by Adi Setiawan Lc. MEI Adi Setiawan | May 9, 2016 | Artikel
Oleh : Adi Setiawan, Lc., MEI
Sepeninggal Abu Thalib dan Siti Khadijah Rasulullah SAW bersedih hati, terasa hilang pembela setianya. Sehingga masa ini pun dikenal dengan ‘aammul huzn (tahun dukacita).
Untuk menghibur beliau SAW Allah SWT pun men-setting beberapa kejadian yang luar biasa. Dimulai dari peristiwa isra’ mi’raj dan peristiwa lainnya yang pada akhirnya lahir kembali pembela-pembela baru bagi perjuangan dakwah Rasulullah SAW.
Firman Allah SWT, “Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan orang yang membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertakwa. Mereka memperoleh apa yang mereka kehendaki di sisi Tuhannya. Demikianlah balasan bagi orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Az-zumar 33-34)
Adalah Abu Bakar As-shiddiq yang menjadi komando bagi para sahabat lainnya untuk berikrar, bersumpah menjadi pembela Rasulullah SAW.
Belajar dari kesetiaan para sahabat Rasulullah SAW, ada banyak kriteria teman, sahabat dan pembela yang mesti dicari:
1. Seperti penjual minyak wangi
Abu Bakar sosok sahabat yang setia bagi Rasulullah SAW. Semenjak keduanya kanak-kanak hingga akhir hayat beliau SAW. Abu Bakar selalu berada di samping beliau. Sahabat seperti inilah yang Rasullah SAW kiaskan dengan penjual minyak, selalu membawa kebaikan sebelum diminta, selalu menebarkan wewangian dari kejauhan sebelum tangan berjabat. Pertemuan pun terasa bahagia, tak ingin segera berpisah. Kalau pun terpisah ingin rasanya segera berjumpa. Inilah persahabatan sejati.
2. Penolong setia
Kehilangan Siti Khadijah membuat Rasulullah SAW bersedih hati untuk sementara waktu. Beliau kembali semangat saat menyaksikan para sahabatnya yang ikhlas lagi setia, rela berkorban harta bahkan nyawa, Para sahabat yang siap mengikuti jejak Siti Khadijah yang gemar menolong orang lain. Apalagi orang yang suka menolong dan meringankan beban orang lain, Allah SWT akan ringankan bebannya.
3. Selalu mendoakan
Dalam sabdanya Rasulullah SAW mengungkapkan bahwa doa adalah shilahul mukmin, doa merupakan senjata rahasia bagi mukmin. Para sahabat Rasulullah SAW selalu mendoakan kebaikan bagi sahabat lainnya. Dengan demikian orang mukmin seharusnya saling mendoakan terlebih ketika seorang muslim mendoakan kebaikan untuk saudaranya sesama muslim, maka kebaikan itu pun akan kembali kepadanya. Jadi yang mesti disadari dan dicari adalah doa-doa yang ikhlas dari sahabat mukmin. Karena bagaimana ikhlas berdoa jika berbeda keyakinan antara sahabat.
4. Selalu saling mengunjungi (silaturrahim)
Para sahabat Rasulullah SAW terbiasa saling mengunjungi. Saling mengunjungi merupakan perekat persahabatan. Selain itu silaturrahim akan memanjangkan umur. Bagaimana tidak panjang umur, jika seseorang dalam kesusahan materi, tidak punya uang misalnya, atau pun kesusahan non materi, seperti ditinggal keluarga maka ketika berkunjung kepada sahabat, minimal uang dikasih, curhatan pun didengar.
5. Sadar bahwa arwah orang yang bersahabat akan bersama
Dalam Al-Qur’an Allah SWT sebutkan, “Sesungguhnya orang-orang yang berbakti benar-benar berada dalam kenikmatan (surga) dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar dalam neraka.” (QS. Al-Infithar: 13-14)
Kemudian Rasulullah SAW bersabda, “Arwah-arwah itu akan berbaris, yang saling kenal akan bersama dan yang tidak kenal akan terpisah.”
Demikianlah arwah orang yang baik akan berkumpul dengan arwah orang-orang yang baik begitu pula arwah yang jahat akan berkumpul dengan arwah yang jahat.
Sudah menjadi lumrah, manusia akan selalu mencontoh kemudian bergaul dengan orang satu tipe. Begitu juga dengan agama seseorang sangat tergantung dengan agama temannya. Dan pertemanan di dunia ini akan berlanjut hingga ke akhirat nanti.
6. Selalu mengajak kepada ketaatan
Kebaikan yang dilakukan bersama-sama manfaat yang hadir akan jauh lebih besar. Dan sahabat yang selalu mengajak kebersamaan inilah yang mesti dicari. Sebagai contoh, perbandingan shalat sendiri dengan shalat berjamaah yang mempunyai pahala 27 kali lipat. Mana yang dipilih?
Ketika melaksanakan rangkaian ibadah puasa di bulan Ramadhan, mulai dari sahur, kemudian menahan lapar di siang hari, buka bersama, sampai sholat tarawih, jauh lebih semangat jika dikerjakan bersama-sama.
Begitu juga ketika fastabiqul khairat dalam ibadah zakat. Dihimpun bersama-sama, dana terkumpul lebih banyak, maka semakin banyak pula para mustahik yang bisa dibantu.
#disampaikan pada khutbah jum’at 06 Mei 2016 di Masjid Al-Hijrah Komplek Kodam Jatiwarna.
by Fahmi Bahreisy Lc fahmibahreisy | May 9, 2016 | Artikel, Tausiyah Iman
Tausiyah Iman – 30 April 2016
Setiap manusia pasti mengidamkan rumah yang penuh dengan keberkahan, rumah yang menjadi surga bagi penghuninya. Namun, bagaimana mungkin ia terwujud jika di dalamnya diisi oleh syaithan?
Hadits berikut ini bisa menjadi solusi agar rumah kita barokah.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jangan kalian jadikan rumah-rumah kalian sebagai kuburan, sesungguhnya syaithan menjauh dari rumah yang dibacakan di dalamnya surat Al Baqarah” (H.R. Muslim).
Ustadz Fahmi Bahreisy, Lc
(Baca juga: Menjadi Pendengar yang Baik)
•••
Join Channel Telegram: http://tiny.cc/Telegram-AlimanCenterCom
Like Fanpage: fb.com/alimancentercom
•••
Rekening donasi dakwah:
BSM 703.7427.734 an. Yayasan Telaga Insan Beriman
by Fauzi Bahreisy fauzibahreisy | May 8, 2016 | Artikel, Tausiyah Iman
Tausiyah Iman – 29 April 2016
Banyak orang yang terampil berbicara. Tapi jarang yang terampil mendengar.
Banyak orang yang senang diperhatikan; tetapi sedikit yang senang memerhatikan.
Diam dan menyimak perkataan teman bicara adalah bagian dari akhlak. Terlebih bila perkataan tersebut mengandung hikmah dan pelajaran berharga dari lisan siapapun ia keluar.
Inilah adab yang ditunjukkan oleh generasi salaf. Mereka tidak hanya punya ilmu tetapi sangat menghargai dan mengamalkannya.
Atha’ berkata, “Ketika seseorang mengutarakan sebuah hadits, aku diam dan mendengarkan seolah-olah tidak pernah mendengarnya. Padahal aku sudah pernah mendengar sebelum orang itu dilahirkan.”
Ustadz Fauzi Bahreisy
(Baca juga: Beriman dan Berilmu)
•••
Join Channel Telegram: http://tiny.cc/Telegram-AlimanCenterCom
Like Fanpage: fb.com/alimancentercom
•••
Rekening donasi dakwah:
BSM 703.7427.734 an. Yayasan Telaga Insan Beriman
by Farid Numan Hasan faridnuman | May 8, 2016 | Adab dan Akhlak, Artikel
Oleh: Farid Nu’man Hasan
3. Larangan Mencukur Rambut Dengan Cara Qaza’
Dari Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhuma, katanya:
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنِ القَزَعِ
“Bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melarang qaza’.” [1]
Apakah Qaza’?
Nafi’ –seorang tabi’in dan pelayan Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhuma menjelaskan:
يُحْلَقُ بَعْضُ رَأْسِ الصَّبِيِّ وَيُتْرَكُ بَعْضٌ
“Kepala bayi yang dicukur sebagian dan dibiarkan sebagian lainnya“. [2]
Contoh qaza’ adalah seorang yang membiarkan bagian depan kepala, tapi mencukur bagian belakangnya, atau yang tengah dibiarkan tapi kanan kirinya dicukur. Inilah yang kita lihat dari model-model rambut orang kafir yang ditiru remaja Islam. Kadang ada orang tua yang mencukur anaknya seperti ini lalu dibuat buntut, sekedar untuk lucu-lucuan.
[Baca juga: Adab Terhadap Rambut (bagian 1)]
Hal ini dilarang karena bertentangan dengan prinsip keadilan Islam, sampai-sampai dalam masalah yang dianggap sepele ini Islam tidak mengkehendaki adanya kezaliman.
Ada penjelasan yang bagus dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah, sebagaimana dikutip oleh murid kesayangannya, Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah, sebagai berikut:
قَالَ شَيخنَا وَهَذَا من كَمَال محبَّة الله وَرَسُوله للعدل فَإِنَّهُ أَمر بِهِ حَتَّى فِي شَأْن الانسان مَعَ نَفسه فَنَهَاهُ أَن يحلق بعض رَأسه وَيتْرك بعضه لِأَنَّهُ ظلم للرأس حَيْثُ ترك بعضه كاسيا وَبَعضه عَارِيا وَنَظِير هَذَا أَنه نهى عَن الْجُلُوس بَين الشَّمْس والظل فَإِنَّهُ ظلم لبَعض بدنه وَنَظِيره نهى أَن يمشي الرجل فِي نعل وَاحِدَة بل إِمَّا أَن ينعلهما أَو يحفيهما
“Syaikh kami (Ibnu Taimiyah) mengatakan: Ini merupakan bagian dari kesempurnaan kecintaan Allah dan rasul-Nya terhadap keadilan. Hal itu diperintahkan sampai-sampai urusan sikap manusia terhadap dirinya sendiri. Maka, larangan mencukur sebagian kepala dan membiarkan yang lain lantaran itu merupakan kezaliman terhadap kepala ketika dia dibiarkan sebagian tertutup rambut dan sebagian lain terbuka. Sepadan dengan ini adalah larangan duduk di antara matahari dan tempat berteduh, karena itu merupakan kezaliman atas sebagian badannya. Seperti ini juga adalah larangan bagi seseorang bejalan dengan satu sendal, tetapi hendaknya dia memakai keduanya atau melepaskan keduanya”. [3]
Larangan ini bukan hanya berlaku bagi anak-anak, tapi juga orang dewasa.
Wallahu A’lam.
*bersambung
[(Baca juga: Adab Terhadap Rambut (bagian 2)]
[1] HR. Bukhari No. 5921 dan Muslim No. 2120
[2] Shahih Muslim No. 2120
[3] Tuhfatul Maudud bi Ahkamil Maulud, Hal. 100
by Abdul Rochim Lc. MA abdulrochim | May 7, 2016 | Artikel, Tausiyah Iman
Tausiyah Iman – 28 April 2016
Orang yang beriman lagi berilmu lebih baik daripada yang lainnya.
Sebab, dengan iman ia tundukkan syahwatnya
Dan dengan ilmu ia bersihkan perkara-perkara syubhat dari dalam dirinya.
Ustadz Abdul Rochim, Lc., MA
(Baca juga: Selalu dengan Al Quran)
•••
Join Channel Telegram: http://tiny.cc/Telegram-AlimanCenterCom
Like Fanpage: fb.com/alimancentercom
•••
Rekening donasi dakwah:
BSM 703.7427.734 an. Yayasan Telaga Insan Beriman
by Dr. Atabik Luthfi atabikluthfi | May 7, 2016 | Artikel, Qur'anic Corner
Oleh: Dr. Atabik Luthfi
Secara umum, ayat-ayat yang berhubungan dengan proses belajar dan mengajar dapat dirumuskan sebagai berikut.
Pertama, surah al-Baqarah ayat 78; menggambarkan kelompok Ummiyyin yang tidak bersentuhan dengan proses belajar mengajar yang dikecam oleh Al-Qur’an.
Kedua, surah Ali Imran ayat 79; merupakan harapan Allah akan hadirnya umat Rabbaniyyin yang melakukan proses belajar mengajar secara intensif dan sungguh-sungguh.
Ketiga, surah at-Taubah ayat 122; Allah swt mensejajarkan kelompok mujahidin di medan perang dengan mereka yang melakukan aktifitas “tafaqquh fiddin” dengan tanggung jawab mengajarkan dan memberikan peringatan kepada kaumnya.
Keempat, Surah al-Mujadilah ayat 11; Allah swt memberikan kelebihan dan keutamaan beberapa derajat hanya kepada mereka yang beriman dan menjalankan aktifitas belajar dan mengajar dengan tekun.
Dalam bahasa Imam asy-Syaukani, orang yang beriman diberi penghargaan karena keimanannya, demikian juga orang yang berilmu diberi penghargaan atas ilmunya. Namun, orang yang beriman dan berilmu diberi beberapa derajat keutamaan dan kelebihan karena menggabungkan antara dua keutamaan secara bersaman.
Demikian pembahasan Al-Qur’an tentang pendidikan yang lengkap, integral dan komprehensif. Masing-masing komponen pendidikan mengambil peran dan memberikan kontribusi atas lahirnya umat terbaik yang memberi kebaikan bagi hidup dan kehidupan manusia sehingga akan tercapai ’hayatan thayyibah’ seperti yang diharapkan seluruh hamba Allah swt. *disadur dari Tafsir Irsyadi
Sumber:
Telegram @atabikluthfi