by Danu Wijaya danuw | May 15, 2017 | Artikel, Kisah Sahabat
Nabi Muhammad SAW adalah pemimpin umat Islam yang membawa kedamaian dengan keluhurun akhlak. Beliau SAW juga mengirim beberapa surat kepada raja dan penguasa di luar Jazirah Arab untuk mengundang mereka agar masuk Islam.
Dalam sebuah surat yang dikirim ke penguasa Mesir Al-Muqawqis pada tahun keenam hijriah, sang Nabi mengundangnya untuk masuk Islam. Nabi juga mengatakan jika Al-Muqawqis menjadi seorang Muslim, maka Allah akan menggandakan pahalanya.
Nabi SAW juga mengutip ayat Al-Qur’an: “Katakanlah, ‘Hai Ahli Kitab Suci, datanglah sebuah kata yang adil antara kita dan Anda – bahwa kita tidak akan beribadah kecuali kepada Allah dan tidak ada apapun yang setara dengan-Nya dan tidak saling mengambil alih. Tetapi jika mereka berpaling, katakanlah:’ Saksikanlah bahwa Kami adalah umat Islam yang hanya tunduk kepada-Nya.’”
Tercatat Nabi juga mengirim surat kepada Kaisar Ashama ibn Abjar di Ethiopia, Heraclius, kaisar Kekaisaran Bizantium, Chosroes, raja Persia, Munzir ibn Sawa, penguasa Bahrain, Himyarite Harith, pangeran Yaman, dan Harith Gassani, Gubernur Syam, Alarabiya melaporkan.
Surat-surat nabi yang mengundang raja-raja dan pangeran untuk mengikuti Islam semuanya disimpulkan dengan pernyataan: “Jika berpaling, Anda akan menanggung dosa rakyat Anda.”
Menurut beberapa narasi bersejarah, Chosroes of Persia merobek surat nabi tersebut. Ketika sang nabi mendengarnya, dia berjanji akan menghancurkan Chosroes dan yang terakhir meninggal tak lama kemudian dan kekaisaran melemah.
Beberapa surat ini disimpan di museum Istanbul Turki dan Museum Madinah di Arab Saudi menyimpan salinan asli dari surat-surat ini.
by Danu Wijaya danuw | May 15, 2017 | Artikel, Berita, Internasional
Beberapa hari tersisa menjelang bulan suci Ramadhan, Asosiasi Amal Dubai siap untuk mendonorkan dana sebesar 60 juta dirham (sekitar Rp 218 miliar) bagi warga kurang mampu di seluruh dunia.
Lembaga Amal Al Urwatu Al Wuthqa yang didirikan pada 1980, dikabarkan telah menghabiskan 20 juta dirham untuk membantu 5.000 keluarga kurang mampu pada Ramadhan tahun 2016, Khaleej melaporkan.
Ahmad Mohammed Mismaar, sekretaris jenderal Asosiasi Amal Dubai, mengatakan bahwa mereka berencana untuk mengalokasikan dana 1,7 juta dirham bagi paket ‘Meer Ramadan’ tahun ini.
“Paket makanan ini akan diberikan kepada 15.000 keluarga miskin yang berpenghasilan rendah di Uni Emirat Arab dan luar negeri,” ungkap Mismaar.
Badan Amal tersebut juga akan menjadi tuan rumah “beberapa” acara buka puasa bersama. Makanan Iftar gratis senilai 1,5 juta dirham akan didistribusikan di 50 masjid di seluruh negeri – 100 paket akan dikirim setiap hari.
“Makanan Iftar bersama senilai 5 juta dirham juga akan dikirim ke 28 negara, termasuk Ghana, Filipina, Indonesia, Thailand, Mali, Kamboja, Uganda, Sudan, India, Senegal, Benin, Gambia, Togo, Nigeria, Mauritania, Sierra Leone, Guinea Conakry dan Cina,” terang Mismaar.
Alokasi dana 10 ribu dirham per masjid telah dialokasikan untuk makanan buka puasa di luar negeri.
“Jumlah ini akan memenuhi makanan Iftar gratis bagi sekitar 2,25 juta Muslim yang menjalankan ibadah puasa di seluruh dunia. Kami bekerja sama dengan misi diplomatik UEA di setiap Negara,” tambah Mismaar.
Sumber : khaleej
by Danu Wijaya danuw | May 14, 2017 | Adab dan Akhlak, Artikel
Khitbah atau meminang bukanlah syarat sahnya sebuah pernikahan. Seandainya sebuah pernikahan dilaksanakan tanpa khitbah sekalipun, pernikahan tersebut tetap sah. Pada umumnya, khitbah merupakan jalan menuju pernikahan. Menurut jumhur ulama, khitbah itu diperbolehkan, sesuai dengan firman Allah swt, “Dan tidak ada dosa bagi kamu meminang wanita-wanita itu…” (Al-Baqarah [2] : 235)
Khitbah berbeda artian dengan melamar yang diharamkan Islam. Sebab melamar hanya dinyatakan kepada si calon bukan ke keluarganya. Selain itu, biasanya setelah melamar seolah boleh berpegangan tangan, berduaan, berciuman dan bahkan berhubungan badan. Padahal itu dibolehkan setelah sah ijab qabul pernikahan.
Pendapat yang dipercaya tentang khitbah hukumnya sunnah oleh para pengikut mazhab Syafi‘i. Sebagaimana dengan perbuatan Rasulullah saw, di mana beliau meminang Aisyah binti Abu Bakar dan Hafshah binti Umar.
Hal ini boleh dilakukan jika pada diri wanita tersebut tidak ada penghalang yang membuatnya tidak boleh dinikahi. Jika ada penghalang, maka khitbah tidak boleh dilakukan.
Dalam kitab Hasyiyah ‘alal Muhalla, Syaikh Syihabuddin Al-Qalyubi berkata, “Sesungguhnya khitbah itu memiliki hukum yang sama dengan hukum pernikahan, yaitu; wajib, sunnah, makruh, haram, ataupun mubah.
Sunnah jika pria yang akan
meminang termasuk orang yang disunnahkan untuk menikah. Contohnya, orang yang telah memiliki kemampuan untuk menikah, dan ia tidak merasa khawatir dirinya akan terjerumus dalam perzinaan.
Makruh, jika pria yang akan meminang termasuk orang yang dimakruhkan baginya untuk menikah. Sebab, hukum sarana itu mengikuti hukum tujuan.
Khitbah yang hukumnya diharamkan menurut ijma‘ adalah mengkhitbah wanita yang sudah menikah, mengkhitbah wanita yang ditalak dengan talak raj‘i sebelum selesai masa iddahnya, sebab statusnya masih sebagai wanita yang telah menikah.
Sedangkan, khitbah juga diharamkan bagi orang yang memiliki empat istri, termasuk khitbah terhadap wanita yang antara dirinya dan istri si peminang diharamkan untuk disatukan sebagai istri, dan mengkhitbah wanita yang sudah dikhitbah oleh orang lain
Khitbah hukumnya wajib bagi orang yang merasa khawatir akan terjerumus dalam perzinaan jika tidak segera meminang dan menikah.
Sedangkan, khitbah hukumnya mubah dan halal jika wanita tersebut dalam kondisi kosong dari pernikahan, serta tidak ada suatu halangan hukum yang menghalangi untuk dilamar.
Sumber : Hidayatullah.com
by Danu Wijaya danuw | May 14, 2017 | Artikel, Berita, Internasional
Angka penyebaran HIV/AIDS di benua Afrika tergolong sangat tinggi. Jutaan orang di benua hitam itu meninggal karena AIDS. Mozambik adalah negara ketiga di dunia dengan tingkat prevalensi HIV tertinggi setelah Swaziland dan Afrika Selatan.
Tingginya angka pengidap HIV/AIDS di bagian sub-Sahara ini turut mengundang keprihatinan para aktivis Islam.
“Kini, AIDS adalah musuh besar Mozambik. Kami terpanggil untuk berjihad melawannya,” ujar Syekh Mahmoud El Sebai, seorang ulama di Mozambik.
Setiap Jumat, para khatib menyampaikan pesan tentang bahaya dan cara mencegah terjadinya penularan HIV/AIDS.
Generasi muda Islam di negara itu mencetak leaflet dan dibagikan pada jamaah setiap pekan. Mereka mengampanyekan pentingnya saling setia dan hanya berhubungan intim setelah menikah.
Perang terhadap HIV/AIDS juga dilakukan umat Islam melalui madrasah-madrasah yang ada. Madrasah Nur di Pemba, ibu kota Provinsi Cabo Delgado, misalnya, sering mengampanyekan bahaya HIV/AIDS dan cara pencegahan penularan virus yang mematikan itu.
Majelis Islam Mozambik pun turun tangan untuk melawan penyebaran HIV/AIDS yang telah banyak merenggut nyawa.
Majelis Islam Mozambik bekerja sama dengan organisasi lainnya untuk membebaskan penduduk Mozambik dari HIV/AIDS.
Sumber: Republika
by Danu Wijaya danuw | May 14, 2017 | Artikel, Muallaf
Prof Maurice Bucaille lahir, besar dan sepenuhnya menimba ilmu di Perancis. Setelah menamatkan pendidikan menengah atas, ia belajar di Fakultas Kedokteran, Universitas Prancis. Kemudian menjadi dokter bedah terkenal dan terpintar yang pernah dimiliki Perancis modern.
Namun, cerita keislamannya mampu mengubah hidupnya dan belakangan menginspirasi banyak orang. Siapa sangka profesor yang sangat dikagumi ini masuk Islam
Prancis Negara Arkeolog dan Budaya
Sebagaimana luas diketahui, Perancis terkenal sebagai negara yang tertarik dengan arkeologi dan budaya. Di akhir 80an, Perancis meminta Mesir untuk mengirimkan mumi Firaun untuk dilakukan serangkaian eksperimen dan penelitian.
Akhirnya mumi penguasa Mesir terkenal tersebut akhirnya tiba di Perancis. Mumi itu kemudian dipindahkan ke ruangan khusus di Monument Center. Para arkeolog, ahli bedah dan ahli anatomi mulai melakukan studi tentang mumi ini dalam upaya untuk menyelidiki misteri Firaun.
Pertanyaan Prof Maurice terhadap Jasad Firaun yang Masih Awet
Dokter bedah senior dan ilmuwan yang bertanggung jawab atas studi tentang mumi Firaun adalah Profesor Maurice Bucaille.
Sementara proses restorasi mumi berjalan, Prof Maurice Bucaille sibuk dengan pikirannya. Dia mencoba untuk menemukan bagaimana Firaun ini meninggal.
Saat larut malam, ia menemukan penyebabnya. Sisa-sisa garam yang terjebak dalam tubuh mumi itu adalah bukti bahwa ia meninggal karena tenggelam dan mayatnya segera diangkat dari laut.
Terlihat jelas juga bahwa para pendeta Mesir kuno buru-buru mengawetkan tubuh Firaun tersebut. Tapi Prof Maurice bingung dengan sebuah pertanyaan, bagaimana tubuh ini–dengan mengesampingkan tubuh mumi lainnya dari Mesir kuno– tetap utuh hingga sekarang meskipun tubuhnya pernah tenggelam di laut.
Prof Maurice sibuk memikirkan hal tersebut ketika seorang koleganya mengatakan tidak usah terlalu dipikirkan, karena dalam Islam disebutkan bahwa Firaun ini memang tenggelam.
Pada awalnya, dia sangat tidak yakin dan menolak pernyataan tersebut. Dia mengatakan penemuan seperti itu hanya bisa diketahui melalui peralatan komputer canggih dan modern.
Maurice bertambah tercengang setelah koleganya yang lain mengatakan bahwa Alquran, kitab suci yang dipercaya muslim, menceritakan kisah tenggelamnya Firaun dan mengatakan tubuh tersebut akan tetap utuh meskipun ia telah tenggelam.
Maurice bertambah terkejut dan terus bertanya-tanya, dari mana kitab suci umat Islam ini mendapatkan data, sementara mumi tidak ditemukan sampai 1898. Selain itu Alquran juga baru diturunkan kepada umat Islam selama lebih dari 1400 tahun setelah peristiwa tenggelamnya Firaun.
Mengingat juga sampai beberapa dekade lalu seluruh umat manusia, termasuk muslim tidak tahu bahwa orang Mesir kuno mengawetkan firaun mereka?
Prof Maurice Bucaille terjaga sepanjang malam menatap tubuh Firaun, berpikir mendalam soal kitab Alquran yang secara eksplisit mengatakan bahwa tubuh ini akan utuh setelah tenggelam.
” Bisakah dipercaya nabi Muhammad SAW tahu tentang ini lebih dari 1.000 tahun yang lalu ketika saya baru saja mengetahu hal itu?” pikir Maurice.
Pikiran Maurice malam itu dipenuhi berbagai pertanyaan dan keheranan tentang kitab suci umat Islam. Mumi tersebut akhirnya dikembalikan ke Mesir.
Interaksi Prof Maurice Pergi ke Arab dan Masuk Islam
Tapi, karena ia sudah tahu tentang kisah Firaun versi muslim, ia segera berkemas dan melakukan perjalanan ke Arab Saudi. Kebetulan saat itu di Arab Saudi diadakan konferensi medis yang dihadiri banyak ahli anatomi muslim.
Di sana, Maurice memberitahu mereka tentang penemuannya, yaitu bahwa tubuh Firaun itu tetap utuh bahkan setelah ia tenggelam. Salah satu peserta konferensi membuka Alquran dan membacakan surat Yunus ayat 92 yang menceritakan kisah bagaimana tubuh Firaun diangkat dari dasar laut dan atas izin Allah, tubuh itu akan utuh agar menjadi bahan renungan bagi orang-orang yang berpikir sesudahnya.
Dalam kegembiraannya setelah dibacakan ayat tersebut, Maurice berdiri di hadapan para peserta konferensi berkata, ‘Aku telah masuk Islam dan percaya pada Alquran ini’.
Saat kembali ke Perancis, Maurice Bucaille menghabiskan 10 tahun melakukan studi tentang kesesuaian fakta-fakta ilmiah saat ini dengan yang disebutkan dalam Alquran. Dia berusaha meyakinkan dirinya bahwa Alquran tidak pernah bertentangan dengan satupun fakta ilmiah.
Buku Best Seller karya Muallaf Prof Maurice
Dia kemudian menulis buku tentang Alquran yang menghebohkan seluruh negara-negara Barat, dengan judul, ” The Bible, The Qur’an and Science, The Holy Scriptures Examined In The Light Of Modern Knowledge.”
Buku tersebut sangat laris dan bahkan ratusan ribu eksemplar telah diterjemahkan dari bahasa Perancis ke bahasa Arab, Inggris, Indonesia, Persia, Turki dan Jerman. Bahkan tersebar ke hampir semua toko buku di seluruh dunia.
” Sisi ilmiah dari Alquran telah mengejutkan saya sejak awal, karena pikiran saya belum pernah melihat begitu banyak kajian ilmu pengetahuan yang disuguhkan secara akurat. Itu semacam cermin bagi ilmu pengetahuan yang sudah ditulis dalam buku-buku ilmiah selama ini padahal ilmu tersebut sudah ada lebih dari 13 abad yang lalu,” sepenggal catatan kata pengantar Maurice dalam bukunya.
Sumber: On Islam.net
by Danu Wijaya danuw | May 14, 2017 | Artikel, Berita, Nasional
Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta terpilih, Sandiaga Uno, mengungkapkan komitmen dari 22 Duta Besar Uni Eropa untuk berinvestasi di ibu kota.
Hal tersebut dikatakan Sandiaga usai mendampingi Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto, bertemu dengan 22 Duta Besar di kediaman Prabowo, Jalan Kertanegara 4, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (10/5). Rekannya, Anies Baswedan, juga ikut dalam pertemuan itu.
Menurut Anies Baswedan kepada wartawan setelah pertemuan, pertemuan tersebut di antaranya membahas perkara investasi dan keberagaman di Indonesia.
“Mendiskusikan tentang banyak hal terkait tantangan-tantangan Indonesia ke depan yang harus dibereskan, seperti permasalahan korupsi, ketimpangan kesejahteraan, dan lain-lain,” kata Anies di Kertanegara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan (10/5/2017).
Kami sampaikan bahwa Jakarta itu sangat welcome, terbuka untuk membangun infrastruktur kelas dunia dan membantu kegiatan ekonomi dalam penciptaan lapangan kerja.
Bagi Sandiaga, komitmen tersebut sangat melegakan. Namun, para Duta Besar berharap proses investasi akan transparan dan tidak diwarnai birokrasi yang berbelit-belit.
“Proses itu tentunya menjunjung tinggi fairness,” kata dia.
Pihaknya melihat komitmen para Duta Besar merupakan pesan khusus agar Jakarta terbuka, transparan dan menggandeng semua pihak dalam pembangunan serta penciptaan lapangan kerja.
Sandiaga menegaskan, tidak ada nilai investasi yang dibicarakan atau disepakati dalam pertemuan dengan 22 Duta Besar. Yang terungkap adalah keinginan untuk bekerjasama dalam berbagai bidang.
“Bidang infrastruktur, masalah investasi. Ya, pendidikan dari Irlandia, juga dari beberapa negara mengedepankan teknologi berkaitan dengan pengelolaan limbah. Teknologi yang berkaitan dengan yang kita lihat sebagai smart city. Itu juga mereka tawarkan dari pengalaman-pengalaman mereka di Uni Eropa,” ucap Sandiaga. (jk/rmol)