0878 8077 4762 [email protected]

Sikap Muslim Terhadap Tahun Baru Masehi

Oleh: Ust. Fahmi Bahreisy, Lc
 
Tidak terasa waktu berjalan dengan sangat cepat dan saat ini kita berada di penghujung tahun 2016 masehi. Tahun 2016 akan menjadi kenangan dan cerita, kemudian tahun 2017 akan datang menyambut kita semua. Malam pergantian tahun merupakan momen yang paling ditunggu-tunggu oleh sebagian besar masyarakat Indonesia dan warga dunia.
Berbagai macam persiapan diatur sebaik mungkin untuk menyambut datangnya tahun baru. Mereka rela berlarut malam agar tidak kehilangan momentum ini. Ratusan miliyar bahkan triliyunan mereka keluarkan demi suksesnya acara pergantian tahun. Tidak sedikit yang menjadikan malam pergantian tahun sebagai ajang untuk melakukan pelanggaran dan kemaksiatan.
Sungguh hal ini merupakan sebuah kondisi yang menyedihkan dan jauh dari syariat Islam, terlebih lagi hal itu dilakukan juga oleh sebagian besar kaum muslimin. Lantas bagaimana seharusnya seorang muslim menyikapi tahun baru masehi ini?
Ada dua sikap utama yang harus dimiliki oleh setiap muslim dalam menghadapi momen pergantian tahun. Yang pertama ialah bersyukur kepada Allah atas kesempatan yang Ia berikan kepada kita. Kesempatan untuk memperbaiki diri dan bertaubat kepada-Nya. Kesempatan untuk menambah amal shaleh dan memperbanyak pahala.
Pasalnya, nikmat waktu atau kesempatan merupakan salah satu kenikmatan terbesar yang Allah berikan kepada kita. Waktu yang Allah sediakan untuk kita merupakan sarana untuk melakukan berbagai macam aktifitas kebaikan. Namun, nikmat ini pula yang sering dilupakan dan diabaikan oleh manusia sebagaimana yang terjadi saat pergantian tahun. Rasulullah saw bersabda, “Ada dua nikmat yang sering dilupakan oleh kebanyakan manusia; kesehatan dan waktu luang.”
Banyak kaum muslimin yang tidak menyadari bahwa tahun baru adalah kenikmatan yang seharusnya dihadapi dengan rasa syukur kepada Allah, bukan dengan kemaksiatan dan kegiatan yang bisa melalaikan dirinya dari Allah. Ia habiskan waktu dan hartanya hanya untuk bersenang di dalamnya, padahal perbuatan yang seperti itu merupakan perbuatan yang sangat dicela dan dimurkai oleh Allah SWT.
Sikap yang kedua ialah melakukan muhasabah atau evaluasi diri, baik itu dilakukan secara individu atau secara berjama’ah. Sebab, proses untuk melakukan perbaikan diri harus diawali dengan muhasabah. Terjadinya pergantian tahun seharusnya menjadi momen yang paling tepat bagi kita untuk melakukan introspeksi diri atas apa yang telah kita lakukan sebelumnya. Meskipun proses muhasabah ini sebenarnya sudah menjadi rutinitas seorang muslim yang baik.
Bahkan para salaf telah mencontohkan kepada kita bagaimana menjadikan muhasabah sebagai aktifitas rutin mereka setiap hari. Salah seorang salaf berkata, “Setiap kali aku akan mulai tidur, aku menghitung-hitung amalanku. Jika yang kudapatkan adalah kebaikan, maka aku bersyukur. Dan jika aku dapatkan amalanku adalah keburukan aku beristighfar kepada Allah.”
Dalam sebuah riwayat dari Ibnu Hibban yang diriwayatkan oleh Abu Dzar r.a. disebutkan bahwa Rasulullah saw bersabda, “Dalam shuhuf Ibrahim a.s. tertulis: Orang yang berakal wajib membagi waktunya menjadi berikut ini; Waktu untuk bermunajat kepada-Nya, waktu untuk melakukan muhasabah, waktu untuk merenungkan ciptaan-Nya, dan waktu untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya.
Oleh sebab itu, muhasabah merupakan kegiatan rutin yang harusnya dimiliki oleh setiap muslim agar ia menjadi hamba yang lebih baik lagi, terlebih lagi dalam momen pergantian tahun. Sebagaimana seorang direktur setiap pekan atau bulan atau setiap tahun melakukan evaluasi terhadap pekerjaan dan karyawannya agar bisnisnya semakin baik, begitu pula seorang muslim ia harus melakukan evaluasi diri.
Apalagi proses muhasabah yang dilakukan oleh seorang muslim tidak hanya akan membawa kebaikan baginya di dunia, tetapi juga di akhirat kelak. Semakin dia rajin melakukan muhasabah, maka akan ia akan semakin menghargai waktu yang diberikan oleh Allah, dan akan semakin sadar bahwa ia akan dimintai pertanggung jawaban atas nikmat waktu tersebut.
Sebagaimana sabda Rasulullah saw, “Tidak akan bergeser kaki seorang hamba pada hari kiamat kelak sampai ia ditanyakan akan empat hal; Tentang umur ia habiskan untuk apa?, tentang masa mudanya ia pergunakan untuk apa, dan hartanya dari mana ia dapatkan dan untuk apa ia belanjakan, serta ilmunya untuk apa ia amalkan?”
Inilah dua hal yang hendaknya kita lakukan pada malam pergantian tahun, agar pada tahun berikutnya kehidupan kita semakin diberkahi dan berguna. Tidak lupa dalam momen pergantian tahun ini hendaknya kita mengingat sebuah ucapan dari imam Hasan al-Bashri rahimahullah, “Sesungguhnya engkau itu adalah hari, jika harimu telah berlalu, maka itu berarti sebagian dari dirimu telah tiada.”
Pergantian tahun menandakan bahwa sebagian dari diri kita telah hilang dan tiada. Maka, sikapilah momentum pergantian tahun dengan bijak agar kita menjadi orang-orang yang beruntung.
Wallahu a’lam

Menag, Ketua MUI, Ketua MPR Hadiri Dzikir Nasional di Masjid Attin

Ribuan umat Islam memadati masjid agung At-Tin di kawasan Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta sejak Kamis sore (31/12/2015) untuk mengikuti kegiatan dzikir nasional.
Kegiatan nasional tersebut dihadiri sejumlah tokoh agama. Acara dzikir dengan penceramah dan muhasabah dihadiri pula Lukman Hakim Syaifudin selaku Menteri Agama, KH Ma’ruf Amin selaku ketua MUI dari PB NU, Zulkifli Hasan Ketua MPR, dan Haedar Nashir dari PP Muhammadiyah.
Selanjutnya, hadir ustad Arifin Ilham, ustad Yusuf Mansur, Hidayat Nur Wahid, KH Didin Hafidhudin, Ustad Tengku Zulkarnaen, Maftuh Basuni, Khofifah Indar Parawangsa dari Menteri Sosial, Anies Baswedan, Neno Warisman, Ridwan Hasan Saputra dan Pegy Melati Sukma
Fakhma, warga Kebagusan, Jakarta Selatan, mengatakan jamaah dzikir nasional dalam rangka menyambut tahun baru 2016 tersebut berdatangan dari wilayah Jakarta dan daerah sekitarnya.
“Sejak tadi sore jamaah terus berdatangan ke mesjid agung At-Tin untuk mengikuti dzikir nasional yang diisi dengan dengan tausiah atau muhasabah bersama para tokoh nasional hingga pukul 00.00 WIB,” kata Fakhma.
Menurutnya, banyak jamaah  yang kemudian melanjutkannya dengan melaksanakan beberapa shalat sunah seperti istiharah dan tahajud yang selanjutnya disambung dengan salat subuh berjamaah.

Menyiakan Usia

Ibnu Athailah berkata, “Wahai saudaraku, engkau telah menyia-nyiakan sebagian usiamu. Karena itu jagalah sisanya yang tinggal sedikit. Demi Allah, usiamu tidak diukur sejak lahir. Namun sejak engkau mengenal-Nya.
Jangan kau habiskan tarikan nafasmu pada selain ketaatan. Sebab tarikan nafas itu bagaikan emas dan permata. Mungkinkah orang berakal membuangnya ketempat sampah?
Wahai saudaraku, usahakan selalu hadir dalam majelis ilmu agar akal pikiranmu bertambah. Meskipun usiamu pendek, ia akan menjadi panjang. Berkat adanya iman, takut, tadabur, dan kesadaran.”

Dalam Semalam Menjadi Penganut 3 Agama Sekaligus

Nasrani menggunakan lonceng untuk memanggil jama’ahnya ketika beribadah.
Yahudi menggunakan terompet untuk memanggil jama’ahnya ketika beribadah.
Majusi menggunakan api untuk memanggil jama’ahnya ketika beribadah.
Dan pada jam 00.00 WIB malam tahun baru, sebagian umat Islam menggunakan ketiganya dalam satu waktu.
Lonceng berbunyi, Terompet berbunyi, Kembang api dinyalakan.
Maka malam itu menjadi penganut tiga agama, Nasharani, Yahudi dan Majusi.
Malam itu terompet-terompet ditiup oleh bibir-bibir muslimin sebagai tanda kemenangan bagi kaum kufar. Na’udzubullah..
Maka benarlah apa yg telah disabdakan Rasulullah 14 abad yg lalu,
Dari Abu Sa‘id Al Khudri,ia berkata:
Rasululah bersabda, “Sungguh kalian akan mengikuti jejak umat-umat sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal,sehasta demi sehasta, sehingga kalau mereka masuk ke dalam lubang biawak, niscaya kalianpun akan masuk (mengikuti) ke dalamnya.
Mereka (para sahabat) bertanya: Wahai Rasulullah, apakah mereka kaum Yahudi dan Nasrani?
Lalu beliau berkata, Siapa lagi kalau bukan mereka”. (HR. Bukhari dan Muslim)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan, “Tidak diragukan lagi bahwa umat Islam ada yang kelak akan mengikuti jejak Yahudi dan Nashrani dalam sebagian perkara”. (Majmu’ Al Fatawa, 27:286)
Dari Ibnu ‘Umar, Nabi saw bersabda, “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka”. (HR.Ahmad 2:50 dan Abu Daud no.4031)
Rasulullah saw bersabda, “Bukan termasuk golongan kami siapa saja yang menyerupai selain kami”. (HR. Tirmidzi no.2695)
Gerakan Umat Muslim tidak keluar rumah saat menyambut Tahun Baru Masehi.

Tidak Shalat dan Maksiat, Kok Bisa Kaya?

Jika kita dapati seseorang yang buruk ibadahnya dan maksiat kepada Allah, lalu mendapat kekayaan dan kesenangan hidup. Maka, hati-hatilah bisa jadi ini adalah istidraj baginya.
Istidraj adalah kesenangan dan nikmat yang Allah berikan kepada orang yang jauh dari-Nya yang sebenarnya itu menjadi azab baginya. Yang seperti ini biasanya memang Allah berikan kepada orang-orang kafir dan ahli maksiat, atau lewat pekerjaan pesugihan yang syirik.
Sebagaimana firman Allah swt, “Dan janganlah sekali-kali orang-orang kafir menyangka, bahwa pemberian tangguh Kami kepada mereka adalah lebih baik bagi mereka. Sesungguhnya Kami memberi tangguh kepada mereka hanyalah supaya bertambah-tambah dosa mereka; dan bagi mereka azab yang menghinakan.” (Ali ‘Imran: 178).
Dalam firman Allah yang lain, “… kemudian apabila Kami berikan kepadanya nikmat dari Kami ia berkata, Sesungguhnya aku diberi nikmat itu hanyalah karena kepintaranku. Sebenarnya itu adalah ujian, tetapi kebanyakan mereka itu tidak mengetahui.” (Az Zumar: 49)
Dijelaskan dalam Tafsir Al Muyassar tentang ayat Az-Zumar 49 ini:
“Tetapi kebanyakan manusia –karena kebodohan dan buruknya prasangka mereka- tidak mengetahui bahwa hal itu merupakan istidraj dari Allah dan ujian bagi mereka agar mensyukuri nikmat.” (Tafsir Al Muyassar, 1/464)
Kemudian dalam hadist dari ‘Uqbah bin ‘Amir Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Nabi bersabda:
“Apabila engkau melihat Allah memberikan kepada seorang hamba berupa nikmat dunia yang disukainya padahal dia suka bermaksiat, maka itu hanyalah istidraj belaka.
Lalu Rasulullah membaca surah Al An’am ayat 44 : ‘Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, Maka ketika itu mereka terdiam berputus asa’. ” (HR. Ahmad No. 17311. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mentatakan: hasan. Lihat Ta’liq Musnad Ahmad No. 17311)
Demikianlah istidraj, diberikan kepada ahli maksiat. Allah berikan melimpah ruah, kesenangan hidup begitu mudah didapatkan, tidak pernah sakit dan celaka, panjang umur, bahkan Allah berikan keluarbiasaan pada kekuatan tubuhnya.
Ada pun jika ada kenikmatan dunia diberikan kepada orang mukmin shalih dan ahli ibadah, maka itu merupakan nikmat Allah yang disegerakan baginya di dunia, atau bisa juga ujian untuk meninggikan lagi kedudukannya. Wallahu a’lam.

Larangan Makan Minum Sambil Berdiri Dalam Islam dan Fakta Ilmiah Kesehatan

Larangan Makan Minum Sambil Berdiri Dalam Islam dan Fakta Ilmiah Kesehatan

Islam sangat mengatur aspek kehidupan manusia, termasuk adab makan dan minum. Terkadang makan dan minum sambil berdiri menjadi kebiasaan, padahal itu tidak baik bagi kesehatan dan dilarang dalam Islam. Undangan pesta pun sering kali dilakukan tanpa tersedia tempat duduk.
Para ulama menegaskan bahwa minum sambil duduk lebih utama dari pada minum sambil berdiri. Ini berdasarkan hadits Nabi Saw, “Janganlah di antara kalian minum sambil berdiri, bila terjadi maka muntahkanlah airnya.” (HR. Muslim).
Dari Anas radhiyallahu anhu dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam,  “Sesungguhnya Nabi Muhammad Saw melarang seseorang untuk minum berdiri.” Qatadah (seorang tabi’in) berkata, “Kami bertanya kepada Anas, ‘Bagaimana dengan makan sambil berdiri?’ Anas menjawab, ‘Yang demikian itu lebih jelek dan lebih buruk.’” (HR. Muslim).
Dari Abu Sa’id al-Khudriy, beliau mengatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang minum sambil berdiri. (HR. Muslim no. 2025, dll)
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian minum sambil berdiri. Barang siapa lupa sehingga minum sambil berdiri, maka hendaklah ia berusaha untuk memuntahkannya.” (HR. Ahmad no 8135)
Sebenarnya masih banyak riwayat lainnya pada kitab hadis yang lain yang melarang minum sambil berdiri, tertuang dalam :

  • Sunan Abu Daud ada 1 hadis
  • Jami’/Sunan at-Tirmidzi ada 2 hadis
  • Sunan ad-Darimiy ada 2 hadis
  • Muwatha Malik ada 4 hadis
  • Musnad Ahmad bin Hambal ada 14 hadis
  • Sunan al-Kubro karya al-Baihaqi ada 5 hadis
  • Musnad Abu Daud ath-Thoyalisi ada 2 hadis.

Namun dengan hanya mengutip hadis-hadis Muslim di atas, sudah cukup mewakili.
Demikian banyaknya hadis yang melarang minum sambil berdiri, namun di sisi lain banyak pula hadis yang membolehkan minum sambil berdiri.
Seperti hadis dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu anhuma berkata, “Aku memberi minum kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dari air zam-zam, lalu beliau minum sambil berdiri.” (HR. Bukhari no. 1637 dan Muslim no. 2027)
Rasulullah Shallallahu ‘Alahi Wasallam berdiri, itu dikarenakan ada sesuatu yang menghalangi beliau untuk duduk, seperti penuh sesaknya manusia pada tempat-tempat suci, tapi bukan merupakan kebiasaan.
Menurut Pendapat Ulama
Syaikh bin Baz rahimahullah diajukan pertanyaan, “Sebagian hadits nabawiyah menjelaskan larangan makan dan minum sambil berdiri. Sebagian hadits lain memberikan keluasan untuk makan dan minum sambil berdiri. jika butuh, maka tidaklah masalah makan dan minum sambil berdiri. Namun jika dilakukan sambil duduk, itu yang lebih utama.
Imam Nawawi diamini oleh Syaikh Utsaimin dalam Syarah Riyadhus Shalihin, beliau mengatakan, “Yang lebih utama saat makan dan minum adalah sambil duduk karena hal ini merupakan kebiasaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.”
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan, “Cara mengompromikan hadits-hadits antara riwayat antara makan dan minum sambil berdiri adalah dengan memahami hadits-hadits yang membolehkan minum sambil berdiri apabila dalam kondisi yang tidak memungkinkan untuk minum sambil duduk.
Menurut Ibnul Qoyyim ada beberapa afat (akibat buruk) bila minum sambil berdiri. maka di samping tidak dapat memberikan kesegaran pada tubuh secara optimal juga air yang masuk kedalam tubuh akan cepat turun ke organ tubuh bagian bawah.
Fakta Ilmiah Kesehatan
screenshot_2016-12-29-07-11-31_com-android-chrome_1482970526607
Ilmu kedokteran modern mengungkapkan bahwa minum dalam keadaan berdiri menyebabkan air yang mengalir berjatuhan dengan keras pada dasar lambung dan menumbuknya, menjadikan lambung kendor dan menjadikan pencernaan sulit. Sebagaimana terus-menerus makan dan minum sambil berdiri dapat menimbulkan luka pada dinding lambung.
Menurut para dokter, luka pada lambung 95% terjadi pada tempat-tempat yang biasa bebenturan dengan makanan atau minuman yang masuk. Sehingga makan dan minum sambil berdiri terus–menerus bisa membahayakan dinding usus dan memungkinkan terjadinya luka pada lambung.
Air yang masuk saat kita duduk akan disaring oleh sfringer, suatu struktur berotot yang bisa membuka (sehingga air kemih bisa lewat) dan menutup. Setiap air yang kita minum akan disalurkan pada pos-pos penyaringan yang berada di ginjal.
Namun, jika kita minum sambil berdiri, air yang kita minum tidak disaring lagi, tapi, langsung menuju kandung kemih. Hal ini bisa menimbulkan terjadinya pengendapan di saluran ureter akibat banyaknya limbah yang tersisa di ureter. Inilah yang bisa menyebabkan penyakit kristal ginjal, salah satu penyakit ginjal berbahaya.
Karena itu, mulailah membiasakan diri untuk makan dan minum sambil duduk, demi kesehatan dan menjaga adab sopan santun yang Islami sebagai bagian dari dakwah kita dalam bentuk perilaku.