by Danu Wijaya danuw | May 17, 2017 | Adab dan Akhlak, Artikel
Tinggal menghitung hari, bulan Ramadan akan segera tiba. Tentunya kita biasanya melakukan kumpul bersama untuk berdoa bersama dan saling meminta maaf. Namun bagai mana pandangan Islam tentang saling meminta maaf sebelum bulan Ramadan?
Jika seseorang merasa bersalah ke saudaranya, hendaknya segera meminta maaf kepadanya atau meminta kehalalan darinya.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,
مَنْ كَانَتْ لَهُ مَظْلَمَةٌ لِأَخِيهِ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ شَيْءٍ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ الْيَوْمَ قَبْلَ أَنْ لَا يَكُونَ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ إِنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْهُ بِقَدْرِ مَظْلَمَتِهِ وَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عَلَيْهِ
“Barangsiapa yang pernah menzalimi saudaranya dari kehormatan atau sesuatu (miliknya) hendaknya ia meminta kehalalannya dari kezaliman itu pada hari ini, sebelum datang hari kiamat yang saat itu tidak ada manfaatnya lagi dinar dan dirham, jika ia mempunyai amal shalih maka akan diambil sekadar dengan kezalimannya, dan jika tidak memiliki kebaikan maka keburukan saudaranya akan diambil dan dibebankan kepadanya,” (HR. Al-Bukhari dan lainnya).
Jika tidak ada konflik, seorang Muslim diperintahkan menjaga hubungan baik dengan saling berbagi kebaikan seperti hadiah. Ini berlaku kapan saja, di antaranya di Sya’ban menjelang Ramadhan.
Adapun dikhususkan akhir Sya’ban dengan maaf-maafan, maka tidak ada petunjuk khusus ataupun dalil tentang itu. Sempat beredar pula hadist palsu bermaaf-maafan menjelang ramadhan.
Meminta maaf kepada orang lain tanpa tahu apa salahnya tidak dianjurkan. Kecuali benar-benar memiliki salah. Agak aneh, tidak ada hujan dan angin (maksudnya tanpa sebab) tiba-tiba minta maaf.
Kaum muslimin memang diperintahkan senantiasa beristighfar (meminta ampunan) untuk dirinya dan saudaranya.
Mereka juga diperintahkan untuk saling mendoakan kebaikan untuk saudaranya, terlebih saat berjauhan. Sehingga doa tersebut diaminkan malaikat.
Ini berlaku kapan saja dan di mana saja, terlebih di tempat dan waktu istimewa untuk terkabulnya doa.
Sumber : voa Islam
by Danu Wijaya danuw | May 16, 2017 | Artikel, Berita, Internasional
Pakar Hukum dari Universitas Indonesia (UI), Dr Heru Susetyo meragukan resmi tidaknya pernyataan PBB di twitter yang mendesak Indonesia untuk meninjau ulang hukum penistaan agama.
Kalau pernyataan resmi, katanya, PBB harusnya mengirim surat kepada pemerintah Republik Indonesia. Heru juga menegaskan, PBB hanya bisa mengimbau dan tidak bisa memaksa Indonesia menuruti kemauannya.
Hukum Indonesia Tidak Bisa Diintervensi
Pendiri Pusat Advokasi Hukum dan Hak Asasi Manusia (PAHAM) ini menilai, masih banyak urusan Indonesia yang lebih krusial untuk dikomentari PBB seperti masalah hukuman mati, kemiskinan, dan korupsi.
“Itu lebih signifikan ketimbang mengurusi suatu Undang-Undang yang sudah eksis di Indonesia. Sudah puluhan tahun, dan sudah diuji materiilkan juga ke Mahkamah Konstitusi,” ucapnya.
Karena kita punya kedaulatan (hukum) sendiri. Dan itu wilayah yang tidak bisa diintervensi oleh UN (PBB), walaupun kita member dari UN tambahnya.
Setiap negara, punya otoritas sendiri untuk mengatur hal-hal seperti keamanan dalam negeri, ketertiban umum, moral, dan agama.
Setiap Negara Punya Dasar Hukum Masing-masing
Di negara Prancis, masih ada larangan pemakaian hijab di sekolah-sekolah umum. Di Swiss dilarang membangun menara masjid. Atau di Malaysia non Muslim dilarang menggunakan nama “Allah”.
“Itu terserah negara masing-masing. Selama mereka punya dasar hukum. Jadi PBB tidak punya kapasitas untuk memaksa, hanya bisa mengimbau saja.”
Masyarakat menilai, pandangan dunia internasional terkait putusan hakim terhadap terdakwa penista agama ini merupakan bentuk ikut turut campur tangan urusan hukum Negara lain.
Sumber : Hidayatullah/Andi
by Danu Wijaya danuw | May 16, 2017 | Adab dan Akhlak, Artikel
“Sesungguhnya cemburu itu ada yang disayang Allah dan ada pula yang dimurkai-Nya. Yang disukai Allah adalah cemburu atas suatu kesangsian, sedangkan yang dimurkai-Nya adalah cemburu yang tidak beralasan,” (HR. Ibnu Majah).
DARI penjelasan di atas dapat diketahui bahwa cemburu dapat dikategorikan dalam dua hal. Pertama adalah cemburu yang datangnya dari setan, hal ini tentu akan menimbulkan efek negatif karena setan laknatullah selalu membuat manusia berada dalam kondisi ini.
Aisyah Ra. menuturkan, pada suatu malam Nabi Muhammad SAW keluar rumah. Dia merasa cemburu kalau-kalau Nabi SAW mendatangi istri-istrinya yang lain. Setelah pulang, Nabi Muhammad mendapati tingkah laku istrinya yang janggal. Beliau bertanya.
“Mengapa engkau hai Aisyah? Cemburu kah?.”
“Bagaimana wanita sepertiku tidak cemburu terhadap laki-laki seperti engkau?”Aisyah balik bertanya.
“Apakah setan telah datang menggodamu?”Tanya Rasulullah SAW lagi
“Ya Rasulullah, apakah aku disertai setan?” tanya Aisyah
“Ya.” jawab Rasulullah
Engkau juga (disertai setan).” balas Aisyah
“Ya, tapi aku dilindungi oleh Tuhanku, sehingga aku selamat,” Jawab Rasulullah SAW (HR. Muslim)
Namun ada pula cemburu yang akan memberikan efek yang baik. Perasaan inilah yang disukai Rabb kita. Rasulullah SAW mengatakan, bahwa tidak ada yang cemburu melebihi cemburunya Allah SWT.
Mughiroh bin Syu’bah RA. mengatakan, Sa’ad bin Ubadah berkata, ”Seandainya aku melihat laki-laki lain berduaan dengan istriku, sungguh ku penggal dia dengan pedang tanpa memaafkan.
Mendengar hal itu Nabi Muhammad SAW bersabda, ”Alangkah anehnya cemburu Sa’ad itu. Demi Allah, aku lebih cemburu dari padanya. Dan Allah lebih cemburu pula dari pada aku. Karena cemburunya Allah, maka diharamkan segala perbuatan keji, baik terang-terangan maupun yang sembunyi-sembunyi.
Tidak seorang pun lebih cemburu dibandingkan Allah. Tidak seorang pun lebih meresapkan dibandingkan Allah. Oleh sebab itulah Dia mengutus para Rasul untuk memberi kabar suka dan duka. Dan seorang pun yang lebih suka kepada pujian dari pada Allah, karena itulah dia menjadikan surga,” (HR.Muslim).
Dalam hadist riwayat lain dijelaskan bahwa Allah juga menyukai cemburu. Namun tentun saja, efek dari kecemburuan ini positif dan membawa kebaikan. Jabir ra. mendengar dari Anbaroh ra. bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda
“Ada sebagian rasa cemburu yang disukai Allah, dan ada pula yang dibenci-Nya. Cemburu yang disukai Allah adalah cemburu dalam keraguan atau kecurigaan (cemburu beralasan). Sedangkan cemburu yang dimurkai Allah adalah rasa cemburu yang tidak dalam keraguan,” (HR. Tirmidzi dan Ahmad).
Cemburu dalam keraguan adalah seorang yang cemburu kepada saudara-saudaranya, jika dia melihat mereka melakukan perbuatan yang haram atau keraguan yang ada manfaatnya, yaitu takut dan terhalang (melakukan perbuatan haram). Cemburu dalam hal ini dan yang sejenisnya akan dicintai oleh Nya.
by Danu Wijaya danuw | May 16, 2017 | Adab dan Akhlak, Artikel
SUATU hari ketika Imam Abu Hanifah sedang berjalan-jalan melalui sebuah buah rumah yang jendelanya masih terbuka, terdengar oleh beliau suara orang yang mengeluh dan menangis tersedu-desu.
Orang tersebut mengeluh. “Alangkah malangnya nasibku. Sejak pagi belum datang setetes air atau sesuap nasi ke perutku sehingga seluruh badanku menjadi lemah lunglai. Adakah orang yang mau memberi walaupun hanya setetes air.”
Mendengar keluhan tersebut, Abu Hanifah merasa iba terhadapnya. Lalu beliau melemparkan bingkisan yang berisi uang kepadanya. Abu Hanifah lalu meneruskan perjalanannya. Orang itu terkejut ketika mendapati sebuah bungkusan yang tidak diketahui dari mana datangnya, lantas segera dibukanya.
Ternyata bungkusan tersebut berisi uang dengan selembar kertas yang tertulis, “Wahai manusia, sesungguhnya kamu tidak wajar mengeluh seperti itu. Kamu tidak perlu mengeluh dengan nasibmu. Ingatlah kepada kemurahan Allah dan jangan berhenti memohon kepada-Nya dengan bersungguh-sungguh. Janganlah berputus asa, tetapi berusahalah terus-menerus.”
Pada keesokan harinya Imam Abu Hanifah melewati lagi rumah itu dan suara keluhan itu terdengar kembali, “Ya Allah yang Maha Belas Kasihan dan Pemurah, sudilah kiranya memberikan bungkusan lagi seperti kemarin, sekadar menyenangkan hidupku yang melarat ini. Sungguh jika tidak diberi, akan lebih sengsaralah hidupku…”
Mendengar keluhan itu kagi, lalu Abu Hanifah pun melemparkan lagi bungkusan berisi uang dengan selembar kertas dari luar jendela, lalu beliau meneruskan perjalanannya. Orang itu sangat senang mendapat bungkusan lagi.
Seperti kemarin, dibacanya tulisan tersebut yang terdapat pada kertas tersebut, “Hai kawan, bukan begitu cara memohon, bukan demikian cara berikhtiar. Perbuatan demikian ‘malas’ namanya. Putus asa pada kebenaran dan kekuasan Allah.
“Sungguh Allah tidak senang melihat pemalas dan putus asa, enggan bekerja untuk keselamatan dirinya. Hendaklah engkau senang bekerja dan berusaha, karena kesenangan itu tidaklah datang dengan sendirinya tanpa dicari dan diusahakan. Allah tidak akan mengabulkan orang yang malas bekerja. Allah tidak akan mengabulkan doa orang yang putus asa. Insya Allah kamu akan mendapat rezeki, selama kamu tidak berputus asa. Maka, carilah segera pekerjaan, saya berdoa semoga engkau sukses.”
Setelah membaca surat tersebut, ia termenung, insyaf dan sadar akan kemalasannya. Pada keesokan harinya, dia pun keluar untuk mencari rezeki. Sejak hari itu, sikapnya pun berubah mengikuti aturan-aturan hidup dan tidak melupakan nasihat Abu Hanifah tersebut.
Sumber: Setiawan, Hendra. 2014. Agar Selalu Ditolong Allah: Bandung. Jabal
by Danu Wijaya danuw | May 15, 2017 | Artikel, Berita, Internasional
Peter Maurer, presiden Komite Palang Merah Internasional (ICRC), mengatakan kepada wartawan di ibukota komersial Myanmar, Yangon, Rabu (10/5/2017) malam bahwa dia telah meminta pemerintahan Aung San Suu Kyi untuk memberikan akses kepada pekerja bantuan untuk orang-orang yang menderita di bawah Kondisi memprihatinkan di bebarapa bagian negara Myanmar.
Pemerintah Myanmar telah memblokir akses ke daerah-daerah di mana mereka melakukan tindakan keras terhadap etnis minoritas Muslim Rohingya.
“Kami ingin memiliki akses ke semua orang yang membutuhkan untuk melakukan penilaian yang tepat, untuk membantu memudahkan sesuai dengan kebutuhan,” kata Maurer.
Maurer baru-baru ini mengunjungi negara bagian Rakhine di bagian barat laut, di mana dia mengunjungi kamp-kamp yang didirikan hampir lima tahun yang lalu untuk menampung Muslim Rohingya yang mengungsi akibat diusir oleh ekstremis Budha. Namun, dia tidak diizinkan untuk mengunjungi bagian utara negara tersebut, di mana sebuah operasi keamanan membuat sekitar 75.000 orang Muslim Rohingya yang melarikan diri ke Bangladesh.
Presiden Palang Merah itu mengatakan bahwa dia “tidak puas” dengan pembatasan yang diberlakukan oleh pejabat Myanmar. Dia mengatakan bahwa dia yakin pemberian lebih banyak akses akan sesuai dengan kepentingan pemerintah dan angkatan bersenjata Myanmar.
“Dipenghujung hari tidak ada alat yang lebih efektif untuk mengurangi ketegangan daripada menawarkan prosedur yang lancar untuk akses ke organisasi kemanusiaan seperti kita,” katanya.
Maurer dijadwalkan untuk pergi ke ibu kota, Naypyidaw, pada hari Jum’at untuk bertemu dengan pejabat dan akan bertemu dengan Aung San Suu Kyi di Beijing dalam sebuah konferensi internasional di sana pekan depan, katanya.
Mantan tahanan politik Ang San Suu Kyi menang telak dalam pemilihan dan menjadi kepala pemerintahan sipil de facto pada bulan April 2016 setelah berpuluh-puluh tahun diperintah militer.
Tentara dan polisi Myanmar melakukan pembunuhan dan memperkosa terhadap Rohingya, yang kewarganegaraannya ditolak di Myanmar dan secara luas dipandang sebagai orang luar oleh mayoritas umat Budha negara itu meski mereka telah berabad-adab tinggal di negara tersebut.
Sejak Oktober 2016, pasukan Myanmar telah melakukan tindakan keras militer di Negara Bagian Rakhine, di mana komunitas Rohingya terutama berbasis, menyusul sebuah serangan di sebuah pos polisi yang dipersalahkan atas militan terkait Rohingya.
Menurut sebuah laporan yang dikeluarkan oleh PBB bulan lalu, pasukan Myanmar telah melakukan pembunuhan massal dan perkosaan terhadap komunitas Muslim Rohingya.
Sumber : Okezone/voaislam
by Danu Wijaya danuw | May 15, 2017 | Artikel, Berita, Nasional
Umat Islam di Indonesia diimbau untuk semakin menguatkan kesabaran dalam menghadapi berbagai serangan, fitnah, intimidasi, adu domba, dan tindakan tidak adil.
Termasuk, dalam menghadapi himpitan ekonomi akibat ketidakadilan ekonomi yang terus meluas dan mencengkram.
“Butuh kesabaran yang tinggi, yaitu kesabaran profetik. Yang tak hanya menahan diri atau tabah menghadapi sesuatu yang sulit, dan berat, tapi juga mampu menguatkan komitmen bersama agar bertindak taktis dalam jangka pendek dan strategis dalam jangka panjang,” ujar Ketua Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah Jawa Barat, Iu Rusliana usai acara Diskusi Kebangsaan Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah Jawa Barat, Minggu (7/5).
Kesabaran tersebut, lanjut Iu Rusliana, tidak hanya bersifat fisik, tapi juga mental. Bagaimana agar umat Islam mampu menahan segala bentuk yang menimbulkan kejelekkan, misalnya amarah. Lalu mengubahnya menjadi kekuatan dahsyat yang produktif.
“Dalam surah Al-Anfal ayat 65, dikatakan bahwa pengaruh kesabaran itu sangat besar bagi jiwa sehingga dapat memberikan kekuatan yang berlipat ganda. Bahkan dalam surah An-Nahl ayat 126, Allah Swt memuji orang yang bersabar, tidak membalas perbuatan buruk yang dilakukan orang lain,” jelas dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung tersebut.
Surah Thaha ayat 130, mengajarkan pula tentang perlunya bersabar menghadapi ejekan dan fitnah dari orang kafir. Sabar juga diarahkan untuk segala kegiatan ibadah, menghadapi musibah, menunggu ketetapan Allah swt dan bersabar untuk memperoleh kebutuhan.
“Dalam situasi seperti ini, seluruh ulama, tokoh masyarakat, masing-masing dari kita, harus menguatkan komitmen memelihara kesabaran umat, agar tidak mudah terprovokasi, tidak mudah diadudomba, karena itu lah yang diingankan oleh musuh Islam,” jelasnya.
Ujian kesabaran lain yang tak kalah pentingnya, lanjut Iu Rusliana, adalah beratnya himpitan ekonomi. Harga-harga naik, tarif dasar listrik juga naik, bahkan naiknya tanpa kabar berita yang terbuka.
“Umat Islam di Indonesia ini paling banyak yang miskin, dengan kebijakan-kebijakan yang merepotkan rakyat, dilakukan pemerintah, merekalah yang merasakan susahnya kehidupan,” tegasnya.
Lebih lanjut Iu Rusliana mendesak semua elemen umat Islam untuk menguatkan komitmen, duduk bersama, saling menerima dan mengalah untuk kesatuan umat. Hal ini merupakan langkah taktis menyatukan kekuatan yang selama ini terceraiberai.
“Kami kaum muda memohon kepada seluruh pimpinan Ormas Islam, orang tua kami, segera duduk bersama, bangun komitmen langkah taktis. Jangan terus menerus bawa label organisasi, utamakan kepentingan umat secara keseluruhan. Jangan hanya mengurusi kepentingan politik dan perut organisasi masing-masing, bersatulah,” pinta Iu Rusliana.
Bila hal ini dapat dilakukan, Iu Rusliana percaya, bahwa langkah taktis politis umat akan menguatkan dan memenangkan kepentingan politik umat Islam Indonesia.
“Saat ini kita merasakan, betapa setiap hari kita dihujani dengan berbagai berita, tudingan, wacana yang menyudutkan umat Islam. Ayo sudahi ini semua dengan memenangkan pertarungan politik 2018 dan 2019 nanti,” pintanya.
Secara strategis, jangka panjang penguatan dakwah ekonomi dan pendidikan harus menjadi fokus bersama seluruh kekuatan umat Islam. Sinergi antar ormas perlu dilakukan, membuka peta dakwah, tidak bersaing di antara umat Islam menjadi penting, sehingga tak ada ruang di daerah manapun, lembaga-lembaga milik umat kalah bersaing.
“Rumah sakit Islam milik ormas tertentu tak harus bersaing dengan ormas Islam lainnya, atau lembaga pendidikan dan ekonominya. Jadi ini pekerjaan panjang, dimulai dengan sinergi dan upaya saling mengalah, meninggalkan ego masing-masing,” tegasnya.
Sumber : Rmol/ian