0878 8077 4762 [email protected]

Berkah Pemimpin Sholeh

Abdurrahman An-Nashir, adalah salah satu sosok Pemimpin yang dikenal sholeh, alim dan adil di masa kejayaan Andalusia. Dengan kepemimpinannya atas izin Allah SWT, ia membawa Andalusia ke puncak kemakmuran dan kesejahteraannya, sehingga tak sedikit bangsa Eropa yang datang dan belajar kesana.
Dalam masa kepemimpinannya, ia juga mengangkat sosok-sosok yang shalih untuk menduduki jabatan penting dalam pemerintahan, semisal Munzir ibn Said Al-Baluthi yang diangkat menjadi qadhi kota Andalusia.
Kesholehan seorang pemimpin menjadi berkah tersendiri bagi negri ndan rakyat yang dipimpinnya. Ini terlihat saat suatu ketika wilayah Andalusia mengalami kekeringan akibat hujan yang tak kunjung tiba. Tanah-tanahnya mulai retak, para petani harus menggantung cangkulnya karena tak ada air untuk mengairi sawah dan kebun mereka. Ditengah kemarau yang panjang itu, sang Khalifah berupaya untuk mencari solusi.
Ia memerintahkan rakyatnya untuk melaksanakan shalat Itisqa guna memohon turunnya hujan. Sang Khalifah menunjuk Munzir ibn Said Al-Baluthi untuk menjadi imam dan khatib.
Di hari yang disepakati, rakyat mulai hadir dan memadati dilapangan tampat pelaksanaan shalat isitisqa, namun prosesi shalat belum juga dimulai karena sang khalifah yang ditunggu belum hadir. Salah seorang warga diutus oleh Munzir ibn Said Al-Baluthi menemui Khalifah untuk menyatakan bahwa rakyat telah berkumpul dan siap melaksanakan shalat istisqa.
Tak lama kemudian Ia kembali dan menyampaikan kepada qadhi Munzir ibn Said Al-Baluthi, “Aku melihat Khalifah sedang dalam keadaan sujud yang sangat lama. Belum pernah aku melihat Khalifah berdoa kepada Allah sekhusyu itu”.
Qadhi Munzir ibn Said Al-Baluthi yang sangat mengenal karakter dan kepribadian sang khalifah memerintah salah seorang jamaah untuk mengambilkan payung.
Ia pun berkata dengan penuh keyakinan, “Demi Allah hujan akan segera tiba, kalau pemimpin di muka bumi ini khusyu hatinya, tunduk pada Allah, bukan orang yang angkuh dalam syariat ini, maka pasti Sang penguasa hujan (Allah Swt.) akan menurunkan rahmatNya”.
Tak berselang lama hujanpun turun membasahi tanah Andalusia.
Kita meyakini, dalam membangun sebuah negeri yang makmur dan berkeadilan, tak hanya dibutuhkan seorang pemimpin yang alim dan shalih, tetapi juga dibutuhkan sosok-sosok rakyat yang shalih, dan ringan tangan dalam mengawal kepemimpinan sang khalifah.
Sosok yang tegas diatas kebenaran dan tidak mau mempermainkan syariat. Sejarah mencatat bahwa sosok seperti qadhi Munzir ibn Said Al-Baluthi pernah menyampaikan nasehat dengan tegas sehingga membuat khalifah tersinggung. Namun bagi sang qadhi, ini bukan menjadi persoalan karena Ia berbicara atas dasar al haq.
 
Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=5d2hYSfIH-I

Untold Story : Kartini Mengaji dengan Kiyai Sholeh Darat

Dalam sejarah masyarakat umumnya, banyak yang tidak mengetahui Kartini melakukan pertemuan untuk mengaji dengan Kyai Sholeh bin Umar, dari Darat, Semarang, lebih dikenal dengan sebutan Kyai Sholeh Darat.
Adalah Nyonya Fadhila Sholeh, cucu Kyai Sholeh Darat, yang menuliskan kisah ini.
Takdir, menurut Ny Fadihila Sholeh, mempertemukan Kartini dengan Kyai Sholeh Darat. Pertemuan terjadi dalam acara pengajian di rumah Bupati Demak Pangeran Ario Hadiningrat, yang juga pamannya.
Kiyai Sholeh Darat Menjelaskan tafsir Al Fatihah
Kyai Sholeh Darat memberikan ceramah tentang tafsir Al-Fatihah. Kartini tertegun. Sepanjang pengajian, Kartini seakan tak sempat memalingkan mata dari sosok Kyai Sholeh Darat, dan telinganya menangkap kata demi kata yang disampaikan sang penceramah.
Ini bisa dipahami karena selama ini Kartini hanya tahu membaca Al Fatihah, tanpa pernah tahu makna ayat-ayat itu.
Setelah pengajian, Kartini mendesak pamannya untuk menemaninya menemui Kyai Sholeh Darat. Sang paman tak bisa mengelak, karena Kartini merengek-rengek seperti anak kecil.
Kartini Mengusulkan Penerjemahan AlQur’an kedalam Bahasa Indonesia
Berikut dialog Kartini dengan Kyai Sholeh saat bertemu.
“Kyai, perkenankan saya bertanya bagaimana hukumnya apabila seorang berilmu menyembunyikan ilmunya?” Kartini membuka dialog.
Kyai Sholeh tertegun, tapi tak lama. “Mengapa Raden Ajeng bertanya demikian?” Kyai Sholeh balik bertanya.
“Kyai, selama hidupku baru kali ini aku berkesempatan memahami makna surat Al Fatihah, surat pertama dan induk Alquran. Isinya begitu indah, menggetarkan sanubariku,” ujar Kartini.
Kyai Sholeh tertegun. Sang guru seolah tak punya kata untuk menyela. Kartini melanjutkan;
“Bukan buatan rasa syukur hati ini kepada Allah. Namun, aku heran mengapa selama ini para ulama melarang keras penerjemahan dan penafsiran Al Quran ke dalam Bahasa Jawa? Bukankah Al Quran adalah bimbingan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?”
Dialog berhenti sampai di situ. Ny Fadhila menulis Kyai Sholeh tak bisa berkata apa-apa, kecuali subhanallah.
Kartini telah menggugah kesadaran Kyai Sholeh untuk melakukan pekerjaan besar; menerjemahkan Alquran ke dalam Bahasa Jawa.
Setelah pertemuan itu, Kyai Sholeh menerjemahkan ayat demi ayat, juz demi juz. Sebanyak 13 juz terjemahan diberikan sebagai hadiah perkawinan Kartini. Kartini menyebutnya sebagai kado pernikahan yang tak ternilai saat menikah dengan RM Joyodiningrat, Bupati Rembang.
Surat yang diterjemahkan Kyai Sholeh adalah Al Fatihah sampai Surat Ibrahim. Kitab tafsir dan terjemahan Al-Qur’an itu diberi nama Faidh al-Rahman fi Tafsir Al-Qur’an. Tafsir pertama di Nusantara dalam bahasa Jawa dengan aksara Arab. Jilid pertama yang terdiri dari 13 juz.
Kartini mempelajarinya secara serius, hampir di setiap waktu luangnya. Mulailah Kartini mempelajari Islam dalam arti yang sesungguhnya.
Kartini amat menyukai hadiah itu dan mengatakan: “Selama ini al-Fatihah gelap bagi saya. Saya tak mengerti sedikitpun maknanya. Tetapi sejak hari ini ia menjadi terang-benderang sampai kepada makna tersiratnya, sebab Romo Kyai telah menerangkannya dalam bahasa Jawa yang saya pahami.”
Pada waktu itu penjajah Belanda secara resmi melarang orang menerjemahkan Al-Qur’an. Dan para ulama waktu juga mengharamkannya. Mbah Shaleh Darat menentang larangan ini. Karena permintaan Kartini itu, dan panggilan untuk berdakwah, beliau menerjemahkan Qur’an dengan ditulis dalam huruf Arab pegon sehingga tak dicurigai penjajah.
Melalui kitab itu pula Kartini menemukan ayat yang amat menyentuh nuraninya. Yaitu Surat Al-Baqarah ayat 257 yang mencantumkan, bahwa Allah-lah yang telah membimbing orang-orang beriman dari gelap kepada cahaya (Minadh-Dhulumaati ilan Nuur).
Kartini terkesan dengan kalimat Minadh-Dhulumaati ilan Nuur yang berarti dari gelap kepada cahaya karena ia merasakan sendiri proses perubahan dirinya.
Sayangnya, Kartini tidak pernah mendapat terjemahan ayat-ayat berikut, karena Kyai Sholeh meninggal dunia.
Kiyai Sholeh Mentransformasi Pemahaman Islam Kartini
Kyai Sholeh membawa Kartini ke perjalanan transformasi spiritual. Pandangan Kartini tentang Barat (baca: Eropa) berubah. Perhatikan surat Kartini bertanggal 27 Oktober 1902 kepada Ny Abendanon.
Sudah lewat masanya, semula kami mengira masyarakat Eropa itu benar-benar yang terbaik, tiada tara. Maafkan kami. Apakah ibu menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah ibu menyangkal bahwa di balik yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal yang sama sekali tidak patut disebut peradaban.
Tidak sekali-kali kami hendak menjadikan murid-murid kami sebagai orang setengah Eropa, atau orang Jawa kebarat-baratan.
Dalam suratnya kepada Ny Van Kol, tanggal 21 Juli 1902, Kartini juga menulis; Saya bertekad dan berupaya memperbaiki citra Islam, yang selama ini kerap menjadi sasaran fitnah. Semoga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat agama lain memandang Islam sebagai agama disukai.
Lalu dalam surat ke Ny Abendanon, bertanggal 1 Agustus 1903, Kartini menulis; “Ingin benar saya menggunakan gelar tertinggi, yaitu Hamba Allah.
 
Sumber : Kisah ini sahih, dinukil dari Prof KH Musa al-Mahfudz Yogyakarta, dari Kiai Muhammad Demak, menantu sekaligus staf ahli Kiai Soleh Darat.

Wapres AS Kagum dengan Kemegahan Masjid Istiqlal

Wakil Presiden Amerika Serikat, Michael Richard Pence beserta istri dan kedua anaknya mengunjungi Masjid Istiqlal, Kamis (20/4/2017). Kunjungan ini dilakukan setelah bertemu Presiden Joko Widodo di Istana Merdeka.
Usai bertemu Jokowi, Michael Richard Pence melakukan pertemuan bilateral dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla. Kedua negara membahas kerja sama bidang investasi dan perdagangan.
Michael Richard Pence bergerak menuju Masjid Istiqlal sekitar pukul 14.50 WIB. Michael Richard Pence mengaku bersemangat mengunjungi masjid terbesar di Asia Tenggara itu.
“Saya dengan rendah hati memiliki kesempatan untuk mengunjungi masjid nasional Indonesia (Masjid Istiqlal),” ujar Michael Richard Pence di Jakarta, Kamis (20/4/2017) seperti dikutip dari Merdeka
Pence sapaan akrabnya mengaku kagum dengan keragaman di Indonesia yang dikenal negara dengan penduduk muslim terbanyak di dunia.
“Sebagai negara mayoritas Muslim terbesar di dunia, Islam moderat di Indonesia dan keberagamannya menjadi inspirasi dunia. Dan kami, sangat kagum dengan hal itu,” ucap.
Pence mengatakan persatuan dalam keragaman di Indonesia bisa membawa kebaikan bagi dunia. Hal tersebut yang menjadi alasan Indonesia menginspirasi tak hanya Amerika Serikat, tapi juga internasional.
“Sebagai negara muslim terbesar di dunia dan negara demokrasi ketiga terbesar di dunia kita juga sepakat untuk menguatkan kerja sama di bidang perdamaian,” pungkasnya.
Pence diajak berkeliling masjid oleh Imam Besar Istiqlal Nasaruddin Umar. Selain diajak melihat beduk, Pence sekeluarga juga berpose dengan latar Gereja Katedral, berada di seberang Istiqlal.
Dengan berfoto dengan latar belakang gereja Katedral, Pence, kata Nasaruddin, bermaksud ingin memperlihatkan kepada dunia bahwa toleransi di Indonesia merupakan suatu hal yang dijaga dan dipertahankan bersama, dan ini tampak dengan begitu dekatnya tempat-tempat beribadah warga yang berbeda keyakinan, seperti Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral di Jakarta.
Selasai berkeliling Masjid Istiqlal, Pence bertemu beberapa tokoh lintas agama selama sekitar setengah jam.
 
Keterangan Foto :
Wapres AS Mike Pence (dua dari kanan) foto bersama dari kiri ke kanan: Putrinya Audrey dan Charlotte, istrinya, Karen, Kepala Masjid Istiqlal Muhammad Muzammil Basyuni dan Imam Besar Masjid Istiqlal Nasaruddin Umar di Masjid Istiqlal, Jakarta, 20 April 2017
 

Arswendo Mengaku tak Sengaja Menista Agama, Tapi Dihukum 4 Tahun Penjara

Berdasarkan yurisprudensi, kasus video Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok di Kepulauan Seribu dinilai sudah dapat disebut sebagai tindakan penistaan agama.
Dalam ilmu hukum, yurisprudensi adalah keputusan-keputusan dari hakim terdahulu untuk menghadapi suatu perkara yang tidak diatur di dalam UU.
Dan keputusan-keputusan itu dijadikan sebagai pedoman bagi para hakim yang lain untuk menyelesaian suatu perkara yang sama.
Menurut ahli hukum pidana, Teuku Nasrullah, sudah ada putusan hakim terdahulu terkait penistaan agama. Meskipun pelakunya meminta maaf atau berkilah tidak memiliki maksud atau sengaja menista agama.
Hal itu disampaikannya dalam ‘Diskusi Publik: Kasus Ahok Nista Islam dalam Perspektif Hukum Pidana’ di Rumah Amanah Rakyat, Menteng, Jakarta, Kamis (10/11/2016).
Kasus Arswendo
Nasrullah memberi contoh kasus Arswendo Atmowiloto pada tahun 1990. Saat itu, Arswendo membuat polling di Tabloid Monitor, siapa tokoh idola menurut para pembacanya.
Menurut hasil polling yang dirilis tabloid itu, nama Presiden Soeharto berada di urutan pertama. Disusul kemudian dengan nama BJ Habibie, Soekarno, lalu musisi Iwan Fals.
Nama Arswendo masuk ke dalam urutan ke-10, sementara Nabi Muhammad Shallallahu’Alaihi Wasallam berada pada urutan ke-11.
“Kemudian, saat itu muncul kemarahan dari umat Islam. Mereka melaporkan Arswendo atas tuduhan menghina Nabi Muhammad,” kata dosen Universitas Indonesia ini.
Ketika itu, Arswendo berkilah tidak punya maksud atau sengaja menghina Nabi Muhammad Shallallahu’Alaihi Wasallam. Tapi dia tetap dijatuhi hukuman 4 tahun penjara.
“Kesengajaan di sini (dalam pasal penistaan agama. Red) bukan kesengajaan dalam maksud. Tapi kesengajaan yang dapat diduga mengetahui bahwa perbuatannya menista agama dan mengganggu ketertiban umum,” lanjut Nasrullah.
Arswendo dihukum karena patut mengetahui perbuatannya mengganggu ketertiban umum.
“Sebab, pasal 156 ada di bawah Bab Ketertiban Umum. Penistaan agama tidak di bawah pasal agama tapi di bawah Bab Ketertiban Umum. Ini tentang ketertiban umum. Setiap orang harus menjaga ketertiban umum,” ujarnya.
Pria kelahiran Aceh ini melanjutkan, kalau seseorang sudah bersekolah dan bisa berpikir, sepatutnya tahu perbuatannya bisa mengganggu ketertiban umum atau tidak.
 

Refleksi Kemenangan Fathu Makkah untuk Jakarta

Rasulullah ketika Fathu Makkah, yaitu melakukan Pembebasan kota Mekah dari kemenangan melawan kafir quraisy, seraya memasuki kota Mekkah dengan kepala menunduk sambil berdoa mengucapkan surat An nashr yang terdiri dari 3 ayat

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

 (1)إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ

(2)وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا

 (3)فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا

Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan. Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berhondong-bondong. Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima Tobat.”
Diriwayatkan oleh ‘Abdurrozzaq did lam kitab al-Mushannaf, dari Ma’mar yang bersumber dari az-Zuhri,
Bahwa ketika Rasulullah saw memasuki kota Mekah saat Fathu Makkah, Khalid bin Walid diperintahkan untuk memasuki Mekah dari dataran rendah untuk menggempur pasukan Quraisy (yang menyerangnya) serta merampas senjatanya setelah memperoleh kemenangan. Maka berbondong-bondonglah kaum Quraisy masuk Islam.
Surat ini turun berkenaan dengan peristiwa tersebut, sebagai perintah untuk memuji syukur untuk memahasucikan Allah atas kemenangan yang telah diraih dan meminta ampunan atas segala kesalahan yang telah dilakukan.
Peristiwa Fathu Makkah terjadi tahun kedelapan Hijriyah. Dengan peristiwa ini, Allah mengubah kota Makkah yang dulunya menjadi lambang kesombongan dan keangkuhan, menjadi kota dengan lambang keimanan dan kepasrahan kepada Allah ta’ala.
 
Sumber: Asbabunnuzul, KHQ. Shaleh dkk

Bermula dari Aksi 212, Keluarga Ini Rela Bolak Balik Qatar-Jakarta demi Pilkada

Pesta demokrasi Pilkada yang sedang berlangsung di Ibukota membuat warga Jakarta berbondong-bondong menyambangi Tempat Pemungutan Suara (TPS) di wilayahnya masing-masing untuk memilih pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur pilihannya.
Bahkan, ada warga Jakarta yang sengaja bertolak dari Qatar ke Jakarta demi menunaikan hak pilihnya sebagai Warga Negara Indonesia. Semangat dan perjuangan Er Sopian (50 tahun) beserta isteri dan kedua anaknya ini patut mendapat acungan jempol.
“Sebelumnya, saya dan istri sudah merencanakan ini jauh-jauh hari. Sekaligus mengajak kedua anak saya, Reza (17) dan Aninditya Salma Sopian (20) yang kuliah di Inggris terbang ke Jakarta untuk nyoblos,” kata Er Sopian, Rabu (19/4/2017).
Kuatnya keinginan mencoblos di Pilkada Jakarta ini, kata Er mengawali kisahnya, bermula dari Aksi 212 di Jakarta tahun lalu. Mendapat informasi adanya aksi massa itu, dia langsung membeli tiket pesawat pulang pergi Qatar-Jakarta.
Semangat perjuangan di Aksi 212 dalam diri dan keluarganya terus berlanjut hingga berlangsungnya pilkada putaran pertama. Sayangnya, bertepatan dengan pesta demokrasi di putaran pertama itu dia dan sejumlah rekan kerjanya di perusahaan minyak tengah berada di tengah-tengah laut di Qatar.
“Karena saat itu saya tak mungkin (ke Jakarta), akhirnya isteri saya saja yang berangkat,” cerita Er.
Tiba di hari pencoblosan, dia dan isterinya lantas bergabung bersama relawan lainnya yang tergabung dalam Gema Jakarta menjadi saksi berlangsungnya Pilkada Jakarta di putaran kedua.
Sekeluarga Er Sopian pun lantas berbagi tugas di sejumlah tempat pemungutan suara (TPS) yang tak jauh dari rumahnya, yakni TPS 12, 15, dan 16.
Pagi sebelum pemilihan digelar, isterinya menyempatkan menyiapkan nasi bungkus dan sejumlah makanan ringan untuk diberikan kepada sejumlah relawan.
Pencatatan dilakukan para relawan umumnya secara manual. Untuk memudahkan upload data, dia sengaja membawa komputernya. Semua hasil catatan para relawan di-entry ke komputernya dengan cepat.
“Karena ada beberapa hasil data dari TPS yang perlu kami catat, saya harus gunakan sepeda motor berboncengan dengan anak saya Reza menengok dari satu TPS ke TPS lainnya,” ujarnya.
Dan sesuai aturan, maka pelaksanaan pemilihan suara harus sudah selesai pukul 13.00 WIB. “Alhamdulillah semuanya lancar,” ujarnya
Meski hasil hitung cepat menyebutkan kemenangan telak buat Anies Sandi, namun Sopian terus terang mengaku masih menyimpan rasa khawatir.
Khawatir kalau pelaksanaan pilkada ini dicurangi. Beda dengan isterinya yang yakin dan optimistis hasil perhitungan manual (di KPUD Jakarta) pada akhirnya nanti pasangan Anies-Sandi menang.
Rekapitulsasi perhitungan cepat dari berbagai lembaga survey menyebutkan secara umum pasangan Anies-Sandi unggul dibanding pesaingnnya. Kenyataan ini yang membuat dia dan keluarganya merasa perjuangannya tak sia-sia.
“Allah mendengar usaha kita. Ini doa seluruh umat dan para ulama dan seluruh masyarakat Indonesia,” katanya.
 
Sumber : Republika