by Danu Wijaya danuw | Jan 28, 2017 | Artikel, Kisah Sahabat
Jakarta bermula dari sebuah bandar kecil di muara Sungai Ciliwung sekitar 500 tahun silam. Bahkan boleh jadi lebih jauh lagi dari 500 tahun yang lalu.
Di beberapa tempat di Jakarta seperti Pasar Minggu, Pasar Rebo, Jatinegara, Karet, Kebayoran, Kebon Sirih, Kebon Nanas, Cawang, Kebon Pala, Rawa Belong, Rawa Lefe, Rawa Bangke, ditemukan benda-benda pra sejarah seperti kapak, beliung, gurdi, dan pahat dari batu. Alat-alat tersebut berasal dari zaman batu atau zaman neolitikum antara tahun 1000 SM. Jadi, pada masa itu sudah ada kehidupan manusia di Jakarta.
Di Jakarta juga ditemukan Prasasti Tugu ditemukan di Cilincing, Jakarta Utara Prasasti itu sarat informasi tentang Kerajaan Tarumanegara dengan Raja Purnawarman. Menurut prasasti itu, Jakarta merupakan wilayah Kerajaan Tarumanegara, kerajaan tertua di Pulau Jawa, di samping Bogor, Banten, Bekasi sampai Citarum di sebelah timur dan Ciaruten.
Setelah Tarumanegara hancur oleh Sriwijaya, menurut sejarah, pada abad ke 14, Jakarta menjadi bagian dari kerajaan Pajajaran. Sebuah kerajaan Hindu yang pusatnya terletak di Bogor.
Sunda Kelapa dipimpin oleh Sanghyang Surawisesa yang setahun sebelumnya pernah diutus oleh ayahandanya, Sri Baduga (Ratu Jayadewata) Raja Pakuan Pajajaran, untuk pergi ke Malaka meminta bantuan Portugis, Alfonso d Albuquerque menghadapi pengaruh kerajaan Islam Demak dan Cirebon.
Menurut Pires, saat itu hanya sedikit pedagang Muslim yang diperbolehkan masuk ke Sunda Kelapa. Ekspedisi Portugis kedua pada 1522 dipimpin oleh Enrique Leme yang menjalin perjanjian persahabatan dan monopoli perdagangan lada dengan Surawisesa pemimpin Sunda Kelapa.
Koalisi Sunda-Portugis ini ditandai dengan prasasti batu Padrao tertanggal 21 Agustus 1522 yang ditanam di tepi pantai. Batu Padrao ditemukan di Jalan Cengkeh persis di samping rel kereta api pada 1918, dan kini disimpan di Museum Nasional. Isi perjanjian Padrao berupa persahabatan militer dan ekonomi antara Portugis dan Kerajaan Pajajaran.
Sunda Kelapa merupakan pelabuhan yang memiliki nilai strategis secara ekonomi dan politik dari Kerajaan Hindu Pajajaran. Bandar ini menjadi pelabuhan perantara paling ramai dikunjungi para pedagang Arab, India, Cina, dan para pedagang Nusantara setelah Malaka.
Ekspansi Islam Kerajaan Demak

Kawasan Jawa Barat sampai tahun 1526 yang dikuasai Pajajaran menjadi fokus politik ekspansi Kerajaan Demak dengan tujuan melakukan islamisasi di wilayah itu. Menancapkan pengaruh secara politis dan mengontrol kegiatan perdagangan di pantai Utara Jawa bagian Barat dan Selat Sunda merupakan tujuan utamanya.
Politik ekspansi ini berarti berhadapan dengan Kerajaan Pajajaran yang sejak tahun 1522 telah menjalin persekutuan dengan Portugis, yang merupakan musuh besar Demak.
Disamping itu, Portugis dan Demak berpacu dengan waktu untuk segera menduduki Sunda Kelapa. Pada tahun 1526, Alfonso d’Albuquerque mengirim enam kapal perang dibawah pimpinan Francisco de Sa menuju Sunda Kelapa. Kapal yang dikirim adalah jenis galleon yang berbobot hingga 800 ton dan memiliki 21-24 pucuk meriam. Armada itu diperkirakan membawa prajurit bersenjata lengkap sebanyak 600 orang.
Pada tahun yang sama, Sultan Trenggono dari kerajaan Islam Demak mengirimkan 20 kapal perang bersama 1.500 prajurit dibawah pimpinan Fatahillah menuju Sunda Kelapa.
Fatahillah sendiri memiliki nama kebesaran. Portugis menyebut nama Fatahillah dengan “Falatehan”. Sultan Demak menggelarnya “Orang agung dari Pase”. Dalam versi yang lain orang Portugis memanggilnya Fatahillah Khan. Masyarakat jawa yang hidup semasanya memanggilnya “Ki Fatahillah”, yang berarti orang terhormat karena kealiman dan ketokohan dalam masyarakat Jawa. Dalam versi lain Fatahillah adalah menantu Sunan Gunung Jati yang dikawinkan oleh Sultan Demak.
Ekspansi armada perang Kerajaan Demak terdiri dari kapal tradisional jenis Lancaran dan Pangajawa yang ukurannya jauh lebih kecil dari galleon. Kapal-kapal ini digerakkan oleh layar dan dayung serta dilengkapi paling banyak delapan pucuk meriam buatan lokal yang jangkauannya tidak sejauh meriam Portugis.
Berbeda dengan pasukan yang pernah dikirim ke Malaka, prajurit Demak kali ini dipimpin oleh Fatahillah yang merupakan prajurit yang terlatih. Sejumlah perwiranya merupakan veteran pasukan Pati Unus yang terkenal memiliki pengalaman perang laut untuk bagaimana menghadapi kapal-kapal Portugis.
Setelah Cirebon menggabungkan diri dengan Demak, maka Fatahillah tidak langsung menggempur Sunda Kelapa, melainkan mengarahkan armadanya ke Banten yang tidak dipertahankan secara kuat oleh tentara prajurit Kerajaan Pajajaran.
Sehingga, Banten dapat diduduki oleh gabungan pasukan Kerajaan Islam Demak dan Cirebon pada akhir tahun 1526. Penguasa Banten kemudian dipegang oleh Maulana Hasanudin, tokoh penyebar Islam dari Cirebon.
Pada awal januari tahun 1527, Fatahillah menggerakkan armadanya ke Sunda Kelapa, sementara pasukan Banten pimpinan Maulana Hasanudin secara bertahap menduduki wilayah demi wilayah Pajajaran dari arah Barat. Sedangkan pasukan Cirebon bergerak menguasai wilayah Pajajaran bagian Timur Jawa Barat.
Dalam kondisi itu, Sunda Kelapa masih dipertahankan oleh Kerajaan Pajajaran secara kuat, baik di darat maupun laut. Pada akhir bulan Februari 1527, armada Fatahillah memasuki perairan Sunda Kelapa dan dihadang oleh kapal-kapal Pajajaran yang dari segi teknologi persenjataan dan pengalaman masih dibawah armada Demak. Kapal-kapal Demak melakukan taktik bombardemen jarak jauh dengan meriam, kemudian diikuti lontaran bola api dan anak panah ke arah kapal-kapal Kerajaan Pajajaran.
Kemudian dituntaskan oleh penguasaan prajurit yang berayun dari kapal sendiri ke kapal musuh. Armada Demak dengan mudah melumpukan armada kapal perang Kerajaan Pajajaran, yang kemudian segera merapat ke pelabuhan dibawah hujan peluru meriam dari pantai yang selalu meleset karena kurangnya keterampilan prajurit pengawaknya.
Seluruh pasukan Demak dan Cirebon dibawah pimpinan Adipati Keling dan Adipati Cangkuang dari Cirebon berhasil didaratkan dan langsung berhadapan dengan pasukan darat Kerajaan Pajajaran yang dipimpin Sri Baduga Maharaja.
Dalam waktu sehari Sunda Kelapa dapat dikuasai oleh pasukan Fatahillah. Oleh karena itu, Sultan Trenggono mempercayakan Fatahillah sebagai penguasa Sunda Kelapa yang baru.
Kapal-kapal dan prajurit Kerajaan Demak yang disertakan dalam ekspedisi itu tetap dipertahankan di Sunda Kelapa untuk mendukung gerakan pasukan Islam yang sedang bergerak ke kawasan Pakuan (daerah Bogor) yang menjadi ibu kota Pajajaran. Selain itu, disiapkan untuk menghadapi kedatangan armada Portugis yang diketahui sedang bergerak ke arah Jawa bagian barat.
Kemenangan Maritim Fatahillah, Munculnya Nama Jayakarta
Perkembangan politik di Sunda Kelapa ternyata tidak diketahui oleh armada Portugis. Pada bulan Juni 1527 kapal-kapal Portugis sudah terlanjur berada di Teluk Sunda Kelapa.
Dimana sebuah kapal Portugis sedang ditugaskan merapat di pelabuhan dan menurunkan pasukan bersenjata lengkap untuk merealisasikan perjanjian membangun loji (perkantoran dan perumahan yang dilengkapi benteng pertahanan) antara Portugis dengan Kerajaan Pajajaran pada tahun 21 Agustus 1522.
Dalam perjanjian itu, Sunda Kelapa akan menerima barang-barang yang diperlukan. Raja Pajajaran akan memberikan Portugis seribu keranjang lada sebagai tanda persahabatan.
Fatahillah sebagai penguasa baru Sunda Kelapa tentu saja menolak maksud Portugis itu yang berakhir dengan pertempuran di Kota Sunda Kelapa. Kekuatan yang tidak seimbang membuat pasukan Portugis mundur kembali ke kapalnya.
Kapal Portugis yang naas itu gagal meninggalkan perairan Sunda Kelapa dan tenggelam karena dihujani tembakan meriam dari pantai dan dikepung kapal-kapal armada Kerajaan Demak yang ternyata lebih lincah untuk pertempuran pantai.
Kapal-kapal Portugis lainnya membentuk formasi di perairan terbuka untuk menghadang kedatangan armada Kerajaan Demak yang diperkirakan akan muncul dari Teluk Sunda Kelapa. Fatahillah sengaja menahan armadanya untuk tetap bertahan di teluk lantaran mempertahankan Sunda Kelapa menjadi tujuan utamanya.
Hal ini didasarkan pada dua perkiraan, yaitu Pertama kapal-kapal Kerajaan Demak akan sulit menghadapi armada Portugis di laut terbuka karena ketertinggalan teknologi senjata dalam hal jangkauan meriam dan menggiring Portugis untuk memaksakan pertempuran pantai yang memang menjadi spesialisasi kapal dan prajurit Demak.
Kedua, pada saat itu sedang terjadi badai di perairan terbuka yang membahayakan pelayaran kapal-kapal Demak karena tonase dan ukurannya relatif kecil. Namun juga akan menjadi kerugian pasukan Portugis.
Dalam suasana yang serba mencekam dan tidak pasti itu, sebuah kapal perang Portugis mencoba memasuki teluk untuk menghindari badai. Namun, kehadiran kapal itu segera dikepung dan ditenggelamkan oleh kapal-kapal Kerajaan Demak yang mampu mengarahkan meriam dan bola api tepat di lambung dan geladak kapal yang naas itu.

Empat kapal Portugis lainnya tidak berani memasuki Teluk Sunda Kelapa dan memilih menghadapi badai. Tenggelamnya dua kapal ini membuat Fransisco de Sa memerintahkan armadanya kembali ke Malaka.
Kemenangan pertempuran ini menunjukkan kehebatan pasukan kerajaan Demak yang dipimpin oleh Fatahillah. Atas kemenangan ini, kemudian Fatahillah diangkat sebagai Gubernur di Sunda Kelapa.
Untuk memperingati kemenangan armada Kerajaan Demak dalam merebut Sunda Kelapa dari kekuasaan Kerajaan Pajajaran, dan mempertahankannya dari Portugis.
Maka pada tanggal 22 Juni 1527, Fatahillah mengubah nama pelabuhan ini menjadi Jayakarta yang berarti Kota Kemenangan. Sehingga, setiap tanggal 22 juni diperingati sebagai ulang tahun kota Jakarta, yang sekarang menjadi ibu kota Republik Indonesia.
Fatahillah mengganti nama Sunda Kelapa dengan nama yang diambil dari Al-Qur’an, yaitu Fatham Mubina yang artinya Jayakarta. Kemudian disingkat menjadi Jakarta. Walau sempat diubah Belanda menjadi nama Batavia, yang berasal dari wilayah nenek moyang Belanda. Jepang yang membenci nama Eropa, juga andil mengubah nama Batavia menjadi nama Jakarta kembali. Saat itu dinamakan “Jakarta Tokubetshu Shi”, yang artinya Daerah Khusus Ibukota Jakarta.
*Yang perlu dicatat :
Kemenangan Fatahillah itu karena pandai memainkan strategi maritim dalam menguasai kondisi dan geografis Sunda Kelapa. Meskipun peralatannya terbatas tetapi semangat pasukan Demak yang dijiwai dengan semangat jihad fi sabililliah, mampu mengalahkan kekuatan Portugis yang juga menggunakan strategi maritim.
Selain itu tidak dipungkiri kemenangan itu juga ditopang oleh keberpihakan alam, di mana saat itu Teluk Sunda Kelapa sedang dirundung badai sehingga banyak kapal Portugis yang hancur akibat badai itu.
Tentu semua karena izin Allah Swt, Tuhan Semesta Alam yang memberikan setiap kemenangan bagi umatnya yang berperang di atas jalan-Nya. Dengan kemenangan itu, maka Jayakarta menjadi pusat penyebaran Islam untuk daerah Jawa Barat dan Sumatera bagian selatan.
Sumber : Jurnal Maritim, Sunda Andy, Babat Caruban Cirebon (1720 M), Saifuddin Zuhri dalam Sejarah Kebangkitan Islam Indonesia (1980), H.M. Zainuddin dalam Tariekh Aceh dan Nusantara, Strategi Maritim dalam Perang Laut Nusantara oleh Laksada Hery Setianegara terbitan Pusjarah TNI.
by Danu Wijaya danuw | Jan 27, 2017 | Adab dan Akhlak, Artikel
Al Aswad bin Yazid meriwayatkan dari Abdullah, ia berkata, “Rasulullah Shalallaahu ‘Alahi Wasallam bersabda: ‘Obatilah orang-orang yang sakit di antara kalian dengan sedekah, bentengilah harta kalian dengan zakat, dan siapkanlah doa untuk menghadapi musibah.“‘ (HR Baihaqi)
Hadits tersebut merupakan nash yang menyebutkan sedekah merupakan salah satu media pengobatan dan penyembuhan atas izin Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Kata-kata tersebut diungkapkan oleh orang yang ma’shum yang tidak berbicara berdasarkan hawa nafsu.
Ibnul Qayyim berkata, “Setiap dokter yang tidak mengobati pasiennya dengan memeriksa hati, kebaikan, kekuatan ruhani, dan tidak menguatkan itu semua dengan sedekah, berbuat kebaikan dan kebajikan serta kembali kepada Allah dan hari akhir, berarti ia bukan dokter sejati. Akan tetapi, seseorang yang baru belajar menjadi dokter.”
Sedekah bisa menghilangkan penyakit setelah terjangkit dan akan mencegahnya sebelum terjangkit. Ulama fikih dan dokter mengatakan bahwa tindakan pencegahan lebih mudah daripada pengobatan. Karena itu, mencegah sesuatu sebelum terjadi jauh lebih mudah daripada menghilangkannya setelah terjadi.
Pencegahan lebih berguna daripada pengobatan untuk menghilangkan penyakit. Atas dasar ini, obat yang mampu menghilangkan penyakit ialah obat yang dijadikan Allah mampu mencegah terjadinya penyakit itu. Sedekah bisa mencegah penyakit, sebagaimana juga bisa menghilangkan penyakit dengan izin Allah.
Dari titik tolak inilah seharusnya orang menaruh perhatian untuk suatu masalah penting, yakni seorang mukmin tidak bermualamah dengan Allah dalam bentuk coba-coba. Bila berhasil mendapatkan yang dikehendaki akan selalu dan konsisten melakukannya, sementara bila tidak berhasil akan melemah dan berhenti.
Orang mukmin haruslah bermuamalah dengan Rabbnya dengan keyakinan yang kuat, kepercayaan, dan tawakal yang benar, serta berbaik sangka kepada Allah.
Dari Hasan bin Ahmad Hamma, et.al. Buku Terapi dengan Ibadah
by Danu Wijaya danuw | Jan 27, 2017 | Artikel, Dakwah
Wali Songo memahami wayang merupakan salah satu cara efektif untuk berdakwah. Wayang bukan hanya salah satu kekayaan budaya nusantara, namun ia juga cara dakwah yang dilakukan Wali Songo, terutama Sunan Kalijaga yang menggunakan wayang saat menyebarkan agama Islam di Pulau Jawa.
Wali Songo menggunakan wayang dengan beberapa perubahan atas wayang beber yang berwujud persis manusia. Namun, perubahan ini tetap mempertimbangkan adat istiadat, serta kebudayaan masyarakat setempat.
Warna agama Hindu dan pemujaan terhadap arca dalam wayang juga dihilangkan dengan mengubah bahan kertas dengan kulit kerbau.
Wujud manusia tetap masih ada, tapi dibuat aneh. Misalnya leher dibuat panjang, gambar wajah dibuat miring, tangan dibuat panjang sampai kaki. Akhirnya, wayang bisa menjadi tontonan menarik, sekaligus disisipi pesan moral dan dakwah Islam.
Penggubahan wayang yang dipelopori oleh Sunan Kalijaga itu terjadi kira-kira tahun 1443 M. Para Walisongo bahkan menciptakan gamelannya.
Untuk memainkan wayang dan gamelannya itu para Wali Songo mengarang cerita yang bernapaskan nila-nilai keislaman.
Adapun Karakter Punakawan yang terdiri atas Semar, Bagong, Petruk, dan Gareng adalah karakter yang sarat dengan muatan Keislaman.
Keempat pelaku yang dimunculkan para Wali Songo ini mengandung falsafah yang amat dalam yang merujuk pada bahasa Arab, di antaranya sebagai berikut :
1. Dalang, yang diambil dari kata “Dalla” yang artinya menunjukkan.
Dalam hal ini, seorang “Dalang” adalah seseorang yang “menunjukkan kebenaran kepada para penonton wayang”.
2. Tokoh Semar, yang berasal dari kata “Simaar” yang berarti Paku.
Filosofisnya adalah dimana seseorang harus memiliki iman yang kuat dan kokoh laksana paku yang menancap.
3. Tokoh Petruk, yang berasal dari kata “Fat-ruuk” yang berarti tinggalkan, dimana seseorang harus meninggalkan apa yang disembah selain Allah semata.
3. Tokoh Gareng, yang berasal dari kata “Qariin” yang berarti teman. Seseorang muslim harus pandai mencari teman untuk diajak menuju jalan kebaikan.
4. Tokoh Bagong, yang berasal dari kata “Baghaa) yang berarti berontak. Seseorang muslim harus memberontak ketika melihat kedzaliman di hadapannya.
Sunan kalijaga sering keluar masuk kampung untuk melakukan pagelaran-pagelaran wayang. Beliau melakukan pagelaran tanpa memungut biaya pada penontonnya. Beliau hanya meminta mereka untuk mengucapkan dua kalimat syahadat kepada siapa saja yang menonton pertunjukkan wayangnya.
Beliau memiliki pemikiran bahwa mereka harus didekati secara perlahan. Jadi tujuan utama beliau adalah mengislamkan mereka dahulu, baru kemudian bertahap mengajarkan akidah kepada mereka.
Beliau juga berpendapat ketika seseorang telah memahami Islam, maka secara perlahan kebiasaan yang ada padanya dahulu akan hilang dengan sendirinya.
Selain Wayang Kulit, beliau juga menciptakan tembang suluk yang sangat populer salah satunya adalah Lir-Ilir. Tembang tersebut sarat akan makna tentang hakikat kehidupan dengan liriknya yang indah.
Beliau menciptakan cerita pewayangan versi Islam seperti Jimat Kalimasada dan DewaRuci, yang ceritanya hampir sama dengan kisah Nabi Khidir. Cerita itu masih berbentuk cerita menurut kepercayaan Jawa yang bernuansakan Islami dan dengan corak kehidupannya yang ada. Kalimasada adalah pusaka azimat yang ternyata untuk mengucapkan syahadat. Sehingga semua penontonnya bersyahadat masuk Islam.
Tak hanya itu, Wali Songo juga memberi kelengkapan teknik pakeliran. Misalnya, setiap pergelaran wayang digunakan layar (kelir), pohon pisang guna menancapkan wayang, blencong sebagai penerangan, kotak alat penyimpang wayang dan cempala guna memukul kotak.
Cerita pergelaran memang tetap memakai Ramayana dan Mahabharata. Sebab saat itu masyarakat masih dalam pengaruh kerajaan Hindu-Budha. Namun dalam beberapa bagian, diselipkan unsur dakwah yang mengarah pada tauhid, meskipun dalam bentuk simbol lambang.
Wayang akhirnya sering diundang untuk pentas di tengah-tengah masyarakat dalam berbagai hajat seperti, tasyakuran, hitanan, perkawinan, dan sebagainya.
Melalui pentas wayang, seorang mubaligh benar-benar merasa dapat menyiarkan agama Islam secara lebih efektif dan mengena. Semua adegan digunakan untuk menyalurkan dakwah, sehingga realitas di lapangan menyebutkan bahwa setelah ditampilkan wayang tersebut banyak pola pikir masyarakat yang berubah.
Misalnya, masyarakat yang semula tidak shalat kemudian menjadi shalat, yang semula tidak mau mengaji, kemudian mau mengaji.
Banyak orang yang malam nonton wayang, siangnya datang memberi tahu bahwa dirinya sekarang sudah shalat. Bukan saja penonton wayang yang jelas-jelas menjadi sasaran dakwah tetapi juga pengrawit.
Sunan Kalijaga dengan jenius menggunakan prinsip dakwah yang multidimensi menjadikan pentas wayang sebagai media yang efektif untuk mendekatkan dan menarik simpati masyarakat terhadap agama.
by Danu Wijaya danuw | Jan 26, 2017 | Adab dan Akhlak, Artikel
Kita mengetahui, Sholat secara berjamaah itu mendapat lebih 27 derajat dibanding Shalat bersendirian. Tetapi ruginya kita masih tidak mampu untuk berjamaah di Masjid atau Mushola.
Kita mengetahui, bahwa ucapan “Subhaanallaahi wa bihamdihi” sebanyak 100 kali dalam sehari akan menghapuskan dosa-dosa kita, walaupun dosa kita sebanyak buih di lautan. Akan tetapi sayang, berapa banyak hari kita yang berlalu tanpa kita mengucapkannya sedikitpun.
Kita mengetahui, bahwa pahala dua rakaat Dhuha setara dengan pahala 360 sedekah, akan tetapi sayang, hari berganti hari tanpa kita melakukan sholat Dhuha.
Kita mengetahui, bahwa orang yang berpuasa sunnah karena Allah satu hari saja, akan dijauhkan wajahnya dari api Neraka sejauh 70 musim atau 70 tahun perjalanan. Tetapi sayang, kita tidak mau menahan lapar.
Kita mengetahui, bahwa siapa yang menjenguk orang sakit akan diikuti oleh 70 ribu Malaikat yang memintakan ampun untuknya. Tetapi sayang, kita belum juga menjenguk satu orang sakit pun minggu ini.
Kita mengetahui, bahwa siapa yang membantu membangun Masjid karena Allah SWT walaupun hanya sebesar sarang burung, akan dibangunkan sebuah rumah di Surga. Tetapi sayang, kita tidak tergerak untuk membantu pembangunan Masjid walaupun hanya dengan beberapa puluh ribu atau seribu rupiah.
Kita mengetahui, bahwa siapa yang membantu ibu tunggal dan anak yatimnya, pahalanya seperti berjihad di jalan Allah, atau seperti orang yang berpuasa sepanjang hari tanpa berbuka, atau orang yang shalat sepanjang malam tanpa tidur. Tetapi sayang, sampai saat ini kita tidak berniat membantu seorang pun anak yatim.
Kita mengetahui, bahwa orang yang membaca satu huruf dari Al-Qur’an, baginya sepuluh kebaikan dan satu kebaikan akan di lipatgandakan sepuluh kali. Tetapi sayang, kita tidak pernah meluangkan waktu membaca Al-Qur’an dalam jadwal harian kita.
Kita mengetahui, bahwa Haji yang mabrur, tidak ada pahala baginya kecuali Surga, dan akan diampuni dosa-dosanya sehingga kembali suci seperti saat dilahirkan oleh ibunya. Tetapi sayang, kita tidak bersemangat untuk melaksanakan Haji, padahal kita mampu melaksanakannya.
Kita mengetahui, bahwa orang mukmin yang paling mulia adalah yang yang paling banyak shalat malam, dan bahwasanya Rasulullah SAW dan para sahabatnya tidak pernah meremehkan sholat malam ditengah segala kesibukan dan jihad mereka. Tetapi sayang kita terlalu meremehkan sholat malam.
Kita mengetahui, bahwa hari Kiamat pasti terjadi, tanpa ada keraguan, dan pada hari itu Allah SWT akan membangkitkan semua yang ada di dalam kubur. Tetapi sayang, kita tidak pernah mempersiapkan diri untuk hari itu.
Kita sering menyaksikan orang-orang yang kita kenal dan kita sayangi meninggal mendahului kita. Tetapi sayang, kita selalu hanyut dengan senda gurau dan permainan seakan kita mendapat jaminan hidup selamanya.
Astaghfirullah… Barokallaahu fiikum.
by Danu Wijaya danuw | Jan 26, 2017 | Adab dan Akhlak, Artikel
1) Ada zaman ketika Al Hajjaj ibn Yusuf yang ‘alim lagi faqih berkuasa & menindas di ‘Iraq hingga Hijjaz. Tapi nurani tak susah bersikap.
2) Al Hajjaj adalah “orang kuat”. Jabatannya Gubernur; tapi para Penguasa Bani ‘Umayyah tak berani mengambil tindakan apapun terhadapnya.
3) Ditulis Ibn Al Atsir dalam Al Kamil; jumlah yang dibunuhnya mencapai 120.000 orang; belum termasuk 80.000 yang mati di pemenjaraannya.
4) Semua karena pemaksaannya agar masyarakat tunduk pada kuasa Daulah ‘Umayyah; tak boleh ada tanya, masukan, nasehat, kritik, & oposisi.
5) Korban keganasannya yang paling masyhur: ‘Abdullah ibn Az Zubair Radhiyallahu ‘Anhuma; dalam kisah dimanjaniqnya Ka’bah hingga lantak.
6) Kali ini mohon izin bercerita tentang Sa’id ibn Jubair; si ‘alim murid kesayangan Ibn ‘Abbas yang menjadi penutup kejahatan Al Hajjaj.
7) Setelah beliau ditangkap, Al Hajjaj bertanya; “Siapa namamu?” Beliau menjawab; “Sa’id ibn Jubair (orang bahagia; putra orang jaya).”
8) “Tidak”, sergah Al Hajjaj, “Namamu Saqi ibn Kusair (orang celaka anak orang hancur)!” “Ibuku lebih tahu siapa namaku!”, timpal Sa’id.
9) Kemudian Al Hajjaj bertanya tentang Rasulullah & Khulafaur Rasyidin. Dia berharap Sa’id menjelekkan ‘Ali, tapi beliau muliakan semua.
10) Ditanya tentang siapa Khalifah Bani ‘Umayyah yang terbaik; jawabnya; “Yang paling diridhai Rabbnya!” “Siapa itu?”, kejar Al Hajjaj.
11) “Ilmu tentang itu di sisi Allah”; jawab Sa’id mengutip Quran. “Kalau tentang aku?”, tanya Al Hajjaj. “Kau lebih tahu tentang dirimu.”
12) “Aku ingin tahu pendapatmu!”, desak Al Hajjaj. “Itu akan menyedihkanmu & mengusir kegembiraanmu”, tukas Sa’id. “Katakan!”, geramnya.
13) “Kau telah menyelisihi Kitabullah. Kau lakukan hal yang kauharap berwibawa karenanya; tapi ia menghinakan & menjatuhkanmu ke neraka!”
14) “Demi Allah aku akan membunuhmu!”, kata Al Hajjaj. “Dengan itu kauhancurkan duniaku & kuhancurkan akhiratmu”, sahut Sa’id tersenyum.
15) “Dengan cara apa kau mau dibunuh?”, sergah Al Hajjaj. “Pilihlah untukmu; dengan cara yang sama kelak Allah membalasmu!”, jawab Sa’id.
16) “Apa kau mau kuampuni?”, tanya Al Hajjaj. “Sesungguhnya ampunan hanya dari Allah; kau tak punya & tak berhak atasnya!”, jawab Sa’id.
17) “Prajurit! Siapkan pedang & alas!”, perintah Al Hajjaj. Maka Sa’id mensenyumkan tawa. “Apa yang membuatmu tertawa?”, tanya Al Hajjaj.
18) “Aku takjub atas kelancanganmu kepada Allah & santun-lembutnya Allah padamu”, kata Sa’id. “Prajurit, penggal dia!”, teriak Al Hajjaj.
19) Sa’id menghadap kiblat & membaca {QS6:79}: “Kuhadapkan wajahku pada Yang Mencipta langit & bumi..” “Palingkan dia!”, ujar Al Hajjaj.
20) Sa’id pun lalu membaca {QS2:115}: “Ke manapun kamu menghadap; di sanalah wajah Allah.” “Telungkupkan dia ke tanah!”, gusar Al Hajjaj.
21) Maka Sa’id kemudian membaca {QS20:55}: “Dari bumi (tanah) itulah Kami menjadikan kamu dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu..”
22) “Sembelih dia”, kata Al Hajjaj. “Sungguh tak ada orang yang lebih kuat hafalan Qurannya dari dia!” Maka Sa’id berdoa terakhir kali..
23) “Ya Allah; jangan kuasakan dia atas seorangpun sesudah diriku!” Lalu beliau dibunuh. Lima belas hari kemudian, Al Hajjaj mulai demam.
24) Sakit itu mengantarnya pada kematian. Dia terlelap sesaat lalu bangun berulang kali dalam ketakutan; “Sa’id ibn Jubair mencekikku!”
25) Punggawanya mengadu pada Hasan Al Bashri, memohonnya mendoakan sang majikan. Al Hasan berkata, “Sudah kukatakan padanya, jangan menzhalimi para ‘Ulama!”
26) Jelang sakaratul maut, doa-harapnya menakjubkan; “Ya Allah, orang-orang mengira Kau takkan mengampuniku. Sungguh buruk persangkaan mereka padaMu!”
27) Al Hajjaj mati bakda 40 hari; ‘Umar ibn ‘Abdil ‘Aziz & Hasan Al Bashri sujud syukur berulang kali. Kelak ‘Umar & beberapa ‘Alim lain bermimpi.
28) Bahwa Al Hajjaj dibunuh Allah sebanyak pembunuhan yang dia lakukan; kecuali atas Sa’id ibn Jubair; Allah membalasnya dengan 70 kali.
29) Benar; sungguh benar; “Hari keadilan bagi si zhalim; lebih berat daripada hari kezhaliman bagi mereka yang teraniaya.” Wallahu A’lam.
30) Islam adalah agama yang hendak menghapus kezhaliman; dari yang mengaku kafir maupun yang mendaku muslim. Tiap sikap; dicatat Allah & Sejarah.
31) Ya Allah; tunjuki kami yang haq itu haq; karuniai kami keteguhan Sa’id ibn Jubair, juga sikap ‘Umar ibn ‘Abdil ‘Aziz & Hasan Al Bashri.
32) Tunjukkan pada kami yang bathil itu bathil; seperti mereka lihat itu pada Al Hajjaj yang ‘alim tapi zhalim; juga pada sosok yang lebih tak samar lagi.
Dari twitter @salimafillah, 2013
by Danu Wijaya danuw | Jan 25, 2017 | Adab dan Akhlak, Artikel
Kalimat tauhid “Laa ilaaha illallah” adalah sebuah ikatan yang kuat dan ia juga merupakan kalimat taqwa. Ia juga merupakan rukun agama dan cabang keimanan yang paling utama. Ia juga merupakan jalan kesuksesan meraih surga dan keselamatan dari api neraka.
Karena kalimat inilah, Allah menciptakan para makhluk dan menurunkan Al Qur’an serta mengutus para Rasul. Ia juga merupakan kalimat syahadat dan kunci dari pintu kebahagiaan. Ia juga merupakan landasan dan pondasi agama dan pokok semua urusan.
Firman Allah Ta’ala, “Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS. Al Imran: 18)
Dalam hadist hasan riwayat Abu Dzar,
Abu Dzar berkata,”Wahai Rasulullah, apakah ’Laa ilaha illallah’ merupakan kebaikan?” Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,”Kalimat itu (laa ilaha illallah, pen) merupakan kebaikan yang paling utama. Kalimat itu dapat menghapuskan berbagai dosa dan kesalahan.” (Dinilai hasan oleh Syaikh Al Albani dalam tahqiq beliau terhadap Kalimatul Ikhlas, 55)
Suatu saat Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam mendengar muadzin mengucapkan ’Asyhadu alla ilaha illallah’. Lalu beliau mengatakan pada muadzin tadi, ”Engkau terbebas dari neraka.” (HR. Muslim no. 873)
Kalimat “Laa ilaaha illallah” adalah kalimat cinta. Ia wajib mencintai Allah, Rasul-Nya, agama Islam dan mencintai kaum Muslimin yang menegakkan perintah-perintah Allah dan menjaga batasan-batasannya. Dan membenci orang-orang yang bertentangan dengan kalimat “Laa ilaaha illallah” yaitu berupa kesyirikan atau kekufuran atau mereka mengerjakan hal yang mengurangi kesempurnaan
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, ”Barangsiapa yang akhir perkataannya sebelum meninggal dunia adalah ‘lailaha illallah’, maka dia akan masuk surga” (HR. Abu Daud. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Misykatul Mashobih no. 1621)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan:
وفضائل هذه الكلمة وحقائقها وموقعها من الدين فوق ما يصفه الواصفون ويعرفه العارفون وهي رأس الأمر كله
“Keutaman-keutamaan kalimat ini, hak-haknya, kedudukannya dalam agama itu melebihi dari apa yang bisa disifati oleh orang-orang dan melebihi yang diketahui oleh orang-orang, dan ia merupakan pangkal dari semua urusan”
Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam (hadits marfu’),
”Dzikir yang paling utama adalah bacaan ’laa ilaha illallah’.” (Dinilai hasan oleh Syaikh Al Albani dalam tahqiq beliau terhadap Kalimatul Ikhlas, 62)
Kalimat ‘Laa Ilaha Illallah’ adalah amal paling banyak ganjarannya : dicatat 100 kebaikan, dihapus 100 keburukan, menyamai pahala memerdekakan budak dan terlindung dari gangguan setan.
Sebagaimana terdapat dalam hadist shohihain (Bukhari-Muslim) dari Abu Hurairoh radhiyallahu ’anhu, dari Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam, beliau bersabda,
« مَنْ قَالَ: لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ ، لَهُ الْمُلْكُ ، وَلَهُ الْحَمْدُ ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ .
فِى يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ ، كَانَتْ لَهُ عَدْلَ عَشْرِ رِقَابٍ ، وَكُتِبَتْ لَهُ مِائَةُ حَسَنَةٍ ، وَمُحِيَتْ عَنْهُ مِائَةُ سَيِّئَةٍ ، وَكَانَتْ لَهُ حِرْزًا مِنَ الشَّيْطَانِ يَوْمَهُ ذَلِكَ حَتَّى يُمْسِىَ ، وَلَمْ يَأْتِ أَحَدٌ بِأَفْضَلَ مِمَّا جَاءَ بِهِ ، إِلاَّ أَحَدٌ عَمِلَ أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ » .
”Barangsiapa mengucapkan ’Laa ilaha illallah, wahdahu laa syarika lah, lahul mulku wa lahul hamdu, wa huwa ’ala kulli syay-in qodiir’
[tidak ada sesembahan yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah, tidak ada sekutu bagi-Nya, milik-Nya kerajaan dan segala pujian. Dia-lah yang Maha Kuasa atas segala sesuatu]
dalam sehari sebanyak 100 kali, maka baginya sama dengan sepuluh budak (yang dimerdekakan, pen), dicatat baginya 100 kebaikan, dihapus darinya 100 kejelekan, dan dia akan terlindung dari setan pada siang hingga sore harinya, serta tidak ada yang lebih utama darinya kecuali orang yang membacanya lebih banyak dari itu.” (HR. Bukhari no. 3293 dan HR. Muslim no. 7018)
Kalimat ‘Laa Ilaha Illallah’ adalah Kunci 8 Pintu Surga, orang yang mengucapkannya bisa masuk lewat pintu mana saja yang dia sukai.
Dari ’Ubadah bin Shomit radhiyallahu ’anhu, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ قَالَ : أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ وَأَنَّ عِيسَى عَبْدُ اللَّهِ وَابْنُ أَمَتِهِ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ وَأَنَّ الْجَنَّةَ حَقٌّ وَأَنَّ النَّارَ حَقٌّ أَدْخَلَهُ
اللَّهُ مِنْ أَىِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ الثَّمَانِيَةِ شَاءَ
”Barangsiapa mengucapkan ’saya bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya, dan (bersaksi) bahwa ’Isa adalah hamba Allah dan anak dari hamba-Nya, dan kalimat-Nya yang disampaikan kepada Maryam serta Ruh dari-Nya, dan (bersaksi pula) bahwa surga adalah benar adanya dan neraka pun benar adanya,
maka Allah pasti akan memasukkannya ke dalam surga dari delapan pintu surga yang mana saja yang dia kehendaki.” (HR. Muslim no. 149)
Al Hasan pernah berkata kepada Al Farazdaq, ketika ia menguburkan istrinya:
ما أعددتَ لهذا اليوم ؟ قال : شهادة أن لا إله إلا الله منذ سبعين سنة، فقال الحسن : “نعم العدة لكن
“Apa yang engkau persiapkan untuk hari ini (hari kematianmu kelak)? Al Farazdaq berkata: Syahadat Laa ilaaha illallah sejak 70 tahun yang lalu. Lalu Al Hasan berkata: iya benar, itulah bekal.