by Fahmi Bahreisy Lc fahmibahreisy | May 4, 2016 | Artikel, Tausiyah Iman
Tausiyah Iman – 25 April 2016
Iman tidak hanya sebatas kata-kata di lisan. Hakikat iman bukan sekedar tahu tentang rukun iman yang enam. Ia juga tidak hanya diukur dari ibadahnya saja. Tapi yang dikatakan beriman sejauh mana keridhaan dan ketulusanmu kepada Allah.
Begitulah seorang mukmin yang sejati, sebagaimana hadits Rasulullah saw:
“Sungguh mengagumkan perkara orang mukmin. Semua urusannya baik bagi dia. Dan hal itu hanya terdapat pada orang yang beriman. Jika ia mendapatkan nikmat, ia bersyukur, dan itu baik baginya. Jika ia mendapatkan ujian, dia bersabar, dan itu juga baik baginya“.
Ustadz Fahmi Bahreisy, Lc
(Baca juga: Tak Perlu Iri dan Dengki)
•••
Join Channel Telegram: http://tiny.cc/Telegram-AlimanCenterCom
Like Fanpage: fb.com/alimancentercom
•••
Rekening donasi dakwah:
BSM 703.7427.734 an. Yayasan Telaga Insan Beriman
by Danu Wijaya danuw | May 3, 2016 | Artikel, Ramadhan
Rasulullah SAW sangat gembira dan memberikan kabar gembira kepada umatnya dengan datangnya bulan Ramadhan. Rasulullah menyebutkan keutamaan-keutamaan Ramadhan dalam pidato penyambutan bulan suci sebagai berikut.
Dari Salman Al Farisi ra berkata : “Rasulullah saw berkhutbah pada hari terakhir bulan sya’ban: “Wahai manusia telah datang kepada kalian bulan yang agung, bulan penuh berkah, didalamnya ada malam yang lebih baik dari seribu bulan. Allah menjadikan puasanya wajib, dan qiyamul lailnya sunnah. Siapa yang mendekatkan diri dengan kebaikan, maka seperti mendekatkan diri dengan kewajiban dibulan yang lain. Siapa yang melaksanakan kewajiban, maka seperti melaksanakan 70 kewajiban dibulan lain.
Ramadhan adalah bulan kesabaran, dan kesabaran balasannya adalah surga. Bulan solidaritas, dan bulan ditambahkan rizki orang beriman. Siapa yang memberi makan orang yang berpuasa, maka diampuni dosanya dan dibebaskan dari api neraka dan mendapatkan pahala seperti orang-orang yang berpuasa tersebut tanpa dikurangi pahalanya sedikitpun”.
Kami berkata: “Wahai Rasulullah, tidak semua kita dapat memberi makan orang yang berpuasa?”
Rasul Saw bersabda : “Allah memberi pahala kepada orang yang memberi buka puasa walaupun dengan seteguk susu, satu biji kurma, atau seteguk air. Ramadhan adalah bulan yang awalnya rahmat, tengahnya maghfirah, dan akhirnya pembebasan dari api neraka. Siapa yang memberi keringanan kepada budak.yang dimilikinya, maka Allah mengampuninya dan membebaskan dari api neraka.
Perbanyaklah melakukan empat hal, dua perkara membuat Allah ridha dan dua perkara Allah tidak butuh dengannya. Kedua hal itu adalah Syahadat Laa ilaha illallah dan beristighfar kepada-Nya. Adapun dua hal yang Allah tidak butuh adalah engkau meminta surga dan berlindung dari api neraka. Siapa yang membuat kenyang orang yang berpuasa, Allah akan memberikan minum dari telagaku (Rasul saw) satu kali minuman yang tidak akan pernah haus sampai masuk surga.”
(HR al Uqaili, Ibnu Huzaimah, al Baihaqi, al Khatib, dan al Asbahani). Dalam kitab Misykat al Mashabih disebutkan bahwa hadist ini dhaif. Disebutkan pula dalam Kanz al Ummal bahwa Ibnu Hajar mengatakan dhaif.
Dalam hadist lain, Rasul bersabda: “Umatku diberi lima kebaikan pada bulan Ramadhan, sesuatu yang tidak diberikan kepada umat sebelumnya. Pertama, bau mulut seorang yang berpuasa lebih wangi daripada bau misik (minyak kesturi. Kedua, malaikat memintakan ampun sampai berbuka. Ketiga, setiap hari Allah menghiasi surga milik orang yang berpuasa, kemudian berkata (pada surga); “Hamba-hambaku yang shalih sebentar lagi akan melepas kepenatan dan kesusahannya dan datang kepadamu”. Keempat, setan-setan dibelenggu dan tidak dapat bebas berkeliaran sebagaimana bulan lain. Kelima, diampuni dosanya di akhir malam”. Diantara sahabat ada yang berkata: “Wahai Rasulullah, apakah itu malam kemuliaan (Lailatu Qadr)?” Rasul saw menjawab: “Bukan, tetapi seorang pekerja akan disempurnakan balasannya ketika pekerjaan selesai“. (HR Ahmad, al Bazzar, Abu Syaikh, al Baihaqi dan al Asbahani).
Sumber :
Panduan Lengkap Ibadah Ramadhan, Sharia Consulting Center
by Abdul Rochim Lc. MA abdulrochim | May 3, 2016 | Artikel, Tausiyah Iman
Tausiyah Iman – 24 April 2016
Tidak perlu iri dan dengki dengan profesi orang lain yang lebih baik menurut penilain kita. Juga tidak perlu merendahkan pekerjaan orang lain selama itu halal.
Imam Malik rahimahullah mengatakan, “Sesungguhnya Allah membagi pekerjaan sebagaimana membagikan rezeki”.
Ustadz Abdul Rochim, Lc., MA.
(Baca juga: Menghadap-Nya)
•••
Join Channel Telegram: http://tiny.cc/Telegram-AlimanCenterCom
Like Fanpage: fb.com/alimancentercom
•••
Rekening donasi dakwah:
BSM 703.7427.734 an. Yayasan Telaga Insan Beriman
by Fauzi Bahreisy fauzibahreisy | May 2, 2016 | Artikel, Tausiyah Iman
Tausiyah Iman – 23 April 2016
Bila berwudhu, wajah Ali ibn Husein ra menjadi pucat.
Ketika ditanya, “Mengapa wajahmu pucat setiap kali berwudhu?” Ia menjawab, “Engkau tahu di hadapan siapa aku akan berdiri?”
اللهم اجعلنا من الخاشعين في الصلاة
Ustadz Fauzi Bahreisy
(Baca juga: Ridha Akan Ujian)
•••
Join Channel Telegram: http://tiny.cc/Telegram-AlimanCenterCom
Like Fanpage: fb.com/alimancentercom
•••
Rekening donasi dakwah:
BSM 703.7427.734 an. Yayasan Telaga Insan Beriman
by Fahmi Bahreisy Lc fahmibahreisy | May 2, 2016 | Adab dan Akhlak, Artikel
Oleh: Fahmi Bahreisy, Lc
Pada umumnya orang menuntut ilmu (di zaman sekarang ini) ada 3 fase:
Fase pertama, ia baru mencicipi dan berkenalan dengan ilmu yang ia tekuni.
Di fase ini ia merasa bahwa dirinya adalah orang yang hebat, sudah menjadi orang yang alim, berani mentarjih pendapat-pendapat para ulama mujtahidin, bahkan berani merendahkan ulama yang dipandang tidak sejalan dengan madzhab atau pendapatnya, padahal dia belum memahami dan mendalami qowoid tafsir an-nushush, dan masih jauh untuk sampai kepada kedudukan al ijtihad.
Fase kedua, ia sudah mulai mengenal lebih dalam ilmu yg ia tekuni, ilmunya semakin berkembang seiring dengan bertambahnya buku yang ia baca dan pengalaman-pengalaman yang ia dapatkan.
(Baca juga: Adab Menuntut Ilmu Syar’i (1)]
Dalam fase ini, ia sudah mulai sadar akan kebodohan dirinya, menyadari bahwa ilmunya masih dangkal, meskipun seringkali perasaan ujubnya masih muncul, hanya saja dia segera sadar akan kesalahannya tersebut, dan ia semakin semangat untuk mempelajari ilmu yang belum ia dapatkan.
Fase ketiga, sudah semakin banyak ilmu yang ia dalami, berbagai macam kitab telah ia baca, wawasannya juga semakin luas.
Dalam fase ini, dia menyadari kebodohannya, semakin ia pelajari ilmu, semakin tersingkap kebodohannya, ia menyadari bahwa ternyata ilmu yang selama ini ia pelajari, bagaikan tetesan air di tengah samudera yang luas. Di fase ini, sifat wara’ dan tawadhu’nya akan muncul, tidak mudah menyalahkan pendapat yang bertentangan dengannya, apalagi sampai merendahkannya, karena boleh jadi pendapat tersebut didasarkan pada dalil yang belum ia ketahui. Hal ini sebagaimana ditampakkan oleh ulama-ulama terdahulu yang tidak diragukan lagi keilmuannya.
by Muhammad Syukron msyukron | May 1, 2016 | Artikel, Tausiyah Iman
Tausiyah Iman – 22 April 2016
Ujian atau cobaan merupakan suatu kepastian dalam kehidupan. Ia merupakan fitrah yang tidak bisa dihilangkan. Ia dirasakan oleh setiap orang, dimana pun dan dalam usia berapapun.
Ujian dan cobaan bisa berupa kesusahan namun tak sedikit juga yang berupa kebahagiaan dan kemudahan.
Yang terpenting dalam memahami sebuah ujian dan cobaan adalah hendaknya meyakini bahwa itu merupakan tanda cinta Allah SWT dan kita mesti ridho atasnya.
Nabi SAW bersabda :
إِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَط
“Sesungguhnya jika Allah mencintai suatu kaum maka Dia akan menguji mereka. Barang siapa yang ridha (terhadap ujian tersebut) maka baginya ridha Allah dan barang siapa yang marah (terhadap ujian tersebut) maka baginya murka-Nya.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah At Tirmidzi berkata bahwa hadits ini hasan ghorib)
Ustadz Muhammad Syukron Muchtar
(Baca juga: Respon Mukmin)
•••
Join Channel Telegram: http://tiny.cc/Telegram-AlimanCenterCom
Like Fanpage: fb.com/alimancentercom
•••
Rekening donasi dakwah:
BSM 703.7427.734 an. Yayasan Telaga Insan Beriman