by Fahmi Bahreisy Lc fahmibahreisy | Apr 3, 2016 | Artikel, Ringkasan Taklim
Ringkasan Kajian Kitab Riyadhus Shalihin Bab ke-77
Marah Saat Aturan Allah Dilanggar
Ahad, 20 Maret 2016
Pukul. 18.00-19.30
Di Majelis Taklim Al Iman, Jl. Kebagusan Raya No.66, Jakarta Selatan
Bersama:
Ustadz Rasyid Bakhabazy, Lc
Hadits-1
وعن أبي مسعود عقبة بن عمرو البدري رَضِيَ اللَّهُ عَنهُ قال: جاء رجل إلى النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّم فقال: إني لأتأخر عن صلاة الصبح من أجل فلان، مما يطيل بنا! فما رأيت النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّم غضب في موعظة قط أشد مما غضب يومئذ. فقال:«يا أيها الناس إن منكم منفرين، فأيّكم أم الناس فليوجز؛ فإن من ورائه الكبير والصغير وذا الحاجة»
مُتَّفَقٌ عَلَيهِ.
- Seseorang boleh mengadukan perkara yang tidak sesuai dengan sunnah nabi.
- Disyariatkannya mempersingkat shalat saat menjadi imam dalam shalat berjamaah.
Hadits ke-2
2. وعن عائشة رَضِيَ اللَّهُ عَنها قالت: قدم رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّم من سفر وقد سترت سهوة لي بقرام فيه تماثيل، فلما رآه رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّم هتكه وتلون وجهه. وقال: «يا عائشة أشد الناس عذاباً عند اللَّه يوم القيامة الذين يضاهون بخلق اللَّه»
مُتَّفَقٌ عَلَيهِ.
- Kita dilarang utk meletakkan gambar di hadapan shalat kita. Sebab hal itu dapat mengganggu kekhusyuan shalat.
- Rasulullah mengungkapkan ketidaksenangannya terhadal apa yang beliau lihat jika hal itu menyalahi syariat. Beliau tidak membeda-bedakan siapa pun itu walaupun hal itu dilakukan oleh istri beliau sendiri.
Hadits ke-3
3. وعنها رَضِيَ اللَّهُ عَنها أن قريشاً أهمهم شأن المرأة المخزومية التي سرقت فقالوا: من يكلم فيها رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّم؟ فقالوا: من يجترئُ عليه إلا أسامة بن زيد حب رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّم. فكلمه أسامة فقال رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّم: «أتشفع في حد من حدود اللَّه تعالى؟!» ثم قام فاختطب ثم قال: «إنما أهلك من قبلكم أنهم كانوا إذا سرق فيهم الشريف تركوه، وإذا سرق فيهم الضعيف أقاموا عليه الحد، وأَيْمُ اللَّه لو أن فاطمة بنت محمد سرقت لقطعت يدها»
مُتَّفَقٌ عَلَيهِ.
Rasulullah tidak memberikan perlakuan istimewa terhadap siapapun ketika ada aturan-aturan Allah yang dilanggar, walaupun yang melakukannya adalah orang yang ia cintai.
Hadits ke-4
وعن أنس رَضِيَ اللَّهُ عَنهُ أن النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّم رأى نخامة في القبلة فشق ذلك عليه حتى رؤي في وجهه فقام فحكه بيده، فقال: (إن أحدكم إذا قام في صلاته فإنه يناجي ربه وإن ربه بينه وبين القبلة، فلا يبزقن أحدكم قبل القبلة، ولكن عن يساره أو تحت قدمه ( ثم أخذ طرف ردائه فبصق فيه ثم رد بعضه على بعض فقال: (أو يفعل هكذا )
مُتَّفَقٌ عَلَيهِ.
- Sikap marah berlaku ketika ada aturan Allah yang dilanggar, baik pelanggaran itu besar atau kecil.
- Dilarang meludah ke arah kiblat saat shalat sebab ia adalah arah shalat dan tempat munajat. Hendaklah ia meludah ke arah kanan atau kiri atau bawah.
- Dilarang juga meludah saat berada di masjid, kecuali dengan cara mengambil kain dan meludah di kain tersebut lalu ia tutup kainnya.
***
Majelis Taklim Al Iman
Tiap Ahad. Pkl. 18.00-19.30
Kebagusan, Jakarta Selatan.
Jadwal Pengajian:
1. Tadabbur Al Qur’an tiap pekan 2 dan 4 bersama Ust. Fauzi Bahreisy
2. Kitab Riyadhus Shalihin tiap pekan 3 bersama Ust. Rasyid Bakhabzy, Lc
3. Kontemporer tiap pekan 1 bersama ustadz dengan berbagai disiplin keilmuwan.
Kunjungi AlimanCenter.com untuk mendapatkan info, ringkasan materi dan download gratis audio/video kajian setiap pekannya.
•••
Salurkan donasi terbaik Anda untuk mendukung program dakwah Majelis Taklim Al Iman:
BSM 703.7427.734 an. Yayasan Telaga Insan Beriman
Konfirmasi donasi: 0897.904.6692
Raih amal sholeh dengan menyebarkannya!
by Fauzi Bahreisy fauzibahreisy | Apr 3, 2016 | Artikel, Dakwah
Rasulullah saw bersabda “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling kasih, saling menyayang dan saling mencintai adalah seperti sebuah tubuh, jika salah satu anggotanya merasa sakit, maka anggota tubuh yang lain ikut merasakan sulit tidur dan demam.” (Shahih Muslim No.4685).
Pelajaran yang bisa dipetik:
- Hadits di atas membeikan standar dan ukuran siapa yang disebut sebagai orang beriman atau orang mukmin.
- Keberadaan iman dalam diri ditandai dengan adanya cinta kasih diantara saudara seiman; bahkan ia seperti satu tubuh.
- Karena itu, mukmin sejati mencintai, mengasihi, membantu dan ikut merasakan derita dan kesulitan mukmin lainnya, di manapun ia berada dan dari manapun asalnya.
Shalahuddin al-Ayyubi satu saat ditanya, “Mengapa senyummu tak terlihat lagi?” Ia menjawab, “Bagaimana aku bisa tersenyum sementara al-Aqsa dalam kondisi tertawan? Bagaimana aku bisa ceria sementara kaum muslimin di sana dalam kondisi terjajah dan teraniaya?!”
Alfaqir ilallah
Fauzi Bahreisy
***
Majelis Taklim Al Iman
Infaq kegiatan dakwah dapat disalurkan melalui rekening an. Yayasan Telaga Insan Beriman
BSM 703.7427.734
BNI 1911.203.63
Semoga Allah membalas dengan yang lebih baik dan memberikan keberkahan di dunia dan akhirat.
Kegiatan dakwah dapat dilihat di web www.AlimanCenter.com dan fanpage facebook: AlimanCenter.com
Silahkan disebarkan tanpa merubah isinya, semoga bermanfaat dan menjadi amal sholeh. Jazakumullah khairan
by Adi Setiawan Lc. MEI Adi Setiawan | Apr 2, 2016 | Artikel, Dakwah
Oleh: Adi Setiawan, Lc., MEI
Panjang umur adalah impian mayoritas orang. Dengan berumur panjang, lebih banyak kebaikan yang bisa dilakukan. Dan ternyata banyak faktor yang membuat seseorang bisa berumur panjang.
Dari Anas bin Malik Ra: Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang ingin murah rezekinya atau panjang umurnya, maka bersilaturrahimlah”. (HR. Bukhari Muslim).
Dari Salman Ra: Rasulullah SAW bersabda: “Tidak ada yang bisa menolak qada’ (ketentuan Allah SWT) kecuali doa, dan tidak ada yang bisa menambah umur kecuali al-birr (melakukan kebaikan)”. (HR. Tirmidzi).
Setiap kejadian itu termasuk berumur panjang memiliki berbagai faktor yang disebut dengan asbab maaddiah (faktor materi) dan asbab ma’nawiyah (faktor non-materi). Seseorang bisa saja meninggal disebabkan karena terjatuh dari tempat yang tinggi, atau akibat luka saat perang, memang sakit parah, atau juga karena tertusuk besi yang tidak terduga. Seseorang sembuh karena saat sakit ia teratur meminum obat. Ada juga orang yang hampir tidak pernah sakit, ternyata ia selalu menghindari tempat yang kotor. Semuanya ini merupakan asbab maaddiah (faktor materi) yang secara langsung menjadi penyebab dari kejadian-kejadian di atas.
Begitu pula ketika seseorang terus berdoa agar dianugerahi umur yang panjang lagi berkah. Saat dia butuh uang kemudian memperbanyak silaturrahim dengan saudara, kerabat dan tetangganya. Terus birrul walidain (taat dengan apapun keputusan orang tuanya) karena yakin ada kebaikan di baliknya. Atau terus-menerus melakukan amal shaleh lainnya. Semuanya tergolong sebagai asbab ma’nawiyah (faktor non-materi) yang dengan secara tidak langsung menjadi jalan keluar dari setiap masalahnya.
Jangan heran karena melakukan tindakan diatas umur seseorang jadi bertambah, dan sebaliknya orang yang tidak melakukannya umurnya terbatas, tidak bertambah dan cenderung berkurang. Dan setiap faktor tersebut pada hakikatnya telah termaktub sebagai keputusan dan takdir Allah SWT. Walaupun manusia tidak melakukannya, tetap saja akan terjadi. Karena sesungguhnya, “Rufi’at al-aqlam wa jaffat biha ash-shuhuf” (Pena takdir telah diangkat dan lembaran-lembaranya pun telah kering). Yang artinya semua takdir Allah SWT untuk hamba-Nya adalah bersifat tetap. Dan inilah makna dari ayat Allah SWT:
وَمَا يُعَمَّرُ مِن مُّعَمَّرٍ وَلَا يُنقَصُ مِنْ عُمُرِهِۦٓ إِلَّا فِى كِتَٰبٍ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٌ
“Dan sekali-kali tidak dipanjangkan umur seorang yang berumur panjang dan tidak pula dikurangi umurnya, melainkan (sudah ditetapkan) dalam Kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu bagi Allah adalah mudah.” (QS. Faathir: 11).
Ibnu Abbas menafsirkan ayat ini bahwa tidaklah seseorang ditakdirkan berumur panjang kecuali ia akan sampai juga pada jatah umurnya tersebut. Hal itu telah ditetapkan dan hanya akan berakhir sesuai dengan ketetapan itu. Tidak akan ada tambahan lagi. Begitu juga dengan orang yang ditakdirkan berumur pendek ia akan sampai pada jatah umurnya. Dan umurnya hanya akan berakhir sesuai dengan ketetapan itu. Intinya, semua itu sesuai dengan ketetapan Allah SWT.
Imam Baihaqi menyebutkan dalam kitabnya al-Qada’ wal-Qadar, makna ayat ini adalah bahwasaannya Allah SWT telah menetapkan apa yang akan menimpa hamba-Nya dari berbagai macam bala’, ujian hidup, kematian dan sebagainya. Kemudian jika dia berdoa kepada Allah SWT atau mentaati perintah-Nya untuk bersilaturrahim dan lainnya, maka Allah tidak akan menimpakan bala’ tersebut. Justru Allah SWT akan memberinya rezeki dan memperpanjang umurnya. Dan semuanya ini telah Allah SWT tetapkan.
Sebagaimana keyakinan kita setiap faktor materi telah termaktub di lauhil mahfudz. Lebih-lebih faktor non materi yang tidak tertangkap oleh indera penting diimani dan diyakini juga telah termaktub di lauhil mahfudz. Sehingga jika berbagai faktor ini dilakukan, maka dengan seizin Allah SWT keinginan panjang umur akan didapat.
Waallahu A’lam.
by Danu Wijaya danuw | Apr 1, 2016 | Artikel, Dakwah
Oleh : Persatuan Ulama Islam Sedunia (Al Ittihad al Alamiy li Ulama al Muslimin)
Manusia dalam pandangan Islam adalah makhluk yang dimuliakan. Ia dijadikan sebagai khalifah di muka bumi untuk memakmurkannya. Karena manusia dimuliakan dan diangkat sebagai khalifah, Allah posisikan ia sebagai pimpinan bagi seluruh makhluk serta Dia tundukkan semua untuk melayaninya.
“Dia menundukkan untuk kalian apa yang terdapat dilangit dan dibumi yang seluruhnya berasal dariNya” (Q.S. Al Jatsiyah : 13)
Allah menganugerahkan kepada manusia sejumlah hak yang membantunya untuk menjaga kemuliaannya dan menunaikan perannya. Dia menyuruh manusia untuk memelihara hak tersebut sekaligus menjadikannya sebagai kewajiban utama. Hak yang paling pertama adalah kebebasan manusia dalam meyakini apa yang ia kehendaki. Islam sangat menjaga kebebasan akidah ini dengan menyuruh kaum muslimin berperang guna mempertahankannya serta guna melawan mereka yang mencederai agama.
Diantara hak manusia dalam Islam adalah menjaga akal, memeliharanya, serta mengerahkan semua potensinya dalam mengkaji dan menelaah Islam berupaya membangun rasionalitas ilmiah yang berlandaskan perenungan dan pengamatan terhadap cakrawala dan dirinya sendiri. Siapa yang berpendapat bahwa berpikir merupakan kewajiban Islam tidaklah ditiru. Demikian Al Qur’an menegaskan
“Katakanlah, Aku hendak mengingatkanmu satu hal saja yaitu supaya kamu menghadap Allah (dengan ikhlas) secara berdua atau sendiri. Kemudian cobalah engkau berpikir.” (Q.S. Ali Imran : 191)
Ia juga memerintahkan untuk memperhatikan dan merenungkan seraya memotivasi untuk melakukan hal tersebut dalam banyak ayat. Islam mengingkari sikap taklid buta dan sikap jumud yang hanya berpegang pada warisan terdahulu atau pada apa yang diperintahkan oleh pimpinan dan para pembesar.
“Mereka berkata, ‘Ya Tuhan kami, kami telah menaati para pemimpin dan pembesar kami. Mereka telah menyesatkan kami dari jalan (yang benar).” (Q.S. al Ahzab)
Selain itu, Islam menolak sikap mengikuti prasangka dalam kondisi yang didalamnya dituntut adanya keyakinan. Islam juga tidak membolehkan mengikuti hawa nafsu dan emosi yang menyesatkan dari kebenaran.
“Mereka hanya mengikuti prasangka dan hawa nafsu” (Q.S. an Najm : 23)
Islam tidak menerima dakwaan atau pengakuan apapun jika tidak disertai bukti yang menguatkan kebenarannya. Apabila keberadaan bukti menjadi pegangan dalam rasionalitas berpikir, maka penyaksian menjadi pegangan dalam sesuatu yang konkret. Otentifikasi menjadi landasan dalam riwayat, kebenaran wahyu menjadi pegangan dalam hal agama. Karena itu Allah menantang orang-orang yang berbuat syirik
“Apakah kalian mempunyai sedikit pengetahuan sehingga dapat kalian sampaikan kepada kami? Kalian tidak mengikuti kecuali persangkaan belaka. Dan kalian tidak lain hanyalah berdusta ” (Q.S. al An’am : 148)
Islam mengajak kepada pengetahuan, mengajak untuk unggul di dalamnya, untuk memergunakan sarana terbarunya, serta mengikuti ketentuannya dalam segala bidang. Islam memandang proses berpikir sebagai bentuk ibadah serta upaya mencari ilmu yang dibutuhkan oleh umat sebagai kewajiban.
Islam tidak melihat adanya kontradiksi antara akal yang jelas dan naql yang benar. Dengan akal keberadaan Allah, kenabian secara umum, dan kenabian Muhammad secara khusus menjadi demikian tegas. Kemudian dalam peradaban Islam, tidak ada kontradiksi antara ilmu pengetahuan dan nash-nash Islam yang qath’i. Agama bagi kita merupakan ilmu
Islam terbuka bagi warisan ilmu dan pemikiran di seluruh dunia. Ia memburu hikmah yang keluar dari tempat manapun dan mengambil manfaat dari berbagai pengalaman umat baik dimasa dulu maupun sekarang selama tidak bertentangan dengan syariat. Berbagai filsafat yang diambil kaum muslimin tidak boleh berkebalikan dengan nash.
Kemudian diantara hak manusia dalam Islam adalah menjaga kesehatan, jasmani, jiwa dan akal
“Tubuhmu memiliki hak yang harus kau penuhi” (H.R. Bukhari dan Muslim dari Abu Salimah)
Diantara hak tubuh yang harus dipenuhi pemiliknya adalah memberinya makan ketika lapar, memberinya kesempatan beristirahat ketika lelah, membersihkannya ketika kotor, menguatkannya ketika lemah, dan mengobatinya ketika sakit. Sebab Allah tidak menurunkan penyakit kecuali ada obatnya. Ada yang mengetahui ada pula yang tidak mengetahui. Karena itu pula syarat sah shalat adalah kebersihan badan dan tempatnya.
Selanjutnya anjuran kepada manusia adalah menjaga lingkungan dari tindakan pengrusakan, entah pengrusakan karena marah dan murka, perbuatan sia-sia atau karena tidak peduli. Sebab selain berbuat baik kepada manusia, diperintahkan pula berbuat baik kepada binatang, tumbuhan, bumi dan tanah.
“Siapa yang memotong pohon (dengan sia-sia), Allah benamkan kepalanya di neraka.” (H.R. Abu Dawud dari Abdullah ibn Habsyi dan H.R. Baihaqi. Perawinya dapat dipercaya)
Terdapat neraca keseimbangan alam yang diketahui oleh mereka yang berilmu. Ia tidak boleh timpang. Ketimpangan akibat kelalaian, kecerobohan dan kerakusan manusia. Bahaya muncul ketika sumber daya disalah gunakan, baik karena kekeliruan atau berlebihan yang akhirnya bisa mengancam jiwa manusia. Oleh karena itu, Allah menyuruh manusia untuk menjaga keseimbangan lingkungan.
Referensi: 25 Prinsip Islam Moderat
Penyusun: Al Ittihad al Alamiy li Ulama al Muslimin (Persatuan Ulama Islam Sedunia)
Penerbit: Sharia Consulting Center (Pusat Konsultasi Syariah)
by Danu Wijaya danuw | Apr 1, 2016 | Artikel, Dakwah
Oleh : Persatuan Ulama Islam Sedunia (Al Ittihad al Alamiy li Ulama al Muslimin)
Kita berpegang pada konsep moderat yang positif yang tegak diatas keseimbangan dalam memandang berbagai persoalan agama dan dunia, tanpa berlebihan dan mengabaikan. Tidak boleh berlebihan dalam timbangannya dan tidak boleh mengurangi. Hal ini sebagaimana ditegaskan oleh Allah SWT.
“Supaya kamu tidak melampaui batas dalam neraca itu. Tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca tersebut.” (Q.S. ar Rahman 8-9).
Kami melihat bahwa Islam sangat memperhatikan sikap moderat dalam segala hal sekaligus menjadikannya sebagai karakteristik yang melekat pada umat.
“Demikianlah Kami jadikan kalian sebagai umat yang moderat(pertengahan).” (Q.S. Al Baqarah : 143).
Sikap moderat yang menjadi pegangan kita menggambarkan keseimbangan positif dalam segala aspek : dalam hal keyakinan dan amal perbuatan, materi dan maknawi, serta individu dan masyarakat. Islam masuk ke dalam kehidupan individu diatas prinsip keseimbangan antara ruh dan materi, antara akal dan kalbu, antara hak dan kewajiban, serta antara dunia dan akhirat.
“Wahai Tuhan, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat” (Q.S. al Baqarah : 102).
Di sisi lain, Islam menegakkan timbangan yang adil antara individu dan masyarakat. Karena itu, ia tidak memberikan hak-hak kebebasan kepada masyarakat yang dapat membahayakan kemashlahatan umum sebagaimana yang dilakukan kapitalisme. Sebaliknya, Islam juga tidak memberikan kekuasaan kepada masyarakat yang sifatnya menindas dan menekan individu sehingga mengerdilkan dan mematikan bakat dan potensinya sebagaimana yang dilakukan oleh sosialisme dan komunisme.
Namun, Islam memberikan kepada individu apa yang menjadi haknya secara proporsional tanpa berlebihan dan menguranginya. Hal itu telah diatur oleh hukum-hukum syariat berikut arahannya. Kita memandang sikap berlebihan dalam agama sebagai sesuatu yang bisa mencelakakan individu dan masyarakat.
“Jauhilah sikap berlebihan dalam beragama. Sebab yang membinasakan generasi sebelum kalian adalah sikap berlebihan dalam beragama” (H.R. Ibn Majah, An Nasai, dan Ahmad dari Ibn Abbas. Para perawi dapat dipercaya).
Sebaliknya berlepas dari tali, nilai, akidah, dan syariat agama juga bisa membinasakan. Karena itu kami membangun pandangan moderat dalam segala aspek. Itulah yang sesuai untuk umat dan membuatnya menjadi baik.
Pandangan Islam adalah sikap pertengahan
- Antara kalangan yang menyerukan fanatisme mazhab secara sempit dan kalangan yang menyerukan sikap untuk tidak berpegang pada mazhab
- Antara pengikut tasawuf meskipun menyimpang dan mengandung bid’ah dan para musuh tasawuf meski komitmen dan mengikuti jalan yang benar
- Antara mereka yang mengagungkan akal meski berlawanan dengan nas yang qath’i dan mereka yang menafikan akal meski dalam rangka memahami nash
- Antara mereka yang mengilhami secara mutlak sehingga tidak mengakui wujud serta pengaruhnya dan mereka yang berlebihan dalam memposisikannya sehingga menjadikannya sebagai sumber hukum syariat
- Antara mereka yang bersikap keras meski dalam urusan cabang dan mereka yang agak longgar meski dalam masalah prinsip
- Antara mereka yang mengagungkan peninggalan generasi terdahulu meski didalamnya mengandung cacat dan mereka yang mencampakkannya meski mengandung petunjuk yang mengagumkan
- Antara filsafat kaum idealis yang nyaris tidak menaruh perhatian terhadap realitas dan filsafat kaum pragmatis yang berpegang pada idealisme
- Antara penyeru filsafat liberalisme yang mendewakan individu serta menafikan masyarakat dan penyeru filsafat kolektivitas marxisme yang mendewakan masyarakat sehingga menafikan individu
- Antara mereka yang tidak menginginkan perubahan meski dalam hal perangkat dan mereka yang menyerukan perkembangan meski dalam hal prinsip dan tujuan
- Antara mereka yang menyerukan pembaharuan dan ijtihad meski dalam hal prinsip agama dan sesuatu yang bersifat qath’i dan mereka yang menyerukan sikap taklid dan menentang ijtihad meski dalam berbagai persoalan masa kini yang tidak pernah terlintas dalam benak generasi terdahulu
- Antara mereka yang mengabaikan nash-nash baku dengan dalih menjaga maksud tujuan syariat dan mereka yang mengabaikan semua tujuan syariat guna menjaga lahiriah nash
- Antara mereka yang menyerukan keterbukaan tanpa patokan yang jelas dan mereka yang menyerukan sikap tertututp tanpa disertai alasan yang benar
- Antara mereka yang berlebihan dalam mengkafirkan sehingga mengkafirkan kaum muslimin yang taat dan mereka yang agak longgar didalamnya meski terhadap mereka yang jelas-jelas murtad, melawan agama, serta menjadi kaki tangan musuh
- Antara mereka yang berlebihan mengharamkan sehingga seolah-olah didunia tidak ada lagi yang namanya halal dan mereka yang berlebihan membolehkan sehingga seolah-olah tidak ada lagi didunia sesuatu yang haram
- Antara mereka yang hanyut dalam masa lalu dan mereka yang mengabaikan masa lalu seolah-olah mereka ingin membuang kata “kemarin” danbentuk kata kerja lampau dari bahasa
Sikap moderat yang seimbang ini disempurnakan oleh kondisi saling melengkapi yang bersifat komprehensif. Pasalnya, perhatian utama Islam tidak tertuju kepada penerapan aspek hukum syariat secara lahiriah. Namun, yang menjadi perhatian utamanya adalah upaya untuk menegakkan kehidupan Islam yang hakiki, bukan hanya formalitas. Yaitu kehidupan yang berusaha memperbaiki jiwa manusia, sehingga Allah memperbaiki kondisi mereka
Dalam format semacam itulah manusia beriman, keluarga kokoh, masyarakat kuat, dan negara yang adil yang berciri adil dan amanah bisa dibentuk. Itulah kehidupan Islam yang komprehensif yang diarahkan oleh akidah Islam, dikontrol oleh syariat Islam, dibimbing oleh pemahaman Islam, dipagari oleh akhlak Islam, serta diperindah oleh adab-adab Islam.
Ia adalah kehidupan yang saling menopang dan kokoh sepertu satu bangunan yang sisi-sisinya saling menguatkan. Didalamnya tidak boleh ada yang kelaparan, sementara tetangga sebelahnya dalam kondisi kenyang. Didalamnya ilmu yang bermanfaat juga bisa didapat oleh setiap orang, pekerjaan yang sesuai bisa diperoleh oleh setiap penganggur, upah yang adil didapat oleh setiap pekerja, nutrisi yang cukup tersedia bagi setiap orang yang lapar, obat tersedia bagi setiap orang yang sakit,tempat tinggal yang sehat tersedia bagi setiap penduduk, ada kecukupan bagi setiap orang yang membutuhkan, ada perlindungan materi dan sosial bagi setiap yang lemah terutama anak-anak, orang tua, janda dan mereka yang cacat.
Disamping itu didalamnya juga terdapat kekuatan dalam setiap tingkatan, kekuatan pikiran, kekuatan spiritual, kekuatan badan, kekuatan akhlak, kekuatan ekonomi, kekuatan senjata, dan peralatan serta kekuatan persatuan. Tentu saja landasan dari semua itu adalah kekuatan iman.
Referensi: 25 Prinsip Islam Moderat
Penyusun: Al Ittihad al Alamiy li Ulama al Muslimin (Persatuan Ulama Islam Sedunia)
Penerbit: Sharia Consulting Center (Pusat Konsultasi Syariah)
by Fauzi Bahreisy fauzibahreisy | Mar 31, 2016 | Artikel, Buletin Al Iman
Oleh: Dr. Aidh al-Qarni
Amarah senantiasa merusak. Penyakit kanker telah menyita perhatian dunia dan menghabiskan banyak harta. Sementara marah yang menyebabkan terjadinya pembekuan darah dan kontraksi di mana ia justru lebih sering mengantarkan kepada kematian daripada kanker malah kurang mendapat perhatian.
Bahkan Dale Carnegie berkata, “Bencana akibat marah merupakan bencana terbesar yang dihadapi manusia. Akan tetapi, mereka tidak mau memerhatikan dan merenungkannya.”
Bahaya Marah
Marah mengantarmu berkonflik dengan pihak lain serta membuat persoalan semakin rumit. Marah membuatmu dinilai negatif dan tidak disukai oleh orang. Marah bisa melahirkan persoalan kesehatan yang besar. Misalnya, penyakit jantung, stroke, dan kanker yang dialami oleh orang-orang yang sering marah. Marah bisa mengantar pada serangan lisan dan fisik yang mengarah kepada sejumlah orang yang semestinya dicintai dan dihormati. Orang yang sedang marah biasanya mengucap atau melakukan sesuatu yang membuatnya setelah itu menyesal disertai dengan celaan yang tidak pantas.
Bentuk-bentuk Amarah
Dampak amarah pada lisan terlihat dengan keluarnya kata cacian dan ucapan kotor yang orang berakal malu dengannya. Termasuk pengucapnya sendiri malu ketika amarahnya reda. Nabi saw bersabda, “Dosa manusia yang paling banyak berada di lisannya.”
Dampak amarah pada anggota badan terlihat dalam bentuk pukulan, serangan, penghancuran, pembunuhan, dan penganiayaan di saat memungkinkan. Kadang orang yang marah merobek pakaiannya dan menampar dirinya. Rasul saw bersabda, “Bukan termasuk golongan kami orang yang menampar pipi dan merobek saku.” Kadang ia memukulkan tangannya ke tanah. Ia juga bisa kehilangan kontrol dan kesadaran.
Dampak amarah pada qalbu terlihat dalam bentuk sifat dengki, iri, menyembunyikan keburukan, senang dengan musibah yang menimpa orang, sedih dengan gembiranya, berusaha merusak rahasia, membuka hijab, mengolok-olok, dan berbagai sifat buruk lainnya.
Serta tentu saja amarah memberikan bahaya pada agama dan akhlak. Bahaya ini bisa berpengaruh pada kondisi fisik dan akal berikut pengaruh semuanya pada qalbu. Dari uraian tersebut kita bisa menangkap hikmah dari pesan Rasul yang agung, “Jangan marah!”
Diantara dampak amarah adalah sombong, ujub, sikap arogan, angkuh, dan otoriter. Bahkan buruknya kebijakan penguasa bersumber dari amarah. Jika ia bersikap otoriter hal itu disebabkan oleh amarah. Fir’aun marah kepada kaumnya. Ia berkata, “Yang kukemukakan kepada kalian adalah apa yang kulihat baik dan tidaklah aku menuntun kalian kecuali ke jalan yang benar.” (QS. Ghafir : 29).
Ia tinggalkan segala sesuatu untuk meluapkan amarahnya sampai akhirnya tenggelam di laut.
Saat sedang marah ia berkata, “Hai kaumku, bukankah kerajaan Mesir ini kepunyaanku dan (bukankah) sungai-sungai ini mengalir di bawahku?” (QS. az-Zukhruf : 51).
Maka, Allah mengalirkan air dari atas kepalanya akibat amarah yang ia luapkan.
Lembaran Sejarah
Tidak diragukan lagi bahwa ketika membaca sejarah hidup orang mulia, kau dapati ia adalah orang yang dapat mengendalikan amarah. Orang-orang mulia hanya marah dalam kebenaran. Mereka tidak dikendalikan oleh amarah dan hawa nafsu. Marah bukan sifat mereka.
Pemimpin yang lurus dan baik tidaklah pemarah, Pasalnya, jika ia pemarah tentu tidak akan memiliki kontrol dan pandangan yang lurus. Ia akan dipermainkan oleh setan. Sebab, dalam amarah terdapat kekuatan yang bisa menawan manusia. Kemudian setelah itu lahir sejumlah keputusan menyimpang yang jauh dari kebenaran. Hal itu karena ia lahir dalam kondisi tidak tenang dan dari pikiran yang tidak lurus. Oleh sebab itu, engkau bisa melihat pemimpin dunia dalam perjalanan hidupnya tidak memiliki penyakit jiwa kronis seperti amarah. Sebab, orang pemarah hidup dalam kondisi cacat secara kejiwaan. Hidupnya tidak sempurna dan tidak lurus. Hal itu karena kondisi amarah berlawanan dengan akal dan naql serta bertentangan dengan sifat dasar manusia dan apa yang seharusnya.
Pesan Nabi saw
Abu Hurairah ra meriwayatkan bahwa seseorang berkata, “Wahai Rasulullah, berikan wasiat singkat kepadaku!” Beliau bersabda, “Jangan marah!” Orang itu kembali mengulangi permintaannya. Namun Nabi saw tetap menjawab, “Jangan Marah!”
Diriwayatkan dari Abdullah ibn Amr ra bahwa ia bertanya kepada Rasulullah saw, “Apa yang bisa menyelamatkanku dari murka Allah?” Beliau menjawab, “Jangan marah.”
Abu ad-Darda berkata, “Wahai Rasulullah, tunjukkan padaku sebuah amal yang bisa mengantarku kepada surga.” Beliau menjawab, “Jangan marah!”
Wallahu a’lam.
Diterjemahkan oleh Ustadz Fauzi Bahreisy
Sumber :
Artikel Utama Buletin Al Iman.
Edisi 328 – 27 Maret 2015. Tahun ke-8
*****
Buletin Al Iman terbit tiap Jumat. Tersebar di masjid, perkantoran, majelis ta’lim dan kantor pemerintahan.
Menerima pesanan dalam dan luar Jakarta.
Hubungi 0897.904.6692
Email: [email protected]
Dakwah semakin mudah.
Dengan hanya membantu penerbitan Buletin Al Iman, Anda sudah mengajak ribuan orang ke jalan Allah
Salurkan donasi Anda untuk Buletin Al Iman:
BSM 703.7427.734 an. Yayasan Telaga Insan Beriman
Konfirmasi donasi: 0897.904.6692
Raih amal sholeh dengan menyebarkannya!