by Syahrul syahrul | Apr 7, 2016 | Artikel, Ringkasan Taklim
Ringkasan Kajian Qur’an Surat Al Hasyr ayat 22-24 (Akhir)
Nama dan Sifat-sifat Allah
Ahad, 28 September 2015
Pkl. 18.00-19.30
Di Majelis Taklim Al Iman
Bersama:
Ust. Fauzi Bahreisy (Pengasuh Rubrik Konsultasi AlimanCenter.com)
1. Hadits-hadits yang terkait degan fadhilah ayat terakhir Surat Al Hasyr adalah dhoif. Namun boleh dilakukan karena ia adalah fadhail amal.
2. Nama-nama Allah yang diajarkan kepada kita ada 99 nama. Jumlah ini bukan berarti hanya 99 nama saja yang dimiliki oleh Allah, masih ada nama-nama lainnya yang hanya diketahui oleh-Nya.
3. Barang siapa yang membaca 99 nama diatas maka dia masuk surga. Atau memenuhi hak-haknya dan mengetahui serta mengamalkannya.
4. Para ulama berbeda pendapat terkait nama-nama Allah yang berjumlah 99.
5. Berdoa dengan menggunakan Asmaul Husna dianjurkan oleh Allah dan Rasul-Nya.
6. Rahman bersifat umum meliputi mukmin dan kafir. Sedangkan Rahim hanya diberikan kepada orang mukmin di akhirat.
7. Diantara cara untuk mendapatkan rahmat Allah ialah dengan mengasihi sesama makhluk.
8. Al Malik ialah Raja. Allah memiliki kekuasaan yang tak terbatas.
***
Majelis Taklim Al Iman
Tiap Ahad. Pkl. 18.00-19.30
Kebagusan, Jakarta Selatan.
Jadwal Pengajian:
1. Tadabbur Al Qur’an tiap pekan 2 dan 4 bersama Ust. Fauzi Bahreisy
2. Kitab Riyadhus Shalihin tiap pekan 3 bersama Ust. Rasyid Bakhabzy, Lc
3. Kontemporer tiap pekan 1 bersama ustadz dengan berbagai disiplin keilmuwan.
Kunjungi AlimanCenter.com untuk mendapatkan info, ringkasan materi dan download gratis audio/video kajian setiap pekannya.
•••
Salurkan donasi terbaik Anda untuk mendukung program dakwah Majelis Taklim Al Iman:
BSM 703.7427.734 an. Yayasan Telaga Insan Beriman
Konfirmasi donasi: 0897.904.6692
Raih amal sholeh dengan menyebarkannya!
by Rizky Rustam rizkyrustam | Apr 6, 2016 | Artikel, Ringkasan Taklim
Ringkasan Kajian Qur’an Surat Al-Hasyr ayat 21
Menghayati Keagungan Al-Qur’an
Ahad, 20 September 2015
Pkl. 18.00-19.30
Di Majelis Ta’lim Al-Iman, Jl. Kebagusan Raya No.66, Jakarta Selatan (Belakang Apotik Prima Farma)
Bersama:
Ustadz Fauzi Bahreisy
Hubungan surat Al-Hasyr ayat 21 dengan ayat sebelumnya: “Kalau kita tidak ingin menjadi orang-orang yang lalai dan fasiq, maka jangan jauh-jauh dari Al-Qur’an, karena orang yg jauh dari Al-Qur’an besar kemungkinan menjadi orang lalai.
Pelajaran yang bisa di ambil dari surat Al-Hasyr ayat 21 :
- Semua makhluk Allah juga bisa merasakan (punya perasaan), termasuk gunung
- Tunduk dan terbelahnya gunung ketika menerima amanah Al-Qur’an menunjukkan bahwa Al-Qur’an itu agung. Dengan demikian orang-orang yang besar dan hebat adalah orang yang dekat dengan Al-Qur’an.
- Kalau gunung saja bisa tunduk sampai terbelah karena keagungan Al-Qur’an, maka semestinya begitu juga dengan manusia.
- Orang yang tidak bisa merasakan keagungan Al-Qur’an adalah orang yang menutup hatinya.
Kiat-kiat agar hati kita tersentuh ketika membaca Al-Qur’an:
- Hendaklah membaca Al-Quran dalam kondisi suci (berwudhu)
- Hendaknya membaca dengan porsi yang sesuai, jangan terlalu berlebihan, karena yang paling penting adalah kualitasnya & bacaan yang paling ideal buat kita adalah 1 juz setiap hari
- Membaca Al-Qur’an dengan tartil
- Bacalah Al-Qur’an dan menangislah, kalau tidak bisa berusahalah untuk bisa menangis.
***
Majelis Taklim Al Iman
Tiap Ahad. Pkl. 18.00-19.30
Kebagusan, Jakarta Selatan.
Jadwal Pengajian:
1. Tadabbur Al Qur’an tiap pekan 2 dan 4 bersama Ust. Fauzi Bahreisy
2. Kitab Riyadhus Shalihin tiap pekan 3 bersama Ust. Rasyid Bakhabzy, Lc
3. Kontemporer tiap pekan 1 bersama ustadz dengan berbagai disiplin keilmuwan.
Kunjungi AlimanCenter.com untuk mendapatkan info, ringkasan materi dan download gratis audio/video kajian setiap pekannya.
•••
Salurkan donasi terbaik Anda untuk mendukung program dakwah Majelis Taklim Al Iman:
BSM 703.7427.734 an. Yayasan Telaga Insan Beriman
Konfirmasi donasi: 0897.904.6692
Raih amal sholeh dengan menyebarkannya!
by Farid Numan Hasan faridnuman | Apr 5, 2016 | Artikel, Buletin Al Iman
Oleh : Farid Nu’man Hasan
Berikut ini pujian Rasulullah terhadap para sahabatnya diantaranya adalah:
Pertama, hadits ‘Sebaik-baiknya manusia adalah zamanku…’
Dari Abdullah bin Mas’ud Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
“Sebaik-baik manusia adalah zamanku, dan kemudian setelahnya, dan kemudian setelahnya.” (HR. Bukhari No. 2509, 3451, 6065, 6282. Muslim No. 2533. At Tirmidzi No. 2320, dari Imran bin Al Hushain)
Manusia zaman nabi tentunya adalah para sahabat Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam. Imam An Nawawi Rahimahullah menerangkan:
“Yang benar adalah bahwa manusia terbaik adalah zaman Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam dan sahabat, kedua tabi’in, ketiga adalah orang-orang yang mengikuti mereka.” (Syarh Shahih Muslim, Bab Fadhlush Shahabah, No. 4603. Mausu’ah Syuruh Al Hadits)
Berkata Syaikh Abdurrahman Al Mubarakfuri:
“Sabdanya: Sebaik-baik manusia adalah zamanku, yaitu yang hidup pada zamanku. Berkata Al Hafizh (Ibnu Hajar), yang dimaksud pada zaman Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam hadits ini adalah sahabat nabi.” (Syaikh Abdurrahman Al Mubarakfuri, Tuhfah Al Ahwadzi, 6/469. Al Maktabah As Salafiyah. Madinah Al Munawarah)
Kedua, hadits ‘Jangan cela para sahabatku …’
Dari Abu Said Al Khudri Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
“Jangan kalian cela para sahabatku, seandainya salah seorang kalian menginfakkan emas sebesar Uhud itu tidak akan bisa menyamai satu mud-nya mereka bahkan setengahnya.” (HR. Bukhari No. 3470. Muslim No. 2540. At Tirmidzi No. 3952)
Imam Al Baidhawi mengatakan:
“Makna hadits adalah tidaklah infakkan kalian walau emas sebesar gunung Uhud mampu menyamai keutamaan dan pahala yang sudah diraih oleh salah seorang mereka (para sahabat) yang sebesar satu mud makanan atau setengahnya saja.” (Al Hafizh Ibnu Hajar, Fathul Bari, 7/34. Darul Fikr)
Demikian keras larangan mencela para sahabat nabi, namun kaum Syi’ah mencela mereka, dan hal itu sama juga telah mencela orang-orang yang dicintainya.
Ketiga, keutamaan Ahli Badr, ‘Lakukan apa saja Allah Telah mengampuni kalian…’
Dari Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
“Lakukan apa saja oleh kalian, kalian telah diampuni.” (HR. Bukhari No. 2845, 4025, 4608. At Tirmidzi No. 3360, Ibnu Abi Syaibah No. 51, 74. Al Hakim No. 6968, dari jalur Abu Hurairah, katanya: shahih. Ibnu Hibban No. 4798, juga dari jalur Abu Hurairah)
Keempat, keutamaan para peserta Bai’atur Ridhwan, ‘Tidak akan masuk neraka orang yang ikut bai’at di bawah pohon…’
Dalam Al Quran, Allah ‘Azza wa Jalla telah memuji mereka. Berikut adalah pujian dari Rasulullah untuk mereka.
Dari Jabir bin Abdullah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
“Tidak akan masuk neraka orang-orang yang berbaiat di bawah pohon.” (HR. Abu Daud No. 4653. At Tirmidzi No. 3795, katanya: hasan shahih. Syaikh Al Albani menshahihkan dalam Shahihul Jami’ No. 7980).
Dari Jabir juga, bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
“Benar-benar akan masuk surga orang-orang yang berbaiat di bawah pohon, kecuali pemilik Unta Merah.” (HR. At Tirmidzi No. 3955, katanya: hasan gharib. Al Haitsami mengatakan, hadits ini juga diriwayatkan oleh Al Bazar dari Ibnu Abbas, rijalnya shahih kecuali Hidasy bin ‘Iyasy, dia tsiqah, Majma’ Az Zawaid, 9/161).
Al Qadhi ‘Iyadh menjelaskan tentang maksud ‘Pemilik Unta Merah.’ Katanya:
“Dikatakan: dia adalah Al Jadd bin Qais seorang munafiq.” (Al Qadhi ‘Iyadh, Ikmalul Mu’allim Syarh Shahih Muslim, 8/157. Maktabah Al Misykat)
Kelima, menyakiti para sahabat adalah sama dengan menyakiti Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Dari Abdullah bin Mughaffal Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
“Bertaqwa-lah kalian kepada Allah terhadap hak-hak sahabatku, jangan jadikan mereka sasaran kata-kata keji setelah aku wafat. Barangsiapa yang mencintai mereka (para sahabat) maka dengan kecintaanku, aku akan mencintai mereka (orang yang mencintai sahabat), dan barangsiapa yang membenci mereka, maka dengan kebencianku, aku akan membenci mereka (orang yang membenci sahabat), dan barangsiapa yang menyakiti mereka maka dia telah menyakiti aku, dan barangsiapa yang telah menyakiti aku, maka dia telah menyakiti Allah, dan barangsiapa yang menyakiti Allah, maka Dia akan memberinya azab.” (HR. At Tirmidzi No. 3954, katanya: hasan gharib. Ahmad No. 19641).
Dikutip dari dakwatuna.com
Sumber :
Artikel Utama Buletin Al Iman.
Edisi 330 – 17 April 2015. Tahun ke-8
*****
Buletin Al Iman terbit tiap Jumat. Tersebar di masjid, perkantoran, majelis ta’lim dan kantor pemerintahan.
Menerima pesanan dalam dan luar Jakarta.
Hubungi 0897.904.6692
Email: [email protected]
Dakwah semakin mudah.
Dengan hanya membantu penerbitan Buletin Al Iman, Anda sudah mengajak ribuan orang ke jalan Allah
Salurkan donasi Anda untuk Buletin Al Iman:
BSM 703.7427.734 an. Yayasan Telaga Insan Beriman
Konfirmasi donasi: 0897.904.6692
Raih amal sholeh dengan menyebarkannya!
by Fahmi Bahreisy Lc fahmibahreisy | Apr 5, 2016 | Artikel, Ringkasan Taklim
Ringkasan Kajian Kontemporer Majelis Taklim Al Iman
Ikhlas dalam Beramal
Ahad, 13 september 2015
Di Pusat Dakwah Yayasan Telaga Insan Beriman
Jl. H. Mursid No.99B, Kebagusan, Jakarta Selatan
Bersama:
Ust. Muhammad Sholeh Drehem, Lc (Ketua IKADI Jawa Timur)
1. Diterima atau tidaknya amalan kita, sangat tergantung pada hati kita. Sebab, hati adalah tempatnya ikhlas.
2. Tidak ada satupun yang mengetahui bagaimana kondisi keikhlasan kita kecuali Allah dan diri kita sendiri. Bahkan malaikat pun juga tidak mengetahui.
3. Diantara profil muslim yang patut untuk kita contoh keikhlasannya ialah Nabi Ibrahim dan keluarganya.
4. Orang yang beramal tanpa disertai dengan keikhlasan hasilnya akan sia-sia. Dia hanya akan mendapatkan rasa lelah saja. Bahkan di akhirat dia akan mendapatkan siksa dari Allah sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah hadits tentang ditolaknya 3 amalan besar karena tidak disertai keikhlasan.
5. Orang yang bisa menjaga keikhlasannya akan mendapat perlindungan Allah dari gangguan syetan
6. Diantara manfaat ikhlas, Allah akan menjaganya dari kemaksiatan. Hal ini sebagaimana yang terjadi pada Nabi Yusuf a.s.
7. Diantara tanda bahwa seseorang memiliki keikhlasan, dia istiqomah untuk melaksanakan shalat shubuh berjamaah di masjid (bagi pria) dan tidak melewatkan satu hari pun tanpa membaca Qur’an.
***
Majelis Taklim Al Iman
Tiap Ahad. Pkl. 18.00-19.30
Kebagusan, Jakarta Selatan.
Jadwal Pengajian:
1. Tadabbur Al Qur’an tiap pekan 2 dan 4 bersama Ust. Fauzi Bahreisy
2. Kitab Riyadhus Shalihin tiap pekan 3 bersama Ust. Rasyid Bakhabzy, Lc
3. Kontemporer tiap pekan 1 bersama ustadz dengan berbagai disiplin keilmuwan.
Kunjungi AlimanCenter.com untuk mendapatkan info, ringkasan materi dan download gratis audio/video kajian setiap pekannya.
•••
Salurkan donasi terbaik Anda untuk mendukung program dakwah Majelis Taklim Al Iman:
BSM 703.7427.734 an. Yayasan Telaga Insan Beriman
Konfirmasi donasi: 0897.904.6692
Raih amal sholeh dengan menyebarkannya!
by M. Rasyid Bakhabazy Lc mrasyidbakhabazy | Apr 4, 2016 | Artikel, Buletin Al Iman
Oleh : Rasyid Bakhabazy, Lc
Dari Abu Hurairah radiallahuanhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Ada tujuh (golongan) yang akan Allah SWT berikan buat mereka naungan pada hari di mana tidak ada naungan saat itu kecuali naungan-Nya: (1) Pemimpin yang adil. (2) Pemuda yang tumbuh dalam (suasana) ibadah kepada Allah. (3) Seseorang yang hatinya selalu terpaut dengan masjid. (4) Dua orang yang saling cinta karena Allah Azza wa jalla. Mereka berkumpul dan terpisah karena Allah. (5) Seorang pria yang diajak (bermaksiat) oleh seorang wanita yang punya kedudukan dan cantik namun, dia malah berkata ‘Aku takut kepada Allah’. (6) Seseorang yang bersedekah dan dia menyembunyikan sedekahnya sampai tangan kanannya tidak mengetahui apa yang telah diinfakkan tangan kirinya. (7) Seseorang yang berzikir kepada Allah dalam kesendirian lalu dia menangis mencucurkan air mata.” (HR. Muslim).
Dari hadits diatas terdapat sejumlah pesan di dalamnya, diantaranya adalah
Pertama, pemimpin yang adil.
Diletakkannya pemimpin yang adil pada urutan pertama menunjukkan bahwa urusan kepemimpinan & keadilan dalam memimpin adalah urusan besar. Kita semua tahu bahwa adilnya pemimpin itu akan memberikan efek manfaat pada orang banyak dan bukan hanya pada diri sendiri. Dan banyak yang mengatakan bahwa kekuasaan dan jabatan itu cenderung mendorong seseorang untuk bertindak korup dan tidak adil. Di sinilah beratnya amalan yang satu ini.
Kedua, pemuda yang tumbuh dewasa dalam ibadah.
Ini adalah pemuda yang spesial. Kenapa? karena dia bisa menahan diri dan mengarahkan keinginannya pada ibadah, berbakti pada orang tua serta hal-hal positif yang diridhoi oleh Allah SWT. Padahal kita tahu bahwa jiwa pemuda biasanya cenderung liar, tak mau ikut aturan sehingga bersenang-senang dan memperturutkan hawa nafsu adalah hobinya. Disinilah beratnya amalan yang satu ini.
Ketiga, seorang laki-laki yang hatinya terpaut dengan masjid.
Zaman sekarang ini, kesibukan dengan urusan dunia dan pekerjaan telah menyita waktu banyak orang. Tak sedikit orang yang tak pernah mengenal shalat lima waktu di masjid dengan berjamaah atau pengajian, dan lain-lain. Alasannya sibuk.
Spesialnya kelompok ketiga ini adalah mereka sibuk dengan pekerjaannya tapi hati mereka tetap terpaut dengan masjid. Setiap kali adzan dikumandangkan, kita dapati mereka sudah hadir dan siap untuk shalat berjamaah. Bila dia keluar dari masjid, dia rindu untuk kembali.Dan bila dia sudah di masjid, dia rasakan ketenangan luar biasa.
Keempat, dua orang yang saling cinta karena Allah SWT.
Berteman dan saling cinta karena Allah adalah amalan spesial. Tidak semua orang mampu melakukannya. Kenapa? karena bukan rahasia lagi bahwa pertemanan dan saling cinta pada saat ini banyak didasarkan pada keuntungan materi belaka atau mungkin karena sekedar kesamaan suku atau hobi dan bukan karena nilai kebaikan dan ketaqwaan yang ada pada diri seseorang.
Kelima, pria yang tahan terhadap godaan wanita karena takut kepada Allah.
Tak ada ujian yang paling membahayakan bagi pria melebihi ujian dengan wanita. Itulah kurang lebih makna sebuah hadits yang pernah disampaikan oleh Nabi saw. Pria yang sifatnya disebut dalam hadits ini tentulah sangat spesial. Dia diajak untuk melakukan perbuatan tak senonoh oleh seorang wanita yang cantik, kaya dan berkedudukan tapi dia menolak karena takut kepada Allah SWT. Namun lihatlah di zaman sekarang, sebagian orang tak perlu diajak tapi dia bahkan mencari sendiri untuk melakukan perbuatan tak senonoh. Laa hawla wa laa quwwata illa billah. Di sinilah beratnya amalan yang satu ini.
Keenam, menyembunyikan sedekah yang ikhlash.
Menyembunyikan sedekah yang diberikan adalah amalan yang luar biasa. Karena tak sedikit orang yang memang ingin sedekahnya diumumkan. Walaupun mengumumkan sedekah bukanlah amalan yang terlarang dan belum tentu juga tidak ikhlas. Namun, terkadang hati seseorang bisa saja bergerak, merasa bangga saat sedekahnya dipublikasikan. Apalagi jika sedekah yang diberikan adalah dalam jumlah besar. Berat rasanya untuk tidak menceritakannya pada orang. Di sinilah beratnya amalan yang satu ini.
Ketujuh, ingat kepada Allah dalam kesendirian sampai menangis.
Ini bukanlah amalan ringan. Sungguh berat menumbuhkan kemauan mencari kesempatan untuk menyendiri dengan Allah SWT di tengah malam yang sunyi, bermunajat dan mohon ampun akan kesalahan dan dosa sampai meneteskan air mata. Di sini orang belajar untuk menjauhkan diri dari riya’serta melatih untuk ikhash dalam beramal. Di sini beratnya amalan yang satu ini.
Sumber :
Artikel Utama Buletin Al Iman.
Edisi 329 – 10 April 2015. Tahun ke-8
*****
Buletin Al Iman terbit tiap Jumat. Tersebar di masjid, perkantoran, majelis ta’lim dan kantor pemerintahan.
Menerima pesanan dalam dan luar Jakarta.
Hubungi 0897.904.6692
Email: [email protected]
Dakwah semakin mudah.
Dengan hanya membantu penerbitan Buletin Al Iman, Anda sudah mengajak ribuan orang ke jalan Allah
Salurkan donasi Anda untuk Buletin Al Iman:
BSM 703.7427.734 an. Yayasan Telaga Insan Beriman
Konfirmasi donasi: 0897.904.6692
Raih amal sholeh dengan menyebarkannya!
by Fahmi Bahreisy Lc fahmibahreisy | Apr 4, 2016 | Artikel, Dakwah
Betapa banyak nikmat yang Allah berikan kepada kita
Betapa besar karunia yang Allah anugerahkan kepada kita
Betapa luas kasih sayang yang Allah curahkan kepada kita
Akan tetapi, seberapa besarkah rasa syukur yang kita berikan pada-Nya?
Berapa banyakkah pujian yang kita panjatkan pada-Nya?
Ataukah hati kita telah keras membatu sehingga tak bisa lagi mensyukuri dan memuji nikmat dari-Nya?
Saudaraku, maukah kita mendapatkan ridha dari Allah?
Rasulullah saw bersabda yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik r.a. “Sesungguhnya Allah pasti meridhai seorang hamba, dimana saat dia makan, ia bersyukur pada-Nya atas makanan tersebut. Dan disaat ia minum, ia pun bersyukur pada-Nya atas minuman itu.”
Lantas bagaimana cara kita bersyukur pada-Nya?
Imam Nawawi dalam kitab riyadhus shalihin mengutip sebuah riwayat dari Nabi Musa a.s, ia pernah bertanya, ” Ya Allah, bagaimanakah cara bersyukur pada-Mu?”
Lalu Allah SWT menjawab, “Engkau berdzikir pada-Ku (mengingat-Ku) dan jangan kau lupakan Aku. Jika engkau mengingat-Ku, maka engkau telah bersyukur pada-Ku. Dan jika engkau melupakan-Ku, maka sesungguhnya engkau telah kufur pada-Ku.”
Akhukum Fillah
Fahmi Bahreisy
***
Majelis Taklim Al Iman
Infaq kegiatan dakwah dapat disalurkan melalui rekening an. Yayasan Telaga Insan Beriman
BSM 703.7427.734
BNI 1911.203.63
Semoga Allah membalas dengan yang lebih baik dan memberikan keberkahan di dunia dan akhirat.