0878 8077 4762 [email protected]

Ummu Kultsum binti Uqbah: Wanita Yang Diselamatkan Al Quran (bagian 1)

Oleh: Lia Nurbaiti
 
“Katakanlah:Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.” (QS. At-Taubah: 24).
Keridhaan Allah dan Rasul-Nya, adalah keutamaan bagi seorang mukmin dari segalanya melebihi kecintaan terhadap anak, orang tua, dan seluruh manusia.
Inilah yang ditunjukkan oleh seorang sahabat wanita agung yang merasakan besarnya nikmat Islam dan menyadari keberadaan dirinya dibawah naungan agama yang mulia ini.
Ummu Kultsum binti ‘Uqbah adalah nama sahabat wanita yang agung ini. Ia mencari cahaya yang dapat menuntunnya pada ketenangan dan kebahagiaan. Lalu Allah memberikan cahaya Islam padanya. Ia memeluk Islam dan berbaiat, namun dia tidak bisa hijrah hingga tahun 7 hijriyah, karena selama masa itu ia masih berada dibawah pengawasan kedua orang tuanya yang kafir sehingga ia baru bisa meninggalkan Makkah setelah perjanjian Hudaibiyah.
Sebesar apa peran kedua orang tuanya yang kafir sehingga membuat wanita yang agung ini terhambat untuk berhijrah?
Ayahnya adalah seorang kafir Quraisy yang bernama ‘Uqbah bin Abu Mu’aith. Ia tewas pada saat Perang Badar. Ia adalah orang yang sangat membenci Allah SWT dan Rasulullah saw. Bahkan pernah suatu hari ketika Rasul sedang bersujud, Uqbah menginjakkan kakinya ke leher Rasulullah saw. Pernah juga ia membawakan plasenta domba dan menaruhnya diatas kepala Rasulullah ketika ia sedang dalam keadaan sujud. Sampai akhirnya Fatimah datang untuk membersihkannya dari kepala Rasulullah saw.
Akibat dari perbuatannya itu, Rasulullah saw menyuruh untuk memancung ‘Uqbah, ‘Uqbah berkata “Wahai Muhammad, apakah engkau hanya membunuhku dari sekian banyak orang Quraisy yang ditawan?” Rasulullah saw menjawab,”Ya, karena perbuatan yang telah kamu lakukan terhadapku.”
Ibnu Hisyam menyatakan, “Orang yang memancung Uqbah adalah Ali bin Abu Thalib. Keterangan ini disampaikan oleh Az-Zuhri dan ulama- ulama lainnya. (Al-Bidaayah wan Nihaayah, vol.3 hlm.6).
Kini Uqbah telah terhempas ke dalam onggokan sampah sejarah. Hina diatas kekafiran dan kesombongannya serta kedengkiannya terhadap Islam dan Rasulullah saw.
Itu sekelumit tentang ayah dari seorang shahabiyah yg mulia, Ummu Kultsum binti Uqbah.
Hijrah yang Penuh Berkah
Tak gentar hatinya mendekat dengan Islam sekalipun ayahnya telah mati dalam kekafiran.
Pada saat Perjanjian Hudaibiyah terjadi, salah satu klausul yang diajukan oleh Suhail bin Amr  yang menjadi syarat perjanjian dengan Nabi saw adalah “Jika ada seorang dari golongan kami (Quraisy) datang kepadamu, meskipun dia telah memeluk agamamu, maka engkau harus mengembalikannya kepada kami. Dan engkau tidak boleh ikut campur dengan segala tindakan yang kami lakukan kepadanya.”
Sebenarnya kaum muslim tidak setuju dengan klausul tersebut. Namun, Suhail bersih keras akan klausul yang ia ajukan tersebut, hingga akhirnya Rasulullah saw bersedia menerimanya.
Akibatnya, pada hari itu Nabi saw harus memulangkan Abu Jandal kepada ayahnya, Suhail bin Amr. Begitupula semua laki-laki yang datang dan ingin bergabung bersama Rasulullah saw. Mereka semua ditolak dan dikembalikan lagi kepada kaum Quraisy, meskipun telah masuk Islam. *bersambung

Ringkasan Taklim : Anjuran Menjauhkan Diri dari Masyarakat yang Rusak

Ringkasan Kajian Kitab Riyadhus Shalihin Bab 69
Anjuran Menjauhkan Diri dari Masyarakat yang Rusak
Ahad, 17 Mei 2015
Pkl. 18.00-19.30
Di Majelis Taklim Al Iman, Jl. Kebagusan Raya No.66, Jakarta Selatan (Belakang Apotik Prima Farma)
Bersama:
Ustadz Rasyid Bakhabazy, Lc
 
Poin-poin utama pembahasan:
Hadits pertama
Allah mencintai hamba yang bertaqwa; yang menjalankan perintah Allah dan menjauhi laranganNya
Allah mencintai hamba yang kaya; kaya hati/jiwa
Allah mencintai hamba yang tersembunyi (al khofiyah); ‘uzlah
’Uzlah dilakukan jika dirinya merasa tidak mampu mempengaruhi masyarakat yang rusak atau khawatir dirinya ikut terbawa kerusakan tersebut.
Hadits Kedua
Dianjurkannya seseorang bertanya tentang hal-hal yang penting tentang urusan agama
Keutamaan berjuang di jalan Allah dengan jiwa dan hartanya
Keutamaan menjauhkan diri dari masyarakat yang rusak ketika timbul fitnah di masyarakat
Keutamaan ‘uzlah kalau tujuannya untuk beribadah
Hadits Ketiga
Info tentang kaum muslimin di masa yang akan datang; hidup sulit, hidup dikelilingi hal-hal yang haram dan pintu kemaksiatan terbuka selebar-lebarnya
Menjauhkan diri dari masyarakat yang rusak merupakan sebuah keutamaan
***
Majelis Taklim Al Iman
Tiap Ahad. Pukul 18.00-19.30
Kebagusan, Jakarta Selatan.
Jadwal Pengajian:
● Tadabbur Al Qur’an tiap pekan 2 dan 4 bersama Ust. Fauzi Bahreisy
● Kitab Riyadhus Shalihin tiap pekan 3 bersama Ust. Rasyid Bakhabzy, Lc
● Kontemporer tiap pekan 1 bersama ustadz dengan berbagai disiplin keilmuwan.
Kunjungi AlimanCenter.com untuk mendapatkan info, ringkasan materi dan download gratis audio/video kajian setiap pekannya.
Join Telegram: @AlimanCenterCom
•••
Salurkan donasi terbaik Anda untuk mendukung program dakwah Majelis Ta’lim Al Iman:
BSM 703.7427.734 an. Yayasan Telaga Insan Beriman
Konfirmasi donasi: 0897.904.6692
Raih amal sholeh dengan menyebarkannya!
 

Ringkasan Taklim : Mencintai Keluarga Nabi dan Sahabatnya

Ringkasan Kajian Kontemporer Majelis Taklim Al Iman
Mencintai Keluarga Nabi dan Sahabatnya
Ahad, 05 April 2015
Pkl. 18.00-19.30
Di Pusat Dakwah Yayasan Telaga Insan Beriman, Jl. H. Mursid No.99B, Kebagusan Jakarta Selatan
Bersama:
Ustadz Mudzhar Beik
 
Hirarki cinta:
1. Kecintaan kepada Allah
2. Kecintaan kepada Rasulullah SAW
3. Kita mencintai Rasulullah, karena kita cinta kepada Allah SWT. Sebab Allah SWT mencintai Rasulullah
Kecintaan kepada keluarga Rasulullah SAW: kita mencintai keluarga Nabi, karena kita mencintai Rasulullah
Surat Al Ahzab : 6
“Nabi itu lebih utama untuk dicintai orang-orang mukmin ketimbang cintanya kepada dirinya sendiri”
Surat Al Maidah : 55
Siapakah yang boleh dicintai?
1. Allah SWT
2. Rasulullah SAW
3. Orang-orang mukmin
Ibnu Taimiyah dalam kitabnya mengatakan kecintaan kepada Keluarga Nabi tidak akan berguna jika bercampur dengan kebencian terhadap sahabat Nabi SAW
Kecintaan kepada keluarga Nabi saw adalah sebuah kewajiban dalam aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah
***
Majelis Taklim Al Iman
Tiap Ahad. Pukul 18.00-19.30
Kebagusan, Jakarta Selatan.
Jadwal Pengajian:
● Tadabbur Al Qur’an tiap pekan 2 dan 4 bersama Ust. Fauzi Bahreisy
● Kitab Riyadhus Shalihin tiap pekan 3 bersama Ust. Rasyid Bakhabzy, Lc
● Kontemporer tiap pekan 1 bersama ustadz dengan berbagai disiplin keilmuwan.
Kunjungi AlimanCenter.com untuk mendapatkan info, ringkasan materi dan download gratis audio/video kajian setiap pekannya.
Join Telegram: @AlimanCenterCom
•••
Salurkan donasi terbaik Anda untuk mendukung program dakwah Majelis Ta’lim Al Iman:
BSM 703.7427.734 an. Yayasan Telaga Insan Beriman
Konfirmasi donasi: 0897.904.6692
Raih amal sholeh dengan menyebarkannya!

Ringkasan Taklim : Bersikap Wara' dan Meninggalkan Syubhat

Ringkasan Kajian Syarah Kitab Riyadhus Shalihin
Bersikap Wara’ dan Meninggalkan Syubhat
Ahad, 19 April 2015
Pkl. 18.00-19.30
Di Majelis Taklim Al Iman, Jl. Kebagusan Raya No.66, Jakarta Selatan (belakang Apotik Prima Farma)
Bersama:
Ustadz Rasyid Bakhabazy, Lc
 
Wara ialah bersikap hati-hati, dengan cara meninggalkan perkara yang dibolehkan, karena khawatir akan terjatuh pada perkara yg haram.
Sedangkan syubhat adalah sebuah perkara yg belum jelas hukumnya, antara yang halal atau haram.
Seseorang yang tidak bisa menjaga dirinya dari hal-hal yang syubhat, maka suatu saat ia akan terjatuh ke dalam perkara yang haram.
Orang yang benar-benar menjaga dirinya dari syubhat, maka ia telah menjaga kesucian agama dan harga dirinya.
Salah satu tanda bahwa sebuah perkara termasuk dalam kategori dosa atau maksiat, manakala engkau merasa tidak nyaman dan malu saat ia diketahui oleh orang lain.
Disaat engkau merasa ada keragu-raguan, maka kembalikanlah dan tanyakan kepada hatimu.
***
Majelis Taklim Al Iman
Tiap Ahad. Pukul 18.00-19.30
Kebagusan, Jakarta Selatan.
Jadwal Pengajian:
● Tadabbur Al Qur’an tiap pekan 2 dan 4 bersama Ust. Fauzi Bahreisy
● Kitab Riyadhus Shalihin tiap pekan 3 bersama Ust. Rasyid Bakhabzy, Lc
● Kontemporer tiap pekan 1 bersama ustadz dengan berbagai disiplin keilmuwan.
Kunjungi AlimanCenter.com untuk mendapatkan info, ringkasan materi dan download gratis audio/video kajian setiap pekannya.
Join Telegram: @AlimanCenterCom
•••
Salurkan donasi terbaik Anda untuk mendukung program dakwah Majelis Ta’lim Al Iman:
BSM 703.7427.734 an. Yayasan Telaga Insan Beriman
Konfirmasi donasi: 0897.904.6692
Raih amal sholeh dengan menyebarkannya!

Agar Tidak Tersesat Di Jalan

Oleh: Fauzi Bahreisy
 
Belakangan ini muncul begitu banyak aliran dan pemikiran sesat di tengah-tengah masyarakat. Mulai dari yang mengaku sebagai nabi dan malaikat hingga kepada yang mengaku sebagai pengikut imam yang ma’shum (suci),  mulai dari kelompok yang mengingkari sunnah hingga kelompok yang mudah mengafirkan orang, mulai dari  kelompok yang mencela sahabat hingga yang mencela para isteri Rasulullah, mulai dari kelompok yang menafikan kebenaran agama hingga kelompok yang menganggap seluruh agama sama.
Munculnya berbagai kelompok dan aliran sesat tersebut disebabkan oleh banyak faktor. Akan tetapi, yang paling dominan adalah kurangnya  pemahaman dan pengetahuan yang komprehensif tentang Islam. Inilah yang membuat banyak orang akhirnya tersesat dan menyempal dari jalan kebenaran.
Karena itu, beragama tidak bisa dibangun di atas landasan perasaan, kecenderungan, dan keinginan individu atau kelompok. Namun, beragama harus dibangun di atas landasan pemahaman dan pengetahuan. Itulah sebabnya wahyu pertama berbunyi, “Iqra!” (bacalah!). Lalu disusul kemudian dengan, “Nûn. Demi pena dan apa yang mereka tulis.” (QS al-Qalam: 1). Juga Allah befirman, “Ketahuilah bahwa tidak ada ilah (Tuhan) selain Allah. Mohonlah ampunan atas dosamu.” (QS. Muhammad: 19).
Ayat-ayat di atas dan sejumlah ayat Al Qur’an lainnya menegaskan pentingnya membaca, menulis, dan belajar. Namun, apa yang harus kita pelajari dan kita ketahui agar lulus dan selamat? Apa sumber pengetahuan utama muslim? Tentu saja Al Qur’an sebagai wahyu terakhir yang menjadi pedoman hidup muslim serta sunnah yang merupakan contoh aplikatif dari nilai-nilai Al Qur’an seperti yang ditampilkan oleh Nabi saw.
Ya, sumber pengetahuan pertama bagi muslim adalah Al Qur’an. Al Qur’an diturunkan sebagai panduan sempurna, “Pada hari ini Kusempurnakan untukmu agamamu, Kucurahkan  nikmat-Ku padamu, dan Aku rela Islam sebagai agamamu.” (QS. al-Maidah: 3). Karena itu, Allah sendiri yang menjaga orisinalitas Al Qur’an (lihat QS. al-Hijr: 9). Nabi pun menjadikan Al Qur’an sebagai pedoman pertama dalam mendidik sahabat. Sehingga ketika Umar ra di awal-awal pernah berkeinginan membaca Taurat, Nabi saw mengingatkannya agar fokus kepada Al Qur’an. Bahkan beliau bersabda, “Andaikan Musa masih hidup, tentu ia juga akan mengikutiku.”
Pedoman kedua sesudah Al Qur’an adalah as-Sunnah. Karena yang paling memahami isi Al Qur’an adalah Rasul saw, maka sunnah beliau berfungsi menguatkan dan menjelaskan isi dan maksud Al Qur’an. Sehingga siapapun yang ingin memahami Al Qur’an dengan benar, harus kembali kepada Sunnah. Oleh sebab itu, antara Allah dan Rasul saw serta antara Al Qur’an dan as-Sunnah tidak bisa dipisahkan. Allah befirman, “Katakan, ‘Taatilah Allah dan Rasul-Nya. jika kamu berpaling,  Allah tidak menyukai orang-orang kafir.’” (QS. Ali Imran: 32). “Wahai orang-orang beriman, taatilah Allah, taatilah Rasul, dan ulil amri di antara kalian.” (QS. an-Nisa: 59).  “Siapa yang taat kepada Rasul berarti ia taat kepada Allah.” (QS. an-Nisa: 80).
Demikian pula dalam hadits terdapat begitu banyak pesan dan arahan dari Nabi saw yang mengharuskan kita berpegang pada Al Qur’an dan Sunnah. Di antaranya beliau bersabda, “Kalian harus mengikuti sunnahku dan sunnah para khulafa ar-Rasyidin sesudahku. Gigitlah ia dengan geraham kalian.”
Jadi seorang muslim tidak boleh mengabaikan sunnah. Al Qur’an dan Sunnah adalah satu paket yang tidak bisa dipisahkan. Mengabaikan Sunnah karena di dalamnya terdapat hadits yang dhaif dan maudhu (palsu), atau karena tampak maknanya berbenturan dengan Al Qur’an, hanya alasan yang dibuat-buat. Pasalnya, para imam dan ahli hadits telah melakukan proses investigasi dengan sangat cermat dan rapi untuk memilah kualitas dan derajat hadits. Juga kalau tampak ada benturan dengan Al Qur’an, hal itu tidak lain karena akal manusia yang tidak bisa mencerna dan memahami, bukan malah Sunnahnya yang digugat dan dicurigai.
Oleh  karenanya, dulu Abu Bakar ra saat diberi informasi tentang peristiwa isra dan mi’raj yang tampak tak masuk akal, beliau berkata, “Selama Nabi saw yang memberitakan, pasti benar.” Begitulah sikap muslim sejati. Ia percaya kepada semua informasi dari Rasul saw selama riwayatnya shahih dan valid. Imam Malik ra berkata, “Setiap orang bisa diambil dan ditolak perkataannya, kecuali Nabi saw.”
Kesimpulannya, agar tidak tersesat jalan, setiap muslim harus mengikuti dan berpegang pada apa yang telah dibawa dan diajarkan Nabi saw. Tidak lain adalah Al Qur’an dan as-Sunnah.  Wallahu a’lam.
Sumber :
Artikel Utama Buletin Al Iman.
Edisi 332 – 5 Juni 2015. Tahun ke-8
*****
Buletin Al Iman terbit tiap Jumat. Tersebar di masjid, perkantoran, majelis ta’lim dan kantor pemerintahan.
Menerima pesanan dalam dan luar Jakarta.
Hubungi 0897.904.6692
Email: [email protected]
Dakwah semakin mudah.
Dengan hanya membantu penerbitan Buletin Al Iman, Anda sudah mengajak ribuan orang ke jalan Allah
Salurkan donasi Anda untuk Buletin Al Iman:
BSM 703.7427.734 an. Yayasan Telaga Insan Beriman
Konfirmasi donasi: 0897.904.6692
Raih amal sholeh dengan menyebarkannya!

Merasakan Manisnya Iman

Iman punya rasa.
Rasa iman adalah manis dan nikmat.
Namun ia terasa pahit bagi orang yang jiwanya sedang sakit dan hatinya berkarat.
Siapa yg bisa merasakan manisnya iman?
Rasul saw bersabda “Merasakan manisnya iman orang yang ridho Allah sebagai Rabb-nya, Islam sebagai agamanya, serta Muhammad sebagai Nabi dan Rasulnya” (HR Muslim).
Dari hadits di atas jelas bahwa diantara syarat bisa merasakan manisnya iman:
Ridho dan mau diatur oleh Rabb karena percaya bahwa segala ketentuan dan perintah-Nya pasti mengandung kebaikan.
Yakin dan melaksanakan semua ajaran Islam.
Menerima Nabi Muhammad saw sebagai Nabi dan Rasul yg dikirim oleh Allah untuk menjadi guru, contoh, dan teladan.
Manakala iman sudah terasa nikmat, pantang utk ditukar dan dijual dengan dunia dan segala isinya.
Itulah yang ditunjukkan oleh orang-orang besar dan mulia. Semoga kita termasuk di dalamnya.
Alfaqir ilallah
Fauzi Bahreisy
***
Majelis Taklim Al Iman
Infaq kegiatan dakwah dapat disalurkan melalui rekening an. Yayasan Telaga Insan Beriman
BSM 703.7427.734
BNI 1911.203.63
Semoga Allah membalas dengan yang lebih baik dan memberikan keberkahan di dunia dan akhirat.
Kegiatan dakwah dapat dilihat di web www.alimancenter.com dan fanpage facebook: alimancenter
Silahkan disebarkan tanpa merubah isinya, semoga bermanfaat dan menjadi amal sholeh. Jazakumullah khairan