0878 8077 4762 [email protected]

Paus Fransiskus Ajak Umat Katolik Doakan Keselamatan Etnis Rohingya

Di tengah aksi pembantaian yang dilakukan militer kepada etnis Rohingya di Rakhine, Myanmar, Pemimpin Katolik Paus Fransiskus mengumumkan akan berkunjung ke negeri tersebut.
Sebagaimana dikutip Telegraph, Minggu (3/8), Vatikan sejak pekan lalu telah mengumumkan rencana Paus mengunjungi Myanmar pada November mendatang. Pengumuman ini disampaikan saat ribuan etnis Rohingya terusir paksa dan melarikan diri ke Bangladesh.
Paus turut menyoroti aksi pembantaian tersebut. Ia bahkan mengajak umat Katolik berkumpul di Lapangan Santo Petrus, Roma dan mendoakan keselamatan etnis Rohingya.
“Ada berita duka tentang penganiayaan terhadap minoritas agama dari saudara Rohingya kami. Semoga Tuhan menyelamatkan mereka,” pungkasnya.
Sebanyak 800 orang warga Rakhine, termasuk perempuan dan anak-anak, dilaporkan tewas dalam pembersihan ‘etnis rohingya’ yang dilakukan militer rezim Aung San Suu Kyi.
Pekan ini, tercatat sebanyak 3 ribu pengungsi Rohingya berada di daerah perbatasan Bangladesh. Mereka bertahan di tempat tak bertuan tersebut demi menghindari penganiayaan dari pemerintah Myanmar.
 
Sumber : Rmol/Telegraph

Dulu, Ayah Aung San Suu Kyi Akui Etnis Rohingya Sebagai Warga Myanmar

Dulu, Ayah Aung San Suu Kyi Akui Etnis Rohingya Sebagai Warga Myanmar

Pembantaian etnis Rohingya belum juga berakhir. Setelah dihebohkan dengan ribuan pengungsi yang mengapung di atas kapal pada tahun 2015 lalu, kini gelombang itu kembali terjadi. Pada 25 Agustus militer Myanmar membantai etnis Rohingya di negara bagian Rakhine. Aksi tersebut mengakibatkan 300 ribu lebih warga rohingya mengungsi ke Bangladesh.
Apa penyebab dari rumitnya krisis di Myanmar ini?
Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia, Hikmahanto Juwana menilai situasi ini tak lepas dari tidak diakuinya etnis Rohingya sebagai warga Myanmar oleh rezim yang tengah berkuasa.
“Bahkan ada kecenderungan pemerintah Myanmar melakukan ethnic cleansing (pembersihan etnis) saat terjadinya konflik antar etnis Rohingya dengan otoritas Myanmar,” ujar Hikmahanto seperti dikutip dari Historia.
Hal yang sama juga diungkapkan oleh Moshe Yegar dalam Between Integration and Secession: The Muslim Communities of the Southern Philippines, Southern Thailand, and Western Burma.
Mereka mengungkapkan, masyarakat Rohingya tidak lagi diakui kewarganegaraannya oleh pemerintah Myanmar sejak 1982. Dua dekade setelah terjadinya kudeta militer oleh Jenderal Ne Win, hingga menetapkan pemerintahan junta militer.
Paspor mereka dicabut, hak-hak politik mereka dikebiri. Dalam Debating Democratization in Myanmar yang dirangkum Nick Cheesman dan Nicholas Farrelly, masyarakat muslim Rohingya Myanmar tidak lagi dicantumkan sebagai satu dari 135 kelompok etnis resmi yang disebut national races di Myanmar.
Bapak Bangsa Myanmar Dulu Dekat dengan Muslim Rohingya
Jika dilihat secara historis, Bapak Bangsa Myanmar, U Aung San ayah dari Aung San Suu Kyi, pernah merangkul Muslim Rohingya. Aung San merangkul etnis yang kini tidak diakui itu sebelum Myanmar merdeka pada tahun 1948.
Pada Perang Dunia II, Aung San dengan kelompok antifasisnya bahu-membahu dengan milisi Rohingya yang didukung Inggris dalam memerangi Jepang.
“Bapak Aung San dengan sangat ramah menerima Rohingya sebagai satu dari ras asli Burma sebagaimana Kachin, Kayah, Karen, Chin, Mon dan Rakhine.”
“Dia menjamin kewarganegaraan (warga Rohingya) saat bertemu para petinggi muslim di Akyab, Mei 1946,” sebut U Kyaw Min alias Shamsul Anwarul Haque, dalam artikel Legal Nexus Between Rohingya and the State di jurnal An Assessment of the Question of Rohingya’s Nationality.
Muslim Rohingya Pernah Mengisi Parlemen Myanmar
Saat Myanmar merdeka, Muslim Rohingya bisa hidup tenang. Mereka menikmati semua hak nya sebagai warga negara. Mereka benar-benar bisa hidup setara di bawah payung Residents of Burma Registration Act yang dirilis 1949 dan disusul Burma Registration Rules pada 1951.

Screenshot_2017-09-14-10-25-24_com.android.chrome_1505359697405

Surat pengakuan etnis rohingya myanmar kala itu


Tak hanya itu, pada tahun 1951 seorang etnis Rohingya berhak mencalonkan diri sebagai anggota parlemen. Mereka mewakili daerah-daerah pemilihan (dapil) Buthidaung Utara, Buthidaung Selatan, Maungdaw Utara serta Maungdaw Selatan.
Tercatat beberapa nama anggota parlemen terkemuka asal Rohingya. Sebut saja nama-nama seperti Abdul Gaffar, Abul Bashar, Sultan Ahmed, Daw Awe Nyunt (a) Zurah, Ezar Meah, Sultan Mahmood, Abul Khair, Rashid, hingga MA Subhan.
Kebudayaan dan Hak Ibadah Haji Muslim Rohingya Dijamin Kala Itu
Apresiasi pemerintah terhadap kebudayaan Rohingya diperlihatkan pula dengan adanya acara program bahasa Rohingya d BBS (Burma Broadcasting Service) atau stasiun radio milik pemerintah Myanmar.
Hak-hak beragama pun dijamin oleh pemerintah. Untuk mengikuti ibadah haji misalnya, pemerintah Myanmar menerbitkan paspor bagi masyarakat Rohingya yang sudah memiliki NRC (Kartu Registrasi Nasional) dan FRC (Sertifikat Registrasi Orang Asing), agar mereka bisa pergi naik haji ke Makkah.
Kudeta Militer Myanmar dan Pencabutan Kewarganegaraan Etnis Rohingya
Akan tetapi, kedamaian itu berakhir sejak kudeta dilakukan oleh pihak militer pimpinan Jenderal Ne Win pada 2 Maret 1962.
Jendral Ne Win

Pemimpin Kudeta, Jenderal Ne Win


Pemerintahan junta militer lantas melindas pemerintahan sipil AFPFL (Liga Kebebasan Rakyat Anti-Fasis) yang kala itu dipimpin Perdana Menteri U Nu.
Usai berhasil menggulingkan U Nu, secara sistematis hak-hak politik masyarakat Rohingya dihapuskan. Baik dalam mengikuti pencalonan, maupun memberikan suaranya dalam pemilu, melalui UU baru tentang Kewarganegaraan Tahun 1982. Benih-benih konflik mulai tertebar hingga menuai krisis hingga sekarang.
“Rohingya telah ada di Rakhine sejak dunia diciptakan. Arakan adalah tanah kami; tanah India selama seribu tahun lalu,” cetus politisi Rohingya Kyaw Min dalam suratkabar The Economist 3 November 2012.
Pemerintah junta militer Myanmar sudah tak lagi menjabat sejak 2016. Saat ini Pemerintahan dipimpin oleh wakil dari partai pimpinan Aung San Suu Kyi. Lewat Pemilu, NLD (Liga Nasional Demokratik) pimpinan Aung San Suu Kyi, dan wakilnya, U Htin Kyaw berhasil jadi presiden.
Meski pemerintahan junta militer sudah berakhir. Muslim Rohingya belum mendapat hak-haknya sebagai warga negara.
Agaknya Suu Kyi tak belajar dari sang ayah. Maka tak heran, Sang Ayah yang pernah merangkul Muslim Rohingya ini dikenal sebagai Bapak Bangsa Myanmar.
 
Oleh : Eva F Hasan
Sumber : Islampos/Historia/TheEconomist

Halimah, Presiden Muslimah Pertama Singapura

Halimah, Presiden Muslimah Pertama Singapura

SINGAPURA — Halimah Yacob ditetapkan menjadi presiden wanita pertama Singapura. Mantan ketua parlemen ini secara resmi dilantik pada hari Rabu (13/9), setelah kandidat lainnya tidak memenuhi kriteria yang ditetapkan untuk mengikuti pemilihan.
Kemenangan Halimah dipastikan setelah dia menjadi satu-satunya bakal calon presiden yang diloloskan oleh Komite Pemilihan Presiden, seperti dilaporkan The Straits Times.
Dua bakal calon lain yaitu pengusaha Farid Khan dan Salleh Marican gagal memenuhi kriteria yang ditetapkan untuk menjadi calon resmi.
Dengan dirinya menjadi satu-satunya bakal capres yang dapat berlaga, maka dipastikan Halimah menang dengan walkover di hari nominasi yang akan digelar pada Rabu (13/9/2017).
Pilpres Singapura yang dijadwalkan akan digelar pada Sabtu (23/9/2017) dengannya tidak perlu diselenggarakan lagi.
Memang untuk menjadi capres di Singapura tidaklah mudah. Ada segudang kriteria yang sangat ketat yang harus dipenuhi.
Untuk pejabat publik seperti Halimah harus memenuhi syarat salah satunya ialah telah menjabat di sejumlah posisi penting politik selama sekurang-kurangnya 3 tahun.
Halimah sendiri menjabat sebagai Ketua DPR Singapura selama 4 tahun dari 2013 sampai 2017.
Sementara itu untuk bakal calon dari kalangan swasta harus memiliki shareholders equity sekurang-kurangnya 500 juta dollar Singapura.
Inilah syarat yang gagal dipenuhi Farid dan Salleh karena shareholders equityperusahaan yang mereka pimpin tidak mencapai angka yang disyaratkan.
Untuk pilpres tahun ini hanya warga Melayu yang dapat mencapreskan diri.
Amandemen konstitusi ini dilakukan tahun lalu untuk memastikan keterwakilan setiap suku di kursi presiden.
Adapun Singapura memiliki empat suku yaitu China, Melayu, India dan “Others” atau yang lain-lain.
Halimah mendeklarasikan kemenangannya dan berterimakasih terhadap dukungan warga Singapura yang luar biasa sejak dia memutuskan mencalonkan diri bulan lalu.

p_1505299971c7a-halimah-yacob-jadi-presiden-wanita-pertama-singapura

Pendukung capres Halimah dengan boneka dirinya


“Saya hanya bisa mengatakan bahwa saya berjanji untuk melakukan yang terbaik yang bisa saya lakukan untuk melayani masyarakat Singapura dan itu tidak berubah apakah ada pemilihan atau tidak ada pemilihan,” katanya kepada wartawan yang berkumpul.
Wanita berusia 63 ini menjadi orang melayu kedua yang menjadi presiden setelah Yusof Ishak yang merupakan presiden pertama Singapura dari 1965-1970.
Posisi Presiden Singapura adalah seremonial namun jauh lebih kuat dari presiden seremonial di negara lain.
Presiden Singapura mempunyai hak veto terhadap simpanan keuangan negara dan anggaran negara, penunjukan pejabat publik seperti Ketua Mahkamah Agung (MA), Jaksa Agung, Panglima Angkatan Bersenjata dan Kepala Staf Tiga Angkatan.
Presiden juga dapat memveto Rancangan Undang-Undang (RUU) yang diajukan parlemen
Kaum Melayu terakhir yang memegang kursi kepresidenan adalah Yusof Ishak. Gambar dirinya menghiasi uang kertas negara tersebut. Yusof adalah presiden antara tahun 1965 dan 1970, tahun-tahun pertama kemerdekaan Singapura menyusul persatuan dengan negara tetangga Malaysia, namun kekuasaan eksekutif terletak pada Lee Kuan Yew, perdana menteri pertama negara tersebut.
Kondisi Etnis Melayu di Singapura
Pemisahan Singapura dari Malaysia membuat etnis Melayu menjadi mayoritas di Malaysia, sementara etnis Tionghoa membentuk mayoritas di Singapura. Namun, para pemimpin kedua negara mengakui bahwa perdamaian dan kemakmuran bergantung pada pelestarian harmoni antara kedua kelompok.
Meski demikian, sebuah laporan pemerintah yang diterbitkan pada tahun 2013 menemukan orang-orang Melayu terkadang merasa didiskriminasikan dan memiliki prospek terbatas di beberapa institusi, seperti angkatan bersenjata.
Kebijakan pendidikan dan ekonomi Singapura telah membantu menciptakan jajaran kelas menengah Melayu, namun sensus terakhir di tahun 2010 menunjukkan bahwa mereka tertinggal dari kelompok etnis lain mengenai tindakan sosio-ekonomi seperti pendapatan rumah tangga dan kepemilikan rumah.
Orang-orang Melayu, yang membentuk lebih dari 13 persen dari 3,9 juta warga Singapura dan penduduk tetap, juga berperforma buruk terhadap tindakan seperti pendidikan di universitas dan sekolah menengah. Meski menjadi calon presiden, Halimah mengenakan jilbab, yang dilarang di sekolah negeri dan pekerjaan sektor publik yang membutuhkan seragam. Tapi dia jarang berbicara secara terbuka mengenai masalah ini.
Halimah binti dulunya anggota Partai Aksi Rakyat (PAP), dia adalah Ketua Parlemen yang kesembilan, yang menjabat dari Januari 2013 sampai Agustus 2017.
Halimah Yacob telah mengukir sejarah setelah terpilih menjadi presiden wanita muslimah berjilbab pertama Singapura dan dunia.
 
Sumber : Republika/Kompas – Reuters/Strait Times
 
 

Aksi Koreo "Save Rohingya" Bobotoh Diancam Sanksi PSSI, Bobotoh : Kami Siap Patungan!

Pada pertandingan Persib Bandung vs Semen Padang di Stadion si Jalak Harupat, Soreang, Kabupaten Bandung, Sabtu (9/9/2017).
Pendukung Viking Persib Club (VPC) atau dikenal Bobotoh membuat sebuah koreo atraktif bertulis “Save Rohingya” di tribun timur Stadion sebelum pertandingan dimulai.
Bobotoh terancam terkena sanksi dari Komisi Disiplin (Komdis) PSSI setelah membuat koreo bertuliskan itu.
Siap Patungan
Menanggapi hal tersebut, dirigen Viking Persib Club, Yana Umar menegaskan, Bobotoh siap patungan.
“Tidak masalah jika didenda. Kami siap patungan dengan membayarkan denda tersebut,” Kata Yana
Bukan Politis, Namun Kemanusiaan
Yana menegaskan, koreografi yang dilakukan para Bobotoh pada laga tersebut sama sekali tak bermuatan politis.
“Ini masalah kemanusiaan karena kami peduli dengan yang dialami etnis Rohingya di Myanmar. Dikatakan politis kalau memang ada lawan yang berseteru. Kami tak merasa ini sebagai hal yang politis,” pungkas Yana.
Persib Bandung ditahan imbang Semen Padang 2-2 di Stadion Si Jalak Harupat, Sabtu (9/9).
Seperti diketahui, isu persekusi, pengusiran, bahkan pembunuhan etnis Rohingya di negara bagian Rakhine, Myanmar, mengundang keprihatinan masyarakat internasional termasuk Indonesia.

Pengantin Ini Sumbangkan Amplop Nikahan untuk Rohingya

Di tengah kebahagiaan melangsungkan pernikahan, pasangan pengantin Fudhla Zahida (20) dan Miqdad Rabbani (23) tidak melupakan saudara Muslim yang dilanda kesedihan dan keterpurukan.
Di hari bahagianya yang berlangsung pada Ahad (10/9), pasangan tersebut mendonasikan buwuhan manten (hadiah pernikahan berbentuk uang) untuk Muslim Rohingya.
“Kami ingin membagi kebahagiaan kami di pernikahan untuk Rohingya. Ingin meringankan beban mereka meski sedikit,” kata Miqdad
“Nominalnya belum tahu soalnya belum dihitung. Amplopnya masih di kotak belum dibongkar, masih banyak tamu yang datang,” ucap Miqdad.
Nantinya uang hadiah dari tamu undangan akan dikumpulkan dan diberikan kepada Laznas LMI.
Laznas LMI sebagai bagian dari Aliansi Kemanusiaan Indonesia untuk Myanmar mendapat kepercayaan menerima amanah buwuhan manten tersebut.
“Semoga bantuan ini menjadi salah satu sarana keberkahan bagi kedua mempelai dalam menjalani kehidupan rumah tangga,” tutur Agus Supriono, kepala kantor layanan LMI Kediri.
Miqdad dan Fudhla merupakan satu almamater Pondok Pesantren Husnul Khotimal, Kuningan, Jawa Barat. Namun kala itu keduanya belum saling kenal.
Mereka masing-masing melanjutkan kuliah di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. Mereka baru kenalnya ketika di Kairo pas kuliah.
Saat ini keduanya masih berlibur di Kediri. Miqdad akan kembali ke Kairo pada 24 September, sedangkan Fudhla 7 Oktober.
 
Sumber : Republika/Kumparan

Doa Yang Tergesa-gesa

DOA adalah senjatanya umat Islam. Allah akan senang jika setiap hamba Nya terus memanjatkan doa kepada Nya. Semakin sering kita berdoa kepada Allah swt, maka semakin senang Allah.
Namun ada baiknya kita berdoa tak hanya dalam keadaan susah saja. Dalam keadaan lapang pun kita harus nya berdoa.
Nah berbicara doa, pernahkah kita merasa Allah tak mengijabah doa kita? Merasa bahwa doa yang dipanjatkan selama ini sia-sia?
Jika hal itu pernah dirasakan, perhatikanlah apa yang disampaikan Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyah dalam kitab ad-Da’u wa ad-Dawa mengatakan,
“Salah satu penyebab gagalnya suatu doa adalah sifat tergesa-gesa dalam menanti terkabulnya doa. Hamba yang berdoa itu terlalu terburu-buru. Ia merasa ijabah-Nya lambat, atau terlalu mundur datangnya sehingga membuatnya cemas. Akhirnya dia meninggalkan doa sama sekali.”
Hal ini dipertegas dengan sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang tercantum dalam Shahih Bukhari.
“Akan dikabulkan bagi seseorang di antara kalian selama tidak tergesa-gesa, (apalagi) mengatakan, ‘Aku telah berdoa, namun belum juga dikabulkan.’” (Hr. Imam al-Auza’i Rahimahullahu Ta’ala)
Cara berdoa sesuai urutan yang insya Allah baik adalah

  1. Mulailah dengan basmalah.
  2. Memujilah kepada Allah SWT. Minimal sekali ucapkan “Alhamdulillahi robbil ‘aalamiin”.
  3. Bersholawatlah untuk Rasulullah SAW. “Allahumma Sholli ala saiyyidina Muhammad, dst.”
  4. Bersitighfar dan akuilah bahwa dirinya sebagai hamba yang penuh berdosa dan salah
  5. Menggunakan doa yang ada dalam Al-Qur’an atau dicontohkan Rasulullah SAW. Namun jika kita tidak hafal, bisa dengan bahasa sendiri.
  6. Tutup doa dengan sholawat kembali untuk Rasulullah SAW, dan memuji Allah SWT sekali lagi, lalu ucapkan Amin.

Mari kita ingat kembali doa-doa yang selama ini kita panjatkan kepada Allah Ta’ala. Adakah kiranya kita tergesa-gesa dalam berdoa?
Ingin cepat-cepat dikabulkan dan pada akhirnya kita putus asa, sehingga membuat kita meninggalkan doa kepada Allah Ta’ala?
Bila hari-hari kemarin kita masih saja seperti itu, maka yang perlu kita lakukan adalah memperbaharui kesungguhan dalam berdoa dan tak hentinya mengharapkan ijabah dari-Nya.
Karena, “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bersungguh-sungguh dalam berdoa.” (HR. Imam al-Auza’i Rahimahullahu Ta’ala).