0878 8077 4762 [email protected]

Pergilah ke Masjid Terbaik di Wilayah Anda

Keluarlah menuju ke masjid, agar Anda bisa berdiri di belakang imam ketika shalat. Ajaklah pula istri Anda, seperti firman Allah:
Janganlah kalian melarang hamba-hamba perempuan Allah untuk shalaat di masjid –Nya” (HR. Shahih Sunan Ibnu Majah).
Ajari anak-anak Anda adab di masjid, agar mereka tidak membuat gaduh dan bercanda di masjid yang bisa menyebabkan rusaknya sesuatu di dalam masjid atau hilangnya kekhusyu’kan orang-orang yang sedang melakukan shalat.
Pilihlah masjid yang nyaman dengan imam yang bila bacaannya terdengar, menambah rasa takut Anda kepada Allah, meski jauh dari rumah. Jangan kikir dengan langkah kakimu, karena pahalamu pasti ditunaikan Allah. Seperti dalam firman Allah:
Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan” (QS. Yaasin: 12)
Jika Anda shalat di belakang imam yang ikhlas, Anda akan merasakan rahmat Allah turun kepadanya, sehingga Anda tidak akan bosan shalat dibelakangnya.
Setelah shalat selesai dilaksanakan tetaplah berada dibelakang imam hingga selesai. Disebutkan dalam hadits Abu Dzar bahwa Rasulullah telah bersabda:
Sesungguhnya bila seseorang shalat bersama imam, hingga imam berlalu, maka ia mendapatkan pahala qiyamullail.” (HR. Ahmad, dishahihkan oleh Al Albani)
 
Sumber :
Ramadhan Sepenuh Hati, M. Lili Nur Aulia

Mari Dirikan Shalat

Bila adzan berkumandang, berhentilah dari segala aktifitas untuk menjawab adzan dari hati, dan membaca dzikir setelah adzan seperti telah dijelaskan. Lalu berwudhulah dan pergilah ke masjid, kerjakanlah shalat sunah empat rakaat sebelum dzuhur, dan dua rakaat ba’da Dzhuhur, berdasarkan hadits dari Umul Mukminin Ramlah Binti Abi Sofyan ( Ummu Habibah ) ia berkata:
Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah seorang hamba muslim melakukan shalat setiap hari dua belas rakaat sunnah bukan fardhu, kecuali Allah akan membangunkan baginya sebuah rumah di surga.” (HR. Muslim)
Dalam hadits lain Rasulullah menjelaskan keutamaan dan tata caranya.
Barangsiapa yang merutinkan dua belas rakaat sunnah maka Allah akan membangunkan baginya sebuah rumah di surga. Empat rakaat sebelum dzhuhur, dua rakaat sesudah dzuhur, dua rakaat setelah maghrib, dua rakaat setelah isya, dan dua rakaat sebelum subuh.” (HR. Shahih Sunan Ibnu Majah )
Inspirasi
Ibrahim bin Maimun Al-Mawarzy adalah perajin emas dan perak. Ketika mendengar adzan, di saat sedang mengangkat palunya, maka ia tidak memukulkan palunya itu. Khawatir bila ia tersibukkan dengannya dari shalat.
Sofyan Bin Uyainah berkata, “Janganlah seperti hamba yang buruk, ia tidak datang kecuali setelah dipanggil. Maka datangilah shalat sebelum waktunya”.
Adapun terkait dengan shalat ashar, ada beberapa sunnah yang telah disepakati, diantaranya berada di shaf pertama berjamaah di masjid dan berada dibelakang imam. Sedangkan shalat sunnah ashar adalah seperti yang disabdakan oleh Rasulullah SAW:
Allah merahmati seseorang yang me-lakukan shalat sunnah emapat rakaat sebelum Ashar” (HR. Tirmidzi dihasankan oleh Al-Albani )
Jangan dilupakan dzikir sore hari dan waktu utamanya adalah kira-kira seperempat jam sebelum maghrib, ketika matahari menjelang tenggelam.
 
Sumber :
Ramadhan Sepenuh Hati, M. Lili Nur Aulia

Memanfaatkan Waktu Terkait Hubungan dengan Orang Lain

Dalam bekerja, belajar atau dijalan, ada hal yang tak mungkin dihindari dan berdampak buruk bagi hati adalah berinteraksi dengan manusia lain. Rasulullah SAW bersabda :
“Orang yang berinteraksi dengan manusia dan bersabar atas perilaku buruk mereka, lebih baik daripada seseorang yang tidak berinteraksi dengan manusia dan tidak pula bersabar dengan perilaku buruk mereka”
“Barangsiapa yang mengajak kepada pe-tunjuk, maka ia mendapat pahala seperti pahala orang yang mengikutinya, tidak dikurangi dari pahalanya sedikitpun” (HR. Muslim)
Bila ada orang yang berkata kepada kita, “Lihat sinetron tidak kemarin?” Jawablah, “Sudah membaca Al-Qur’an kemarin”?
Ada dua kemungkinan bila kita menyampaikan hal ini kepada orang itu.
Pertama, ia akan tersadar dan mencoba untuk mengikuti kita, atau ia akan membenci kita karena tidak suka dengan jawaban yang diberikan. Ini seperti kata pepatah:
“Dari pada menghabiskan waktu untuk mengumpulkan kertas yang beterbangan tertiup angin, tutup saja jendelanya”.
Saudaraku, dalam perjalanan menuju Allah, kita akan menemui golongan yang lemah cita-citanya dan disisi lain ada golongan yang tinggi cita-citanya. Hendaknya kita bisa banyak bergaul dan bersama golongan yang memiliki cita-cita tinggi, bersih niatnya, baik akhlaknya.
Tinggalkanlah sikap berdiam diri namun dan jadilah bersama golongan terdepan dalam menggapai keridhaan Allah. Bila kita telah mendapati orang-orang itu, tetaplah bersama mereka.
Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua mata mu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia.”
Jika kita melakukan aktifitas yang menyibukkan dengan kebaikan, maka setiap detik dalam hidup kita akan berbuah ketaatan.
Wirid Al Qur’an yang tidak terbatas itu bisa kita baca satu atau dua juz, bahkan hingga tiga atau empat juz. Sedangkan wirid tasbih kita bisa membacanya ribuan kali.
 
Sumber :
M. Lili Nur Aulia

Memanfaatkan Waktu Terkait dengan Nilai Waktu itu Sendiri

Jangan biarkan waktu berlalu sia-sia tanpa ada kesibukan yang bernilai ketaatan, seperti berzikir, tilawah Al Qur’an, atau mendengarkan ayat Al Qur’an menyuruh yang makruf dan mencegah yang munkar atau berusaha memenuhi hajat kaum muslimin. Inilah cara terbaik kita mendekatkan diri kepada Allah.
Kita harus bisa mengontrol waktu dengan melakukan variasi aktifitas yang bermanfaat. Termasuk bila kita ingin menyaksikan beragam program audio maupun vcd, atau dengan membantu anggota keluarga yang lain.
Di sini kita bisa bercermin pada Abi Hatim Ar-Razi. Beliau tidak melalaikan waktu sedikitpun. Hal ini disebutkan oleh anaknya yang bernama Abdurrahman, saat ia mengatakan, “Aku membacakan Al-Qur’an dan menuliskan ilmu dari ayahku sambil berjalan. Bahkanaku membacakan Al Qur’an dan menuliskan ilmu meski ayahku berada di kamar mandi, sedang aku berada di luar kamar mandi.
Ayahku mendengar dan tidak berbicara. Ketika keluar dari kamar mandi, beliau berkata kepadaku, “Engkau salah pada ini dan ini. Seharusnya begini dan begini.”
Ingatlah bahwa balasan dan pahala yang kita dapatkan, sesuai dengan jenis amal yang kita lakukan. Sebagian dari buah Imam Ar Razi mengefektifkan waktu adalah beliau menulis kitab tafsir berjilid-jilid.
Beliau juga menulis Kitab Al Jarh Wa Ta’dil sebanyak sembilan jilid, dan musnad dalam jumlah yang sangat banyak.
 
Sumber :
Ramadhan Sepenuh Hati, M. Lili Nur Aulia

Empat Wasiat

Pergunakanlah waktu Anda dengan sebaik-baiknya baik ketika bekerja, terlebih dalam kondisi waktu lapang atau tidak banyak pekerjaan.
Waktu luang adalah nikmat yang kebanyakan manusia tidak mengetahui nilainya.
Rasulullah SAW bersabda: “Dua nikmat yang kebanyakan manusia tertipu karenanya; yaitu sehat dan waktu luang” (H.R. shahih Sunan Ibnu Majah )
 
Sumber :
Ramadhan Sepenuh Hati, M. Lili Nur Aulia

Memanfaatkan Waktu Terkait Aktifitas Duniawi

Aktifitas duniawi adalah pekerjaan yang terkait dengan kebutuhan hidup kita di dunia. Aktifitas ini, ada yang bersifat penting dan mendesak. Tapi ada juga aktifitas yang tidak mendesak dan bahkan tidak terlalu penting.
Di saat waktu, dan detik demi detik begitu berharga, hendaklah kita berfikir mempertimbangkan mana aktifitas yang terpenting dari aktifitas yang penting.
Hendaknya kita bertanya sebelum melakukan perbuatan, apakah perbuatan yang akan kita lakukan itu memang penting atau ada perbuatan lain yang lebih penting.
Ibnul Qayyim rahimahullah selalu menyibukkan diri dengan aktifitas yanglebih penting dibanding urusan yang lain, seolah beliau tidak memiliki waktu luang.
Beliau mengatakan, “Suatu hari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata kepadaku tentang perkara mubah. Ia mengatakan, “Perkara ini dapat menghilangkan derajat yang lebih tinggi.” Maksudnya, perkara mubah itu tidak dilakukan oleh kelompok orang yang menginginkan kedudukan tinggi di akhirat.
Dan meninggalkan perkara mubah, dengan mengutamakan perkara sunnah dan fardhu adalah salah satu syarat seseorang mendapat kesuksesan hidup di dunia dan akhirat.
 
Sumber :
Ramadhan Sepenuh Hati, M. Lili Nur Aulia