by Danu Wijaya danuw | Sep 21, 2016 | Artikel, Dakwah
Dijalan cinta para pejuang, biarkan cinta berhenti di titik ketaatan. Meloncati rasa suka atau tidak suka. Melampaui batas cinta dan benci. Karena hikmah sejati tak selalu terungkap diawal pagi.
Karena seringkali kebodohan merabunkan kesan sesaat. Maka taat adalah prioritas yang kadang membuat perasaan-perasaan terkibas. Tetapi yakinlah, dijalan cinta para pejuang, Allah lebih tahu tentang kita.
Diantara jalan teragung meraih ilmu adalah takwa kepada Allah, sebagaimana firman-Nya, “Wattaqullah wa yu’allimukumullah (Dan bertakwalah kepada Allah, dan Allah akan mengajarkan ilmu kepada kalian.” Q.S. Al Baqarah : 282
Takwalah penjaga adab sepanjang jalan hingga kesejatian insan berilmu juga diketahui dari rasa takutnya kepada Allah sebagaimana terkandung dalam Q.S. Al Fathir ayat 28.
Sumber :
Menyimak Kicau Merajut Makna, Salim A. Fillah, ProU Media
by Danu Wijaya danuw | Sep 20, 2016 | Artikel, Dakwah
Seperti yang dilakukan Umar bin Khattab ketika bergunung-gunung harta Kemaharajaan Persia kilau kemilau berhasil didapat kaum muslimin dan memenuhi kota Madinah.
Semua mengucap selamat dan doa-doa indah atas keberkahannya menggelorakan jihad, meninggikan kalimat Allah, memakmurkan muslimin. Tetapi dipojok sana, sang Khalifah menangis tersedu-sedu. Dihamparan intan, emas, dan segala benda mewah, air matanya tumpah.
“Mengapa kau menangis, hai Amirul Mukminin?” tanya seorang sahabat, “bukankah Allah telah bukakan keberkahan langit dan bumi bagi ummat ini melalui tanganmu?”
Maka Umar mendongak dengan mata memerah dan pipi basah, “Dusta, Demi Allah ini Dusta! Demi Allah bukan begitu! Sebab andai semua ini kebaikan,” ujarnya menunjuk tumpukan berlian dan mas kencana, “mengapa ia tak terjadi di zaman Abu Bakar, juga tidak di zaman Rasulullah? Maka demi Allah, ini semua pasti bukan puncak kebaikan!”
Sungguh pandangan jernih. Harta berlimpah itu bukan kebaikan. Sebab jika ia kebaikan harusnya terjadi pada orang terbaik.
Sedangkan sabda Nabi adalah benar, “Sebaik-baik kurun adalah masaku, kemudian yang berikutnya, kemudian yang mengikutinya.” HR. Bukhari-Muslim
Maka adakah hari ini kita menimbang kebaikan yang melimpahi dengan ukuran orang-orang terbaik soal rezeki, ibadah dan dakwah?
Sumber :
Menyimak Kicau Merajut Makna, Salim A. Fillah, ProU Media
by Danu Wijaya danuw | Sep 20, 2016 | Artikel, Dakwah
Perkenalan Imam Syafi’i dengan Imam Ahmad membuat mereka bersahabat dan saling berguru seterusnya.
Saat murid-murid Asy Syafi’i keberatan mengapa beliau mengunjungi Ahmad yang mereka anggap murid beliau, Asy Syafi’i melantunkan syair. “Semua kemuliaan ada pada Ahmad. Jika dia mengunjungiku itu kemurahan hatinya. Jika aku mengunjunginya, itu sebab keutamaannya.”
Suatu hari Yahya bin Ma’in menegur Ahmad yang dianggap merendahkan ilmu yang mulia dengan menuntun kendaraan Asy Syafi’i. “Katakan kepada Yahya,” jawab Ahmad, “aku berada dalam kemuliaan yang jika dia menginginkan keluruhan serupa, marilah kesini akan kutuntun keledai Asy Syafi’i disebelah kiri dan silakan dia menuntunnya dari sisi yang kanan. Itulah jalan kemuliaan.”
“Selama 40 tahun aku berdoa,” ujar Ahmad kelak, “tak pernah alpa kusebut nama Asy Syafi’i bersama smua pinta.” Ditanyakan kenapa?
“Asy Syafi’i adalah mentari bagi siang dan obat bagi penyakit, maka siapakah yang tak menghajatkan keduanya?”
Ahmadpun bersaksi, “Di tiap 100 tahun Allah bangkitkan seorang mujaddid untuk memelihara agama-Nya. Di abad lalu dialah Umar bin Abdul Aziz, dan di abad ini dialah Asy Syafi’i.”
Adapun Asy Syafi’i selalu berkata kepada Ahmad, “kau lebih tahu tentang suatu hadist, maka bawakan padaku yang shahih dari Nabi saw selalu, duhai sahabat kami yang kuat hafalan lagi terpercaya.”
Sumber :
Menyimak Kicau Merajut Makna, Salim A. Fillah, ProU Media
by Fauzi Bahreisy fauzibahreisy | Sep 19, 2016 | Artikel, Dakwah
Nabi saw bersabda, “Disebut berhijrah orang yang meninggalkan larangan Allah.” (HR. Bukhari)
Hijrah ada dua: hijrah makani (transformasi tempat) dan hijrah maknawi (transformasi sikap).
Tidak ada artinya berpindah tempat bila tidak disertai perubahan sikap dan perilaku.
Karena itu bila berpindah tempat bersifat kondisional, transformasi (perubahan) sikap bersifat permanen dan wajib sepanjang hayat.
Yaitu berpindah dari maksiat, dosa, dan keburukan menuju kepada ketaatan dan kebaikan.
by Fauzi Bahreisy fauzibahreisy | Sep 19, 2016 | Artikel, Dakwah
Bayangkan kalau Islam dipisahkan dari aktivitas politik, dari praktek ekonomi, dari kehidupan sosial, seni dan budaya. Maka manusia akan menghalalkan segala cara demi syahwat dan nafsunya.
Kalau Islam tidak mengurus itu semua, buat apa diturunkan ke dunia? Kalau Islam hanya ada di masjid dan hanya mengatur masalah shalat, mengapa sampai ditentang dan diperangi begitu rupa?
Justru Islam datang untuk menata iman, ibadah, muamalah, sosial, politik, dan seluruh aspek kehidupan manusia.
وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ
Artinya : Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab ( Al Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri. [Surat An-Nahl : 89]
by Fahmi Bahreisy Lc fahmibahreisy | Sep 18, 2016 | Artikel, Dakwah
Apabila mata hati sudah tertutup oleh prasangka, hati jadi buta dan tuli, segalanya akan disesuaikan dengan prasangkanya.
Kemuliaan sesungguhnya adalah bila Allah ridha kepada kita, walau seluruh manusia membenci tidak akan pernah rugi, tapi bila Allah murka pasti celaka
Walau manusia memuji. Siapapun yang lebih sibuk dengan PENILAIAN manusia dan mengabaikan penilaian ALLAH, niscaya akan semakin resah. Padahal manusia tak memberi manfaat tanpa seizinNYA.
Siapapun yang mencari kemuliaan bukan dari ALLAH, maka dia tak akan pernah mulia bahkan menjadi hina diperbudak oleh sesuatu.
Ingatlah bahwa KEMULIAAN seluruhnya hanya MILIK ALLAH. “Engkau muliakan siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan siapa yang Engkau kehendaki” (QS. 3:26)
Aa Gym mengatakan “Mencari kemuliaan dan kebahagiaan dengan harta benda dan penilaian manusia pasti tak akan pernah di dapat, hanya melelahkan batin dan semu belaka. Carilah kemuliaan di sisi Allah, di jamin bahagia, mulia yang asli dan kekal.”