by Danu Wijaya danuw | Sep 7, 2017 | Artikel, Berita, Internasional
Turki akan mengirimkan 10.000 ton bantuan kemanusiaan untuk para pengungsi Rohingya yang telah melarikan diri dari kekerasan di Myanmar.
“Hasil pembicaraan kami dengan pemimpin Myanmar, kami diberikan jaminan ke wilayah tersebut. Kami akan mengirimkan 10.000 ton bantuan kemanusiaan.” Kata Presiden Erdogan (Rabu, 6/9/2017)
“Menteri Luar Negeri kami, Presiden Kemanusiaan Turki TIKA, istri dan anak saya merupakan bagian dari delegasi yang akan tiba di Bangladesh pada hari Rabu malam. Mereka akan berkeliling area pengungsian dan membagikan bantuan,” lanjutnya dalam sebuah pertemuan Partai Keadilan dan Pembangunan di ibukota Ankara.
Presiden Erdogan menambahkan, “Turki telah mengirimkan 1.000 ton bantuan kemanusiaan untuk Rohingya pada tahap pertama”
Erdogan juga menyatakan akan membawa kejahatan kemanusiaan ini ke Dewan Keamanan PBB.
Sebagaimana dilansir dari media Turki, Yeni Safak, sekitar 146.000 warga Muslim Rohingya telah melarikan diri ke Bangladesh akibat kekerasan di Myanmar.
Pemerintah Myanmar tidak mengizinkan organisasi asing memasuki wilayah tersebut, sehingga jumlah pasti korban jiwa juga belum dapat dipastikan.
Rakhine, yang terletak di sebelah barat Myanmar sejak lama dilanda kekerasan. Sejak kekerasan kembali meletus Oktober lalu, PBB melaporkan telah terjadi pemerkosaan massal, pembunuhan (termasuk terhadap bayi dan anak kecil), pemukulan brutal dan penghilangan paksa.
Sumber : Turkinesia/Yeni Safak
by Danu Wijaya danuw | Sep 5, 2017 | Artikel, Berita, Internasional, Sejarah
Mengenal Myanmar
Myanmar adalah salah satu negara yang terletak di Asia Tenggara. Sama seperti Indonesia, negara ini juga merupakan anggota Association of Southeast Asian Nations (ASEAN). Bagian utara negara ini berbatasan dengan China dan India. Di sebelah selatan, berbatasan dengan Teluk Benggala dan Thailand. Sebelah timur berbatasan dengan wilayah China, Laos, dan Thailand. Dan sebelah barat berbatasan dengan Teluk Benggala dan wilayah Bangladesh.
Adapun wilayah Rakhine –penjajah Inggris menyebut mereka orang-orang Arakan- terletak di barat daya wilayah Myanmar, berbatasan dengan Teluk Benggala dan wilayah Bangladesh.
Peta Wilayah Arakan

Kurang lebih, luas wilayah Myanmar adalah 261.000 mil2. Dan wilayah Rakhine 20.000 mil2. Wilayah ini dipisahkan oleh pagar alami berupa pegunungan yang merupakan bagian dari pegunungan Himalaya.
Jumlah penduduk Myanmar ditaksir sekitar 50 juta orang. 15% dari jumlah tersebut adalah muslim yang mayoritasnya adalah orang-orang Arakan. 70% dari penduduk Arakan adalah muslim. Sisanya adalah orang-orang Magh, orang-orang Arakan yang beragama Budha Theravada. Dan kelompok-kelompok minoritas lainnya.
Myanmar merupakan wilayah yang terdiri dari banyak suku. Lebih dari 140 suku menghuni wilayah bekas koloni Inggris tersebut. Suku mayoritasnya adalah Bamar/Birma. Suku ini adalah suku kasta pertama dan memegang pemerintahan. Oleh karena itu, dulu nama wilayah ini adalah Burma kemudian berganti Mynamar. Kasta kedua adalah suku Syan, Kachin, Chin, Kayah, Magh, dan umat Islam dari suku Rohingya. Jumlah kasta kedua ini kurang lebih 5juta jiwa.
Kerajaan Islam Rohingya – Arakan (Rakhine)

Sejarawan menyebutkan bahwa umat Islam tiba di wilayah Arakan bertepatan dengan masa Daulah Abbasiyah yang tengah dipimpin oleh Khalifah Harun al-Rasyid rahimahullah.
Kaum muslimin tiba di wilayah tersebut melalui jalur perdagangan. Dengan cara damai. Bukan peperangan apalagi penjajahan. Karena umat Islam semakin banyak dan terkonsentrasi di suatu wilayah, jadilah ia sebuah kerajaan Islam yang berdiri sendiri.
Kerajaan Islam di Arakan tersebut berlangsung selama 3,5 abad. Dan dipimpin oleh 48 raja. Yaitu antara tahun 1430 – 1784 M. Banyak peninggalan-peninggalan umat Islam yang terwarisi di wilayah tersebut. Ada masjid-masjid dan madrasah-madrasah. Di antara masjid yang paling terkenal adalah Masjid Badr di Arakan dan Masjid Sindi Khan yang dibangun tahun 1430 M.
Ekspansi Budha Terhadap Kerajaan Islam Arakan
Pada tahun 1784 M, Arakan diserang oleh raja Budha dari suku Birma yang bernama Bodawpaya (masa pemerintahan 1782-1819 M). Kemudian ia menggabungkan wilayah Arakan ke dalam wilayahnya, agar Islam tidak berkembang di wilayah tersebut.
Sejak saat itu bencana umat Islam Arakan pun dimulai. Peninggalan-peninggalan Islam, masjid dan madrasah, dihancurkan. Para ulama dan da’i dibunuh.
Budha dari suku Birma terus-menerus mengintimidasi kaum muslimin dan menjarah hak milik mereka. Mereka juga memprovokasi orang-orang Magh untuk melakukan hal yang sama. Keadaan tersebut terus berlangsung selama 40 tahun. Sampai akhirnya berhenti dengan kedatangan penjajah Inggris.
Pada tahun 1824 M, Inggris menguasai Burma. Kemudian kerajaan Britania itu menggabungkan wilayah itu dengan persemakmurannya di India. Pada tahun 1937 M, Inggris memisahkan Burma dan wilayah Arakan dari wilayah kekuasaannya di India. Maka Burma menjadi wilayah kerajaan Inggris tersendiri yang bernama Burma Britania. Tidak bernaung di wilayah India lagi.
Tahun 1942 M, bencana besar menimpa kaum muslimin Rohingya. Orang-orang Budha Magh membantai mereka dengan dukungan senjata dan materi dari saudara Budha mereka suku Birma dan suku-suku lainnya. Lebih dari 100.000 muslim pun tewas dalam peristiwa itu. Sebagian besar mereka adalah wanita, orang tua, dan anak-anak. Ratusan ribu lainnya melarikan diri dari Burma. Karena pedih dan mengerikannya peristiwa tersebut, kalangan tua –saat ini- yang menyaksikan peristiwa itu senantiasa mengingatnya dan mengalami trauma.
Pada tahun 1947 M, Burma mempersiapkan deklarasi kemerdekaan mereka di Kota Panglong. Semua suku diundang dalam persiapan tersebut, kecuali umat Islam Rohingya.
Pada tanggal 4 Januari 1948, Inggris memerdekakan Burma secara penuh disertai persyaratan masing-masing suku bisa memerdekakan diri dari Burma apabila mereka menginginkannya. Namun suku Birma menyelisihi poin perjanjian tersebut. Mereka tetap menguasai wilayah Arakan dan tidak mendengarkan suara masyarakat muslim Rohingya dan Budha Magh yang ingin merdeka. Mereka pun melanjutkan intimidasi terhadap kaum muslimin.
Duka Muslim Arakan (Rakhine)

Pembakaran Desa Rohingya oleh pasukan dan warga Budha Myanmar
1. Pemusnahan Etnis
Sejak pemerintahan militer berkuasa di Myanmar melalui kudeta Jendral Ne Win tahun 1962 M, umat Islam Arakan mengalami berbagai bentuk kezaliman dan intimidasi. Dibunuh, diusir, diitekan hak-hak mereka, dan tidak diakui hak-hak kewarga-negaraannya. Mereka disamakan dengan orang-orang Bangladesh dalam hal agama, bahasa, dan fisik.
2. Menghapuskan identitas Islam dan pengaruhnya:

Hal ini dilakukan dengan cara menghancurkan peninggalan-peninggalan Islam. Yaitu menghancurkan masjid, madrasah, dan bangunan-bangunan bersejarah lainnya.
Lalu kaum muslimin dilarang sama sekali untuk membangun suatu bangunan yang berkaitan dengan Islam. Dilarang membangun masjid, madrasah, kantor-kantor dan perpustakaan, tempat penampungan anak yatim, dll.
Sebagian sekolah-sekolah Islam yang tersisa tidak mendapatkan pengakuan dari pemerintah, dilarang untuk dikembangkan, dan tidak diakui lulusannya.
3. Upaya “Burmanisasi”, meleburkan ajaran Islam dan menghilangkan identitasnya dalam masyarakat Budha:
Umat Islam diusir dari kampung halaman mereka. Tanah-tanah dan kebun-kebun pertanian mereka dirampas. Kemudian orang-orang Budha menguasainya dan membangunnya dengan harta-harta yang berasal dari kaum muslimin.
Atau membangunnya menjadi barak militer tanpa kompensasi apapun. Bagi mereka yang menolak, maka tebusannya adalah nyawa. Inilah militer fasis yang tidak mengenal belas kasihan.
4. Pengusiran dan diskriminasi dari wilayah Myanmar secara berkesinambungan:
- Pada tahun 1962 M, militer fasis Myanmar mengusir 300.000 orang Arakan ke wilayah Bangladesh.
- Pada tahun 1978 M, lebih dari 500.000 kaum muslimin diusir dan mengalami tekanan yang sangat berat hingga hampir 400.000 orang dari mereka tewas. Termasuk di dalamnya orang-orang tua, wanita, dan anak-anak.
- Tahun 1988, ada 150.000 kaum muslimin diusir karena orang-orang Budha hendak membangun desa mereka sebagai tempat percontohan.
- Tahun 1991, hampir 500.0000 orang muslim diusir. Hal ini karena hukuman atas kemenagnan partai oposisi (NLD) dalam pemilu yang mendapatkan suara dari umat Islam. Hasil pemilu pun dibatalkan.
- Membatalkan hak kewarganeraan umat Islam.
- Melakukan kerja paksa dengan tanpa mendapatkan makanan, minuman, dan transportasi.
- Umat Islam dilarang untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Apalagi duduk di banguku kuliah. Bagi mereka yang berusah mendapatkan pendidikan di luar negeri, kemudian kembali ke Myanmar dalam keadaan terdidik, maka akan dijebloskan ke dalam penjara.
- Secara umum, tidak boleh menjadi pegawai negara. Jika pun ada, maka tidak akan mendapatkan hak-haknya secara penuh.
- Dilarang melakukan perjalanan ke luar negeri, walaupun untuk beribadah haji. Mereka hanya diperbolehkan pergi ke Bangladesh dengan ketentuan waktu yang terbatas. Mereka tidak diperbolehkan berpergian ke Ibu Kota Rangon dan kota-kota lainnya di Myanmar. Jika mereka hendak pindah kota, harus mendapatkan surat izin yang jelas.
5. Diskriminasi dalam ekonomi
– Dibebani pajak yang tinggi dalam segala hal. Dikenakan banyak denda.
– Dipersulit melakukan perdagangan. Kecuali berniaga dengan militer. Itupun dijual dengan harga yang jauh di bawah standar atau dipaksa menjual sesuatu yang tidak ingin mereka jual. Hal itu bertujuan agar mereka terus dalam keadaan miskin.
Penutup
Demikian gambaran singkat keadaan muslim Rohingya. Sejak lama mereka ditindas dan menerima kekejaman umat Budha Myanmar, namun dunia enggan berbicara membela mereka. Tidak ada atas nama kemanusiaan. Tidak pula ada belas kasihan.
Pada tahun 1970-an Raja Faisal bin Abdul Aziz rahimahullah menjadi pemimpin dunia yang pertama membangun puluhan ribu camp pengungsi Rohingya di Arab Saudi. Saat ini sekitar seperempat juta warga Rohingya telah tinggal aman di Arab Saudi.
Saat ini kita melihat respon yang baik dari pemerintah Aceh, Turki, dan Arab Saudi, untuk menolong saudara-saudara kita kaum muslimin Rohingya yang tengah tertimpa musibah. Semoga Allah meringankan beban mereka.
Sumber : Artikel www.KisahMuslim.com
by Danu Wijaya danuw | Sep 1, 2017 | Artikel, Berita, Internasional
JAKARTA – Lembaga Kemanusiaan Aksi Cepat Tanggap (ACT) kembali menyebar daging kurban di tempat-tempat pengungsi Rohingya. Dengan demikian kebahagiaan Idul Adha di Indonesia bisa meredamkan kepiluan mereka.
“Insya Allah, tahun ini Global Qurban tak luput menyapa Muslim Rohingya yang tengah berduka di kamp-kamp pengungsian di Bangladesh,” kataHasan, salah satu mitra ACT di Chittagong lewat keterangan tertulisnya yang diterima Republika.co.id, Rabu (30/8).
Hasan memastikan, daging kurban yang diberikan masyarakat Indonesia bisa meredam pilu Rohingya di Bangladesh. Apalagi, gelombang pengungsi diperkirakan akan terus berdatangan menuju Coxs Bazar, Bangladesh.
“Jumat kemarin (25/8), mitra Aksi Cepat Tanggap di Chittagong, Bangladesh, para pengungsi akan mencari suaka terdekat, yakni Coxs Bazar,” katanya.
Menurut Hasan, Kamp Kutupalong dan Kamp Balukhali menjadi sasaran utama para warga Rohingya yang bereksodus ke Bangladesh. “Kamp Kutupalong saja kini sudah ada sekitar 15 ribu KK atau 66 ribu jiwa. Sementara itu, Kamp Balukhali sudah ada 4 ribu KK,” katanya.
Hasan menambahkan, menjelang Idul Adha, tak diragukan lagi jumlah tersebut akan terus bertambah. Menurutnya, akan banyak pengungsi baru yang merayakan Idul Adha pertamanya di kamp pengungsian.
“Idul Adha pada tahun lalu, jumlah daging kurban yang kami bagikan kepada para pengungsi Rohingya dirasa belum cukup. Meski demikian, berkat kerja keras relawan ACT hampir sebagian besar pengungsi mendapat daging kurban, meski jumlah yang mereka terima tidak begitu banyak,” tuturnya.
“Dengan makin banyaknya pengungsi baru yang datang, kami berharap perayaan Idul Adha kali ini dapat mengikis trauma teror yang tengah mereka alami,” katanya
Sumber : Republika
by Danu Wijaya danuw | Aug 30, 2017 | Artikel, Berita, Internasional
Organisasi Kerja Sama Negara Islam (OKI) mendesak Myanmar mengakui kaum minoritas Muslim Rohingya sebagai etnis resmi dengan memperbaiki undang-undang kewarganegaraan tahun 1982 yang diterapkan pemerintah mereka.
“Negara OKI mendesak pemerintah Myanmar menghilangkan akar masalah dengan mengembalikan status kewarganegaraan kaum Rohingya yang dicabut dalam UU Kewarganegaraan Tahun 1982,” kutip komunike resmi hasil pertemuan luar biasa OKI di Kuala Lumpur, Malaysia, pa
Selama ini, status kaum Rohingya memang tidak diakui dalam konstitusi Myanmar, sehingga mereka kerap jadi sasaran diskriminasi. Mereka tidak memiliki akta kelahiran, surat kematian, serta tidak dapat bersekolah dan bekerja.
OKI menganggap, pengakuan dan pemenuhan hak, serta kebijakan transparan terhadap etnis beragama merupakan salah satu solusi mengakhiri diskriminasi dan konflik kemanusiaan yang menimpa kaum minoritas di Myanmar selama ini.
“OKI meminta Myanmar memastikan kebijakan yang transparan dan inklusif pada komunitas keagamaan dengan melibatkan Rohingya sebagai bagian integral dari negara dan mempertimbangkan mereka sebagai etnis minoritas, seperti yang diserukan PBB,” tulis OKI.
Dalam pertemuan tingkat menteri yang dihadiri sekitar 56 negara itu, OKI juga mengadposi sebuah resolusi yang mendorong negara anggota untuk turut memberikan bantuan kemanusiaan yang inklusif bagi Myanmar.
Resolusi itu juga meminta pemerintahan de facto, Aung San Suu Kyi untuk membuka akses bagi bantuan kemanusiaan ke negara bagian Rakhine, tempat bentrokan dan kekerasan terhadap kaum Rohingya marak terjadi.
Kelompok pemerhati HAM di Myanmar, Burma Human Rights Network (BHRN), mengapresiasi upaya OKI yang mau turun tangan menangani konflik kemanusiaan dan dugaan pelanggaran HAM ini.
Direktur Eksekutif BHRN, Kyaw Win, berharap usaha OKI dan negara ASEAN benar-benar bisa membantu mengurangi penderitaan yang dialami oleh kaum Rohingya.
Win menilai, tekanan dan perhatian dunia internasional yang besar terhadap nasib kaum Rohingya ini telah mengurangi intensitas “penyerangan membabi-buta pasukan keamanan Myanmar terhadap penduduk Rohingya di Rakhine.”
“OKI harus mendukung pembentukan komisi investigasi PBB untuk menyelidiki situasi di rakhine, termasuk pelanggaran HAM yang terjadi pada 2012 lalu. Kami juga berharap OKI mau bekerja sama dengan negara lain memastikan PBB terus membahas resolusi pelanggaran HAM di Myanmar setiap tahunnya dalam sidang umum,” tutur Win dalam keterangan resminya.
Beberapa bulan belakangan, Rohingya kembali menjadi sorotan akibat kekerasan dan sikap represif aparat keamanan terhadap mereka.
Kekerasan terhadap etnis Muslim di Myanmar ini bukan yang pertama kali terjadi. Kekerasan sektarian terparah terhadap warga Rohingya dilakukan oleh kelompok Buddha pada 2012 lalu. Insiden ini menewaskan sekitar 200 orang dan menyebabkan 140 ribu orang kehilangan tempat tinggal.
Sumber : cnn
by Danu Wijaya danuw | Aug 30, 2017 | Artikel, Berita, Internasional
Banyak jamaah merasa takjub menyaksikan megahnya Masjid Namirah. Masjid ini terletak di atas padang pasir di Kota Arafah, sekitar 22 kilometer arah timur Kota Makkah.
Dinamai Namirah atau Namrah, dinisbatkan kepada sebuah gunung yang berada di sebelah barat masjid.
Masjid Namirah pada mulanya adalah sebuah masjid kecil yang dinamai Masjid Arafah atau Masjid Ibrahim. Masjid ini pernah menjadi tempat shalat oleh Nabi Ibrahim AS dan Nabi Muhammad SAW.
Menurut hikayat setempat, masjid ini merupakan salah satu saksi pertama kali Rasulullah melaksanakan ibadah haji. Pada 9 Dzulhijah, ketika Rasulullah melaksanakan haji dalam perjalanannya dari Mina menuju Arafah, ia sempat menghentikan unta yang dibawanya.
Ketika itu, sekitar waktu Dhuha, Rasulullah berhenti di Wadi Uranah dan mendirikan tenda berwarna merah. Rasulullah sempat beristirahat di tenda merahnya hingga waktu Zhuhur tiba.
Dalam perjalanan waktu setelah Rasulullah, wadi tempat mendirikan tenda tersebut dibangunlah sebuah masjid, yang kemudian diberi nama Namirah.
Masjid itu kemudian dibangun mulai secara besar oleh salah seorang khalifah dari Dinasti Abbasiyah sekitar abad kedua Hijriyah.
Sejarah mencatat, perluasan masjid dilakukan secara terus-menerus. Pada masa Pemerintahan Raja Qatyinbay 873-901 Hijriyah, masjid ini diperluas dan terus direnovasi.
Pada tahun 2001 dari 12 proyek pembangunan yang menghabiskan biaya hingga 144 juta riyal, Masjid Namirah merupakan salah satu proyek yang mendapat kucuran dana terbesar.
Sampai saat ini, setiap 9 Dzulhijah, aktivitas Rasulullah yang melakukan shalat Zhuhur dijamak dengan Ashar, masih tetap dilakukan oleh para jamaah haji. Dan, baru selepas Maghrib, jamaah meninggalkan tempat tersebut untuk kemudian menuju Muzdalifah.
Masjid yang memiliki luas 110 ribu meter persegi dengan rincian panjang 340 meter dan lebar 240 meter ini ditopang enam buah menara besar.
Masing-masing menara memiliki ketinggian sekitar 60 meter. Selain itu, masjid ini memiliki tiga buah kubah besar. Setidaknya, akan ditemukan sekitar 10 pintu masuk utama dan 64 pintu pendamping.
Untuk bisa menampung jamaah dalam jumlah banyak, masjid ini menyediakan pula sekitar 1.000 kamar mandi dan 15 ribu tempat wudhu. Untuk menambah kenyamanan para jamaah yang beribadah, pengelola masjid memasang ratusan mesin penyejuk udara.
Masjid ini mampu menampung hingga 350 ribu orang. Ketika musim haji tiba, masjid ini bisa menampung lebih banyak lagi jamaah. Megahnya masjid ini, memang tidak lepas dari peran serta Pemerintah Kerajaan Arab Saudi.
Sumber : Ihram.co.id
by Danu Wijaya danuw | Aug 29, 2017 | Artikel, Berita, Internasional
Antara 2.000 sampai 3.000 Muslim terbunuh di negara bagian Rakhine di Myanmar dalam tiga hari terakhir, Dewan Rohingya Eropa mengatakan pada hari Senin (28/8/2017).
Juru bicara dewan, Anita Schug mengatakan kepada Anadolu Agency antara 2.000 sampai 3.000 orang Muslim telah meninggal di negara bagian Rakhine, dan ribuan lainnya terluka dalam apa yang dia gambarkan sebagai “slow-burning genocide”.
“Ini [situasi di Rakhine] adalah slow-burning genocide yang terus berlanjut,” kata Schug, menuduh militer Myanmar berada di balik pembantaian tersebut.
Dia mengatakan hampir seribu umat Islam terbunuh pada hari Ahad (27/8/2017) di desa Saugpara, Rathedaung.
Lebih dari 100.000 warga sipil telah mengungsi dari Rakhine, sementara 2.000 Muslim lainnya terjebak di perbatasan Myanmar-Bangladesh yang ditutup oleh pemerintah Bangladesh, Schug menambahkan.
Dia juga mengatakan bahwa seratus penduduk desa dari Auk Nan Yar dibawa ke tempat yang tidak diketahui pada hari Rabu, menambahkan bahwa ada kekhawatiran akan keselamatan mereka.
Serangan mematikan terhadap pos-pos perbatasan di negara bagian Rakhine, Myanmar barat, pecah pada hari Jumat (25/8/2017), mengakibatkan korban sipil massal.
Kemudian, laporan media muncul dengan mengatakan bahwa pasukan keamanan Myanmar menggunakan kekuatan yang tidak proporsional dan mengungsikan ribuan warga desa Rohingya, menghancurkan rumah dengan mortir dan senapan mesin.
Daerah ini telah mengalami ketegangan antara populasi Budhis dan Muslim sejak kekerasan komunal terjadi pada tahun 2012.
Sebuah operasi keamanan yang diluncurkan pada bulan Oktober tahun lalu di Maungdaw, di mana Rohingya adalah warga mayoritas di daerah tersebut, menyebabkan pelanggaran hak asasi manusia oleh pasukan keamanan yang mengindikasikan kejahatan terhadap kemanusiaan, menurut laporan PBB.
PBB mendokumentasikan pemerkosaan kelompok massal, pembunuhan, termasuk bayi dan anak-anak, pemukulan brutal dan penculikan. Perwakilan Rohingya mengatakan sekitar 400 orang tewas dalam operasi tersebut.
Rohingya adalah komunitas tanpa kewarganegaraan terbesar di dunia dan salah satu minoritas yang paling teraniaya.
Dengan menggunakan dialek yang serupa dengan yang diucapkan di Chittagong di tenggara Bangladesh, Muslim Rohingya dibenci oleh banyak orang di Myanmar yang beragama Buddha yang melihat mereka sebagai imigran ilegal dan menyebut mereka “Bengali” – meskipun banyak warga Rohingya telah tinggal di Myanmar selama beberapa generasi.
Mereka tidak secara resmi diakui sebagai kelompok etnis, sebagian karena undang-undang 1982 yang menetapkan bahwa kaum minoritas harus membuktikan bahwa mereka tinggal di Myanmar sebelum tahun 1823 – sebelum perang Anglo-Burma pertama – untuk mendapatkan kewarganegaraan.
Sebagian besar tinggal di negara bagian Rakhine barat yang miskin namun ditolak kewarganegaraannya dan dilecehkan dengan pembatasan pergerakan dan akses pekerjaan.
Sebanyak 400.000 lainnya tinggal di kamp-kamp di Bangladesh, meskipun Dhaka hanya mengakui sebagian kecil sebagai pengungsi.
Sumber :Daily Sabah