0878 8077 4762 [email protected]

Memetik Buah Pengorbanan

Oleh: Ust. Fauzi Bahreisy
 
Setiap kali memasuki Idul Adha, kita diingatkan kepada perjuangan dan pengorbanan Ibrahim ‘Alaihissalam, sebuah pengorbanan luar biasa yang diabadikan dalam Al Qur’an untuk menjadi pelajaran bagi umat manusia sepanjang sejarah.
Tidak ada penjelasan yang paling menarik dan paling utama daripada penjelasan Al Qur’an tentangnya. Karena itu, mari kita lihat apa yang Allah sebutkan tentang peristiwa tersebut untuk menjadi pelajaran dan bekal.
Ibrahim berkata: “Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku. Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang yang shalih.” (QS ash-Shaffat: 99-100).
Maka, Ibrahim pun diberi kabar gembira. Demikianlah bahwa kehadiran seorang anak harus disambut dengan gembira, bukan dengan duka cita.
Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: ‘Wahai ananda, aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!’ Ia menjawab, ‘Wahai ayahanda, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.” (QS ash-Shaffat: 102).
Anak itu sudah beranjak dewasa, sudah bisa diajak berjalan, pergi, dan bekerja bersamanya. Kita lihat kata bersamanya. Ia menunjukkan pendekatan orang tua yang demikian perhatian dan lembut kepada anaknya, tidak kasar. Disebutkan bahwa usia Ismail ketika itu sekitar 13 tahun.
Dalam kondisi demikian, ketika anak yang sudah dinantikan dari dulu lahir, ketika anak itu sedikit demi sedikit beranjak dewasa dan mulai bisa membantu sang ayah, tiba-tiba datang perintah Allah untuk menyembelihnya. Apa Ibrahim ragu?
Pasalnya, perintah itu datang dalam bentuk mimpi, bukan wahyu secara langsung sehingga bisa ditafsirkan macam-macam. Namun itu saja sudah cukup bagi Ibrahim. Ia tahu bahwa ini merupakan ujian dari Allah. Dan begitulah Allah menguji manusia. Allah sering menguji dengan sesuatu yang sangat kita cintai, bisa harta, jabatan, kedudukan, popularitas, harga diri, kehormatan, dan keturunan.
Ibrahim menunjukkan kedudukannya, ketakwaannya, dan keistiqamahannya. Ia tidak mengeluh, tidak mempertanyakan perintah itu kepada Tuhan. Namun sebaliknya, ia segera merespon dengan baik. Ia menerimanya dengan sangat patuh. Hanya saja, sebelum itu sang anak harus diberitahu. Ibrahim memberitahukan perintah itu kepada sang anak, Ismail ‘Alaihissalam. Mari kita perhatikan bagaimana dialog tersebut terjadi: Ya bunayya (ananda) dengan panggilan indah dan sayang, ia berbicara kepada anaknya. Demikian hendaknya orang tua berbicara kepada anaknya.
Ibrahim mengatakan, “Wahai ananda, aku bermimpi diperintah menyembelihmu. Bagaimana pendapatmu?” Ia tidak melaksanakan perintah dengan langsung tanpa melihat kesiapan anaknya.
Ternyata sang anak juga menunjukkan kesiapan yang luar biasa. Ia menjawab dengan ungkapan yang juga indah. “Ya abati” (ayahanda) karena hal itu sudah diajarkan oleh sang ayah. Ia juga menunjukkan ketaatannya kepada perintah Tuhan tanpa ragu-ragu. Ini adalah bentuk adab kepada Allah dan juga adab kepada orang tuanya.
Namun, semua itu tidak dilakukan dengan sikap sombong. Ia sadar akan kelemahan dirinya. Ia tidak memastikan dirinya sabar. Namun ia sandarkan semuanya kepada Allah. Inilah adab manusia yang luar biasa. Manusia hanya berusaha secara maksimal namun, yang menentukan adalah Allah.
Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya)” (QS ash-Shaffat: 103).
Ketika keduanya (ayah dan anak) sudah patuh dan pasrah. Hal itu ditunjukkan tidak hanya dengan kata-kata, tetapi dengan perbuatan. Sang ayah sudah merebahkan anaknya dengan meletakkan di atas tanah. Bayangkan, ia sendiri yang akan menyembelih anaknya dan dengan alat yang seadanya ketika itu. Namun, disitulah Ibrahim dan Ismail menunjukkan kepatuhan total kepada Allah. Inilah Islam. Islam adalah patuh, taat, dan menyerah mutlak kepada Allah dengan penuh ridha.
Begitulah Allah menguji hamba-Nya. Dia tidak zalim dan kejam. Dia bukan Zat yang senang menumpahkan darah. Tapi Allah hanya ingin menguji. Buah dari ujian adalah balasan yang manis dan indah dari Allah. Demikian pula yang Allah berikan kepada mereka yang berhasil membuktikan pengorbanannya sepanjang masa.

10 Hari Pertama Dzulhijjah

Oleh: Ust. Fahmi Bahreisy, Lc
 
Diantara karunia yang Allah berikan kepada hamba-Nya, terutama kaum muslimin, Ia menjadikan beberapa hari dalam satu tahun sebagai hari yang mulia dengan berbagai keutamaan yang dapat diraih oleh kaum muslimin. Pada hari-hari ini kaum muslimin dianjurkan untuk memperbanyak amal shaleh dan beristighfar kepada Allah agar dapat meraih keistimewaan yang disediakan oleh Allah SWT.
Diantara hari-hari tersebut ialah 10 hari pertama dari bulan Dzulhijjah sebagaimana sabda Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas r.a, “Tidak ada hari dimana amal shalih pada saat itu lebih dicintai oleh Allah dari pada hari-hari ini, yaitu sepuluh hari (pertama) dari bulan Dzulhijjah.” Para sahabat bertanya, “Tidak juga jihad fi sabilillah?” Rasul menjawab, “Tidak juga jihad fi sabilillah, kecuali orang yang keluar (berjihad) dengan jiwa dan hartanya, kemudian ia tidak kembali dengan sesuatu apapun.” (HR. Bukhari).
Bahkan di dalam Al-Qur’an, Allah SWT menjadikan hari-hari tersebut sebagai sumpah, sebagaimana yang terdapat di dalam surat al-Fajr, “Demi waktu fajar. Dan demi 10 malam.” (QS. Al-Fajr: 1-2). Ibnu Katsir berkata, “Maksud dari ayat tersebut ialah 10 hari pertama dari bulan Dzulhijjah sebagaimana pendapat Ibnu Abbas, Ibnu Zubair, Mujahid dan lainnya.”
Ibnu Abbas juga menafsirkan firman Allah SWT, “Mereka mengingat Allah pada hari-hari yang telah diketahui.” (QS. Al-Hajj: 28), bahwa yang dimaksud dengan hari-hari yang telah diketahui ialah 10 hari pertama dari bulan Dzulhijjah.
Dalam hadits yang lain juga disebutkan bahwa Rasulullah saw bersabda diriwayatkan oleh Jabir bin Abdullah, “10 hari pertama Dzulhijjah adalah hari yang paling utama diantara hari-hari yang lainnya.” Lalu ada sahabat yang bertanaya, “Bahkan hari-hari yang dipergunakan untuk berjihad juga tidak lebih baik darinya?” Rasulullah menjawab, “Tidak juga dengan hari-hari yang pergunakan untuk berjihad di jalan Allah, kecuali seseorang yang beribadah dengan penuh ketundukan.” (HR. Ibnu Hibban dan al-Bazzar).
Ayat-ayat dan hadits diatas menegaskan kepada kita akan keutamaan dari 10 hari pertama dari Dzulhijjah. Bahkan diantara ulama ada yang mengatakan bahwa hari-hari tersebut lebih utama daripada 10 malam terakhir dari bulan ramadhan. Oleh sebab itu, para salaf terdahulu ketika memasuki 10 hari Dzulhijjah, mereka berlomba-lomba untuk melakukan amal shaleh. Sebagaimana yang dicontohkan oleh Said bin Jubair –rahimahullah- bahwa dikisahkan ia bersungguh-sungguh melakukan amal shaleh dan tidak ada yang dapat menandinginya.
Maka itu, para ulama menjelaskan beberapa amalan utama yang dianjurkan untuk dilakukan pada hari-hari tersebut, diantaranya ialah: Yang pertama, menunaikan haji dan umrah, dimana ia adalah amalan yang paling utama untuk dilakukan pada hari tersebut. Tentunya bagi mereka yang mampu untuk melaksanakannya.
Yang kedua ialah ibadah puasa, sebagaimana telah disebutkan bahwa pada pada tanggal 9 Dzulhijjah dianjurkan untuk berpuasa arafah. Rasulullah saw bersabda, “Puasa Arafah dapat menghapus dosa satu tahun yang lalu dan yang akan datang.” (HR. Muslim).
Selain puasa Arafah, puasa senin kamis juga sangat dianjurkan, karena pada 10 hari tersebut, pahala seorang hamba akan dilipatgandakan oleh Allah SWT sebagaimana hadits yang telah disebutkan diatas.
Yang ketiga ialah menjaga shalat lima waktu tepat waktu dan dilakukan secara berjamaah di  masjid. Begitu juga dengan shalat-shalat sunnah yang dengannya seorang hamba akan semakin dekat hubungannya dengan Allah.
Yang keempat ialah memperbanyak takbir, tahmid, tahlil dan dzikir lainnya. Ibnu Umar r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda, “Tidak ada satu haripun dimana amalan yang dilakukan di dalamnya lebih utama dan lebih dicintai oleh Allah daripada 10 hari ini (Dzulhijjah). Maka perbanyaklah mengucapkan kalimat tahlil, takbir, dan tahmid.” (HR. Ahmad).
Imam Bukhari berkata bahwa Ibnu Umar dan Abu Hurairah keluar menuju pasar kemudian mereka berdua bertakbir sehingga orang lainpun ikut juga bertakbir bersamanya. Bahkan dalam sebuah riwayat beliau bertakbir di dalam rumahnya, di kamarnya, dan kemanapun ia pergi ia selalu bertakbir.
Masih banyak amalan lainnya yang dianjurkan untuk dilakukan di 10 hari tersebut, seperti tilawah Al-Qur’an, sedekah, memperbanyak taubat, berbakti kepada orang tua, dan lainnya. Hendaknya seorang muslim benar-benar memanfaatkan waktu yang disediakan oleh Allah SWT. Mereka yang mempergunakan hari-hari tersebut dengan baik, maka mereka akan beruntung. Namun sebaliknya, mereka yang lalai dan meremehkannya, maka mereka akan merugi dan celaka. Wallahu a’lam

Tiap Pemilik Ilmu Ada yang Lebih Berilmu

Kisahnya terjadi pada suatu musim haji. Saat itu berhimpunlah tiga ulama ahlul: Ishaq bin Rahawayh, Ahmad dan Yahya bin Ma’in. Mereka hendak menemui Imam Abdurrazaq, penulis Al Mushannaf. Tetapi di pintu Masjidil Haram terlihat seorang pemuda berwibawa. Dia duduk dikursi indah dan dikelilingi oleh begitu banyak orang yang bergantian menanyakan berbagai macam persoalan dan fiqih.
Ketiga alim itu bertanya, “Siapakah pemuda ini?” Seseorang menjawab, “Fakihnya Quraisy dari Bani Muthalib, Muhammad bin Idris.” Selama ini ketiganya baru mendengar nama Asy Syafi’i yang mahsyur; baru pertama kali ini mereka melihatnya. Sungguh masih muda dan tawadhu. Yahya bin Ma’in pakar dalam Jahr wat Ta’dil (ilmu kritik kelayakan rawi) segera menyuruh Imam Ahmad menguji Imam Syafi’i. “Tanyakan padanya tentang perkataan Nabi saw: ‘Biarkan burung dalam sangkarnya!‘” ujar Yahya (H.R. Abu Dawud 2835, Ahmad 6/381-422, Al Humaidi 345, Ath Thayalisi 1634, At Tirmidzi 1516, An Nasa’i 7/164, Ibnu Majah 3163)
Ahmad menanyai Yahya, “Apa tafsirnya?” Kata Yahya, “Sepahamku, biarkanlah burung dalam sarangnya, yakni pada malam hari.” Imam Ahmad tersenyum, sebab tafsir itu darinya. Ishaq bin Rahawayh menyahut, “Baiklah, aku yang akan menanyai!” Maka dia memanggil Syafi’i, “Wahai pemuda Bani Muthalib!”
“Ya wahai alimnya orang Persia!” sahut Asy Syafi’i. Lalu Ishaq menanyakan tafsir itu. Yang ditanya tersenyum tawadhu. “Aku mendengar bahwa sahabat kalian Ahmad bin Hambal menafsirkannya sebagai : biarkan burung dalam sarangannya, yakni pada malam hari.
” Adapun aku”, lanjut Asy Syafi’i, “mendapatkan itu dari Sufyan bin Uyainah. Ketika itu aku telah menanyakan tafsirnya.” Tetapi Ibnu Uyainah menjawab, “Demi Allah, aku tidak tahu apa maksud ini.” Aku berkata, “Rahimakallah, ya Aba Muhammad.”
Maka,” sambung Asy Syafi’i, “Ibnu Uyainah mengamit tanganku dan mendudukanku dikursinya. Ujarnya, ” Ajari kami apa tafsirnya!”
Maka Asy Syafi’i saat itu dengan penuh ta’zhim membahas tafsirnya. Dia berkata, “Dahulu, orang Jahiliyah jika hendak berpergian menangkap burung, lalu melepaskannya lagi dengan mantra. Jika burungnya terbang ke kanan, ia anggap pertanda baik. Mereka akan melangsungkan perjalanannya. Tetapi jika si burung terbang ke kiri atau ke belakang, ia dianggap pertanda buruk sehingga mereka mengurungkan niat safarnya.
Ketika Rasulullah melihat hal ini (tathayyur) masih tradisi, maka sabdanya, “Biarkan burung didalam sarangnya. Berangkatlah pada pagi hari dengan menyebut asma Allah.” Demikian Asy Syafi’i bertutur.
Para ulama yang hadir berdecak takjub akan ilmu Asy Syafi’i. Ishaq bin Rahawayh tersenyum pada dua rekannya dan berkata, “Demi Allah, andaikan kita datang jauh-jauh dari Iraq hanya untuk mendengar makna ini saja, cukuplah itu bagi kita!” Ahmad mengangguk. Lalu berkatalah Ahmad dengan menukil Surat Yusuf ayat 76, “Wa fauqa kulli dzii ‘ilmi ‘aliim” (Dan tiap-tiap pemilik ilmu ada yang lebih berilmu -red). Manaqib Asy Syafi’i, Al Baihaqi, 1/38
 
Sumber :
Menyimak Kicau Merajut Makna, Salim A. Fillah, Penerbit Pro-U Media

Belajar dari Kiyai

K.H. Bisyri Syansuri dari Denanyat, Jombang adalah kakek Gus Dur dan Gus Sholah dari pihak Ibu beliau, yakni Ny. Hj. Solechah. Sementara K.H. Abdul Wahab Hasbullah dari Tampakberas, Jombang adalah kakek dari M. Rohmahurmuzy PPP dari ibu. Keduanya adalah pilar utama NU sejak didirikan Hadratusy Syaikh K.H. Hasyim Asy’ari, Tebu Ireng. Ini secuil kisah keduanya.
Mbah Bisyri dikenal sebagai alim yang teguh memegang dalil dengan pemahaman zahir nash-nya (terikat pada suatu teks). Suatu hari beliau didatangi orang. Orang tersebut mengatakan bahwa dia telah meniatkan berqurban sapi untuk seluruh anggota keluarganya yang berjumlah 7 orang. Tetapi beberapa hari sebelumnya, telah lahir seorang bayi sebagai anggota keluarga barunya. Nah, bolehkah qurbannya untuk 8 orang? Mbah Bisyri menjawab, “Tidak boleh! Sebab dalilnya menyatakan jelas, seekor sapi hanya boleh untuk 7 orang. Bukan 8!”
Si penanya tadi mengiyakan. Tetapi rupanya dia masih ingin melanjutkan niatnya berqurban dengan kemenyatuan seluruh keluarganya. Maka yang bersangkutan sowan pada Mbah Wahab di Tampakberas. Pertanyaan yang sama diajukan. Nah, apa jawab beliau, Allahuyarham? Kata Mbah Wahab, “Ya boleh. Tetapi karena yang ke-8 masih bayi, dia akan kesulitan naik saat menunggang sapinya menuju surga, maka agar dia bisa ancik-ancik (berpijak) untuk naik ke sapi, tambahkanlah seekor kambing untuk hewan qurban kalian sekeluarga”
Sang penanya manggut-manggut dan pulang dengan sukacita. Mbah Wahab telah bicara dengan bahasa dan sesuai kadar pemahaman penanya. Konon, saat Mbah Bisyri mendengar hal tersebut beliau tersenyum dan membaca ujung surat Yusuf ayat 76, Wa fauqa kulli dzii ‘ilmi ‘aliim. Arti bebasnya, “Dan diatas tiap-tiap pemilik ilmu, ada yang jauh lebih berilmu”
 
Sumber :
Menyimak Kicau Merajut Makna, Salim A. Fillah, Penerbit Pro-U Media

Hakikat Walimah

Pengertian dan fungsi walimah : “Rahasiakan pinangan, umumkanlah pernikahan.” (H.R. Ibnu Hibban 1285, Ath Thabrani I:1/69 dan lainnya)
Alternatif tempat dan acara walimah : “Umumkan pernikahan ini, adakan di Masjid, meriahkan dengan tabuhan rebana.” (H.R. Ahmad dan Tirmidzi)
Nabi saw dan Shafiyah hidangannya tanpa daging, hanya snack dari kurma, keju, dan samin (Muslim IV/147)
Barangsiapa (sengaja tanpa udzur) tidak memenuhi undangan walimah, dia telah durhaka pada Allah dan Rasul-Nya.” (H.R. Bukhari IX/201)
Undangan tanpa membeda : “Sejelek-jeleknya jamuan adalah yang hanya mengundang orang kaya saja” (H.R. Muslim IV/154). Tetapi utamakan undangan yang shalih : “Upayakan makananmu dinikmati orang bertakwa” (H.R. Abu Dawud, Hakim IV/154, Ahnad III/262, dan lainnya)
Dalam walimah kikislah peran ritual dan perangkat yang bernuansa kemusyrikan. Jika keluarga teguh beradat bicarakan sejak awal. “Barang siapa datangi peramal atau dukun lalu percaya apa yang dikatakan, telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad.” (H.R. Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah, Hakim)
Upayakan proses walimah bersih sehingga berkah. “Sesiapa gantungkan suatu benda (dengan anggapan memberi manfaat, menolak sial/bahaya) maka Allah jadikan ia terbelenggu barang itu” (H.R. Ahmad dan Tirmidzi)
Mudahkanlah hadirin walimah menjaga sunnah-sunnah makan dengan menyediakan tempat duduk yang memadai dan alur pengambilan yang lancar. Memisahkan area tamu lelaki dan perempuan dalam walimah itu sungguh utama, tapi upayakan tak menghalangi komunikasi yang malah merepotkan.
Tujuan para tamu yang menghadiri walimah ialah mendoakan. Hindari pemborosan dan kemubadziran dalam pernak-pernik yang tak perlu.
Syukuri hidangan walimah dengan senyum dan doakan : “Allaahummaghfir lahum warhamhum, wa baariklahum fii maa razaqtahum” Doa itu berarti : “Ya Allah ampunilah pemilik hajat, sayangilah mereka, dan berkahilah rezeki yang Kau anugerahkan pada mereka”
Kita doakan para mempelai dalam walimah dengan doa : Barakallaahu laka wa baraka ‘alayka, wa jama’a baynakumaa fi khayr. Doa walimah itu bermakna: Semoga Allah berkahi dalam hal yang menyenangkan juga berkahi dalam hal tak mengenakkan dan satukan dalam kebaikan.
Pengajian, ceramah dan lainnya itu baik. Tetapi jangan sampai jadi menu utama walimah. Sebab kadang yang hadir hendak bersegera untuk acara lain. 
 
Sumber :
Menyimak Kicau Merajut Makna, Salim A. Fillah, Penerbit Pro-U Media

Yang Terbaik Menurut Quran dan Sunnah

Oleh: Ust. Farid Nu’man Hasan
 
Berikut ini adalah manusia-manusia terbaik menurut standar Allah Ta’ala dan Rasul-Nya. Semoga kita termasuk di dalamnya. Aamiin.
1. Orang beriman dan beramal shalih
Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk”. (QS. Al Bayyinah: 7).
Imam Ibnu Katsir berkata: Abu Hurairah dan segolongan ulama telah berdalil dengan ayat ini bahwa kaum beriman di kalangan manusia lebih utama dibanding malaikat. (Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 8/458).
2. Orang kaya tapi taat kepada Allah Ta’ala
Dan Kami karuniakan kepada Daud, Sulaiman, dia adalah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhanya)”. (QS. Shad: 30).
3. Orang yang ditimpa ujian (penyakit, miskin, musibah) tapi bersabar dan taat
Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhan-nya)”. (QS. Shad: 44)
4. Para sahabat nabi dan orang yang mengikuti jejak mereka
Kalian adalah umat yang terbaik dikeluarkan untuk manusia, memerintahkan yang ma’ruf, mencegah yang munkar, dan beriman kepada Allah”. (QS. Ali ‘Imran: 110)
Siapakah umat terbaik dalam ayat ini? Abdullah bin Abbas Radhiallahu ‘Anhuma mengatakan: “Mereka adalah para sahabat nabi yang berhijrah bersama Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dari Mekkah ke Madinah.” (Musnad Ahmad No. 2463. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan: hasan. Al Hakim dalam Al Mustadrak No. 6164, katanya: shahih. Disepakati Adz Dzahabi)
Imam Ibnu Katsir Rahimahullah mengatakan: Yang benar adalah ayat ini berlaku secara umum bagi semua umat ini (Islam), setiap masing-masing zaman, dan sebaik-baik zaman mereka adalah manusia yang ketika itu pada mereka diutus Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, kemudian yang mengikuti mereka, kemudian yang mengikuti mereka. (Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 2/94)
Demikianlah generasi sahabat, dan kita pun bisa menjadi khairu ummah sebagaimana mereka jika sudah memenuhi syarat-syarat seperti mereka. Imam Ibnu Jarir, meriwayatkan dari Qatadah, bahwa Umar Radhiallahu ‘Anhu berkhutbah ketika haji:
Barang siapa yang suka dirinya menjadi seperti umat tersebut maka penuhilah syarat yang Allah tentukan dalam ayat itu. (Tafsir Ath Thabari, 7/102).
Ayat ini diperkuat oleh hadits berikut: “Sebaik-baiknya manusia adalah zamanku, kemudian setelahnya, kemudian setelahnya”. (HR. Bukhari No. 2652).
Tentunya maksud manusia pada zaman nabi adalah manusia yang beriman kepadanya di zamannya, yaitu para sahabatnya. Bukan kaum munafiq dan kaum kafir yang hidup di zamannya.
5. Paling konsisten terhadap kewajiban
Sesungguhnya yang terbaik di antara kamu adalah yang paling bagus qadha-nya”. (HR. Bukhari No. 2305, Muslim No. 1601, dari Abu Hurairah).
Maksud “qadha” adalah yang paling konsisten menepati kebenaran dan kewajiban yang ada padanya. (Ta’liq Mushthafa Al Bugha, 2/809).
6. Terbaik pada masa jahiliyah dan Islam
Sebaik-baiknya kalian pada masa jahiliyah adalah yang terbaik di antara kalian pada masa Islam, jika mereka paham agama”. (HR. Bukhari No. 3384, dari Abu Hurairah)
7. Paling bagus akhlaknya
Sesungguhnya  yang terbaik di antara kalian adalah yang terbaik akhlaknya”. (HR. Bukhari No. 3559, dari Ibnu Umar, Muslim No. 2321, dari Ibnu Amr. Ini lafaz Bukhari).
8. Mempelajari Al Quran dan mengajarkannya
Sebaik-baiknya kalian adalah yang mempelajari Al Quran dan mengajarkannya”. (HR. Bukhari No. 5027, dari Utsman).
9. Manusia yang panjang umur dan amalnya semakin baik
Maukah aku tunjukkan manusia terbaik di antara kalian? Mereka menjawab: “Ya, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda: “Manusia terbaik di antara kamu adalah yang paling panjang usianya dan semakin baik amalnya.” (HR. Ahmad No. 7212, dari Abu Hurairah. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan: shahih lighairih. Al Hakim, Al Mustadrak No. 1255, katanya: shahih sesuai syarat Syaikhan (Bukhari-Muslim).