0878 8077 4762 [email protected]

13 Keutamaan Shalat Berjamaah di Masjid

Terkadang karena kesibukan aktivitas, shalat tidak menjadi yang utama, selalu diakhirkan, padahal shalat itu kewajiban yang paling utama dari segala aktivitas kita. Shalat bisa menambah energi disela-sela aktivitas.
Shalatlah yang membuat rezeki menjadi berkah. Shalatlah yang bisa meningkatkan konsentrasi dan membuat kondisi tubuh tetap terjaga dibandingkan dengan minum kopi atau makanan minuman lainnya.
Untuk itu shalatlah diawal waktu dan usahakan berjamaah, untuk laki-laki masjid adalah tempat sholat wajibmu. Berikut 13 keutamaan shalat berjamaah di masjid :
1. Mendapat 27 Derajat
Dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,”Sholat berjamaah lebih utama dari sholat sendirian sebanyak dua puluh tujuh derajat.” (H.R. Muttafaq alaihi)
2. Pahala Langkah Kaki
“Seorang yang berjalan ke mesjid, maka tiap langkah kakinya akan diberikan satu pahala, dihapuskan satu dosa, dan dinaikan satu derajat oleh Allah SWT” (HR.Ibnu Majah & Muslim)
Maka dari itu pada saat hendak pergi dan pulang dari masjid disunnahkan untuk mengambil jalan yang berbeda, tidak menggunakan jalan yang sama.
3. Pahala Menunggu Waktu Shalat
“Orang yang menunggu shalat dimesjid akan diberi pahala seperti shalat” (HR.Bukhari)
Banyak diantara kita yang berangkat ke masjid yang on-time atau pas adzan baru berangkat dengan alasan ada aktivitas yang nanggung atau biar efisien waktu nya. Tapi yang luar biasanya ternyata,
Ketika kita datang lebih awal ke mesjid untuk menunggu datangnya waktu shalat, kita sebenarnya mendapatkan pahala yang besar, dan sebaiknya gunakan waktu menunggu itu untuk berdzikir dan sekalian beristirahat dari pada nongkrong diwarung pada sesaat sebelum datangnya waktu shalat.
Hadist tersebut mengatakan jika kita menunggu waktu datangnya shalat dimasjid, maka waktu menunggu nya tersebut akan diberi pahala seperti pahala shalat. Coba lakukanlah, dan rasakan manfaatnya, dan yang terpenting itu adalah sunnah.
4. Di doakan oleh Malaikat
Malaikat pun berdoa “Ya Allah ampunilah dia, Ya Allah ampunilah dia” tanpa henti sampai waktu shalat tiba. Malaikat akan berdoa seperti itu kepada orang-orang yang menunggu datangnya waktu shalat berjamaah di masjid.
5. Mendapat Perlindungan pada Hari Kiamat
“Ada tujuh golongan yang dinaungi kelak. Dan satunya adalah orang yang hatinya terpaut dengan masjid. Seorang pemuda yang hatinya terikat dengan masjid, orang-orang itulah yang akan mendapatkan perlindungan dari Allah saat kiamat kelak” (HR. Bukhari)
6. Doa Malaikat untuk shaf pertama
Tentunya jika kita datang lebih awal ke masjid untuk shalat berjamaah, kita akan mendapatkan keuntungan yang lebih salah satunya mendapatkan shaf pertama, sebagaimana disebutkan :
“Sesungguhnya para Malaikat memberikan sholawat kepada orang-orang yang berada di shaf pertama” (HR. Ibnu Hibban)
Menanggapi sabda Beliau (Rasulullah SAW) , para sahabat bertanya , “Apakah juga kepada orang-orang yang berada di shaf kedua wahai Rasulullah ?”
Kemudian Rasulullah berkata , “Juga kepada orang-orang di shaf kedua .”
(HR. Ahmad dan Ath Thabrani, dihasankan oleh Syaikh Al Albani)
7. Subuh dengan 119 Pahala
Ciri orang munafik salah satunya adalah tidak bisa melaksanakan shalat subuh berjamaah.
Keutamaan Shalat Berjamaah pada waktu subuh itu akan mendapatkan pahala sebanyak 119 kali dibandingkan Shalat Munfarid. sebagaimana hadist menyebutkan,
“Seseorang yang melaksanakan shalat subuh berjamaah, maka orang itu akan mendapatkan pahala 119 kali dibanding shalat sendiri” (HR. Muslim)
8. Isya dengan 59 Pahala
Tidak melaksanakan shalat isya merupakan salah satu dari sekian banyak ciri orang munafik, karena pada waktu ini orang munafik akan menyepelekan shalat isya dikarenakn waktu isya yang sangat panjang dan waktu ini pula orang mulai beristirahat.
Padahal seberapa panjang waktu shalat tersebut, umur manusia tidak ada yang tau, maut bisa datang kapan saja. sebagaimana hadist mengungkapkan seberapa besar pahala shalat berjamaah isya.
“Seseorang yang melaksanakan shalat isya berjamaah, maka dia akan mendapatkan pahala 59 kali lipat” (HR. Muslim)
9. Dzuhur, Ashar, Maghrib dengan 27 Pahala
“Kalau shalat dzuhur jamaah , ashar jamaah, dan magrib jamaah masing-masing dilipatk gandakan 27 kali kalau kita laksanakan secara jamaah” (HR. Muslim)
10. Pahala shalat berjamaah ketika sakit
Sakit merupakan anugerah, nikmat dan sekaligus ujian, dari Allah kepada Hambanya, agar selalu bersyukur terhadap nikmatnya sehat, agar ketika diberi kesehatan itu dimanfaatkan sebaik mungkin untuk kebaikan dan menjalankan perintah Allah.
Diantaranya shalat berjamaah di mesjid , akan tetapi bagi orang yang sakit akan diberikan pahala yang sama seperti orang shalat berjamaah di mesjid apabila orang tersebut melaksanakan shalat saat sakit secara munfarid.
Dengan syarat , orang tersebut selama sehat selalu melaksanakan shalat berjamaah di masjid. sebagaimana hadist riwayat mengungkapkan :
“Ketika sakit dan tidak bisa ke mesjid (padahal setiap terbiasa ke masjid). Pada saat kita tidak ke masjid dan shalat di rumah, kita akan dapat pahala yang sama seperti waktu shalat di masjid” (HR. Abu Daud)
11. Terhindar dari sifat munafik
Orang munafik itu menyepelekan shalat berjamaah di masjid, kenapa? karena Allah memperbolehkan shalat munfarid, dan dengan persepsi orang munafik pula shalat bisa dilakukan dirumah, apalagi laki-laki, tempat shalat nya seorang laki-laki itu di mesjid, bukan dirumah.
Adapula tanda orang munafik lainnya ialah dilihat pada shalat subuh dan isya nya, sebagai mana hadist berikut,
“Tidak ada shalat yang lebih berat bagi orang-orang munafiq dari pada shalat subuh dan isya. Seandainya mereka tahu nilai yang terkandung didalam kedua shalat itu, pastilah mereka mendatangi (Masjid tempat) kedua shalat itu meskipun dengan merangkak.” (HR. Bukhari)
12. Jadi sebab diampuninya dosa oleh Allah SWT
Sebagaimana Sabda Rasulullah SAW :
“Jika imam mengucapkan “Ghoiril maghdhubi’alaihim waladhdholliin”, maka ucapkan “amin”. Karena sesungguhnya siapa yang mengucapkan “amin” bersamaan dengan ucapan malaikat, maka ia akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (H.R. Bukhari dan Muslim)
13. Dilipatgandakan 25 kali, setiap langkah dihitung 1 derajat sekaligus diampuni dosa, dan didoakan malaikat agar diampuni serta dirahmati
Imam Bukhori meriwayatkan dari Abu Hurairah berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Shalat seorang laki-laki dengan berjama’ah dibanding shalatnya di rumah atau di pasarnya lebih utama (dilipat gandakan) pahalanya dengan dua puluh lima kali lipat. Yang demikian itu karena bila dia berwudlu dengan menyempurnakan wudlunya lalu keluar dari rumahnya menuju masjid, dia tidak keluar kecuali untuk melaksanakan shalat berjama’ah, maka tidak ada satu langkahpun dari langkahnya kecuali akan ditinggikan satu derajat, dan akan dihapuskan satu kesalahannya. Apabila dia melaksanakan shalat, maka Malaikat akan turun untuk mendo’akannya selama dia masih berada di tempat shalatnya, ‘Ya Allah ampunilah dia. Ya Allah rahmatilah dia’. Dan seseorang dari kalian senantiasa dihitung dalam keadaan shalat selama dia menanti pelaksanaan shalat.” (H.R. Bukhari)
Itulah keutamaan dan pahala shalat berjamaah di masjid. Masih banyak sekali manfaat shalat berjamaah. Betapa indahnya islam, memerintahkan sesuatu akan tetapi manfaatnya begitu banyak dan tidak terlihat secara langsung. Semoga kita semua semangat melangkahkan kaki kita menuju masjid.

Lelaki Tampan Di Dalam Kubur

Dari Sa’id bin Sulaim ra, Rasulullah SAW bersabda, “Tiada penolong yang lebih utama derajatnya di sisi Allah pada hari Kiamat daripada Al-Qur’an. Bukan nabi, bukan malaikat dan bukan pula yang lainnya.” (Abdul Malik bin Habib-Syarah Ihya).
Bazzar meriwayatkan dalam kitab La’aali Masnunah bahwa jika seseorang meninggal dunia, ketika orang-orang sibuk dengan kain kafan dan persiapan pengebumian di rumahnya, tiba-tiba seorang lelaki yang sangat tampan berdiri di kepala mayat. Ketika kain kafan mulai dipakaikan, dia berada di antara dada dan kain kafan.
Setelah dikuburkan dan orang-orang mulai meninggalkannya, datanglah dua malaikat. Yaitu Malaikat Munkar  dan Nakir yang berusaha memisahkan lelaki tampan itu dari mayat agar memudahkan tanya jawab.
Tetapi si tampan itu menolak dan berkata,” Ia adalah sahabat karibku. Dalam keadaan bagaimanapun aku tidak akan meninggalkannya. Jika kalian ditugaskan untuk bertanya kepadanya, lakukanlah pekerjaan kalian. Aku tidak akan berpisah dari orang ini sehingga ia dimasukkan ke dalam syurga.”
Lalu ia berpaling kepada sahabatnya dan berkata,”Aku adalah Alquran yang terkadang kamu baca dengan suara keras dan terkadang dengan suara perlahan. Jangan khawatir setelah menghadapi pertanyaan Munkar dan Nakir ini, engkau tidak akan mengalami kesulitan.”
Setelah para malaikat itu selesai memberi pertanyaan, ia menghamparkan tempat tidur dan permadani sutera yang penuh dengan kasturi dari Mala’il A’la. (Himpunan Fadhilah Amal : 609)
Allahuakbar, selalu saja ada getaran selepas membaca hadis ini. Getaran penuh pengharapan sekaligus kekhawatiran. Dan mengharapkan Alquran yang kita baca dapat menjadi pembela.
Banyak riwayat yang menerangkan bahwa Alquran adalah pemberi syafa’at yang pasti dikabulkan Allah SWT. Upaya agar mendapatkan syafaat Alquran tentu saja dengan mendekatkan diri kepada Alquran.
Dengan berniat membaca dan menghafal Alquran hati kita seakan-akan terpanggil untuk selalu memegang Alquran. Ada tanggung jawab yang membuat kita merasa kurang jika tidak memegang Al-Qur’an. Walaupun mungkin sekedar membacanya.
Semoga Allah dengan kemuliaanNya menjadikan Alquran sebagai syafa’at bagi kita, bukan sebagai penuntut kita.
Semoga Alquran menjadi “teman” bagi kita ketika tidak ada sesuatupun di dunia ini yang dapat menemani kita. Amin. Mari menghafal Alquran
 
Sumber : Soraya Khoirunnisa/Republika

Berbuatlah, Maka Allah akan Permudah

Oleh : Adi Setiawan, Lc
Suatu ketika Rasulullah Saw bersabda kepada para sahabatnya,

ما منكم من أحد إلا كتب مقعده من الجنة ومقعده من النار ” . قالوا : يا رسول الله ، أفلا نتكل ؟

قال : ” اعملوا فكل ميسر [ لما خلق له ] ” ثم قرأ : ( فأما من أعطى واتقى وصدق بالحسنى فسنيسره لليسرى . رواه البخاري

“Tiada seorang pun dari kalian, melainkan telah ditetapkan kedudukannya di surga atau pun di neraka.” Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah itu berarti kita bertawakkal saja?”.
Beliau SAW menjawab: “Berbuatlah! Maka tiap-tiap orang itu dimudahkan untuk mengerjakan apa yang diciptakan (ditakdirkan) untuknya.”
Kemudian beliau SAW membacakan ayat, “Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka kelak kami akan mudahkan baginya menuju kemudahan (kebahagiaan).” (HR. Bukhari)
Pelajaran pertama dari hadits ini adalah, Berbuatlah maka Allah akan permudah.
Sebagai konsekuensi dari setiap perbuatan akan ditemukan kemudahan. Dalam hadits ini dicontohkan dengan kedermawanan dan ketakwaan serta tsiqah billah maka akan membuahkan hasil yang manis berupa kemudahan. Yaitu kemudahan dalam membiasakan amal kebaikan serta kemudahan memperoleh kebahagiaan dan kelapangan hidup dan kelak dimudahkan jalannya menuju surga.
Betapa banyak orang ingin berhasil, namun tidak pernah mencoba, tidak mau menapaki usaha menuju keberhasilan. Takut kalah, khawatir terjatuh dan sebagainya menjadi alasan orang enggan memulai sebuah kebaikan. Bukankah seorang anak akhirnya bisa berjalan setelah ia berkali-kali terjatuh, luka bahkan berdarah? Bukankah canggihnya smartphone yang ada di tangan kita hari ini adalah hasil dari ribuan percobaan, melewati kegagalan demi kegagalan terlebih dahulu?
Ingatlah Allah SWT berfirman, “Dan katakanlah, berbuatlah, maka Allah akan melihat perbuatanmu”. (At-Taubah; 105).
Berbuatlah amal kebaikan, biarkan Allah yang menilai amal kebaikan kita itu, biarkan Allah SWt yang memberikan jalan sehingga semuanya terasa ringan.
Pelajaran Kedua, Takwa adalah rambu dalam bekerja
Firman Allah: “Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa.”
Yakni mengeluarkan apa yang diperintahkan untuk dikeluarkan dan bertakwa kepada Allah dalam segala urusannya termasuk dalam hal memberi sendiri.
Memberi dalam bentuk infak, sedekah atau pun zakat tidak diperkenankan terlalu boros, apalagi sampai melupakan kebutuhan pribadi dan keluarga. Sebaliknya tidak pula terlalu hitung-hitungan. Semua ada batasannnya. Dan batasan terindah bagi seorang muslim adalah takwanya.
Mari belajar dari kisah Abdurrahman bin Auf. Menjelang perang Tabuk yang terjadi pada masa paceklik, Rasulullah Saw perintahkan kepada para sahabat untuk bersedekah sebagai bekal perang.
Datanglah Abdurrahman bin Auf membawa 4.000 dirham menghadap Rasulullah Saw. Beliau pun bertanya, “Alangkah banyaknya ini wahai Abdurrahman, tidakkah engkau sisihkan untuk keluargamu?”.
Abdurrahman bin Auf menjawab, “Saat ini hartaku berjumlah 8000 dirham; 4000 dirham aku pinjamkan (sedekahkan) untuk kepentingan agama Allah, sedangkan 4.000 sisanya aku simpan untukku dan keluargaku”.
Mendengar itu Nabi Saw. pun mendoakannya,
“ بارك الله لك فيما أعطيت وفيما أمسكت”
“Semoga Allah memberkahimu dengan apa yang telah kau berikan dan juga apa yang kau simpan.”
Doa ini pun menjadi kenyataan, ketika Abdurrahman bin Auf menjemput ajal, ia meninggalkan harta warisan untuk kedua istrinya sebesar 180.000 dirham, sehingga masing-masing istrinya mendapat 90.000 dirham.
Pelajaran Ketiga, Tidak ada perbuatan yang sia-sia
Firman Allah, Wa shaddaqa bil husnaa (“Dan membenarkan adanya pahala yang terbaik.”) yakni diberi balasan atas semuanya itu. Demikian yang dikemukakan oleh Qatadah. Ibnu ‘Abbas mengatakan: “Yaitu dengan peninggalan.”
Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ubay bin Ka’ab, dia berkata, aku pernah  bertanya kepada Rasulullah saw mengenai  kata al husnaa, maka beliau menjawab: “Al husnaa berarti syurga.”
Orang-orang yang berani mengeluarkan hartanya di jalan Allah. Ia tak pernah khawatir sedikit pun akan ditimpa kebangkrutan. Lalu ia juga bertakwa yaitu menjaga diri dari yang diharamkan Allah SWT, keluar dari rambu takwa. Sebagaimana ditafsirkan oleh Ibnu Abbas ra. Dan ia meyakini bahwa yang dilakukannya tidaklah sia-sia. Allah SWT telah menjanjikan balasan yang sangat luar biasa. Maka ia mempercayainya dengan sepenuh hati dan itu nampak ketika ia memberi dengan apa pun yang dimilikinya.
Belajarlah dari petani yang membiarkan burung memakan tanamannya. Dari Jabir bin Abdullah Rodhiyallohu ‘Anhu dia berkata, telah bersabda Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam:
فَلاَ يَغْرِسُ الْمُسْلِمُ غَرْسًا فَيَأْكُلَ مِنْهُ إِنْسَانٌ وَ لاَ دَابَّةٌ وَ لاَ طَيْرٌ إِلاَّ كَانَ لَهُ صَدَقَةً إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ
“Tidaklah seorang muslim menanam tanaman lalu tanaman itu dimakan manusia, binatang ataupun burung melainkan tanaman itu menjadi sedekah baginya sampai hari kiamat.” (HR. Imam Muslim hadits no.1552(10))
Syaikh Al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa hadits tersebut merupakan dalil yang jelas mengenai anjuran Nabi SAW untuk bercocok tanam, karena di dalam bercocok tanam terdapat 2 manfaat yaitu manfaat dunia dan manfaat agama.
Pertama: Manfaat yang bersifat Dunia (dunyawiyah) dari bercocok tanam adalah menghasilkan produksi (menyediakan bahan makanan). Karena dalam bercocok tanam, yang bisa mengambil manfaatnya, selain petani itu sendiri juga masyarakat dan negerinya. Siapa pun rela mengeluarkan uang karena mereka butuh kepada hasil-hasil pertaniannya.
Selain itu bercocok tanam juga menjadikan lingkungan menjadi lebih sehat untuk manusia dimana udara menjadi segar karena tanaman menghasilkan oksigen yang diperlukan oleh manusia untuk proses pernafasan. Tanaman berupa pepohonan juga memberikan kerindangan bagi orang-orang yang berteduh di bawahnya, kesejukan bagi orang yang ada di sekitarnya. Tanaman juga menjadikan pemandangan alam yang enak dan indah dipandang. Lihatlah hamparan tanah yang dipenuhi oleh tanam-tanaman tentunya hati dibuat senang melihatnya, perasaan pun menjadi damai berada di dekatnya.
Kedua: Manfaat yang bersifat agama (diniyyah) yaitu berupa pahala atau ganjaran. Sesungguhnya tanaman yang kita tanam apabila dimakan oleh manusia, binatang baik berupa burung ataupun yang lainnya meskipun satu biji saja, maka itu bernilai sedekah bagi penanamnya. Dan tentu nilai sedekah itu paling tidak 700 kali lipat di hadapan Allah SWT sebagai disebutkan dalam Al-quran.
Pelajaran Keempat, sebuah pengorbanan akan selalu tercatat sebagaimana asbab nuzul ayat ini
Imam Al-Wahidi dalam kitab asbab nuzulnya menyebutkan, ayat ini diturunkan untuk mengabadikan akhlak mulia Abu Bakar ra yang membeli Bilal bin Rabah dari Umayah bin Khalaf serta memerdekakan Bilal tanpa syarat apapun. Zubair bin Awwam menceritakan bahwa pembelian Bilal dihina oleh banyak orang karena menurut mereka alangkah baiknya jika Abu Bakar membeli budak yang lebih baik dari Bilal. Tapi penghinaan ini tak digubris oleh Abu Bakar.
Menurut riwayat lain ayat ini diturunkan untuk mengapresiasi Abu Dahdah al-Anshary yang suatu hari berada di kediaman seorang munafik yang memiliki kurma. Ia melihat kurma-kurma tersebut berjatuhan ke rumah tetangganya yang yatim. Orang munafik tersebut mengambili kurma-kurma tersebut, khawatir akan diambil oleh anak-anak yatim tetangganya.
Abu Dahdah al-Anshary berkata kepada mereka, “Biarkan saja itu untuk mereka maka engkau akan mendapat gantinya di surga”. Namun sang munafik tersebut tidak menggubrisnya. Abu Dahdah kemudian membelinya semuanya dan menghibahkannya untuk anak-anak yatim tersebut.
Pelajaran Kelima, Tawakkal dalam berbuat
Ketika para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah itu berarti kita bertawakkal saja?”. Rasulullah Saw luruskan makna tawakkal dengan kata, “Berbuatlah!”. Tawakkal bukan berarti tidak bekerja, berbuat dan seterusnya. Justru tawakkal adalah bagian dari berbuat.
Manusia harus bertawakkal sebagaimana burung bertawakal. Dari Umar bin Khattab dari Nabi SAW bersabda, “Seandainya kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakkal. Pasti Allah akan memberi kalian rezeki sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung. Di saat ia berangkat di pagi hari perutnya masih kosong. Dan ketika ia kembali ke sarangnya di sore hari perutnya sudah kenyang.” ( HR. Ahmad).
Allah SWT Ar-Rozzaq menjamin rezekinya burung. Maka sebagaimana Ia memberi rezeki kepada burung, begitu pula Ia akan memberi kita rezeki. Bahkan rezeki kita telah ditetapkan sebelum kita dilahirkan, saat kita masih berada dalam kandungan ibu kita.
Yang perlu disadari, kita tidak akan meninggal dunia kecuali Allah SWT telah cukupkan rezeki kita. Rasulullah SAW bersabda, “Demi Zat yang jiwa Muhammad berada dalam gengaman tangan-Nya, Tidak akan meninggal setiap jiwa (manusia) sebelum sempurna jatah rezekinya. Bertakwalah kepada Allah dan carilah rezeki dengan cara yang baik. Jangan sampai karena rezeki kalian datangnya lambat, membuat kalian mencarinya dengan cara tidak taat kepada Allah (cara yang haram). Sebab apa (rezeki) yang ada pada Allah tidak akan diperoleh kecuali dengan taat kepada-Nya. Pena-pena (pencatat takdir) telah diangkat dan kertasnya pun telah kering (takdir telah ditetapkan)”. (HR. Tabrani).
Waallahu A’lam.

Membiasakan Puasa Senin Kamis

Keutamaan shaum sunnah sudah banyak dikaji di berbagai topik diskusi keagamaan. Rasulullah sendiri menganjurkan agar umat Islam menjalankan shaum di luar bulan Ramadhan. Namun ibadah tersebut dirasa berat karena berbagai alasan.
Mungkin dari teman-teman ada yang bertanya “Apa yang menjadi dasar kenapa muslim melaksanakan puasa sunnah Senin dan Kamis?”. Ternyata banyak jaminan keutamaan dalam Islam sebagai berikut :
1. Akan dipersilahkan memasuki pintu khusus di Surga bernama Ar Rayyan bagi yang berpuasa
Sesungguhnya di surga ada satu pintu yang namanya “Ar-Rayyan,” yang akan di masuki oleh orang-orang yang sering berpuasa kelak pada hari kiamat, tidak akan masuk dari pintu itu kecuali orang yang suka berpuasa. di katakan : manakah orang-orang yang suka berpuasa? maka mereka pun berdiri dan tidak masuk lewat pintu itu kecuali mereka, jika mereka telah masuk, maka pintu itu di tutup sehingga tidak seorang pun masuk melaluinya lagi. (HR Bukhori dan Muslim).
2. Meniru Kebiasaan Rasulullah
Dari ‘Aisyah -radhiallahu ‘anha- : bahwa Nabi -sholallahu ‘alaihi wasallam- sering melakukan puasa senin dan kamis. (HR Ibnu Majah, At-Tirmidzi dan An-Nasai)
3. Diampuni Dosa-dosanya
Shahih Muslim dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda:
“Pintu-pintu Surga di buka pada hari Senin dan Kamis. Maka semua hamba yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun akan diampuni dosa-dosanya, kecuali seseorang yang antara dia dan saudaranya terjadi permusuhan. Lalu dikatakan, ‘Tundalah pengampunan terhadap kedua orang ini sampai keduanya berdamai, tundalah pengampunan terhadap kedua orang ini sampai keduanya berdamai, tundalah pengampunan terhadap orang ini sampai keduanya berdamai. (HR. Muslim)
Maksud dari beberapa pintu surga dibuka pada dua hari tersebut; Senin dan Kamis, yaitu di saat inilah setiap orang-orang Mukmin diampuni, kecuali dua orang Mukmin yang sedang bermusuhan.
4 Manfaat dari aspek kejiwaan, sosial serta kesehatan saat berpuasa
Secara kejiwaan puasa membiasakan kesabaran, menguatkan kemauan, mengajari dan membantu bagaimana menguasai diri, serta mewujudkan dan membentuk ketaqwaan yang kuat di dalam diri. Inilah hikmah puasa yang paling utama. Allah berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.” (Q.S. Al-Baqarah ayat 183)

Kisah Pertarungan Nabi Daud Melawan Goliath "Raksasa Jalut"

Kisah Pertarungan Nabi Daud Melawan Goliath "Raksasa Jalut"

Kebanyakan dari kita pasti pernah mendengar kisah pertarungan antara David dan Goliath. Iya kisah ini menceritakan tentang pertarungan seorang manusia biasa yang berhasil menang melawan seorang raksasa yang memiliki kekuatan yang luar biasa. Kisah ini begitu mendunia, hingga banyak dari umat Islam pun mengetahuinya. Bahkan film David versus Goliath diputar dibioskop Indonesia tanggal 1 Maret 2016 kemarin.
Tapi ironisnya, masih banyak umat Islam yang tidak mengetahui bahwa kisah pertarungan antara David melawan Goliath ini tertulis dalam Al-Qur’an. Allah SWT berfirman dalam surah Al-Baqarah ayat 251, “Mereka (tentara Thalut) mengalahkan tentara Jalut dengan izin Allah dan (dalam peperangan itu) Daud membunuh Jalut, kemudian Allah memberikan kepadanya (Daud) pemerintahan dan hikmah (sesudah meninggalnya Thalut) dan mengajarkan kepadanya apa yang dikehendakiNya. Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam.”
Kisah pertarungan antara David dan Goliath ini sesungguhnya kisah pertarungan antara nabi Daud AS melawan Jalut. Dikisahkan ketika itu nabi Daud AS yang berasal dari keturunan Bani Israil masih berusia sangat muda dan belum diangkat sebagai Nabi.
Kaum Bani Israil ketika itu hidup tertindas oleh kekuasaan Jalut yang menguasai tanah Palestina. Jalut adalah seorang penguasa kejam dan bertubuh sangat besar layaknya raksasa, pada masa itu tidak satu manusia yang berani dan mampu melawan Jalut.
Allah SWT kemudian mengangkat seorang penggembala Bani Israil yang bernama Thalut untuk menjadi pemimpin Bani Israil. Dimana saat itu Bani Israil dikenal mempunyai sifat keras kepala dan pembangkang untuk berperang melawan Jalut. Terbukti pada awalnya Bani Israil menolak Thalut, karena hanya seorang pengembala miskin. Ia bukan keturunan Lawi bin Yakub, bukan pula keturunan Yahuza bin Yakub. Lawi dan Yahuza merupakan saudara Nabi Yusuf, putra Nabi Yakub bin Nabi Ishaq bin Nabi Ibrahim.
Hal tersebut dijelaskan dalam Allah SWT dalam Al Qur’an, “Nabi mereka mengatakan kepada mereka: “Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu”.
Mereka menjawab: “Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang diapun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak?”
Nabi (mereka) berkata: “Sesungguhnya Allah telah memilih rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa”. Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui.” (Q.S. Al Baqarah ayat 247)
Maksud Nabi mereka adalah Nabi sesudah Musa dan sebelum Daud diangkat jadi Nabi yaitu Nabi Shammil. Ibunya bernama Hubla sebagai keturunan Lawi yang tersisa, sebab sebelumnya Bani Israil selalu membunuh para Nabi. Sebagai pembawa risalah, Nabi Shammil lah yang mengajak Bani Israil untuk berperang dan yang menemukan Thalut sebagai calon pemimpin mereka.
Dan peperangan pun di mulai. Setelah mendapatkan kepercayaan, Thalut yang awalnya memimpin 70 ribu pasukan. Namun pada akhirnya Thalut hanya membawa 300-san pasukan yang taat dan shalih, termasuk Daud muda yang belum diangkat menjadi Nabi. Sebab banyak diantara mereka melanggar perintah untuk tidak meminum air secara berlebihan diperjalanan Sahara. Kondisi psikis mereka tetiba berubah pucat dan takut perang.
Meskipun harus kehilangan banyak pasukannya, namun Thalut juga berhasil memporak-porandakan pasukan Jalut hingga akhirnya hanya ada Jalut dan beberapa pengikut setianya. Namun tahukah anda? Tidak ada satu pun tentara Thalut yang berani maju melawan Jalut yang memiliki tubuh sangat besar. Kebanyakan dari mereka merasa sangat takut melawan Jalut karena dengan ukuran tubuh manusia normal sangat mustahil untuk memenangkan pertempuran itu.
Allah SWT berfirman, “Tatkala Jalut dan tentaranya telah tampak oleh mereka, merekapun (Thalut dan tentaranya) berdoa, ‘Ya Tuhan Kami tuangkanlah kesabaran atas diri kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir.” (Q.S. Al-Baqarah: 250)
Disaat genting seperti itulah, Daud muda mengajukan diri secara sukarela untuk bertarung melawan Jalut. Dengan keimanan dan keikhlasan semata-mata hanya Allah SWT, Daud tidak gentar sedikit pun menghadapi Jalut sang raksasa zholim. Nabi Daud AS sangat yakin bahwa kekuatan sesungguhnya tidak hanya terletak pada kekuatan fisik semata, kekuatan yang hakiki sesungguhnya terletak pada keyakinan dan keteguhan iman seseorang terhadap kebesaran Allah SWT.
Allah SWT berfirman, “Bersabarlah atas segala apa yang mereka katakan, dan ingatlah hamba Kami Daud yang mempunyai kekuatan, sesungguhnya dia amat taat (Kepada Tuhan). Sesungguhnya Kami menundukkan gunung – gunung untuk bertasbih kepada dia (Daud) di waktu petang dan pagi. Dan (Kami tundukkan pula) burung-burung dalam keadaan terkumpul. Masing-masingnya amat taat kepada Allah. Dan Kami kuatkan kerajaannya dan kami berikan kepadanya hikmah dan kebijaksanaan dalam menyelesaikan perselisihan.” (Q.S. As Shaad ayat 17-20)
Maka pertarungan yang sekilas terlihat tidak seimbang pun dimulai. Dengan menyebut nama Allah yang kuasa dan hanya berbekal sebuah tongkat, ketapel dan 3 buah batu kerikil Daud muda tidak ragu bertempur melawan Jalut. Meskipun Daud muda berukuran seperti manusia pada umumnya, namun Daud as berhasil menghindar dari tebasan pedang Jalut dan berkat keteguhan imannya kepada Allah SWT, maka pertolongan pun diturunkan kepada Daud as.
Daud as meletakkan salah satu batu di ketapelnya dan dilepaskannya ke udara, dengan seijin Allah SWT angin menjadi sahabat nabi Daud AS dan membuat batu meluncur dengan teramat keras. Batu itu kemudian jatuh tepat di dahi jalut dan membuat jalut jatuh tersungkur dan kemudian tewas.
Sebelumnya, Thalut pernah berjanji barangsiapa yang berhasil membunuh Jalut maka akan dinikahkan dengan putrinya serta memberinya separuh kepemimpinan kerajaan Bani Israil. Daud pun mendapat bonus hadiah tersebut. Hingga usia Daud mencapai 40 tahun, Thalut meregang nyawa. Daud pun menggantikan posisi Thalut menjadi raja Bani Israil. Tak hanya itu, Allah pun mengangkat Daud sebagai nabi dan Rasul, serta diturunkan kepadanya kitab suci Zabur.
Hikmah
Pertarungan nabi Daud AS melawan jalut yang bertubuh sangat besar lengkap dengan pedang dan baju besinya, menjadi pelajaran bahwa mereka yang besar dan kuat belum tentu menang terhadap mereka yang kecil namun memiliki iman yang kuat kepada Allah SWT.
palestina1
Kisah serupa terjadi pada saudara-saudara kita di Palestina yang sedang berjuang melawan kaum zionis Israel. Dengan menggunakan kerikil dan batu-batu kecilnya, para mujahid Palestina harus berhadapan dengan tank-tank tempur canggih di Israel. Namun hingga kini zionis Israel belum mampu mengalahkan bangsa Palestina yang pantang menyerah. Perjuangan bangsa Palestina mempertahankan tanahnya dan menegakkan agama Allah SWT hingga kini sesungguhnya dapat menjadi bukti kuasa Allah SWT, atas umatnya yang terpilih. Maka jangan sekalipun kita takut dan gentar menghadapi musuh yang sangat kuat sekalipun, karena sesungguhnya pertolongan Allah sangat dekat, dan Allah SWT akan selalu ada disekitar umatnya yang beriman.
 
Rinci penjelasan lihat di :

  • Tafsir Ath Thabari yang memaparkan kisah tersebut hingga berpuluh halaman.
  • Tafsir Ibnu Katsir.
  • Kitab Stories of The Prophet, Tafsir IbnuKatsir.

Ket :
Serangkaian kisah Shammil (Samuel), Talut (Saul), Jalut (Goliath) dan Daud (Davidh) tersebut dikabarkan dalam Al-Qur’an surah Al Baqarah ayat 246 hingga 251.
Kisah tersebut pun terdapat dalam Al-Kitab dengan pemaparan kisah yang teramat panjang. Bible mengisahkannya secara panjang lebar, namun inti kisah tak jauh berbeda seperti yang termaktub dalam Al-Qur’an meski dalam beberapa hal terjadi perbedaan.

Kisah Pertarungan Nabi Daud Melawan Goliath "Raksasa Jalut"

Sebutan Rasulullah di Negeri Abessinia

Dr Sayuqi Abu Khalil dalam Atlas Hadits al-Nabawi mengatakan, wilayah al-Habasyah, saat ini dikenal dengan nama Ethiopia atau Eritrea. “Masyarakatnya dikenal sebagai al-Habasy, yakni bangsa Sudan atau bangsa berkulit hitam,” ujar Dr Syauqi.
Dalam salah satu sabdanya, Rasulullah SAW menyebut Abessinia sebagai negeri kerukunan umat beragama. Betapa tidak, warga Abbessinia dengan penuh keramahan menerima dan memberikan perlindungan kepada kaum yang berbeda agama dengan mereka. Inilah yang menjadi alasan sehingga bangsa Arab pada masa perluasan tidak melancarkan ekspansi ke wilayah itu.
Pada hijrah pertama ke Habbasyah atau dikenal Abessinia ini, para sahabat Rasulullah disambut dengan penuh keramahan dan persahabatan. Raja Najasyi lalu menempatkan mereka di Negash yang terletak di sebelah utara Provinsi Tigray. Setelah tiga bulan di sana, mereka kembali ke Makkah, dengan harapan kaum kafir Quraisy telah melunak. Namun nyatanya, perlakuan kaum Quraisy tetap keras.
Maka itu, Rasulullah kembali memerintahkan umat Muslim untuk hijrah ke Abessinia. Jumlah sahabat yang hijrah pada gelombang kedua itu terdiri atas 80 orang. Rasulullah pun berpesan kepada mereka untuk menghormati dan menjaga Abessinia atau Ethiopia.
Namun, kafir Quraisy tak tinggal diam. Mereka mengutus Amr bin As serta Imarah bin Walid menghadap Raja Najasy. Keduanya meminta sang raja untuk mengusir para pengikut Rasulullah SAW dari tanah Abessinia. Raja Najasyi menolak permintaan itu dan mengizinkan para sahabat tinggal di negeri itu hingga Rasulullah SAW hijrah ke Madinah.
Islam Pun Berkembang di Abessinia
Ethiopian Muslims2
Perlahan, tapi pasti agama Islam mulai berkembang di Abessinia, yang kini disebut Ethiopia. Namun, perkembangan itu tak berjalan mulus karena mendapat perlawanan dari kaum Nasrani yang tinggal di wilayah utara Ethiopia, seperti Amhara, Tigray, serta Oromo.
Sehari-hari, masyarakat Oromo sebenarnya mempraktikkan tradisi Waaqa yang dipengaruhi budaya Islam. Tapi nyatanya, mereka tak suka Islam berkembang di negeri itu.  Mereka bahkan ingin sekali melenyapkan kaum Muslim dari Ethiopia.
“Ekspansi yang dilakukan masyarakat  Oromo selama berabad-abad di wilayah selatan Ethiopia bertujuan untuk menghapuskan Islam dari kawasan itu,” kata sejarawan Ulrich Braukamper.
Namun, upaya itu tak pernah berhasil. Hingga kini, Islam tetap eksis dan menjadi agama terbesar kedua di Ethiopia, setelah Nasrani. Sensus tahun 1994 menunjukkan, jumlah penduduk Muslim di Ethiopia mencapai 32,8 persen dari total populasi di negara itu. Umumnya, umat Islam berada di wilayah Afar, Oromo, Tigray, dan Gurage.
Sedangkan menurut sensus nasional 2007 terbaru, Islam adalah agama yang paling banyak dipraktikkan di Ethiopia setelah Kristen. Tercatat, pemeluk Islam di negeri ini mencapai lebih dari 25 juta (atau 33,9 persen) penduduk Ethiopia
Di posisinya yang bukan mayoritas, umat Islam di Ethiopia pernah mencapai kegemilangan, yakni ketika mampu mendirikan kesultanan Muslim. Sejarah mencatat, ada beberapa kesultanan Muslim yang pernah berjaya di Ethiopia, di antaranya Kesultanan Adal, Kesultanan Aussa, Kesultanan Harar, Kesultanan Ifat, serta Kesultanan Shewa.
Namun, pada 1890-an, masa kejayaan itu mulai mencapai titik ujung. Posisi umat Islam kian terhimpit ketika  Raja Yohanes IV mengeluarkan kebijakan untuk mengkristenkan Ethiopia. Akibat kebijakan yang dibarengi aksi kekerasan itu, banyak umat Islam yang terpaksa berpura-pura mengaku memeluk Nasrani. Siang hari jadi Nasrani, sementara malam hari beribadah secara Islam. Dalam Islam, prinsip ini disebut taqiah, yakni menyembunyikan keyakinan demi keselamatan.
Saat itu, Muslim yang tak mau menerapkan taqiah memilih angkat kaki atau hijrah ke tempat lain. Mereka membanjiri  wilayah perbatasan menuju Hijaz. Namun, ada juga yang tak mau taqiah, tapi tetap tinggal di Ethiopia. Oleh penguasa, warga yang tetap menunjukkan jati diri keislamannya itu dicap sebagai pemberontak.
Belakangan, umat Islam dan ulama Ethiopia bangkit menolak perlakuan Raja Yohanes IV. Adalah Syaikh Ali Adam, ulama pertama yang angkat senjata melawan kebijakan penghapusan Islam dari Ethiopia. Ulama kharismatik itu memulai perjuangannya di Shawa. Bersama pengikutnya, dia dihadang tentara Raja Yohanes IV di Wahelo, sebelah barat laut danau Hayk. Di tempat ini, Syaikh Ali Adam dan pengikutnya gugur.
Patah tumbuh hilang berganti. Sepeninggal  Syaikh Ali Adam muncul Thalha. Dia memimpin perlawanan terhadap aksi pemurtadan. Dia pula yang menentang perintah kepada umat Islam untuk membangun gereja. Kelompoknya juga berhasil mengalahkan pasukan Raja Yohanes yang dipimpin Ras Mikael. Pertumpahan darah ini tentu sangat disayangkan, mengingat negeri ini pernah dipuji oleh Rasulullah SAW sebagai negeri kerukunan agama.
 
Sumber : Republika