0878 8077 4762 [email protected]

Perjalanan

Berkata Ibnul Jauzi, “Dia yang benar keyakinannya kan bersungguh-sungguh. Dia yang meyakini panjangnya jalan tuk ditempuh, kan siapkan bekal. Dia yang sedikit pengertiannya, akan terhambat. Dia yang tak mengerti apa yang ditujunya, kan tercerabut.”

Jika di Atas Jika

Jika harus minta keringanan, merengeklah laksana Ayyub. Mohon disisakan hati dan lisan menzikirNya kala sakit rontokkan raga.
Jika harus bersalah, khilaflah seperti Adam. Sergap kesadaran membangkitkan penyesalan dan kesiapan memenuhi amanah baru.
Jika harus tergoda, berdebarlah bagai Yusuf. Kejelitaan kuasa merayu dan kau sebenarnya mau, tapi kaupilih lari tersobek bajumu.
Jika lelah bersabar, mari bersyukur. Jika lelah berpikir, mari berdzikir.
Jika perintah Allah terasa berat bagi kita, cara membuat ia jadi ringan ialah dengan melaksanakannya. Hikmah dan mudahnya kan menyusuli.
Jika iman berkuncup dalam dada, ketaatan serasa surga yang dicicipkan. Kemaksiatan adalah bara neraka yang disudutkan.
Jika sama-sama sering berkelebat, maka dosa mungkin lebih baik daripada shalat. Agar kita tak henti membaikkan diri.
Jika kau bisa mengalahkan kejahatan dalam jiwamu, maka kejahatan orang padamu takkan membahayakanmu.
Jika terasa sakit kala dihadiahi nasihat, mungkin hati kita memang perlu dirawat inap.
Jika sedikit tak tersyukuri, banyak pun tak mencukupi.
Jika dalam sempit tak terlatih memberi, dalam lapang pun sulit berbagi.
 
Sumber :
Menyimak Kicau Merajut Makna, Salim A. Fillah, ProU Media

Jangan Berduka

Jangan berduka, sungguh Allah bersama kita. Mohonlah ampunan-Nya, pintalah rahmat-Nya, teruslah berbincang mesra dengan-Nya.
Jangan berduka, sungguh Allah bersama kita. Sucikan prasangka, lapangkanlah dada
Jangan berduka, sungguh Allah bersama kita. Ingat dan dekatilah, takut dan berharaplah, puji dan mengabdilah.
Jangan berduka, sungguh Allah bersama kita. Memihak dan membela, menjamin dan menjaga, meridhai dan mengaruniakan pahala.
Jangan berduka, sungguh Allah bersama kita. Diperjalanan yang panjang titiannya, sedikit pendukungnya, banyak timpaannya.
Jangan berduka, sungguh Allah bersama kita. Rasakan pengawasan-Nya, hati-hatilah dari mendurhakai-Nya, takutlah akan murka-Nya.
Jangan berduka, sungguh Allah bersama kita. Malulah bermalas dan sia-sia, baguskan kinerja, berjuanglah puncakkan karya.
 
Sumber :
Menyimak Kicau Merajut Makna, Salim A. Fillah, ProU Media

Kaidah Kuasa

Menurut Abu Bakar Ash Shiddiq, “Jika pasar mengalahkan masjid, maka masjid akan mati. Jika masjid mengalahkan pasar, maka pasar akan hidup.”
Adapun Umar bin Khattab bertutur, “Negeri akan baik jika orang shalihnya kuat, orang jahatnya lemah. Namun negeri pun rusak jika sebaliknya.”
“Pemimpin yang mudah menyerah pada tekanan menjatuhkan negara dalam kekacauan. Jernihlah selalu dengan ibadah.” papar Ustman bin Affan.
Sementara Ali bin Abi Thalib berujar, “Seperti apa rakyat, demikianlah Allah memberi pemimpin sebagai wajah mereka. Selanjutnya, maukah dia membaikkan diri?”
Umar bin Abdul Aziz pun menambahkan, “Memaksakan perubahan serta merta, melahirkan penolakan menyeluruh. Mulailah perbaikan dari pemahaman mendasar.”

Orang yang Dapat Menyentuh Hati

Sebagaimana kitab lhya’ Ulumuddin karya Al Ghazali :
Betapa banyak orang yang telah lama bergelut dan menyelami ilmu yang sangat banyak, namun ucapannya (nasihatnya) tidak dapat menyentuh hati orang lain.
Sebaliknya, betapa banyak orang yang hanya mencukupkan diri untuk mempelajari ilmu yang dibutuhkan oleh setiap muslim, namun ia menyertainya dengan amal dan penataan hati, lalu Allah buka baginya pintu hikmah dalam setiap ucapannya.
 
Sumber :
Menyimak Kicau Merajut Makna, Salim A. Fillah, ProU Media

Hakikat Hati

Hati yang mati, hilang rasa peduli. Hati yang sakit, rindu puji selangit. Hati yang sehat, berbahagia karena nasihat. Hati kita memang berayun goyah.
Mencadasnya hati karena dua perkara, dengan lalai dan dosa. Namun sentosanya hati dengan dua cara, mohon ampun dan mendzikirNya. Jadilah hatimu selalu tersenyum pada Langit. Jadilah bibirmu selalu tersenyum pada Bumi. Izinkanlah surga rindu padamu. Diri paling miskin adalah enggan memintai-Nya.
Berbuat baiklah walau dikira pamrih. Belalah nurani walau dianggap bersandiwara. Izinkan hanya Allah yang menghakimi hatimu. Hati yang mengingat Allah, sibuk melayakkan diri berdekat pada-Nya dengan prasangka baik, niat baik dan rencana baik.
Mari jaga istiqamah dengan men-sahabati orang-orang benar. Jadikan nama kita ada dalam doa dan nasihatnya. Mencintai dan membenci karena Allah itu adil dan sewajarnya. Walau hati berbolak balik, perasaan bertukar-tukar, maka akhlak mulia tetaplah dijaga.
 
Sumber :
Menyimak Kicau Merajut Makna, Salim A. Fillah, ProU Media