by Danu Wijaya danuw | Sep 27, 2017 | Artikel, Berita, Internasional
UKHIA, BANGLADESH – Hujan yang lebat semakin menumpuk kesengsaraan baru pada ratusan ribu Muslim Rohinyga yang terjebak di kamp darurat di Bangladesh setelah melarikan diri dari kekerasan di Myanmar.
Sekitar 7,7 cm hujan turun dalam 24 jam dan diperkirakan bertambah lagi dalam dua hari ke depan, kata Departemen Cuaca Bangladesh.
“Hujan telah melipatgandakan kesengsaraan mereka,” kata Mohammed Kai-Kislu, kepala polisi di Ukhia dekat Cox’s Bazar, rumah baru bagi banyak orang Rohingya.
Pekerja bantuan mengatakan ribuan orang Rohingya basah oleh kembalinya musim hujan setelah beberapa hari tidak turun.
Arfa Begum dan tujuh keluarganya mencoba bersembunyi di bawah pohon karet di dekat pemukiman Balukhali dimana mereka tiba lima hari sebelumnya.
“Mereka mengusir kami dari perkebunan karet,” katanya, merujuk pada polisi dan penjaga perbatasan yang memaksa para pengungsi keluar dari tempat penampungan darurat.
“Butuh waktu berjam-jam untuk menemukan tempat yang aman. Kami basah kuyup, “katanya kepada AFP.
Dihadapkan dengan kubangan lumpur yang menyebar, Muslim Rohingya sudah mulai membangun karpet bambu untuk melewati tanah yang banjir.
Seorang pakar hak asasi manusia di Cox’s Bazar mendesak pemerintah untuk menutup sekolah lokal selama tiga hari untuk mengizinkan orang Rohingya berkemah di dalamnya.
“Ini adalah bencana lain yang sedang berlangsung. Ribuan orang Rohingya tidak memiliki tempat untuk bersembunyi saat hujan turun, “kata Nur Khan Liton, yang memimpin kelompok hak asasi Bangladesh Ain O Salish Kendra, kepada AFP.
Kondisi penampungan pengungsi di Cox’s Bazar
Dengan kekurangan makanan dan air yang membuat hidup terasa berat, hujan deras membawa kondisi rawa-rawa ke banyak bagian kota perbatasan Cox’s Bazar yang telah menjadi magnet bagi Muslim Rohingya.
Pihak berwenang Bangladesh, yang telah mengeluarkan pembatasan perjalanan terhadap Rohingya, melancarkan operasi pada Sabtu malam untuk memindahkan puluhan ribu orang dari kamp-kamp di pinggir jalan dan gubuk-gubuk di lereng bukit menuju sebuah kamp baru raksasa.
PBB mengatakan 409.000 orang Rohingya sekarang telah memenuhi Cox’s Bazar sejak 25 Agustus ketika militer di Myanmar yang mayoritas umat Buddha meluncurkan operasi di negara bagian Rakhine.
Karena kamp-kamp yang ada sudah penuh dengan 300.000 Rohingya yang melarikan diri dari kekerasan sebelumnya, sebagian besar warga Rohingya terpaksa tinggal di udara terbuka atau di bawah lembaran plastik tipis.
Polisi berkeliling ke jalan-jalan dengan pengeras suara memerintahkan keluarga-keluarga yang kelelahan untuk pergi ke kamp Balukhali di Cox’s Bazar, yang sedang dibersihkan untuk membangun tempat penampungan baru.
“Kami memindahkan mereka dari pinggir jalan dimana banyak dari mereka tinggal,” Khaled Mahmud, juru bicara pemerintah untuk distrik Cox’s Bazar mengatakan kepada AFP.
Mahmud mengatakan secara bertahap semua Warga Rohingya baru akan dibawa ke Balukhali.
Pada hari Sabtu, polisi Bangladesh mengeluarkan perintah baru yang keras yang melarang warga Rohingya untuk pindah dari wilayah yang ditentukan.
Perintah tersebut bahkan mencegah mereka berlindung dengan teman dan saudara mereka. Pos pemeriksaan telah disiapkan di titik transit utama.
Dengan ribuan lainnya Rohingya tiba setiap hari, pemerintah Bangladesh khawatir para pengungsi bisa menggerogoti kota-kota lain di seluruh negeri.
Namun PBB sudah memperingatkan kondisi yang tidak dapat ditolerir di kamp-kamp seputar Cox’s Bazar.
Peraih Nobel Perdamaian Aung San Suu Kyi, yang banyak dikritik di seluruh dunia karena tidak mengutuk kekerasan terhadap Rohingya, harus menghadapi kemarahan global meski tidak membuat marah militer, yang memiliki kekuatan besar.
Jenderal Min Aung Hlaing, kepala tentara Myanmar yang sedang melakukan gencatan senjata, meminta pendirian “bersatu” dalam menangani krisis akibat tekanan duni, namun tidak memberikan tanda konsesi.
Sumber : VoaIslam
by Danu Wijaya danuw | Sep 26, 2017 | Artikel, Berita, Internasional
Baru-baru ini di sebuah acara TV Korea Selatan yang berjudul Hello Counselor, ada seorang perempuan cantik yang cerita tentang kisahnya selama tinggal di negeri ginseng itu.
Nggak bisa dipungkiri, memakai hijab di negara yang masih minoritas penduduk Muslim kayak Korea Selatan nggak menutup kemungkinan adanya hal-hal yang nggak mengenakkan, termasuk diskriminasi.
Nah, hal inilah yang diangkat sama di salah satu segmen acara ini.
Dalam sebuah episode yang juga kedatangan tamu anggota G.O.D Joon ini, ada seorang wanita asal Uzbekistan yang dateng buat ngebagiin ceritanya selama tinggal di Korea yang berhubungan sama hijab yang dia kenakan.
Dilansir dari Allkpop, Meski udah jadi warga negara Korea Selatan dan menikah dan juga punya seorang putri, tapi wanita berumur 28 tahun ini nggak bisa membendung air matanya.

Hampir menangis saat bercerita
Waktu nyeritain pelakuan yang doi terima waktu mengenakan hijab kayak dianggap sebagai teroris dan tasnya harus diperiksa lebih dulu sebelum masuk ke dalam sebuah perpustakaan.
Nggak cuma verbal, wanita ini juga sempet ngalamin kejadian dimana ada seorang ibu-ibu yang menarik hijabnya di supermarket dan memintanya buat ngelepasin.
Lewat kemunculannya di acara KBS itu, doi berharap supaya tindakan serupa nggak bakal terjadi lagi baik buat anaknya dan juga wanita muslim lainnya yang pakai hijab di Korea.
Banyak penonton acara itu di studio yang ngekspresiin kekecewaan mereka terhadap perlakuan beberapa warga Korea yang cenderung mendiskriminasi wanita itu.
Bahkan para MC dan juga bintang tamu juga ikutan naik pitam begitu denger kisahnya.

MC Acara TV
Liat deh kisah wanita ini selengkapnya di video ini: Link
Gimana nih menurutmu? Mungkin nggak cuma di Korea Selatan aja, yang namanya diskrimasi emang masih banyak terjadi di berbagai belahan dunia ini.
Tapi kamu juga harus selalu inget, kalo pada dasarnya manusia tuh sama aja. Jadi, say no to discrimination!
Sumber : Keepo.me
Referensi : via //www.youtube.com/c/kbsworldtv
by Danu Wijaya danuw | Sep 21, 2017 | Artikel, Berita, Internasional
New York – Negara-negara anggota Organisasi Kerjasama Islam (OKI) berkumpul di sela sidang umum PBB membahas masalah terhadap etnis Rohingya. Pertemuan ini untuk menjalankan formula 4+1 yang diusulkan Indonesia.
Pertemuan ini dilaksanakan di markas PBB, New York, Amerika Serikat (AS), Selasa (19/9/2017) waktu setempat. Delegasi Indonesia diwakili langsung oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK).
“Pertemuan OKI di Markas PBB penekanan pada formula 4+1 dan ajakan untuk bantu Myanmar yang sebelumnya telah disampaikan RI,” kata juru bicara Wapres JK, Husain Abdullah.
Indonesia telah mengirimkan bantuan kemanusiaan bagi para pengungsi Rakhine yang berada di perbatasan Banglades dan Myanmar. Menurut Husain, Formula 4+1 berisi soal upaya menjaga stabilitas keamanan di Rakhine State.
“Pada pertemuan OKI di markas PBB, Wapres Jusuf Kalla berkesempatan menyampaikan poin poin penting tersebut,” terangnya.
Berikut isi formula 4+1 yang ditawarkan oleh pemerintah Indonesia:
- Mengembalikan stabilitas dan keamanan.
- Menahan diri secara maksimal dan tidak menggunakan kekerasan.
- Perlindungan kepada semua orang yang berada di Rakhine State, tanpa memandang suku dan agama.
- Pentingnya segera dibuka akses untuk bantuan kemanusiaan
by Danu Wijaya danuw | Sep 19, 2017 | Artikel, Berita, Internasional
Jakarta – Bantuan dari masyarakat Indonesia untuk pengungsi Rohingya tiba di Bangladesh. Bantuan yang diangkut pesawat Hercules A 1316 itu tiba di Bandara International Shah Amanat, Chittagong, Bangladesh, pada Kamis dan Jumat, 14-15 September 2017, waktu setempat.
Duta Besar Indonesia untuk Bangladesh, Rina Soemarno, menyambut langsung bantuan tersebut dengan didampingi perwakilan pemerintah Bangladesh. Dia pun lantas menyerahkan bantuan kepada pemerintah Bangladesh, yang diwakili District Commissioner Chittagong Md Zillur Rahman Chowdhury.
“Senang sekali menerima kiriman bantuan kemanusiaan untuk Bangladesh dari Indonesia. Ini sudah ditunggu-tunggu,” kata Rina dalam keterangannya, Jumat, 15 September 2017.
Menurut Rina, setelah diserahkan kepada pemerintah Bangladesh, bantuan itu akan segera didistribusikan ke para pengungsi yang ada di Kota Coxs Bazar. Kota itu merupakan wilayah terdekat dengan daerah pengungsi, yaitu sekitar 170 kilometer dari Chittagong.
Rina, yang sudah mengunjungi Coxs Bazar, menuturkan para pengungsi menggunakan tenda untuk berlindung. Dia menilai tenda-tenda pengungsi cukup memprihatinkan. Selain melebihi kapasitas, tempat perlindungan dibangun asal-asalan. “Hanya didukung tenda bambu. Kalau kena angin atau hujan angin, tenda akan terbang,” ujarnya.
Bantuan Indonesia untuk pengungsi Rohingya itu secara resmi dikirim pemerintah pada Rabu lalu. Presiden Joko Widodo memimpin langsung pengiriman bantuan, yang diterbangkan dalam empat pesawat.
Bantuan dikirim dari dua pesawat yang diterbangkan dari Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta. Disusul dua pesawat berisi bantuan lain akan segera menyusul esok dari Pangkalan TNI Angkatan Udara Sultan Iskandar Muda, Aceh.
Pesawat tersebut membawa bantuan sebanyak 34 ton untuk pengungsi Rohingya berupa berbagai makanan cepat saji, beras, pakaian, selimut, dan tenda.
by Danu Wijaya danuw | Sep 14, 2017 | Artikel, Berita, Internasional
Di tengah aksi pembantaian yang dilakukan militer kepada etnis Rohingya di Rakhine, Myanmar, Pemimpin Katolik Paus Fransiskus mengumumkan akan berkunjung ke negeri tersebut.
Sebagaimana dikutip Telegraph, Minggu (3/8), Vatikan sejak pekan lalu telah mengumumkan rencana Paus mengunjungi Myanmar pada November mendatang. Pengumuman ini disampaikan saat ribuan etnis Rohingya terusir paksa dan melarikan diri ke Bangladesh.
Paus turut menyoroti aksi pembantaian tersebut. Ia bahkan mengajak umat Katolik berkumpul di Lapangan Santo Petrus, Roma dan mendoakan keselamatan etnis Rohingya.
“Ada berita duka tentang penganiayaan terhadap minoritas agama dari saudara Rohingya kami. Semoga Tuhan menyelamatkan mereka,” pungkasnya.
Sebanyak 800 orang warga Rakhine, termasuk perempuan dan anak-anak, dilaporkan tewas dalam pembersihan ‘etnis rohingya’ yang dilakukan militer rezim Aung San Suu Kyi.
Pekan ini, tercatat sebanyak 3 ribu pengungsi Rohingya berada di daerah perbatasan Bangladesh. Mereka bertahan di tempat tak bertuan tersebut demi menghindari penganiayaan dari pemerintah Myanmar.
Sumber : Rmol/Telegraph
by Danu Wijaya danuw | Sep 14, 2017 | Artikel, Berita, Internasional, Sejarah
Pembantaian etnis Rohingya belum juga berakhir. Setelah dihebohkan dengan ribuan pengungsi yang mengapung di atas kapal pada tahun 2015 lalu, kini gelombang itu kembali terjadi. Pada 25 Agustus militer Myanmar membantai etnis Rohingya di negara bagian Rakhine. Aksi tersebut mengakibatkan 300 ribu lebih warga rohingya mengungsi ke Bangladesh.
Apa penyebab dari rumitnya krisis di Myanmar ini?
Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia, Hikmahanto Juwana menilai situasi ini tak lepas dari tidak diakuinya etnis Rohingya sebagai warga Myanmar oleh rezim yang tengah berkuasa.
“Bahkan ada kecenderungan pemerintah Myanmar melakukan ethnic cleansing (pembersihan etnis) saat terjadinya konflik antar etnis Rohingya dengan otoritas Myanmar,” ujar Hikmahanto seperti dikutip dari Historia.
Hal yang sama juga diungkapkan oleh Moshe Yegar dalam Between Integration and Secession: The Muslim Communities of the Southern Philippines, Southern Thailand, and Western Burma.
Mereka mengungkapkan, masyarakat Rohingya tidak lagi diakui kewarganegaraannya oleh pemerintah Myanmar sejak 1982. Dua dekade setelah terjadinya kudeta militer oleh Jenderal Ne Win, hingga menetapkan pemerintahan junta militer.
Paspor mereka dicabut, hak-hak politik mereka dikebiri. Dalam Debating Democratization in Myanmar yang dirangkum Nick Cheesman dan Nicholas Farrelly, masyarakat muslim Rohingya Myanmar tidak lagi dicantumkan sebagai satu dari 135 kelompok etnis resmi yang disebut national races di Myanmar.
Bapak Bangsa Myanmar Dulu Dekat dengan Muslim Rohingya
Jika dilihat secara historis, Bapak Bangsa Myanmar, U Aung San ayah dari Aung San Suu Kyi, pernah merangkul Muslim Rohingya. Aung San merangkul etnis yang kini tidak diakui itu sebelum Myanmar merdeka pada tahun 1948.
Pada Perang Dunia II, Aung San dengan kelompok antifasisnya bahu-membahu dengan milisi Rohingya yang didukung Inggris dalam memerangi Jepang.
“Bapak Aung San dengan sangat ramah menerima Rohingya sebagai satu dari ras asli Burma sebagaimana Kachin, Kayah, Karen, Chin, Mon dan Rakhine.”
“Dia menjamin kewarganegaraan (warga Rohingya) saat bertemu para petinggi muslim di Akyab, Mei 1946,” sebut U Kyaw Min alias Shamsul Anwarul Haque, dalam artikel Legal Nexus Between Rohingya and the State di jurnal An Assessment of the Question of Rohingya’s Nationality.
Muslim Rohingya Pernah Mengisi Parlemen Myanmar
Saat Myanmar merdeka, Muslim Rohingya bisa hidup tenang. Mereka menikmati semua hak nya sebagai warga negara. Mereka benar-benar bisa hidup setara di bawah payung Residents of Burma Registration Act yang dirilis 1949 dan disusul Burma Registration Rules pada 1951.

Surat pengakuan etnis rohingya myanmar kala itu
Tak hanya itu, pada tahun 1951 seorang etnis Rohingya berhak mencalonkan diri sebagai anggota parlemen. Mereka mewakili daerah-daerah pemilihan (dapil) Buthidaung Utara, Buthidaung Selatan, Maungdaw Utara serta Maungdaw Selatan.
Tercatat beberapa nama anggota parlemen terkemuka asal Rohingya. Sebut saja nama-nama seperti Abdul Gaffar, Abul Bashar, Sultan Ahmed, Daw Awe Nyunt (a) Zurah, Ezar Meah, Sultan Mahmood, Abul Khair, Rashid, hingga MA Subhan.
Kebudayaan dan Hak Ibadah Haji Muslim Rohingya Dijamin Kala Itu
Apresiasi pemerintah terhadap kebudayaan Rohingya diperlihatkan pula dengan adanya acara program bahasa Rohingya d BBS (Burma Broadcasting Service) atau stasiun radio milik pemerintah Myanmar.
Hak-hak beragama pun dijamin oleh pemerintah. Untuk mengikuti ibadah haji misalnya, pemerintah Myanmar menerbitkan paspor bagi masyarakat Rohingya yang sudah memiliki NRC (Kartu Registrasi Nasional) dan FRC (Sertifikat Registrasi Orang Asing), agar mereka bisa pergi naik haji ke Makkah.
Kudeta Militer Myanmar dan Pencabutan Kewarganegaraan Etnis Rohingya
Akan tetapi, kedamaian itu berakhir sejak kudeta dilakukan oleh pihak militer pimpinan Jenderal Ne Win pada 2 Maret 1962.

Pemimpin Kudeta, Jenderal Ne Win
Pemerintahan junta militer lantas melindas pemerintahan sipil AFPFL (Liga Kebebasan Rakyat Anti-Fasis) yang kala itu dipimpin Perdana Menteri U Nu.
Usai berhasil menggulingkan U Nu, secara sistematis hak-hak politik masyarakat Rohingya dihapuskan. Baik dalam mengikuti pencalonan, maupun memberikan suaranya dalam pemilu, melalui UU baru tentang Kewarganegaraan Tahun 1982. Benih-benih konflik mulai tertebar hingga menuai krisis hingga sekarang.
“Rohingya telah ada di Rakhine sejak dunia diciptakan. Arakan adalah tanah kami; tanah India selama seribu tahun lalu,” cetus politisi Rohingya Kyaw Min dalam suratkabar The Economist 3 November 2012.
Pemerintah junta militer Myanmar sudah tak lagi menjabat sejak 2016. Saat ini Pemerintahan dipimpin oleh wakil dari partai pimpinan Aung San Suu Kyi. Lewat Pemilu, NLD (Liga Nasional Demokratik) pimpinan Aung San Suu Kyi, dan wakilnya, U Htin Kyaw berhasil jadi presiden.
Meski pemerintahan junta militer sudah berakhir. Muslim Rohingya belum mendapat hak-haknya sebagai warga negara.
Agaknya Suu Kyi tak belajar dari sang ayah. Maka tak heran, Sang Ayah yang pernah merangkul Muslim Rohingya ini dikenal sebagai Bapak Bangsa Myanmar.
Oleh : Eva F Hasan
Sumber : Islampos/Historia/TheEconomist