0878 8077 4762 [email protected]

Mulianya Aisyah binti Abu Bakar di dalam Islam

Oleh: Fahmi Bahreisy, Lc
 
Aisyah binti Abu Bakar bin Quhafah ra. adalah salah satu ummul mukminin. Ibunya adalah Ummu Ruman binti Amir bin Uwaimir al-Kinaniyah. Ia lahir 4 atau 5 tahun setelah masa kenabian. Ia adalah sosok wanita yang cerdas dan suci, memiliki keimanan dan kesetiaan yang kuat pada Islam. Ia juga adalah wanita yang putih dan cantik, sehingga Rasulullah SAW seringkali memanggilnya dengan panggilan “Humaira`” (wanita yang pipinya kemerah-merahan).
Ia dinikahi oleh Rasulullah SAW kurang lebih 10 bulan sebelum hijrah pada saat ia berusia 6 tahun. Ia mulai tinggal bersama dengan Rasulullah SAW pada bulan Syawwal tahun ke 2 H saat berusia 9 tahun. Dalam sebuah riwayat dari Aisyah ra, ia berkata, “Rasulullah SAW menikahiku pada saat aku berusia 6 tahun. Beliau mulai tinggal bersamaku saat aku berusia 9 tahun.” (Muttafaq ‘alaih).
Rasulullah SAW pernah bermimpi melihat Aisyah sebelum beliau menikahinya. Dalam sebuah hadits, diriwayatkan bahwa Aisyah ra. berkata, Rasulullah SAW berkata padaku, “Aku melihatmu dalam mimpiku selama 3 malam. Malaikat datang kepadaku bersamamu dengan membawa sepotong kain sutera. Lalu malaikat tersebut berkata, “Ini adalah isterimu.” Lalu aku menyingkap wajahmu, dan ternyata itu adalah engkau. Aku pun berkata, “Jika ini berasal dari Allah, maka Allah akan memudahkannya.” (Muttafaq ‘alaihi).
Aisyah adalah satu-satunya istri Nabi yang dinikahi saat masih gadis. Ia pernah berkata, “Wahai Rasulullah, sekiranya engkau menuju sebuah lembah yang di dalamnya terdapat pohon yang sudah dimakan, lalu engkau mendapatkan pohon yang belum dimakan, di pohon manakah engkau akan mengembalakan kambingmu?” Rasulullah SAW menjawab, “Di pohon yang belum dimakan.” Maksudnya adalah bahwa Rasulullah SAW tidak menikah dengan wanita yang gadis selain Aisyah. (HR. Bukhari). [Baca juga: Asma’ binti Abu Bakar : Wanita Dua Selendang (bagian 1)]
Aisyah memiliki kedudukan yang istimewa di hati Rasulullah SAW. Seringkali beliau mengutarakannya secara langsung tanpa menyembunyikannya. Suatu saat ‘Amr bin ‘Ash bertanya kepada Rasulullah saw, “Siapakah orang yang paling kau cintai wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Aisyah.” Ia bertanya lagi, “Kalau dari kalangan laki-laki siapa?” Beliau menjawab, “Ayahnya (Abu Bakar).” (Muttafaq ‘alaih).
Aisyah ra. juga pernah berkata, “Demi Allah, aku pernah melihat Rasulullah SAW berdiri di depan pintu kamarku. Sementara orang-orang Habasyah sedang bermain-main dengan tombak mereka di Masjid Rasulullah. Beliau menutupiku dengan selendangnya agar aku dapat melihat permainan mereka. Lalu aku meletakkan kepalaku di atas pundaknya, diantara telinga dan bahunya. Kemudian beliau bangkit agar aku dapat melihat tersebut sampai akhirnya aku sendiri yang pergi.” (HR. Ahmad).
Aisyah ra. adalah seorang wanita yang cerdas dan pintar. Ia banyak mendapatkan ilmu dari Rasulullah SAW. Ia juga termasuk diantara sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits. Tidak ada wanita yang memiliki wawasan Islam melebihi Aisyah ra.
Al-Hakim dan ad-Darimi meriwayatkan dari Masruq bahwa ia pernah ditanya, “Apakah Aisyah menguasai ilmu faraidh (warisan)?” Lalu ada yang menjawab, “Iya, demi Allah, aku telah melihat para sahabat senior bertanya kepadanya mengenai ilmu faraidh.”
Az-Zuhri berkata, “Seandainya ilmu yang dimiliki Aisyah ditimbang dengan ilmu yang dimiliki seluruh wanita, maka ilmunya Aisyah lebih tinggi”. [Baca juga: Asma’ binti Abu Bakar : Wanita Dua Selendang (bagian 2)]
Sebagaimana ia memiliki ilmu yang luas, ia juga memiliki keutamaan yang banyak. Diantaranya ialah sebagaimana sabda Rasulullah saw, “Orang yang mulia dari kalangan laki-laki jumlahnya banyak, namun dari kalangan wanita hanya Asiyah istri fir’aun, Maryam binti ‘Imron. Dan keutamaan Aisyah atas semua wanita seperti keutamaan tsarid atas makanan yang lain.” (Muttafaq ‘alaih).
Dalam hadits yang lain yang diriwayatkan oleh Aisyah sendiri bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Wahai Aisyah, Malaikat Jibril telah mengucapkan salam kepadamu.” Lalu aku (Aisyah) menjawab, “Wa ‘alaihis salam warahmatullah.”
Bahkan ada sebuah ayat yang turun disebabkan oleh beliau, yaitu ayat yang berbicara tentang tayammum. Suatu saat ia meminjam kalung dari Asma`, lalu kalung tersebut hilang. Kemudian Rasulullah SAW meminta beberapa sahabat untuk mencarinya hingga datanglah waktu shalat, dan sahabat tidak menemukan air. Mereka pun melaksanakan shalat tanpa berwudhu`. Lalu mereka mendatangi Rasulullah SAW dan mengadukan hal itu kepadanya. Lalu turunlah ayat tayammum. Usaid bin Hudhair berkata, “Jazakillah khairan. Demi Allah tidaklah ada sebuah perkara yang menimpamu kecuali Allah memberikan jalan keluar bagimu dan Allah berikan keberkahan bagi kaum muslimin.” (Muttafaq ‘alaih).
Ibnul Qayyim berkata, “Diantara keutamaan Aisyah adalah bahwa ia adalah istri yang paling dicintai oleh Rasulullah SAW sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Bukhari dan perawi lainnya”.
Dan keistimewaan yang paling utama adalah saat beliau dibersihkan secara langsung oleh Allah SWT dari tuduhan yang telah merusak kehormatannya, yaitu pada saat ia dituduh telah melakukan perbuatan zina. Allah SWT langsung menurunkan wahyu yang akan terus dibaca oleh kaum muslimin hingga hari kiamat. Allah SWT juga telah menjadi saksi bahwa ia adalah wanita yang suci dan dijanjikan ampunan dan rezeki yang besar oleh-Nya. Allah SWT juga menegaskan bahwa tuduhan zina itu adalah sebuah kebaikan baginya, bukan sebuah keburukan atau aib. Bahkan dengan peristiwa tersebut Allah SWT mengangkat setinggi-tingginya kedudukan beliau hingga hari kiamat.
Dan keutamaan lainnya yang dimiliki oleh Aisyah ra. bahwa Rasulullah SAW wafat di rumahnya dan diatas pangkuannya. Ini bukanlah paksaan atau permintaan dari Aisyah, akan tetapi ini adalah keinginan langsung dari Rasulullah SAW. Bahkan sebelum Rasulullah wafat, beliau sempat menyentuh air liur Aisyah yang ada di siwak yang telah dibasahi olehnya. [Baca juga: Asma’ binti Abu Bakar : Wanita Dua Selendang (bagian 3-akhir)]
Masih banyak riwayat-riwayat lainnya yang menyebutkan keistimewaan dan keutamaan Aisyah ra, yang mana hal itu menegaskan akan posisi dan kedudukan beliau di dalam agama Islam. Dengan demikian, sudah menjadi kewajiban seluruh kaum muslimin untuk menghormati dan memuliakannya, bukan mencela, menghina apalagi melaknatnya. Dan barang siapa yang mencela ummul mukmini Aisyah ra, maka pada hakikatnya ia telah melukai hati Rasulullah SAW dan menghina kehormatan Islam. Siapa saja yang tidak mengakui bahwa istri-istri Rasulullah saw –termasuk Aisyah- adalah ummul mukminin, maka ia telah mengingkari firman Allah SWT,
النَّبِيُّ أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ وَأَزْوَاجُهُ أُمَّهَاتُهُمْ
Nabi itu lebih utama bagi orang-orang mukmin dibandingkan diri mereka sendiri dan istri-istrinya adalah ibu-ibu mereka.” (al-Ahzaab: 6).
Wallahua’lam.
Sumber :
Artikel Utama Buletin Al Iman.
Edisi 333 – 12 Juni 2015. Tahun ke-8
*****
Buletin Al Iman terbit tiap Jumat. Tersebar di masjid, perkantoran, majelis ta’lim dan kantor pemerintahan.
Menerima pesanan dalam dan luar Jakarta.
Hubungi 0897.904.6692
Email: [email protected]
Dakwah semakin mudah.
Dengan hanya membantu penerbitan Buletin Al Iman, Anda sudah mengajak ribuan orang ke jalan Allah
Salurkan donasi Anda untuk Buletin Al Iman:
BSM 703.7427.734 an. Yayasan Telaga Insan Beriman
Konfirmasi donasi: 0897.904.6692
Raih amal sholeh dengan menyebarkannya!

Kisah Hikmah: Riba dan Pendeta

Oleh: Danu Wijaya
 
Suatu ketika seorang profesor yang bergelut dibidang perbankan syariah diundang mnghadiri acara di sebuah gereja di Yogyakarta. Dalam kesempatan itu, sang Profesor disuruh menjelaskan tentang bank syariah. Sebab dalam pandangan Kristen, nasabah bank syariah jika telat bayar akan dipotong tangan, dirajam, dicambuk atau di qishash lain.
Profesor inipun menjelaskan dengan hati-hati. Karena untuk menghormati jamaat Kristiani, sang pendeta disuruh oleh sang Profesor membacakan ayat Al Kitab tentang riba yaitu
di Ulangan 23:19 berbunyi “Jangan memungut bunga dari seorang saudara sebangsa”.
Yehezkiel 18:8 “Tidak memungut bunga uang atau mengambil riba, menjauhkan diri dari kecurangan, melakukan hukum yang benar di antara manusia dengan manusia..”
Keluaran 22:25 ” Jika engkau meminjamkan uang kepada salah seorang dari umat-Ku, orang yang miskin di antaramu, maka janganlah engkau berlaku sebagai seorang penagih hutang terhadap dia: janganlah kamu bebankan bunga uang kepadanya”.
Imamat 25:36 “Janganlah engkau mengambil bunga uang atau riba dari padanya, melainkan engkau harus takut akan Allahmu, supaya saudaramu dapat hidup di antaramu.”
Mazmur 15:5 “Yang tidak meminjamkan uangnya dengan makan riba dan tidak menerima suap melawan orang yang tak bersalah”.
dan masih banyak rujukan masalah riba yang dilarang dalam ayat-ayat Al Kitab.
Mengetahui hal tersebut, semua jamaah terdiam hening takjub. Bapak pendetapun turut memujinya seraya berkata, kita telah diingatkan oleh salah satu undangan kita akan keingkaran terhadap ajaran Kristen itu sendiri tentang riba.
Besoknya bapak Pendeta menelpon Profesor perbankan syariah tersebut, dengan mengatakan bahwa dia telah menutup rekening gereja di bank konvensional, dan telah dipindahkan semua ke rekening bank syariah semua. Luar biasa…
*dirangkum dari cerita yang disampaikan Prof. Dr. Veithzal Rivai Zainal, MBA, CRGP
(dosen Pasca Sarjana Kampus Indonesia Banking School, Kemang, Jakarta)

Ringkasan Taklim : Kemuliaan Abu Bakar Ash-Shiddiq

Ringkasan Kajian Kontemporer Majelis Taklim Al Iman
Kemuliaan Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallahu’anhu
Ahad, 26 April 2015
Pkl. 18.00-19.30
Di Pusat Dakwah Yayasan Telaga Insan Beriman, Jl. H. Mursid no.99B, Kebagusan, Jakarta Selatan
Bersama:
Ustadz Budi Ashari, Lc (Host Program Khalifah Trans 7)
 
Kemuliaan Abu Bakar Ash-Shiddiq :

  1. Bersuku Quraisy, suku yang mulia. Diantara kemuliaan Quraisy adalah namanya dijadikan sebagai salah satu nama surat dalam Al Qur’an.
  2. Termasuk golongan Al-Hanafiyah (orang-orang shalih yang mengikuti akhlak Nabi Isa AS). Ia shalih sejak kecil dan tidak terkontaminasi dengan kemaksiatan.
  3. Orang terdekat Rasulullah SAW.
  4. Karena keimanannya Rasulullah SAW memberinya gelar Ash-Shiddiq (yang membenarkan).
  5. Semua orang yang berhasil didakwahi beliau menjadi orang-orang hebat dalam sejarah.
  6. Menginfakkan semua yang dimilikinya dijalan Allah baik harta, jiwa, maupun raga.
  7. Posisi Abu Bakar tidak akan pernah tergantikan, karenanya semua sahabat nabi sepakat menjadikannya pemimpin setelah wafatnya Rasulullah SAW.

***
Majelis Taklim Al Iman
Tiap Ahad. Pukul 18.00-19.30
Kebagusan, Jakarta Selatan.
Jadwal Pengajian:
● Tadabbur Al Qur’an tiap pekan 2 dan 4 bersama Ust. Fauzi Bahreisy
● Kitab Riyadhus Shalihin tiap pekan 3 bersama Ust. Rasyid Bakhabzy, Lc
● Kontemporer tiap pekan 1 bersama ustadz dengan berbagai disiplin keilmuwan.
Kunjungi AlimanCenter.com untuk mendapatkan info, ringkasan materi dan download gratis audio/video kajian setiap pekannya.
Join Telegram: @AlimanCenterCom
•••
Salurkan donasi terbaik Anda untuk mendukung program dakwah Majelis Ta’lim Al Iman:
BSM 703.7427.734 an. Yayasan Telaga Insan Beriman
Konfirmasi donasi: 0897.904.6692
Raih amal sholeh dengan menyebarkannya!

Adab Menuntut Ilmu Syar’i (1)

Oleh: Farid Nu’man Hasan
 
Berikut ini adalah sebagian adab-adab yang mesti diperhatikan setiap muslim yang senantiasa menyibukkan dirinya dalam ilmu pengetahuan, khususnya ilmu-ilmu agama, baik dia seorang dosen, guru, pelajar, mahasiswa, jamaah masjid, aktivis Islam, dan juga  manusia pada umumnya.
1. Menuntut Ilmu adalah bekal bagi kemakmuran dunia dan kebaikan akhirat, bukan bekal untuk berdebat dan kesombongan.
Dari Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhuma, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
Barangsiapa yang menuntut ilmu untuk mendebat orang bodoh, atau berbangga di depan ulama, atau mencari perhatian manusia kepadanya, maka dia di neraka“.
(HR. Ibnu Majah No. 253. At Tirmidzi No. 2654. Dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih wa Dhaif Sunan Ibni Majah No. 253, Shahih wa Dhaif Sunan At Tirmidzi No. 2654, Misykah Al Mashabih No. 225, 226, Shahihul Jami’ No. 6382)
Dari Jabir bin Abdullah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
Janganlah kalian menuntut ilmu dengan maksud berbangga di depan ulama, mendebat orang bodoh, dan memilih-milih majelis. Barangsiapa yang melakukan itu maka dia di neraka, di neraka
(HR. Ibnu Majah No. 254, Al Baihaqi, Syu’abul Iman, No. 1725, Ibnu Hibban No. 77, Al Hakim, Al Mustadrak ‘alash Shahihain, No. 290. Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib No. 102, dan Shahih wa Dhaif Sunan Ibni Majah No. 254).
2. Ilmu bukan untuk tujuan rendah keduniaan, tetapi mencari ridha Allah Ta’ala.
Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
Barangsiapa yang menuntut ilmu yang dengannya dia menginginkan wajah Allah, (tetapi) dia tidak mempelajarinya melainkan karena kekayaan dunia, maka dia tidak akan mendapatkan harumnya surga pada hari kiamat.
(HR. Abu Daud No. 3664, Ibnu Majah No. 252, Ibnu Hibban No. 78, Al Hakim, Al Mustadrak ‘Alash Shahihain, No. 288, katanya: shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim. Syaikh Al Albani mengatakan shahih lighairih. Lihat Shahih Targhib wat Tarhib No. 105. Shahih wa Dhaif Sunan Abi Daud, No. 3664, Shahih wa Dhaif Sunan Ibni Majah, No. 252).
Dari Ubai bin Ka’ab Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Salam:
Barangsiapa diantara mereka beramal amalan akhirat dengan tujuan dunia, maka dia tidak mendapatkan bagian apa-apa di akhirat.
(HR. Ahmad No. 20275. Ibnu Hibban No. 405, Al Hakim, Al Mustadrak ‘Alash Shahihain No. 7862, katanya: sanadnya shahih. Imam Al Haitsami mengatakan: diriwayatkan oleh Ahmad dan anaknya dari berbagai jalur dan perawi dari Ahmad adalah shahih, Majma’ Az Zawaid 10/220. Darul Kutub Al Ilmiyah).
3. Memurnikan niat untuk Allah Ta’ala semata adalah tujuan utama
Dari Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
Barangsiapa yang menuntut ilmu untuk selain Allah atau dia maksudkan dengannya selain Allah, maka disediakan baginya kursi di neraka.”
(HR. At Tirmidzi No. 2655, katanya: hasan gharib. Ibnu Majah No. 258. Didhaifkan oleh Syaikh Al Albani dalam Dhaif Al Jami Ash Shaghir No. 5530, 5687).
*bersambung

Ringkasan Taklim : Orang-Orang yang Beruntung dalam Bersikap Terhadap Nabi SAW

Rangkuman Kajian Kontemporer Majelis Taklim Al Iman
Orang-Orang yang Beruntung dalam Bersikap Terhadap Nabi SAW
Ahad, 22 Maret 2015
Pkl. 18.00-19.30
Di Pusat Dakwah Yayasan Telaga Insan Beriman, Jl. H. Mursid No.99B, Kebagusan, Jakarta Selatan
Bersama:
Ustadz Ferry Nur, S.Si (Ketua KISPA)
 
1. Mengimaninya, dengan cara :

  • Mengikuti sunnahnya
  • Mencintai orang-orang yang Nabi cintai
  • Mencintai orang-orang yang mencintai Nabi, meskipun beda suku, kelompok, dan sebagainya

2. Memuliakan Nabi dengan cara :

  • Bersholawat padanya
  • Tidak menghina Nabi dan orang-orang yang Nabi cintai
  • Marah dan tidak rela pada orang-orang yang membenci Nabi dan sahabat Nabi

3. Membela Nabi, dengan cara :

  • Melawan orang-orang yang melecehkan nabi dan sahabatnya sesuai dengan kemampuan

4. Mengikuti apa yang Al-Quran jelaskan, dengan catatan :

  • Membaca keseluruhannya (tidak sepotong-sepotong)
  • Tidak menafsirkannya sesuai kemauan (nafsu)
  • Mendengarkan tafsir yang dijelaskan oleh para ulama tanpa menyelisihi tafsir Nabi dan para sahabat.

Wallahu a’lam.
***
Majelis Taklim Al Iman
Tiap Ahad. Pukul 18.00-19.30
Kebagusan, Jakarta Selatan.
Jadwal Pengajian:
● Tadabbur Al Qur’an tiap pekan 2 dan 4 bersama Ust. Fauzi Bahreisy
● Kitab Riyadhus Shalihin tiap pekan 3 bersama Ust. Rasyid Bakhabzy, Lc
● Kontemporer tiap pekan 1 bersama ustadz dengan berbagai disiplin keilmuwan.
Kunjungi AlimanCenter.com untuk mendapatkan info, ringkasan materi dan download gratis audio/video kajian setiap pekannya.
Join Telegram: @AlimanCenterCom
•••
Salurkan donasi terbaik Anda untuk mendukung program dakwah Majelis Ta’lim Al Iman:
BSM 703.7427.734 an. Yayasan Telaga Insan Beriman
Konfirmasi donasi: 0897.904.6692
Raih amal sholeh dengan menyebarkannya!

4 Kriteria Pemimpin Dalam Islam

Oleh: Fahmi Bahreisy, Lc
 
Kepemimpinan dalam Islam merupakan perkara penting dalam kehidupan beragama setiap muslim. Ia merupakan unsur yang sangat vital dalam tegaknya agama Islam, sebab syari’at Islam hanya bisa ditegakkan secara sempurna manakala kepemimpinan dalam sebuah negara atau wilayah dikuasai oleh orang yang memiliki perhatian terhadap syariat itu sendiri. Sebaliknya, tatkala kepemimpinan dipegang oleh mereka yang anti terhadap syariat Islam dan tidak suka terhadap aturan-aturan Allah, maka sulit sekali Islam akan tegak di dalamnya.
Imam Al-Mawardi dalam kitabnya Al-Ahkam As-Sulthaniyyah mengatakan, “Tidak ada agama yang kehilangan kekuasaan/kepemimpinan, kecuali aturan-aturannya juga akan tergantikan dengan aturan yang lain dan simbol-simbol dari agama tersebut juga akan dilenyapkan dari wilayah tersebut.”
Oleh sebab itu, memilih pemimpin merupakan perkara yang sangat penting. Ia tidak hanya sekedar untuk menentukan siapa yang berkuasa, akan tetapi lebih dari itu, ia akan menentukan tegak atau tidaknya aturan Islam. Maka dari itu, sebagai mukmin kita harus selektif dalam menentukan pemimpin agar tidak salah dalam memilih. Kita harus mengetahui siapakah pemimpin yang layak untuk dipilih dan bagaimana kriteria pemimpin yang diinginkan oleh Allah dan Rasul-Nya?
Kriteria pemimpin yang yang pertama ialah dia adalah seorang mukmin. Sebab bagaimana mungkin seorang pemimpin akan membela agama Islam kalau ia adalah orang yang kafir yang tidak percaya kepada aturan Allah? Bagaimana mungkin ia akan memperhatikan ajaran-ajaran Rasulullah, jika ia adalah orang yang tidak percaya akan kenabian Muhammad SAW?
Oleh sebab itu, Allah secara tegas memerintahkan bahwa pemimpin yang patut untuk ditaati adalah pemimpin dari kalangan kaum mukminin, sebagaimana yang termaktub dalam Surat an-Nisa’ : “Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu.” (QS. an-Nisa’: 59). Ayat ini tertuju kepada orang-orang yang beriman. Dan kita perhatikan, kata-kata “minkum (diantara kamu)” menunjukkan bahwa pemimpin yang wajib untuk ditaati ialah pemimpin yang berasal dari kalangan orang-orang mukmin.
Selain itu, banyak sekali keterangan di dalam Al-Qur’an yang melarang kaum muslimin untuk bersikap loyal kepada orang-orang kafir dan menjadikan mereka sebagai pemimpin. Barang siapa yang rela dan menerima pemimpin yang bukan dari orang Islam, maka hal itu berarti ia telah berwala’ (loyal) kepada mereka.
Ibnul Qayyim al-Jauziyyah berkata, “Menjadikan orang kafir sebagai pemimpin merupakan bagian dari sikap loyalitas dia kepada orang kafir. Allah telah menetapkan bahwa barang siapa yang menjadikan mereka sebagai pemimpin, maka ia termasuk bagian dari mereka. Tidaklah sempurna iman seseorang kecuali dengan cara berlepas diri dari mereka. “
Kritieria pemimpin menurut Islam yang kedua ialah adil. Selain ia adalah seorang mukmin, ia juga adalah seorang yang adil. Adil dalam bersikap dan menerapkan hukum dan peraturan kepada siapa saja. Tidak membeda-bedakan apakah ia berasal dari kelompok atau kalangan manapun. Tidak mengistimewakan kalangan tertentu dan mengucilkan yang lainnya.  Inilah yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan para khulafaur rasyidin. Bahkan Rasulullah SAW pernah menegur keras Usamah bin Zaid yang ingin membela salah satu kaum karena telah melakukan pencurian. Ia ingin meminta keringanan hukuman kepada Rasulullah SAW. Namun, Rasulullah mengecam keras sikap tersebut dengan berkata, “Sesungguhnya kehancuran umat-umat terdahulu disebabkan karena mereka menegakkan hukuman bagi kalangan yang lemah saja, namun ia tidak menerapkannya kepada orang-orang dari kalangan atas. Demi Allah, seandainya Fatimah mencuri, pasti aku akan potong tangannya.”
Kriteria yang ketiga ialah ia adalah seseorang yang memegang amanah terhadap janji-janjinya. Amanah untuk menjaga dan mengatur kekuasaan, hak dan kewajibannya sebagai seorang pemimpin. Sebab, kekuasaan yang telah diserahkan kepadanya merupakan tanggung jawab yang harus ia jalankan secara benar. Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian untuk menyerahkan amanah kepada yang berhak.” (QS. an-Nisa’: 58). Dalam ayat yang lain Ia juga berfirman, “Sesungguhnya sebaik-baik orang yang kau pilih ialah orang yang kuat dan amanah.” (QS. al-Qashash: 26).
Yang keempat ialah kuat, baik secara fisik, mental, dan pikiran. Hal ini penting agar kekuasaan tersebut berjalan dengan lancar. Ia tidak mudah jatuh sakit dan lemah, sebab hal ini akan menjadikannya tidak fokus dalam menjalankan kekuasaan. Ia juga tegas dalam bersikap, agar tidak dipermainkan oleh rakyatnya. Tentu tegas bukan berarti bersikap kasar dan serampangan, tetapi ketegasan yang disertai dengan sikap yang bijak dan santun. Ia juga kuat dalam pikiran dalam artian memiliki wawasan yang luas serta kecermatan menentukan kebijakan. Pemimpin seperti inilah yang diinginkan oleh Allah SWT, sebagai tertera dalam surat Al-Qashash diatas dan juga sebagaimana perkataannya Nabi Yusuf a.s. “Jadikanlah aku sebagai penjaga kas negara, sebab aku adalah orang yang memegang amanah dan juga berpengetahuan.” (QS. Yusuf: 55).
Inilah beberapa kriteria pemimpin yang dapat menjadi ukuran bagi setiap mukmin dalam memilih pemimpinnya. Sebab, ini adalah perkara penting dalam kehidupan beragama kita. Kepemimpinan dalam Islam merupakan bagian dari ibadah, yang akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah SWT. Semoga Allah memberikan kita para pemimpin yang berkhidmat untuk Islam dan membawa kemashlahatan bagi umat Islam. Amiin.
Sumber :
Artikel Utama Buletin Al Iman.
Edisi 368 – 15 April 2016. Tahun ke-8
*****
Buletin Al Iman terbit tiap Jumat. Tersebar di masjid, perkantoran, majelis ta’lim dan kantor pemerintahan.
Menerima pesanan dalam dan luar Jakarta.
Hubungi 0897.904.6692
Email: [email protected]
Dakwah semakin mudah.
Dengan hanya membantu penerbitan Buletin Al Iman, Anda sudah mengajak ribuan orang ke jalan Allah
Salurkan donasi Anda untuk Buletin Al Iman:
BSM 703.7427.734 an. Yayasan Telaga Insan Beriman

Konfirmasi donasi: 0897.904.6692
Raih amal sholeh dengan menyebarkannya!