by Danu Wijaya danuw | Sep 9, 2016 | Artikel, Dakwah
Kemunduran abad IV hijriah dari telaah Al Ghazali diantaranya tersebab saling ejeknya para ahli ilmu, antara ilmu dunia dan ilmu Agama. Saat itu mereka yang belajar ilmu fikih merendahkan pembelajar matematika, astronomi, kedokteran, perdagangan, kimia dan tata negara. Sebutan “budak dunia” dilekatkan. Sebaliknya ahli fikih dihujat “munafik”, karena menjual ilmu agama untuk kepentingan dunia, harta dan kuasa.
Ahli fikih, kata Al Ghazali harus hargai ilmu lain sebab urusan ibadah pun tak bisa lepas dari aneka pengetahuan diluar fikih tersebut. Bagi orang berpenyakit pencernaan misalnya, dokterlah yang akan jadi mufti; apakah dia bisa berpuasa Ramadhan atau tidak. Itu ilmu agamawi.
Demikian juga ilmu tekstil, ia sangat agamawi sebab terkait dengan sah-batalnya ibadah dalam tertutupnya aurat; jenis kain hingga model.
Jadilah jua seorang fakih. Jangan hanya menjadi perbendaharaan ilmu, pahami juga interaksi ilmu realitas. Dalam umpama Imam Syafii, seorang berilmu tak cukup jadi ahli hadis, dia haruslah jua seorang ahli fikih. Analoginya: apoteker-dokter.
Ahli hadis dan apoteker memahami ilmu segala bahan dan racikan. Tetapi otoritas beri ramuan dan dosis pada ‘pasien’ ada di ahli fikih dan dokter. Sebab ahli fikih dan dokter tak hanya berpegang ilmu, bahan dan racikan. Melainkan juga mempertimbangkan kondisi fisik, organ dan metabolisme.
Penempuh jalan ilmu adalah dia yang alim; sedang dan terus berpengetahuan dengan pembelajaran tak kenal henti; mendalamkan dan meluaskan. Sang alim tak mendikotomikan ilmu jadi duniawi-agamawi. Semuanya ilmu Allah selama dikaji dengan asma-Nya dan diguna bagi kemashlahatan.
Sumber :
Menyimak Kicau Merajut Makna, Salim A. Fillah, Pro-U Media
by Danu Wijaya danuw | Sep 7, 2016 | Artikel, Dakwah
Kata Ali bin Abi Thalib, “Zuhud itu sikap, bukan keadaan. Zuhud yang paling utama adalah zuhud yang disembunyikan.”
Adapun menurut Ibnu Taimiyah, “Zuhud sejati adalah meninggalkan yang haram dan menjauhi syubhat yang remang.”
Zuhudnya Abu Bakar, ia enggan pada dunia dan dunia pun enggan padanya. Harta ditangannya, akhirat di hatinya.
Zuhudnya Umar, dia enggan pada dunia, tapi dunia bertekuk lutut merayu. Banjir nikmat tapi dia ikat dirinya pada teladan Nabi dan Abu Bakr.
Imam Ahmad menuturkan, “Zuhud adalah makanan yang menegakkan punggungmu, pakaian yang menutup auratmu, dan rumah yang menyembunyikam tangis sujudmu.”
Sementara Ibnul Mubarak menjelaskan, “Zuhud adalah segala kenikmatan yang bisa membuatmu menyatakan yang benar tanpa takut, menolong yang lemah tanpa ragu.”
Ali r.a. menambahkan, “Zuhud penguasa: tampilkan nikmat Allah kepada lainnya agar mengilhami. Zuhud penguasa: jauhi kemewahan agar tiada tersakiti.”
Zuhud itu menghiasi diri dengan syukur dan sabar, menghiasi amal dengan ridha dan ikhlas, menghiasi sesama dengan cinta dan ukhuwah.
Sumber :
Menyimak Kicau Merajut Makna, Salim A. Fillah, Pro-U Media
by Danu Wijaya danuw | Sep 7, 2016 | Artikel, Dakwah
Hari ini berdenyut lancar jantung dan nadi, tapi dzikir dihati sedikit sekali. Moga Allah ampuni.
Hari ini sejuk segar, dan napas pun lancar, tapi keshalihan tak banyak terpancar. Moga Allah ampuni.
Hari ini bergerak kian kemari, berbuat ini dan itu, entahkah sudah membaikkan sesama dan diri. Moga Allah ampuni.
Hari ini karunia Allah melimpah bagai lautan, tapi banyak terguna bukan dalam bakti, bahkan mendurhakai. Moga Allah ampuni.
Hari ini merasa gembira jika dipuji hal yang tiada, merasa marah jika disebut aib nyata. Moga Allah ampuni.
Hari ini bagai terjangkit penyakit mematikan, takjub pada kebaikan sendiri, merasa lebih baik dari sesama. Moga Allah ampuni.
Sumber :
Menyimak Kicau Merajut Makna, Salim A. Fillah, Pro-U Media
by Danu Wijaya danuw | Sep 6, 2016 | Artikel, Dakwah
Para pionir Islam seperti sahabat Nabi ada di hati dan cintanya. Tokoh hebat yang bergabung belakangan turut merasakan penghargaan, kesempatan bakti dan nasihat.
Suatu ketika sahabat nabi, Abdurrahman bin Auf menentang kebrutalan Khalid, lalu Khalid mengkasarinya. Nabi kemudian menegur Khalid dengan kalimat dahsyat. “Jangan pernah kau cela sahabatku, hai Khalid. Demi Allah, andai kau infakan emas segunung Uhud, takkan bisa menyamai segenggam kurmanya!”
Apa khalid bukan sahabat? Ya sahabat juga. Tetapi 8 bulan yang penuh kemenangan itu jadi mungil disandingkan 20 tahun luka dan duka sahabat termasuk Abdurrahman bin Auf.
Uhud katanya merusak nurani. Disana Abdurrahman jadikan tubuhnya perisai lindungi Nabi dari usaha membunuh Nabi.
Infaq segenggam kurma Abdurrahman tak tertandingi emas sepenuh gunung. Tetapi memangnya pernah Abdurrahman infaq cuma segenggam?
Sekali ada seruan Nabi, Abdurrahman bisa mengeluarkan 40.000 dinar. Kadang jua 1.000 unta beserta seluruh muatannya.
Bagaimana mungkin Khalid apalagi kita mengejarnya? Sejak saat itu Khalid yang semula ganas dan angkuh jadi lebih terkendali.
Sumber :
Menyimak Kicau Merajut Makna, Salim A. Fillah, Pro-U Media
by Danu Wijaya danuw | Sep 6, 2016 | Artikel, Dakwah
Kita bisa telaah diangkatnya Amr bin Ash sebagai panglima yang membawahi Abu Bakar dan Umar begitu dia masuk Islam. Maka berangkatlah Amr bersama pasukannya. Ash Shiddiq dan Al Faruq mengiringinya.
Petang menjelang, mereka berkemah di cekungan gurun. Saat beberapa memasak dan hangatkan badan, mendadak Amr memerintahkan untuk mematikan api. Umar marah dan bangkit, “Apa maksudmu?” Abu Bakar menenangkan Umar yang keberatan dan nyaris tengkar dengan sang panglima. “Taatilah Ulil Amri yang diangkat Nabi, saudaraku!”
Setelah itu Amr memerintahkan untuk tak bicara dan tak bergerak. Lalu terdengarlah derap ratusan kuda dan teriakan perang membahana. Sadarlah semua bahwa mereka dipimpin panglima yang lihai membaca tanda alam dan kehadiran musuh, Amr bin Ash. Umar meminta maaf.
Esok pagi, mereka sampai di tempat yang diarahkan Nabi. Amr menyuruh pasukan berhenti dan minta izin untuk masuk kota seorang diri. “Jika sampai dzuhur tiba aku belum kembali'” ujar Amr. ” serbu masuk dibawah pimpinan Abu Bakar!” pesannya. Umar memprotes lagi.
“Semua juga berhak atas jihad, bukan hanya kau sendiri! Semua harus ditanggung bersama!” kecam Umar. Abu Bakar menenangkan lagi.
Belum berakhir waktu dhuha, sudah kembali pada pasukannya disertai pemimpin kaum itu. Semua warga kini berislam tanpa syarat. Semua kini tahu, Nabi pilihkan mereka panglima yang lisannya lebih tajam dari seribu pedang; Amr bin Ash. Umar memeluknya. Nabi hargai potensi besar macam Amr juga khalid. Diiringi penginsyafan bahwa mereka harus berjuang lebih keras untuk cinta Ilahi.
Sumber :
Menyimak Kicau Merajut Makna, Salim A. Fillah, Pro-U Media
by Danu Wijaya danuw | Sep 5, 2016 | Adab dan Akhlak, Artikel
Sakit itu mustajab doanya. Sampai-sampai Imam Asy-Suyuti keliling kota mencari orang sakit lalu minta didoakan oleh mereka.
Sakit itu jalan kenabian Ayyub yang menyejarah. Kesabarannya diabadikan jadi teladan semesta.
Sakit orang mulia bersebab kemuliaan. Imam Syafi’i wasir sebab banyak duduk menelaah ilmu. Imam Malik lumpuh tangannya dizalimi penguasa. Nabi pun sakit oleh racun paha kambing di Khaibar yang menyelusup segigit pertama melalui celah gigi yang parah di perang Uhud. Tetapi penyebab sakit itu menjadikan mulia dengan memaknainya.
Sakit itu membaca, menulis, berkarya. Habiburrahman El Shirazy goreskan Ayat-Ayat Cinta saat terbaring patah kaki.
Sakit itu gugur dosa. Barang haram terselip tubuh dilarutkan di dunia. Anggota badan yang mungkin berdosa di nyerikan dan di cuci-Nya.
Sakit itu membuat sedikit tertawa dan banyak menangis. Salah satu perilaku keinsyafan yang disukai Nabi dan makhluk-makhluk langi.
Sakit itu meningkatkan kualitas ibadah. Rukuk sujud lebih khusyuk. Tasbih istighfar lebih sering. Tahiyat doa lebih lama.
Sakit itu memperbaiki akhlak. Kesombongan terkikis. Sifat tamak dipaksa tunduk. Pribadi dibiasa santun, lembut dan tawadhu.
Sakit itu membuat kita lebih serius mengingat dan mempersiapkan kematian. Dia yang merasa dekat maut menghargai waktunya dengan baik.
Demikianlah sekelumit tentang sakit. Semoga Allah tolong kita menjadi hamba yang penuh syukur disegala kebaikan.