by Danu Wijaya danuw | Jan 25, 2017 | Artikel, Dakwah
Shalat qabliyah (sebelum) dan ba’diyah (sesudah) shalat Fardhu disebut shalat rawatib. Rawatib maksudnya adalah shalatnya sangat ditekankan (sunnah muakkadah). Rawatib berasal dari kata rotabah, artinya rutin, kontinyu. Dalam bahasa Arab ‘ratib’ diartikan juga sebagai gaji, karena dia kontinyu sifatnya.
Nabi saw menyatakan bahwa muslim yang shalat karena Allah 12 rakaat, selain fardhu, maka akan dibangunkan untuknya istana di surga.
Dari Ummi Habibah rodhiyallahu ‘anha pernah mendengar Rasulullah bersabda, “Allah SWT pasti membangun sebuah istana di surga bagi orang yang shalat sunnah tulus karena Allah, sebanyak duabelas rakaat setiap hari.” (HR. Muslim)
Dijelaskan dalam riwayat At-Tirmidzi, “Empat rakaat sebelum Dzuhur, dua rakaat setelahnya, dua rakaat setelah Maghrib, dua rakaat setelah Isya dan dua rakaat sebelum Shubuh.”
Dalam mazhab Syafi’i yang dianut masyarakat Indonesia, “Dua rakaat sebelum Dzuhur dan dua rakaat setelahnya, dua rakaat sebelum Ashar, dua rakaat sebelum Maghrib dan dua rakaat setelahnya, dua rakaat sebelum Isya dan dua rakaat setelahnya, dan dua rakaat sebelum Shubuh.”

Manfaat Amalan Shalat Qabliyah Ba’diyah
1. Saat Subuh
Seorang muslim yang shalat dua rakaat sebelum Shubuh lebih baik daripada dunia dan segala isinya.
Dari Aisyah rodhiyallahu ‘anha meriwayatkan, bahwa Rasulullah bersabda, “Shalat dua rakaat sebelum subuh, itu lebih baik daripada dunia dan segala isinya. (HR. Muslim) .
Shalat Qabliyah Subuh tak pernah ditinggalkan orang-orang hebat seperti Imam Malik dan Ibnu Umar ra.
2. Saat Dzuhur
Kemudian siapa yang menjaga Qabliyah Ba’diyah Dzuhur, Allah mengharamkan api neraka buatnya.
Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata: “Aku shalat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dua rakaat sebelum Dzuhur dan dua rakaat setelah Dzuhur.” (H.R. Bukhari dan Muslim)
Rasulullah bersabda, “Allah SWT pasti mengharamkan api neraka bagi orang yang menjaga empat rakaat sebelum dan setelah Dzuhur.” (HR. Ahmad).
Abdullah bin as-Saib meriwayatkan, Rasulullah pernah shalat empat rakaat setelah matahari tergelincir sebelum Dzuhur, kemudian beliau bersabda : Saat ini pintu langit sedang dibuka, aku lebih suka agar amal salehku diangkat pada saat itu. (HR. At-Tirmidzi).
3. Saat Ashar
Kemudian seseorang yang shalat Qabliyah 4 rakaat sebelum Ashar, Allah akan menyayangi kita dengan rahmat-Nya.
Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan, Rasulullah bersabda, “Allah menyayangi orang yang shalat sunnah empat rakaat sebelum Ashar. (HR. Abu Dawud).
4. Saat Maghrib
Qabliyah maghrib diingatkan Nabi saw hingga tiga kali
Dari sahabat ‘Abdullah bin Mughaffal radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ”Shalatlah kalian sebelum Maghrib.” (sampai 3x). Pada yang ketiga kalinya, Rasulullah bersabda, “Bagi yang mau.” (H.R. Bukhari)
5. Saat Isya
Dari Aisyah radhiallahu anha, “…..Lalu, beliau mengimami kaum Muslimin shalat Isya’, kemudian masuk kembali ke rumahku dan shalat 2 raka’at (shalat ba’diyah Isya’).” (H.R. Muslim)
Ghairu Rawatib
Ghairu rawatib atau bukan rawatib adalah shalat Qabliah yang tidak disebutkan dalam shalat rawatib, berarti tinggal Qabliah Maghrib dan Qabliah Isya.
Namun ghairu rawatib tetap dianjurkan sebagaimana dalam Mazhab Syafi’i yang biasa dilaksanakan masyarakat Indonesia. Dalilnya adalah keumuman hadits Rasulullah, “Antara adzan dan iqamah, terdapat shalat” (HR. Muslim).
Hanya shalat Ba’diyah Subuh dan Ba’diyah Ashar yang dilarang dalam berbagai pendapat. Karena bertepatan matahari terbit dan terbenam.
Sumber : Fiqih Abdullah Haidir, dan Riyadhus Shalihin Imam Nawawi bahasan Qabliyah Ba’diyah
by Danu Wijaya danuw | Jan 24, 2017 | Artikel, Dunia
Majelis Ulama Indonesia menyayangkan pertemuan salah seorang anggotanya yaitu Prof Istibsyaroh dengan Presiden Israel. MUI menyatakan bahwa pertemuan tersebut bukan mewakili MUI secara lembaga.
Ketua MUI Bidang Luar Negeri, Muhyidin Junaidi menilai pertemuan itu tetap melanggar etika diplomasi, karena Indonesia tidak memiliki hubungan diplomatis dengan Israel.
“Kami dari MUI sangat berkeberatan dan mengecam kunjungan itu. Karena bagi kami di MUI, Israel masih tetap sebagai penjajah di muka bumi ini,” kata Muhyidin
Menurut dia, setiap orang yang bergabung dengan MUI harus paham dengan sikap dan orientasi serta jati diri MUI.
Muhyidin juga meminta ada baiknya yang bersangkutan sebaiknya mengundurkan diri dari struktur Ketua Komisi Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga MUI, sebelum pimpinan MUI yang mengambil keputusan. “Itu lebih baik demi marwah (nama baik) MUI dan Indonesia,” kata dia.
Sikap Indonesia terkait kemerdekaan Palestina kembali ditegaskan oleh Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Indonesia Armanatha Nasir saat diminta PM Israel Benjamin Netanyahu untuk membentuk hubungan diplomatik antara Israel dan Indonesia.
“Intinya yang ingin saya tegaskan bahwa dukungan atau upaya Indonesia untuk mendorong kemerdekaan Palestina tidak akan berubah,” ujar Armanatha saat ditemui di kantor Kementerian Luar Negeri RI.
“Alangkah elegannya beliau ini kan salah satu pimpinan. Kami berharap daripada menimbulkan pro dan kontra di internal MUI dan di masyarakat, lebih baik beliau mengundurkan diri,” ujarnya.
Sebelumnya, Muhyidin mengkonfirmasi pertemuan Istibsyaroh dan Presiden Israel bukan mewakili lembaga MUI. Tapi yang bersangkutan mewakili dari perguruan tinggi negeri di Jawa Timur.
Presiden Israel Reuven Rivlin pada hari Rabu, 18 Januari 2017 lalu, menerima kunjungan delegasi pemimpin Muslim Indonesia di kediamannya, yang mengunjungi Israel atas prakarsa Dewan Hubungan Australia/Israel & Yahudi (AIJAC).
Dalam kunjungan itu, delegasi Indonesia dipimpin oleh Istibsyaroh, yang juga dikenal sebagai Ketua Komisi Perempuan, Remaja, dan Keluarga Majelis Ulama Indonesia (MUI)
Wakil Ketua Umum MUI Zainut Tauhid Saadi menegaskan bahwa kunjungan salah seorang pengurus MUI, Istibsyaroh, ke “Israel” bukan atas nama organisasi yang menjadi wadah musyawarah ulama Indonesia itu.
“MUI dalam waktu dekat akan memanggil beliau untuk meminta klarifikasi atau tabayyun atas kunjungannya, karena kunjungan tersebut dilakukan tanpa seizin dan sepengetahuan pimpinan MUI,” kata Zainut Tauhid Saadi melalui pernyataan tertulis.
Menurut Zainut, pimpinan MUI sangat menyesalkan kunjungan tersebut karena dinilai telah menyalahi kebijakan organisasi.
MUI, kata dia, melarang semua pengurusnya untuk berkunjung ke negara zionis dengan atau tanpa dalih apa pun.
“MUI sebagai salah satu representasi umat Islam Indonesia berkomitmen untuk terus mendukung perjuangan kemerdekaan Negara Palestina,” katanya.
Zainut menegaskan kebijakan tersebut sesuai dengan semangat konstitusi yakni menolak segala macam bentuk penjajahan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.
“Israel”, kata dia, adalah negara agresor dan penjajah yang selama ini berbuat zalim terhadap rakyat Palestina.
Akhirnya kedatangan perwakilan Indonesia dimanfaatkan dalam postingan website resmi Kementerian Luar Negeri Israel, mfa.gov.il, sebagai upaya pembenaran bahwa Israel itu baik, tidaklah jahat dan sebagainya bertulis berikut :
“Kita ditakdirkan untuk hidup bersama. Nenek moyang saya percaya, bahwa kita semua bisa tinggal di sini bersama-sama. Kami percaya di Israel tidak hanya ada demokrasi bagi Yahudi, tapi demokrasi untuk semua orang,” kata Rivlin
Padahal Israel mencaplok wilayah Palestina dan mengabaikan instruksi PBB agar menghentikan pembangunan apartemen permukiman ilegal diluar batas yang disepakati.

Dimana penggusuran hingga puluhan ribu rumah warga Muslim, Kristen, dan penduduk asli Palestina terusir akibat aktivitas pembangunan tersebut. Dengan menggusur dan merobohkan rumah-rumah penduduk asli, pemakaman dan sarana ibadah lain.


Disadur dari : Merdeka.com/Antara/Kompas
by Danu Wijaya danuw | Jan 23, 2017 | Artikel, Kisah Sahabat
Apakah anda adalah orang yang lebih senang bangun malam untuk melaksanakan qiyamul lail, namun berat untuk keluar rumah guna melaksanakan shalat fardhu shubuh di masjid secara berjamaah?
Atau pernahkah anda bangun tengah malam lalu melaksanakan shalat sunat tahajud semalam suntuk hingga menjelang shubuh? Namun saat tiba waktu shalat shubuh anda justru ketiduran hingga tidak ke masjid?
Manakah yang lebih utama untuk dikejar? Shalat sunat malam sampai beberapa rakaat atau shalat subuh dua rakaat di masjid?
Mari kita simak kisah antara sahabat Umar Bin Khaththab radhiyallahu anhu dengan seseorang yang tidak ke masjid karena terlalu banyak tahajud.
Kisah ini dituliskan oleh Imam Malik dalam kitabnya Al-Muwaththa’ sebagai berikut:
عن ابن شهاب عن أبي بكر بن سليمان بن أبي حثمة :أن عمر بن الخطاب فقد سليمان بن أبي حثمة في صلاة الصبح وأن عمر بن الخطاب غدا إلى السوق ومسكن سليمان بين السوق والمسجد النبوي فمر على الشفاء أم سليمان فقال لها لم أر سليمان في الصبح فقالت إنه بات يصلي فغلبته عيناه فقال عمر لأن أشهد صلاة الصبح في الجماعة أحب إلى من أن أقوم ليلة
Dari Ibnu Syhihan, dari Abu Bakar bin Sulaiman bin Abi Hatsmah.
Suatu ketika Umar bin Khaththab tidak melihat sahabat Sulaiman bin Abi Hatsmah pada saat shalat shubuh. Sebab ia rajin shalat subuh berjamaah.
Dan keesokan harinya Umar bin Khaththab pergi berangkat ke pasar dan setelahnya kerumah Sulaiman bin Abi Hatsmah yang berada di antara pasar dan masjid Nabawi.
Maka Umar pun bertemu dengan Asy-Syifa, ibu Sulaiman. Maka Umar berkata padanya, “Aku tidak melihat Sulaiman saat shalat shubuh tadi”.
Maka ibunya berkata, “sesungguhnya dia (Sulaiman) shalat malam sehingga tertidur saat shubuh”.
Maka berkata Umar, “sungguh aku bersaksi shalat shubuh berjamaah di masjid lebih aku cintai dari pada shalat sepanjang malam”.
Dari kisah di atas kita bisa menyimak bahwa Umar bin Khaththab lebih menyarankan sahabatnya Sulaiman untuk mengutamakan shalat shubuh ke masjid dari pada harus ketiduran karena tahajud.
Shalat tahajud adalah amalan sunat sementara shalat shubuh adalah fardhu atau kewajiban. Sudah semestinya kita berusaha melaksanakan shalat fardhu sebaik mungkin baru mengerjakan yang sunat.
Rasulullah SAW dalam hidupnya tidak pernah meninggalkan shalat fardhu secara berjamaah termasuk shubuh. Bahkan dalam keadaan perang sekalipun shalat tetap dilakukan secara berjamaah.
Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya shalat yang paling berat dilaksanakan oleh orang-orang munafik adalah shalat isya dan shalat subuh. Sekiranya mereka mengetahui keutamaan keduanya, niscaya mereka akan mendatanginya sekalipun dengan merangkak.” (HR. Bukhari no. 657 dan Muslim no. 651)
Hadist nabi saw tersebut menjelaskan bahwa hingga ingin merangkak untuk meraih pahala shalat subuh berjamaah
Memang urusan ibadah tentu bukanlah hal yang harus dipilih-pilih dan dibanding-bandingkan. Apalagi memilih antara qiyamul lail dan shalat fardhu.
Seyogyanya kita berusaha sekuat tenaga agar bisa bangun malam dan shalat tahajud, namun tetap berangkat ke masjid saat adzan shubuh berkumandang.
Apalagi bagi orang-orang sholeh, shalat malam adalah nafilah atau amalan tambahan yang senantiasa dirutinkan. Bagi mereka bangun tengah malam lalu disambung ke masjid telah menjadi Lifestyle.
Oleh karena itu, hendaknya kita pandai mengatur waktu istirahat dan bekerja. Kapan kita harus bekerja dan kapan harus menghentikannya. Lalu beristirahat agar tengah malam bisa bangun, dengan tetap mempertimbangkan kebugaran esok hari untuk melanjutkan aktivitas.
Wallahu a’lam bishshawab
by Danu Wijaya danuw | Jan 23, 2017 | Artikel, Kisah Sahabat
Abdurrahman Azzam Pasya masih duduk terpekur di hadapan meja kerjanya. Raut muka Sekjen Liga Arab itu nampak serius. Di atas pelataran mejanya, berserakan dokumen-dokumen penting. Ada satu benda yang menarik perhatiannya, secarik kertas tergulung rapi: peta dunia.
Orang nomor satu di perhimpunan negara-negara Arab ini membuka gulungan peta itu. Ditatapnya lamat-lamat, matanya beredar ke sana kemari. Sambil menghela nafas, ia tak menemukan nama tempat yang dia cari: INDONESIA.
Indonesia? Di manakah negeri itu berada? Sambil menerawang peta, Azzam lagi-lagi menggelengkan kepalanya yang berbalut peci tarbus. Ia menyerah, bersandar di punggung kursinya. Di manakah negeri yang kabarnya baru merdeka?
Mengapa tak ada Indonesia dalam peta? Padahal beberapa masih ingat dalam benaknya, beberapa harian terkemuka di Mesir memuat tentang kemerdekaan Indonesia.
Belum lagi, Mufti Palestina Syaikh Amin Al Husaini mengucapkan selamat kepada negeri nun di Timur sana. Masih ingat pula dalam benaknya, pengusaha kesohor Palestina M Ali Tahir menegaskan kepada para mahasiswa,” Saya serahkan seluruh harta saya untuk kemerdekaan Indonesia.”
Sejak saat itu, Azzam serius meminta laporan-laporan perkembangan Indonesia kepada para mahasiswa dan juga warga Arab yang simpati pada perjuangan Indonesia.
“Saya kumpulkan semua laporan yang masuk ke meja saya soal perang perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia yang sekarang dipimpin oleh Soekarno dan Hatta melawan Belanda. Saat itu jumlah penduduk Indonesia sekitar 70 juta jiwa,” kenang Azzam dalam Jauh di Mata Dekat di Hati, Potret Hubungan Indonesia-Mesir.
Indonesia, yang saat itu masih berjuang dalam sunyi masih belum dikenal di kancah global terus menyuarakan suara minor di tengah dunia internasional. Saat dunia membisu menatap penjajahan di Indonesia, Azzam Pasya justru semakin mendekat ke negeri yang terpisah ribuan kilometer.

“Saya akui bahwa ketika ditunjuk sebagai Sekretaris Jenderal Liga Arab pada 1945, saya tidak tahu banyak tentang Indonesia. Pengetahuan saya mengenai Indonesia sangat terbatas. Tidak lebih dari yang saya baca dari buku-buku atau koran-koran internasional,”Azzam mengenang saat itu.
Setelah membaca semua laporan yang masuk ke meja kerjanya mengenai perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia, Azzam mulai memahami persoalan Indonesia dengan baik.
Hasil dari pengetahuannya mengenai Indonesia membuat Azzam terketuk hatinya untuk membantu perjuangan rakyat Indonesia dalam rangka mempertahankan kemerdekaan.
Kini, Azzam mendekat ke peta, ia melihat negeri dengan beragam pulau, tapi tak ada nama Indonesia di sana. Juzur al Hindi al Hulandiyyah as Syarqiyyah tertera di sana: Kepulauan Hindia Belanda Timur. Sambil tersenyum simpul, ia bersumpah akan membantu saudaranya di seberang lautan sana.
Azzam pun bersua dengan para pejabat tinggi Mesir. Secara khusus, Azzam bertemu dengan Perdana Menteri Mesir yang juga Menteri Luar Negeri Mesir, Mahmud Fahmi Nokrasyi.
”Bagaimana pendapat Yang Mulia seandainya kita memberi dukungan atas perjuangan bangsa Indonesia?”kata Azzam.
“Yang Mulia, bangsa Indonesia adalah bangsa muslim yang sedang berjuang untuk merebut kemerdekaannya kembali dari tangan penjajah Belanda. Menurut pendapat saya, kalau bangsa ini memperoleh dukungan dan bantuan sepenuhnya dari bangsa negeri-negeri Arab dan Islam, pasti sesudah merdeka mereka akan mempunyai pengaruh dan peranan dalam perimbangan kekuatan di dunia, menggantikan Jepang yang sudah menyerah kalah,” kata Azzam.
Tatapan matanya semakin mantap. Memang hanya impian, negeri itu kelak akan memiliki peranan penting. Harapan yang seolah tak masuk akal. Bagaimana mungkin, negeri yang tak diakui di mana pun kelak akan menjadi negeri yang berperan besar, khususnya untuk Islam dan kaum muslimin?
Tapi disitulah Azzam berharap. Negeri yang kini sendirian kelak tak lagi sendiri. Akan ada banyak saudara seperjuangan yang siap membantunya.
Perdana Menteri Nokrasyi tersenyum simpul.
“Tapi, Indonesia itu jauh letaknya. Indonesia berada di Timur Jauh dekat dengan Australia bukan?”
Dengan sorot mata yang tak berubah, Azzam meyakinkan.
“Yang Mulia, jarak antara kita dengan Indonesia bukan masalah. Menurut saya, Negara-negara Arab bisa menjalin hubungan yang erat dengan bangsa Indoensia yang mayoritas beragama Islam,” tegasnya.
“Jika kita memberikan bantuan kepada bangsa Indonesia dalam peperangan melawan Belanda, saya yakin mereka tidak akan lupa saat mereka merdeka nanti. Pastilah mereka akan mengingat kebaikan kita ini dan akan membantu perjuangan kita menghadapi tentara Inggris dan perjuangan membebaskan tanah Arab yang masih dalam pendudukan bangsa lain,” tegasnya.
Kedua orang itu saling menatap. Nokrasyi tak berkata apapun. Suasana mendadak hening. Sorot mata Abdurrahman mengatakan semuanya. Kelak, semoga Indonesia menjadi negeri yang tak melupakan sejarah, berjuang membebaskan bangsa lain yang masih terjajah.
“Saya yakin mereka tidak akan lupa saat mereka merdeka nanti. Pastilah mereka akan mengingat kebaikan kita ini membebaskan tanah Arab yang masih dalam pendudukan bangsa lain,”
Nokrasyi hanya berpesan agar diberikan data-data tentang Indonesia. Ia belum bisa menjanjikan apapun. Azzam pun tak berdiam diri, ia terus mendatangi pejabat-pejabat negara Arab. Secara khusus, Azzam pun mendatangi lingkungan Raja Mesir saat itu, Raja Faruq.

“Yang penting bagi saya, Raja setuju bahwa Mesir memberikan bantuan yang diperlukan oleh Indonesia. Setelah itu, saya akan menghubungi negara-negara Arab lainnya untuk memperoleh dukungan atas apa yang saya lakukan,” tegas Azzam.
Bak gayung bersambut, telepon tua di kantor Azzam pun berdering. Suara parau di balik sana sudah sangat dikenal Azzam. Ia terkaget-kaget rupanya Raja Mesir yang langsung menelepon dirinya.
“Apa yang paling diperlukan Indonesia?,” tanya Raja Faruq tanpa tedeng aling.
Selain pengakuan kedaulatan, jawab Azzam, yang paling dibutuhkan adalah senjata. Namun, jika ditambah dengan pengiriman sukarelawan dari negara-negara Arab, maka itu lebih baik.
Raja Faruk pun memberikan persetujuan.
“Seluruh senjata biar dikirim dari Mesir. Adapun sukarelawan, dikirim dari negara-negara Arab,”tegas.
Tetiba saja mata Azzam berkaca-kaca. Ia tak tahu mengapa ia menangis. Padahal, Indonesia saja baru-baru ini dia dengar. Melihatnya saja belum pernah. Menggenggam tanahnya apa lagi. Tapi entah mengapa, ada harapan yang terbesit begitu saja.
“Seluruh senjata biar dikirim dari Mesir. Ada pun sukarelawan (berperang), dikirim dari negara-negara Arab,”
Rasa yang sulit diungkapkan. Seakan saudara yang sudah lama tak bersua. Seakan begitu dekat, dekat sekali, bahwa Arab dan Indonesia saling bertaut. Aneh memang, bahkan para pemimpinnya pun tak pernah saling bertatap, tapi mengapa seakan terasa sangat dekat. Dekat sekali.
Keseriusan Azzam berlanjut pada Sidang Liga Arab pertama, sepenggal Rabu dipenghujung 1945. Untuk pertama kali dalam sejarah, sepucuk surat dari panitia Perkumpulan Kemerdekaan Indonesia dibacakan di hadapan para pemimpin Arab.
Istana Qasr Za’faran menjadi saksi bahwa para negara Arab bertekad untuk membantu secara konkret kemerdekaan Indonesia. Pemimpin sidang yang saat itu Mahmud Fahmy Nokrasyi membacakan surat dari Indonesia pertama kali di hadapan para pemimpin Arab.
“Situasi di Indonesia semakin gawat. Sehubungan dengan digelarnya Sidang Liga Arab, kami menantikan dukungan konkret dari negara-negara Arab dan pengakuan terhadap Republik Indonesia yang merdeka. Kami juga mengharap Inggris tidak membantu Belanda dan tidak ikut campur urusan Indonesia.”
Tertanda
Perkumpulan Kemerdekaan Indonesia”
Ruangan terhentak sejenak. Isu kemerdekaan Indonesia sekejap menjadi Headline Negeri-negeri Arab. Abdurrahman Azzam tak perlu menunggu waktu lama. Segera ia menghubungi Pemerintah Inggris melalui kedutaannya di Kairo.
Ia meminta Inggris tidak membantu Belanda sehingga Inggris tidak dituduh oleh bangsa Islam dan Arab bersikap ta’ashshub (fanatik) dalam menentang kaum Muslim.
Azzam mengatakan kepada salah seorang diplomat Inggris di Kairo bahwa ia tidak akan ragu-ragu meminta negara-negara Arab untuk mengirim sukarelawan guna berjuang bersama para pejuang Indonesia.
Azzam pun segera mengumumkan jihad fisabilillah melawan Belanda dan siapa saja yang membantu Belanda. Setelah itu, Azzam menemui Raja Arab Saudi Abdul Aziz al-Saud ketika Raja itu berkunjung ke Mesir pada 16 Januari 1946.
“Yaa Thawiil al-‘Umri (Yang Mulia), di Timur Jauh ada bangsa muslim yang jumlahnya mencapai 70 juta jiwa. Mereka mengumumkan jihad melawan penjajah Belanda untuk meminta hak-haknya dan meminta hak-haknya dan meraih kemerdekaannya.” kata Azzam kepada pendiri Kerajaan Saudi ini.

Raja Saudi pertama ini meminta keterangan tambahan Azzam tentang perang kemerdekaan itu, lalu mengatakan:
“Ketahuilah, Ya Abdurrahman, bahwa saya dan negeri saya siap membantu bangsa Muslim itu!”
Azzam kemudian menjelaskan bahwa yang diminta bangsa Indonesia adalah senjata dan pengajuan masalah Indonesia ke Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Raja Aziz al-Saud lantas menegaskan, “Ya, Abdurrahman, apapun yang mereka minta, saya siap melakukannya.”
Pertemuan berakhir dengan kesepakatan bahwa pengiriman senjata menjadi tanggung jawab Mesir, sedangkan biaya pengangkutan senjata menjadi tanggung jawab Arab Saudi.
Setelah mendapat dukungan dari para Raja kerajaan Arab, Azzam pun bertekad untuk segera mengirimkan bantuan kepada Indonesia. Ditatapnya lamat-lamat peta dihadapanya. Ia tuliskan nama Indonesia.
“Harus..harus ada perwakilan liga Arab yang datang langsung ke Indonesia,” gumannya. Ia pun bertekad mengutus perwakilan bangsa Arab datang menyatakan dukungannya kepada Indonesia. Sebuah kado, kado istimewa untuk Indonesia dari bangsa Arab.
Kelak sejarah akan mencatat bagaimana perwakilan Liga Arab, M. Abdul Mun’im menembus blokade, bertaruh nyawa, menyelusup ke negeri ini menyampaikan segenggam pesan sederhana: Negeri Ini Tidak Sendiri Bung!
Berbilang tahun, tak ada lagi kesendirian. Namanya tercetak gagah di peta-peta dunia. Tak sulit lagi menemukan Indonesia. Kado yang begitu istimewa dari Arab. Namun, berpuluh tahun kemudian, masih ada amanat yang belum tertunai.
Harapan Azzam akan negeri ini. Harapan akan perannya suatu saat kelak, membebaskan negeri-negeri terjajah. Negeri-negeri yang nun jauh di sana, yang mungkin masih berpeluh dalam kesendirian. Semakin tergerus waktu, namanya bahkan dari peta dunia menghilang berganti nama lain.
Sejarah seakan berulang. Akankan negeri ini mengingat ketika masih dalam kesendirian? Ketika satu persatu tangan terulur lembut.
Negeri yang dulu bahkan tak ada namanya dalam peta. Negeri yang dulu berjuang dalam sunyi. Akankah ada kado istimewa untuk Palestina? Atau mereka lupa dengan para pendahulunya?
Biar sejarah yang akan mencatatnya…





Ditulis oleh : Rizki Lesus – Penggiat Jejak Islam untuk Bangsa (JIB)
Dipublikasikan pertama di jejakislam.net
Tulisan ini hanyalah cerita pendek yang dihimpun dari data-data tercecer yang dapat dipertanggungjawabkan:
- Diplomasi Revolusi Indonesia di Luar Negeri, M Zein Hassan
- Jauh di Mata Dekat di Hati, Potret Hubungan Indonesia-Mesir.Tim Kedubes Indonesia untuk Mesir, ed. AM Fachir
by Danu Wijaya danuw | Jan 21, 2017 | Artikel, Dakwah
Kita seringkali menjumpai dalam pergaulan atau ketika membaca komentar di acebook atau situs berita, akan ditemukan banyak sekali orang yang berkomentar dengan kasar, kotor, jorok, menghujat, mencaci-maki, cabul dan sebagainya, seakan-akan merekalah yang paling benar.
Padahal Rasulullah telah mencontohkan kepada kita adab berbicara yang baik. Betapa lembut dan santunnya Rasulullah. Sehingga masing-masing lawan bicaranya Rasulullah merasa dia yang paling di muliakan. Muslim sejati akan berbicara sopan, santun, tidak menyakiti hati orang lain, dan selalu mengenakkan dalam berbicara atau berkomentar.
Dalam berbicara dengan lawan bicara, kita harus menggunakan tata karma dan tutur kata yang baik. Kaum Muslim di didik dengan ajaran agama rahmatan lil’alamin (menebar kasih sayang terhadap sesama) dan mengutamakan akhlak mulia (akhlaqul karimah).
Muslim sejati akan berbicara sopan, santun, tidak menyakiti hati orang lain, dan selalu mengenakkan dalam berbicara atau berkomentar.
Muslim yang baik itu bersikap “dewasa”, sabar, tenang, hatinya penuh dengan dzikir, hatinya bersih, cool, calm, tidak emosional, tidak suka menghujat, dan anti-kekerasan.
Melalui Rasulullah Saw, ajaran Islam mengajarkan kepada setiap kaum mukmin agar berkata yang baik saja atau diam. Qul khoiron auliyashmut. Berkata yang baik atau diam.
Sebagaimana Sabda Nabi saw, dari Abu Hurairah Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya dia berkata yang baik atau diam” (H.R. Bukhari Muslim)
Firman Allah ta’ala, “Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesunguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata” [Al-Ahzab : 58]
Hadits diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, Nabi saw bersabda, “Ada seorang laki-laki yang bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Siapakah orang muslim yang paling baik ?’ Beliau menjawab, “Seseorang yang orang-orang muslim yang lain selamat dari gangguan lisan dan tangannya”.
“Cukuplah seseorang dikatakan buruk jika sampai menghina saudaranya sesama muslim. Seorang muslim wajib manjaga darah, harta dan kehormatan orang muslim lainnya” (H.R. Muslim)
Allah berfirman dalam kitabNya, “Menghindari perbuatan menggunjing (ghibah) dan mengadu domba. Allah berfirman yang artinya, “Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain.” (QS. Al-Hujarat: 12).
Rasulullah Saw juga menegaskan, orang beriman itu tidak suka mencela, melaknat, berkata-kata keji dan berbicara kotor.
“Bukanlah seorang mukmin : orang yang suka mencela, orang yang gemar melaknat, orang yang suka berbuat atau berkata-kata keji, dan orang yang berkata-kata kotor/jorok” (HR Bukhori, Ahmad, Al-Hakim, dan Tirmidzi dari Ibnu Mas’ud).
Semoga kita diberi kekuatan untuk menjadi Muslim yang Baik. Adab Nabawi dalam berbicara adalah berhati-hati dan memikirkan terlebih dahulu sebelum berkata-kata. Setelah direnungkan bahwa kata-kata itu baik, maka hendaknya ia mengatakannya. Sebaliknya, bila kata-kata yang ingin diucapkannya jelek, maka hendaknya ia menahan diri dan lebih baik diam.
by Danu Wijaya danuw | Jan 21, 2017 | Artikel, Dakwah
Buku yang sempat menghebohkan dunia Islam itu judul aslinya adalah هرمجدون آخر بيان يا أمة الإسلام.
Ditulis oleh seorang yang bernama Amin Muhammad Jamaluddin. Dalam edisi terjemahan bahasa Indonesia berjudul Huru-hara Akhir Zaman.
Mengomentari buku yang menghebohkan ini, Al-Ustadz Hamid bin Abdillah Al-‘Ali mengatakan bahwa beliau tetap menghargai niat dan usaha penulisnya untuk mengingatkan umat Islam akan datangnya hari kiamat. Dan beliau juga berpesan agar para pembaca buku ini tidak gampang bersuudzhon kepada penulisnya.
Namun beliau juga mengingatkan kepada penulis buku ini agar tidak menggunakan rujukan yang tidak ada sumber hadits yang kuat dan menghindari hadits palsu.
Memang kalau kita baca buku itu, di sana dinyatakan dengan pasti Imam Mahdi akan muncul sebelum masuk tahun 1430 Hijriyah, yang sekarang sudah lewat. Juga disebutkan bahwa usia umat Islam yaitu 1500 tahun.
Sehingga kalau dihitung dari sejak diutusnya nabi Muhammad SAW pada tahun 13 tahun sebelum hijrah hingga tahun 2017 ini/1438 H, berarti usia umat Islam tinggal 1500 H – (1438+13) H = 1500 H – 1451 = 49 tahun lagi. Sehingga tahun 2066 M sudah berakhir.
Titik Pangkal Masalah
Yang jadi masalah paling mendasar adalah darimana datangnya angka tahun 1430 hijriyah sebagai tahun kemunculan Al-Imam Mahdi? Dan darimana angka 1500 tahun sebagai usia umat Islam?
Menurut buku itu, angka tahun-tahun ini didapat dari hadits nabi Muhammad SAW. Dan diyakini oleh penulisnya sebagai hadits yang shahih dan bisa diterima.
Selain hadits tentang masa terjadinya kiamat, di dalam buku itu juga ada hadits lain seperti berikut ini:
Nu’aim bin Hammad meriwayatkan dengan sanadnya bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Pada bulan Ramadhan terlihat tanda-tanda di langit, seperti tiang yang bersinar, pada bulan Syawwal terjadi malapetaka, pada bulan Dzulqa’idah terjadi kemusnahan, pada bulan Dzulhijjah para jamaah haji dirampok, dan pada Muharram, tahukah apakah Muharram itu?”
Rasulullah saw juga bersabda:
“Akan ada suara dahsyat di bulan Ramadhan, huru-hara di bulan Syawal, konflik antara suku pada bulan Dzulqa’idah, dan pada tahun itu para jamaah haji dirampok dan terjadi pembantaian besar di Mina di mana ramai orang terbunuh dan darah mengalir di sana, sedangkan pada saat itu mereka berada di Jumrah Aqabah.”
Baginda saw juga bersabda:
“Bila telah muncul suara di bulan Ramadhan, maka akan terjadi huru-hara di bulan Syawwal….” Kami bertanya, “Suara apakah, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Suara keras di pertengahan bulan Ramadhan, pada malam Juma’at, akan muncul suara keras yang membangunkan orang tidur, menjadikan orang yang berdiri jatuh terduduk, para gadis keluar dari pingitannya, pada malam Jum’at di tahun terjadinya banyak gempa.
Jika kalian telah melaksanakan shalat Subuh pada hari Juma’at, masuklah kalian ke dalam rumah kalian, tutuplah pintu-pintunya, sumbatlah lubang-lubangnya, dan selimutilah diri kalian, sumbatlah telinga kalian. Jika kalian merasakan adanya suara menggelegar, maka bersujudlah kalian kepada Allah dan ucapkanlah, “Mahasuci Al-Quddus, Mahasuci Al-Quddus, Rabb kami Al-Quddus!”, karena barangsiapa melakukan hal itu akan selamat, tetapi barangsiapa yang tidak melakukan hal itu akan binasa.”
Benarkah itu Hadits Shahih?
Semua yang diceritakan dalam tema buku ini adalah permasalahan ghaib, maka yang berhak mengatakan itu hanya nabi Muhammad SAW saja. Jadi seandainya memang ada hadits yang sampai ke derajat shahih, bolehlah kita jadikan pegangan.
Tapi masalah terbesarnya, ternyata apa yang diklaim sebagai hadits shahiholeh penulis buku itu, justru ditentang oleh para ahli hadits. Para ahli hadits bahkan sampai mengatakan bahwa hadits-hadits yang digunakan dalam kitab itu adalah hadits palsu dan batil. 100% tidak bisa dijadikan dasar dalam urusan agama.
Apalagi masalah huru-hara menjelang hari kiamat termasuk masalah aqidah. Maka haram hukumnya menggunakan riwayat itu sebagai dasar rujukan.
Apa yang diklaim sebagai hadits sebenarnya sama sekali tidak layak dikatakan sebagai sabda nabi Muhammad SAW. Dan untuk itu sudah ada ancaman dari beliau sendiri tentang orang yang mengatakan bahwa suatu lafadz itu merupakan perkataan beliau, padahal beliau sendiri tidak pernah mengatakannya.
Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang berdusta tentang aku secara sengaja, maka hendaklah dia menyiapkan tempat duduknya di neraka”. (HR Muttafaqun ‘alaihi).
Kelemahan Hadits Pada Buku Tersebut
1. Kelemahan Pertama: Tidak Membaca Makhthuthat
Kelemahan paling mendasar bahwa Amin Muhammad Jamaluddin meski banyak menggunakan hadits dari kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, namun pada bagian-bagian yang penting dan sangat musykil seperti perhitungan tahun turunnya Imam Al-Mahdi, beliau menggunakan hadits-hadits yang tidak jelas asal usulnya.
Di antara rujukan hadits yang bermasalah di kitab ini adalah klaim bahwa beliau menemukan makhthutah (naksah tulisan tangan) di sebuah perpustakaan di Istambul.
Setelah diteliti lebih jauh, ternyata Amin Muhammad Jamaluddin sebagai penulis tidak membaca langsung naskah tulisan tangan itu. Tetapi bersumber dari seseorang yang mengaku pernah menemukan makhthuthat itu di sebuah perpustakaan di Istanbul.
Jadi bahkan Amin Jamaluddin sendiri tidak pernah melihat langsung naskah itu dalam keadaan aslinya. Semata-mata informasi dari seseorang yang mengaku pernah melihatnya.
Dari sini saja pada dasarnya kaidah ilmiyah penulisan kitab ini sudah sangat bermasalah. Seharusnya penulis buku ini mencantumkan kopi dari makhthuthah ini dalam kitabnya. Dan akan menjadi satu cabang ilmu yang dikenal dengan nama Filologi.
2. Kelemahan Kedua: Makhthuthah Bermasalah
Menurut Ustaz Hatim Al-Auniy, anggota Hai’ah Tadrisdi Universitas Ummul Qura Makkah, makhthuthat yang diklaim sebagai berisi hadits shahih itu ternyata tidak lebih dari kumpulan hadits-hadits palsu nukilan dari Kitabul Fitan karya Nu’aim ibnu Hammad.
Padahal banyak dari para ulama sejak dahulu telah memberi peringatan tentang masalah periwayatan yang ada di dalam kitab Al-Fitan.
Al-Imam Ahmad mengatakan ada tiga kitab yang tidak punya dasar, di antaranya adalah Kitabul Fitan karya Nu’aim bin Hammad ini.
Sedangkan Adz-Dzahabi mengomentari tentang Nu’aim penulis makhthuthat ini sebagai orang yang jiwa manusia tidak mantap dengan riwayatnya. Senada dengan itu, Yahya bin Mu’in mengatakan bahwa Nu’aim ini meriwayatkan dari orang-orang yang tidak tsiqah (lihat Siyar A’lam An-Nubala’ jilid 10 halaman 597-600).
Jadi anggaplah misalnya makhthuthat itu memang benar-benar ada di perpustakaan Istanbul sana, dan memang benar-benar ditulis oleh Nu’aim bin Hammad, tetap saja pengambilan dasar hadits itu bermasalah pada perawinya, yaitu Nu’aim bin Hammad.
3. Kelemahan Ketiga: Tadlis (Penipuan Nama Bukhari)
Para ahli hadits punya sebuah istilah yang disebut dengan tadlis. Makna mudahnya adalah penipuan. Di dalam buku ini Amin Jamaluddin menggunakan metode tadlis atau penipuan atas nama Al-Bukhari.
Hadits yang digunakan penulis buku ini sering diklaim sebagai hadits Bukhari, padahal bukan. Hadits itu sebenarnya terdapat dalam kitab tulisan gurunya Al-Bukhari yang bernama Nu’aim ibnu Hammad.
Benar bahwa Nu’aim ini guru Al-Bukhari, namun para ulama hadits banyak yang mengatakan bahwa Nu’aim ini adalah perawi yang bermasalah. Dan Al-Bukhari tidak pernah menggunakan sanad dari Nu’aim kecuali bila ada riwayat dari jalur yang lain menguatkan jalur Nu’aim.
Satu hal yang dilupakan adalah bahwa tidak mentang-mentang seseorang menjadi guru imam Al-Bukhari, lantas semua riwayat atau kitab hadits karyanya boleh dianggap shahih. Bahkan tidak semua hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari sendiri bisa dipastikan keshahihannya. Karena yang dikatakan hadits shahih adalah yang beliau masukkan ke dalam kitab shahihnya. Sedangkan kitab lain yang juga ditulis oleh beliau, belum tentu shahih.
Untuk sekedar diketahui, Al-Bukhari selain menyusun Kitab Ash-Shahih juga pernah menulis beberapa kitab lainnya seperti al-Adabul Mufrad, Raf’ul Yadain fish Shalah, al-Qira’ah khalfal Iman, Birrul Walidain, at-Tarikh ash-Shagir, Khalqu Af’aalil ‘Ibaad, adl-Dlu’afa (hadits-hadits lemah), al-Jaami’ al-Kabir, al-Musnad al-Kabir, at-Tafsir al-Kabir, Kitabul Asyribah, Kitabul Hibab, dan kitab Asaami ash-Shahabah. Tapi yang benar-benar beliau jamin keshahihannya hanyalah kitab As-Shahih saja.
Sebenarnya kita masih bisa membela Nu’aim ibnu Hammad sebagai guru Al-Bukhari. Karena beliau juga tidak pernah mengatakan hadits dalam kitab Al-Fitan itu sebagai hadits shahih, makanya beliau menuliskan hadits itu lengkap sanadnya, yang akan menjadi bahan buat para peneliti hadits untuk mengerjakan tugasnya. Dan dunia Islam memang mengenal Kitab Al-Fitan ini adalah kitab yang berisi hadits-hadits batil dan israiliyyat (dongeng bangsa Israil).
Sayangnya, Amin Jamaluddin menukil hadits-hadits dalam kitab Al-Fitan itu begitu saja tanpa menyebutkan bahwa isnad hadits ini belum selesai dikerjakan dan dia sama sekali tidak mencantumkan daftar perawinya. Sehingga terkesan pembaca digiring untuk mengatakan seolah-olah hadits-hadits itu shahih dengan menyebutkan bahwa Nu’aim adalah guru imam Bukhari.
Buat mereka yang terlalu bersemangat tapi awam dengan ilmu naqd (kritik) hadits, mudah sekali percaya bahwa hadits-hadits itu sebagai hadits shahih.
4. Kelemahan Keempat: Dongeng Nostradamus
Salah satu kelemahan fatal buku ini adalah turut dicantumkannya juga dongeng-dongeng modern, semisal ramalan Nostradamus yang berkebangsaan Perancis, untuk menguatkan teori penulis buku.
Sejak kapan umat Islam berdalil dengan ramalan orang kafir, meski pun ramalan itu secara kebetulan memang terjadi. Sebab ramalan itu hukumnya haram, karena satu kebenaran ditambah dengan 100 kebohongan.
Salah satu ramalan batil yang disebut-sebut sangat terkenal adalah peristiwa 11 September 2001 di New York. Salah satu petikan di buku itu sebagai berikut:
“Di suatu tahun di abad yang baru dan sembilan bulan, dari langit akan datang Raja Teror. Langit akan terbakar pada empat puluh lima derajat. Api akan turun di kota baru yang besar itu di kota New York.”
Dan masih banyak lagi kejanggalan-kejanggalan buku ini, sehingga para ulama sampai mengharamkan umat Islam merujuk buku ini dalam memahami ajaran Islam. Karena selain bercampurnya hadits shahih dan palsu, juga banyak berisi dongeng yang dihubung-hubungkan.
Wajar kalau ada pihak yang mengatakan tujuan buku ini diterbitkan tidak lain sekedar cari sensasi belaka. Dan alasan paling logis untuk itu sekedar meraup uang saja.
Harapan kepada umat Islam, setidaknya sebelum bicara hal-hal yang berbau masalah hari kiamat yang merupakan khabar ghaibi, syarat mutlaknya adalah memastikan hanya menggunakan hadits yang shahih dalam arti yang sebenarnya. Pastikan hadits memang telah disepakati keshahihannya oleh para ulama hadits.
Selain itu kitab sharah hadits itu wajib dibaca, semacam Fathul Bari oleh Al-‘Allamah Ibnu Hajar Al-‘Asqalani, kitab penjelasan untuk Shahih Bukhari, atau Syarah Shahih Muslim oleh Imam An-Nawawi untuk penjelasan Kitab Shahih Muslim.
Agar jangan tujuan mulia kita tercemar dengan kejahilan ilmu hadits kita, sehingga bukannya menyebarkan ilmu tetapi malah menjadi agen khurafat. Wal ‘Iyadzhu billahi.
Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc,MA (Rumah Fiqih Indonesia)