebangkitan.
Pernyataan dari KH Firdaus AN malah lebih keras lagi. Menurut mantan ketua majelis syuro Syarikat Islam ini, BO adalah antek-antek penjajah. Beliau memberi bukti-bukti kongkret di antaranya:
- BO tidak memiliki andil sedikit pun untuk perjuangan kemerdekaan, karena mereka para pegawai negeri yang digaji Belanda untuk mempertahankan penjajahan atas Indonesia.
- BO tidak pula turut serta mengantarkan bangsa ini ke pintu gerbang kemedekaan, karena telah bubar pada tahun 1935.
- BO adalah organisasi sempit, lokal dan etnis, di mana hanya orang Jawa dan Madura elit yang boleh menjadi anggotanya. “Orang Betawi saja tidak boleh menjadi anggotanya,” kata KH. Firdaus AN dengan tegas.
Selain itu, KH Firdaus AN memaparkan, “Tidak pernah sekalipun rapat Boedi Oetomo membahas tentang kesadaran berbangsa dan bernegara yang merdeka. Mereka ini hanya membahas bagaimana memperbaiki taraf hidup orang-orang Jawa dan Madura di bawah pemerintahan Ratu Belanda, dan bagaimana memperbaiki nasib golongannya sendiri”.
Mengenai hubungan BO dengan Islam, KH Firdaus AN mengungkapkan adanya indikasi kebencian terhadap Islam di kalangan tokoh-tokoh Boedi Oetomo.
Noto Soeroto, salah seorang tokoh Boedi Oetomo, di dalam satu pidatonya tentang Gedachten van Kartini alsrichtsnoer voor de Indische Vereninging berkata: “Agama Islam merupakan batu karang yang sangat berbahaya. sebab itu soal agama harus disingkirkan, agar perahu kita tidak karam dalam gelombang kesulitan.”
Sebuah artikel di “Suara Umum”, sebuah media massa milik BO di bawah asuhan Dr Soetomo terbitan Surabaya, dikutip oleh A. Hassan di dalam Majalah “Al-Lisan” terdapat tulisan yang antara lain berbunyi,
“Digul lebih utama daripada Makkah”, “Buanglah ka’bah dan jadikanlah Demak itu Kamu Punya Kiblat!” (Al-Lisan nomor 24, 1938).
Fakta lainnya, ternyata ketua pertama BO, Raden Adipati Tirtokusumo, Bupati Karanganyar, ternyata adalah seorang anggota Freemasonry.
Spirit Kebangkitan Nasional Sarekat Islam

Kongres Sarekat Islam dengan anggota lintas daerah
Sebagai upaya meluruskan sejarah, bagi KH Firdaus AN, seharusnya pemerintah mengusung spirit kebangkitan nasional yang diprakarsai oleh Sarekat Dagang Islam (SDI).
Gerakan yang didirikan oleh Haji Samanhudi pada tanggal 16 Oktober 1905 ini lebih membumi. SDI yang berganti nama menjadi Sarekat Islam (SI) keanggotanya berasal dari beragam etnis, daerah, dan suku di seluruh Indonesia.
Haji Samanhudi dan HOS Tjokroaminoto berasal dari Jawa Tengah dan Timur, Agus Salim dan Abdoel Moeis dari Sumater Barat, dan AM. Sangaji dari Maluku. Sifat menasional Sarekat Islam juga tampak dari penyebarannya yang menyentuh pelosok-pelosok desa.
Di berbagai daerah untuk tahun 1916 saja, SI berhasil membuka 181 cabang di seluruh Indonesia. Jumlah anggota kurang lebih 700.000 orang. Tahun 1919 melonjak drastis hingga mencapai 2 juta orang. Sebuah angka yang fantastis kala itu. Jika dibandingkan dengan BO pada masa keemasannya saja hanya beranggotan tak lebih dari 10.000 orang.
Berbeda dengan BO yang tidak berani terjun ke dunia politik, akibat kebijakan politik etis Belanda saat itu. SI dengan gagah menekuni dunia politik dan berkonfrontasi langsung dengan penjajah. Belanda menganggap ini sebagai ancaman atas eksistensi mereka.
Mengingat cakupan SI yang luas meliputi bidang keagamaan, sosial, ekonomi, pendidikan, dan tentunya politik, akhirnya banyak anggota SI ditangkap, di buang ke Digul Irian Barat, atau dibunuh.
Perlakuan yang tentu tidak sama dengan apa yang dirasakan anggota BO. Inilah faktor utama yang membuat rakyat respek dan simpati pada perjuangan SI.
Walaupun organisasi ini berlabel agama, dimana selain kaum muslimin tidak boleh menjadi anggota, bukan berarti SI tidak peka terhadap perbedaan. Alasan menggunakan label Islam, karena hanya itulah harta yang tersisa, selebihnya telah dirampas Belanda.
Islam juga diyakini bisa menjadi sarana pemersatu bangsa. Bagaimanapun juga Islam mengakui plularitas. Islam mensejahterakan semua rakyat. Islam senantisa berpihak kepada yang lemah. Adanya faktor Islam inilah yang membuat SI lebih progresif, tidak terbatas pada kelompok tertentu, dan menginginkan adanya kemajuan bagi seluruh rakyat.
Upaya KH Firdaus AN pelurusan sejarah ternyata diamini juga oleh Asvi Marwan Adam. Baginya SI juga merupakan penggerak jiwa nasionalisme dan patriotisme yang tidak hanya mengedepankan otot dan kekuatan dalam melawan kolonialisme, meskipun SI menjadikan sentimen keagaamaan sebagai landasan pergerakannya. Sehingga tidak sedikit dari sejarawan yang berpendapat bahwa 16 oktober tanggal lahirnya SI lebih layak menjadi patokan kebangkitan nasional.
Kesimpulan keberpihakan Sejarah
Bila kita turut mengkaji sejarah Indonesia, terkesan ada upaya-upaya sistematis yang dilakukan oleh pihak-pihak sekuler untuk mengebiri peran umat Islam. Padahal sumbangsih umat Islam dalam perjuangan pra dan pasca kemerdekaan Indonesia tidak bisa dipungkiri. Proses deislamisasi tampak halus. Bagi umat Islam Indonesia yang tidak peka sejarah, tentu akan menerima begitu saja.
Mereka membesar-besarkan hari-hari dan tokoh-tokoh yang momen dan perannya tidak begitu dominan. Sejarah perjuangan bangsa ini sesungguhnya didominasi oleh perjuangan umat Islam.
Tanpa menihilkan peran umat agama lainnya, umat Islam punya andil yang nyata dalam menggelorakan semangat persatuan. Umat Islam memilih berkronfontasi dengan penjajah daripada kooperatif dengan mereka. Umat ini tidak pernah menerima kedaulatan atas tanah airnya dicederai, harga dirinya diinjak-injak, dan haknya dirampas.
Aneh sekali bila ormas dan partai Islam tidak turut ambil bagian dalam upaya pelurusan sejarah. Apalagi bila latah dan legowo menerima realitas pahit ini apa adanya. Bahkan, menjadikan beberapa hari peringatan yang ada sebagai syiar atau isu kampanye.
Padahal tema pelurusan sejarah adalah proyek besar. Proyek yang erat kaitannya dengan kemaslahatan umat untuk meraih legitimasinya atas perjuangan Republik ini.
Bagi pemerhati dan pakar sejarah, ada beberapa isu penting dari sejarah Republik ini yang perlu diluruskan. Upaya pelurusan sejarah ini telah, sedang, dan akan terus bergulir.
Ini penting dalam rangka mencerdaskan masyarakat dan mendudukkan perkara sesuai dengan hakikatnya. Harapannya agar kabut tebal yang menyelimuti isu-isu tersebut sedikit demi sedikit mulai hilang.
Rahasia-rahasia di baliknya mulai terungkap. Kebenaraan terselubung akan muncul dan tampak jelas di depan mata. Wallohu Maulana.
Dikutip dari : MuslimDaily
Oleh: Habib Ziadi, S.pdi
Alumni Ma’had Aly An-Nua’imy
by Danu Wijaya danuw | May 19, 2017 | Artikel, Berita, Internasional
Saat negara Uni Emirates Arab (UEA) mempersiapkan diri untuk menyambut bulan suci Ramadhan, ada salah satu ‘pemandangan’ unik yang muncul, yaitu tenda Ramadhan. Tenda dengan berbagai ukuran, desain dan warna mulai bermunculan di berbagai kota di Emirat, Khaleej melaporkan.
Sejumlah perusahaan makanan bersiap-siap untuk mendirikan tenda yang unik sebelum masa puasa tiba. Selama bulan Ramadhan, ketika umat Islam berpuasa, tenda Ramadhan yang besar dan kadang-kadang penuh hiasan adalah tempat bagi keluarga dan setiap orang untuk berbuka puasa atau untuk santap sahur.
Ada rasa yang berbeda dengan bulan Ramadhan tahun 2017 ini, di mana momen ini dijadikan sebagai kampanye ‘Year of Giving.’
Amal dan semangat kemurahan hati telah menjadi ciri khas Ramadhan di UEA, termasuk tahun ini.
Dengan demikian, banyak hotel, restoran, organisasi amal dan perusahaan swasta ramai-ramai mendirikan tenda Ramadhan yang canggih, dengan fitur keamanan dan keselamatan.
Tenda menjamur di setiap sudut dan sudut UEA, biasa dibangun oleh Bulan Sabit Merah UEA dan organisasi amal lainnya, hotel, rantai restoran, bank, perusahaan swasta, VIP, perorangan dan asosiasi.
“Kami telah sibuk menerima pesanan untuk tenda Ramadhan mulai Maret 2017 dan kami akan segera mengambil pesanan baru. Tahun ini kami juga sibuk dengan 5.000 meter persegi kawasan tenda Ramadhan, Hampir 1 juta meter persegi tenda yang dapat dilihat di UEA setiap tahunnya,” ungkap Danish bin Shakeel, Pemilik Tenda Al Ameera yang beroperasi sejak 1998.
Shakeel mengatakan sementara beberapa tenda telah dipasang, pekerjaan pada orang lain akan dimulai mulai 15 Mei dan seterusnya.
Sementara tenda terbesar di Masjid Syekh Zayed Masjid, Abu Dhabi, akan memakan waktu paling lama untuk menyelesaikannya.
Sumber : Khaleej Times/Islampos
by Danu Wijaya danuw | May 19, 2017 | Artikel, Berita, Internasional
Arab Saudi dikabarkan telah memulai proyek pembangunan 560 masjid di Bangladesh, Islam.ru melaporkan.
Proyek ini mulai dijalankan setelah Bangladesh menyetujui sebuah proyek untuk membangun ratusan masjid bernilai 1 miliar USD dari Arab Saudi pada April lalu.
Perdana Menteri Bangladesh Sheikh Hasina mencari dana dari Arab Saudi yang akan memberikan dana bantuan terbesar dari biaya proyek sebesar 1,07 miliar USD, dalam sebuah kunjungannya ke Saudi tahun 2016 lalu, kata Menteri Perencanaan Mustofa Kamal mengatakan kepada Strait Times.
“Pusat ibadah ini juga akan dilengkapi dengan fasilitas penelitian, perpustakaan dan pusat kebudayaan.
Masjid-masjid ini kelak menjadi model bagi negara berpenduduk mayoritas Muslim ini,” kata Shamim Afzal, kepala Yayasan Islam yang dikelola negara.
Bantuan dari Saudi tersebut dapat membantu pemerintah memantau khotbah yang mungkin bermuatan kebencian.
“Sebelumnya ini adalah sebuah tugas berat di Bangladesh, mengingat pemerintah harus memantau sedikitnya 300 ribu masjid yang ada,” ungkap seorang aktivis terkemuka Shahriar Kabir.
“Saya pikir pemerintah harus mengendalikan semua masjid di seluruh negeri.
Dengan begitu, dapat dengan mudah mengidentifikasi di mana ekstremisme dipromosikan,” kata Kaibir kepada AFP.
Sumber : Islam.ru/Straittimes/AFP
by Danu Wijaya danuw | May 19, 2017 | Adab dan Akhlak, Artikel
Sering kita mendengar diantara sesama muslim saling hina menghina, caci-mencaci bahkan saling tuduh-menuduh. Terlebih mereka yang menuduh sesama Muslim berbuat zina tanpa ada saksi dan bukti nyata.
Menuduh hanya untuk menjatuhkan dan menebar fitnah. Tahukah bahwa menuduh orang berbuat zina itu termasuk dosa besar dan mewajibkan hukuman dera.
Orang merdeka didera 80 kali dan hamba (budak) 40 kali dera, dengan beberapa syarat yang akan dibahas berikut ini.
Allah SWT. berfirman dalam Al-Qur’an surat An-Nur ayat 4 : “Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. Dan mereka itulah orang-orang yang fasik.”
Yang dimaksud wanita-wanita baik ialah wanita yang suci, yang taat kepada Allah, dan wanita-wanita shalihah.
Adapun dalil hukuman terhadap hamba (budak) 40 kali dera terdapat dalam qur’an surat An-Nisa ayat 25.
Syarat tuduhan yang mewajibkan dera 40 kali yaitu:
- Orang yang menuduh itu sudah baligh, berakal dan bukan orang tua atau nenek dan seterusnya dari yang dituduh.
- Orang yang dituduh adalah orang Islam, sudah baligh, berakal, merdeka, dan terpelihara (orang-orang baik).
Gugurnya Hukum Dera
Hukum tuduhan dari yang menuduh akan gugur melalui tiga jalan berikut ini:
- Terdapat empat orang saksi, yang dapat menerangkan bahwa yang tertuduh itu benar-benar berzina.
- Dimaafkan oleh yang tertuduh.
- Orang yang menuduh istrinya berzina dapat terlepas dari hukuman dengan jalan Li’an.
Dalil tentang mengemukakan empat orang saksi, dia terlepas dari hukuman terdapat dalam surat yang telah disebutkan diatas.
Adapun dalil yang kedua, karena hukuman itu adalah hak yang tertuduh, maka dia berhak mengambilnya dan menghilangkannya dengan memberi maaf.
Sedangkan jika suami yang menuduh istrinya berzina, boleh gugur hukum deranya dengan jalan li’an.
Dalam Q.S. An Nur ayat 6 : “Dan orang-orang yang menuduh isterinya (berzina), padahal mereka tidak ada mempunyai saksi-saksi selain diri mereka sendiri, maka persaksian orang itu ialah empat kali bersumpah dengan nama Allah, sesungguhnya dia adalah termasuk orang-orang yang benar.”
Kemudian dalam Q.S. An Nur ayat 7 : “Dan (sumpah) yang kelima: bahwa laknat Allah atasnya, jika dia termasuk orang-orang yang berdusta.”
Jadi, hati-hati jangan asal menuduh orang baik-baik berzina. Apalagi yang dituduh seorang wanita yang terjaga kesuciannya. Karena hal itu merupakan perbuatan yang termasuk kedalam dosa besar. Naudzubillahi min dzalik. Semoga kita terhindar dari sikap buruk tersebut.
Sumber : CatatanMuslimah