by Danu Wijaya danuw | May 22, 2017 | Artikel, Berita, Internasional
Riyadh – Raja Salman bin Abdulaziz al-Saud meratapi tentang kehancuran Suriah kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang berkunjung ke Arab Saudi.
Arab Saudi merupakan pendukung utama pasukan pemberontak di Suriah dan Raja Salman meratapi kehancuran yang disebabkan oleh perang sipil di Suriah saat bertemu Trump di Riyadh.
“Suriah juga dulu adalah salah satu negara paling maju,” kata Raja Salman kepada Trump, menurut laporan pers Gedung Putih seperti dikutip dari Independent.
“Kami menyekolahkan profesor kami di Suriah. Mereka melayani kerajaan kami. Sayangnya, mereka juga membawa kehancuran ke negara mereka sendiri. Anda bisa menghancurkan sebuah negara hanya dalam hitungan detik, tapi butuh banyak usaha untuk mengembalikannya,” kata Raja Salman.
Perang saudara pasukan Bashar al-Assad, pemberontak anti-pemerintah, ISIS, dan kelompok-kelompok yang terkait dengan Al-Qaeda di Suriah telah berlangsung selama lebih dari enam tahun.
Arab Saudi memberikan bantuan militer dan keuangan yang signifikan kepada beberapa kelompok pemberontak melawan kediktatoran Assad yang membunuhi rakyatnya sendiri.
Raja Salman: Kunjungan Trump ke Saudi Akan Perkuat Keamanan Dunia
Raja Salman bin Abdulaziz mengatakan, kunjungan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump ke Saudi akan memberikan kontribusi pada keamanan global, dan pengembangan kerja sama bilateral.
“Kami menyambut Trump ke Kerajaan Arab Saudi. Presiden, kunjungan Anda akan memperkuat kerjasama strategis kami, yang mengarah pada keamanan dan stabilitas global,” kata Raja Salam melalui akun Twitter pribadinya, seperti dilansir Sputnik pada Minggu (21/5).
Trump sendiri diketahui telah tiba di ibukota Saudi, Riyadh kemarin. Dia datang ke Saudi untuk menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi Arab Islam dan AS, dan juga untuk melakukan pertemuan bilateral dengan Raja Salman.
Setibanya di Saudi, Trump langsung disambut oleh Raja Salam. Pemimpin Saudi itu langsung menyalami Trump ketika Presiden AS itu turun dari tangga pesawat.
Raja Salman, Trump dan rombongan lantas pindah ke Royal Court (Istana Kerajaan), di mana presiden AS itu dianugerahi medali emas oleh sang Raja Arab Saudi.
Sambutan Berbeda dibanding Presiden AS Sebelumnya
Sambutan terhadap Trump ini berbeda dengan yang diberikan kepada Presiden Obama dan Presiden George W. Bush di masa lalu.
Obama yang melakukan lawatan terakhir ke Saudi pada April 2016 tidak disambut Raja Salman. Dia hanya disambut oleh Gubernur Riyadh, Pangeran Faisal bin Bandar al-Saud.T
Presiden Trump juga dihadiahi medali emas oleh Raja Salman di Istana Kerajaan dalam kunjungannya kali ini ke Riyadh, Arab Saudi.
Terkait dengan KTT Arab Islam-AS, Trump dijadwalkan akan berpidato dalam acara tersebut. Dia akan menyampaikan visinya untuk membangun hubungan baik dengan dunia Islam. Trump juga akan menyerukan visi damai Islam.
Disadur : Tempo/SindoNews
by Danu Wijaya danuw | May 20, 2017 | Artikel, Berita, Nasional
Ribuan orang ikut Aksi Bela Ulama jilid II di Pontianak, Kalimantan Barat, pada hari Sabtu 20 mei 2017. Dari tempat berkumpul di Masjid Raya Mujahidin, massa bergerak ke Mapolda Kalbar.
Sejak Sabtu pagi, massa dari berbagai kelompok elemen Islam di Kalimantan Barat berdatangan ke Masjid Raya Mujahidin, Kota Pontianak, untuk mengikuti aksi damai bela ulama.
Seusai melakukan Shalat Zuhur berjamaah di masjid terbesar di Kota Pontianak itu, massa aksi damai melakukan konvoi menuju Mapolda Kalimantan Barat untuk menyuarakan tuntutannya.
Massa aksi juga mengecam pidato Gubernur Kalbar Cornelis yang mengungkit masalah ormas radikal terutama pidato bernada kebencian kepada FPI dan Sekjen MUI Tengku Zulkarnaen. Sehingga terjadi penghadangan kepada Ulama yang datang.

Massa longmarch dari Masjid Raya Mujahidin
Pidato itu juga dinilai provokatif dan dapat memecah persatuan dan kehormatan antaretnis dan agama di Kalbar.
Kegiatan Aksi Damai Bela Ulama di Kota Pontianak yang berbarengan dengan Pawai Dayak, yang semula dikhawatirkan terjadi gesekan, ternyata berjalan dengan aman. Hingga saat ini, kondisi Kota Pontianak terpantau aman dan terkendalai.

Massa berkumpul dilapangan Mapolda Jabar menuntut keadilan
Deklarasi Perdamaian Masyarakat Kalbar di Mapolda Kalbar yang dihadiri oleh
- Ketua DPD RI / Wakil Ketua MPR-RI Usman Sapta Odang
- Gubernur Kalbar Cornelis
- MH, Ketua DPRD Provinsi Kalbar dan Kota Pontianak
- Pangdam XII/Tpr Mayjen (TNI)
- Andika Perkasa, Wakil Wali Kota Pontianak
- Ketua MUI Prov Kalbar dan Kota Pontianak
- Ketua Forum Kesatuan Umat Beragama (FKUB) Prov Kalbar
- Ketua FKUB Kota Pontianak.
Kegiatan ini juga dihadiri para ketua adat Melayu; Batak; Madura; Jawa; Bugis; dan Thionghoa, para pimpinan NU; Muhamaddiyah Prov Kalbar, Ketua KNPI Prov Kalbar dan Kota Pontianak, ketua ormas Persatuan Orang Melayu (POM), ketua Pemuda Pancasila, serta beberapa tokoh masyarakat lainnya.

Protes massa dari tindakan pengusiran Ulama yang sering terjadi di Pontianak
Massa Aksi Bela Ulama yang dihadiri Ribuan Umat Islam di Pontianak menuntut agar Tidak ada lagi pengusiran terhadap Ulama yang datang ke Pontianak.
Dan berharap tidak ada provokasi yang menebar kebencian terhadap Islam serta ingin menjalin kedamaian antar umat beragama di Pontianak.
Aksi Bela Ulama ini juga diharapkan dapat menyadarkan masyarakat KalBar akan pentingnya memiliki gubernur muslim. Yang mana saat ini gubernur Kalbar dijabat oleh Cornelis seorang Katolik yang diusung PDIP.
Disadur : Viva/SindoNews
by Danu Wijaya danuw | May 20, 2017 | Adab dan Akhlak, Artikel
Seorang perempuan harus dapat menjaga iffahnya. Iffah artinya menahan diri dari sesuatu yang buruk dan tidak pantas. Al-Kharazz menyebutkan bahwa iffah adalah meninggalkan segala jenis syahwat dan menjaga kemaluan dari yang tidak pantas.
Namun secara sederhana kita dapat mengartikan iffah sebagai menjaga diri dan kehormatan serta bersopan santun. Cra berbicara, bergaul, berjalan, makan dan lain hal sebagainya merupakan gambaran dari iffah.
Allah swt berfirman mengenai perempuan-perempuan tua yang sudah renta, “Dan beriffah lebih baik bagi mereka…” ( QS An-Nur: 60)
Yang dapat kita ambil dari ayat teebut adalah, bahwa perempuan-perempuan tua saja Allah perintahkan menjaga iffahnya, lantas bagaimana yang masih muda.
Aisyah ra adalah gambaran perempuan yang luar biasa dalam menjaga iffahnya. Dalam suatu riwayat diceritakan, ketika datang seorang yang buta bernama ishaq, Aisyah langsung mengenakan hijabnya.
Kemudian Ishaq pun bertanya kepadanya, “Wahai Aisyah, apa engkau berhijab dariku? Bukankah aku seorang yang buta dan tak dapat melihatmu?”. Aisyah ra pun menjawab “ Walau engkau tidak dapat melihatku, tetapi aku bisa melihatmu.”
Ber-iffah atau bersopan santun bagi muslimah bukan hanya sekedar mengikuti tradisi.Iffah adalah ajaran agama yang harus dilakukan.
Gadis-gadis remaja yang kehilangan malu dan kesopanannya, sungguh cerminan betapa iffah sudah sulit ditemukan dimasyarakat luas.
Banyak remaja yang justru menonjolkan segala keburukannya dan dengan bangga menunjukan hasi-hasil kegiatan buruknya. Untuk itu penjelasan kembali tentang iffah seorang muslimah perlu dijelaskan kembali agar perempuan-perempuan Indonesia tidak kehilangan pijakannya.
Sumber : Ruang Muslimah/Karisya Preli
Dari Buku : Cara Nabi Mendidik Anak Perempuan. Misran Jusan dan Armansyah. Pro U media: Yogyakarta. 2016
by Danu Wijaya danuw | May 20, 2017 | Artikel, Berita, Nasional
INGGRIS – Wakil Presiden Jusuf Kalla mengangkat vonis atas Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok saat menyampaikan kuliah umum tentang Islam di Universitas Oxford, Inggris.
Dengan tema ‘Islam Jalan Tengah: Pengalaman Indonesia’, Kalla meminta negara-negara Eropa untuk menghormati vonis atas Basuki Tjahaja Purnama, berupa dua tahun penjara karena terbukti menista agama Islam.
“Saya sangat memahami bahwa Inggris dan negara-negara di Eropa memiliki undang-undang dan sistem hukum yang berbeda untuk persoalan ini,” jelasnya saat berbicara di Oxford Centre for Islamic Studies (OXCIS), Kamis (18/5/2017) petang waktu setempat seperti dilansir dari BBC
“Tapi sebagai bagian dari sistem demokrasi kita harus menegakkan tatanan hukum, kemandirian lembaga peradilan, dan menghormati satu sama lain,” ujarnya
Kepada sekitar 200 hadirin, Kalla menambahkan bahwa kasus penistaan agama tersebut saat ini sedang dalam proses banding.
Ia juga mengatakan bahwa secara pribadi mengenal Ahok yang digambarkannya sebagai gubernur yang punya dedikasi tapi juga impulsif.
Dalam sesi tanya jawab, hadirin bertanya soal Ahok dan Kalla menegaskan bahwa yang terjadi bukanlah diskriminasi agama.
“Ini soal demokrasi. Dalam demokrasi Anda harus siap menerima kemenangan dan kekalahan. Jika Anda kalah, Anda harus menerima kekalahan,” katanya.
Kasus yang dihadapi Ahok, menurutnya, adalah tentang penghinaan agama dan negara-negara lain juga punya aturan untuk penghinaan, misalnya di Thailand dengan peraturan bahwa raja dan kerajaan tak boleh dihina.
“Anda menghina raja, Anda akan dipenjara. Sama dengan di negara-negara lain, termasuk Indonesia. Anda tak boleh menghina agama dan Ahok, menurut pengadilan -setelah enam bulan menggelar perkara- bersalah,” kata Kalla.
“Di Inggris juga begitu, kalau dinyatakan bersalah, Anda akan dipenjara, apa pun agama Anda,” pungkasnya
Sumber : Merdeka
by Danu Wijaya danuw | May 20, 2017 | Sejarah
Mengkritisi Peran Boedi Outomo
Beberapa tahun terakhir terutama pasca era reformasi, tema pelurusan sejarah menjadi tema utama yang banyak dikupas di berbagai diskusi. Baik yang sifatnya obrolan ringan, diskusi kampus, seminar, bahkan sampai debat publik. Di dunia maya, diskusi tentang tema inipun marak. Artikel dan komentar muncul dari beragam profesi yang berbeda. Mulai dari mahasiswa, dosen, pemerhati sejarah, dan sejarawan turut serta meramaikan tema besar ini.
Salah satu isu penting yang dikritisi adalah ketetapan pemerintah mengenai hari peringatan kebangkitan nasional.
- Kenapa harus tanggal 20 Mei dijadikan sebagai hari kebangkitan nasional?
- Kenapa harus Boedi Oetomo dijadikan simbolnya?
Setidaknya dua pertanyaan fundamental di atas adalah gambaran wujud kegelisahan para sejarawan dan negarawan muslim.
Pemerintah menetapkan kelahiran BO sebagai hari peringatan kebangkitan Nasional pada tahun 1948. Saat itu kondisi bangsa tengah porak-poranda diterpa agresi Belanda dan terancam diistegrasi. Ki Hajar Dewantoro membicarakan kondisi pelik bangsa dengan menteri Mr. Ali Sastroamidjojo. Sehingga lahirlah ide untuk mengenang sebuah momen penting yang diperingati sebagai hari kebangkitan nasional. Usulan itu sampai ke telinga Bung Karno dan Bung Hatta. Akhirnya diputuskanlah 20 Mei yang notabene merupakan tanggal kelahiran BO sebagai hari peringatan yang dimaksud.
Keputusan yang dipandang aneh oleh sejarawan dan negarawan Muslim. Bagaimana mungkin kelahiran BO ditasbihkan sebagai hari bersejarah.
Memang benar bahwa keabsolutan sejarah bisa berubah menjadi relatif bila sudah bersentuhan dengan kepentingan politik dan kekuasaaan. Realitas sejarah bisa dengan mudah didistorsi bila bertolak belakang dengan spirit dan ideologi kekuasaan. Sejarah adalah milik penguasa.
Mengenal Boedi Outomo
“Boedi” artinya perangai atau tabiat sedangkan “Oetomo” berarti baik atau luhur. Boedi Oetomo yang dimaksud oleh pendirinya adalah perkumpulan yang akan mencapai sesuatu berdasarkan atas keluhuran budi, kebaikan perangai atau tabiat, kemahirannya.
Pada hari Minggu, 20 Mei 1908, bertempat di salah satu ruang belajar STOVIA, Soetomo menjelaskan gagasannya. Dia menyatakan bahwa hari depan bangsa dan Tanah Air ada di tangan mereka. Maka lahirlah Boedi Oetomo.
Perintis organisasi ini, menurut sejarawan bernama M.C. Ricklefs (1994), yaitu didirikan oleh Dr. Wahidin Soedirohoesodo (1857-1917). Ia adalah seorang lulusan Sekolah Dokter Jawa di Weltevreden (yang sesudah tahun 1900 dinamakan Stovia). Ia bekerja sebagai dokter pemerintah di Yogyakarta sampai tahun 1899.
BO beberapa kali mengadakan kongres untuk meletakkan garis pergerakannya. Pada kongres perdana di Yogyakarta tahun 1908, Cipto Mangunkusumo dan Dr. Rajiman Wedyodinigrat mengusulkan agar BO dijadikan partai politik dengan beranggotakan masyarakat banyak yang bukan priyayi, namun usul itu ditolak oleh kongres.
Memang mayoritas para pemimpin berasal kalangan “priayi” atau para bangsawan dari kalangan keraton, seperti Raden Adipati Tirtokoesoemo, bekas Bupati Karanganyar (presiden pertama Budi Utomo), dan Pangeran Ario Noto Dirodjo dari Keraton Pakualaman.
Aktifitas yang digeluti oleh BO boleh disebut hanya berkutat di bidang pendidikan dan kebudayaan. Sedangkan aktifitas politik tidak dilakukan sama sekali. Hal ini adalah keberhasilan politik etis yang diagendakan Belanda.
Sistem pendidikan yang dianut dalam BO sendiri adalah adopsi pendidikan Barat. BO sendiri sangat kooperatif dengan pemerintah Kolonial. Tak heran sejak tahun 1909, BO sudah disahkan oleh Belanda. Bahkan, anggaran dasarnya pun berbahasa Belanda.
Menjadi anggota BO tidak mudah. Selain bangsawan dan ningrat keturunan Jawa dan Madura jangan harap bisa bergabung. Nuansa kesukuan sempit sangat kental terasa.
Konsep persamaan derajat dan kesetaraan tidak dikenal dalam organisasi ini. Sistem pendidikan dan ekonomi yang dianut sejalan dengan kebijakan pemerintah kolonial pada masa itu. Terdapat tembok tebal yang memisahkan antara golongan bangsawan Jawa-Madura dengan inlander biasa.
Lalu pantaskah gerakan semacam ini dijadikan sebagai pelopor kebangkitan nasional?
Entah kebangkitan apa yang dimaksud. Setiap tahun momentum kelahirannya selalu diperingati oleh bangsa kita. Seakan-akan bangsa ini mengkhianati cita-cita luhurnya.
Kritik Para Sejarawan Terhadap BO

Asvi Marwan Adam, sejarawan LIPI menilai bahwa BO tidak layak disebut sebagai pelopor kebangkitan nasional. Menurutnya, BO bersifat kedaerahan sempit. “Hanya meliputi Jawa dan Madura saja” katanya.
Dalam buku yang ditulisnya, “Seabad Kontroversi Sejarah“ Asvi sendiri menulis bahwa Budi Utomo yang oleh banyak orang dipercaya sebagai simbol kebangkitan nasional, pada dasarnya merupakan lembaga yang mengutamakan kebudayaan dan pendidikan, dan jarang memainkan peran politik yang aktif. Padahal politik adalah pilar utama sebuah kebangkitan.
Pernyataan dari KH Firdaus AN malah lebih keras lagi. Menurut mantan ketua majelis syuro Syarikat Islam ini, BO adalah antek-antek penjajah. Beliau memberi bukti-bukti kongkret di antaranya:
- BO tidak memiliki andil sedikit pun untuk perjuangan kemerdekaan, karena mereka para pegawai negeri yang digaji Belanda untuk mempertahankan penjajahan atas Indonesia.
- BO tidak pula turut serta mengantarkan bangsa ini ke pintu gerbang kemedekaan, karena telah bubar pada tahun 1935.
- BO adalah organisasi sempit, lokal dan etnis, di mana hanya orang Jawa dan Madura elit yang boleh menjadi anggotanya. “Orang Betawi saja tidak boleh menjadi anggotanya,” kata KH. Firdaus AN dengan tegas.
Selain itu, KH Firdaus AN memaparkan, “Tidak pernah sekalipun rapat Boedi Oetomo membahas tentang kesadaran berbangsa dan bernegara yang merdeka. Mereka ini hanya membahas bagaimana memperbaiki taraf hidup orang-orang Jawa dan Madura di bawah pemerintahan Ratu Belanda, dan bagaimana memperbaiki nasib golongannya sendiri”.
Mengenai hubungan BO dengan Islam, KH Firdaus AN mengungkapkan adanya indikasi kebencian terhadap Islam di kalangan tokoh-tokoh Boedi Oetomo.
Noto Soeroto, salah seorang tokoh Boedi Oetomo, di dalam satu pidatonya tentang Gedachten van Kartini alsrichtsnoer voor de Indische Vereninging berkata: “Agama Islam merupakan batu karang yang sangat berbahaya. sebab itu soal agama harus disingkirkan, agar perahu kita tidak karam dalam gelombang kesulitan.”
Sebuah artikel di “Suara Umum”, sebuah media massa milik BO di bawah asuhan Dr Soetomo terbitan Surabaya, dikutip oleh A. Hassan di dalam Majalah “Al-Lisan” terdapat tulisan yang antara lain berbunyi,
“Digul lebih utama daripada Makkah”, “Buanglah ka’bah dan jadikanlah Demak itu Kamu Punya Kiblat!” (Al-Lisan nomor 24, 1938).
Fakta lainnya, ternyata ketua pertama BO, Raden Adipati Tirtokusumo, Bupati Karanganyar, ternyata adalah seorang anggota Freemasonry.
Spirit Kebangkitan Nasional Sarekat Islam

Kongres Sarekat Islam dengan anggota lintas daerah
Sebagai upaya meluruskan sejarah, bagi KH Firdaus AN, seharusnya pemerintah mengusung spirit kebangkitan nasional yang diprakarsai oleh Sarekat Dagang Islam (SDI).
Gerakan yang didirikan oleh Haji Samanhudi pada tanggal 16 Oktober 1905 ini lebih membumi. SDI yang berganti nama menjadi Sarekat Islam (SI) keanggotanya berasal dari beragam etnis, daerah, dan suku di seluruh Indonesia.
Haji Samanhudi dan HOS Tjokroaminoto berasal dari Jawa Tengah dan Timur, Agus Salim dan Abdoel Moeis dari Sumater Barat, dan AM. Sangaji dari Maluku. Sifat menasional Sarekat Islam juga tampak dari penyebarannya yang menyentuh pelosok-pelosok desa.
Di berbagai daerah untuk tahun 1916 saja, SI berhasil membuka 181 cabang di seluruh Indonesia. Jumlah anggota kurang lebih 700.000 orang. Tahun 1919 melonjak drastis hingga mencapai 2 juta orang. Sebuah angka yang fantastis kala itu. Jika dibandingkan dengan BO pada masa keemasannya saja hanya beranggotan tak lebih dari 10.000 orang.
Berbeda dengan BO yang tidak berani terjun ke dunia politik, akibat kebijakan politik etis Belanda saat itu. SI dengan gagah menekuni dunia politik dan berkonfrontasi langsung dengan penjajah. Belanda menganggap ini sebagai ancaman atas eksistensi mereka.
Mengingat cakupan SI yang luas meliputi bidang keagamaan, sosial, ekonomi, pendidikan, dan tentunya politik, akhirnya banyak anggota SI ditangkap, di buang ke Digul Irian Barat, atau dibunuh.
Perlakuan yang tentu tidak sama dengan apa yang dirasakan anggota BO. Inilah faktor utama yang membuat rakyat respek dan simpati pada perjuangan SI.
Walaupun organisasi ini berlabel agama, dimana selain kaum muslimin tidak boleh menjadi anggota, bukan berarti SI tidak peka terhadap perbedaan. Alasan menggunakan label Islam, karena hanya itulah harta yang tersisa, selebihnya telah dirampas Belanda.
Islam juga diyakini bisa menjadi sarana pemersatu bangsa. Bagaimanapun juga Islam mengakui plularitas. Islam mensejahterakan semua rakyat. Islam senantisa berpihak kepada yang lemah. Adanya faktor Islam inilah yang membuat SI lebih progresif, tidak terbatas pada kelompok tertentu, dan menginginkan adanya kemajuan bagi seluruh rakyat.
Upaya KH Firdaus AN pelurusan sejarah ternyata diamini juga oleh Asvi Marwan Adam. Baginya SI juga merupakan penggerak jiwa nasionalisme dan patriotisme yang tidak hanya mengedepankan otot dan kekuatan dalam melawan kolonialisme, meskipun SI menjadikan sentimen keagaamaan sebagai landasan pergerakannya. Sehingga tidak sedikit dari sejarawan yang berpendapat bahwa 16 oktober tanggal lahirnya SI lebih layak menjadi patokan kebangkitan nasional.
Kesimpulan keberpihakan Sejarah
Bila kita turut mengkaji sejarah Indonesia, terkesan ada upaya-upaya sistematis yang dilakukan oleh pihak-pihak sekuler untuk mengebiri peran umat Islam. Padahal sumbangsih umat Islam dalam perjuangan pra dan pasca kemerdekaan Indonesia tidak bisa dipungkiri. Proses deislamisasi tampak halus. Bagi umat Islam Indonesia yang tidak peka sejarah, tentu akan menerima begitu saja.
Mereka membesar-besarkan hari-hari dan tokoh-tokoh yang momen dan perannya tidak begitu dominan. Sejarah perjuangan bangsa ini sesungguhnya didominasi oleh perjuangan umat Islam.
Tanpa menihilkan peran umat agama lainnya, umat Islam punya andil yang nyata dalam menggelorakan semangat persatuan. Umat Islam memilih berkronfontasi dengan penjajah daripada kooperatif dengan mereka. Umat ini tidak pernah menerima kedaulatan atas tanah airnya dicederai, harga dirinya diinjak-injak, dan haknya dirampas.
Aneh sekali bila ormas dan partai Islam tidak turut ambil bagian dalam upaya pelurusan sejarah. Apalagi bila latah dan legowo menerima realitas pahit ini apa adanya. Bahkan, menjadikan beberapa hari peringatan yang ada sebagai syiar atau isu kampanye.
Padahal tema pelurusan sejarah adalah proyek besar. Proyek yang erat kaitannya dengan kemaslahatan umat untuk meraih legitimasinya atas perjuangan Republik ini.
Bagi pemerhati dan pakar sejarah, ada beberapa isu penting dari sejarah Republik ini yang perlu diluruskan. Upaya pelurusan sejarah ini telah, sedang, dan akan terus bergulir.
Ini penting dalam rangka mencerdaskan masyarakat dan mendudukkan perkara sesuai dengan hakikatnya. Harapannya agar kabut tebal yang menyelimuti isu-isu tersebut sedikit demi sedikit mulai hilang.
Rahasia-rahasia di baliknya mulai terungkap. Kebenaraan terselubung akan muncul dan tampak jelas di depan mata. Wallohu Maulana.
Dikutip dari : MuslimDaily
Oleh: Habib Ziadi, S.pdi
Alumni Ma’had Aly An-Nua’imy