by Fauzi Bahreisy fauzibahreisy | Sep 13, 2016 | Artikel, Dakwah
Apa yang membuat lbrahim as berani menghancurkan berhala sesembahan kaumnya?
Apa yang membuat lbrahim as rela membawa keluarganya ke tanah tandus?
Apa yang membuat lbrahim as mau menyembelih putranya?
Tidak lain adalah kesetiaan dan loyalitasnya kepada Allah semata.
Itulah profil muslim sejati.
Seorang muslim siap memberi, membela, mencinta, dan memilih sesuai dengan kehendak Allah; bukan sesuai dengan kehendak dan hawa nafsunya.
Muslim mencintai apa yg dicintai oleh Allah dan membenci apa yang dibenci oleh Allah.
Muslim tidak mungkin memilih dan mencintai apa yang dibenci oleh Allah, apalagi membela orang yang jelas-jelas menjadi musuh-Nya.
Iman adalah cinta dan kesetiaan yang melahirkan pembelaan dan pengorbanan.
by Adi Setiawan Lc. MEI Adi Setiawan | Sep 12, 2016 | Artikel, Dakwah
Oleh : Adi Setiawan, Lc., MEI. (Imam dan Khatib Sholat Idul Adha 1437H) di Lapangan Sekolah Tinggi Perikanan Pasar Minggu Jaksel
Nabi Ibrahim AS dikenal sebagai abul anbiya’ (bapak para nabi). Dua puteranya Ismail dan Ishaq AS juga diangkat sebagai nabi. Nasab (garis keturunan) nabi Muhammad SAW sampai kepada nabi Ismail AS. Nabi Yusuf AS dan ayahnya nabi Ya’qub AS juga merupakan keturunan nabi Ishaq AS.
Gelar ini disandang bukan hanya karena anak keturunannya banyak yang diangkat sebagai nabi, melainkan nabi Ibrahim AS juga rajin mendoakan kebaikan bagi anak keturunannya tersebut. Ia berdoa untuk ketentraman kehidupan keturunannya di kota Mekkah yang saat itu masih padang pasir nan gersang. Ia panjatkan untuk keberkahan rezeki dari jenis buah-buahan bagi penduduknya.
Setelah meninggikan bangunan Ka’bah, ia berharap setiap jengkal kebaikan yang ia lakukan dengan puteranya Ismail Allah SWT terima. Dengan syahdu ia mohonkan agar anak keturunannya, Allah SWT bimbing sehingga mereka menjadi umat yang senantiasa mengenal-Nya dan hanya berserah diri kepada-Nya. Ia terus-menerus berdoa dan berdoa.
Untaian doa spesifik nabi Ibrahim AS kepada Allah SWT agar disempurnakan nikmat bagi keluarganya, ditambahkan rahmat bagi keturunannya. Kemudian ia perjelas isi doanya agar Allah SWT mengirim utusan dari golongan mereka sendiri, yang profesional siap menyampaikan manhaj langit dalam rangka mencegah kehancuran bumi karena kemaksiatan yang menyebar, kekafiran yang meningkat dan penyembahan berhala oleh berbagai etnis manusia.
Sebagai seorang ayah, nabi Ibrahim AS ingin anak keturunannya mempunyai misi yang jelas di muka bumi. Ia berdoa agar ada di antara :
- Keturunannya yang bertugas yatlu alaihim ayaatik : berarti senantiasa membacakan alquran kepada kaumnya.
- Kemudian wa yu’allimuhum al-kitab wa al-kitab : berarti mengajarkan kandungan alquran sekaligus hadits yang keduanya bersumber dari Allah SWT sendiri.
- Dan yuzakkihim : berarti menyucikan mereka, dalam artian memimpin kaumnya menuju jalan kebenaran dan kesempurnaan iman.
Dan doa yang sangat spesifik ini terkabul di saat Allah SWT mengangkat Muhammad sebagai nabi dan rasul dari keturunan nabi Ibrahim AS setelah beberapa generasi terlewati.
Lebih lanjut doa agar diutus utusan dari semua garis keturunannya, menunjukkan bijaksananya pikiran seorang nabi Ibrahim AS. Ia ingin nabi dan rasul yang Allah SWT utus adalah dari golongan keturunannya masing-masing. Dan ini merupakan penolakan terhadap umat Yahudi yang selalu menginginkan setiap nabi itu hanya dari golongan mereka.
Di saat mereka merasa lebih utama dari umat lain. Padahal mereka adalah keturunan nabi Ya’qub bin Ishaq AS. Sedangkan nabi Muhammad SAW sendiri adalah keturunan nabi Ismail bin Ibrahim AS yang tentunya merupakan saudara nabi Ishaq AS.
Dalam rangkaian doa nabi Ibrahim AS selalu terpancar optimisme yang diiringi dengan rasa tawakkal. Ia memuji Allah SWT, innaka anta al-Aziz al-Hakim, yang Maha Perkasa yang tentu tidak ada menandingi kekuasaan-Nya. Yang Maha Bijaksana, menentukan segala sesuatu dengan penuh hikmah.
Tak ada yang tercipta kecuali adalah kuasa Allah SWT atasnya. Tidak ada peristiwa yang terjadi kecuali termaktub dalam hukum-Nya. Nabi Ibrahim AS mengajarkan ini semua kepada keturunannya.
Belajar dari sosok abul anbiya’ ini yang terus berdoa kepada Allah SWT demi kebaikan keturunannya, demi kemaslahatan umat manusia. Di saat senang atau pun duka terus berdoa terbayang kekuasaan Allah SWT atas alam semesta. Meminta dengan jelas, apa yang sedang terbetik di dalam hati, terpikir oleh akal, dan terucap oleh lisan.
Optimisme akan terkabulnya doa. Dan terakhir dihiasi dengan tawakkal, menyerahkan keputusan kepada-Nya. Tanpa banyak menduga-duga bahkan cenderung suudzon (berburuk sangka). Yang ada hanyalah bekarya, berdoa dan tawakkal kepada Allah SWT Sang Pencipta.
Waallahu A’lam.
by Danu Wijaya danuw | Sep 11, 2016 | Artikel, Dakwah
Suatu hari Rasulullah sedang bersama sahabat. Sejenak beliau terlihat dengan wajah khawatir, tapi tak lama kemudian tertawa kecil. Para sahabat yang heran kemudian bertanya, “Ya Rasulullah, apakah kiranya sehingga engkau tampak khawatir, tetapi kemudian tertawa?”
Telah diperlihatkan padaku, ujar beliau sembari tersenyum. Dua orang dari kalangan umatku yang bersengketa dihadapan Allah. Satu diantara mereka berkata, “Ya Rabbi, tegakkan keadilan diantara kami. Dulu di dunia saudaraku ini berlaku zalim dan keji!”
Si tergugat tertunduk malu, menangis sesal dan takut. Maka Allah pun memanggil sang penuntut dengan lembut dan berfirman kepadanya. “Wahai hamba-Ku, angkatlah kepalamu!”
Maka sang penggugat menengadah dan melihat sebuah istana yang begitu indahnya. Dia terpesona. Istana itu terbuat dari permata dan marjan, dibingkai oleh emas, dihiasi mutiara.
Maka dengan takjub ternganga, hamba itu bertanya, “Duh Rabbi, bagi nabi siapakah istana ini? Atau milik orang shiddiq yang mana? Atau kepunyaan pahlawan syahid zaman apa pula?”
Maka Allah berfirman, “Istana ini akan menjadi milik siapapun yang mampu membayarnya. Jika kau memaafkan saudaramu itu, niscaya istana ini kan jadi milikmu.”
Maka berteriaklah hamba itu tergembira, “Demi kemuliaan dan keagungan-Mu, Ya Rabbi. Sungguh kini aku telah memaafkan saudaraku ini!”
Iniliah sebagaimana firman Allah, “Dan Kami lenyapkan dari dalam dada mereka segala rasa dendam; sedang mereka merasa bersaudara, duduk berhadapan diatas dipan-dipan.” (Q.S. Al Hijr : 47). Terkutip dari Syahr Shahih Muslim karya Imam An-Nawawi.
Semoga kisah ini menginspirasi Shalihin-Shalihat sekalian untuk saling memaafkan.
Sumber :
Menyimak Kicau Merajut Makna, Salim A. Fillah, ProU Media
by Danu Wijaya danuw | Sep 10, 2016 | Artikel, Dakwah
Mari kagum sejenak pada Sultan Iskandar Muda Meukuta Perkasa Alam dari Kerajaan Aceh kala itu (1607-1636). Atas ungkapan terkenalnya tentang hukum.
Hadih Maja, ” Mate aneuk meupat jirat, reule adat hana pat ta mita!”, Mati anak ada kuburnya. Rusak hukum tiada gantinya!
Kalimat yang jadi peribahasa ini diucapkan Sang Sultan kala menghukum rajam Meurah Pupok, putra tercintanya yang berzina.
Sebuah ungkapan yang menyentuh karena diucapkan dengan menahan air mata dan sesak di dada sebagai seorang ayah penuh cinta.
Hingga hari ini kita mengenang Iskandar Muda sebagai sosok pemimpin yang jaya semasa itu. Merindu hukum yang adil tegak, penguasa tegas bertindak, walau pada para tercinta.
Sumber :
Menyimak Kicau Merajut Makna, Salim A. Fillah, Pro-U Media
by Danu Wijaya danuw | Sep 10, 2016 | Artikel, Dakwah
Menurut Adz Dzahabi, orang berilmu menjaga lisannya karena Allah. Jika takjub pada bicaranya, dia diam. Walau terlanjur dianggap berilmu jangan malu mengatakan “Aku tak tahu!”, dengan begitu Allah yang akan menjadi Gurumu.
Jagalah ilmu dengan amal. Jagalah amal dengan ikhlas. Jagalah ikhlas dengan istiqamah. Jagalah istiqamah dengan ihsan. Kesalahan para MUDA; mengira kecerdasan penentu pengalaman. Kesalahan para TUA; mengira pengalaman penentu kecerdasan.
Ucapan Imam Syafi’i untuk renungan, “Aku sangat ingin agar manusia memahami ilmu ini, dan tak menyandarkannya padaku sedikitpun.”
Bukan ilmu sejati, jika membuatmu merasa lebih tinggi. Bukan pemahaman hakiki, jika membuatmu enggan belajar lagi.
Tingginya jalan cita-cita, menyempitkan waktu sanatimu. Dalamnya ilmu, meluaskan jalan baktimu. Ketika ilmu diperbincangkan lebih banyak daripada yang diasup seharian. Hampa dan ngilu pasti hadir menyesakkan kerongkongan.
Tabiat ilmu berlelah-lelah. Sebab ia jalan tuk naik ke ketinggian. Pendakiannya terjal, udaranya menipis, dan payah peluh menghiasi.
Sumber :
Menyimak Kicau Merajut Makna, Salim A. Fillah, Pro U Media
by Danu Wijaya danuw | Sep 9, 2016 | Artikel, Dakwah
Al Ghazali menyebut keengganan Muslim berpolitik menyebabkan beberapa pemimpin dari non Muslim. Politik menyentuh sisi terluas kehidupan komunal, insan berilmu jangan sampai rabun tak sadar digunakan orang lain untuk kejahatan. Sebab kuasa politik jahat akan menebar kerusakan dimuka bumi.
Kesadaran politik (Political Awareness) harus tercapai tahap demi tahap dengan tujuan kuasa keshalihan yang melayani. Kita bisa melihat contoh Hijrah muslim dulu ke Habasyah. Mengapa yang berhijrah justru para bangsawan seperti Ja’far, Ustman dan lainnya. Bukan bilal dan sekawan dengannya yang tertindas? Sebab ada tujuan politik kaum muslim kala itu.
- Pertama, mengguncang kuasa tribalistik Quraisy. Makkah termenung saat warga terhormatnya pergi.
- Kedua, mengeksiskan muhajirin. Andai yang pergi para budak, duta besar quraisy akan mudah mendeportasi mereka dengan alasan lari.
- Ketiga, menyiarkan kehadiran Islam pada dunia. Habasyah sebagai subordinat Romawi yang istimewa itu, menjadi isu yang menyebar di seluruh kekaisaran.
- Keempat, Raja Habasyah bernama Najasyi dikenal adil dan uskup-uskupnya berpengaruh. Interaksi muhajirin dengan mereka adalah pembelajaran berharga.
Demikianlah ujar Al Ghadban, tiap langkah dakwah Nabi menunjukkan mendalamnya political awareness beliau, analisa maupun tindakan. Politik mulia asal akhlak dijaga. Terobosan besar seperti cita-cita khilafah biasanya tak datang dari materi pendalaman semata, melainkan dari terbukanya pola pikir dan maju dalam politik.
Sumber :
Menyimak Kicau Merajut Makna, Salim A. Fillah, Pro-U Media