0878 8077 4762 [email protected]

Inilah sosok Imam Shalat Jum'at Kubro 212

Ternyata sosok imam shalat jum’at yang bersuarakan khas orang Arab ini adalah K.H. Nasir Zein, MA, pimpinan pondok pesantren Rafah di Bogor. Shalat jum’at ini dibarengi dengan doa qunut nazilah yang panjang dan lengkap. Membuat banyak jamaah terisak tangis memohon doa kepada Rabb.
K.H. Nasir Zein, MA lahir di Kuningan, Jakarta pada tanggal 31 Desember 1958. Putra kelima dari pasangan H. Muhammad Zein Yusuf dan Almh. Hj. Sami’ah binti Muhammad Alwi. I. Riwayat pendidikan dimulai dari Ibtidaiyyah RPI dan SD Kuningan I, Jakarta dan tamat pada tahun 1971.
Sebelum masuk pesantren Gontor, sempat masuk pesantren Walisongo, Ngabar Ponorogo. Menamatkan pendidikan di Gontor pada tahun 1977. Selesai di Gontor, beliau bertolak ke Kairo, Mesir. Kemudian beliau pindah ke Madinah dan menyelesaikan pendidikan S1 dan S2 dari jurusan Linguistik Bahasa Arab pada tahun 1978-1986. II.
Pengalaman organisasi beliau diantaranya : OPPM Organisasi Pelajar Pondok Modern Darussalam Gontor 1976-1977,  Wakil Ketua Forum Ukhuwah Pondok Pesantren Alumni Pondok Modern Darussalam Gontor (sekarang) III.
Pengalaman beliau ke luar negeri, sempat belajar di Kairo Mesir selama 10 bulan. Kemudian beliau belajar di Madinah selama 8 tahun untuk S-1 dan S-2. Selain itu beliau pernah mengambil Muktamar Internasional pengajaran bahasa Arab di Brunei Darussalam tahun 1992. Dan seminar pengajaran bahasa Arab di University of Malaya, Kuala Lumpur, Malaysia tahun 1994.
Pondok pesantren Rafah yang beliau asuh terletak di Mekarsari, Ranca Bungur, Bogor, Jawa Barat. Program tahfidz ponpes Rafah ini adalah minimal 2 juz dalam setahunnya untuk setiap santri. Baik di tingkat SM IT, SMP IT, SMA IT, dan Lembaga Khidmah untuk masyarakat sekitar. Biasanya tercetak banyak hafidz qur’an begitu lulus dari sini.
Pondok Pesantren Rafah telah meluluskan banyak santri yang tersebar dalam beberapa Perguruan Tinggi, di antaranya mendapat beasiswa BUD di IPB, beasiswa BUD di IAIN Sunan Ampel, LIPIA, TAZKIA, Sekolah Tinggi Penerbangan, Universitas Muhammadiyah Jakarta, UIN Syarif Hidatullah Jakarta, Universitas Gunadarma, Universitas Indonesia, Universitas Gajah Mada, Universitas Negeri Jakarta, STT PLN, STEI SEBI dan lain-lain. Serta beberapa yang melanjutkan ke luar negeri, seperti IIUI Pakistan, Jami’ah Al-Azhar Mesir, dan Libya.
Tenaga Pengajar Tenaga pengajar di Pondok Pesantren Rafah datang dari lulusan berbagai Universitas di dalam dan luar Negeri, di antaranya : S-2 Madinah, S-2 Pakistan, UNPAD , UPI Bandung, UI Jakarta , IPB, ISID Gontor, LIPIA, ANDALAS Padang, IKIP Semarang, dan Pondok Tahfidzul Qur’an : Qudus, Demak dan Bogor.
Pondok Pesantren Rafah Bogor cukup terkenal. Sebab peletakan batu pertama saja dilakukan oleh para ulama dan habaib baik dari Jakarta maupun Bogor, di antaranya adalah KH. Abdurrasyid Abdullah Syafi’i, KH. Abdurrahman Nawi, KH. Zainal Abidin Pagentongan, KH. DR. Didin Hafidhuddin, Al Habib Husein bin Ali Al Athoos, Al Habib Ali bin Abdurrahman Assegaf dan Ketua Majelis Ulama Kab. Bogor KH. Sanusi Azhari dan para ulama lainnya. Serta dihadiri oleh lebih kurang 1.000 orang.
 
 

Catatan Kecil Pengalaman 212

Begitu ustadz Arifin Ilham naik ke panggung, beliau membuka dengan kalimat Allah, Allah, Allah. Beliau lanjutkan dengan dzikir dan doa yang menyentuh. Hampir semua menangis sesenggukkan. Mendoakan negeri, mendoakan bangsa, mendoakan pemimpin. Mohon ampun pada Yang Maha Kuasa. Inget dosa.
Kemudian ustadz Hidayat Nur Wahid berbicara tentang nasionalisme dalam Islam. Banyak yang manggut-manggut. Lanjut syekh Ali Jaber baca 12 surat pertama Al Kahfi dengan merdu. Adem hati mendengarnya.
Kemudian Habib Abdurrahman As-Segaf dari Nurul Musthofa. Baca Allahumafhamna bil Qur’an. Terisak hati. Betapa jauh hati ini dari Al Qur’an ya Allah. Faghfirli ya Rabb.
Ini nih gongnya. Ustadz Bachtiar Nasir. Membahana orasi beliau. Imam booster, pemantik ghirah dalam dada yang kian menyala. Masya Allah, izinkan aku selalu menjadi makmum mu ustadz.
Lalu Aa Gym, seperti biasa. Beliau menyejukkan dan lucu. Menggoda bapak kapolri, mengajak kami berkhayal keislaman yang baik. Bagaimana jika nabi Muhammad saw hadir disini? Nangis lagi.
Tak terlewatkan bapak Kapolri Tito dam Presiden jokowi ikut memberi sambutan kepada peserta aksi dari atas panggung.
Percaya atau enggak, kira-kira setiap setengah jam malaikat ngasih gerimis kecil. Kurang lebih 5 menit. Setelah itu sejuk lagi. Awan menggantung seakan memayungi kami, angin sepoi-sepoi. Kalau pas haji/umroh ada petugas menyemprotkan air biar jamaah gak kepanasan. Di monas Allah tugaskan malaikat langsung.
Menjelang shalat jum’at, hujan mulai besar. Seorang yang diatas panggung bilang : Allah kirimkan hujan agar bapak ibu tak repot antri wudhu. Maka banyak yang wudhu dengan air hujan. Dan hujan gak berhenti sampai shalat jum’at selesai. Baru kali ini seumur-umur shalat sambil diguyur hujan. Indah luar biasa. Gak pernah nemuin sensasi sedamai ini. Nikmat mana lagi yang engkau dustakan?
Saat hujan adalah mustajab doa. Hari jum’at adalah mustajab berdoa. Energi jutaan orang pada saat hujan di hari jum’at. Imagine that, so powerful!
Pulang jalan kaki dari Monas padet. Katanya persis seperti hari Arafah. Atau keluar masjidil haram saat peak season. Bedanya saudara-saudara setanah air ini sabar. Gak dorong-dorongan. Ukuran badannya relatif kecil.
Tiap mau ngeluh capek inget saudara-saudara dari ciamis. Gak jadi deh. Makanan melimpah ruah sepanjang jalan. Allah kasih melalui donatur yang begitu banyak. Segala puji bagimu ya Allah.
Yang kumpulin sampah gak berhenti berkeliling. Begitupun para dokter. Keliling memastikan kalau kami baik-baik saja. Hebatnya mereka para anak muda dengan wajah yang amat ceria. Bangga sekali dengan mereka semua. Makin optimis dengan kaum muslimin Indonesia. Gak nyangka wanita karir mau mungutin sampah.
Demikian catatan kecilku. Karena 411 gak bisa ikut dan nyesel. Hanya mau berbagi kebahagiaan dengan indahnya berkumpul dengan jutaan saudara sebangsa setanah air. Sambil mendoakan negeri ini dan memohon ampunan atas segala salah yang kami perbuat.
Alhamdulillah. One of my best day. Selama menumpang hidup dibumi Allah. Allahu Akbar!

Al Maidah (Hidangan) dalam Aksi Bela Islam 3

Tahukah anda bahwa al maidah artinya hidangan atau jamuan. Begitu ringan peserta aksi memberi dan berbagi makanan mulai dari nasi ayam, rendang, nasi kotak, buah-buahan, kurma, minuman, dan logistik lainnya termasuk pedagang yang mengikhlaskan jajanan ketoprak, bakpau, roti dan sebagainya agar dapat terlibat dan memperoleh pahala kebaikan.
Firman Allah ta’ala, “Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat.” (Q.S. Al Baqarah ayat 265)
Dalam al Maidah maksud hidangan ini yaitu salah satu dari anugerah Allah yang diberikan kepada hamba dan rasul-Nya, yaitu Isa as ketika Allah  memperkenankan doanya yang memohon agar diturunkan hidangan dari langit. Maka Allah Swt. menurunkannya sebagai mukjizat yang cemerlang dan hujjah yang nyata. Kisah ini menceritakan pengikut-pengikut setia nabi Isa as yang meminta kepada nabi Isa as agar Allah swt menurunkan untuk mereka al Maidah (hidangan makanan) dari langit.
Maka dalam aksi bela islam 3 ini, seperti mukjizat begitu melimpah ruah makanan dan minuman yang dibagikan kepada peserta aksi dari berbagai daerah. Ada juga kisah seorang pedagang yang mengikhlaskan dagangannya kemudian mendapat uang 1 juta dari seorang tak dikenal dan ditinggal pergi begitu saja.
Kembali konteks tafsir, sebagian para imam ada yang menyebutkan bahwa kisah hidangan ini tidak disebutkan di dalam kitab Injil, dan orang-orang Nasrani tidak mengetahuinya kecuali melalui kaum muslim. Surat al maidah merupakan surat yang kelima di dalam Al Qur’an yang terdiri 120 ayat dan termasuk golongan surat madaniyah karena surat Al Maidah di turunkan di kota madinah.

Bagai Di Mekkah, Adzan Kapolres Cirebon di 212

Tak banyak yang tahu tentang siapa sosok muadzin pada shalat Jumat berjamaah di lapangan Monas pada aksi Bela Islam 3. Sebagian besar massa hanya mendengar suara adzan tanpa melihat sosok yang mengumandangkannya.
Massa aksi barangkali tidak akan menyangka orang yang mengumandangkan adzan saat itu adalah seorang perwira kepolisian.
Laki-laki tersebut adalah Kapolres Cirebon Kota, AKBP Indra Jafar yang didaulat oleh panitia Aksi Bela Islam 3 sebagai muadzin shalat Jumat dengan jamaah terbanyak di indonesia yang digelar di lapangan Monas, kemarin.
“Suatu kehormatan bisa berdiri ditengah-tengah jutaan saudara muslim, dan berkesempatan untuk adzan,” ujar AKBP Indra seperti dituturkan Karo Penmas Mabes Polri Kombes Rikwanto, Sabtu (3/12).
Keterlibatan Indra hingga ditunjuk menjadi muadzin dalam pelaksanaan salat jumat akbar di lapangan monas tidak lepas dari peran sahabatnya yakni Ustaz Arifin Ilham yang mendapuknya untuk menjadi muadzin.
“Sebelumnya saya memang kenal dan dekat dengan beberapa ulama, ketika diminta saya langsung mengiyakan,” imbuhnya.
Menurutnya, beberapa saat sebelum melaksanakan tugas sebagai muadzin, Kapolri Jenderal M Tito Karnavian tiba-tiba memanggilnya, saat itu orang nomor 1 di Korps Bhayangkara tersebut memberikannya ucapan selamat karena dipercaya untuk menjadi muadzin dalam pelaksanaan shalat jumat. Kapolri juga memintanya supaya maksimal menjalankan tugas.
“Sempat ketemu dengan Kapolri, beliau saat itu sedikit kaget, nggak nyangka ada kapolres yang jadi muadzin, tapi beliau bangga, memang harus seperti, setiap pimpinan harus bisa jadi contoh dan mencontohkan, tidak hanya memerintah,” tuturnya.
Sebenernya bagi masyarakat Kota Cirebon, Indra Jafar bukanlah sosok asing, meskipun baru enam bulan berdinas di Polres Cirebon kota, tapi penggalan dan pembinaan yang dilakukan begitu mendalam.
Hampir setiap jumat dia berkeliling dari masjid ke masjid menyampaikan program kepolisian, bahkan tak jarang Indra didaulat menjadi muadzin di masjid yang ia datangi.
“Islam agama yang mengajarkan kelembutan, menebar kedamaian untuk makhluk seluruh alam, ini yang harus benar-benar kita jaga,” paparnya.
Link Adzan di youtube : Adzan Kapolres Cirebon

Nikmat Iman Mendukung Aksi Bela Islam 212

Syaikhul Islam Ibnu Taimiah rahimahullah berkata, “Nikmat Allah yang paling besar terhadap hamba-Nya adalah nikmat iman. Dia adalah ucapan dan perbuatan, bertambah dan berkurang, bertambah dengan taat dan kebaikan, berkurang dengan kefasikan dan kemaksiatan. Setiap kali bertambah amal seseorang, bertambah pula keimanannya. Inilah iman yang hakiki yang disebutkan dalam firman Allah Ta’ala,

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّين

Tunjukilah kami jalan yang lurus. (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (QS. Al-Fatihah : 6-7)

Kemudian dalam firman Allah swt, “Barangsiapa dikehendaki Allah akan mendapat hidayah (petunjuk), Dia akan membukakan dadanya untuk (menerima) Islam. Dan barangsiapa dikehendaki-Nya menjadi sesat, Dia jadikan dadanya sempit dan sesak, seakan-akan dia (sedang) mendaki ke langit. Demikianlah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.” [Q.S. Al-An’aam: 125]
Orang yang tidak mendapat hidayah akan senantiasa berada dalam kegelapan dan kerugian.
Maka apakah orang-orang yang dibukakan hatinya oleh Allah untuk (menerima) agama Islam lalu dia mendapat cahaya dari Rabb-nya (sama dengan orang yang hatinya membatu)? Maka celakalah mereka yang hatinya telah membatu untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata.” [Q.S. Az-Zumar: 22]
Allah Azza wa Jalla menunjuki hamba-Nya dari kegelapan menuju cahaya yang terang benderang. Untuk itu, kewajiban kita adalah mengikuti, meneladani dan mentaati Rasulullah saw dan para ulama dalam segala perilaku kehidupan kita, jika kita menginginkan hidup di bawah cahaya Islam.
Allah Azza wa Jalla berfirman:

لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِّنْ أَنفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا مِن قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ

Sungguh, Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika (Allah) mengutus seorang Rasul (Muhammad) di tengah-tengah mereka dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, mensucikan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab (Al-Qur-an) dan Hikmah (As-Sunnah), meskipun sebelumnya, mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” [Q.S. Ali ‘Imran: 164]
Seorang muslim akan senantiasa bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah memberinya petunjuk ke dalam Islam dan mengikuti ajaran Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku.” [Q.S. Al-Baqarah: 152]
Kita dan anak-anak kita akan tetap dan senantiasa ditambahkan ilmu, hidayah dan istiqamah di atas ketaatan jika kita beserta keluarga menuntut ilmu syar’i. Hal ini tidak boleh diabaikan dan tidak boleh dianggap remeh.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“…Barangsiapa yang menempuh suatu jalan dalam rangka menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan dirinya dengannya jalan menuju Surga.” (HR. Muslim no. 2699)

Kisah Pelayanan Ummu Sulaim

Ummu Sulaim, wanita ini dipinang Abu Thalhah. “Engkau lelaki yang sulit ditolak, hanya saja aku ini muslimah. Andai kau tinggalkan berhala dan menjadi muslim, maka cukuplah Islammu jadi maharku. Tak kuminta selain itu.”
Suatu ketika Ummu Sulaim menyerahkan putranya, Anas bin Malik untuk berkhidmat pada Nabi demi beroleh ilmu, tertular akhlak dan terlimpahi berkah. Namun putra kesayangannya sakit keras, padahal Abu Thalhah si suami hendak pergi. Wanita itu melepas Abu Thalhah, menenangkan untuk bertawakal pasrahkan pada Allah. Saat sang suami telah pergi, anak itu meninggal.
Ummu Sulaim meminta para pelayan tak bicara, mereka disuruh bersihkan dan hiasi rumah. Dia sendiri yang akan menyampaikan kepada suaminya. Dimandikanlah sang anak lalu dibaringkan dan diselimuti dikamar seakan tidur lelap. Wanita ini lalu memasak istimewa dan berdandan cantik.
Ketika suaminya pulang, disambutlah mesra. Lelaki tua itu bertanya, “Bagaimana anak kita?” Ummu Sulaim senyum dan jawab, “Sudah lebih tenang.”
Sang suami percaya setelah menengok kamar putranya. Lalu di makan dengan lahap dilayani istrinya, bahkan lalu pengantinan. Setelah puas, berbaring mereka diranjang.
Ummu Sulaim bertanya pada sang suami, “Apa pendapatmu jika seseorang menitipkan suatu barang pada kawannya. Bolehkah yang dititipi menolak mengembalikan saat si penitip memintanya?”
Si suami tersenyum, “Tentu tidak boleh begini.”
Ummu Sulaim, “Ketahuilah Allah yang menitipkan anak pada kita, dan Dia kini mengambilnya kembali. Sabarlah duhai Abu Thalhah.”
“Apa?!” seru sang suami tersentak. Dia lalu tergugu, “Sesudah sambutan mesra, makanan lezat dan kepuasan ini kamu baru bicara?!”
Keesokan paginya seusai memakamkan jenazah, Abu Thalhah mengadukan halnya pada Rasulullah. Beliau tersenyum dan menepuk bahunya.
“Pengantinkah semalam?” tanya beliau. Abi Thalhah mengangguk malu. “Semoga Allah berkahi malam kalian berdua dalam karunia.”
Dari malam itu Ummu Sulaim hamil. Lalu lahirlah Abdullah bin Abi Thalhah. Darinya tujuh cucu yang hafizh Qur’an dan fakih sejak belia. Itulah keberkahan wanita shalihah lagi mukminah yang ahli ibadah, yang pandai menjaga amanah atas rumah tangga suami dan aturan Allah.
 
Sumber :
Menyimak Kicau Merajut Makna, Salim A. Fillah, ProU Media