0878 8077 4762 [email protected]

Kisah Bait Aqobah sebagai Penyemangat Hijrah Rasulullah

Latar belakang historis sebuah peristiwa hijrah adalah gerakan perpindahan dari kota Makkah ke kota Madinah dalam rangka mempertahankan aqidah.
“Ketika umat belum memiliki kekuatan untuk dapat mempertahankan pendirian atau keimanan, maka hijrah adalah merupakan strategi Rasulullah dalam melaksanakan risalah dakwah,” ujar Ketua Bidang Sarana, Hukum, dan Wakaf Pengurus Pusat Dewan Masjid Indonesia (PP DMI) Natsir Zubaidi.
Secara historis, kata dia, ada dua hal yang menjadi momentum tepat Rasulullah melakukan Hijrah.
Pertama, adanya baiat aqobah kubro yaitu pertemuan antara Mukimin di Yathrib (kini bernama Madinah) dengan orang-orang Makkah yang menjadi pengiktut setia Rasulullah SAW.
Pertemuan itu berlangsung dalam suasana rasa ukhuwah, solidaritas sehidup semati dalam memperjuangkan Islam dan umat.
Bahkan Rasulullah SAW bersabda secara lugas kepada umat hadir pada saat itu,
“Darah kalian adalah darahku, kehancuran kalian adalah kehancuranku juga. Aku adalah bagian dari kalian, dan kalian adalah bagian dariku. Aku akan memerangi orang yang kalian perangi dan melakukan perdamaian dengan orang yang kalian adakan perdamaian dengannya.”
Di lain pihak, para elit Quraisy khawatir terhadap pengaruh Rasulullah yang mampu menyampaikan kebenaran ajaran agama Islam. Mereka mulai merasa gerah dan mengadakan pertemuan pleno di Darun Nadwah.
Mereka pun memutuskan untuk memblokade gerak Nabi dan para pengikut setianya, bahkan ingin membunuhnya.
Rasulullah SAW akhirnya meninggalkan rumah beliau pada malam 27 Shafar (12 atau 13 September 622 Masehi).
Natsir mengatakan, cara memaknai hijrah yang dilakukan Rasul dan pengikutnya bukan tanpa perhitungan yang matang.
“Tetapi dipersiapkan para sahabat Anshar yag siap mengakomodasi di tanah tujuan (Madinah), dan orang Makkah (sahabat Muhajirin) juga sudah mempersiapkan mental untuk hidup di wilayah baru,” kata dia.
Peristiwa baiat aqobah kubro adalah sebuah proses seleksi pengikut Rasulullah untuk dipersiapkan dalam memperjuangkan risalah dakwah.
Para pengikut Rasulullah (baik pemukim maupun pendatang) sudah mempersiapkan diri dengan mentalitas ukhuwah, solidaritas, sehidup semati, menginfaqkan hartanya secara ikhlas demi kejayaan Islam.
Menurut Natsir, dalam konteks kekinian, pergantian tahun baru hijriyah (1437/1438) harus juga dimaknai perlunya umat Islam memiliki jiwa dan semangat mengutamakan ukhuwah Islamiyah.
Tak hanya itu, umat Islam harus juga mempunyai solidaritas sosial, loyalitas yang istiqamah kepada Allah, Rasulullah dan pemimpin umat serta kesediaan diri untuk berdakwah amar ma’ruf nahi munkar dalam kerangka NKRI.
 
Sumber : Republika
Oleh :  Ustad Nasir Zubaidi, Pengurus Pusat Dewan Masjid Indonesia (PP DMI)

Indonesia dan Negara OKI Berkumpul di PBB Bahas Rohingya

 
New York – Negara-negara anggota Organisasi Kerjasama Islam (OKI) berkumpul di sela sidang umum PBB membahas masalah terhadap etnis Rohingya. Pertemuan ini untuk menjalankan formula 4+1 yang diusulkan Indonesia.
Pertemuan ini dilaksanakan di markas PBB, New York, Amerika Serikat (AS), Selasa (19/9/2017) waktu setempat. Delegasi Indonesia diwakili langsung oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK).
“Pertemuan OKI di Markas PBB penekanan pada formula 4+1 dan ajakan untuk bantu Myanmar yang sebelumnya telah disampaikan RI,” kata juru bicara Wapres JK, Husain Abdullah.
Indonesia telah mengirimkan bantuan kemanusiaan bagi para pengungsi Rakhine yang berada di perbatasan Banglades dan Myanmar. Menurut Husain, Formula 4+1 berisi soal upaya menjaga stabilitas keamanan di Rakhine State.
“Pada pertemuan OKI di markas PBB, Wapres Jusuf Kalla berkesempatan menyampaikan poin poin penting tersebut,” terangnya.
Berikut isi formula 4+1 yang ditawarkan oleh pemerintah Indonesia:

  1. Mengembalikan stabilitas dan keamanan.
  2. Menahan diri secara maksimal dan tidak menggunakan kekerasan.
  3. Perlindungan kepada semua orang yang berada di Rakhine State, tanpa memandang suku dan agama.
  4. Pentingnya segera dibuka akses untuk bantuan kemanusiaan

Penetapan Tahun Hijriyah Baru Di Masa Umar bin Khattab

 
Masyarakat Arab sejak masa silam, sebelum kedatangan Islam, telah menggunakan kalender qamariyah (kalender berdasarkan peredaran bulan). Mereka sepakat tanggal 1 ditandai dengan kehadiran hilal. Mereka juga menetapkan nama bulan sebagaimana yang kita kenal.
Mereka mengenal bulan Dzulhijah sebagai bulan haji, mereka kenal bulan Rajab, Ramadhan, Syawal, Safar, dan bulan-bulan lainnya. Bahkan mereka juga menetapkan adanya 4 bulan suci: Dzulqa’dah, Dzulhijah, Shafar Awal (Muharam), dan Rajab. Selama 4 bulan suci ini, mereka sama sekali tidak boleh melakukan peperangan.
Hanya saja masyarakat jazirah Arab belum memiliki angka tahun. Mereka tahu tanggal dan bulan, tapi tidak ada tahunnya. Biasanya, acuan tahun yang mereka gunakan adalah peristiwa terbesar yang terjadi ketika itu.
Kita kenal ada istilah tahun gajah, karena pada saat itu terjadi peristiwa besar, serangan pasukan gajah dari Yaman oleh raja Abrahah.

  • Tahun Fijar, karena ketika itu terjadi perang Fijar.
  • Tahun renovasi Ka’bah, karena ketika itu Ka’bah rusak akibat banjir dan dibangun ulang.
  • Terkadang mereka juga menggunakan tahun kematian tokohnya sebagai acuan, semisal; 10 tahun setelah meninggalnya Ka’ab bin Luai.

Keadaan semacam ini berlangsung terus sampai zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Khalifah Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu.
Ketika itu, para sahabat belum memiliki acuan tahun. Acuan yang mereka gunakan untuk menamakan tahun adalah peristiwa besar yang terjadi ketika itu. Berikut beberapa nama tahun di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :

  1. Tahun izin (sanatul idzni), karena ketika itu kaum muslimin diizinkan Allah untuk berhijrah ke Madinah.
  2. Tahun perintah (sanatul amri), karena mereka mendapat perintah untuk memerangi orang musyrik.
  3. Tahun tamhish, artinya ampunan dosa. Di tahun ini Allah menurunkan firmanNya, ayat 141 surat Ali Imran, yang menjelaskan bahwa Allah mengampuni kesalahan para sahabat ketika Perang Uhud.
  4. Tahun zilzal (ujian berat). Ketika itu, kaum muslimin menghadapi berbagai cobaan ekonomi, keamanan, krisis pangan, karena perang khandaq. Dst.

(Arsyif Multaqa Ahlul Hadits, Abdurrahman al-Faqih, 14 Maret 2005)
Sampai akhirnya di zaman Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu menjadi khalifah.
Di tahun ketiga beliau menjabat sebagai khalifah, beliau mendapat sepucuk surat dari Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, yang saat itu menjabat sebagai gubernur untuk daerah Bashrah.
Dalam surat itu, Abu Musa mengatakan:

إنه يأتينا من أمير المؤمنين كتب، فلا ندري على أيٍّ نعمل، وقد قرأنا كتابًا محله شعبان، فلا ندري أهو الذي نحن فيه أم الماضي

“Telah datang kepada kami beberapa surat dari amirul mukminin, sementara kami tidak tahu kapan kami harus menindaklanjutinya. Kami telah mempelajari satu surat yang ditulis pada bulan Sya’ban. Kami tidak tahu, surat itu Sya’ban tahun ini ataukah tahun kemarin.”
Kemudian Umar mengumpulkan para sahabat, beliau berkata kepada mereka:
ضعوا للناس شيئاً يعرفونه
“Tetapkan tahun untuk masyarakat, yang bisa mereka jadikan acuan.”
Ada yang usul, kita gunakan acuan tahun bangsa Romawi. Namun usulan ini dibantah, karena tahun Romawi sudah terlalu tua. Perhitungan tahun Romawi sudah dibuat sejak zaman Dzul Qornain (Mahdhu ash-Shawab, 1:316, dinukil dari Fashlul Khithab fi Sirati Ibnul Khatthab,  Dr. Ali Muhammad ash-Shalabi, 1:150)
Kemudian disebutkan oleh al-Hakim dalam al-Mustadrak, dari Said bin al-Musayib, beliau menceritakan:
Umar bin Khattab mengumpulkan kaum muhajirin dan anshar radhiyallahu ‘anhum, beliau bertanya: “Mulai kapan kita menulis tahun.”
Kemudian Ali bin Abi Thalib mengusulkan: “Kita tetapkan sejak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hijrah, meninggalkan negeri syirik.”
Maksud Ali adalah ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hijrah ke Madinah.
Kemudian Umar menetapkan tahun peristiwa terjadinya Hijrah itu sebagai tahun pertama (al-Mustadrak 4287 dan dishahihkan oleh adz-Dzahabi).
Mengapa bukan tahun kelahiran Nabi Muhammad saw yang menjadi acuan?
Jawabannya disebutkan oleh al-Hafidz Ibnu Hajar sebagai berikut:

أن الصحابة الذين أشاروا على عمر وجدوا أن الأمور التي يمكن أن يؤرخ بها أربعة، هي مولده ومبعثه وهجرته ووفاته، ووجدوا أن المولد والمبعث لا يخلو من النزاع في تعيين سنة حدوثه، وأعرضوا عن التأريخ بوفاته لما يثيره من الحزن والأسى عند المسلمين، فلم يبق إلا الهجرة

Para sahabat yang diajak musyawarah oleh Umar bin Khatthab, mereka menyimpulkan bahwa kejadian yang bisa dijadikan acuan tahun dalam kalender ada empat:

  • Tahun kelahiran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
  • Tahun ketika diutus sebagai rasul,
  • Tahun ketika hijrah
  • Dan tahun ketika beliau wafat.

Namun ternyata, pada tahun kelahiran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tahun ketika beliau diutus, tidak lepas dari perdebatan dalam penentuan tahun peristiwa itu.
Mereka juga menolak jika tahun kematian sebagai acuannya, karena ini akan menimbulkan kesedihan bagi kaum muslimin. Sehingga yang tersisa adalah tahun hijrah beliau (Fathul Bari, 7:268).
Abu Zinad mengatakan:
استشار عمر في التاريخ فأجمعوا على الهجرة
“Umar bermusyawarah dalam menentukan tahun untuk kalender Islam. Mereka sepakat mengacu pada peristiwa hijrah (Mahdzus Shawab, 1:317, dinukil dari Fashlul Khithab fi Sirati Ibnul Khatthab,  Dr. Ali Muhammad ash-Shalabi, 1:150)
Karena hitungan tahun dalam kalender Islam mengacu kepada hijrah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, selanjutnya kalender ini dinamakan kalender hijriah.
Penentuan Awal Bulan : Muharram, serta Alasannya
Setelah mereka sepakat, perhitungan tahun mengacu pada tahun hijrah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, selanjutnya mereka bermusyawarah, bulan apakah yang dijadikan sebagai bulan pertama.
Pada musyawarah tersebut, Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu mengusulkan agar bulan pertama dalam kalender Hijriah adalah Muharam. Karena beberapa alasan:

  1. Muharam merupakan bulan pertama dalam kalender masyarakat Arab di masa masa silam.
  2. Di bulan Muharam, kaum muslimin baru saja menyelesaikan ibadah yang besar yaitu haji ke baitullah.
  3. Pertama kali munculnya tekad untuk hijrah terjadi di bulan Muharam. Karena pada bulan sebelumnya, Dzulhijah, beberapa masyarakat Madinah melakukan Baiat Aqabah yang kedua.

(simak keterangan Ibn Hajar dalam Fathul Bari, 7:268)
Sejak saat itu, kaum muslimin memiliki kalender resmi, yaitu kalender hijriyah, dan bulan Muharam sebagai bulan pertama dalam kalender tersebut.
Wallahu a’lam
 
Sumber : Konsultasi Syariah

4 Pesawat Hercules Pembawa Bantuan Indonesia Tiba di Bangladesh

Jakarta – Bantuan dari masyarakat Indonesia untuk pengungsi Rohingya tiba di Bangladesh. Bantuan yang diangkut pesawat Hercules A 1316 itu tiba di Bandara International Shah Amanat, Chittagong, Bangladesh, pada Kamis dan Jumat, 14-15 September 2017, waktu setempat.
Duta Besar Indonesia untuk Bangladesh, Rina Soemarno, menyambut langsung bantuan tersebut dengan didampingi perwakilan pemerintah Bangladesh. Dia pun lantas menyerahkan bantuan kepada pemerintah Bangladesh, yang diwakili District Commissioner Chittagong Md Zillur Rahman Chowdhury.
“Senang sekali menerima kiriman bantuan kemanusiaan untuk Bangladesh dari Indonesia. Ini sudah ditunggu-tunggu,” kata Rina dalam keterangannya, Jumat, 15 September 2017.
Menurut Rina, setelah diserahkan kepada pemerintah Bangladesh, bantuan itu akan segera didistribusikan ke para pengungsi yang ada di Kota Coxs Bazar. Kota itu merupakan wilayah terdekat dengan daerah pengungsi, yaitu sekitar 170 kilometer dari Chittagong.
Rina, yang sudah mengunjungi Coxs Bazar, menuturkan para pengungsi menggunakan tenda untuk berlindung. Dia menilai tenda-tenda pengungsi cukup memprihatinkan. Selain melebihi kapasitas, tempat perlindungan dibangun asal-asalan. “Hanya didukung tenda bambu. Kalau kena angin atau hujan angin, tenda akan terbang,” ujarnya.
Bantuan Indonesia untuk pengungsi Rohingya itu secara resmi dikirim pemerintah pada Rabu lalu. Presiden Joko Widodo memimpin langsung pengiriman bantuan, yang diterbangkan dalam empat pesawat.
Bantuan dikirim dari dua pesawat yang diterbangkan dari Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta. Disusul dua pesawat berisi bantuan lain akan segera menyusul esok dari Pangkalan TNI Angkatan Udara Sultan Iskandar Muda, Aceh.
Pesawat tersebut membawa bantuan sebanyak 34 ton untuk pengungsi Rohingya berupa berbagai makanan cepat saji, beras, pakaian, selimut, dan tenda.

Soal Nobar Film G30S/PKI, Panglima TNI: Itu Perintah Saya, Mau Apa?

 
Jakarta – Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo rupanya tidak ambil pusing atas polemik pemutaran film G30S/PKI di lingkup internal institusinya. Dia menegaskan acara nonton bareng film kontroversial itu memang perintahnya.
“Iya itu memang perintah saya, mau apa? Yang bisa melarang saya hanya pemerintah,” kata Jenderal Gatot saat ditemui seusai ziarah di Makam Bung Karno (MBK), Bendogerit, Blitar, Senin (18/9/2017).
Gatot menyatakan Mendagri sudah mengizinkan dia memerintahkan seluruh anggotanya menonton film garapan era Orde Baru tersebut. Saat ditanya mengenai materi film itu masih menjadi polemik, Gatot mengatakan menonton film tersebut merupakan upaya meluruskan sejarah.
“Biarin aja, saya nggak mau berpolemik. Ini juga upaya meluruskan sejarah. Saya hanya ingin menunjukkan fakta yang terjadi saat itu. Karena anak-anak saya, prajurit saya, masih banyak yang tidak tahu,” jelasnya.
Menurut Gatot, bahkan Presiden Sukarno sendiri pernah memberi pesan untuk tidak melupakan sejarah. “Sejarah itu jangan mendiskreditkan. Ini hanya mengingatkan pada anak bangsa, jangan sampai peristiwa itu terulang. Karena menyakitkan bagi semua pihak. Dan korbannya sangat banyak sekali,” ucapnya.
Rencana TNI menggelar acara nonton bareng film G30S/PKI memang menjadi polemik. Ada yang menilai film itu tak pantas ditonton lagi. Namun ada juga yang mendukung rencana TNI sebagai upaya mengingatkan sejarah kelam bangsa ini.
 
Sumber : Detik

Jika Terus Menyimpan Rasa Dendam

SEBAGAI makhluk sosial, tentunya kita akan selalu berhadapan dengan orang-orang di sekitar kita. Entah itu dengan orang yang mempunyai sikap baik atau bahkan dengan orang yang bersikap buruk terhadap kita. Sebagian besar dari kita tentunya akan lebih menyukai orang-orang yang bersikap baik. Namun pada kenyataannya tak semua orang bersikap sesuai dengan apa yang kita inginkan.
Ketika seseorang bersikap tidak baik terhadap kita, seringkali kita mengingatnya dalam-dalam kemudian menyimpan dendam terhadap orang yang telah membuat hati kita terluka tersebut. Bagi sebagian orang, keburukan akan membekas dalam hati sebagaimana kebaikan.
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abdullah bin Ka’ab bin Malik, ia berkata, “Aku telah mendengar Ka’ab bin Malik bercerita tentang hadits mengenai dirinya ketika beliau tidak ikut (berperang) bersama Rasulullah saw. Lalu beliau menuturkan sebuah kisah dan turunnya wahyu tentang diterima taubat dirinya.
Beliau berkata, “Aku masuk ke dalam masjid. Ketika aku masuk, Rasulullah sedang dikelilingi oleh para sahabat. Kemudian Thalhah bin Ubaidillah berdiri menghampiriku sambil berjalan mundur, sehingga dia berjabat tangan denganku seraya mengucapkan selamat.
Demi Allah, tidak berdiri menghampiriku seorang laki-laki dari golongan Muhajirin kecuali dia. Abdullah bin Ka’ab bin Malik berkata, “Ka’ab bin Malik tidak pernah melupakan sikap baik Thalhah.” (HR. Bukhari).
Apabila sudah yakin bahwa kebaikan tidak bisa dilupakan, maka halnya dengan keburukan. Namun, walau bagaimanapun kita tetap dianjurkan untuk bersungguh-sungguh dalam membersihkan bekas keburukan orang lain (rasa dendam) dalam hati kita.
Obat Dendam adalah Maaf
Obat untuk menyembuhkan rasa dendam yaitu dengan memberi maaf dan ampunan kepada orang yang telah membuat hati kita terluka.
Maaf memiliki dua tempat.

  • Pertama, melihat pahala bagi yang memaafkan.
  • Kedua, mensyukuri Dzat yang telah menempatkan kita pada posisi orang yang memaafkan.

Kesempurnaan memberi maaf ditandai dengan ketulusan, yaitu bersihnya hati dari perasaan dendam.
Selain obat di atas, terdapat obat yang dapat menyembuhkan kita dari perasaan dendam ini, yaitu kesadaran bahwa sifat menyakitkan orang lain terhadap dirinya tiada lain karena dosa pribadinya.
Atau sebagai kifarat dosa, atau untuk meningkatkan derajat, atau untuk menguji kesabaran diri.
Selain itu, obat yang lebih mujarab daripada semua itu adalah kesadaran bahwa segala sesuatu adalah takdir dari Allah swt.
Semoga kita mampu melenyapkan perasaan dendam yang ada di dalam hati kita dan mampu memaafkan orang yang berbuat keburukan terhadap kita.
 
Sumber : Mengobati Jiwa yang Lelah/Ibnu Al-Jauzy/Mirqat