by Danu Wijaya danuw | Jan 15, 2017 | Adab dan Akhlak, Artikel
Betapa banyak nikmat yang Allah karuniakan kepada kita. Diantara banyaknya nikmatNya antara lain nikmat Islam, nikmat kesehatan, nikmat kesempatan waktu luang, nikmat harta, nikmat tempat tinggal, nikmat memandang, nikmat mendengar, nikmat dapat berbicara dan masih banyak yang lainnya sampai tidak terhitung jumlahnya.
Firman Allah dalam Al-Qur’an : “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim [14]: 7)
Sabda Rasulullah SAW, “Bersyukur atas nikmat Allah Swt akan melestarikan nikmat tersebut.” (HR. ad-Dailami)
Nikmat yang dianugerahkan Allah kepada manusia, merupakan pemberian yang terus menerus, dengan berbagai macam bentuk lahir dan batin.
Hanya saja manusia kurang pandai mensyukuri nikmat Allah. Lawan dari syukur adalah kufur nikmat Allah. Sebab seolah-olah belum diberikan sesuatupun oleh Allah karena melihat orang lain lebih kaya, lebih kuat, lebih rupawan, dan sebagainya.
Sikap sering bersyukur kepada Allah akan mempertebal keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah. Serta menghindari kita dari rasa sedih dan keterpurukan.
Ini adalah salah satu dari hikmah keutamaan serta tujuan manfaat kita bersyukur kepada Allah.
Imam Al-Ghazali merumuskan 3 faktor yang harus/wajib terdapat dalam konteks Syukur yang sungguh-sungguh tersebut, yakni
- Syukur dengan hatinya dalam bentuk kesaksian dan kecintaannya kepada Allah SWT
- Syukur dengan lisannya dalam bentuk pengakuan serta puji-pujian kepada Allah SWT. Seperti mengucapkan Hamdallah, Alhamdulillah (Segala Puji bagi Allah)
- Syukur dengan seluruh anggota tubuhnya dalam bentuk amal shaleh perbuatannya.
Manfaat Bersyukur
Orang-orang yang bersyukur memiliki kesadaran dan kemampuan untuk melihat keindahan dan kenikmatan yang dikaruniakan Allah Subhanahu wa ta’ala kepada mereka semuanya dan juga seluruh alam semesta ini.
Kita perlu belajar kepada orang-orang mukmin sejati yang senantiasa mengerti dan memahami akan keutamaan bersyukur kepada Allah, sekalipun berada dalam keadaan yang sangat sulit sekalipun. Baik itu dalam menghadapi kesulitan hidup, kesulitan berumah tangga dan sejenisnya.
Orang beriman yang mampu melihat sisi-sisi kebaikan dalam setiap peristiwa dan keadaan juga mampu melihat kebaikan dalam penderitaan tersebut.
Anggapan kebanyakan orang, bersyukur kepada Allah hanya perlu dilakukan pada saat mendapatkan anugerah kenikmatan yang besar atau terbebas dari masalah besar yang sedang dihadapinya maka hal tersebut adalah kekeliruan kesalahan yang besar.
Padahal jika kita merenung sejenak, maka kita akan bisa menyadari bahwa kita semua ini dikelilingi oleh nikmat yang tidak terbatas banyaknya.
Dalam hitungan waktu, setiap detik, setiap menit, dan seterusnya tercurah kenikmatan dari Allah tak terhenti yang berupa hidup, kesehatan, kecerdasan, panca indra, udara yang dihirup.
by Danu Wijaya danuw | Jan 14, 2017 | Adab dan Akhlak, Artikel
Cicit Rasulullah saw, bernama Jafar Ash Shadiq ibn Muhammad Al Baqir ibn Ali Zainal Abidin ibn Husain. Beliau ini punya murid yang amat mencintainya. Namanya adalah An Nu’man ibn Tsabit yang mahsyur disebut sebagai Imam Abu Hanifah.
Kecintaannya terhadap ahlu bait (keluarga Rasulullah) amat mendalam. Hingga pada taraf menempuh bahaya dan mengorbankan dirinya untuk melindungi para Ahlu Bait. Yaitu An Nafsuz Zakiyah, Muhammad ibn Hasan dan saudaranya Ibrahim.
Mereka dikejar-kejar pemerintahan Daulah Abbasiyah, Abu Ja’far Al Mansur karena tuduhan makar. Maka cinta Imam Abu Hanifah pada keluarga Rasulullah saw sungguh tak diragukan.
Tapi bagaimana sikap beliau terhadap syiah?
Suatu hari seorang alim Syi’i mendatangi beliau dan berbicara panjang tentang keutamaan Sayyidina Ali dan kebatilan tiga Sahabat (Abu Bakar, Umar, Ustman) yang dituduh merampas hak Ali.
Maka bertanyalah Abu Hanifah, “Menurutmu siapakah yang terbaik diantara ummat Nabi Musa, apakah sahabat-sahabat Musa?” Jawabnya “Ya”.
” Dan apakah insan terbaik dikalangan ummat Nabi Isa alaihissalam adalah sahabat-sahabat Isa?” lanjut Abu Hanifah. “Betul” ujarnya.
“Inilah yang tak kumengerti tentang Syiah”, seru Abu Hanifah. ” Karena menurut mereka orang-orang terburuk dikalangan ummat Muhammad justru adalah sahabat-sahabat terdekat, mertua dan menantunya!”
Maka terperenjatlah tokoh Syiah itu dan seketika menyatakan taubatnya. Maka beliaupun mengutip gurunya, cicit Rasul, Imam Jafar Ash Shadiq, “Teladan kami dalam mencintai Rasulullah dan keluarganya adalah sahabat Nabi Muhammad saw sendiri!”
Demikianlah Imam Abu Hanifah mencontohkan pada kita cinta yang mendalam pada Ahlu Bait Rasulullah sekaligus pelurusan pada penyimpangan. Ada tenggang rasa terhadap penyimpangan yang harus diluruskan.
Dan kita belajar pada Imam Abu Hanifah dalam meluruskan dengan kesediaan diawal mendengar hingga tuntas, kedalaman ilmunya, dan kekuatan dalam berhujjah.
Sumber : Menyimak Kicau Merajut Makna, Salim A. Fillah, ProU Media
by Danu Wijaya danuw | Jan 13, 2017 | Adab dan Akhlak, Artikel
Sifat sombong adalah memandang dirinya berada di atas kebenaran dan merasa lebih di atas orang lain. Orang yang sombong merasa dirinya sempurna. Kesombongan ada dua macam, yaitu sombong terhadap al haq (kebenaran) dan sombong terhadap makhluk.
Di antara bentuk kesombongan terhadap manusia adalah sombong dengan pangkat dan kedudukannya, sombong dengan harta, sombong dengan kekuatan dan kesehatan, sombong dengan ilmu dan kecerdasan, sombong dengan bentuk tubuh, dan kelebihan-kelebihan lainnya. Dia merasa lebih dibandingkan orang lain dengan kelebihan-kelebihan tersebut.
Islam Melarang Sifat Sombong
Berbicara orang sombong rasanya tidak sah tanpa menyebut nama Raja Namrudz di masa Nabi Ibrahim atau Firaun di masa Nabi Musa. Keduanya adalah contoh manusia angkuh di zamannya masing-masing.
Padahal saat itu, dengan penuh santun, Nabi Musa hanya bermaksud menanyai Firaun, sekira ia mau membersihkan diri. Apa daya, Firaun memilih berpaling dari kebenaran. Penyakit hatinya muncul. Ia menantang Musa sekaligus mengaku sebagai Tuhan yang layak disembah.
Sifat sombong dilarang didalam Islam sebagaimana firman Allah Ta’ala, “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Luqman:18)
Imam Adz Dzahabi rahimahullah berkata, “Kesombongan yang paling buruk adalah orang yang menyombongkan diri di hadapan manusia dengan ilmunya.”
Sabda Nabi saw, “Sombong adalah menolak kebenaran dan suka meremehkan orang lain”. ( Syarh Riyadus Shaalihin, II/301).
Biasanya orang sombong dengan menolak sebagian al haq (kebenaran) yang tidak sesuai dengan hawa nafsu dan akalnya termasuk kekafiran seseorang.
Mengganti Sifat Sombong dengan Tawadhu’
Kebalikan dari sikap sombong adalah sikap tawadhu’ (rendah hati). Sikap inilah yang merupakan sikap terpuji, yang merupakan salah satu sifat ‘ibaadur Rahman yang Allah terangkan dalam firman-Nya,
“Hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih adalah orang-orang yang berjalan di atas muka bumi dengan rendah hati (tawadhu’) dan apabila orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik.” (QS. Al Furqaan: 63)
Sifat tawadhu’ inilah yang akan mengangkat derajat seorang hamba, sebagaimana hadist nabi, “… Dan tidak ada orang yang tawadhu’ (merendahkan diri) karena Allah, melainkan Allah akan mengangkat derajatnya.” (HR. Muslim no. 2588)
Termasuk buah dari ilmu yang paling agung adalah sifat tawadhu’. Tawadhu’ adalah ketundukan secara total terhadap kebenaran, dan tunduk terhadap perintah Allah dan rasul-Nya dengan melaksanakan perintah dan menjauhi larangan.
Kemudian sifat tawadhu’ terhadap manusia dengan bersikap merendahkan hati, memperhatikan mereka baik yang tua maupun muda, dan memuliakan mereka. Kebalikannya adalah sikap sombong.
by Danu Wijaya danuw | Jan 13, 2017 | Artikel, Kisah Sahabat
Mengapa kisah para kiyai dan murid-muridnya penting dipelajari? Agar terjaga pikiran, lisan dan perkataan kita yang mengaku pewaris dakwah.
Yang tidak memahami sejarah, nasab keluarga, dan sanad ilmu akan kesulitan memahami dan membawakan dakwah pada kalangan tertentu.
Jika kini sebagian santri yang bernasab baik dan bersanad ilmu itu jadi liberal. Naif-lah memusuhi tanpa kelayakan etika untuk didengar kalangannya.
Awal tahun 1.900-an, ada 4 murid tamatkan pelajarannya pada Kiyai Khalil di Bangkalan, Madura. Menyebrangi sela : 2 ke Jombang, 2 ke Semarang. Dua murid kiyai yang ke Jombang, 1 dibekali cincin (kakek Cak Nun), 1 lagi K.H. Romli (ayah K.H. Mustain Romli) dibekali pisang mas. Dua murid kiyai yang ke Semarang ; Hasyim Asy’ari dan Muhammad Darwis masing-masing diberi kitab untuk dingajikan kepada Kiyai Soleh Darat.
Kiyai Soleh Darat adalah ulama terkemuka, ahli nahwu, ahli tafsir, ahli falak. Bahkan keluarga besar bangsawan R.A. Kartini mengaji kepada beliau. Bahkan atas usulan Kartini-lah, Kiyai Soleh Darat menerjemahkan Al Qur’an ke dalam bahasa Jawa agar bisa dipahami. Pada Kiyai Soleh Darat, Hasyim Asy’ari dan Darwis (yang kemudian berganti nama jadi Ahmad Dahlan) belajar tekun dan rajin.
Kedua sahabat itu Hasyim Asy’ari dan Ahmad Dahlan diperintahkan Kiyai Soleh Darat segera ke Mekkah untuk melanjutkan belajar. Setiba di Mekkah, keduanya yang cerdas menjadi murid kesayangan Imam Masjidil Haram, Syaikh Ahmad Khathib Al Minangkabawi.
Tampaklah kecenderungan Hasyim yang sangat mencintai hadist, sementara Ahmad Dahlan tertarik bahasan pemikiran dan gerakan Islam. Tentu riwayat jalan berilmu mereka panjang bertahun-tahun.
Kepulangan mereka ke tanah air dan gerakan dilakukan mereka masing-masing. Hasyim Asy’ari pulang ke Jombang. Disana kakek Cak Nun menantinya penuh rindu. Kakek Cak Nun yang ‘sakti’ inilah yang menaklukan kawanan rampok dan durjana bernama Tebuireng untuk didirikan pesantren. Hasyim Asy’ari kemudian memohon agar berkenan mulai mengajar disitu. Beliau membuka pengajian “Shahih Al Bukhari” disana yang akhirnya jadi julukan “Kitab Kuning”.
Pahamlah kita, satu-satunya orang yang bisa bujuk Gus Dur keluar istana saat impeachment (permintaan mundur – akibat keterpurukan ekonomi dibawah batas standar), ya hanya dari Cak Nun. Ini soal nasab antar keduanya yang kakek mereka dekat.
Saat disuruh mundur orang lain, Gus Dur biasanya menjawab, “Saya kok disuruh mundur, maju aja susah harus dituntun.” Tapi Cak Nun tidak menyuruhnya mundur. Kata beliau, “Gus, koen wis wayahe munggah pangkat! Sudah saatnya naik jabatan!”
Kembali ke Hadratusy Syaikh Hasyim Asy’ari. Beliaulah orang yang menjadikan pengajian hadis penting dan terhormat. Sebelum ada kajian Shahih Bukhari, umumnya pesantren Tebuireng cuma ajarkan Tarekat.
K.H. Romli Tamim yang juga di Jombang mendirikan pesantren di Rejoso, kelak jadi pusat Thariqah Al Mu’tabarah yang disegani.
Tebuireng makin maju. Santri berdatangan dari seluruh nusantara. Hubungan baik terjalin dengan Kiyai Hasbullah, Tampakberas. Putra Kiyai Hasbullah, Abdul Wahab kelak menjadi pendiri organisasi Islam terbesar yang dinisbatkannya kepada Hadrastusy Syaikh Hasyim Asy’ari: NU.
Konon selama K.H. Abdul Wahab dalam kandungan, ayahnya mengkhatamkan Al Qur’an 100 kali diperdengarkan pada si Janin.
Tebuireng juga berhubungan baik dengan K.H. Bisyri Syansuri Denanyar. Abdul Wahid Hasyim menikahi putri beliau (ibu Gusdur). K.H. Bisyri Syansuri juga beriparan dengan K.H. Abdul Wahab Hasbullah. Inilah pilar segitiga NU : Tampakberas-Tebuireng-Denanyar.
Satu waktu ada santri Hadrastusy Syaikh melapor. Dari Yogyakarta ada gerakan yang ingin memurnikan agama dan aktif beramal usaha. “Oh kuwi Mas Dahlan,” ujar Hadratusy Syaikh, “ayo podho disokong” (Itu Mas Dahlan, ayo kita dukung) ajak beliau.
K.H. Ahmad Dahlan, sang putra penghulu Keraton itu amat bersyukur. Beliau kirimkan hadiah. Hubungan kedua keluarga makin akrab. Sampai generasi ke-4, putra-putri Tebuireng yang kuliah di Jogja selalu kos di keluarga K.H. Ahmad Dahlan, Kauman. Gus Dur juga.
Sebagai bentuk dukungan pada perjuangan K.H. Ahmad Dahlan, Hadratusy Syaikh menulis kitab Munkarat Maulid Nabi wa Bida’uha. Bagi Hadratusy Syaikh itu banyak bid’ah dan mafsadatnya ketika kalangan pesantren berlebihan dalam melaksanakan Maulid.
Unik, satu-satunya Kiyai NU yang tak diperingati Haul-nya ya beliau. Ketika akhirnya gesekan makin sering terjadi antara anggota Muhammadiyah vs Kalangan pesantren, Hadratusy Syaikh turun tangan.
“Kita dengan Muhammadiyah sama. Kita Taqlid Qauli (mengambil pendapat ulama salaf). Mereka Taqlid Manhaji (mengambil metode).
Tetapi dipelopori K.H. Abdul Wahab Hasbullah, pada murid menghendaki kalangan pesantren pun terorganisasi baik. Akhirnya NU berdiri. Direstui Hadratusy Syaikh, Abdul Wahab Hasbullah dan rekan berangkat ke Mekkah menghadap raja Saudi sampaikan aspirasi Mazhab.
Kepulangan mereka disambut Hadratusy Syaikh dengan syukur sekaligus meminta untuk terus bekerjasama dengan Muhammadiyah. Atas prakarsa Hadratusy Syaikh, K.H. Mas Mansur (Muhammadiyah) dan tokoh-tokoh lain terbentuklah Majlisul Islam A’la Indunisiya (MIAI).
Sumber : Menyimak Kicau Merajut Makna, Salim A. Fillah, ProU Media
by Danu Wijaya danuw | Jan 12, 2017 | Artikel, Dakwah
Surat Yasin merupakan surat yang biasanya dibacakan masyarakat Indonesia khususnya di pulau jawa setiap malam Jumat atau ketika acara tahlilan. Surat urutan ke-36 dalam Al-Quran ini terdiri dari 83 ayat. Termasuk ke dalam kategori surat Makkiyah atau surat yang turun di Mekkah. Ayat 1–21 termasuk dalam Juz ke 21, sementara ayat 22–83 masuk ke dalam Juz ke 22.
Bagaimana Asbabun Nuzul (Sebab Turunnya) surat Yasin? Yuk kita simak berikut
Abu Na’im di dalam kitab Ad Dalail-nya telah mengetengahkan sebuah hadits yang bersumberkan dari sahabat Ibnu Abbas r.a. yang telah menceritakan, bahwa Rasulullah saw membaca surat As Sajdah, lalu beliau mengeraskan bacaannya, sehingga hal ini membuat segolongan orang-orang Quraisy merasa terganggu karenanya.
Lalu mereka bangkit hendak memukuli Rasul saw, akan tetapi tiba-tiba tangan mereka menjadi kaku menempel pada leher-leher mereka, dan tiba-tiba mereka tidak dapat melihat sama sekali.
Kemudian mereka mendatangi Nabi saw. seraya meminta kepadanya : “kami minta pertolongan kepadamu demi Allah dan demi hubungan silaturrahim kita, hai Muhammad”.
Maka Rasul saw. mendoakan mereka sehingga keadaan mereka normal kembali. Lalu turunlah firman-Nya :
“Yaa Siin. Demi Alquran yang penuh hikmah.” (Q.S. Yasin ayat 1-2)
Sampai dengan firman-Nya :
“Ataukah kamu tidak memberi peringatan kepada mereka, mereka tidak akan beriman.” (Q.S. Yasin ayat 10)
Selanjutnya sahabat Ibnu Abbas menceritakan, bahwa ternyata tidak ada seorangpun dari mereka itu yang mau beriman.
Ibnu Jarir telah mengetengahkan sebuah hadits melalui Ikrimah yang telah menceritakan, bahwa Abu Jahal telah mengatakan :
“Sungguh jika aku melihat Muhammad, aku akan hajar dia dan aku akan melakukan demikian dan demikian”.
Lalu Allah menurunkan firman-Nya :
“Sesungguhnya Kami telah memasang belenggu di leher mereka.” (Q.S. Yasin ayat 8)
Sampai pada firman-Nya :
“Sehingga mereka tidak dapat melihat.” (Q.S. Yasin 36 ayat 9)
Orang-orang mengatakan kepadanya, “inilah Muhammad”.
Akan tetapi Abu Jahal berkata : “Mana dia ? mana dia ?” sedangkan ia tidak dapat melihat.
Imam Turmudzi telah mengetengahkan sebuah hadits yang dinilainya sebagai hadits hasan, sedangkan Imam Hakim menilainya sebagai hadits sahih.
Keduanya meriwayatkan hadits ini melalui sahabat Abu Sa’id Al Khudri r.a. yang telah menceritakan, bahwa orang-orang Bani Salamah tinggal di salah satu sudut kota Madinah. Lalu mereka bermaksud untuk pindah ke tempat yang dekat dengan Masjid, maka turunlah ayat ini, yaitu firman-Nya :
“Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. “(Q.S. Yasin ayat 12)
Kemudian Nabi saw. bersabda : “Sesungguhnya jejak-jejak kalian akan dicatat, maka janganlah kalian pindah”. (H.R. Tirmidzi)
Imam Thabrani telah mengetengahkan pula hadits yang serupa bersumberkan dari sahabat Ibnu Abbas r.a.
Imam Hakim telah mengetengahkan sebuah hadits yang dinilainya sebagai hadits sahih, asalnya dari Ibnu Abbas r.a. yang telah menceritakan,
bahwa Al Ashi Ibnu Wail datang kepada Rasul saw dengan membawa tulang yang telah rapuh, lalu sesampainya di hadapan Rasulullah saw. ia meremas-remas tulang itu hingga hancur, seraya berkata, “Hai Muhammad, apakah tulang yang telah hancur ini akan dihidupka lagi kelak ?”
Rasulullah saw menjawab : “Ya, Allah pasti akan menghidupkannya kembali, kemudian Dia akan mematikanmu dan menghidupkanmu kembali, selanjutnya Dia akan memasukkanmu ke dalam neraka Jahannam”.
Kemudian turunlah ayat ini :
“Dan apakah manusia tidak memperhatikan bahwa Kami menciptakannya dari setitik air mani . . . (Q.S. Yasin 36 : 77)
Sampai akhir surat Yasin ini.
Ibnu Abi Hatim telah mengetengahkan pula hadits ini melalui jalur yang bersal dari Mujahid, Ikrimah, Urwah Ibnuz Zubair dan As Saddi.
Di dalam haditsnya ini mereka menyebutkan, bahwa orang yang membawa tulang tersebut adalah Ubay Ibnu Khalaf.
Sumber : Tafsir Jalalain Terjemah
by Danu Wijaya danuw | Jan 12, 2017 | Artikel, Kisah Sahabat
Alkisah ada seorang sahabat Nabi bernama Sya’ban RadhiallahuAnhu. Ia adalah seorang sahabat yang tidak menonjol dibandingkan sahabat-sahabat yang lain.
Ada suatu kebiasaan unik dari beliau yaitu setiap masuk masjid sebelum sholat berjamaah dimulai dia selalu beritikaf di pojok depan masjid. Dia mengambil posisi di pojok bukan karena supaya mudah bersandaran atau tidur, namun karena tidak mau mengganggu orang lain dan tak mau terganggu oleh orang lain dalam beribadah.
Kebiasaan ini sudah dipahami oleh sahabat bahkan oleh Rasulullah SAW, bahwa Sya’ban RA selalu berada di posisi tersebut termasuk saat sholat berjamaah.
Suatu pagi saat sholat subuh berjamaah akan dimulai RasululLah SAW mendapati bahwa Sya’ban RA tidak berada di posisinya seperti biasa. Nabi pun bertanya kepada jemaah yang hadir apakah ada yang melihat Sya’ban RA.
Namun tak seorangpun jamaah yang melihat Sya’ban RA. Sholat subuh pun ditunda sejenak untuk menunggu kehadiran Sya’ban RA. Namun yang ditunggu belum juga datang. Khawatir sholat subuh kesiangan, Nabi memutuskan untuk segera melaksanakan sholat subuh berjamaah.
Selesai sholat subuh, Nabi bertanya apa ada yang mengetahui kabar dari Sya’ban RA. Namun tak ada seorang pun yang menjawab.
Nabi bertanya lagi apa ada yang mengetahui di mana rumah Sya’ban RA.
Kali ini seorang sahabat mengangkat tangan dan mengatakan bahwa dia mengetahui persis di mana rumah Sya’ban RA.
Nabi yang khawatir terjadi sesuatu dengan Sya’ban RA meminta diantarkan ke rumahnya.
Perjalanan Jauh ke Rumah Sya’ban RA
Perjalanan dengan jalan kaki cukup lama ditempuh oleh Nabi dan rombongan sebelum sampai ke rumah yang dimaksud.
Rombongan Nabi sampai ke sana saat waktu afdol untuk sholat dhuha (kira-kira 3 jam perjalanan).
Sampai di depan rumah tersebut Nabi mengucapkan salam. Dan keluarlah seorang wanita sambil membalas salam tersebut.
“Benarkah ini rumah Sya’ban?” Nabi bertanya.
“Ya benar, saya istrinya” jawab wanita tersebut.
“Bolehkah kami menemui Sya’ban, yang tadi tidak hadir saat sholat subuh di masjid?
Dengan berlinangan air mata istri Sya’ban RA menjawab:
“Beliau telah meninggal tadi pagi…”
InnaliLahi wainna ilaihirojiun… Maa sya Allah, satu-satunya penyebab dia tidak sholat subuh berjamaah adalah karena ajal sudah menjemputnya.
Beberapa saat kemudian istri Sya’ban bertanya kepada Rasul
“ Ya Rasul ada sesuatu yang jadi tanda tanya bagi kami semua, yaitu menjelang kematiannya dia berteriak tiga kali dengan masing-masing teriakan disertai satu kalimat.
Kami semua tidak paham apa maksudnya.”
“Apa saja kalimat yang diucapkannya?” tanya Rasul.
Di masing-masing teriakannya dia berucap kalimat:
“ Aduuuh kenapa tidak lebih jauh……”
“ Aduuuh kenapa tidak yang baru……. “
“ Aduuuh kenapa tidak semua……”
Penglihatan Sya’ban Ketika Sakaratul Maut
Nabi pun melantukan ayat yang terdapat dalam surat Qaaf (50) ayat 22 :
“Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami singkapkan dari padamu hijab (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam.“
Saat Sya’ban dalam keadaan sakratul maut, perjalanan hidupnya ditayangkan ulang oleh Allah.
Bukan cuma itu, semua ganjaran dari perbuatannya diperlihatkan oleh Allah.
Apa yang dilihat oleh Sya’ban (dan orang yang sakratul maut) tidak bisa disaksikan oleh yang lain.
Dalam pandangannya yang tajam itu Sya’ban melihat suatu adegan di mana kesehariannya dia pergi pulang ke masjid untuk sholat berjamaah lima waktu. Perjalanan sekitar 3 jam jalan kaki sudah tentu bukanlah jarak yang dekat.
Dalam tayangan itu pula Sya’ban RA diperlihatkan pahala yang diperolehnya dari langkah-langkah nya ke Masjid. Dia melihat seperti apa bentuk surga ganjarannya.
Saat melihat itu dia berucap: “ Aduuuh kenapa tidak lebih jauh……”
Timbul penyesalan dalam diri Sya’ban , mengapa rumahnya tidak lebih jauh lagi supaya pahala yang didapatkan lebih banyak dan surga yang didapatkan lebih indah.
Dalam penggalan berikutnya Sya’ban melihat saat ia akan berangkat sholat berjamaah di musim dingin. Saat ia membuka pintu berhembuslah angin dingin yang menusuk tulang.
Dia masuk kembali ke rumahnya dan mengambil satu baju lagi untuk dipakainya. Jadi dia memakai dua buah baju.
Sya’ban sengaja memakai pakaian yang bagus (baru) di dalam dan yang jelek (butut) di luar.
Pikirnya jika kena debu, sudah tentu yang kena hanyalah baju yang luar. Sampai di masjid dia bisa membuka baju luar dan solat dengan baju yang lebih bagus.
Dalam perjalanan ke masjid dia menemukan seseorang yang terbaring kedinginan dalam kondisi mengenaskan.
Sya’ban pun iba, lalu segera membuka baju yang paling luar dan dipakaikan kepada orang tersebut dan memapahnya untuk bersama-sama ke masjid melakukan sholat berjamaah.
Orang itupun terselamatkan dari mati kedinginan dan bahkan sempat melakukan sholat berjamaah.
Sya’ban pun kemudian melihat indahnya sorga yang sebagai balasan memakaikan baju bututnya kepada orang tersebut.
Kemudian dia berteriak lagi: “ Aduuuh kenapa tidak yang baru…“
Timbul lagi penyesalan di benak Sya’ban. Jika dengan baju butut saja bisa mengantarkannya mendapat pahala yang begitu besar, sudah tentu ia akan mendapat yang lebih besar lagi seandainya ia memakaikan baju yang baru.
Berikutnya Sya’ban melihat lagi suatu adegan saat dia hendak sarapan dengan roti yang dimakan dengan cara mencelupkan dulu ke segelas susu.
Ketika baru saja hendak memulai sarapan, muncullah pengemis di depan pintu yang meminta diberi sedikit roti karena sudah lebih 3 hari perutnya tidak diisi makanan.
Melihat hal tersebut. Sya’ban merasa iba. Ia kemudian membagi dua roti itu sama besar, demikian pula segelas susu itu pun dibagi dua.
Kemudian mereka makan bersama-sama roti itu yang sebelumnya dicelupkan susu, dengan porsi yang sama.
Allah kemudian memperlihatkan ganjaran dari perbuatan Sya’ban RA dengan surga yang indah.
Demi melihat itu diapun berteriak lagi: “ Aduuuh kenapa tidak semua……”
Sya’ban kembali menyesal . Seandainya dia memberikan semua roti itu kepada pengemis tersebut tentulah dia akan mendapat surga yg lebih indah.
Masya Allah, Sya’ban bukan menyesali perbuatannya, tapi menyesali mengapa tidak optimal.
Sesungguhnya semua kita nanti pada saat sakratul maut akan menyesal tentu dengan kadar yang berbeda, bahkan ada yang meminta untuk ditunda matinya karena pada saat itu barulah terlihat dengan jelas konsekwensi dari semua perbuatannya di dunia.
Mereka meminta untuk ditunda sesaat karena ingin bersedekah. Namun kematian akan datang pada waktunya, tidak dapat dimajukan dan tidak dapat dimundurkan.