0878 8077 4762 [email protected]

Hikmah di Balik Penistaan Al Qur'an

Kasus penistaan terhadap Alquran belakangan ini menjadi isu yang ramai dibicarakan oleh banyak pihak. Bukan hanya oleh umat Islam di Indonesia, tetapi juga mendapat perhatian masyarakat internasional. Terbukti untuk aksi  4 november yang lalu  terdapat sejumlah wartawan internasional yang datang meliput.
Tentu peristiwa ini memberikan banyak hikmah. Salah satu hikmah  yang terpenting adalah ini menjadi cara Allah agar umat  kembali memberikan perhatian kepada Alquran; sebagai kitab suci dan  mulia yang Allah turunkan kepada seluruh manusia.
Dengan demikian pada  saat yang sama semoga hal tersebut menjadi tanda kebangkitan Islam di Indonesia. Pasalnya, kemuliaan, kebangkitan, dan kejayaan Islam selalu dimulai dengan kesadaran untuk kembali kepada Alquran. Nabi saw bersabda,
“Dengan kitab suci  Alquran Allah muliakan sejumlah kaum dan dengan kitab suci Alquran pula Allah hinakan mereka.” (HR Muslim, Ahmad, Ibn Majah, ad-Darimi).
Artinya selama mereka berpegang dan kembali pada Alquran, Allah akan muliakan. Namun  sebaliknya, kejatuhan dan kehinaan umat adalah ketika mereka berpaling dari kitab suci-Nya.
Dalam sejarah, masyarakat Arab,  sebelum tersentuh dengan Alquran,  mereka merupakan komunitas jahiliyah yang jauh tertinggal, buta huruf,, dan terbelakang. Namun berkat Alquran yang terus ditanamkan dan diajarkan oleh Rasul saw sejak awal kenabian,, dalam waktu singkat, mereka berubah menjadi umat terbaik.
“Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia: menyuruh kepada yang makruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. (QS Ali-Imran (3) ayat: 110)
Tentu saja sikap kembali kepada Alquran   tidak berhenti pada sekedar melakukan demo dan unjuk rasa membela Alquran. Namun kembali kepada Alquran harus terwujud dalam sejumlah amaliyah yang komprehensif seperti yang pernah diajarkan oleh Nabi saw.
Yaitu  pertama dengan membacanya. Inilah interaksi pertama yang seharusnya ditunjukkan umat Islam terhadap Alquran.  Pada masa sekarang ini  posisi Alquran kerapkali tergantikan oleh buku, koran, majalah, televisi, dan terutama media sosial. Akhirnya tidak ada waktu untuk membuka dan membaca Alquran meski hanya beberapa menit dari dua puluh empat jam sehari.
Maka, saatnya kita harus menyadari bahwa Alquranlah yang  harus menjadi bacaan pertama dan utama  kita sebelum yang lain.
Sesibuk apapun sahabat, Rasul saw mendorong mereka untuk membaca Alquran. Sehingga  tiada hari tanpa bersamanya. Entah di waktu pagi, siang maupun petang.
Membaca Alquran  mendatangkan banyak kebaikan. Ia mendatangkan  pahala, mendatangkan ketenangan, kelapangan, dan keberkahan, serta keselamatan dunia dan akhirat. Rasul saw bersabda:
“Bacalah Al Qur’an! Sebab Alquran akan datang pada hari kiamat dengan memberikan syafaat kepada pembacanya.”
Kedua adalah  memahaminya. Alquran adalah kitab petunjuk (lihat di antaranya  QS al-Baqarah:2).Karena itu sebagai petunjuk ia tidak hanya cukup dibaca, tapi juga harus harus ditelaah dan dipelajari secara benar agar tidak salah dan tidak tersesat.
Hanya saja bagaimana caranya agar kita bisa  memahami Alquran secara  benar sepeninggal Nabi saw? Caranya adalah dengan merujuk kepada pelanjut dan pewaris Nabi saw. Yaitu para ulama (ahli tafsir) yang memiliki integritas keilmuan dan moral;  yang ilmu mereka  mengantarkan pada rasa  takut kepada Allah.
“Yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Allah Maha perkasa lagi Maha Pengampun. (QS Fatir (35) ayat: 28)
Bila tidak merujuk kepada ulama semacam itu, umat akan disesatkan oleh para ulama su yang menafsirkan Alquran sesuai akal, nafsu, dan kepentingan. Apalagi di zaman sekarang.  Misalnya saat menafsirkan surat al-Maidah 51 yang sedang ramai diperbincangkan.
Para ahli tafsir dan fukaha sepakat bahwa ayat tersebut berisi larangan memberikan loyalitas kepada non-muslim, mulai dari  menjadikannya sebagai sahabat setia, orang kepercayaan, dan puncaknya sebagai  pemimpin.
Namun belakangan muncul  ulama “nyeleneh” yang  menafsirkan sesuai kepentingan. Ayat 51 dari surat al-Maidah itu diartikan dengan arti yang keluar dari mainstream para mufassir. Tidak aneh, karena sebelumnya mereka juga pernah mengatakan jilbab tidak wajib, pernikahan sejenis boleh, khamar tidak haram selama tidak memabukkan, dan riba  dibolehkan selama tidak berlipat ganda.
Tentu ulama yang semacam ini tidak bisa menjadi rujukan dalam memahami Alquran.
Ketiga, mengamalkan Alquran dalam  seluruh aspek kehidupan. Tidak hanya dalam berpolitik, tapi juga dalam berbisnis, dalam bermuamalah, dalam berkeluarga, dalam berbicara, dalam melakukan antivitas apa saja, hendaknya dihiasi dengan nilai-nilai Alquran.
Itulah yg membuat muslim tampil sebagai sosok yang indah, yang menjadi rahmat bagi semua alam. Karena dalam Alquran, setiap muslim dituntut untuk taat dan menunjukkan akhlak. Sehingga meski tidak boleh mengangkat pemimpin non-muslim misalnya, kita tetap diperintah untuk berbuat baik dan menunjukkan akhlak kepada mereka selama mereka tidak memerangi dan berbuat aniaya.
Keempat: mendakwahkan dan mengajarkan Alquran. Ini menjadi tugas setiap muslim, khusunya para dai dan ulama agar umat tidak “gagap” dan tidak tersesatkan oleh pihak-pihak  yang mempunya kepentingan dunia. Nabi saw bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Alquran dan mengajarkannya.”
Wallahu a’lam

Kehebatan Burung Hud-Hud Nabi Sulaiman as

Burung hud-hud memiliki nama ilmiah hoopoe yang disesuaikan dengan suara panggilannya yang melengking dengan suara “hoops..hoops..” ( dalam logat Inggris ) atau terdengar seperti “hud..hud..” ( dalam logat Arab) yang jelas dan berulang-ulang. Secara keseluruhan ada tujuh spesies burung ini yang dikenal di dunia, dan menyebar secara luas mulai dari Eropa, Asia, dan Afrika Utara.
Allah swt mengisahkan burung Hud Hud dalam kehidupan Nabi Sulaiman as. Dan Kisahnya itu diabadikan dalam Al-Quran yang mulia, dibaca hingga Hari Kiamat.
Burung Hud Hud terbang jauh hingga mendapati sebuah kerajaan yang tidak menyembah Allah swt, melainkan mereka menyembah matahari dan bintang-bintang, adalah kerajaan yang dipimpin oleh seorang perempuan bernama Ratu Balqis. Kisah ini sungguh masyhur dari masa ke masa. Suatu ketika Nabi Sulaiman menugaskan dan memeriksa kembali para utusannya.
Firman Allah swt, “Dan dia memeriksa burung-burung lalu berkata, “Mengapa aku tidak melihat hud-hud, apakah dia termasuk yang tidak hadir. Sungguh aku benar-benar akan mengazabnya dengan azab yang keras, atau benar-benar menyembelihnya kecuali jika benar-benar dia datang kepadaku dengan alasan yang terang.”Maka tidak lama kemudian (datanglah hud-hud), lalu ia berkata, “Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya; dan kubawa kepadamu dari negeri Saba suatu berita penting yang diyakini. Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar.” (QS. An-Naml : 22-23).
Ini menunjukkan bahwa burung Hud Hud terbang jauh, bermil-mil bahkan antar negara dan benua. Apakah hal ini telah dibuktikan oleh penelitian modern saat ini? Kita tidak membutuhkan pembuktian, karena Allah Maha Pencipta. Allah tak tertandingi. Allah Maha Mengetahui, bukan ilmuwan.
Namun seiring berjalan waktu, dari masa ke masa, zaman ke zaman, bukti datang dengan sendirinya, dan semakin terang, jelas, cahaya kebenaran Al-Quran itu begitu terang.
Seorang ilmuwan yang mengabadikan waktunya untuk meneliti burung Hud Hud telah membuktikan, burung ini terbang dari Austria di Eropa, melewati puluhan negara dan sampai ke Afrika, kemudian ke Negara Kenya, sungguh jauh pengembaraannya.
Tapi kegembiraan begitu Nampak di wajah sang ilmuwan, ketika ia melihat dalam tekhnologi yang dimilikinya, ternyata burung Hud Hud terbang kembali lagi ke Austria, tepat di mana burung itu dilepaskan.
Video ini diunggah oleh chanel youtube The Secrets of Nature, dengan judul Return of the Hoopoe.
Kemudian burung Hud-hud menceritakan peluang dakwah kepada Nabi Sulaiman as.
Firman Allah taala, “Aku mendapati dia dan kaumnya menyembah matahari, selain Allah; dan syaitan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah), sehingga mereka tidak dapat petunjuk, Agar mereka tidak menyembah Allah Yang mengeluarkan apa yang terpendam di langit dan di bumi dan Yang mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Allah, tiada Tuhan Yang disembah kecuali Dia, Tuhan Yang mempunyai ‘Arsy yang besar.” (Q.S. AnNaml ayat 24-26)
Akhirnya Nabi Sulaiman menindaklanjuti peluang dakwah dari laporan burung Hud-hud.
Berkata Sulaiman: “Akan kami lihat, apa kamu benar, ataukah kamu termasuk orang-orang yang berdusta. Pergilah dengan (membawa) suratku ini, lalu jatuhkan kepada mereka, kemudian berpalinglah dari mereka, lalu perhatikanlah apa yang mereka bicarakan” Berkata ia (Balqis): “Hai pembesar-pembesar, sesungguhnya telah dijatuhkan kepadaku sebuah surat yang mulia. Sesungguhnya surat itu, dari SuIaiman dan sesungguhnya (isi) nya: “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Bahwa janganlah kamu sekalian berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri.” (Q.S. An Naml ayat 27-31)
Akhirnya setelah bertemu Nabi Sulaiman as, Ratu Balqis membaca Syahadat dan memeluk agama islam beserta pengikut kerajaannya. Untuk menyempurnakan keimanan, Ratu Balqis akhirnya dinikahi oleh Nabi Sulaima. Dan kerajaannya disatukan antara Kerajaan Saba dan Kerajaan Sulaiman.

Tegas dan Taat Kepada Pemimpin

Al Fakri pernah menceritakan; suatu ketika datang kiriman kepada Khalifah Umar bin Khattab beberapa helai pakaian khas Yaman (burd). Lalu, Umar membagikannya kepada kaum muslimin setiap orang satu helai kain. Umarpun mendapat jatah yang sama yaitu satu helai.
Ketika naik keatas mimbar dan hendak menyerukan untuk berjihad. Umar memakai pakaian itu setelah dipotong dan dijahit menjadi kemeja. Tiba-tiba ada orang yang menyela seruannya seraya berkata, “Saya tidak perlu menaati seruan Anda!” Umar tersentak kaget dan bertanya, “Mengapa demikian?”
Orang itu menjawab, “Karena anda lebih mementingkan diri Anda daripada kami. Anda seharusnya mendapat jatah sehelai kain burd dan untuk ukuran tubuh Anda satu potong kain itu tidak cukup karena Anda berperawakan tinggi. Namun mengapa sekarang Anda justru memotongnya menjadi kemeja. Sementara untuk membuat kemeja butuh dua helai kain burd?”
Umar menoleh kearah anaknya yang bernama Abdullah bin Umar seraya berkata, “Abdullah jawablah!” Abdullah bin Umar pun angkat bicara. “Kain burd jatah saya yang saya berikan kepadanya agar cukup untuk kemejanya.”
Orang yang sempat mencurigai Umar itu berkata, “Kalau begitu sekarang saya patuh pada seruan Anda.” Orang itu pun kembali duduk dan mendengarkan seruan jihad yang diperintahkan Umar.
Kisah ini memberikan beberapa pelajaran bagi kita bagaimana semestinya interaksi antara pemimpin dengan rakyatnya agar tercipta negara yang makmur, pemimpin yang adil, dan rakyat yang sentosa.
Pertama, sebagai rakyat harus berani menyuarakan kebenaran dan mengkritik apa yang dianggap salah. Rakyat yang baik bukan rakyat yang membiarkan pemimpinnya melakukan apa saja sesuai kehendaknya, melainkan rakyat yang berani melakukan koreksi terhadap tindak tanduk pemimpinnya.
Sebab ketidakpedulian rakyat terhadap perilaku pemimpinnya hanya akan melahirkan tirani yang tak tahan kritik. Rasulullah bersabda, “Jihad yang paling utama adalah menyampaikan kebenaran kepada pemimpin yang jahat.” (H.R. Abu Dawud)
Kedua, sebagai pemimpin harus siap menerima masukan dari rakyat dan semua bawahannya karena pemimpin yang hebat bukan pemimpin yang tak pernah salah. Pemimpin yang hebat adalah pemimpin yang selalu berhati-hati agar tidak salah. Jikapun tetap terjerumus dalam kesalahan, ia mau menerima koreksi dan berani memperbaikinya. Bukan malah membungkam orang yang mengkritiknya.
Abu Sa’id meriwayatkan, “Sesungguhnya manusia yang paling dicintai Allah dihari kiamat dan tempat duduknya paling dekat dengan-Nya adalah pemimpin yang adil.” (H.R. At Tirmidzi)
Ketiga, setelah keputusan sang pemimpin dikoreksi, kemudian ternyata ia berada dalam kebenaran, maka rakyat harus mematuhi perintahnya. Tidak boleh meragukannya, apalagi sampai menentangnya. Sebab, kepatuhan kepada pemimpin yang baik merupakan kewajiban bagi seluruh rakyat (Q.S. An Nisa ayat 59)
 
Oleh Abdul Syukur – Republika

Keistimewaan Doa Ketika Bersin dan Fiqihnya

Di dalam hadits Abu Hurairah, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila salah seorang dari kalian bersin hendaknya dia mengucapkan Alhamdulillah, dan saudaranya atau temannya mengucapkan untuknya “Yarhamukallah “, dan apabila saudaranya mengucapkan yarhamukallah maka hendaknya dia mengucapkan “Yahdikumullah wa yushlihu balakum”. (HR. Malik no. 1800, pentahqiq Zaad Al-Ma’ad berkata : “sanadnya shahih”, 2/437)
Bersin merupakan proses pengeluaran racun dan bakteri berbahaya dari dalam tubuh sehingga bermanfaat untuk kesehatan.
Mengucapkan alhamdulillah setelah bersin merupakan sunnah Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam dan mendatangkan pahala serta mendapatkan doa dari saudara-saudara muslim lain.
Wajib bagi orang yang mendengar ucapan Alhamdulillah dari orang bersin untuk mengucapkan doa padanya, bagi laki-laki : Yarhamukallah (Semoga Allah merahmatimu) dan untuk perempuan : Yarhamukillah.
Bagi yang tidak mengucapkan Alhamdulillah ketika bersin
Adapun jika orang bersin tidak mengucapkan “Alhamdulillah” ketika bersin maka tidak perlu didoakan dengan didoakan yarhamukallah.
Sebab perintah mengucapkan doa yarhamukallaah hanyalah ditujukan bagi orang bersin yang memuji Allah, sebagaimana dijelaskan dalam hadis diatas, juga hadis Anas dalam Shahih Bukhari (no. 6225 ) :
“Dua orang bersin dihadapan Nabi shallallahu’alaihi wasallam, beliau lalu mengucapkan doa ; yarhamukallah pada salah satunya, dan tidak mengucapkannya pada orang kedua.
Maka orang kedua ini berkata : “Si Fulan tadi bersin dan engkau mengucapkan padanya ; yarhamukallah, namun ketika saya bersin engkau tidak mengucapkannya padaku, maka Rasulullah bersabda : “Tadi orang ini memuji Allah (ketika bersin) dan engkau tidak memujinya”.
Bersin dalam Keadaan Shalat
Orang yang bersin dalam keadaan shalat baik sendiri atau berjamaah, tetap disunatkan mengucapkan Alhamdulillah.
Hadis riwayat Abu Daud (773) dan selainnya dari Rifa’ah bin Rafi’ radhiyallahu’anhu ia berkata : “Saya shalat dibelakang Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam, lalu Rifa’ah (saya) bersin dan mengucapkan : “Alhamdulillah hamdan katsiran mubaarakan fiihi ,mubaarakan ‘alaihi kamaa yuhibbu rabbuna wa yardha”, Ketika beliau selesai shalat, beliau bersabda : “Siapa tadi yang berkata-kata (dengan hamdalah dalam shalat) ?” , iapun berkata : “saya, wahai Rasulullah”, maka beliau bersabda : “Saya tadi telah melihat lebih dari 30 malaikat berlomba-lomba untuk menulis pahala (ucapanmu)”.
Imam Bukhari juga telah meriwayatkan hadis ini dalam Shahihnya (799) dari jalur Imam Malik dalam Al-Muwaththa’ ( 1/211) dengan isi redaksi berbeda.
Dilarang Jamaah Shalat Menjawab Doa Bersin
Namun tidak dibolehkan bagi jamaah shalat yang mendengarkan untuk mengucapkan “Yarhamukallah” karena bisa membatalkan shalatnya. karena ia telah mengucapkan kata-kata yang bukan bagian dari bacaan dzikir shalat. Sebagaimana hadist panjang riwayat Muslim (538) dari Muawiyah bin Al-Hakam radhiyallaahu’anhu,
“Ketika kami shalat bersama Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam, tiba-tiba ada seseorang bersin (dan mengucapkan hamdalah), aku katakan, ‘Yarhamukallah.’ Tiba-tiba orang-orang memandangiku saya pun berkata, ‘Brengsek, mengapa kalian memandangiku seperti ini ?’ Tiba-tiba mereka semua menepuk paha mereka. Ketika saya tahu bahwa mereka mendiamkanku, saya pun diam. Setelah Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam selesai shalat, Maka Demi Allah, sungguh ayah dan ibuku menjadi tebusan baginya, tidak pernah aku melihat seorang pendidik, sebelum dan sesudah ini, yang lebih baik dari beliau. Demi Allah, beliau tidak menghardikku, tidak memukulku, dan tidak mencaciku. Beliau hanya berkata, ‘Shalat ini tidak boleh dicampur dengan ucapan manusia sedikit pun. Ia berisi tasbih, takbir, dan membaca Al-Qur’an.’ Atau seperti apa yang disabdakan Rasulullah.”
Kondisi lain yang dilarang
Jika bersinnya tepat ketika imam sedang khutbah jum’at. Orang yang bersin tetap mengucapkan Alhamdulillah –seperti ketika shalat-, adapun orang yang mendengarnya tidak perlu mengucapkan ; yarhamukallah karena diam dan tidak berbicara dengan orang lain ketika imam berkhutbah adalah wajib.
Ketika bersin di tempat buang air, maka tidak perlu mengucapkan : “Alhamdulillah” atau “yarhamukallah”, karena tidak disunatkan menyebut nama Allah atau berzikir didalam tempat buang air.
Jika Bersin Lebih dari 3 Kali
Jika bersinnya sudah lewat tiga kali maka tidak perlu diucapkan padanya “Yarhamukallah” karena orang itu kemungkinan besarnya sedang flu, sesuai hadis :
“Jika salah seorang diantara kamu bersin maka orang yang didekatnya hendaknya mengucapkan “Yarhamukallah”, jika bersinnya telah lewat dari tiga kali maka itu flu, dan tidak perlu mengucapkan : yarhamukallah, setelah ia tiga kali bersin”. (HR Abu Daud : 5035, shahih, lihat juga no.5034, 5036 dan 5037).
Jika yang Bersin Orang Kafir
Jika yang bersin adalah orang kafir lalu ia mengucapkan Alhamdulillah, maka sebagai seorang muslim kita jangan mengucapkan “yarhamukallaah” karena doa ini hanya ditujukan untuk seorang muslim. Tapi dengan mengucapkan doa agar ia mendapatkan hidayah, doanya adalah : “Yahdiikumullaah wayushlih baalakum”,
Ini sesuai dalam hadis Abu Musa : “Dahulu, orang-orang yahudi suka bersin dihadapan Rasulullah dengan harapan agar beliau mendoakan mereka dengan doa : yarhamukallah, namun Rasulullah hanya mengucapkan pada mereka doa : “”Yahdiikumullaah wayushlih baalakum”. (HR Ahmad : 19586, Abu Daud : 5038, dan Tirmidzi : 2937 , hadisnya Hasan Shahih).
Adab Ketika Bersin
1. Ketika bersin, tidak mengeraskan suara, namun harus menahan keluarnya suara sebisa mungkin. Ini sesuai sunnah Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam. Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu,
” Bahwasanya Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam ketika bersin beliau menutup mulutnya dengan tangannya, atau kain pakaiannya, dan menahan suaranya”. (HR Ahmad : 9662, Abu Daud : 5029, dan Tirmidzi : 2948, Hasan Shahih).
2.Menutup wajah dan mulut ketika bersin baik dengan tangan, kain, atau tisu agar tetesan air yang penuh bakteri tidak mengenai orang-orang atau benda yang ada disekitarnya, sebagaimana disebutkan dalam hadis sebelumnya.
3. Hendaknya tidak memutar atau meggoyang kepala kekiri atau kekanan ketika bersin sebab sangat berbahaya bagi otot dan tulang leher. Sebagian orang melakukan ini sehingga lehernya menjadi cacat. Jika dihadapannya ada orang dan ia terpaksa harus bersin, maka sebaiknya menunduk atau memutar badan secara keseluruhan
 
Oleh : Ustadz Maulana La Eda (Mahasiswa Pascasarjana (s-2), Jurusan Ilmu Hadis Universitas Islam Madina), Wahdah.or.id
 

Tanda 2 Gerhana, Imam Mahdi Muncul Tahun 2021?

Tanda 2 Gerhana, Imam Mahdi Muncul Tahun 2021?

Banyak sekali tanda-tanda kiamat yang disabdakan Rasulullah saw akan terjadi. Salah satu tanda-tanda kiamat yaitu munculnya Imam Mahdi.
Siapakah Imam Mahdi itu? Imam Mahdi adalah seorang laki-laki dari keturunan Rasulullah saw dan keluarga Rasulullah saw yang diutus Allah untuk memperbaiki kembali akhlak manusia.
Dari Abdullah bin Mas’ud, Nabi saw mengatakan mengenai Imam Mahdi,
“Dia berasal dari keluargaku. Namanya (yaitu Muhammad) sama dengan namaku. Nama ayahnya (yaitu ‘Abdullah) pun sama dengan nama ayahku.” (HR. Abu Daud no. 4282, Syaikh Albani mengatakan hadits ini hasan shahih)
Imam Mahdi berasal dari keturunan Fathimah, putri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Dari Ummu Salamah, Nabi saw bersabda, “Imam Mahdi adalah dari keluargaku dari keturunan Fathimah.” (HR. Abu Daud no. 4284, Syaikh Albani mengatakan hadits ini shahih)
Ciri Imam Mahdi
Abu Sa’id al-Khudri ra, berkata: Adalah Nabi SAW, bersabda:”Imam Mahdi dari keluargaku, lebar dahinya, mancung hidung-nya, pada masanya dunia penuh keadilan dan kedamaian serta kejujuran, sebagaimana sebelumnya penuh dengan kezaliman dan kemaksiatan, ia akan menjadi khalifah dimuka bumi selama 7 tahun” (HR. Abu Daud, Syaikh Albani mengatakan bahwa hadis ini hasan)
Ramalan Tanda kemunculan Imam Mahdi:
Sebelum kemunculan Imam Mahdi, akan berlaku secara berturut-turut 2 gerhana pada bulan Ramadhan..” (Ibn Hajar Al haitami, Al Qaul Al Mukhtasar fi ‘alamat Al mahdi Al Muntazar)
Akan ada dua gerhana matahari di bulan Ramadhan sebelum kedatangan Al Mahdi.” (Mukhtasar Tazkirah Qurtubi)
Telah sampai kepadaku bahwa sebelum Al Mahdi datang, bulan akan gerhana dua kali di bulan Ramadhan.” (Diriwayatkan dari Abu Nu’aym dalam al-Fitan)
screenshot_2017-01-02-18-16-47_com-android-chrome_1483355849134
Gerhana matahari di pertengahan bulan Ramadhan dan gerhana bulan di akhirnya.” (Al-Muttaqi al-Hindi, Al-Burhan fi Alamat al-Mahdi Akhir al-zaman, hal. 37)
Jika kita melihat kepada dalil-dalil di atas maka sadarilah bahwasanya tanda-tanda kemunculan Imam Mahdi ini menurut sebagian pihak sudah berlaku. Gerhana bulan dan matahari pernah terjadi pada bulan Ramadhan pada tahun 1981 dan 1982.
Maka jika kelahiran al-Mahdi pada tahun 1981, sedangkan umur al-Mahdi pada saat di baiat adalah berumur 40 tahun Sebagaimana dijelaskan oleh Imam As Suyuthi, Abu Nua’im meriwayatkan dari Abi Umamah katanya, Rasulullah SAW bersabda:
“Al Mahdi daripada anak cucuku. Dia berumur 40 tahun, mukanya bagai bintang yang bersinar-sinar, di pipi sebelah kanannya terdapat tahi lalat hitam, dia memakai dua jubah Qatwaniyyah bagaikan pemuda Bani Israel. Dia mengeluarkan gedung-gedung dan menakluk negeri-negeri syirik.” (Al-Hawi Lil-Fatawi)
Jika dijumlahkan tahun 1981 M = 1401 H tambah 40 tahun sehingga menjadi 1441 H, maka dibaiatnya al-Mahdi adalah pada tahun 2021 M.
Kita perhatikan pula pada tanda-tanda lain yang sudah terjadi. Tanda-tanda seterusnya ialah kemunculan bintang berekor atau komet melintasi bumi.
“Sebelum kemunculan Imam Mahdi, sebutir bintang berekor akan muncul dari arah timur.” (Ibn Hajar Al Haitami, Al Qaul Al Mukhtasar fi ‘alamat Al Mahdi Al Muntazzar)
“Munculnya bintang itu akan terjadi setelah gerhana matahari dan bulan.” (Al-Muttaqi al-Hindi, Al-Burhan fi Alamat al-Mahdi Akhir al-zaman, hal. 32)
Bintang berekor atau komet ini pernah terjadi melintasi bumi pada tahun 1986. Komet ini merupakan sebuah bintang terang bersinar yang melintas dari Timur ke Barat. Dan yang akhirnya berlaku pula lintasan bintang berekor (komet halley) mendekati bumi dari arah timur ke barat. Ini terjadi setelah gerhana matahari dan bulan pada tahun 1981 dan 1982.
Hukum Ramal-Meramal Kapan Terjadi Kiamat
“Mereka bertanya kepadamu tentang Kiamat, ‘Kapankah terjadinya?’ Katakanlah, ‘Sesungguhnya pengetahuan tentang Kiamat itu adalah pada sisi Rabb-ku, tidak seorang pun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. Kiamat itu amat berat (huru-haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi. Kiamat itu tidak akan datang kepadamu melainkan dengan tiba-tiba.’ Mereka bertanya kepadamu seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinya. Katakanlah, ‘Sesungguhnya pengetahuan tentang hari Kiamat itu adalah di sisi Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.’” (Q.S Al-A’raaf [7]: 187)
unnamed-9
Dalam buku ‘Kiamat Kok Diramal’ terjemahan dari Fiqh Asyroothis Sa’aah karya Dr. Muhammad Al-Muqoddam.
Rasulullah 14 abad yang lalu telah berwasiat, “Pada akhir zaman akan ada para penipu lagi tukang dusta. Mereka datang kepada kalian dengan omongan-omongan yang belum pernah kalian atau bapak-bapak kalian mendengarnya. Hindarilah mereka sehingga mereka tidak menyesatkan kalian dan tidak membuat fitnah di antara kalian.” (HR. Bukhari No, 6927)
Sungguh benar apa yang sabdakan Rasulullah, hari ini kita membaca dan mendengar ramalan-ramalan ‘liar’ tentang akhir zaman. Hari ini kita tidak akan sulit mencari prediksi-prediksi, kapan datangnya Imam Mahdi, turunnya Isya dan pembunuhan dajjal oleh Isya di baitul maqdisi. Bahkan, ada yang sudah berani meramal tahun kedatangan mahdi dan pembaitannya, Na’udzubillah Minhu. Parahnya lagi, kelompok yang akan melahirkan mahdinya pun sudah ditunjuk!!.
Ini adalah sikap ‘sok’ tahu yang tidak pernah diajarkan oleh para ulama kita terdahulu. Tidak ada seorangpun yang tahu apa yang akan terjadi esok hari, apalagi apa yang akan terjadi beberapa tahun ke depan.
Dan perlu dicatat, yang mengaku mengetahui peristiwa yang belum terjadi pada umumnya adalah dukun. Sebab peristiwa yang belum terjadi adalah perkara ghoib yang ilmunya hanya di sisi Allah saja. Tidak seorangpun diberitahu olehNya tentang hal-hal yang ghoib kecuali rasul-rasul tertentu yang diridhoiNya (baca, QS. Jin ayat 26-27).
Dari judulnya saja sang penulis sudah memberikan kesan ‘ramal meramal’, Perkiraan Tahun Kelahiran Al-Mahdi, Dibaiatnya Al-Mahdi, Dan Munculnya Dajjal.
Terkait akidah atau keyakinan penulis memakai perkiraan atau mengira-ira. Padahal terkait akidah tidak boleh diyakini apalagi disebar luaskan kalau bukan dari sesuatu yang ‘pasti sifatnya’. Karena wilayah akidah adalah wilayah yang pasti bukan wilayah dzonni. Dari pondasi yang rapuh ini penulis membangun bangun besar yang sangat rapuh dan membahayakan banyak orang.
Dengan mengkiaskan kejadian alam berupa gerhana matahari dan bulan Pada tahun 1981 dan 1982, penulis kemudian mengutip sebuah keterangan yang ia klaim berasal Mukhtasar Tadzkirah [karya imam] Qurtubi.
Penulis kemudian dengan beraninya mengambil sebuah kesimpulan bahwa tahun tersebutlah kelahiran Al-Mahdi yang dinanti. Kemudian ia juga menghubungkan kemunculan ‘komet yaitu bintang berekor ini pernah direkodkan melintasi bumi pada tahun 1986’, klaimnya, dengan kedatangan Al-Mahdi. Klaimnya ini disandarkan kepada Ibn Hajar Al Haitami, dalam Al Qaul Al Mukhtasar fi ‘alamat Al Mahdi Al Muntazdar.
Dan inilah hasil ramalannya, Jika dijumlahkan tahun 1981 M = 1401 H tambah 40 tahun sehingga menjadi 1441 H, maka dibaiatnya al-Mahdi adalah pada tahun 2021 M.
Hadits Palsu: Terjadi Gerhana Ketika Munculnya Al Mahdi
Dalam beberapa riwayat dari aliran Ahmadiyah dan syiah seringkali beredar dalil munculnya Imam Mahdi dikaitkan dua gerhana. Mereka kemudian menambahkan akan muncul di Iran dan tempat suci mereka.
Berikut ulasan penjelasan dari fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih Al Munajjid :
Berkaitan dengan atsar yang Anda tanyakan, hal itu bukanlah hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Atsar ini memang diriwayatkan oleh ad-Daruquthni dalam Sunan-nya (2/65) dari perkataan Muhammad al-Hanafiyah (putra Ali bin Abi Thalib).
Ad-Daruquthni mengatakan, “Abu Said al-Ishtharakhy menyampaikan kepada kami, dari Muhammad bin Abdullah bin Naufal, dari Ubaid bin Ya’isy, dari Yunus bin Bakir, dari Amr bin Syamir, dari Jabir, dari Muhammad bin Ali, ia berkata,

إن لمهدينا آيتين لم تكونا منذ خلق السماوات والأرض تنكسف القمر لأول ليلة من رمضان وتنكسف الشمس في النصف منه ولم تكونا منذ خلق الله السماوات والأرض

“Sesungguhnya ada dua tanda yang menunjukkan kedatangan al-Mahdi kita. Kedua tanda tersebut belum pernah terjadi sejak awal penciptaan langit dan bumi, yakni terjadinya gerhana bulan pada awal malam bulan Ramadhan. dan terjadinya gerhana matahari pada pertengahan bulannya. Peristiwa ini belum pernah terjadi sejak langit dan bumi diciptakan”.
Atsar ini maudhu’ (palsu) dan merupakan kedustaan atas nama Muhammad bin Ali al-Hanafiyah rahimahullah.
Dr. Abdul Alim Abdul Azhim al-Bistawi dalam kitabnya al-Mausu’ah fi Ahadits al-Mahdi adh-Dha’ifah wa al-Maudhu’ah, halaman 169, mengatakan,
“Dalam sanadnya terdapat beberapa rawi, yaitu:

  • Yunus bin Bakir bin Washil asy-Syaibani, Abu Bakr al-Jammal al-Kufi, terkadang keliru dalam meriwayatkan, termasuk thabaqah ke-9 dan wafat pada tahun 199 H;Amr bin Syamir al-Ju’fi al-Kufi asy-Syi’i, Abu Abdillah, seorang pemalsu hadits.
  • As-Sulaimani mengatakan, “Amr memalsukan hadits untuk menyebarkan ajaran Syiah.”

Al-Juzjani berkomentar, “Ia seorang pendusta dan sesat.”
Menurut al-Hakim, “Banyak riwayat-riwayat palsu dari Jabir al-Ju’fi. Dan tidaklah diriwayatkan hadits-hadits palsu yang buruk itu kecuali dari Jabir.
Ibnu Hibban mengatakan, “Ia adalah seorang (Syiah) Rafidhah, pencela para sahabat, dan meriwayatkan riwayat palsu.”
Abu Hatim menyatakan, “Sangat munkar haditsnya dan lemah. Jangan sibukkan diri dengannya. Tinggalkan dia.”
Beberapa ulama mentahdzirnya. Seperti: al-Bukhari, an-Nasai, Ibnu Sa’d, ad-Daruquthni, dan lain-lain.
Jabir ialah al-Ju’fi. Seorang yang ditinggalkan haditsnya. Asy-Syu’bah, Waki’, dan ats-Tsaury mentsiqahkannya. Namun Ibnu Ma’in, Abu Hanifah, Laits bin Abi Salim, al-Juzjani, Ibnu Uyainah, Ibnu Kharrasy, Said bin Jubair, dll. memvonisnya pendusta. Dan banyak yang mendhaifkannya.
Adz-Dzahaby mengatakan, “Syu’bah men-tsiqah-kannya. Ia seorang diri dalam pendapat ini. Dan al-Hafizh meninggalkannya.”
Ibn Hajar mengatakan, “Ia dhaif dan seorang Rafidhah.”
Kesimpulannya:
Riwayat ini adalah riwayat palsu. Dan sebab kepalsuannya adalah seorang periwayat yang bernama Amr al-Ju’fi.
Al-Azhim Abadi mengatakan, “(riwayat) Amr bin Syamir dari Jabir, keduanya adalah perawi yang dhaif. Riwayat keduanya tidak dapat dijadikan hujjah”.
Efek Bahaya Menentukan Waktu/Tahun/Bulan/Hari Munculnya Imam Mahdi
screenshot_2017-01-02-18-08-12_com-android-chrome_1483355336095
Tragedi kudeta mekkah pada tahun 1979 adalah akibat pemahaman yang keliru tentang kedatangan Imam Mahdi. Walaupun jika kita teliti lebih jauh, kekeliruan dalam memahami kedatangan Imam Mahdi bukan satu-satunya sebab ‘kudeta mekkah’.
Pada hari itu di tahun 1979, ketika shalat subuh sedang dijalankan di Masjidil Haram secara tiba – tiba kedengaran bunyi tembakan senjata di kota Mekkah oleh orang bersenjata menuju ke Imam Masjidil Haram yang kemudian merampas mikrofon dari Imam Masjidil Haram.
Kumpulan lelaki bersenjata sebanyak 500 orang telah menawan Masjidil Haram yang dipimpin oleh Juhayman al-Otaybi yang kemudian mengumumkan bahwa adik iparnya Mohammed Abdullah al-Qahtani adalah seorang Imam Mahdi
Mereka memaksa para jemaah untuk memberikan baiat kepada Mohammed Abdullah al-Qahtani sebagai Imam Mahdi
Selain itu kumpulan tersebut turut menuntut supaya keluarga Bani Saud untuk turun tahkta dan pemerintahan dikembalikan kepada Bani Quraish di mana keduanya; Mohammed Abdullah al-Qahtani dan Juhayman al-Otaybi adalah ahli Bani Quraish.
Pengepungan ini berlangsung hingga 27 November 1979 dan berakhir setelah pasukan tentara Arab Saudi mendapat bantuan 3 orang komando Perancis dan juga mendapat bantuan Komando Pakistan yang dipimpin oleh Major Parvez Musharaff (Mantan Presiden Pakistan).
Lebih 500 para jemaah dan anggota tentara Arab Saudi yang terbunuh di dalam peristiwa tersebut
Juhayman al-Otaybi bersama 68 pengikutnya ditangkap dan dihukum pancung di depan khalayak ramai pada tanggal 9 januari 1980.
Sikap Kita Terkait Tanda-Tanda Munculnya Imam Mahdi
Berhati-hatilah mempelajari dan membaca informasi terkait pasti turunnya Imam Mahdi. Bisa jadi itu hadist dhaif dan palsu. Bisa jadi pula tanda-tanda alam akan terjadi dua kali, tiga kali hingga beberapa kali.
Hadis tentang kemunculan Imam Mahdi itu bahasa kiasan yang bisa kita andaikan bahwa beliau telah hadir dalam artian telah lahir. Bukan berarti telah muncul keberadaannya.
Apapun penjelasannya, itu semua hanyalah teorinya. Hakikatnya kita tak tahu kapankah tarikhnya kemunculan Imam Mahdi.
Tapi sebagai persiapan awal untuk kita menghadapi zaman itu nanti. Bertaubat lah segera mungkin. Mudah-mudahan Allah menjadikan kita ini termasuk di dalam pasukan Imam Mahdi. Berhati-hatilah, Fitnah Dajjal sungguh dahsyat.
Semua kembali ke Allah, hanya Allah yang tahu. Wallahu a’lam
 
Sumber : Rumasyo, Muslim.or.id, Islampos, Arrahmah

Sumber Kekuatan Islam

Saat ini kita melihat bagaimana umat Islam berada dalam kondisi tertinggal, lemah, dan marjinal dalam berbagai bidang. Di bidang hukum, ekonomi, pendidikan, informasi dan sebagainya.
Kondisi umat Islam saat ini seperti gambaran Rasul saw. Yaitu laksana hidangan yang menjadi rebutan dan laksana buih yang terombang-ambing arus. Musuh tidak gentar dan umat sangat lemah karena begitu cinta pada dunia dan takut mati.
Apa solusi dari ini semua? Solusinya adalah seperti yang Allah sebutkan, “Siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya.” (QS al-Anfal: 60).
Jadi ayat di atas memerintahkan umat Islam untuk menyiapkan kekuatan. Karena bentuknya nakirah (indefinit) berarti maknanya kekuatan apa saja yang bisa menggentarkan musuh. Yaitu di antaranya:

  1. Kekuatan iman
  2. Kekuatan akhlak
  3. Kekuatan ilmu
  4. Kekuatan mal (harta)
  5. Kekuatan jasad
  6. Kekuatan ukhuwah

Kekuatan Iman
Yang dimaksud dengan iman di sini adalah keyakinan kepada Allah, malaikat, Alquran, Rasul dan kiamat tanpa disertai keraguan. Bukan sekedar pengakuan dan angan-angan.
Pasalnya iman semacam itu  melahirkan perubahan. Ia telah merubah sosok sahabat seperti  Umar ra, Abdullah ibn mas’ud, dan lain-lain
Iman yang benar  melahirkan kekuatan, keberanian, dan percaya diri. “Janganlah kalian merasa lemah dan jangan bersedih. Kalian adalah umat paling mulia bila kalian beriman (QS Ali Imran: 139).
Iman yg benar  akan  menggerakkan. Iman yang membuat seseorang siap berjuang dan mau berkorban. (Lihat al-Hujurat: 15) serta, iman yang benar melahirkan loyalitas dan pembelaan yang benar terhadap agama. (Lihat QS al-Mujadilah:22)
Singkatnya, iman melahirkan kekuatan yang berupa rasa percaya diri, pegerakan, pembelaan, dan ketulusan kepada Allah Swt.
Kekuatan Ilmu
Iman yang segar harus diarahkan.  Bila tidak, akan tersesat dan menyimpang.
Sebab siapa yang  ingin menguasai dunia maka dengan ilmu, siapa yg ingin menguasai akhirat, maka dengan ilmu. Dan siapa yang ingin menguasai keduanua maka harus dengan ilmu.
Lihat Rasul membina dengan Alquran. Mengangkat harkat dan martabat umat yang tadinya buta huruf  dengan belajar tulis baca. Menyuruh zaid belajar bahasa ibrani. Dan beliau berkata bahwa hikmah adalah milik mukmin yang hilang.
Tujuh abad lebih umat Islam berjaya dengan iman dan ilmu. Mereka kuasai biologi, fisika, matematika, kedokteran dst. Namun sekarang umat Islam kalah jauh. Sekolah favorit dikuasai oleh non-muslim. Mereka sudah mengkader dan menyiapkan calon para pemimpin dan pejabat negeri ini di masa mendatang. Ini PR besar umat Islam.
Kekuatan Akhlak 
Kalau iman ibarat mesin yang menggerakkan, akhlak adalah remnya. Ia yang mengontrol dan mengendalikan. Agar tidak menabrak sana sini.
Dengan sikap jujur dan amanah, tidak menabrak yang haram.
Dengan sikap santun dan bijak, tidak mudah mengkafirkan dan menyalahkan.
Dengan sikap sabar, tidak mudah marah dan emosi
Akhlak membuat lisan dan perbuatan terkontrol dan terjaga. Akhlak membuat orang simpati. Dan ini menjadi senjata Nabi saw. Beliau bersabda: “Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia.”
Kekuatan Maal (harta)
Kekuatan dana tidak bisa dinafikan. Tidak hanya untuk makan, minum, dan kebutuhan sehari-hari.
Tapi juga untuk ibadah, untuk dakwah, untuk pendidikan, untuk rumah sakit, dan untuk media.
Kita butuh televisi dan radio islam. Kita butuh sekolah Islam yang unggul. Semua butuh dana.
Karena itu, Allah menyebut harta dengan istilah: alkheyr (baik).
Karena itu pula Nabi saw menyebutkan, “sebaik-baik harta adalah yang berada di tangan orang shaleh.”
Kekuatan Jasad
Banyak tugas dan kewajiban yang  harus ditunaikan. Kewajiban ibadah, kewajiban dakwah, kewajiban mencari nafkah, kewajiban memakmurkan dunia dan menjadi khalifahnya.
Maka dibutuhkan fisik yang kuat dan sehat. Dengan olahraga, nutrisi yang cukup, pola hidup sehat dan seterusnya.
Rasul saw jarang sakit sepanjang hayat beliau. Umar dikenal gagah dan wibawa.
Para sahabat pejuang yang tangguh dan tak kenal lelah. Inilah yang dibutuhkan kita saat ini.
Kekuatan Ukhuwah
Sikap toleran dalam perbedaan furu’ sangat dibutuhkan. Sebab ini adalah bagian yang menguatkan ukhuwah.
Dalam hal ini perlu direnungkan sikap Imam Syafii yang berkata, “Pendapatku benar tetapi ada kemungkinan salah. Pendapat orang lain bagiku salah, namun ada kemungkinan benar.”
Bila umat ini sudah bersatu, berjamaah, dan berukhuwah secara benar, insya Allah pertolongan Allah segera datang.
Wallahu a’lam